Malam sebelum ujian

"Jaljayo, Franca~" Ryeowook melambaikan tangannya sebelum menutup pintu kamar. Franca hanya menjawab dengan kata-kata yang sama.

Ia bersandar di permukaan pintu. Menghembuskan napas sepanjang mungkin, berharap itu bisa mengurangi kepenatan otaknya. Lantas ia berganti pakaian setelah merasa tenang.

Ryeowook duduk di tepi tempat tidur, kemudian saling menggenggam telapak tangannya.

"Tuhan, aku mohon. Aku mohon ujianku mendapat nilai sempurna. Aku tidak mau mengecewakan Eomma. Aku juga tidak mau mengecewakan keluarga baruku sekalipun itu Yesung. Karena aku sayang mereka semua. Jadi ku mohon, kabulkan permintaanku ini. Haleluya, amin."

Kemudian Ryeowook berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.

"Hee... Anak Tuhan ya? Tugas yang mudah." Semula sepasang iris yang terpejam kembali terbuka lebar. Ia berbalik menatap sisi lain kamar.

Seorang pria, memakai baju tuxedo dan memegang tongkat di salah satu tangannya. "Annyeong~ Mau ikut bersamaku? Aku bisa menjamin nilai ujian besokmu bagus jika kau ikut aku."

Ryeowook memekik pelan. "Ti-tipuan macam apa itu!? Kau pikir aku anak kecil?" Ia merangkak ke sudut ranjang yang lebih jauh dari pria itu. Namun kerjanya sia-sia saja saat pergelangan kaki kirinya ditarik oleh sebuah tangan.

"Aku serius, anak manis." Pria berjas itu jatuh ke lubang yang ia buat dengan ketukan tongkat bersama Ryeowook di tangannya.

Di depan rumah, seseorang melongok ke arah lubang berdiameter satu meter. "Eques~! Kau sudah selesai?"

Tap!

Satu pijakan keras memecahkan keheningan di jalan depan rumah Yesung, disusul oleh suara linglung Ryeowook.

"Aku sudah selesai."

Sekasar mungkin Ryeowook ditarik hingga jatuh terbaring di atas aspal jalan. Seseorang segera menduduki perutnya tanpa banyak bicara.

"Aku senang dapat pekerjaan ini." Xerxes tertawa melihat wajah kesakitan Ryeowook. "Manis sih, tapi alangkah bagusnya jika kau seorang gadis cantik yang masih perawan."

Pria yang tidak diketahui namanya oleh Ryeowook bergerak perlahan, mengelus pipinya lembut dengan gerakan menggoda. Tentu saja Ryeowook ingin meronta, menendang Xerxes hingga jatuh. Namun sayang seseorang mencengkram tangannya hingga menempel pada aspal jalan.

"Xerxes, sebaiknya kita cepat. Kalau ada orang yang mencarinya, kita akan repot." Saran Eques menekan tangan Ryeowook.

Xerxes menghembuskan napas kecewa. "Padahal aku ingin bermain-main dulu." Ia masukkan tangannya ke dalam piyama Ryeowook, mengarahkannya pada dada kiri kemudian membentuk suatu simbol dengan jari telunjuk.

Namja manis itu menggigit bibir bawahnya. Rasa geli menggelitik tubuh. Sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.

"Aku benar-benar mengharapkan gadis manis yang jadi tahananku kali ini." Keluh Xerxes kecewa.

Eques menghela napas kesal. "Lakukan dengan cepat, tolol!"

"Iileos gevoka treosme xircus!"

.

.

.

Everytime You Kissed Me

Author: Park Hyesung

Cast:

Yesung x Ryeowook

Kyuhyun x Sungmin

Franca

Genre: Romance, Fantasy, Action?, Friendship

Rate: T

Warning: Yaoi, Typo(s), EYD tidak sesuai, alur kecepatan. Terinspirasi dari Anime/Manga Pandora Hearts, Date A Live, Modotte Mamotte Lollipop, Karneval, Highschool DxD, Shingeki no Kyojin, SAO, beberapa Vocaloid. Tapi jalan FF ini murni dari otak Hye!

Disclaimer: Author hanya meminjam nama para cast. Ini hanya sebuah fiksi belaka, harap tak mempercayai terlalu dalam fiksi ini. Tidak suka pair / cast? Tinggal keluar dari halaman ini. Terima kasih

.

.

.

Episode VII

Xerxes and Eques

.

.

.

"Akh!" Yesung merasakan sakit yang luar biasa ketika membentur permukaan dimensi. Belum sempat ia mengendalikan situasi, sesuatu dari atas bergerak cepat mengarahnya.

"Yesung hyung! Awas!" Sontak obsidian Yesung melebar kala melihat Kyuhyun jatuh dengan kecepatan penuh. Ia berguling ke arah kanan dan alhasil dongsaeng kesayangannya jatuh secara tidak elit, tidak berbeda jauh dengannya tadi.

"Sakit..." Gumam Kyuhyun meringis sakit seiring suara 'kretekan' tulang menggema. Membenturkan bagian depan tubuh membuat paru-parunya sesak. Ia harap kemungkinan tulang rusuknya patah tidak ada.

"Tuan Kyuhyun! Kau baik-baik saja?" Sungmin berteriak nyaring. Berpegangan pada kaki naga Franca erat-erat.

Yesung tidak menghiraukan mereka, bahkan ia tidak sanggup duduk seperti yang Kyuhyun lakukan sekarang. Matanya berputar-putar ke segala arah, mencari Ryeowook tidak ada di dekatnya.

Padahal Ryeowook jatuh duluan, tepat di bawahnya. Kalau dia tidak salah kira, seharusnya dia menimpa tubuh mungil Ryeowook, bukannya lantai dimensi yang tampak transparan ini.

"Eques, kenapa kau tidak menutup lubangnya secepat mungkin? Lihat. Ada tiga domba baru yang menunggu untuk dimangsa." Suara tenor menggema di ruang hampa tersebut, menarik perhatian keempat orang lainnya.

Yesung cepat-cepat duduk, mengabaikan rasa sakit dan mendongak.

"Hai. Senang bertemu penyihir sepertimu." Ryeowook melayang sepuluh meter dari permukaan tanah dengan satu tangan terangkat. Raut sinis penuh keremehan tak luput dari wajahnya.

Ekspresi yang sama dalam tiga minggu ini.

Gigi Yesung gemeletuk karenanya.

"Di mana kau menahannya!? Cepat beritahu!" Yesung meringis saat tanpa sadar menggerakkan kakinya.

"Eits, eits. Sabar." Ryeowook tertawa kecil, nadanya terdengar jahat. "Aku ingin bermain denganmu dulu. Tidak seru 'kan kalau kau langsung dapat hadiahnya?"

Kyuhyun bisa mendengar decakan kesal walau samar. Ia segera berterima kasih ketika Franca dan Sungkin membantunya berdiri dengan sabar.

"Kalian bantu Yesung berdiri. Aku yang akan mengurus mereka untuk sementara waktu." Perintah Kyuhyun tenang.

"Tapi–"

"Berikan sihir kekuatanmu padaku. Dengan begitu aku bisa mengulur waktu." Kyuhyun mengucapkan mantra yang lumayan panjang.

