EARLY MARRIAGE SLYTHERIN AND GRYFFINDOR

Disclaimer: J.K Rowling

Pairing: DraRry (Draco Malfoy – Harry Potter)

Ganre: Romance

Rated: T, T+, M

Warning: OOC, Typos and Miss typos, Modifate Canon, Magic, Voldy and war, Yaoi, Alur terlalu cepat, dll

"DON'T LIKE, DON'T READ"

-Chapter 5 part 1-

.

.

.

Saat ini banyak keluarga penyihir yang akan mengantarkan anak-anak mereka untuk belajar di sekolah ternama dunia sihir—Hogwarts, dan itu juga berlaku bagi keluarga besar yang saat ini mengantarkan anak-anak mereka yaitu keluarga Weasley, Malfoy. Dan juga dengan Sirius yang mengantar Harry. Hermione, Blaise serta Theo, memang sudah biasa pergi sendiri hingga membuat stasiun dengan nomor 9 ¾ itu ramai.

"Draco, Harry, sudah tidak ada yang tertinggal lagi 'kan?" Tanya Narcissa pada kedua putranya.

"Tidak, mom." jawab Harry tersenyum.

Semenjak dia menerima tunangan Draco, Narcissa memaksanya untuk memanggil Narcissa dan Lucius dengan sebutan mommy dan father—membuatnya merasa memiliki ayah dan ibu yang baru. Jadi dengan senang hati, Harry mengiyakannya, setidaknya dia berpikir kedua orang tua itu akan menjadi ayah dan ibu barunya kelak.

"Dragon, kau harus menjaga dia dengan sangat baik," kata Sirius memperingatkan Draco yang dibalas anggukan oleh Draco. Setelahnya, anak-anak yang akan kembali ke Hogwarts segera menaiki kereta setelah mendapatkan ciuman di masing-masing pipi mereka oleh dua nyonya tersebut—Narcissa dan Molly. Ok, mungkin minus Draco yang sedikit mengelak saat Narcissa ingin menciumnya. Mungkin dia malu karena ada Harry yang memperhatikannya sambil terkikik manis.

Setelahnya, kelima pemuda dan dua gadis tersebut itu pun segera mencari kompartemen untuk mereka tempati. Beberapa menit berlalu setelah menemukan kompartemen dan menyusun koper-koper mereka, semua remaja itu pun mulai mengobrol santai.

"Wow! Kalian tidak melepas cincinnya saat sekolah? Gak takut ketahuan?" Tanya Theo yang memperhatikan jari manis tangan kanan Harry dan Draco.

"Tidak, kami tidak akan melepasnya," jawab Harry sambil melihat keluar jendela menyembunyikan rona wajahnya.

"Cie,cie... Harry romantis sekali," goda Ron yang melihat Harry jenaka. Membuat wajah seputih porselen itu merona karena digoda. Mata Harry melihat ke segala arah seperti mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Dan yang lain hanya dapat tersenyum dengan girang melihat kelakukan manis manusia di depan mereka itu.

"Ayolah Ron, itu wajar apalagi mereka akan segera menikah akhir tahun ini," kata Ginny dengan mata berbinar bahagia.

"Ya... aku tidak sabar melihat Draco akan menjadi seorang suami, dan juga calon seorang ayah," pekik Hermione tak kalah gembira.

Draco hanya terkekeh saja mendengar celotehan dua fujoshi di depannya. Tiba-tiba Draco meraih pinggang Harry dan meletakkan kepalanya di bahu Harry—yang wajahnya semakin merah. Apalagi ditambah dengan siulan menggoda teman-temannya. Akan tetapi Harry terlihat tidak berusaha melepaskan diri dari Draco karena Harry sendiri menikmatinya. Harum rambut Draco yang dapat dihirupnya dengan mudah dari jaraknya yang sekarang, membuatnya nyaman. Tanpa melihat pandangan teman-temannya yang tersenyum, Harry sedikit menggeser tubuhnya—membiarkan tubuhnya dan Draco nyaman dengan posisi yang sekarang.

Hening.

Hermione, dan Ginny sedang membaca sebuah buku—yang entah buku apa itu. Draco dan Harry sedang menutup mata—menikmati suasana yang sepi. Ron sedang tertidur di sisi lain tempat duduk. Sedangkan Theo dan Blaise sedang menikmati pemandangan di luar kereta sambil sesekali melirik satu sama lain lalu tersenyum.

Pintu komplementer itu terbuka, menampilkan seorang wanita dengan pakaian maid putih dengan ukuran badan cukup gemuk mendorong troly berisi berbagai macam cemilan. "Tidak mau membeli cemilan anak-anak?" tanya madam penjual makanan sambil tersenyum.

Semua anak yang berada di komplementer itu tersenyum dengan senang.

Harry segera beranjak menuju pintu yang terbuka, membuat Draco yang masih menyandarkan kepalanya sedikit oleng. Tidak sadar kalau Draco mentapnya tajam—karena kesenangannya tertaganggu—ia langsung memilih cemilan dengan beberapa temannya, mengambil cemilan yang mereka sukai masing-masing.

Tepat saat Harry ingin mengambil coklat kodok kesukaannya, ada tangan putih lain yang bersamaan mengambilnya. Tangan putih sedikit kekar menggengam tangan kecil Harry. Harry yang merasakan tangannya digenggam dengan tangan hangat lain langsung menolehkan ke asal tangan itu berasal.

Seorang pemuda yang kelihatannya lebih tua beberapa tahun darinya sedang tersenyum dengan canggung. Rambut pirang kecoklatan itu terlihat halus membingkai wajah tampan—yang tentunya tidak kalah dengan wajah tampan Draco. Bibir sedikit tebal menggoda itu terus melemparkan senyum yang serasa menjeratnya untuk terus melihat ke sana.

"Ah, kau ingin membeli yang ini juga?" ucap pemuda itu setelah beberapa saat mereka saling melihat. Tangan pemuda itu dengan perlahan menyodorkan coklat kodok yang tadi menjadi incaran Harry.

"Eh? i-iya," jawab Harry sedikit gugup dengan rona tipis di pipinya sambil mengambil coklat yang disodorkan pemuda itu.

Sedangkan Draco yang memperhatikan interaksi kedua orang tersebut hanya bisa mendesis tidak suka. Memalingkan kepalanya melihat ke arah pemandangan di luar, walaupun sesekali masih melirik ke arah Harry yang masih bercakap dengan pemuda berambut pirang kecoklatan itu. Tidak sadar kalau desisan yang dikeluarkannya itu juga diikuti dengan rematan tangannya pada busa kursi.

Draco jelas terlihat kesal melihatnya.

