[REMAKE] Michiru Heya by Nekota Yonezou

.

.

Main Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

And others.

Genre: Romance, Drama. Rated: M

.

.

Warning: Yaoi, Some Age-Switch, OOC, No Children

Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Nekota Yonezou.

Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.

.

.

Really hope you guys will enjoy this story~

Review, kritik dan saran sangat dinanti.

No bash. If you hate ChanBaek or hate this story then don't read.

Thank you.

.

.

Please read remaker's note in the end if you don't mind.

.

.


Chapter 7


-Flashback 7 tahun yang lalu-


"Appa, aku menemukan bolanya!"

Chanyeol tersenyum lebar sembari meraih bola kasti yang tergeletak di atas tanah, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan melambaikannya ke arah ayahnya yang berdiri tak jauh dari sana. Ayahnya, Park Yunho, tersenyum melihat tingkahnya.

"Ah, ternyata disana." Yunho terkekeh.

"Lain kali appa harus melempar dengan benar." Chanyeol melangkah mendekat ke arah ayahnya dan memberikan bola di tangannya kepada sang ayah.

"Maaf... Maaf..."

"Ah, eomma!" Chanyeol berteriak senang ketika matanya menemukan sang eomma, Park Yeonhee melangkah memasuki taman.

"Ternyata kalian disini," ucap Yeonhee menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lihat betapa kotor kalian. Cepat masuk dan bersih-bersih. Kim seonsaengnim sudah menunggumu di ruang belajar, Chanyeol-ah."

"Eh?! Seonsaengnim sudah datang?!"

"Ya, jadi bergegaslah. Kau tidak mau membuat Kim seonsaengnim menunggu kan?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya kuat-kuat, kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Yunho sendiri hanya tersenyum melihat betapa semangatnya Chanyeol untuk menemui sang guru kesayangan, Kim Jaejoong.

Yeonhee menghela napas pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yunho dan melangkah mendekat ke arahnya. Dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas tangannya dan dengan telaten mengusap kotoran yang menempel di pipi sang suami.

"Kau tidak seharusnya bersikap seperti anak kecil seperti ini," ucap Yeonhee tersenyum tipis.

Yunho tersenyum, menatap lembut ke arah sang istri. "Apa kau akan keluar lagi?" Tanyanya kemudian. Matanya bergerak naik dan turun memperhatikan sang istri yang sudah tampak rapi.

"Ya," jawab Yeonhee. "Mungkin aku akan pulang terlambat nanti. Jadi kau tidak perlu menungguku dan tidurlah lebih dulu."

Tatapan mata Yunho berubah sedih sejenak, tetapi dengan cepat dia menutupi segalanya dengan senyum. "Ya, baiklah kalau begitu," ucapnya pelan.

.


.

Chanyeol membuka pintu ruang belajarnya pelan. Napasnya tampak terengah-engah karena berlari. Senyum lebar muncul di bibirnya ketika kedua matanya menangkap punggung sang guru kesayangan. Rencananya dia ingin mengejutkan sang guru, tetapi sebelum dia bisa melakukan rencananya itu, Jaejoong malah berbalik dan membuat dirinya terkejut.

Chanyeol merengut sebal mendengar tawa keluar dari mulut Jaejoong.

"Sangat bagus menghabiskan waktu dengan ayahmu, Chanyeol-ah," ucap Jaejoong kemudian. "Tetapi kau harus belajar untuk menjadi seseorang yang tepat waktu."

"Ya," jawab Chanyeol sembari mendudukkan dirinya di depan Jaejoong.

Jaejoong tersenyum dan melirik ke luar pintu, mendapatkan Yunho berdiri disana. "Sama juga untuk appamu." Dia berkata. "Seharusnya dia tahu kapan waktunya bermain dan kapan waktumu untuk belajar."

Yunho tertawa kecil. "Maafkan aku," ucapnya. "Aku tidak akan mengulanginya lagi di masa depan."

"Terima kasih," Jaejoong menanggapi. "Kalau begitu sebaiknya kita mulai pelajaran kita hari ini."

.


.

"Ah, disini kau rupanya." Jaejoong melangkah memasuki ruang keluarga, berjalan mendekati Yunho yang tengah sibuk dengan buku di pangkuannya. "Aku mencarimu dari tadi."

Yunho tersenyum. "Pelajarannya sudah selesai?" Tanyanya. "Haruskah kita menikmati teh bersama?"

"Ya, terima kasih."

Jaejoong melangkah mengitari ruang keluarga. Matanya mengagumi dekorasi di sana. Begitu cocok dengan kepribadian Yunho, yang memang sudah dikenalnya sejak lama. Tangannya terangkat menyentuh bunga mawar yang terlihat begitu indah di sudut ruangan. Hidungnya perlahan mendekat untuk menghirup aromanya.

"Selalu indah seperti biasanya," gumam Jaejoong. "Apa bunga ini kau sendiri yang menanamnya? Seperti biasa?"

Yunho mengangguk.

"Aku selalu mengagumi bunga-bunga milikmu." Jaejoong melanjutkan ucapannya. "Mereka selalu terlihat indah. Kau benar-benar merawat mereka dengan baik."

"Ya, mereka selalu terlihat indah," Yunho menyetujui ucapan Jaejoong. "Bunga-bunga itu adalah hadiah untuk istriku."

Jaejoong terdiam sejenak, namun tak lama senyum muncul di wajahnya yang cantik. "Dia pasti akan sangat bahagia menerima ini semua."

.


.

Yeonhee kembali ke rumah ketika hari sudah pagi. Dia melangkahkan kakinya pelan melewati ruang keluarga, tetapi kemudian berhenti ketika matanya menangkap bunga mawar disana. Dia menghela napas panjang dan mendekatinya. Kedua tangannya meraih tumpukan bunga itu dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

"Nyonya..."

Yeonhee menoleh dan menemukan bibi Lee, pelayan yang sudah mengabdi di rumah ini sejak lama. "Siapa yang meletakkan bunga-bunga ini di ruang keluarga?" Tanyanya kepada bibi Lee.