Beberapa saat kemudian kaos hitam dan jubah panjang hingga lutut menyelimuti tubuhnya. Di belakang punggung, sebuah pedang bertengger dalam pelindungnya.

Naga kecil Franca terlihat tidak yakin tapi dia tidak menjawab tidak. Ia hembuskan napas segenap tenaga ke arah Kyuhyun. Warna merah mengkilat tampak sesaat membalut tubuhnya namun sedetik kemudian pecah tanpa sisa.

"Baiklah, siapapun kau, yang pasti bukan Ryeowook manis kami. Aku akan melawanmu." Kyuhyun menarik pedangnya dan bersiap-siap. Ryeowook sempat berjengit kala sepasang onyx Kyuhyun menatapnya tajam. Seakan-akan ingin menerkamnya ditempat.

Sret! Senyum Ryeowook melebar mendengar suara itu. Seorang sahabat tidak pernah meninggalkan sahabatnya 'kan?

Kyuhyun cepat berbalik pada hawa asing di belakangnya. Berhadapan empat mata dengan seorang pria bertopi yang biasa dipakai para pesulap.

"Jangan remehkan kami, Kyuhyunie. Harap tidak lengah selama di dekat kami."

Brak!

"Tuan!" Pekik Sungmin kaget melihat penjaganya tersungkur dalam radius jauh akibat tendangan Eques.

"Akh..." Ia menyeka bibirnya kasar, cairan merah mengotori tangannya. Kyuhyun sama sekali tidak terima dengan semua ini. Setidaknya yang boleh menendangnya hanya Sesepuh dan Yesung.

"Xerxes, bolehkah aku melawannya?" Tanya Eques, menunjuk ke arah Yesung yang dibantu berdiri oleh Franca dan Sungmin.

Yesung berdecak lagi, menepis dua tangan sekaligus dan mengucapkan mantra yang sama dengan Kyuhyun. Kaos hitam beserta jubah membalut tubuhnya.

Ryeowook menggeleng, menolak permintaan kecil Eques. "Tidak. Dia bagianku. Kau mengurus namja berpedang itu saja. Dia lumayan hebat kok."

Eques mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Kesempatan itu digunakan Franca menyalurkan sihir kekuatannya pada Yesung.

"Hebat darimana? Ditendang begitu saja sudah tepar."

"Jangan remehkan kami!" Tersulut emosi, Kim Yesung dan Cho Kyuhyun melakukan serangan ganda. Kyuhyun berlari dengan pedang siap serang sedangkan rantai milik Yesung melaju kencang ke arahnya.

Eques tersenyum tipis. "Wah, wah. Rupanya kalian menyalin ucapanku."

Sret! Pria bertongkat itu jatuh ke dalam lubang yang ia ciptakan.

Yesung mengubah jalur rantainya dan Kyuhyun juga langsung berhenti mengarah pada rantai Yesung.

"Sial." Umpat Yesung kesal.

Eques muncul di samping Ryeowook. "Mereka lemah sekali. Tidak kusangka informan seperti Key bisa kalah dari mereka. Padahal Key lebih kuat."

Yesung menjejakkan kakinya sementara Kyuhyun menghampiri Franca dan Sungmin untuk merundingkan sesuatu.

"Jelaskan tujuan kalian." Tangan mungilnya menggenggam kuat sebuah tombak. Jarak antara Yesung dan kedua musuhnya hanya berkisar sepuluh meter. Jika ia mau, mereka bisa saja tertusuk tombak sekarang.

"Berbicara baik-baik begini, memang bisa membuatmu menang?" Tanya Ryeowook, menguap bosan. "Bagaimana kalau kita langsung ke inti permainan saja? Itu lebih seru 'kan?"

Sret! Dua puluh tombak mengepung mereka.

"Jawab saja." Geram Yesung menujuk mereka dengan ujung tombak.

"Hee... Kau tidak takut tubuh kontraktor-mu ini terluka?" Tanya Ryeowook lagi.

"Ku bilang jawab!" Rantai dari balik punggung Yesung mengambang keluar.

"Eques, kau saja yang jawab. Jelaskan sesingkatnya saja ya." Ryeowook mengibaskan tangan tak mau tahu.

"Selalu saja begitu." Eques mengangkat tongkatnya ke bahu, menghirup napas. "Begini, Ketua menginginkan kekuatannya. Self healing akan membuatnya hidup abadi. Kami juga diperintahkan membawa medusa itu tapi lebih mudah si malaikat yang tidurnya sendiri.

Sret! Kyuhyun melayang di samping Yesung. Menggenggam pedangnya kuat.

"Alasan sama yang dilontarkan Key sebulan lalu. Aku mulai bosan dengan kata-kata tidak bermutu itu. Ngomong-ngomong siapa kalian?" Kali ini Kyuhyun yang bertanya.

"Aku baru sadar belum memperkenalkan diri." Ryeowook terkekeh seakan ada yang lucu. "Aku Xerxes."

"Aku Eques. Kami se-partner seperti kalian." Lanjut pria di samping Ryeowook.

"Jadi–" Eques jatuh ke dalam lubang dan keluar pada lubang di luar kepungan tombak.

"–Siapkan diri kalian untuk bermain dengan kami."

.

.

.

Jauh di bawah alam sadar Ryeowook, sosok aslinya sedang berdiri memegang jeruji besi. Rautnya frustasi sekaligus marah. Ingin sekali menggigit besinya hingga hancur.

"Brengsek! Lepaskan aku!" Teriaknya, mengguncang dua besi jeruji sekuat tenaga.

Sosok roh Xerxes tersenyum di kejauhan. "Jangan harap, manisku. Aku sudah gunakan sihir hitam agar Yesung tidak bisa menyentuh tubuhmu. Kecuali aku yang menyentuhnya."

Ryeowook berdecak dalam balutan baju panjang berwarna putih. Ia tidak menyangka kalau saat ini dia di dalam koma yang panjang. Perbedaannya hanya pada laki-laki mesum itu yang menggunakan tubuhnya sesuka hati.

Satu-satunya cara mengeluarkannya dari penjara ini hanya jika tubuhnya disentuh oleh Yesung. Makanya Xerxes selalu menghindari kontak fisik dengan guardian wizardnya.

"Sial... Dasar licik!" Umpat Ryeowook di ambang kesabaran.

"Aku tidak licik kok." Xerxes tersenyum tipis menanggapi. "Aku punya taktik yang jitu agar Yesung bisa menyerahkanmu pada kami. Kau cukup diam dan lihat saja."

.

.

.

Bruk!

Sungmin menutup matanya, tak sanggup melihat pendaratan keras Kyuhyun. Franca hanya bisa menahan ringisan, seolah-olah ia merasakan kesakitan majikannya.

Mereka tak bisa berbuat apa-apa di dalam pelindung transparan yang dibuat Kyuhyun. Sungmin sejak tadi berharap bisa membantu tapi dia diperintahkan agar lebih bisa bersabar sampai perintah selanjutnya.

"Kyuhyun! Kau baik-baik saja?" Rantai Yesung melesat ke arah pemuda itu, membantunya berdiri dengan menyelipkan rantainya di antara lengan dan tubuh.