'Ini tidak akan bagus!' batin kelima remaja lainnya melihat reaksi Draco yang bisa meledak kapan saja. mereka saling berpandangan lalu mengangkat bahunya. Mereka tidak mau terlalu ikut campur masalah pasangan baru itu. jadi, mereka hanya dapat memantau mereka saja, dan kembali memilih cemilan yang mereka sukai—sambil sesekali melihat Harry yang masih berkenalan dengan pemuda tampan di sana.

Setelah memilih makanan di troly beberapa waktu lalu, yang dimana Harry mendapat senyum menggoda dari Cedric Diggory—nama lelaki tampan tadi. Harry terus saja tersenyum dan merona, yang tentunya membuat Draco semakin kesal.

Suasana di kompartemen itu tidak seperti suasana sebelum troly makanan datang. Sekarang suasana di sana terasa canggung dan dingin.

Harry melihat Hermione yang menggeleng dan menggedikkan kepalanya ke arah Draco. 'Sepertinya aku membuatnya cemburu lagi,' batin Harry sambil menggeleng melihat kelakuan Draco yang sangat possessive padanya. Menghela nafas, Harry segera berjalan ke arah Draco yang sedang melihat keluar jendela dan kelihatan sangat badmood itu.

Harry melihat Draco dengan tatapan polos—tanpa dosa. Menghela nafas sekali lagi, dan tanpa disangka—oleh semua yang ada di dalam kompartemen itu—Harry segera duduk di atas kedua paha Draco, menghadapkan wajah Draco padanya.

Ron sudah menganga melihat kelakuan temannya itu, menjatuhkan permen yang tadinya sudah masuk ke mulutnya. Hermione, Ginny, dan Theo langsung memekik girang. Sedangkan Blaise hanya melihat mereka dengan pandangan kaget—tidak terlalu banyak mengeluarkan ekspresi.

"Err... kami keluar sebentar," kata Hermione dan segera menyeret semua yang ada di sana segera keluar.

"Aku tak menyangka Harry akan berinisiatif berbuat begitu," desah Theo dengan wajah memerah. Sungguh dia tidak memperkirakan jalan ekstrim yang akan dilakukan Harry untuk mencuri perhatian Draco—sekaligus jalan untuk memulihkan mood putra tunggal Lucius itu.

"Jangankan kau! Aku saja kaget setengah mati," kata Hermione yang tak kalah kagetnya.

Ketiga orang lainnya tidak berkata apa-apa karena kaget. Mereka hanya dapat saling berpandangan dari luar komplementer. Sekarang mereka terlihat mengintip pasangan tersebut di pintu komplementer—seolah tidak peduli pada beberapa siswa lain yang tidak sengaja melihat mereka dengan pandangan aneh.

Beralih pada pasangan yang berada di dalam. Harry masih setia duduk di pangkuan Draco dengan mengalungkan tangannya di leher pucat kekasihnya itu. pandangan mereka saling bertabrakan untuk beberapa saat.

"Err... Dray, kau marah padaku?" Tanya Harry sambil menunduk malu di pangkuan Draco. Pipinya bersemu merah, dan dia tidak berani melihat langsung mata Draco—menyembunyikan manik emeraldnya di balik helai poni rambut hitamnya.

Draco yang tidak menyangka Harry akan berbuat begitu hanya dapat mematung, tapi setelahnya seringai kecil terlihat membingkai wajahnya tanpa Harry ketahui. Melihat Harry dengan pandangan sulit diartikan, Draco menjawab, "Tidak," dengan nada ketus di sana.

"Ugh... kalau tidak marah kenapa kau ketus begitu?" sergah Harry sambil menatap Draco yang memasang wajah datar—meski hatinya menyeringai senang. Uh, Harry menyesal melihat Draco sekarang.

"Memang aku kenapa?" Tanya Draco ketus lagi.

"Ck, ayolah Dray, aku tidak suka padanya. A-aku ha-ha-hanya me-menyukaimu," kata Harry dengan suara semakin menghilang dan wajah yang semakin memerah.

Seringaian Draco semakin lebar mendengar kata yang diucapkan Harry, "You know, love?You are mine," bisik Draco lirih di telinga Harry yang memerah, "Aku tidak suka ada yang mencoba berani mengambil atau menyentuh milikku. Jadi, berjanjilah jangan biarkan ada seorang pun yang menyentuhmu kecuali aku, love," lanjut Draco dengan masih berbisik, yang mendapat anggukan kecil dari Harry. Tiba-tiba Draco mengangkat wajah Harry dan mencium bibir Harry singkat, lalu merambat ke atas. Mencium kedua pipi Harry dengan gemas, hingga sedikit mengalitnya dengan kedua belah bibirnya.

Harry melenguh pelan, "Of course, I'm yours," bisik Harry sambil balas mencium Draco.

Draco melihat Harry dengan seringaian, dan Harry hanya dapat tersenyum senang. Hubungan mereka memang tidak dapat melonggar. Selalu ada cara untuk menghilangkan rasa cemburu, dan pertengkaran di antara mereka.

Harry tersenyum kecil dan bersandar di bahu Draco yang memeluk pinggangnya. Saling membagi kehangatan, dan sesekali tersenyum sambil menggesekkan hidung mereka. seperti ingin saling menggoda, mereka hanya melakukan sentuhan-sentuhan kecil pada pasangannya lalu tersenyum lagi.

"Merlin! Aku tidak menyangka mereka berani berbuat begitu!" pekik Ron,

"Tidakkah Draco dan Harry tahu di mana mereka sekarang?!" protes Theo yang wajahnya sangat memerah.

"Tapi Draco itu sangat possessive sekali pada Harry! Mereka benar-benar pasangan yang membuat jiwaku membara. Terlalu sayang untuk dilewatkan! " kata Hermione berbinar.

"Kau benar Mione! Harry yang manis dan menggoda, pasti membuat Draco harus menahan hingga mereka resmi. Aku tidak tahan untuk melihat mereka bersatu seutuhnya! Draco yang possessive dan Harry yang begitu menggemaskan!" pekik Ginny gemas dengan tangan di depan dada.

"Dasar Draco pervert," kata Blaise sedikit kesal. Mungkin dia iri karena tidak bisa bermesraan dengan Theo kesangannya.

Ah, mungkin mereka harus menunggu di luar sampai acara honey bunny Draco dan Harry selesai. Mana mungkin mereka berani mengacaukan acara kesukaan Draco. Maaf saja, mereka masih sayang nyawa, dan lagi... lumayan juga mendapat tontonan gratis.

.

.

.

...

Tidak terasa mereka telah sampai ke Hogwarts. Semua siswa segera masuk ke aula besar dan duduk berdasarkan asramanya masing-masing. Draco dan Harry mau tidak mau harus berpisah beberapa saat untuk mendengarkan professor Dumledore berpidato, dan perkenalan guru baru untuk pelajaran astronomi. Harry terlihat girang bersama dengan Ron menyaksikan anak kelas satu yang diseleksi. Setelahnya makan malam pun di mulai, dan disambut dengan meriah oleh mereka.