"Tuan besar yang meletakkannya disana, nyonya," jawab bibi Lee.

Yeonhee memutar kedua bola matanya. "Benar-benar pria yang menyebalkan," gumamnya pelan.

.


.

"Ini luar biasa, Chanyeol."

Yunho mengusap kepala Chanyeol bangga. "Kau benar-benar sudah berusaha dengan keras," ucapnya tersenyum lembut. Hasil ulangan Chanyeol yang paling baru ada di tangannya dan Chanyeol berhasil mendapatkan nilai sempurna.

"Kau bahkan bisa mengerjakan bagian yang kemarin kau bilang paling sulit," Jaejoong tersenyum lebar ke arah Chanyeol.

"Ya." Chanyeol mengangguk senang. "Apakah kita sudah selesai hari ini? Apa sekarang aku bisa main?"

Jaejoong mengangguk dan Chanyeol bersorak gembira. Dia berlari keluar dari ruang belajar diikuti oleh anjing kesayangannya. Yunho menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Baginya, Chanyeol adalah segalanya. Dan tidak ada hal lain yang bisa membuat dirinya begitu bahagia selain kebahagiaan Chanyeol.

"Jaejoong, menurutmu Chanyeol bagaimana?" Tanya Yunho.

"Aku yakin dia akan baik-baik saja," jawab Jaejoong. "Dia tidak memiliki masalah dengan pelajarannya. Ngomong-ngomong, kau tahu dia sebentar lagi akan masuk ke sekolah asrama. Dia akan menghabiskan enam tahun disana. Apa kau tidak apa-apa soal itu?"

"Ya," Yunho menganggukkan kepalanya. "Aku rasa itu adalah keputusan yang terbaik untuknya. Lagipula, istriku sudah memutuskan, ketika Chanyeol mulai masuk asrama, dia ingin bercerai."

Jaejoong menatap Yunho kaget, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa.

"Chanyeol terlalu muda untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi," Yunho melanjutkan.

Jaejoong terdiam sejenak, kemudian ia menghela napas dan menatap Yunho sedih. "Apa tidak apa-apa kau memberitahu semua ini kepadaku?" Tanyanya.

"Aku rasa aku hanya membutuhkan seseorang untuk bercerita soal ini." Yunho berkata. "Dan aku rasa, kau adalah orang yang bisa kupercaya."

.


.

Hari ini, Chanyeol kembali mengikuti les privat bersama dengan Jaejoong. Mereka juga membicarakan soal Chanyeol yang akan masuk ke sekolah asrama tahun depan. Chanyeol sendiri mengaku pada Jaejoong bahwa dia tidak suka dengan keputusan ini. Dia tidak mau jauh dari ayahnya, dan ada banyak hal lain juga yang mengganggu pikirannya.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Jaejoong. Dia menopang dagunya menatap Chanyeol yang merengut di kursinya. "Aku tidak akan bisa membantumu jika kau tidak mau menceritakan apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini."

"Aku tidak mau masuk ke sekolah asrama itu," jawab Chanyeol kemudian.

"Eh? Kenapa?"

"Aku tidak suka." Chanyeol menjawab cepat.

Jaejoong mengerutkan dahinya. "Kenapa kau tidak suka?"

Chanyeol terdiam sejenak. Matanya menatap ke arah jari-jarinya yang saling menggenggam erat. Setelah itu, dia menghela napas panjang. "Aku hanya..." ucapnya. "Aku tidak mungkin bisa meninggalkan rumah dan tinggal bersama orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal. Dan tempatnya juga jauh sekali dari sini."

Jaejoong menatap Chanyeol tanpa kata sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Hmm, aku mengerti sekarang," gumamnya. "Jadi, kesimpulannya kau tidak bisa melakukan apa-apa tanpa orang tuamu?"

"Aku tidak pernah mengatakan itu!" Sahut Chanyeol.

"Huh? Terdengar seperti itu bagiku," Jaejoong menyeringai.

Chanyeol merengut dibuatnya.

Jaejoong tertawa kecil sembari mengusap kepala Chanyeol. "Tetapi sekolah ini adalah sekolah yang dipilih oleh ayahmu setelah dia berpikir panjang, Chanyeol-ah," Jaejoong berkata kemudian. "Menurutnya ini adalah keputusan yang terbaik untukmu. Aku akan melakukan apapun untuk berada di posisimu sekarang, kalau kau ingin tahu."

Chanyeol mengangkat kepalanya, membalas tatapan Jaejoong. "Jika seonsaengnim seumuran denganku, apa seonsaengnim akan merasakan hal yang sama?"

Jaejoong berpikir sejenak. "Aku rasa, aku tidak akan mau pergi juga."

"Kan! Seonsaengnim juga merasakan hal yang sama denganku! Aku-."

"Tetapi aku rasa aku tetap akan pergi." Jaejoong memotong perkataan Chanyeol. "Jika aku lahir di tengah-tengah keluarga yang kaya dan mampu memasukanku ke sekolah seperti itu, aku pasti akan tetap pergi."

Chanyeol menatap Jaejoong bingung.

"Kau tahu, sebenarnya bersekolah di sekolah sebaik sekolahmu nanti adalah mimpiku sejak dulu," Jaejoong melanjutkan.

"Mimpi seonsaengnim?" Tanya Chanyeol.

"Ya." Jaejoong mengangguk. "Tetapi jika kau tetap tidak mau pergi ke sana, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak akan menjadi salah satu orang yang akan memaksamu untuk pergi."

Chanyeol terdiam. Kedua matanya menatap Jaejoong dengan seksama. Mendengar bahwa pergi ke sekolah itu merupakan salah satu impian Jaejoong, membuat pikirannya berubah. Jaejoong adalah seseorang yang berharga bagi Chanyeol. Chanyeol sangat menyayangi Jaejoong dan perkataan Jaejoong baru saja membuat Chanyeol berpikir akankah dengan dia pergi ke sekolah itu, maka dia mampu membantu Jaejoong mewujudkan salah satu mimpinya.

"Aku akan pergi!" Chanyeol berseru kemudian. "Aku akan pergi dan bersekolah disana."