"Akh... Pria sirkus itu sulit dilawan." Gumam Kyuhyun, menyeka bibirnya dari darah, melambaikan tangan pada Yesung. Sejak tadi Eques terus menghilang dan muncul secara tidak terduga. Ia tidak sempat menebaskan pedangnya dan ini akan mengakibatkan kekalahan telak padanya.

Sesungguhnya, ia tidak berniat serius dalam pertarungan ini.

"Ayolah," Tiba-tiba Eques muncul di hadapannya. "Kemana semangat bermainmu, bocah?"

Sret!

Kyuhyun menghindar dari hunusan tongkat milik pria tersebut. Ia harap masih punya banyak tenaga untuk berjalan pulang ke rumah.

Di atas sana Yesung masih melayang dengan gelojak amarah. Ia bingung harus berbuat apa. Menyerang Ryeowook bisa saja membuat roh asli namja itu ikut mati. Yesung tidak mau mengambil resiko dan membuatnya rugi secara bersamaan.

"Kenapa? Tidak bisa melawanku seperti yang kau lakukan pada Key? Aku dengar dari orang-orang laborotium jika kau berbuat bengis padanya hanya karena kontraktormu terluka. Tapi kenapa sampai sekarang kau tidak bereaksi?" Ryeowook bertanya.

"Ah, aku tahu. Apa karena tubuh kontraktormu masih mulus jadi tidak mau bergerak? Berarti aku harus melukainya dulu ya?"

Yesung menggeram saat Ryeowook mengambil sebuah pisau dari saku mantel. "Kau tahu? Aku punya keahlian memasuki tubuh orang dan bisa menukar roh antara aku dan roh yang kurasuki. Singkat kata, Ryeowook yang asli bisa mati ketika aku menusukkan pisau ini ke jantung."

"Apa?!" Yesung, Kyuhyun, Sungmin dan Franca berteriak bersamaan.

Brak! Kyuhyun yang lengah terpental akibat tendangan Eques.

.

.

.

"Apa?!" Teriakan nyaring itu membetot sisi lain otak roh Xerxes.

"Berisik sekali kalian ini."

Ryeowook tersentak ketika tangan Xerxes mencengkram kuat kepalanya. "Le-lepaskan!" Ia bergerak mundur, namun telapak tangan itu tidak mau lepas darinya.

"Kalau kau melihatnya sekarang, mungkinkah kau melakukan segala cara untuk mengeluarkannya dari penjara dalam bawah sadarnya ini? Oh, aku ralat. Setidaknya melepaskannya dari genggamanku. Aku sudah bersiap bertukar roh ketika pisau ini menusuk jantung loh."

Penjelasan panjang lebar Xerxes membuat Ryeowook makin banyak bergerak. Padahal dia sudah menarik tangan itu dengan sepasang tangan, tapi kenapa tidak bisa? Selemah itukah dia?

.

.

.

"Kau tidak bisa melakukan itu!" Pisau di tangannya berhasil jatuh akibat lilitan rantai Yesung. Ia menarik tangan Ryeowook dengan rantai.

"Jika memang dia diperlukan mati, aku tidak rela kau yang membunuhnya! Segala sesuatu yang menyangkutnya hanya aku yang boleh melakukannya!"

"Wah, wah. Posesif sekali." Ryeowook menggelengkan kepala. Ia berhasil lolos dari rantai Yesung hanya dengan memotongnya memakai pisau lain di dalam saku. "Sayangnya aku menyimpan banyak pisau di sini."

Bruk!

"Kyuhyun!" Suara itu lagi-lagi menarik perhatian Yesung. Darah di sekitar mulut Kyuhyun membuktikan kalau ia sudah kehilangan banyak darah.

"Jangan khawatirkan aku! Ingat saja kata-kataku sebelum kita di sini. Itu satu-satunya cara agar Ryeowook kembali." Kyuhyun melayang mundur saat Eques menyerangnya lagi.

"Ya! Apa kau tidak lelah menyerangku terus!?" Serunya jengkel, terus menghindar dari tongkat.

Eques mengangkat bahunya, menghilang di telan lubang dan menendang tubuh Kyuhyun dari belakang untuk kesekian kalinya. "Aku senang bisa berolahraga murah meriah begini."

Baik Kyuhyun maupun Yesung sama-sama berdecak. Sebenarnya Yesung bingung apa mau anak itu. Padahal kalau serius, kemungkinan besar Kyuhyun bisa menang.

"Ada berapa banyak senjatamu?" Tanya Kim Yesung dengan sabar.

"Tiga pisau dan tiga pistol. Aku juga bawa pelurunya." Jawab Ryeowook merogoh saku. Menunjukkan tiga pisau dalam satu tangan. "Apa kau berubah pikiran? Ingin aku sendiri yang membunuhnya?"

'Cium dia sekarang!'

Yesung tersentak mengingatnya. Diam-diam ia melirik Kyuhyun yang kewalahan menghadapi Eques.

'Aku ragu melakukannya. Jangan-jangan dia iseng. Tapi tidak ada salahnya mencoba.'

Zyuung! Yesung membiarkan tubuhnya jatuh ke bawah dan menapakkan kakinya.

"Ya, aku berubah pikiran. Lebih baik kau membunuhku saja. Bukankah jika penjaganya mati, kontraktornya juga mudah dibawa? Jadi aku tidak perlu mengucapkan mantra pemutus 'kontrak' lagi."

Ryeowook terkejut mendengarnya maupun melihat ekspresi 'tak peduli mati' milik Yesung. Bahkan senyum lebar terpampang di sana.

"Kau yakin?" Ryeowook memastikan.

"Aku yakin. Lebih baik mati di tangan orang yang kita cintai 'kan?"

.

.

.

"Aku yakin. Lebih baik mati ditangan orang yang kita cintai 'kan?"

Ryeowook tersedak. Wajahnya memerah cepat tanpa di cegah dan jantungnya seolah meloncat keluar saking kagetnya.

Di sisi lain, Xerxes tak jauh berbeda keadaannya. Tersedak ludah sendiri.

"Dia menyatakan cinta!?" Seru keduanya bersamaan.

Hening

Perlahan Xerxes menoleh padanya. "Katakan padaku, manis. Memangnya... dia punya kepribadian ganda?"

Ryeowook menggeleng horror. "A-aku tidak tahu."

"Jangan-jangan dia mengecohku saja." Xerxes menggepalkan tangannya kesal. "Tak akan kubiarkan..."

.

.

.

"Kau gila?" Ryeowook bertanya dengan raut risih. Menggenggam kedua pisau di kedua tangannya.

"Tentu saja tidak. Apa ini aneh, Tuan– oh aku lupa namanya. Ah iya, Tuan Xerxes. Kalau aneh, kau bisa meralat perkataanku yang sebelumnya."

"Kau meremehkanku ya!?"

Srat!

"Yesung!" Ketiga pasang mata terbelalak bersamaan. Pemuda itu memuntahkan darah kala tancapan pisau semakin dalam.

Ryeowook mengangkat sisi bibirnya. "Bagaimana? Kau harusnya bersyukur aku tak langsung menusuk jantungmu."

Yesung tertawa pelan walau nafasnya tersegal. Memegang tengkuk Ryeowook cepat dan tanpa ragu.

"Aku bersyukur. Bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan emas untukku."

Kedua bibir itu saling menempel.

.

.

.