Ron yang melihat yang tersedia langsung menyambar ayam goreng kesukaannya. Sedangkan Harry memulainya dengan jus labu. Tidak jauh dari tempat Harry, Draco terus saja mengamati cara makan Harry yang menurutnya sangat manis itu sambil tersenyum. Harry yang merasa diperhatikan mau tidak mau menengok ke belakang. Pandangan mereka yang bertemu membuat Harry yang masih setia meminum jusnya langsung sedikit tersedak—malu.

Hermione yang melihat itu langsung saja mengusap lembut punggung Harry dan memberikan selampai untuk membersihkan jubah Harry. Ron hanya terus makan sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan si pelaku pembuat tersedaknya Harry hanya tersenyum dengan geli, bahkan Theo yang duduk disampingnya dan melihat interaksi itu hanya dapat terbahak—lucu menurutnya.

Tapi bukan hanya mereka yang tersenyum melihat Harry yang bertingkah lucu. Ada mata lain yang melihatnya sambil tersenyum. Sosok tampan dan mengagumkan yang sedang meminum jus labunya.

Jam makan malam selesai. Semua siswa diharuskan untuk segera ke asramanya masing-masing. karena untuk siswa yang tertangkap tidak ada di asramanya, sudah pasti akan mendapatkan pengurangan poin sebagai hukuman.

Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada 2 siswa yang sedang mencuri waktu untuk berduaan.

Saat ini Harry dan Draco sedang ada di menara astronomi.

Draco memeluk Harry dari belakang, dan Harry menyandarkan punggungnya di dada bidang Draco serta kepalanya di bahu kekar Draco. Tangan Harry memeluk balik tangan Draco yang melilit possessive di perutnya. Udara yang dingin menjadi hangat di sekitar mereka.

"Love, kau bahagia?" Tanya Draco pada Harry yang bersandar nyaman. Bibirnya yang berada di dekat telinga Harry mengeluarkan uap hangat, membuat bulu halus Harry meremang karenanya.

Sontak Harry membuka matanya, "Uhm, yeah, kenapa?" Tanya Harry lirih.

"Tidak, aku hanya ingin bertanya," kata Draco mengeratkan pelukannya.

Harry tersenyum dan menyamankan dirinya lagi. hanya udara dingin yang menemani mereka dalam keheningan. Tapi percaya atau tidak, saat hening seperti inilah yang mereka sukai. Tanpa ada orang lain, terjebak dalam romansa berdua dan menikmati waktu bersama orang terkasih. Sungguh sangat menyenangkan.

"Dray, berapa jam lagi jam malam?" Tanya Harry sambil berbalik menghadap Draco.

"Dua jam," kata Draco singkat. Harry bergumam lagi menanggapinya. "Kenapa?" tanya Draco.

"Aku hanya tidak ingin ketahuan pergi di jam malam lagi," jawab Harry memejamkan matanya.

Draco tersenyum dan mengecup pipi Harry dalam-dalam. "Hm, tidak akan." Jawab Draco. Perlahan dibalikkannya tubuh kecil Harry dengan memutar pinggang ramping itu. ditangkupnya pipi Harry lembut. Harry yang dapat merasakan hangat nafas Draco bersemu, dan perlahan memejamkan matanya. Merasakan hangatnya bibir pucat itu menyentuh bibirnya. Sangat, basah tapi membuat sesuatu dalam dirinya meminta lebih.

Perlahan Harry mengalungkan tangannya di leher Draco. Mengelus leher Draco pelan, memberikan sedikit rangsangan di sana dan beralih pipi Draco sebentar, lalu kembali ke belakang leher. Perlahan Harry remat rambut pirang kekasihnya manja saat Draco melumat dan semakin memperdalam ciumannya. Tubuh Harry yang menginginkan lebih mulai sedikit demi sedikit mengubah posisi menjadi terduduk di pangkuan Draco. Mengalungkan kaki jenjangnya di pinggang Draco, dan mulai membalas setiap lumatan Draco.

Draco sendiri hanya tersenyum di balik lumatannya. Tangannya tidak bisa diam. nafsu yang mendorongnya membuatnya tidak bisa diam. Tubuh bagian bawahnya sengaja digesekkan ke bagian bawah Harry—membuat kedua remaja itu melenguh. Tangannya tidak bisa diam, dan terus mengelus setiap bagian tubuh Harry, mulai dari leher, pipi, ke bawah untuk meremat sedikit bahu Harry, ke bawah lagi untuk sedikit mengusap dada Harry, menjalar ke belakang untuk mengusap punggung kecil itu, dan merambat ke bawah—hanya sampai pinggang Harry.

Ciuman itu begitu memabukkan dan menghanyutkan kedua sejoli itu sampai tidak menyadari ada mata lain yang melihat kelakuan mereka.

"Wow Gin, kau lihat itu?! Mereka benar-benar sangat cocokkan?" kata Hermione berbinar bahagia mengintip Harry dan Draco yang sedang berciuman mesra—atau bergairah?

"Kau benar Mione! Ugh, aku-aku benar-benar tidak sanggup lagi melihat ini," kata Ginny dengan binar mata yang sama dan juga rona merah yang menghiasi wajah manisnya.

"Ya, aku tak menyangka Harry bisa jadi uke yang agresif seperti itu!" kata Hermione yang saat ini melihat Draco yang mulai menggendong Harry untuk didudukan di jendela. Ia terpekik dengan pelan saat Harry dengan manja mencium bibir Draco terlebih dahulu.

"Dan yang lebih parah Draco benar-benar mesum," kata Ginny sambil menutup hidungnya saat Draco mulai menyerang leher putih Harry.

.

.

.

.

...

"Ada ramai apa?" tanya Ron menunjuk gerombolan anak yang sedang berdiri di pinggir danau dekat Hogwats. Beberapa anak berlarian pula dari belakang mereka menuju danau itu.

Hermione mengangkat bahunya tidak tau, sedangkan Harry langsung ikut pada gerombolan anak-anak. Memanfaatkan tubuh munggilnya untuk melihat apa yang sedang dielukan. Mata hijaunya langsung berbinar dengan kagum melihat pemandangan di depannya. "Ron, 'Mione, kalian harus lihat ini!" Teriak Harry melambaikan tangan.

Ron dan Hermione saling bertatapan, dan mengangkat bahu. Dengan cepat mereka juga berdimpitan dengan anak-anak dari asrama lain.

Melihat sebuah kapal laut kuno—terlihat seperti kapan bajak laut—perlahan muncul dari dalam laut. Melihat palungnya yang besar pertama kali muncul dan memuncratkan air yang banyak saat muncul ke permukaan.

