80 Millionen
by Gyoulight
.
.
.
.
CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance
RATING: T
.
.
.
.
Baekhyun tak menoleh pada siapapun yang menatapnya aneh. Dengan matanya yang memerah, ia terus menelusuri hotel besar itu hingga benar-benar menapak di jalannya yang sepi. Ia akhirnya bisa lega karena Chanyeol tidak berlari mengejarnya. Tidak juga mengejarnya seperti dahulu, karena ia sepenuhnya tidak ingin melihat pemuda itu untuk sementara waktu. Tidak ingin terluka, pula tidak ingin merusak banyak hal.
Sebuah mobil kemudian merapat di depannya. Bukan berpikir buruk, Baekhyun malah berhenti ketika kaca mobil itu terbuka untuknya. Ia sama sekali tidak berpikir jika saja ada orang jahat yang akan menculiknya di sekitar sini.
"Kau butuh bantuan."
Itu bukan pertanyaan. Pemuda berambut coklat dari dalam sana hanya menyunggingkan senyum. Terlihat menawan dengan balutan kemeja santai. Membuat Baekhyun menepis pikiran kalutnya tentang penjahat luar negeri yang kejam. Bukankah pemuda itu terlalu familiar untuk menjadi seorang penjahat?
"Masuklah, aku bukan orang jahat," tutur pemuda itu lembut. Tapi tanpa berpikir Baekhyun malah diam menurutinya. Membuka pintu mobil dan duduk segera di kursi penumpang. Dan ia begitu ingat bagaimana pertemuannya dengan pemuda ini tadi pagi.
Pemuda asing itu kemudian hanya bisa terkikik geli. Heran dengan sikap penumpang dadakannya yang masih ragu untuk menerima bantuan. Baekhyun lantas memilih diam tidak perduli, hanya menatap ke luar jendela saat mobil itu bergerak membawanya meniti jalan. Lagi pula ini adalah sikap alamiah manusia. Apalagi manusia yang sulit percaya sepertinya.
"Aku Xiao Luhan," lirik pemuda itu menatap lewat kaca yang menggantung. Sedangkan Baekhyun masih betah dengan pemandangan luar jendela. Tidak akan perduli siapapun pemuda itu. Yang jelas ia hanya butuh kepastian tentang─apakah pemuda itu tulus menolongnya?
"Aku sekertarisnya," lanjut pemuda itu memperkenalkan diri dengan ramah. Lebih santai dari sebelumnya. Dan itu membuat Baekhyun sukses menatapnya, menyampingkan pikiran buruknya dalam sekali kedip. "Chanyeol yang menelponku."
Sesaat hati Baekhyun kembali berkabut. Ia tertunduk memainkan jemarinya. Fakta bahwa Chanyeol begitu perduli padanya adalah sesuatu yang mampu membuatnya senang. Bahkan mungkin bisa membuatnya menyesal dalam satu waktu.
"Kau pernah membuat janji dengan seseorang?" Tiba saat pemuda itu membuka obrolah untuk membuatnya sesantai mungkin berada di dalam mobilnya. Pemuda bernama Luhan itu lalu menawarkannya sebuah permen yang secara ajaib keluar dari dasbornya. "Itu akan membuatmu lebih baik."
Baekhyun menerima permen itu, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk memakannya. Ia lalu berakhir dengan menatap manisan kecil itu, kemudian sibuk memainkan bungkusnya.
"Aku pernah melakukannya," sambung Luhan yang perlahan menginjak rem mobilnya. Mata rusanya hanya menatap lampu merah, menunggu nyala hijau dengan sangat tidak sabar.
Baekhyun pun mendengarkan dengan baik. Entah mengapa ia ingin mendengar pemuda itu lebih baik lagi.
"Dan aku pernah menyesal dalam hidupku," tuturnya kembali mendung. "Seseorang yang membuat janji denganku kini memilih pergi meninggalkanku. Kau tahu apa alasannya?" Melirik sebentar, Luhan menemukan Baekhyun yang menatapnya lewat kaca. "Saat itu aku bimbang oleh pilihanku sendiri. Aku termakan oleh pilihan yang sudah ku pilih. Melupakan janjiku sendiri, lalu membiarkannya tersakiti."
"Dia bahkan sudah memilih pergi dengan harinya yang baru tanpa diriku."