Roh Ryeowook mundur satu langkah saat penjara itu perlahan menjadi semu kemudian menghilang tanpa jejak.

"Pintar juga pakai taktik ini." Gumamnya tanpa sadar. Berjalan menghampiri Xerxes yang kejang-kejang seperti cacing tanah.

"Si-sial... Dia tahu kelemah– Akh!" Penyihir berilmu hitam itu memuntahkan darah melalui mulutnya.

"Dia pintar. Sekali kubilang bersentuhan dengannya bisa membuatku lepas, dia langsung mencari cara. Dan aku akui aku bangga mempunyai guardian wizard sepertinya." Ryeowook mengangkat kakinya ke belakang sejauh mungkin.

"Bukan berarti dia tahu aku memakai sihir hitam 'kan makanya dia menciummu?"

"Apa peduliku? Keluar dari tubuhku!"

Bugh!

.

.

.

Zraat! Sebuah bayangan hitam keluar dari tubuh Ryeowook. Sosok asli Xerxes tampak luar biasa kesakitan. Yesung berhasil memeluk tubuh lemas di depannya walaupun beresiko makin mendorong pisau di perutnya.

"Akh! Benar-benar gila!"

"Xerxes!" Eques meninggalkan Kyuhyun, terbang melesat ke arah partnernya yang muntah darah.

Yesung cepat-cepat mengeluarkan sebuah pistol dari saku Ryeowook. Menembakkan isinya pada kaki kiri Xerxes hingga keseimbangan pria dua puluh tahunan itu hilang dan jatuh sebelum Eques dapat mencapainya.

"Sial!" Eques menyiapkan lubang di bawah kakinya, berteleportasi di tempat Xerxes akan jatuh. Jika hanya terbang, waktunya tidak sempat.

"Sungmin! Lakukan rencananya sekarang!" Teriak Kyuhyun lantang.

Deg! Eques mematung. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tak jauh dari tempat Xerxes berbaring.

Seluruh sendi otot sudah ia coba gerakan tapi hasilnya nihil. Hanya pupil mata yang bisa bergerak. Bahkan untuk berkedip pun terasa sulit.

"K-Kali-an..." Ucapnya terbata. Eques berjuang keras untuk mengucapkan satu kata itu.

Franca mendobrak dinding pelindung sihir dan berlari menghampiri Eques bersama Sungmin. Kyuhyun menyusul dengan langkah terseok.

"Aku butuh healing Ryeowook sekarang." Gumam Kyuhyun kesakitan.

.

.

.

"Eungh..." Lenguh Kim Ryeowook, membuka kelopak matanya.

"Tidak ada waktu untuk melenguh seakan kau bangun di pagi hari, anak bodoh. Cepat menyingkir dariku." Sederetan kata membangunkan tidur panjang sosok asli Ryeowook –walau sebenarnya dia terus terjaga di bawah alam sadarnya–.

Ryeowook menegakkan tubuhnya, hampir menjerit melihat darah mengotori pakaian Yesung maupun pakaiannya. Dengan cepat ia menarik keluar dua pisau dalam satu lubang penuh darah.

"Aku bisa menjela–"

Yesung menggenggam pergelangan tangan Ryeowook. "Dengar, tidak ada waktu untuk itu. Bantu aku dengan healing-mu atau setidaknya pergi menjauh. Pria brengsek itu tidak bisa mengancamku lagi."

Rantai-rantai Yesung sudah siap gerak di balik punggung. Satu tangannya menutupi lubang besar di tengah perut.

"Tidak. Tunggu sebentar di sini. Aku bisa mengurus luka mu walau aku tidak yakin akan berapa banyak waktu akan terbuang."

"Oh, bagus." Yesung memasukkan tangannya lagi ke dalam saku mantel Ryeowook, mengiris simbol 'kontrak' miliknya menggunakan pisau. "Aku salut dengan pria itu. Pisaunya banyak sekali."

Kim Ryeowook memalingkan wajah, perih sendiri melihat aksi nekat nan bodoh Yesung. "Itu pisau dapur semua. Kenapa kau mengi–"

"Stop! Cepat tutup lubang ini. Dan jangan bertanya lagi. Kita punya banyak waktu setelah mengurus mereka."

Dor! Yesung menembak sisi kanan tubuh Xerxes, tepat pada ginjalnya.

.

.

.

Sungmin mencengkram tangan Eques sekeras mungkin, menyalurkan kekesalannya. "Berani-beraninya kau melukai Tuan Kyuhyun... Sebaiknya kau berterima kasih karena Tuan Kyuhyun merelakanmu menjadi bahan test untukku."

'Test?' Batin Eques bertanya.

Sementara Kyuhyun tersenyum tipis.

Sungmin memejamkan matanya. Menghembuskan napas panjang, menyalurkan seluruh energinya pada telapak tangan.

Franca menutup matanya dengan tangan saat Eques perlahan menjadi batu. Mulai dari lengan menjalar ke segala arah dalam hitungan detik ke menit.

'Xerxes! Cepat lari dari sini!' Eques masih menyempatkan diri mengirim telepati ketika lehernya sudah sangat keras. Napasnya tercekat dan detakan jantungnya kian melemah secara paksa.

Kyuhyun menjilat luka ditangannya, serius mengamati perkembangan latihan Sungmin. "Prosesnya masih lama ya."

Eques mencoba mengangkat kepalanya tapi gagal. Saraf otaknya kini seakan tertusuk ribuan jarum. Begitu menyakitkan sampai membuatnya mengeluarkan air mata dan ingin berteriak. Sayangnya, dewi keberuntungan tidak berada di pihaknya lagi.

Pita suaranya keram, atau ia anggap sudah menjadi buntalan batu. Ia baru sadar kalau keturanan medusa itu sedang menggunakan kemampuannya dan ia jadi kelinci percobaan pertama.

'Xerxes!' Di detik terakhir, Eques mengirimkan kembali telepatinya sebelum sepasang bola matanya menjadi batu.

'Maaf aku tidak bisa membuatmu tertawa kali ini.'

"Selesai."

Krek! Serpihan batu dari jari Eques retak. Sungmin mendesah, padahal ia sudah melepas tangan Eques sepelan mungkin agar tidak merusak apapun dari tubuh itu. Ia harap ia bisa menjadikan pria sirkus itu sebagai panjangan di rumah. Hitung-hitung bisa melampiaskan kekesalan pada patung itu hingga hancur berkeping-keping.

"Jangan khawatir merusaknya, Ming." Kyuhyun berdiri dengan bantuan pedangnya. "Aku tidak membutuhkan barang seperti itu."

Cho Kyuhyun menyiapkan pedang besinya, berdiri tenang di atas mayat batu Eques. "Kasihan sekali. Sebenarnya aku bisa saja langsung serius. Pria tua sepertimu lebih payah dibandingkan Yuri. Tapi karena kau berani bersok ria dan sudah berani bermain denganku, kau harus hancur di tanganku."

Drak!

Sekali kibasan pedang, leher Eques terpisah dari tubuhnya.

.

.

.

'Xerxes! Cepat lari dari sini!'

Pria itu melenguh sakit. Kelopak matanya berjuang terbuka di tengah rasa panas yang menggerilya di sekujur tubuh.