Tidak selang beberapa menit, sebuah kereta kencana putih menuncur di atas mereka. para murid saling bertepuk tangan heboh melihat pertunjukkan itu. Harry yang sedang girang pun berteriak seru bersama dengan anak lain.

.

.

Makan malam di Hogwarts kali ini berbeda, pasalnya ada beberapa murid dari sekolah lain yang ikut bergabung makan malam. Dari penjelasan Dumbledore di pidatonya, akan diselenggarakan pertandingan piala api yang akan diikuti tiga sekolah penyihir ternama yaitu Dumstrang, Beauxbatons dan juga Hogwarts. Dumstrang adalah sekolah yang tadi datang dengan sebuah kapan laut usang—menurut Ron, sedangkan Beauxbatons adalah sekolah dengan kereta kencana.

Para murid langsung berteriak girang saat mendengar pertandingan. Tapi sayang, yang diperbolehkan ikut pertandingan tersebut hanya anak berumur tujuh belas tahun ke atas saja—yang langsung dibalas dengan suara gemuruh anak-anak.

"DIAM!" Teriak Dumledore saat mendengar kerusuhan. Para murid pun langsung terdiam saat mendengar suara yang begitu menggema itu.

Bahkan Harry yang ikut bergemuruh tadi pun langsung menutup telinganya. Hei, suara Dumledore itu sangat keras hingga rasanya ingin membuat gendang telinga pecah saat itu juga.

"Lebih baik sekarang kita sambut sekolah Dumstrang!" Teriak Dumledore sambil mengacungkan tangannya ke arah pintu aula yang terbuka lebar.

Suara gemuruh tongkat bertemu dengan lantai langsung terdengar bersamaan dengan suara besar langkah kaki. Beberapa pemuda tampan, dengan tubuh berbentuk, dengan pakaian merah terlihat mulai memasuki pintu. Beberapa di antaranya langsung menunjukkan sebuah atraksi yang hebat.

"Wouw! Itu Victor Krum 'kan?" Tanya Ron tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sambil menepuk pundak Harry.

"Kau benar, dia pemain Quidditch dunia. Ternyata dia dari sekolah Dumstrang," kata Ginny yang juga terkejut, "-ternyata kalau dari dekat dia lebih tampan dari biasanya," kata Ginny lagi sambil tetap memandang Victor Krum.

Harry hanya diam mendengar celotehan teman-temannya. Melihat ke arah Draco yang sedang tersenyum lalu menggelengkan kepala—seperti sebuah isyarat. Dan tentu Harry tau. Maksudnya dia tidak boleh sampai terpesona dengan murid-murid sekolah Dumstrang. Harry hanya tersenyum lalu menggeleng ke arah Draco. Memberikan isyarat kalau dia tidak akan terpesona.

Draco tersenyum, dan melemparkan sebuah kertas dengan bentuk burung menuju Harry. Draco mengiyaratkan agar Harry membukanya. Harry tersenyum melihat gambar—tidak jelas Draco. Seperti gambar Harry yang sedang dalam pelukan Draco dan sebuah tanda love yang bergerak-gerak. Tersenyum dengan sangat lebar, Harry melihat Draco dengan semu di wajahnya.

"Aku juga," gumam Harry menggerakkan bibirnya perlahan.

"Aku sedikit terkejut ada juga orang yang sama 'seperti' Hagrid" kata Hemione membuka suara—membuyarkan acara romantis DraRry.

Sontak Harry melihat ke arah yang Hermione lihat. Seorang wanita dengan tubuh yang 'sangat' tinggi sedang berjabat tangan dengan kepala sekolahnya. "Kau benar, kepala sekolah Beatboux itu benar-benar luar biasa," tangapi Harry.

Semuanya selesai. Harry berjalan gontai ke arah asramanya. Perkenalan murid dari sekolah lain itu ternyata cukup melelahkan juga. Padahal hanya makan malam bersama, dan sesekali berkenalan. Tapi justru itu yang sangat melelahkan. Banyak sekali murid dari Dumstrang yang ingin berkenalan dengannya, sampai-sampai Draco harus pindah tempat duduk untuk menjaga Harry-nya yang sedang diincar—sifat possessivenya kambuh.

Harry tersenyum di ranjangnya. Akhirnya dia sampai juga di kamarnya. Harry melihat Ron yang sedang tidur terkurap tanpa melepas jubahnya. 'Sepertinya dia kelelahan,' pikir Harry.

Semuanya sunyi hanya suara jangkrik yang terdengar, hingga akhirnya Harry terlelap dalam kelelahan. Tidak merasakan hawa dingin yang teramat sangat di luar Hogwats. Bunga-bunga yang tadinya bermekaran langsung menguncup dan terselimuti oleh es. Sedangkan di antara pepohonan, kaki beralaskan sepatu besar sedang melangkah dengan tegap menuju ke arah Hogwats.

.

.

.

.

...

Sudah tiga minggu anak sekolah lain berada di Hogwarts dan besok adalah penentuan siapa yang akan ikut pertandingan tersebut. Saat ini Harry, Hermione dan Ron sedang duduk-duduk di sekitar danau, dan mereka melihat Victor Krum sedang berenang di danau yang beku.

"Apa dia sudah gila!?" pekik Ron heran.

"Mungkin di Dumstrang dia sudah biasa begitu," celetuk Harry yang cukup terkejut melihat seorang berenang di danau yang beku, 'Sungguh gila' batin Harry.

Hermione tidak berkomentar apa-apa dan tetap membaca buku yang terbuka di pangkuannya.

"Hai, love," Bisik Draco dan langsung duduk di samping Harry yang sedikit merona karena panggilan Draco tadi.

"Yo, Harry, Ron, Mione," sapa Theo yang langsung duduk di sebelah Blaise yang duduk di sebelah Ron.

"Hai, Theo, Blaise," jawab Ron dan Hermione bersamaan.

"Kalian sedang apa?" Tanya Blaise buka suara.

"Hanya menikmati waktu yang tenang," jawab Hermione dengan sedikit girang memperhatikan Draco yang mengecup singkat pipi kanan Harry, memeluk pinggang, dan meletakkan kepalannya di bahu mungil Harry.

"Mereka itu tidak tahu tempat dan waktu," gerutu Ron yang melihat apa yang dilakukan pasangan sejoli tersebut.

"Apa boleh buat, tahun ini mereka akan menikah bukan," kata Theo sambil tertawa. Dia cukup memaklumi pasangan baru itu. lagipula bermesraan dengan pasangan sendiri itu tidak buruk. Dia juga terkadang suka seperti itu dengan Blaise—tapi tanpa diketahui orang lain. "Ngomong-ngomong kalian memilih siapa yang mewakili sekolah kita?" Tanya Theo menghentikan tawanya.