Jaejoong mengerenyitkan dahinya. "Ada apa dengan keputusan tiba-tiba ini?"

Chanyeol tersenyum lebar. "Itu mimpi seonsaengnim kan?" Dia berkata. "Jadi, jika aku menjadi murid disana, maka seonsaengnim akan bangga padaku, kan?"

Jaejoong tersenyum dan memeluk Chanyeol erat. "Aku selalu bangga padamu."

Chanyeol membalas pelukan Jaejoong dengan perasaan bahagia yang luar biasa di dalam hatinya.

.


.

Yunho meletakkan surat yang ia pegang ke atas meja. Membuat Jaejoong yang duduk di hadapannya menatapnya dengan bingung.

"Bukalah," ucap Yunho sembari mendorong surat itu mendekat ke arah Jaejoong.

Jaejoong meraih surat itu dan matanya bisa melihat lambang sekolah asrama yang akan Chanyeol tuju di depan surat itu. Dia mengangkat alisnya ke arah Yunho. Dan Yunho hanya tersenyum sembari mengisyaratkan agar Jaejoong cepat membuka surat itu.

Perlahan, Jaejoong menggerakkan tangannya membuka surat di tangannya. Dan kedua matanya melebar membaca isi surat itu. Senyum lebar muncul di wajahnya, dan Yunho tak bisa untuk tak tersenyum melihatnya.

"Astaga, dia diterima di sekolah itu," ucap Jaejoong dengan nada bahagia.

Yunho menganggukkan kepalanya. "Terima kasih," dia berkata.

Jaejoong menatap Yunho dan senyumnya perlahan luntur ketika melihat mata Yunho yang memancarkan kesedihan. Jaejoong terdiam. Dia ingat. Dengan Chanyeol berhasil masuk ke sekolah ini, itu berarti Yunho akan tinggal sendiri di rumah ini. Istrinya akan menceraikannya sebentar lagi. Dan melihat wajah Yunho yang begitu sedih, membuat Jaejoong merasakan nyeri di dalam hatinya.

"Semua akan baik-baik saja, Yunho." Ucap Jaejoong. "Chanyeol begitu mengagumi. Dan aku yakin istrimu pasti akan mengizinkan dia untuk bertemu denganmu."

Yunho mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Sebenarnya, istriku akan memberikan hak asuh Chanyeol kepadaku," Yunho berkata pelan. "Sepertinya calon suami barunya tidak terlalu suka dengan kenyataan dia memiliki seorang anak. Aku senang dia meninggalkan rumah ini dan Chanyeol kepadaku. Dan juga, aku tidak apa-apa berada disini, di kelilingi oleh memori yang begitu berharga untukku."

Jaejoong berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekat ke arah Yunho dan menggenggam tangan Yunho. "Yunho, apakah tidak apa-apa jika aku tetap datang kesini walaupun bukan untuk mengajar Chanyeol?"

Yunho terdiam. Dia menatap Jaejoong yang menatapnya dengan kedua mata coklat itu. Yunho bisa melihat cinta di dalam sana, dan sesungguhnya Yunho sudah menyadari perasaan Jaejoong kepadanya sejak lama. Tapi dia terus berpura-pura tidak menyadarinya, karena dia tahu itu tidak benar.

"Jaejoong-ah," Yunho melepaskan genggaman tangan Jaejoong. "Aku mencintai istriku."

Jaejoong tampak tersentak, namun dia dengan cepat menguasai dirinya. "Aku tahu itu," ucapnya tersenyum tipis.

Perlahan Jaejoong kembali menarik kedua tangan Yunho untuk dia genggam. Jarak di antara dirinya dan Yunho semakin menipis. Dan Jaejoong merasa senang Yunho tidak berusaha menghindar kali ini.

"Jangan berpikir terlalu rumit," gumam Jaejoong. "Aku tidak sedang mencoba mengganti posisi istrimu. Aku hanya ingin mencoba menyembuhkanmu. Aku tahu kau begitu terluka karena segalanya, dan aku mau membantumu menyembuhkan semua luka itu."

Jaejoong membawa tangannya naik untuk menggenggam bahu Yunho. Dan perlahan, dia menyentuh bibir Yunho dengan bibirnya, menciumnya pelan. Dan entah kenapa, Yunho tidak mencoba menghindar. Dia memilih untuk memejamkan matanya dan membalas ciuman Jaejoong kepadanya.

Mereka berdua tak menyadari, Chanyeol berdiri disana, melihat semuanya dari celah pintu yang terbuka. Dan dengan rasa sesak yang berkumpul di dalam dadanya, dia berlari menjauh dari tempat itu. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Ayahnya mencium pria lain. Kim seonsaengnim mencium pria lain. Ayahnya mencium seseorang yang bukan ibunya. Kim seonsaengnim dan ayahnya. Ayahnya dan Kim seonsaengnim. Kim seonsaengnim mencium seseorang yang bukan dirinya.

Chanyeol berlari kencang dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Dia merasa telah dikhianati. Oleh ayahnya sendiri, dan juga cinta pertamanya.

.


.

"Aku benar-benar tidak percaya ini!" Yeonhee berteriak. Dia mengusap wajahnya frustasi dan memandang Yunho tajam. "Ini benar-benar menjijikkan, dan kau melakukannya dengan seorang pria. Kau bahkan membiarkan anak kita melihat apa yang kau lakukan!"

Chanyeol bersandar di pintu ruang kerja ayahnya. Dia tak sengaja berpapasan dengan ibunya ketika dia sedang menangis tadi, dan tanpa pikir panjang, dia memberitahukan semua yang dia lihat kepada ibunya. Membuat ibunya seketika murka dan menghampiri ayah dan Kim seonsaengnim yang sedang bersama. Mengusir Kim seonsaengnim dengan begitu kasar, dan kini dia juga tengah melampiaskan kemarahannya kepada sang suami.

"Apa ada yang salah dengan isi kepalamu?!" Yeonhee menatap Yunho dengan tatapan tak percaya bercampur jijik.