Xerxes sempat pingsan paska kejang-kejang. Ia tidak tahu resiko penggunaan sihir hitam sebesar ini. Dan ia sangat ceroboh, terbawa pancingan Yesung. Andai dia tidak berkontak fisik dengan Yesung seperti itu...

'Xerxes!'

Seruan itu membetot otaknya lagi, mendorong sepasang kelopaknya hingga terbelalak.

Rasa sakit menyerang di bagian lain, yaitu kaki dan ginjalnya.

"Akh..." Xerxes memegang perut kirinya, cairan merah membasahi telapak tangan. Ia sejajarkan tangannya dengan wajah. Darah menetes bebas mengotori pipinya.

"Yah... Yang kalah pasti yang jahat 'kan?" Xerxes menoleh lemah ke sumber suara.

Yesung menghampirinya dengan raut serius. Memegang satu tombak di tangan kanan ditemani Ryeowook di sisi kirinya.

Xerxes tersenyum kecil ketika Yesung berdiri di atas tubuhnya. "Wah, aku pikir posisi ini sudah sangat keramat di kelompok kalian."

"Yah, bisa di bilang begitu. Kelompok yang hebat bukan?" Yesung menancapkan tombaknya berjarak lima centi dari pipi Xerxes.

Pria berumur fisik dua puluh dua tahun itu tertawa hambar. Jantungnya berdenyut sakit. "Kau yakin? Aku rasa kalau soal kekompakkan, kelompok kami lebih hebat. Ngomong-ngomong, kami berhasil merebut 'target' Taeyeon."

Hembusan angin menerpa sisi kiri wajah Xerxes. Ryeowook meloncat ke belakang, tidak pernah terbiasa akan rantai-rantai itu. "Dan apa kau tahu? Walaupun aku tidak begitu dekat dengan Taeyeon, tapi tetap saja dia teman kami. Aku heran, apa perasaan seorang wanita segitu lembutnya sampai-sampai bisa kalian kalahkan?"

"Tentu saja sangat lembut. Terkesan sensitif. Makanya Yukari muak bersamamu."

Satu rantai menembus pergelangan tangannya "Jangan menyebut nama itu lagi. Dia sudah tidak ada hubungannya denganku."

"Biar kuralat. Dia dulu sempat mempunyai hubungan denganmu."

"Bisa kau hentikan omong kosongmu?!" Satu rantai melubangi betis Xerxes. "Kau bahkan lebih payah dari Key. Setidaknya Key bermain sehat, tidak sepertimu yang langsung K.O saat sanderamu bisa lepas dari tangan."

"Cih, jangan sama 'kan aku dengan Key. Dia suka bekerja sendiri. Bahkan dia mengutamakan kehancuranmu daripada misinya."

Yesung berpura-pura tidak mendengar apapun. Memilih mengangkat tangannya dan menyiapkan lima tombak di udara. "Oh, sebelum kematianmu, sepertinya aku harus berterima kasih."

Crat! Ryeowook memekik, cairan merah kehitaman menyiprat ke segala arah. Ia cepat-cepat memalingkan wajah saat perutnya merasakan gejolak kuat.

Tangan Yesung terangkat mengusap darah merah pada salah satu matanya. "Terima kasih sudah sedikit melukaiku." Ujarnya puas setelah tombak-tombaknya berhasil menusuk sepasang mata, mulut dan jantung Xerxes secara bersamaan.

"Menyingkirlah, hyung!" Kyuhyun tiba-tiba menarik bahu Yesung ke belakang sedikit kasar, napasnya agak tersegal sehabis berlari. "Aku akan menyimpan abu sihirnya."

"Untuk apa menyimpannya?" Dengan gusar Yesung berpindah tempat. Tidak jadi memaki Kyuhyun setelah melihat kotak kecil di tangannya.

"Mencegah kebangkitannya." Tepat setelah kalimat itu terlontar, mayat dan ceceran darah Xerxes pecah menjadi titik-titik cahaya putih. Sekali raupan tangan diiringi mantra, Kyuhyun menaruhnya ke dalam kotak kecil merah marun tersebut.

Di sisi lain, Franca mengubah wujudnya menjadi manusia. Membantu Sungmin membujuk Ryeowook yang terus-terus menutup mata dengan telapak tangan.

"Oppa, mayatnya sudah tidak ada kok. Ayo bangun." Franca menarik tangannya, memaksanya berdiri setelah roboh tak kuat menatap mayat Xerxes.

"Biarkan saja dia, Lingie. Kita pulang sekarang." Yesung menarik tangan Ryeowook kasar, tidak memperdulikan namja yang tengah meringis akibat goresan kukunya.

Franca tertohok, begitu juga dengan Kyuhyun yang tak sengaja mendengarnya. "Lingie? Panggilan macam apa itu?"

"Tak kusangka setelah sepuluh tahun memelihara Franca, akhirnya Yesung mengungkapkan nama panggilan semanis ini." Kyuhyun berkomentar pelan.

Yesung menggeram kesal, bukan karena ucapan Franca maupun Kyuhyun, melainkan rontaan Ryeowook yang kekuatannya sama seperti kera yang tidak mau diikat.

"Lepaskan! Kau kejam sekali melakukan hal itu padanya!"

"Kau ini yang konyol! Apa kau mau dia ku lepaskan begitu saja? Lalu berkeliaran lagi mengejar mangsa baru? Atau kau memang mau dirasuki orang itu lagi?!"

"Apa katamu? Aku tidak sudi dirasuki orang semesum dia lagi! Ya! Kau jangan mengalihkan pembicaraan! Kau 'kan bisa membunuhnya seperti kau membunuh Iblis saat pertama kali kau bertemu denganku!"

"Kau pikir mudah membunuh orang yang sudah tua sepertinya? Kita tidak tahu selama apa dia hidup! Dan jangan lupakan sihir hitamnya. Dia pasti sudah melatih sihir hitamnya supaya kebal saat menerima serangan dariku!"

"Bisa kita selesai 'kan ini?" Kyuhyun mendorong keduanya ke arah yang berbeda. "Teriakan kalian membuat Sungmin sampai menutup telinga. Jadi hentikan perdebatan kalian dan lanjutkan saja di rumah. Setidaknya di sana ada tempat yang bisa dijadikan tempat menghindar dari suara kalian."

Yesung menapik telunjuknya pada Kyuhyun. "Kurasa kau tidak dapat menghindar hari ini. Aku butuh penjelasan."

Bola mata Kyuhyun berputar malas, meraih tangan Sungmin supaya mendekat. "Aku sudah siap dengan seribu bahkan tiga ribu kata. Ayo kita pulang sekarang."

.

.

.

Yesung menyesap kopinya, menaruhnya dengan tenang di atas meja. "Tolong ulangi penjelasannya."

Kyuhyun mendesah. Jam menunjukkan pukul satu lewat lima belas dini hari, ia butuh tidur. Setidaknya untuk mengisi daftar kerjanya di tanggal merah yang bertittle 'Hari natal' pada kalender.

"Kubilang untuk terakhir kalinya. Kita bertiga pergi ke dunia sihir, berdiskusi sebentar dengan Sesepuh dan bertemu Taeyeon selama tiga menit. Setelah itu kami menyusulmu di Gereja."

"Bukan bagian itu yang ingin kudengar. Coba ulang dari apa saja yang kau diskusikan dengan Sesepuh."