"Aku sih memilih Angelina, habis diakan dari Gryffindor," jawab Ron.

"Aku juga, tapi kalau cowok bernama Cedric itu juga tidak buruk," kata Hermione sambil melirik Draco yang sedikit badmood.

Theo yang sepertinya mengerti arti kerlingan Hermione pun sedikit menyeringai. "Kau benar Mione, cowok Hufflepuff itu pun juga cocok," imbuhnya sedikit memperparah mood Draco. Melihat sahabatnya yang sedang cemburu itu lumayan menyenangkan juga. "-kalau kau Blaise?" Tanyanya pada sang kekasih.

"Yang mana pun, asal berguna," kata Blaise datar.

"Kalian?" Tanya Ron pada Harry dan Draco.

"Yang mana saja boleh, tapi aku berharap dari asramaku, meski Cedric tidak buruk," kata Harry cuek sambil mengangkat bahu. Melihat ke arah Draco yang sedang menghembuskan nafas kesal, Harry bertanya, "Kau Dray?"

"Terserah, tapi aku lebih memilih dari Gryffindor atau mungkin asramaku," kata Draco santai sambil kembali merebahkan kepalanya di bahu sang tunangan.

'Dasar tukang cemburu,' batin Theo, Blaise, Hermione dan Ron bersamaan.

"Ron!"

Sebuah suara membuat semua yang ada disana langsung menoleh ke belakang. Seorang anak laki-laki berambut pirang sedang berlari ke arah mereka.

"Ada apa, Colin?" tanya Ron saat melihat anak itu berlari dan terengah saat sampai di hadapannya. Harry dan yang lain hanya saling berpandangan—bingung. Anak di depan mereka memang selalu heboh, tapi biasanya yang dihebohkannya itu sangat update. Siapa tau ada rumor yang berhubungan dengan Ron, hingga anak itu susah payah—sampai terengah—seperti itu untuk datang kemari.

"I-itu Fre-Fred dan George! Me-mereka mencoba menembus garis umur yang dibuat Dumledore!"

"APA?!" bukan hanya Ron sekarang yang kaget, tapi juga semuanya—kecuali Hermione, Draco dan Theo mungkin. Ternyata si kembar Weasley memang sudah terlewat nakal. Tapi eksperimen kembar Weasley itu selalu membuat sebuah kegaduhan, dan juga menyenangkan. Tidak ada salahnya melihat.

"Ayo! Mereka sudah mau mulai!"

Harry dan yang lainnya segera menyusul Colin dengan berlari. Sepertinya akan ada kejadian menyenangkan, pikir mereka.

Akhirnya sampai di aula. Harry yang ingin melihat lebih jelas pun mendekat, dan menapaki kakinya untuk berada di tempat yang lebih tinggi. Dia melihat Fred dan George sedang saling bersulang dan meminum sesuatu dari sebuah botol kecil. Dia semakin atunsias melihatnya.

"Hei, Love jangan terlalu dekat," ucap Draco sampai di samping Harry.

Harry tanpa melihat Draco menjawab, "Aku penasaran pada mereka," ucapnya sambil terkikik. Mungkin yang dimaksud Harry, dia tidak sabar melihat apa yang akan terjadi pada kedua Weasley itu. Menembus lingkaran sihir yang dibuat Dumbledore itu pasti akan menimbulkan sesuatu, dan Harry tidak sabar untuk melihatnya.

Draco yang melihat Harry terkikik hanya dapat menghela nafas. "Percuma," desahnya.

Ternyata benar, tidak sampai 5 menit kedua Weasley kembar itu berhasil menembus lingkaran sihir, mereka akhirnya terlempar paksa dari dalam hingga terjatuh dengan debuman keras. Orang-orang yang ada disana tertawa, sama juga dengan Harry. Bahkan mereka tertawa semakin keras tak kala melihat perubahan pada wajah kedua Weasley itu.

Draco yang melihat itu mau tidak mau tertawa juga, tapi semuanya tidak berlangsung lama.

Cedric masuk dengan beberapa temannya yang sangat berisik—memberinya semangat yang berlebihan. Cedric sendiri hanya tersenyum menanggapi temannya. Semuanya berjalan normal, sampai Cedric berani melihat Harry dengan senyum—yang bagi Draco—menggoda dan berniat main mata dengan Harry sebelum memasukan namanya ke dalam piala api.

Draco melirik Harry.

...dan yang didapatnya membuatnya semakin kesal.

Harry dengan wajah merona membalas senyum Cedric dengan begitu manis.

'Shit!' Runtuh Draco sambil melilitkan tangannya dengan cepat ke bahu Harry, lalu memandang Cedric dengan tajam, seakan mengatakan, jangan-pernah-coba-coba-melihat-kekasihku! Draco yang begitu possessive terhadap apa yang menjadi miliknya itu memang tidak ingin siapapun berani mendekati miliknya. Hei, siapapun pasti akan marah saat orang yang sudah akan menjadi miliknya digoda orang lain—secara terang-terangan, apalagi orang itu 'lumayan'.

Ingat, Draco tidak ingin bilang jika Cedric itu keren.

Cedric yang dipandang seperti itu hanya tersenyum dengan miring lalu pergi menjauh.

Sepertinya semuanya akan semakin runyam di tahun ini.

.

.

.

.

...

Hari ini setelah selesai makan malam akan diketahui siapa yang ikut pertandingan, dan saat ini Dumledore tengah berdiri di depan piala tersebut.

"Sekarang kita akan mengetahui juara-juara kita!" teriak Dumledore memulai semuanya. Murid-murid terlihat sangat atunsias, bahkan Harry sampai berdiri karena tinggi badannya yang tidak memadai untuk melihat dengan jelas. Tiba-tiba api biru yang ada di atas piala tersebut menjadi merah, dan keluarlah perkamen kecil yang hampir terbakar.

Dumledore dengan sigap menangkap perkamen itu. melihat dengan teliti tulisan yang berada di sana. "Dari sekolah Dumstrang yang mewakili adalah... Victor Krum!" kata Dumledore sambil dihadiahi tepuk tangan yang meriah dari sekolah Dumstrang, lalu setelahnya Victor Krum beranjak dari tempatnya, berjalan menuju Dumledore yang langsung menjabat tangannya—memberi selamat dan segera menuju ke belakang ruangan aula besar.

Tidak selang beberapa lama api kembali berkobar merah lalu kembali terlempar keluar perkamen kecil dari piala tersebut dan langsung diambil Dumledore sigap, "Dari sekolah Beauxbatons adalah... Fleur Delacour!" kata Dumledore lagi dan mendapat tepuk tangan meriah dari sekolah Beauxbatons. Sama halnya dengan apa yang dilakukan Victor, Fleur pun pergi ke belakang aula.