Yunho berdiri di sana tanpa kata. Membiarkan Yeonhee mengatakan apapun yang dia inginkan kepadanya.

Yeonhee menghela napas panjang. "Baiklah," ucapnya kemudian. "Lagipula, kau sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Chanyeol."

Chanyeol tersentak. Begitu juga dengan Yunho.

"Apa maksudmu?" Chanyeol bisa mendengar ayahnya bertanya.

"Chanyeol bukan anakmu," jawab Yeonhee dengan nada dingin. "Jadi, entah kau benar-benar seorang gay atau kau hanya berselingkuh dariku dengan laki-laki yang menggodamu itu, itu tidak masalah bagiku."

Yunho terkesiap. "Bohong," bisiknya pelan.

Kedua lututnya terasa lemas dan dia terjatuh begitu saja di atas lantai. Air matanya mulai turun dengan deras di kedua pipinya. "Kau pembohong!" Jeritnya tak percaya.

"Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti aku tidak berbohong," ucap Yeonhee. "Aku bisa membuktikannya kalau kau mau."

Yunho menggelengkan kepalanya. Dia terus-terusan mengatakan Yeonhee adalah pembohong sambil menangis tersedu-sedu. Yeonhee sendiri menatap Yunho seakan-akan Yunho sudah gila. Dan dibalik pintu, Chanyeol bertarung melawan air matanya sendirian. Menahan sakit yang begitu besar di dalam hatinya, setelah mengetahui ayah yang dia tahu begitu mencintainya dan dia cintai bukanlah ayah kandungnya.

"Tuan Chanyeol..."

Chanyeol mengangkat kepalanya dan menemukan bibi Lee berdiri di depannya. Kedua tangannya terbuka dan dengan cepat Chanyeol masuk ke dalam pelukannya. Menangis tersedu-sedu disana.

"Bibi sudah membuatkanmu segelas coklat hangat yang manis," ucap bibi Lee mengusap kepala Chanyeol lembut. "Ayo kita ke dapur."

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Setidaknya, masih ada orang yang mau mengerti dirinya di saat seperti ini.

.


.

Chanyeol duduk di kamarnya sendirian. Dia menatap koper miliknya yang sudah terisi penuh dan menghela napas panjang. Besok adalah hari pertamanya di sekolah asrama barunya. Sesungguhnya, dia tidak ingin pergi. Tetapi dia berpikir, dia harus pergi kemana jika dia tidak pergi kesana.

Dan ibunya. Dia menyuruh Chanyeol untuk tidak kembali ke rumah ini bahkan ketika dia mendapatkan libur panjang. Ibunya tidak mau Chanyeol berhubungan dengan ayahnya lagi.

Chanyeol menginginkan untuk ikut dengan ibunya, kemana pun ibunya pergi. Tetapi, bahkan ibunya sendiri tampak tak menginginkan dirinya. Dia terus menerus mengatakan calon ayah barunya adalah seseorang yang menyeramkan, karena itu dia harus tetap tinggal di asrama. Padahal, Chanyeol tahu, ibunya sendiri juga tidak mau berurusan dengannya lagi.

"Chanyeol-ah..."

Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat ayahnya berdiri di depan pintu dengan senyumannya. Chanyeol seketika ingin menangis, tetapi dia berusaha keras menahannya.

"Boleh appa masuk?"

Chanyeol diam, tetapi Yunho tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Chanyeol.

"Tampaknya kau sudah siap untuk pergi," ucap Yunho menatap koper Chanyeol di atas lantai. "Appa benar-benar tidak menyangka kau sudah masuk sekolah menengah pertama. Kau tumbuh begitu cepat."

Chanyeol tetap diam.

Perlahan, Yunho melangkah mendekat ke arah Chanyeol dan meraih kedua tangan Chanyeol untuk dia genggam. Membuat Chanyeol tersentak, tetapi dia tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Yunho. Chanyeol mengangkat kepalanya dan kedua matanya bertemu dengan mata Yunho yang menatapnya sedih.

"Appa ingin kau mendengarkan appa dan tidak memberitahu soal ini kepada eomma mu," ucapnya pelan. "Di akhir pekan, atau libur panjang, jika kau merasa kesepian, appa akan tetap menunggumu disini. Jadi, kembalilah kesini, okay?! Kau juga bisa menelepon appa atau mengirimkan surat. Walaupun akan sulit bagimu untuk kembali kesini, appa akan tetap menunggumu."

Chanyeol menatap Yunho tidak percaya. Dia merasa bahagia di dalam hatinya mendengar semua perkataan ayahnya, tetapi rasa sakit hatinya menutupi semua itu. Dengan kasar, ia menarik tangannya dari genggaman Yunho.

"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Chanyeol dingin. "Eomma bilang padaku kalau kita tidak seharusnya bertemu lagi."

Yunho menundukkan kepalanya. Rasa sakit di dalam dadanya mulai terasa lagi.

"Lagipula..." Chanyeol melanjutkan. "Kau bukan ayah kandungku."


-Flashback end-


.

.

Pagi ini benar-benar luar biasa. Baekhyun tidak kesiangan dan dia sepertinya tidak akan terlambat pergi ke sekolah, bahkan ia sempat untuk sarapan bersama dengan Chanyeol. Mereka sama-sama tidak mengatakan apa-apa soal apa yang terjadi semalam di antara mereka berdua. Tapi Baekhyun tahu hubungannya dengan Chanyeol sekarang sudah benar-benar membaik, atau mungkin bisa dia katakan lebih baik daripada baik itu sendiri.

Baekhyun menyantap sarapannya dengan senyum lebar. Aura kebahagian memancar dari dalam dirinya. Membuat Chanyeol yang duduk di hadapannya hanya bisa tersenyum memandangnya.

"Pagi, Baekhyun-ah!"

Suara sapaan dari Jaehwan membuat Baekhyun menolehkan kepalanya. "Pagi, Jaehwan-ah!"

"Selamat pagi," Chanyeol ikut membalas sapaan dari Jaehwan.