"Biar aku saja." Suara serak Franca terdengar. Dia juga lelah harus duduk di meja ini bersama keempat orang lainnya. "Kami mendiskusikan soal keanehan dalam tubuh Ryeowook oppa. Dan kata Sesepuh, ada kemungkinan dia dirasuki penyihir lain. Hal itu hanya bisa di lakukan oleh penyihir terlarang, yaitu penyihir berilmu sihir hitam."

"Lalu," Sungmin reflek mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Franca. "Sesepuh bilang hanya ada tiga penyihir yang berkemungkinan menyerang kita. Dan ia menduga pria bernama Xerxes dan Eques. Eques yang memiliki kemampuan menghilang melewati lubang dimensi bisa saja menarik Ryeowook keluar rumah dan Xerxes memakai kesempatan itu."

"Lalu kenapa kau menyuruhku menciumnya? Seakan-akan hanya itu jalan satu-satunya." Yesung menyesap kopinya lagi tanpa rasa bersalah saat yang lain sudah setengah tidur.

"Sebenarnya ada cara lain. Tapi tidak mungkin 'kan aku menyuruhmu melakukan 'itu' di sana." Kyuhyun menutup mulutnya yang terbuka menguap.

Salah satu alis Yesung terangkat sebentar. Tidak terlalu suka dengan jawaban itu. "Lalu kenapa kau tidak serius saat pertarungan tadi?"

"Kita memprioritaskan meningkatnya kemampuan mereka. Kita berdua terluka, berarti Ryeowook bisa menunjukkan kemampuannya. Dan aku juga ingin melihat perkembangan latihan Sungmin pada makhluk hidup."

"Baiklah. Kalian boleh ke kamar sekarang. Usahakan bangun jam sepuluh. Paling lambat jam dua siang. Aku tidak mau cara tidur kita seperti vampir nantinya."

Terdengar Franca berteriak 'hore' sekencang lega di dalam benaknya. Ia cepat-cepat beranjak dari pangkuan Ryeowook, berlari kecil menuju tangga.

Kim Yesung menghela napas melihat Kyuhyun dan Sungmin yang juga secepat kilat kabur dari pandangannya. "Selelah itu 'kah? Lebih lelah mana, aku atau kalian?"' Ia bergumam pelan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

.

.

.

"Ini untuk kalian."

Disisa kesadaran yang mereka punya, kening mereka mengerut bersamaan.

"Apa itu? Kotak makanan? Isinya permen?" Franca berguling-guling malas di tempat tidur Sungmin.

"Hng? Rasanya kenal." Kyuhyun mengetuk-ngetuk bagian atas kotak.

Yesung menggidikkan bahu. Memberi kotak itu pada Sungmin. "Kalian buka saja." Senyuman konyol menghiasi wajahnya. Ia jarang menunjukkan ekspresi ini. Mungkin hanya setahun sekali seingat Kyuhyun.

Sungmin menggoyangkan kotak berukir kayu itu keras-keras. "Tidak ada suara tapi isinya berat. Apa ini?"

Yesung berbalik, membuka pintu kamar. "Kalian buka saja setelah aku keluar. Selamat malam." Ia melangkah pergi dari ruangan remang cahaya itu. Menutup pintu tak lama kemudian.

Kyuhyun, Sungmin dan Franca saling melempar pandang bingung.

"Oppa, cepat buka isi kotaknya. Lalu kita pergi tidur." Gadis kecil itu terlihat sedikit bersemangat, kebanyakan penasaran. Yesung jarang memberi hadiah, mau itu hari ulang tahun seseorang atau beberapa hari besar seperti natal.

"Aku curiga. Jangan-jangan isinya mantra sihir." Sifat usil Yesung juga jarang diperlihatkan, itu yang Kyuhyun takutkan. Dia memang terang-terangan mengejek, menganiaya atau pun menghina. Tapi soal jahil-menjahili, Kyuhyun tak ingin kejadian mantra sihir pengubah wujud menjadi kodok itu terulang lagi. Cukup sudah terjadi lima tahun yang lalu.

"Tuan, tidak baik loh mencurigai orang. Terutama orang terdekat."

"Kau ini... Kau tidak tahu saja apa yang pernah ia lakukan padaku. Lagipula justru kita harus waspada dengan orang terdekat. Orang terdekatlah yang tahu segala kelemahan kita."

"Sudahlah!" Franca merebut kotak kecil itu dari tangan Sungmin. "Kita selesaikan ini dan pergi tidur." Tegasnya.

Perlahan tapi pasti, tangan kecil Franca membuka tutup kotak itu.

Krek!

Pintu terbuka, mengagetkan tiga orang di kamar bernuansa gelap malam hari.

Yesung menoleh masuk dari sandaran pintunya. Menahan senyum melihat wajah ingin protes mereka.

"Selamat natal."

Pintu kembali tertutup.

Kyuhyun dan Franca mengerjap. Sedikit loading mencerna dua kata milik Yesung barusan.

"Ah!" Franca menjentikkan jarinya, teringat sesuatu. Membuka kotak itu tanpa ragu.

Tidak kurang dari satu detik, bunyi alunan melodi menenangkan penuh misteri mengalun memenuhi kamar.

"Ko-kotak musik?" Kyuhyun mengucapkannya dengan ragu. Matanya berkaca-kaca melihat benda balok tersebut sementara Franca hampir menangis.

"Selamat natal, Yesung." Kata mereka tulus.

Sungmin memiringkan kepalanya, tidak paham apa yang terjadi.

Ini berawal dari satu permintaan enam tahun yang lalu. Saat Yesung dan Kyuhyun berumur fisik sepuluh tahun dan Franca yang masih sangat kecil di umur keempatnya.

Franca menginginkan sebuah lagu yang bisa menemaninya tidur setiap malam. Lagu klasik atau alunan piano sepanjang malam. Sebagai majikan yang baik, Kyuhyun mencoba untuk membuatnya. Ia tidak baik dalam rancang-merancang atau membuat alunan lagu seperti yang diminta Franca.

Mereka berdua akhirnya menyerah di malam natal. Kemudian berdoa kepada Tuhan agar memberikan benda sesuai permintaan Franca. Di negeri Sihir enam tahun yang lalu, musik dan bernyanyi sangatlah tabu untuk seusia mereka. Setidaknya tidak jika mereka sudah masuk sekolah menengah.

Yesung tanpa sengaja mendengar doa mereka malam itu. Ia cuek tapi perhatian, ia tidak pernah mau orang lain tahu kebaikan macam apa yang pernah ia perbuat. Singkat kata, ia bertekad membahagiakan setidaknya dua orang yang sudah mau menjadi temannya sepanjang jalan.

"Selamat natal, Kyuhyun, Franca." Kim Yesung berdiri tegak, melangkah pergi dari kamar KyuMin.

.

.

.

"Hah?" Tanpa sadar, pemuda itu mulai menggerutu. "Dasar pemalas, bodoh. Saking malasnya dia memilih tidur di sini? Apa dia tidak punya otak? Bagaimana kalau sakit?"

Yesung menghela napas, bingung mau melakukan apa untuk Ryeowook yang tidur di meja dapur. Ia mempunyai banyak pilihan seperti menyiramnya, menendangnya hingga jatuh, memukulnya sampai bangun atau menggendongnya ke kamar.