Bagian yang paling menegangkan. Draco berharap jika bukan Cedric yang menjadi perwakilan. Dengan istilah lain, dia tidak ingin Cedric terlihat lebih hebat darinya. Cedric yang tadinya bukan apa-apa saja, sudah berani mendekati Harry-nya. Apalagi jika berhasil. Draco benar-benar terlalu malas dan sebal untuk memikirkannya.

Kembali piala api melempar perkamen kecil.

"Perwakilan sekolah Hogwarts adalah... Cedric Diggory!" kata Dumledore yang mendapat sambutan paling meriah dari Hogwarts.

"Oh, tidak!" pekik Ron kecewa tetapi hanya bisa didengar oleh Harry.

Harry melihat ke arah Draco yang sepertinya sedikit tidak senang. Dengan hati sedikit resah, Harry berbalik melihat Cedric. Dan ternyata benar, pemuda itu sedang melihat ke arahnya dan berkedip sambil mengangkat tangannya—membanggakan diri. Harry hanya dapat tersenyum, lalu duduk dengan biasa—tidak ingin sampai Draco melihat interaksinya dengan Cedric.

Harus diingatkan berapa kali? Draco itu orang pencemburu. Bisa-bisa dia marah karena melihat isyarat Cedric padanya.

Dumledore bertepuk tangan senang, diikuti beberapa guru lain yang tersenyum. Tetapi tiba-tiba dari arah piala api yang menjadi merah. Dumledore yang melihatnya menpakkan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Kembali muncul sebuah potongan perkamen lagi, dan Dumledore mengambilnya. Termangu setelah menatap nama di perkamen tersebut, lama Dumledore terdiam dan semua orang menatapnya—menunggu nama yang berada di perkeman itu. Dumledore bergeham sekali, mengangkat kepalanya. "Harry Potter," gumamnya.

"HARRY POTTER! HARRY POTTER!"

Sontak semua yang ada di aula tersebut memandang Harry yang kelihatan sangat shock.

"Ak-aku?! Ak-ku tidak me-mesu-memasukkan namaku! Ka-kalian ta-tahu itu kan," bisik Harry lirih kepada kedua sahabatnya yang memandang bingung pada Harry.

"HARRY POTTER!"

Hermione dengan cepat menyuruh Harry untuk berdiri. "Ayo, Harry! Cepat! Aku percaya padamu! Cepat hampiri dia!" Bisik Hermione sambil mendorong Harry dengan perlahan.

Menelan ludahnya, Harry perlahan menghampiri Dumledore yang sepertinya juga shock. Dialihkannya perlahan kepalanya. Melihat banyak murid yang berbisik dan melihatnya dengan tidak suka. Dan dia melihat Draco—yang juga melihatnya—dengan sendu. Draco menganggukkan kepala padanya sambil tersenyum miris. Harry menghela nafas.

"Lewat sini, Harry," Dumledore menyadarkan Harry dari ketermangunya melihat semua orang di alua.

Bahunya dirangkul lembut, tapi perlahan Harry tau... kepala sekolahnya itu sedang merasakan sesuatu hal yang sangat tidak baik. Terasa untuknya tangan Dumledore yang sedikit bergetar di bahunya. Kepala sekolah itu sangat menyayanginya, jadi tidak mungkin dia tidak kaget melihat namanya disana. Sebuah kasus yang baru untuknya.

Masuk ke ruang para juara, di sana Harry melihat Krum, Delacour dan Cedric mengelilingi sebuah perapian. Mereka semua menatap Harry bingung. Mungkin mereka bertanya, kenapa dia ada di sana.

"Ada apa, Harry? Apa kami disuruh kembali ke aula?" Tanya Cedric yang mengira Harry ke sini hanya untuk menyampaikan pesan. Harry diam tak menjawab, dia sangat bingung saat ini.

Lalu tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Terlihat Ludo Bagman masuk sambil tersenyum aneh. "Luar biasa!" gumannya, lalu tiba-tiba dia menarik lengan Harry dan segera membawa Harry ke depan tiga juara lainnya

"Ini benar-benar luar biasa! Izinkan aku memperkenalkannya saudara-saudara, meskipun ini tidak wajar tetapi dialah sang juara keempat," kata Ludo dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan.

Bisa dilihat wajah Krum sedikit tidak suka dengan dahi yang mengernyit, juga Cedric yang melongo tidak percaya.

"Tapi—bagaimana mungkin? Dia masih kecil?!" Tanya Fleur yang menatap Harry sambil meremehkan. "—lelucon yang lucu ," lanjut Fleur.

"Tidak-tidak . Nama Harry keluar dari piala api dan ini bukan lelucon," kata Ludo, membuat ketiga juara lainnya keheranan.

Lalu datanglah professor Dumledore, professor McGonagall dan professor Snape, juga diikuti Mr. Crouch, professor Karkaroff dan Madame Maxime dari belakang dengan ekspresi yang berbeda-beda. Langkah mereka terlihat sangat cepat, dan terburu-buru.

"Dumledore apa maksudnya ini!?" Tanya Karkaroff sedingin es sambil terus melangkah cepat—berusaha menghampiri Dumledore yang berjalan sangat cepat.

"Benar, mana mungkin Hogwarts punya dua juara!" kata Madame Maxime tidak suka, "-kami kira lingkar batas usiamu itu tidak bisa tertembus!" kata Karkaroff dengan mata tajam mengarah pada Harry yang sedikit ketakutan.

"Mungkin tidak terlalu efisien," kata Dumledore. Tiba-tiba matanya mengarah pada Harry, "Harry aku ingin bertanya padamu!" ucapnya melangkah perlahan mendekati Harry yang mundur teratur hingga terbentur dada bidang Cedric. "Apa kau memasukkan namamu ke piala api?" Tanya Dumledore lembut karena melihat Harry yang ketakutan dipandang tajam oleh Karkaroff dan Maxime.

"No, Sir," kata Harry dengan bibir bergetar.

Cedric yang tidak kuasa melihat Harry seperti itu memegang bahu munggil itu. Merematnya dengan lembut—seperti memberikan sebuah keberanian sekaligus menenangkan.

"Apa kau menyuruh murid lain yang lebih tua untuk memasukkan namamu?" Tanya Dumledore lagi.

"Tidak, professor," kata Harry sedikit agak keras dari yang pertama.

"Apa kau berkata jujur?"

"Tentu, professor!"

"Dia pasti bohong!" seru Maxime menggelegar membuat Harry benar-benar hampir menangis,

"Maxime, sudahlah. Keputusaan kami adalah Harry akan tetap ikut sesuai peraturan sebagai juara dari Hogwats," kata Ludo melihat Harry. Yang lain melihat Harry dengan ekspresi yang berbeda-beda. Cedric melihat Harry dengan sendu bersama Dumledore. Harry yang ditatap seperti itu hanya dapat membulatkan matanya. Jujur dia belum siap dengan semua ini.