Jaehwan melebarkan kedua matanya melihat kehadiran Chanyeol. Dengan terang-terangan dia mendekat dan menatap Chanyeol dengan seksama.

"Ini benar-benar jarang terjadi. Sang casanova ikut sarapan bersama kami," ucap Jaehwan.

Chanyeol hanya tersenyum tipis.

"Aku yang mengajaknya!" Seru Baekhyun. Tanpa sengaja makanan yang ada di dalam mulutnya keluar ketika dia berbicara. Membuat Jaehwan menatapnya jijik.

"Pagi Baekhyun-ah!"

Tiba-tiba seorang pria berambut pirang muncul dan mengangkat serbetnya untuk membersihkan mulut Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum menatapnya. Chanyeol sendiri mengerenyitkan dahi melihat itu. Namun, belum sempat dia berkomentar apa-apa, seorang laki-laki berkulit kecoklatan duduk di sampingnya dan menyapanya.

"Pagi Park. Tumben sekali kau ikut kami sarapan."

Chanyeol hanya tersenyum kaku.

"Chanyeol-ah, mereka Sehun dan Jongin, dan mereka teman sekelasku juga, sama seperti Jaehwan," Baekhyun menjelaskan setelah dia menyadari wajah bingung Chanyeol.

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Sesungguhnya, dia merasa sangat canggung saat ini. Tetapi, melihat Baekhyun begitu bahagia dikelilingi orang-orang yang dekat dengannya dan tampak menyayanginya membuat semuanya menjadi tidak masalah.

"Apa yang kau makan, Baek? Kelihatannya enak sekali." Sehun menatap Baekhyun penasaran.

Baekhyun memang benar-benar terlihat menikmati makanannya. Dia makan dengan berantakan dan membuat Jaehwan yang duduk di sebelahnya terus-terusan memarahinya. Tetapi bagi Chanyeol, saat ini Baekhyun benar-benar terlihat imut.

"Cream cheese dan salmon sandwich," jawab Baekhyun dengan mulut penuh.

"Astaga, Baek! Manner please... Manner!" Seru Jaehwan.

Baekhyun hanya menanggapinya dengan senyum lebar. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol. Baekhyun mengerenyitkan dahinya ketika menyadari Chanyeol tengah melamun sendiri.

"Chanyeol-ah," Baekhyun menggoyangkan lengan Chanyeol yang berada di atas meja.

"Ya?" Chanyeol tampak sadar dari lamunannya dan membalas tatapan Baekhyun.

"Ada apa?" Tanya Baekhyun. "Kau melamun dari tadi."

"Tidak apa-apa." Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tersenyum menenangkan. "Aku hanya merasa sedikit aneh. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku dikelilingi oleh banyak orang."

"Menjijikkan!" Tiba-tiba terdengar suara dari meja di samping meja mereka. "Apa menjadi gay sekarang menular? Lihat mereka!"

Chanyeol tampak tersentak di kursinya. Seketika dia menundukkan kepalanya karena merasa tak enak. Semua mata di meja tampak menyadari hal itu, dan Baekhyun berdiri dengan kesal. Namun, sebelum Baekhyun bisa mengatakan apa-apa, Jongin mendekat ke arah Chanyeol dan mencium pipinya. Membuat Chanyeol dan juga Baekhyun terkejut.

"Berhenti bertingkah seperti anak TK!" Seru Jongin sembari memberikan dua jari tengahnya kepada orang-orang di meja samping mereka. Membuat orang-orang itu terlihat kesal dan memilih untuk pergi.

Jongin terkekeh melihatnya dan merangkul bahu Chanyeol tanpa beban.

"Ya!" Baekhyun berseru kemudian. "Lepaskan tanganmu dari Chanyeol!"

Jongin menatap Baekhyun dan menyeringai. "Kenapa? Kau cemburu? Sini, aku beri ciuman juga," ucapnya sembari melepaskan rangkulannya dari Chanyeol.

Baekhyun menjerit kencang dan mulai berlari mengelilingi ruang makan dan Jongin dengan gembira mengejarnya. Chanyeol sendiri tersenyum di kursinya. Tangannya terangkat menyentuh dadanya. Dia merasa begitu hangat disana. Dan sudah begitu lama dia tidak merasa seperti ini.

.


.

Baekhyun dan Chanyeol berjalan berdampingan menuju kamar mereka di asrama. Baekhyun tampak diam saja dan Chanyeol sendiri bingung kenapa Baekhyun bertingkah seperti ini. Baekhyun terlihat kesal sepanjang hari dan Chanyeol tidak tahu harus bagaimana. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Baekhyun.

"Baekhyun-ah!" Chanyeol meraih tangan Baekhyun, membuat mereka berhenti berjalan.

"Ada apa?" Baekhyun berbalik menatap Chanyeol. Wajahnya masih terlihat kesal.

"Ada apa denganmu?" Tanya Chanyeol. "Apa aku berbuat salah?"

Baekhyun diam sejenak. Dia menarik tangannya dan melipatnya di depan dada, menatap Chanyeol tajam. Tak lama kemudian, dia menghela napas panjang. "Kau tidak salah apa-apa," ucap Baekhyun. "Aku tidak marah kepadamu."

"Lalu?"

"Jongin!" Seru Baekhyun kesal. "Aku kesal padanya. Aku tidak percaya dia melakukan hal tadi ketika sarapan di depan semua orang. Dia benar-benar suka bertindak seenaknya. Dia benar-benar menyebalkan."

Chanyeol mengerutkan dahinya. Dan ingatan akan Jongin yang mencium pipinya muncul di ingatannya. Dia bertanya-tanya apa Baekhyun marah karena hal itu.

"Dia hanya sedang membantuku di depan orang-orang itu, Baek." Chanyeol berkata kemudian.

"Tapi tetap saja!" Baekhyun hampir saja berteriak, tetapi dia beruntung dia masih bisa mengontrol suaranya. "Dia tidak seharusnya menciummu seperti itu!" Baekhyun mengalihkan pandangannya dan merengut sebal.

Chanyeol terdiam. Dia menatap Baekhyun sejenak sebelum akhirnya sebuah bola lampu muncul di atas kepalanya. Baekhyun sedang cemburu, dan Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya karena itu.