Baekhyun sedikit tertarik dengan cerita pemuda asing di kursi kemudi. Merasakannya dengan sepenuh hati, telah membuatnya yakin bahwa pemuda itu pastilah orang yang banyak berbohong dalam hidup. Tepatnya, berbohong untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Lampu hijau pun menyala. Dengan pelan Luhan kembali menelusuri jalanan ramai itu dengan mobilnya. Diam-diam Baekhyun senang saat Luhan tidak repot-repot bertanya tentang masalah yang tengah dihadapinya, terlebih bertanya dimana alamat tinggalnya.
"Dia sudah bahagia dengan dunia barunya. Menemukan seseorang untuk dicintai, dan menemukan tujuannya yang baru. Tapi aku hanya bisa menyesali itu."
"Kenapa kau menyesalinya, sementara─"
"Karena tidak ada aku di dalam kebahagiaannya," potong Luhan terkekeh. Menganggap ceritanya begitu lucu, atau mungkin ia baru saja sadar karena mendadak bercerita pada orang asing. "Drama sekali, bukan?"
Dan Baekhyun hanya bisa tertegun mendengarnya.
"Jadi jangan pernah membuat pilihan yang akan kau sesali."
e)(o
Baekhyun sampai di depan pintu home staynya hampir tengah malam. Luhan sempat menolak untuk mampir dan memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Tak lupa Baekhyun menitipkan salam kecil untuk Chanyeol. Dan Luhan terlihat lega karena telah berhasil membuatnya sedikit lebih baik.
"Terima kasih," ucap Baekhyun sebelum pemuda itu melaju dengan mobilnya.
Dengan langkah yang lelah Baekhyun menekan bel pintu. Ia kemudian dapat melihat wajah bantal Mark yang menyambutnya malas. Sedikit senyum pun ia berikan pada anak itu sebelum memilih masuk.
Sesampainya di dalam, ia disambut dengan pelukan Mrs. Gwen. Rasa khawatir wanita paruh baya itu memenuhi wajah lelahnya. Lalu Baekhyun dapat melihat kehadiran Will yang baru saja turun dari tangga.
Will tidak tersenyum padanya. Merampas tasnya tanpa kata, lalu dengan senang hati pemuda itu mengantarnya naik ke kamar. Baekhyun sempat bingung menatap punggung Will yang mendahuluinya. Tidak biasanya Will sediam ini menghadapinya.
"Kau pulang malam sekali," tutur pemuda itu membukakan pintu kamarnya. Meletakkan tasnya di atas meja sebelum mengambil duduk di kursi kecil. Anggap saja Will tengah membangun kesadarannya yang nyaris pulas tertidur malam ini.
Baekhyun dipenuhi rasa bersalah ketika ia berhasil menatap wajah itu. Ia tentu saja tidak bodoh untuk melupakan saat dimana Will menunggunya di Lous tanpa marah. "Maafkan aku soal waktu itu," ucapnya penuh sesal.
"Kau sudah mengatakannya di telpon," balas pemuda itu menggeleng kecil. Begitu datar dan tidak mau meladeni bahasan panjang─seperti Will yang biasa. "Bagaimana dengan harimu?"
Baekhyun mengusap wajahnya. Memilih merebahkan diri ke atas ranjangnya yang empuk. "Aku mungkin butuh tidur selama beberapa hari ke depan."
"Dia membuatmu sedih?" tanya Will masih ingin membuatnya bicara. Sangat terlihat bahwa Will sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Dia akan menikah," jawab Baekhyun tanpa celah. Pandangannya pun kosong saat menatap langit-langit.
Will terdiam kehabisan kosa kata. Tentu pemuda itu tidak akan bisa melakukan sesuatu seperti membuatnya berubah senang atau membantu. Karena mungkin─
semuanya memang sudah tidak berpihak padanya sejak awal.
Baekhyun mencoba memejamkan kedua matanya. Mencari alam mimpinya, lalu ingin menggapainya seperti ingin menemukan jalan keluar. "Aku mungkin harus melupakannya."
e)(o
Chanyeol masih menggenggam ponselnya. Membuat panggilan beberapa kali hingga panggilan Luhan di telinganya menggema merepotkan. Dan Chanyeol begitu mengerti mengapa Luhan begitu sangat ingin cepat kembali ke Seoul setelah bercerita telah bertatap muka dengan seseorang yang begitu ingin dilupakannya.