"Pertandingan akan diadakan seminggu dari sekarang. Kami tidak akan memberi tahu kalian apa pertandingannya, karena keberanian menghadapi tantangan apapun itu yang terpenting bagi penyihir, kalian juga hanya boleh memakai tongkat sihir, dan juga dilarang menerima bantuan apapun dari guru. Para juara akan menerima tugas kedua setelah tugas pertama selesai dan juga para juara bebas ujian akhir," Lanjut Ludo menjelaskan panjang lebar.

Mereka semua kembali pada pikiran masing-masing. Melihat Harry untuk yang terakhir, lalu melenggang meninggalkan tempat itu.

"Jangan takut, Harry," ucap Cedric sebelum pergi dari sana. Harry mengangguk menerimanya.

"Harry, ikut aku!" kata professor Dumledore diikuti professor Sanape dan professor McGonagall yang memegang lembut pundak Harry. Setibanya mereka di kantor Dumledore sudah ada Draco dan Remus menunggu di sana.

"Jadi bagaimana ini?" Tanya Remus sambil menatap Harry yang duduk di samping Draco yang menggenggam tangan Harry. Harry di matanya sangat rapuh, jujur dia sangat kaget mendengar berita itu, dan melihat keadaan Harry yang terlihat sangat tidak memungkinkan untuk mengikuti kejuaraan, Remus semakin tidak tega.

"Aku tidak tahu. Yang pasti mulai sekarang kita harus melatih Harry mantra tingkat tinggi." Kata Severus yang wajahnya menegang.

Dumledore menghela nafas mendengarnya.

Seusai diskusi tersebut, Harry dan Draco kembali ke asrama masing-masing.

"Aku takut," gumam Harry.

Draco melihat Harry dengan lembut. Menghentikan langkahnya saat sampai di tangga menuju asrama Gryffindor. Perlahan tangannya yang dari tadi menggenggam tangan merambat ke atas. Menangkup pipi Harry dengan lembut. Mata abu-abunya melembut, membuat mata emerald itu berhasil menumpahkan sebuah kristal cairnya.

"Jangan takut," Bisik Draco sambil perlahan mendekatkan kepalanya. Meraup lembut bibir merah Harry dengan pelan. Hanya melumat dengan tujuan menenangkan. Memberikan kehangatan dan kepercayaan kalau dia akan selalu ada.

Perlahan tangan kanan Draco menyusuri garis leher Harry, merambat ke bawah hingga sampai di pinggang ramping itu. Memeluk Harry dengan lembut, mendekatkan kedua tubuh mereka. sedangkan tangan kiri Draco terus mengelus leher Harry dengan lembut. Bibirnya mengecup, melumat dan memanjakan dengan lidahnya sepanjang bibir munggil itu.

Harry yang mulai merasa rileks memejamkan matanya. Merasakan semua rasa lembut yang diberikan Draco 'hanya' untuknya. Perlahan kedua tangannya memeluk leher Draco. Menarik leher putih itu supaya memberikan lebih. Satu tangannya turun untuk membelai lembut punggung tegap Draco—menyalurkan rasa yang melambung.

Mereka terus seperti itu, tanpa tau ada mata lain yang melihat mereka dengan intens.

.

.

Sudah tiga hari sejak kejadian Harry terpilih sebagai juara. Dia mendapat lirikan sinis juga cemoohan dari seluruh asrama, bahkan Ron pun menjahuinya dan bilang bahwa Harry adalah seorang pembohong. Hal itu membuat Harry sangat sedih. Dia hanya berteman dengan Hermione dan Ginny bila di asrama, dan kembali bersama Draco saat keluar.

Pagi ini Harry mendapat tulisan di dinding dia lewat bertulis 'POTTER BAU' yang membuat Harry semakin sedih dan bahkan hampir menangis. Harry segera berlari ke menara Astronomi dan menangis di sana.

Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka, dan menampakkan Draco yang terkejut melihat Harry menangis sendirian di sana, "Dra-Draco?" kata Harry kaget dan segera menghapus air matanya.

"Love, kenapa menangis?" bisik Draco lembut sembari memeluk Harry lembut.

"Aku tidak menangis," bantah Harry sambil membenamkan wajahnya di dada Draco, "Kau percaya padaku, Dray?" Tanya Harry lirih setelah keheningan di antara mereka.

"Aku selalu mempercayaimu, Love," bisik Draco sambil mengusap punggung Harry yang bergetar.

"Kau tau, mereka semua tidak mempercayaiku. Aku takut, aku benar-benar tidak memasukkan namaku," lirih Harry. Beberapa lirihan bahkan terdengan sangat memilukan saat suara manis itu terdengar tercekat, dan sedikit segukan kecil.

"Aku tahu, dan aku mempercayaimu. Tenanglah," kata Draco lembut dan mencium puncak kepala Harry. Diusapnya kepala Harry, sambil sesekali menciuminya dengan lembut. Tangan besarnya merangkul pundak Harry, membiarkan Harry tergelam dalam dadanya dan mendengar suara jantungnya.

Setelah Harry merasa tenang, Draco perlahan melepaskan pelukannya dari Harry dan menatap Harry lembut. Terlihat pipi chubby Harry memerah karena segukan tadi yang berubah menjadi tangis pelan. Mata emerald yang begitu cerah itu pun terlihat sedikit redup dan layu, sekelilingnya bahkan mulai menyembab karenanya. Diusapnya lembut kedua pipi chubby itu. "Hey, jangan menangis lagi, kau tidak manis kalau menangi," kata Draco sembari mengecup kedua kelopak mata Harry—berniat menggoda malaikatnya.

"Kau jahat," kata Harry cemberut membuat Draco terkekeh, "-tapi Dray, mereka tidak percaya padaku, bahkan Ron juga," kata Harry kembali berwajah murung.

"Rasanya aku ingin sekali menghajar si Weasley itu! Beraninya dia tidak mempercayaimu!" kata Draco sangat kesal. "Kita akan mengungkapnya Harry! Dan membuat si Weasley itu malu karena tidak mempercayaimu!" terang Draco sambil mengangkat tangannya. Harry sempat tersenyum melihat Draco bersikap sangat tidak Malfoy-ish sekali itu.

"Aku tidak tahu siapa yang memasukkan namaku," kata Harry sembari bersandar di dada Draco, "Jujur aku takut menghadapi ujian pertama nanti," kata Harry lirih.

"Wajar kalau kau takut, tapi aku percaya kau bisa." bisik Draco di telinga Harry sambil memeluknya erat.