Baekhyun melangkahkan kakinya lagi, dan Chanyeol mengikutinya di belakang. Senyum di wajah Chanyeol masih belum hilang. Berada di dekat Baekhyun, begitu nyaman dan menyenangkan. Dia merasa, tanpa ampun, Baekhyun memaksa terus masuk lebih dalam ke dalam hatinya.

Sebelumnya, Chanyeol merasa takut, tetapi sekarang entah kenapa dia begitu menyukainya. Bahkan Baekhyun yang sedang cemburu terlihat begitu mempesona di mata Chanyeol. Jarak sekecil apapun di antara mereka membuat Chanyeol begitu frustasi. Dan melihat wajah Baekhyun, membuat Chanyeol ingin terus menciumnya.

"Ya! Cepatlah Chanyeol!" Sahut Baekhyun.

Chanyeol tertawa kecil melihat wajah kesal Baekhyun, dan melangkah cepat menyusul Baekhyun agar mereka bisa berjalan berdampingan.

.


.

Chanyeol menghela napas panjang. Dia bertopang dagu di meja belajarnya sembari menatap beberapa lembar uang di atas meja. Dia baru saja menolak permintaan dari salah satu kliennya. Awalnya dia bertanya-tanya kenapa dia melakukan itu, tetapi ketika dia kembali ke kamar dan melihat wajah Baekhyun, dia sadar semua karena Baekhyun.

Tiba-tiba saja, Chanyeol merasa dia sudah melakukan hal yang begitu menjijikkan selama ini. Sebenarnya, Chanyeol sudah sadar dari awal apa yang dia lakukan tidak benar. Tetapi karena hubungannya dengan Baekhyun yang semakin dekat, membuat Chanyeol lebih memikirkan tentang hal itu lagi.

"Aku tidak punya cukup uang untuk dikirim," Chanyeol menghela napasnya lagi. "Sudah seminggu aku tidak tidur dengan siapapun. Pantas saja pemasukanku berkurang."

Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. Semua masalah ini akan selesai jika dia tidur dengan para kliennya seperti biasa. Tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Dan dia benar-benar bingung karenanya.

Chanyeol berpikir keras, bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan. Sampai satu nama muncul di kepalanya. "Luhan sunbae-nim..."

Chanyeol melangkah cepat keluar dari dalam kamar, kemudian ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan agar tidak membangunkan Baekhyun yang sudah tertidur. Dia melangkah menyusuri koridor sampai akhirnya dia menghentikan langkahnya di depan kamar Luhan. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu di depannya.

"Chanyeol?" Luhan menatapnya terkejut ketika dia muncul dari balik pintu.

"Boleh aku masuk, sunbae-nim?" Tanya Chanyeol dengan senyum di wajahnya.

Luhan masih tampak kaget ketika dia akhirnya mengangguk dan mempersilahkan Chanyeol masuk. Chanyeol sendiri melangkah masuk dengan santai dan duduk di atas kursi meja belajar Luhan.

Luhan menatapnya sejenak sebelum akhirnya berdeham canggung. "Ini sudah tengah malam. Apa yang membawamu tiba-tiba kesini?" Tanya Luhan sembari melangkah menuju ranjangnya dan duduk di sana. "Apa kau dan Baekhyun bertengkar lagi?"

Chanyeol menghela napas pelan. "Meskipun kau sudah menolongku kemarin..." Chanyeol mulai berbicara. "Aku malah mengatakan hal yang tidak seharusnya kukatakan padamu. Aku datang kesini untuk meminta maaf."

Luhan mengerutkan dahinya. Ingatannya kembali kepada malam dimana ia menolong Chanyeol dan Baekhyun, dan saat itu Chanyeol mengatakan dengan tegas bahwa dia tidak akan tidur dengannya malam itu. Kemudian dia menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak terlalu memasukkan ke hati perkataanmu itu. Jadi, tidak masalah," ucapnya tersenyum. Luhan lalu mengangkat alisnya menatap Chanyeol. "Tapi aku yakin kau kemari bukan hanya untuk itu, kan?"

Chanyeol menundukkan kepalanya dan menggenggam jemarinya erat satu sama lain. "Aku datang kesini untuk meminjam uang," ucapnya kemudian. "Aku janji aku akan membayarnya setelah aku lulus dengan warisan yang aku dapatkan dari ayahku."

Luhan terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju lemarinya. Dia membukanya dan mengeluarkan lembaran check dari dalam sana. Dia lalu menandatangani salah satu check itu dan kemudian memberikannya pada Chanyeol.

"Kau bisa tulis disana berapa yang kau butuhkan. Beritahu saja aku nanti berapa jumlahnya."

Chanyeol menerima check itu dari tangan Luhan dan mengangguk. "Apa kau hanya akan meminjamkanku begitu saja?" Tanya Chanyeol kemudian. "Kau tidak ingin bertanya untuk apa aku menggunakan uang ini?"

"Jika kau tidak mau mengatakannya, maka kau tidak perlu mengatakannya," jawab Luhan. "Lagipula dengan ini, suatu hari nanti kita masih bisa bertemu karena ini."

Chanyeol menatap Luhan yang tersenyum sedih di tempatnya. "Kenapa?"

"Ya?"

"Kenapa kau begitu baik kepadaku?" Chanyeol bertanya. "Kenapa kau begitu menyukaiku? Yang aku lakukan untukmu hanyalah melayanimu untuk uang. Dan aku bahkan begitu sering melemparkan kata-kata kasar untukmu."

Luhan terdiam, tampak kaget dengan pertanyaan yang ditujukan Chanyeol untuknya. Namun, kemudian dia tersenyum. "Kau mungkin tidak mengingatnya," gumam Luhan. "Tetapi hari pertama kita bertemu adalah hari dimana aku baru saja diputuskan oleh orang yang aku sukai."


-Flashback Pertemuan Pertama Chanyeol & Luhan-


"Kau memberitahu orang-orang?"