Dan pilihan terakhir akan Yesung ambil untuk menikmati dini hari yang sunyi senyap ini. Tanpa banyak berpikir lagi, ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.

"Aku seperti Santa Claus saja." Yesung geleng-geleng membayangkan ia punya jenggot putih panjang dan berperut buncit. Ia jadi heran bagaimana cara pria tua itu bisa memenuhi seluruh keinginan anak-anak. Memenuhi permintaan Kyuhyun dan Franca rasanya sudah cukup menyulitkan –tentu saja menyulitkan karena ia lupa–.

Ia membuka pintu kamar Ryeowook setelah melewati tangga yang melelahkan. Menurunkannya pelan-pelan di empuknya ranjang kemudian menarik selimut hingga menutupi setengah dadanya.

'Kalau dilihat-lihat, anak ini polos sekali.' Batin Yesung berbicara. Ia memeriksa jam tangannya, pukul dua kurang sepuluh. Ia menghela napas, waktu latihannya hilang setengah jam.

Yesung hampir saja berbalik jika tidak teringat sesuatu, segera ia rogoh saku celananya dan mengambil dua kalung berbentuk balok panjang kecil.

"Awalnya mau kuberikan pada Kyuhyun, tak kusangka malah memberikannya padamu."

Yesung membungkuk, memakaikan salah satu kalung itu.

Setelah puas memandangi wajah mungilnya, ia mengecup bibir plum milik 'target'nya. "Kau harus banyak berterima kasih untuk hari."

Suara debumam pintu terdengar, berganti dengan suara gesekan kain baju dan selimut.

Ryeowook terengah-engah dalam duduknya, ia sudah bangun sejak di gendong tadi tapi ia lebih memilih pura-pura tidur.

Kedua tangannya yang bergetar perlahan memegang bibir dan kalung bersamaan. Pipinya terasa sangat panas, bahkan udara dingin di luar tidak membantunya sekarang.

"Dia serius menyukaiku ya?"

.

.

.

Extra Story

(Xerxes and Eques Side Story)

Ini terjadi beberapa tahun lalu. Tepatnya saat enam belas tahun yang lalu, tanggal kebangkitan Xerxes telah ditetapkan oleh Ketua. Luxury mencatat siapa saja yang dibangkitkan hari itu, termasuk nama si kecil Xerxes.

Xerxes memiliki nama asli Humpy Dumty yang berarti 'sampah masyarakat'. Para penduduk desa membencinya karena profesi pencuri ulung yang dimiliki kedua orang tuanya. Ia mati dibakar hidup-hidup pada sebuah makam.

Ia yang berumur enam tahun tidak mengerti apapun sampai akhirnya Luxury yang turun tangan. Menceritakan maksud dari perbuatan kejam nan sadis para warga dan tujuan hidup keduanya ini.

Untuk ukuran bocah enam tahun, ia tentu saja shock berat. Memilih mengurung diri di kamar selama minggu daripada berjalan di halaman asrama.

Dari sanalah, muncul bocah laki-laki dua belas tahun di depan kamarnya. Ia penyuka sihir sejak kematiannya pada sebuah kecelakaan. Eques namanya. Ia bercita-cita menjadi pesulap untuk membuat semua orang tersenyum bahkan tertawa.

Eques tidak pernah menunjukkan hasil latihan sulapnya –sihirnya– selama ini, dan Xerxes adalah orang pertama yang menyaksikannya. Berawal Eques yang tiba-tiba muncul dari sebuah lubang berdiameter kecil.

"Hai." Sapa Eques hanya dengan kepala di atas lantai kamar Xerxes.

Bocah enam tahun itu memekik kaget, hampir jatuh dari tempat tidur. "Oh My God! Ha-hantu!"

Eques tersenyum kecil. "Hahaha! Kau lucu juga ya. Kalau aku hantu, aku tidak memerlukan lubang ini."

"Lubang?" Xerxes kecil menurunkan selimut, memperhatikan secara detail lubang di leher Eques. "I-itu lubang apa?"

"Sihir!" Pekik Eques, tangannya yang berada di luar pintu terangkat ke atas. "Aku pesulap! Tapi masih pemula, baru belajar setahun sejak satu tahun di sini. Bagaimana menurutmu?"

"Pe-pesulap?"

"Iya, aku pesulap."

"Su-sulapnya mengerikan... Aku takut." Xerxes meneteskan air mata, sesegukan.

Eques tampak kecewa. Ia pikir bocah itu akan teriak heboh sambil mengatakan 'Hebat sekali! Ajarkan padaku!'.

"Kalau begitu akan ku tunjukkan sulap yang menarik! Kau pasti lapar setelah seminggu tidak keluar, jadi akan ku sulapkan kau makanan yang enak!"

"Be-benarkah?"

Eques tersenyum lebar. "Aku tidak pernah berbohong."

Karena mudah terhasut, Xerxes membuka pintu secepat kilat. Betapa terkejutnya ia melihat sebuah tubuh tengah menungging tanpa kepala di lantai. Sekali lagi pekikkan menggelegar layaknya petir dalam asrama.

Eques cepat-cepat menarik kepalanya dari lubang dan berdiri. Lantas menyeret Xerxes yang kembali menangis takut lalu mengunci pintu.

"Duh, jangan menangis! Maafkan aku. Sepertinya kau takut sekali." Eques hampir kehilangan cara untuk menghentikan tangisan Xerxes. Tiba-tiba ia mendapat ide bagus.

"Ayo, kita pergi ke kaleido!"

Bocah itu berhenti menangis dengan alis menyatu.

"Apa itu kaleido?"

Eques mengetuk ujung tongkatnya di lantai. Sebuah lubang seukuran tubuh mereka tercipta perlahan. "Kalau kau mau tahu, ikuti aku." Eques pun loncat ke dalam lubang tersebut.

Xerxes yang tertinggal pun loncat saking penasarannya. Ia merasa seperti masuk ke suatu ruangan berkelilingkan gambar abstrak kemudian keluar dari lubang lainnya.

Eques dengan sigap menangkapnya dan mengajaknya berjalan menyisiri kota asing tersebut. Mereka bersenang-senang selayaknya anak kecil pada umumnya apalagi Eques bersedia membeli –mencuri– makanan di berbagai toko.

Perjalanan panjang mereka terhenti di sisi barat kota, tepatnya berhenti di sebuah tenda besar berhias lampu kelap-kelip. Xerxes menatap takjub akan besarnya tenda, terutama saat lampunya menyala di tengah kegelapan yang melanda.

"Come on! Kita masuk ya?" Xerxes sangat bersemangat menarik Eques di tengah ramainya orang yang akan masuk ke dalam.

Eques tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya. Karena tidak punya uang, mereka menyusup masuk dari belakang tenda kaleido. Bocah pesulap itu dengan mudahnya masuk hingga duduk di kursi penonton.

Banyak atraksi yang ditunjukkan. Berbeda dengan sirkus yang menampilkan atraksi, kaleido adalah tempat impian semua anak. Pertunjukkan di sini menggunakan jalan cerita dongeng atau fantasi yang tertulis di skripsi.