Chanyeol sedikit membuka kaca mata hitamnya. Pandangannya diarahkan pada koper-koper yang menumpuk di samping kursi. Ia hanya sedikit sedih, Baekhyun tidak ingin mengangkat panggilannya. Terlebih memberinya sebuah kata 'selamat jalan'.
Dan menurutnya, ini juga terasa sedikit deja vu.
"Dia tidak akan mengatakan selamat tinggal padamu," celetuk Luhan iseng. Entah mengapa ia bisa begitu senang menemukan atasannya berubah murung karena cinta. Lucu saja sih menurutnya. "Jangan berharap terlalu tinggi."
Chanyeol menatap Luhan malas. Ingin rasanya ia membatalkan penerbangannya hari ini. Memilih tinggal lebih lama di Swiss, atau mungkin terbang ke Antartika sehingga ia tidak perlu bertemu dengan ibunya yang cerewet. "Apa aku benar-benar harus kembali?"
Luhan mulai menarik kopernya. Ia sedikit melirik paspornya, memastikan jika benar benda itu sudah berada dalam genggaman. "Aku akan dipecat jika ibumu menemukanku pulang seorang diri. Lagipula dua minggu lagi kau harus menikah."
Chanyeol beranjak, memasukkan ponselnya ke dalam saku. Rautnya kali ini sungguh tidak terlihat sesegar kemarin. "Aku tidak akan menikah."
Luhan terkekeh menyerahkan surat-suratnya pada petugas bandara. Keramaian yang mendadak mengendap tentu membuat keduanya menjadi pusat perhatian. "Apa yang akan kau rencanakan? Kau ingin kabur lagi?"
"Entahlah," jawab Chanyeol memijit keningnya. Tak lupa menurunkan kaca mata hitamnya untuk pengecekan. "mungkin aku lebih tertarik untuk bunuh diri."
"Hey, jangan bercanda saat kita sedang memulai perjalanan. Mungkin kau senang jika pesawatnya jatuh, tapi aku masih punya keinginan untuk menikah," tinju Luhan pada lengan bosnya.
"Menikah?" kini giliran Chanyeol yang terkekeh. Menemukan Luhan yang cukup serius membicarakan pernikahan adalah suatu hal yang langka. Terlebih ketika ia ingat pemuda itu pernah dihapus dari silsilah keluarga karena kabur dari pernikahan mahalnya. "Memangnya Sehun memulainya lagi denganmu?"
"Jangan pernah sebut namanya di telingaku." Luhan menutup habis telinganya. Kakinya yang mungil kini menapak di tangga pesawat. "Aku sudah sukses dalam melupakannya."
Chanyeol terkikik geli. "Aku berani bertaruh jika jantungmu masih berdetak tidak karuan saat melihatnya."
"Jantungku baik-baik saja." Luhan menggeleng dengan cibiran. Hirau dengan beberapa pasang mata yang masih saja menatap mereka penuh arti karena terlalu berisik. Padahal semua orang pun tahu kalau itu adalah deretan kursi VIP yang damai.
"Kau bahkan terlalu senang setelah makan malam dengannya." Chanyeol pun sama tidak perdulinya dengan opini orang asing. Ia selalu memilih menjadi dirinya sendiri dimanapun ia berada. Sehingga mau dilihat seperti itu atau tidak, memakai bahasanya sendiri atau tidak, adalah sesuatu yang harusnya tidak diperdulikannya.
Luhan akhirnya menemukan kursinya. Ia melirik sedikit pada sosok di seberang kursinya. Terlihat terganggu karena ia terlalu ribut membicarakan sesuatu dengan bosnya. Terlebih mereka berbicara dengan bahasa yang tidak akan mereka pahami. "Itu bukan makan malam. Aku hanya berposisi sebagai pengganti kekasihnya yang tidak datang."
"Lihat, kau masih sangat mencintainya," tutur Chanyeol duduk di sampingnya. Meraih headsetnya sebelum memutar beberapa musik. Sedangkan Luhan hanya bisa kesal menatap ke luar jendela.
e)(o
Siang yang dingin membuat Baekhyun semakin malas membuka mata. Pemuda bersurai brunette itu masih betah bergulung di dalam selimut. Bersumpah ingin kembali tidur, tapi matanya tak sempat bilang pada otak bahwa ia sudah terlalu lama tidur sejak kemarin. Alhasil ia berubah memandangi boneka beruang besar yang kebetulan berdiri di sudut kamar. Sekaligus memandangi jejeran hasil kameranya tentang keindahan Swiss di dinding, sampai ia berubah kesal sendiri.