Mereka terus berpelukan di merana astronomi. Saling berbagi kehangan sebagaimana yang dilakukan kekasih. Memberikan kekuatan agar sang pasangan bisa melewatinya dengan selamat. Draco takut. Dia sangat khawatir pada Harry. Tidak sedikit yang tau kalau kejuaraan wizard memang terkadang memakan korban. Dan Draco benar-benar tidak ingin sampai itu terjadi pada malaikatnya. Harry masih harus bersamanya, menjadi sebuah keluarga bersama anak mereka kelak, dan jangan lupa...

...Harry harus melawan Voldemort.

.

.

.

.

.

Tbc~

Sorry lama. Ini juga aku curi-curi waktu pas lagi belajar. 14 april nanti aku ujian, kurang dari sebulan lagi. fiuh, ujian sekolah selesai, tinggal ujian nasional. Semoga aku bisa berhasil mencapai target jadi bisa lanjut fic ini. jujur kalau aku ga nyampe target, aku bertekad mau fokus banget ke kuliahku nanti—tapi ga discountinue kok, paling agak lama aja. Jadi, kalau aku sampe target dan dapet beasiswa, setidaknya aku bisa bersyukur dan sedikit lenggang nunggu kerja sambil kuliahku.

Jadi, semuanya aku minta doanya ya^^ semoga aku sampe target nilai ujian nasional dan ujian sekolah yang aku mau^^

Untuk lanjutannya, akan di update setelah ujian^^.. maaf buat nunggu lagi.

Kalau ada typos, kasih tau ya^^ kalau ada kekurangan yang lainnya, atau ada masukan dan kritik aku terima dengan sangat berterima kasih. Semua yang kalian berikan padaku akan membuat fic ini semakin meningkat. ^^

Thanks spesial for:

Kang Hyun Yoo: ini udah lanjut^^ hati-hati disihir Harry, Harry gitu-gitu possessive juga loh~ hhaha, ne... arigato udah review^^

Zhe: TomHarry? Ntar aku rundingin sama yang buat, kalau ga diperbolehkan kita sisipin XDD #dihajar_bunny... Iya dong, Harry pasti ohko hamil. Ingat? Ini Mpreg hehe.. 1 minggu O.o, Zhe~ bibimu yang imut ini masih harus ujian Q.Q... nanti diusahain 1 or 2 bulan sekali XDD #plakk... arigato udah review Zhe~

Kiseki No Hana: ini bukan murni tulisanku sih. Kan aku buat ini 50-50 sama bunny-chan~ ide aslinya punya bunny, aku bagian tambah kurang disana-sininya^^.. ne, Hana~ ga bisa ga lama Q.Q tugasku makin lama makin numpuk, belum lagi urusan sekolah Q.Q... btw, arigato udah review Hana~

Angel muaffi: ini udah lanjut, arigato udah review ne~^^

Paradise Rubra:udah banyak kah? Hehe ini udah lanjut, semoga lanjutannya memuaskan ne.. arigato udah review^^

Drarry shipper: ini udah lanjut^^ arigato udah review^^

Qnantazefanya: ini udah lanjut ne^^ arigato udah review^^

Sivanya Anggarada: slight? Pasti dong. Ff romance tanpa slight yang manis ga seru #dorr... kelamaan ya hehe, gomen ne.. ini udah lanjut, makasih udah review^^

Yjboo: hehe, biasa si kecil lagi possessive itu XDD... ne, arigato udah review^^

Hatakehanahungry: hehe, arigato.. yang buat kayanya emang suka Harry manja, jadinya begitu deh XDD.. ne, arigato udah review^^

Tanpopout: aaaa, senpai datanggggg~ #melayang.. senpai aku penggemarmu #oy bukan acara jumpa fans! XDD aduh senpai, habis kalau emaknya ga jadi fujo rasanya kurang nyeh XDD #apaan arigato senpai udah review^^

Aza alisson Ganger: ini udah lanjut, semoga suka ne.. arigato udah review^^

Heyoyo: hehe, aku juga seneng.. ne ini udah lanjut heyo, semoga suka ne^^ arigato udah review^^

Guest 1: hehe iya dong, pasti manis.. nah ini udah lanjut, arigato udah review^^

Guest 2: arigato ne udah review^^

Guest 3: eh tragis kenapa? Arigato udah review^^

Guest 4: sedih kenapa? Jangan sedih ne~ Arigato udah review^^

Guest 5: hmm.. orang tua disini peranannya dikit, paling nanti pada final chapter pertarungan Voldy vs Harry baru ada bantuan ortu, nah ini udah lanjut, arigato udah review^^

Wookie: hehe, gpp aku mengerti, pasti gara" kelamaan ga update dan ceritanya juga rada membingungkan, gomen ne.. habis pipi Harry enak sih buat di cipok, masih mending dicium dari pada di gigit #digampok... sayangnya wookie kurang ampuh nih, aku belum bisa update ASAP #modus XDD... lah? Aku kira tau XDD padahal penulisannya hampir sama, ancur Q.Q.. nah, udah lanjut, makasih ne udah review, wookie^^

Guest 6: waduhh, jangannnn~~ ini udah update, jangan bakar akunku, nanti aku malah ga update-update loh~ XDD... arigato udah review, hhaha ^^

Queenymalf: aduh, aku pun buat ini sampe harus pandangin terus muka ukenya Harry.. bikin ngiler, tapi bikin semangat XDD... mukanya punya semangat sendiri sih, wkwk. Arigato udah review ne~^^

Han min jie: ini udah lanjut, semoga suka^^ arigato udah review^^

Uchiha hani namikaze: gimana aku kasih lemon ya? Jangan mimisan hani, nanti abis darahnya XDD.. ne, udah lanjut, arigato udah review^^

Lisa fujoshi: aduh aku dibilang keren #plakk, pasti Drarry yang bilang keren lah~ hhaha, ini udah lanjut, arigato udah review ne~^^

Heart attack: Aaa~ ada yang nemplok! #plakk... ini udah lanjut, semoga udah manis lagi XDD.. arigato udah review^^

Heyoyo: hehe, ini udah lanjut, semoga suka ne^^ arigato udah review^^

Kamira fujika: ini udah update, semoga suka... arigato udah review^^

Yun Ran Liviandra: Aku emang suka pindah-pindah fandom, dan aku lumayan suka disini, jadi aku kesini deh. Aku juga cinta Drarry, jadi aku coba bikin ff disini^^... aku ga bisa kasih bocoran, nanti di tendang sama bunny XDD... tunggu tanggal lemonnya aja, tp yang pasti masih dibawah umur kok lemonannya #WOY XDD.. ini udah lanjut, semoga suka^^ arigato udah review^^

Maaf kalau ada yang kelewat, ^^ nanti kasih tau aja, ^^

Akhir kata...

...Mind to give Bunny and me some review?