Luhan tersentak mendengar perkataan pria di hadapannya. Pria di hadapannya terlihat begitu marah dan itu membuat Luhan begitu takut. Dengan cepat dia menggeleng, menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya ini.

"Tidak!" Luhan berucap tegas, tetapi dia masih bisa merasakan tubuhnya gemetar karena takut. "Aku tidak memberitahukan siapapun tentang kita."

Pria di hadapannya tampak tak percaya. Dengan kasar dia menarik rambut Luhan dengan tangannya. Membuat Luhan mulai menangis karena rasa sakit dan rasa takut. Tetapi pria di hadapannya tidak peduli. Dia semakin mengencangkan cengkraman tangannya di rambut Luhan.

"Lalu kalau bukan kau yang memberitahukan orang-orang, kenapa mereka bisa tahu?" Bentak pria itu. "Aku tidur denganmu hanya karena kau terus menerus menatapku dengan tatapan menjijikan itu, kau tahu?! Aku kasihan padamu dan akhirnya memberimu apa yang kau mau, tetapi kau melakukan ini kepadaku. Sekarang rumor-rumor itu menyebar dimana-mana. Apa yang akan kau lakukan sekarang hah?! Kau sudah merusak reputasiku."

Luhan tak menjawab. Dia menangis semakin kencang. Dia benar-benar tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Dia begitu tulus menyayangi pria di hadapannya ini, tetapi tampaknya pria ini tidak merasakan hal yang sama dengannya. Selain sakit di tubuh yang ia rasakan, sakit di hatinya terasa jauh lebih parah.

"Mungkin kau tidak seharusnya tidur dengan pria sejak awal."

Pria itu baru saja hendak mengangkat tangannya untuk memukul Luhan ketika suara seseorang terdengar di telinganya. Dia melangkah mundur seketika dan kepalanya bergerak mencari asal dari suara itu.

"Jika kau tidak pergi, aku akan melihat wajahmu dan mengatakan kepada semua orang tentang apa yang sudah kau perbuat!" Suara itu berkata lagi.

"Sialan!"

Pria itu melemparkan tatapan tajam untuk yang terakhir kalinya pada Luhan sebelum berlari pergi. Tak lama, Chanyeol, pemilik suara tadi keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kau tidak mau melarikan diri juga?" Chanyeol mengangkat alisnya.

Luhan menoleh untuk menatap Chanyeol. "Walaupun aku lari, mereka tetap akan mengolok-ngolokku besok," jawabnya masih dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.

Chanyeol menatap Luhan sejenak. Dia kemudian menghela napas dan berjalan mendekat. "Sunbae-nim, maukah sunbae membeliku?" Tanya Chanyeol kemudian.

Luhan menatapnya bingung.

Chanyeol tersenyum tipis dan mengangkat tangannya. Menyentuh pipi Luhan dan mendekatkan wajah mereka berdua. "Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana dua pria bisa menyenangkan satu sama lain," gumam Chanyeol. "Aku akan menunjukkan segalanya padamu."

Luhan tampak kaget ketika wajah Chanyeol semakin mendekat. Namun dia membiarkannya saja ketika Chanyeol mulai menciumnya. Memberikannya ketenangan yang memang sedang ia butuhkan.


-Flashback end-


"Mungkin saat itu kau berpikir kalau kau baru saja mendapatkan target baru," Luhan menatap Chanyeol lembut. "Tapi bagiku, saat itu kau adalah pahlawanku."

Chanyeol terdiam. Dia ingat saat itu. Dia mungkin berpura-pura lupa, tetapi sesungguhnya dia mengingatnya dengan jelas. Saat itu, Luhan mengingatkannya akan dirinya sendiri. Tetapi lebih dari itu, Luhan lebih mengingatkannya akan pemakaman sang ayah, dan juga Kim seonsaengnim yang melihat semuanya dari jauh.

Chanyeol pikir, jika dia membiarkan Luhan saat itu, dia merasa mungkin Luhan akan mati seperti ayahnya dan juga Kim seonsaengnim. Saat itu, Chanyeol hanya tidak bisa membiarkan Luhan begitu saja.

.


.

"Ah, kau kembali!"

Chanyeol baru saja membuka pintu kamar ketika wajah Baekhyun menyambutnya. Baekhyun tampak khawatir dan Chanyeol hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Baekhyun itu. Baekhyun tidak pernah tidak terlihat imut di mata Chanyeol.

"Kemana saja kau?" Tanya Baekhyun. "Kau bahkan hanya mengenakan piyama."

"Aku baru saja dari tempat Luhan sunbae-nim," jawab Chanyeol santai.

Baekhyun terdiam mendengar jawaban Chanyeol. Dia kemudian menundukkan kepalanya. Di dalam kepalanya dia bertanya-tanya apa yang Chanyeol lakukan disana, tetapi dia tidak mau bertingkah berlebihan di depan Chanyeol dengan memilih untuk menanyakan soal itu langsung kepada Chanyeol. Baekhyun juga bisa merasakan rasa cemburu bergemuruh di dalam dadanya.

"Kami hanya mengobrol," ucap Chanyeol kemudian. Dia sadar akan perubahan ekspresi Baekhyun ketika dia mengucapkan nama Luhan. Baekhyun yang cemburu benar-benar mempesona.

"Oh begitu..." Seketika Baekhyun mengangkat kepalanya dan Chanyeol bisa melihat ekspresi Baekhyun yang berubah ceria. Rona merah muda muncul di kedua pipi tembamnya.

"Lagipula..." Chanyeol melanjutkan. "Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku."

Baekhyun tersentak kaget mendengar ucapan Chanyeol. "Kenapa?" Tanyanya keras.

Chanyeol rasanya benar-benar ingin tertawa sekarang. Baekhyun seperti akan segera meledak karena kebahagiaan saat ini, tetapi dia terlihat menahannya. Chanyeol bisa melihat bibir Baekhyun berkedut-kedut menahan senyum. Hal ini membuat Chanyeol selalu ingin membuat Baekhyun bahagia. Dia juga ingin merasakan kebahagiaan yang sama ketika dia berada di samping Baekhyun juga.