Baekhyun mungkin akan senang jika ia punya ingatan yang buruk atau penyakit lupa ingatan akut saat ini. Jadi ia tidak akan susah-susah menghindari memorinya kemarin. Tidak mengutuk hari barunya tanpa orang yang diharapkan, atau minimal tidak berniat menghancurkan semua benda-benda tidak bersalah di dekat mejanya itu.
Selimut tebal kemudian terkapar di lantai, Baekhyun-lah yang membuangnya dengan tega. Dengan cepat ia merampas boneka raksasa itu, mencabut semua foto di dinding lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah. Lantas otaknya yang kecil tidak berpikir jernih ketika ia memaksa boneka itu berdiri di dalam bak sampah yang kecil. Tidak akan pernah muat meski ia menginjaknya dengan baik dan benar, pikirnya.
Maka Baekhyun menyeret si beruang turun ke lantai bawah. Tak lupa merampas kameranya yang menganggur di atas meja. Ia sepenuhnya mengejutkan Will yang sibuk mengubrak-abrik kulkas karena lapar, dan juga Mark yang masih saja sinis menatapnya dari sofa ruang tengah. Bocah kecil itu rupanya masih senang menonton serial kartun, kalau Baekhyun boleh tertawa. Tapi sayangnya bukan itu tujuannya kemari.
"Mark, mungkin kau akan suka ini," tawarnya pada sebuah kamera kesayangannya.
Sedangkan Mark malah terdiam menatapnya dan benda hitam itu secara bergantian dengan wajah konyol. Terlalu aneh saja kalau ada seseorang yang menawarkannya benda mahal di siang bolong begini. "Apa ini?"
"Kamera, tentu saja," jawab Baekhyun pegal karena kameranya tidak kunjung berpindah tangan. Kepingan dalam sipitnya kemudian ingin berkilat-kilat, kalau saja dia tidak ingat ia tengah menggendong boneka beruang besar yang sangat butuh perhatian.
"Kau memberikannya padaku?" Baekhyun berubah kesal karena Mark kembali bertanya demikian padanya. Ia lantas menyerahkan benda hitam itu pada Mark yang masih tidak percaya kalau ia bisa mendapatkan benda mahal itu secara cuma-cuma.
"Kau memberikannya padaku?!" Mark kembali bertanya. Kali ini wajahnya berubah manis pada Baekhyun. Entah kemana tatapan sinis yang didapatkan Baekhyun setiap harinya.
"Memotret itu sangat menyenangkan. Kau juga bisa melakukannya sekarang," tutur Baekhyun kembali menyeret boneka beruangnya. Menempatkannya pada sofa dimana Mark terduduk. Yang kemudian bocah itu semakin tercengang karena menyaksikannya berlaku begini tiba-tiba.
"Dan berikan dia pada Angie," tutup Baekhyun yang kemudian bergerak pada kulkas. Tidak menghiraukan Will yang masih saja tertahan di pintu kulkas yang menganga.
"Woah!" Alhasil Mark melompat-lompat kegirangan mencoba menggunakan kamera barunya. Mulai mengambir foto dengan sembarangan, hingga membiarkan boneka beruang itu terabaikan untuk yang kedua kalinya.
"Apa yang terjadi padamu?" Will yang melongo bingung hanya menggenggam telur mentah di genggamannya. Tadinya ia hendak menggoreng telur itu seperti biasanya, tapi akhir-akhir ini dia mulai bosan bergelut dengan kompor karena laporan kuliahnya yang menumpuk. Lagipula dia hanya bisa menggoreng telur, apa yang bisa diharapkan?
"Apanya?" Berhasil mengambil sebotol air, Baekhyun kemudian menutup pintu kulkas. Membiarkan Will menatapnya aneh, yang kemudian ia berubah tidak perduli pada rambutnya yang naik berantakan atau wajahnya yang kering. Will bahkan terlalu terbiasa untuk menemukannya berantakan seperti ini sejak pertemuan pertama mereka.
"Kau membuang kameramu," jawabnya masih tidak paham.
Baekhyun menyernyit. Walaupun ia tidak tahu apakah ia serius tentang itu semua, tapi entah mengapa ia merasa sangat ingin melakukannya. Bahkan merasa kalau ini sangat benar untuk dilakukan. "Aku tidak membuangnya. Aku hanya mengganti kepemilikannya."