Xerxes sejak tadi tidak bisa diam. Ia terus berteriak senang dan bolak balik membaca kertas brosur jalan cerita, sesekali berdecak kagum sambil menunjuk-nunjuk kehebatan seorang gadis melompat di atas trampolin untuk mencapai pegangan ayunan.

"Kau tahu? Nama asliku Gasper Astin. Aku bekerja di sini tujuh tahun yang lalu."

Di dalam tenda sudah kosong setelah pertunjukkan selesai. Kursi penonton hanya tersisa mereka berdua saja. Xerxes tersentak, tak bisa membaca raut Eques sekarang.

"Saat aku berumur enam tahun sepertimu, aku bekerja membantu membawa barang seperti memberi pisau dan balon untuk di jadikan target pelempar pisau seperti yang kau lihat."

Pandangan Eques melihat lurus ke depan. Ke arah bagian tenda yang terbuka untuk memberi efek malam penuh buntang sewaktu pertunjukkan tadi.

"Kau tahu 'kan gadis yang memainkan peran sebagai angsa putih? Gadis itu Lewi. Kami dulu satu pekerjaan. Kami berdua bercita-cita menjadi bintang kaleido. Dan sekarang dia berhasil. Aku senang sekali."

Xerxes bisa merasakan getar di suaranya. Tapi ia memilih bungkam sampai Eques yang meminta pemdapatnya.

"Kau mau tahu jalan kematianku?" Telunjuk Eques menunjuk ke arah trampolin dan ayunan bergantian.

"Karena dulu aku ingin menjadi pemeran utama laki-laki cerita ini, aku mencoba melompat di trampolin itu. Dan dilompatan ke dua ratus lima sembilan aku berhasil mencapai ayunan. Tapi sayang, tanganku yang licin menjatuhkan ku dari jarak lima belas meter."

Mata bulat Xerxes membesar. Ia tak berani menatap ekspresi Eques sekarang. Tapi yang pasti, terdengar isakan pilu di ruangan super besar ini.

"Aku hanya ingin melihat senyuman penonton. Terutama Lewi... Aku berjuang menguasi cara melompat trampolin agar mendapat pujian dari Lewi. Tapi, sebelum mencapai semua cita-citaku... Aku sudah mati. Ketika di bangkitkan dan kabur ke sini, aku terkejut melihat wajah Lewi yang dewasa. Gadis primadona semua orang. Buruknya lagi takdirku adalah menjadi penyihir. Bukan... Bukan menjadi pasangan hidupnya..."

Xerxes tidak tahan lagi mendengar keputus asaannya. Ia dorong bahu Eques, menatap tegas manik hitamnya.

"Raihlah cita-citamu! Kau masih belum terlambat melakukannya! Walaupun kita tak saling kenal, aku akan menjamin keberhasilan mimpimu!"

"Tidak mungkin! Kau menyuruhku bertemu dengannya sekarang? Lalu bilang 'Halo, lama tidak berjumpa. Aku Gasper Astin, temanmu.'? Ini sudah lewat tujuh tahun setelah kematianku!"

"Kau bisa menganggapku Lewi! Kau bisa menganggap teman-teman kita sebagai penonton. Kau bisa membuat kami tersenyum dengan pertunjukkan!"

"Tidak mung–"

"Kenapa tidak mungkin?! Katakan kenapa?! Kau belum mencobanya 'kan? Lakukan dulu baru bilang tidak mungkin!"

Eques tersentak, mencerna rencana Xerxes sesaat.

"Bagaimana? Kau mau 'kan? Aku sangat bersyukur bertemu denganmu. Berterima kasih apalagi. Kau membuatku yang kehilangan semangat hidup menjadi tersenyum bahkan tertawa. Tak akan kubiarkan kau kehilangan harapan!"

Bocah dua belas tahun mulai tertawa pelan, semakin lama semakin keras. Anehnya air mata terus mengalir di pipinya.

"Hahaha... Aku terharu. Seseorang bersyukur akan kehadiranku. Senang sekali mendengarnya." Eques memeluk tubuh kecil Xerxes. "Terima kasih. Sekali lagi terima kasih."

Xerxes yang gugup membalas pelukannya. "Sama-sama, Gasper."

Eques sempat terkejut tapi ia pikir itu wajar karena mereka belum berkenalan. "Hei, anak kecil. Cara berpikirmu tua ya. Karena tua, bisa tidak memikirkan alasan kenapa kita kabur ke dunia manusia ini?"

"Apa?"

"Aku rasa sebentar lagi kita akan di jemput."

"Wah, Eques. Tahu diri juga kau." Sinar hitam menerangi pandangan Xerxes sesaat. Seseorang muncul di belakang Eques.

"Pelanggaranmu besar sekali, bocah. Membawa kabur pendatang baru ke dunia manusia, apalagi di tempat kelahiranmu. Mencuri dan menyusup. Aku rasa hukuman kurung lima bulan memang tak mempan padamu lagi."

Eques mengeratkan pelukannya. "Apapun hukumannya, jangan libatkan dia, Luxury. Dia orang istimewa bagiku. Aku akan menjaganya dan akan membuatnya tersenyum setiap waktu."

Wajah Xerxes memerah padam.

Luxury tertawa. "Kali ini tidak ada hukuman untukmu. Aku hanya akan memperingatkanmu. Bahaya kalau Lewi melihat."

"Ya, aku mengerti."

"Bagus. Sekarang kita pulang."

"Ba-baik!"

Extra Story End

.

.

.

To Be Continue

Hye ngerasa ini chapter paling buruk dari sebelumnya -_,- Sesuai judulnya, Hye sediain Extra Story tentang XerQues couple. Sejujurnya seneng ngegambar karakter musuh kali ini. Xerxes yang kecilnya polos dan cara ngomongnya tua tapi pas dewasanya mesum dan Eques yang kecilnya ceria bersemangat tapi pas dewasa lebih dingin walaupun masih mengutamakan kemauan Xerxes. Hye rasa para readers bakal menduga karakter jahatnya kurang kena karena pakai OC. Sengaja Hye kasih OC buat para penjahat karena memakai artis mulu rasanya udah mainstream sekaligus ntar jadi makin dibenci misalnya kayak beberapa ELF yang gak suka SNSD ntar makin benci.

Chapter ini memakan banyak waktu. Biasanya yang seminggu selesai sekarang malah agak terlantar. Soalnya Hye payah buat urusan action. Tepatnya mati kata buat deskripsiin segala hal, apalagi pertarungan 4 orang 1 tempat. Kalau pas Key sama Yuri dulu 'kan sengaja Hye pisah biar agak mudah deskripsiinnya.

Untuk Extra Story, setiap Chapter ke depan kayaknya bakal ada terus. Tergantung cast-nya siapa yang pengen ku bedah masa lalunya. Bisa aja nanti Sungmin, YeKyu atau OC lainnya. Kalau kalian gak suka sih tinggal di skip aja karena Hye yakin gak semua suka sama Extra Story.

Yosh! Selesai sudah Chapter 7 ini! Ada yang bisa nebak kenapa tiba-tiba Yesung mau-mau aja cium Ryeowook pas tidur? Atau kenapa dia mau kasih kalung itu? Ada yang mau clue buat chapter depan? Tidak? Oh bagus ._. Last, Mind to Review? ^^