"Karena aku memiliki seorang yang berharga yang harus aku perhatikan mulai dari sekarang," jawab Chanyeol. Dia berjalan mendekat ke arah Baekhyun dan mendekatkan wajah mereka berdua.

"Siapa?" Tanya Baekhyun pelan.

"Orang itu adalah..." Chanyeol menempelkan kening mereka berdua. "Orang yang aku cium kemarin."

Baekhyun terdiam. Kedua pipinya seketika memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Ini membuat Chanyeol mengerenyitkan dahinya bingung.

"Kenapa?" Chanyeol menatap Baekhyun khawatir. "Aku kira kau akan merasa senang."

Baekhyun mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang benar-benar terasa panas. "Tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti ini kepadaku sebelumnya," gumam Baekhyun pelan.

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menurunkannya dari wajah Baekhyun. Memandang Baekhyun tepat di kedua matanya. Membuat jantung Baekhyun berdebar keras, seperti melompat-lompat di dalam dadanya, seakan memaksa hendak keluar.

"Kau pernah mengatakan hal seperti ini kepadaku sebelumnya, Baek." Chanyeol tersenyum lembut.

Baekhyun tampak gemetar. Bibirnya berkedut-kedut lucu dan sedetik kemudian dia sudah melompat dan memeluk Chanyeol erat. Membuat Chanyeol hampir terjatuh ke belakang, tetapi beruntung Chanyeol memiliki refleks yang baik.

"Baek, ada apa?"

"Aku benar-benar bahagia!" Baekhyun berseru, tetapi kemudian suaranya terdengar pelan. "Tetapi aku juga merasa benar-benar malu. Ciuman kemarin juga, itu mengejutkanku tetapi membuatku benar-benar bahagia."

Chanyeol mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Baekhyun. Dia meletakkan hidungnya di atas kepala Baekhyun, menghirup aroma Baekhyun yang begitu menenangkan untuknya. "Aku juga bahagia, Baek."

"Rasanya begitu menyakitkan." Baekhyun mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. "Aku selalu ingin kau berhenti tidur dengan orang lain karena uang, tetapi aku takut kau akan menjauh dariku, karena itu akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa."

Chanyeol tersenyum mendengarnya. Namun, sedetik kemudian dia mengaduh. Membuat Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol bingung.

"Ada apa?"

"Uh, tidak apa-apa," jawab Chanyeol. "Aku juga merasa benar-benar bahagia, tetapi... Kau memelukku terlalu erat dan aku tidak bisa bernapas."

Baekhyun dengan cepat melepas pelukannya seusai mendengar jawaban Chanyeol. Dia menatap Chanyeol yang cepat-cepat mengambil napas, kemudian tertawa kencang. Membuat Chanyeol terdiam menatapnya.

Baekhyun terlihat bagai cahaya yang begitu menyilaukan, tetapi Chanyeol menyukainya. Begitu cerah. Begitu indah. Tanpa bisa menunggu lagi, Chanyeol mengangkat kedua tangannya untuk menangkup pipi Baekhyun dan mencium Baekhyun dengan lembut. Dan tanpa berpikir dua kali, Baekhyun membalas ciuman Chanyeol.

Mereka berdua tersenyum dalam ciuman itu. Berjanji dalam hati untuk terus berada di sisi satu sama lain selama yang mereka bisa.

.


.

"Aku ingin mengirim uang."

Chanyeol mengulurkan check di tangannya kepada petugas administrasi di depannya yang memang sudah lama ia kenal. Petugas administrasi itu tersenyum dan mengambil check di hadapannya dan terlihat sedikit kaget ketika membacanya.

"Kali ini kau menulis namamu?" Tanya petugas itu.

"Ya," jawab Chanyeol. "Mulai sekarang aku tidak akan mengirimnya tanpa nama lagi."

Petugas itu menganggukkan kepalanya dan Chanyeol tersenyum. Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu. Menuju Baekhyun yang menunggunya di koridor.

"Sudah selesai?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. "Maaf sudah membuatmu menunggu."

Baekhyun tersenyum dan mereka pun berjalan pergi dari sana berdampingan. Tak sadar akan seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan kebencian. Wu Yifan. Kedua tangannya mengepal dan seringai jahat perlahan muncul di bibirnya.

"Apa ini?" gumamnya. "Jadi dia sudah lelah menjual dirinya kesana kemari dan memutuskan untuk memiliki teman? Tetapi kau tahu, Park Chanyeol... Memiliki teman hanya akan berhasil jika orang-orang itu ingin berteman denganmu."


.

.

To Be Continued...

.

.


ChanBaek jadian yay~

Mungkin tidak ada kata I Love You disini, tetapi ketika Chanyeol bilang Baekhyun berharga untuknya, udah cukup bagi Baekhyun untuk tahu perasaan Chanyeol yang sebenarnya.

Dan Yifan mulai menyusun rencana jahatnya~

Dan buat yang bertanya-tanya soal pengalaman buruk Chanyeol yang pernah diperkosa trus juga soal uang yang dia dapet dari pekerjaannya ini dipakek buat apa, next chapter semuanya bakal terungkap. Dan kemungkinan besar bakalan ada enaena ChanBaek juga di chapter selanjutnya.

So, stay tuned for the next chapter, guys! Hoho

Btw jangan sungkan jika kalian ada pertanyaan, kritik ataupun saran buat cerita ini.

Dan terima kasih banyak buat yang udah review di chapter sebelumnya:

n3208007, 90Rahmayani, WinterJun09, aupaupchan, peanut04, Guest, hyuniee86, baby baek, khakikira, EXO8861, syielhunna, PuppyB, byuncheeseu, Kimsymp, alieth doll, blankyoss, Mybeeeeeee, duwinalailapark

YOU GUYS ARE THE BEST!

Terima kasih banyak juga buat yang udah follow dan favorite cerita ini~

Jangan lupa tinggalkan jejak ya karena review kalian lah yang bikin aku terus semangat ngelanjutin cerita ini.

And bubye for now, guys~

See you soon in the next chapter!