"Kemari." Will kemudian mendekat padanya. Dengan wajah seriusnya ia meraih kepala belakang Baekhyun yang masih tidak bisa mencerna tentang apa yang tengah dilakukannya. Lalu─
"Akkhhh!"
Sebutir telur kini menghantam kening Baekhyun. Tak tanggung-tanggung telur itu mengeluarkan cairan amis dari cangkangnya yang retak. Dan itu terasa sangat menyakitkan, sekaligus menjengkelkan sampai Baekhyun menjerit sesuka hati. "Ini sakit, bodoh!"
Will lantas menggeleng membuang seluruh isi telur itu ke dalam mangkuk. Melempar cangkangnya yang hancur ke tempat sampah, lalu beranjak menuju kompor. "Ternyata kau masih sadar. Aku sekarang yakin kau pasti sudah gila."
"Will!" pekik Baekhyun kesal mengusap keningnya yang memerah.
Lantas Will kembali membuka pintu kulkas dengan menahan tawa. Mencoba mencari telur yang lain atau susu sebagai tambahannya. Itupun kalau Baekhyun tidak lapar. "Kau mau?"
"Tidak!" tolak Baekhyun mentah. Ia kemudian menggertakkan giginya di hadapan Will. Namun tentu itu tidak akan berdampak pada si pemuda. Kalau bukan Mark siapa lagi yang akan mengerjainya di rumah ini?
"Sebenarnya aku harus pergi belanja," tutur Will santai. Tidak mau tahu kalau Baekhyun bisa mengambil telur untuk membalasnya.
"Kau mau belanja?" Baekhyun berkedip beberapa kali. Ia batal ingin membalas dendam. Padahal sudah terencana di otaknya kalau ia ingin melempari pemuda pucat itu dengan telur yang lain.
"Aku tidak akan mengajakmu," cibir Will sibuk mencampur telur dengan beberapa potongan sosis.
"Kau harus ganti rugi pada keningku," tunjuk Baekhyun pada keningnya. Ia rupanya sangat tidak terima kalau ada sebuah memar disana.
"Keningmu bukan properti─"
"Aku tahu apa yang kalian bicarakan." Mark tiba-tiba mengusik kesibukan keduanya. Memotret mereka tanpa izin lalu tersenyum puas. Sama seperti Baekhyun kala ia mendapatkan foto jelek bocah itu setiap pagi.
"Jangan sok tahu," jitak Will pada kening Mark yang selalu ingin tahu dengan urusan bahasa Korea-nya. Dan mau itu Mark atau Baekhyun sekalipun, ia sama sekali tidak pernah suka difoto.
"Ich hasse dich!" hardik Mark lucu. Alhasil bocah itu berbalik dari sana, lalu melenggang memasuki pintu kamarnya.
"Danke," ejek Will dengan wajah datarnya. Menikmati kepergian Mark walaupun bocah itu belum mematikan televisi.
Baekhyun pun hanya bisa mencibir sebelum pergi. "Kau luar biasa bodoh."
e)(o
Baekhyun menguap menjaga troli belanjaan Will yang masih saja belum puas diisi. Sedangkan pemuda itu masih berjongkok di depan rak makanan instan. Menimbang yang mana yang harus ia beli, sebelum menghitungnya sendiri dengan kepalanya tentang berapa yang harus ia bayar setelahnya.
"Ambil yang satunya," saran Baekhyun mulai bosan. Tidak tahu kalau Will terlalu banyak mempertimbangkan saat berbelanja. Berbeda dengannya yang mungkin sudah memasukkan banyak barang tidak berguna, lalu menyesal sendiri karena menghabiskan banyak uang. Dan ngomong-ngomong, dia juga pengangguran sekarang.
"Tapi ini mahal," sanggah Will menatapnya acuh tak acuh.
"Kau pasti tahu kalau ada kalimat 'yang mahal adalah yang terbaik'." Baekhyun menggaruk sedikit kepalanya yang gatal. Ia bahkan belum sempat mandi karena Will tiba-tiba datang ke kamarnya dan mengajaknya pergi. Padahal baru dua jam pemuda itu bilang tidak mau mengajaknya belanja. "Kau juga punya banyak uang, jadi beli saja semuanya."
Alhasil Will memasukkan salah satu yang termurah ke dalam troli. Merampas troli itu dari Baekhyun, kemudian berlalu begitu saja. "Aku kehilangan banyak uang karena mobil itu."
Baekhyun terkikik. Mengekori Will yang menelusuri rak-rak daging, pesanan Mrs. Gwen, tentu saja."Mobilmu terlalu mahal untuk jarang dipakai."
Berbicara soal mobil, Will ternyata mulai melupakannya. Ia juga lebih memilih jalan kaki dari pada membawa mobilnya ke tempat belanja. Bukan apa-apa, hanya saja letak rumah bibinya dengan supermarket ini sangat dekat dari pikirannya. Dari pada menghabiskan bahan bakar, lebih baik dia menghemat sedikit bukan? "Tapi itu keren."
"Percuma jadi keren tapi uangmu menipis," ejek Baekhyun cukup serius.
Will tertohok oleh kalimat itu. Sedikit ada benarnya, namun terlalu menamparnya sampai ke jurang. "Jadi harus kujual lagi?" tanyanya polos mengarah pada bodoh.
Baekhyun mendegus. Ia lalu mendahului Will yang tidak kunjung selesai dengan urusannya. Merapat pada rak-rak yang dicarinya, sampai Will ikut mengekor dengan trolinya. "Aku mau membeli sesuatu."
"Permen?" tebak Will iseng. Masih senang dia mengganggu Baekhyun yang bosan.
"Keju," jawab Baekhyun kesal. "Kau pikir aku ini Mark?"
"Siapa tahu," kekehnya semakin menyipit.
Baekhyun menatap beberapa jenis keju di rak. Kepalanya menimbang-nimbang pada setiap varian dan harga. Tidak ingin lepas dari menatap satu per-satu potongan keju itu sambil melipat lengannya di dada. "Ngomong-ngomong kenapa kau memutuskan untuk pindah kemari?"
"Iseng," jawab Will ikut menatap keju-keju di dalam sana. Sedikit tertarik, ia mungkin juga harus membelinya.
"Jawaban apa itu?" toleh Baekhyun menyernyit. Dia mungkin tidak habis pikir dengan sikap Will yang tidak pernah mau terbuka dengannya. Padahal ia selalu berbicara sesuka hati pada pemuda itu, tidak kenal waktu dan tempat malah.
Will kemudian sibuk menatap beberapa keju putih di rak teratas. "Aku baru-baru ini suka melakukan hal yang tidak biasa."
"Tidak merindukan ayahmu?"
Alhasil Will pun menoleh dengan tatapan konyolnya. "Oh ayolah, aku sudah sangat dewasa untuk tidak merindukannya."
Baekhyun berkedip sebentar. Ia lalu menunjuk salah satu keju yang terlihat familiar di rak bawah. "Angie suka ini. Apa ini enak?"
"Jangan yang itu. Rasanya aneh." Will berubah menggebu-gebu ketika tahu keju mana yang dimaksud oleh Baekhyun. Ia seketika teringat dengan sarapan kesukaan Mark yang terasa aneh di lidahnya. "Yang ini lebih enak." Ia pun menunjuk keju putih di rak atas. Itu lebih baik menurutnya, karena ayahnya selalu menyarankan keju itu padanya.
Baekhyun menimbang cukup lama. Mungkin keju itu sedikit lebih mahal dari yang lain. Tapi ia kini yakin, jika kata 'yang mahal adalah yang terbaik' memang berlaku dimanapun. "Baiklah," putusnya kemudian.
"Baekhyun?"
Belum sempat ia menggeser pintu rak keju, Baekhyun kemudian dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di belakangnya. Will pun ikut berbalik menemukan orang itu. Menatapnya bingung karena Baekhyun tidak terlihat baik-baik saja setelah menemukannya.
Lebih tepatnya, menemukan kakaknya.
e)(o
Sebuah meja kemudian dipesan, tidak terkecuali Will yang menunggu di meja lainnya. Pemuda itu mungkin sedikit kesal karena dipisahkan dari pembicaraan mereka. Tapi apa yang bisa dilakukannya jika Baekhyun dan kakaknya butuh membicarakan hal pribadi?
Baekhyun masih terduduk kosong memandang datarnya meja. Tidak menyentuh cangkir kopinya, sementara kakaknya, Junho, tidak kunjung memulai pembicaraan. Mereka tidak bicara dalam waktu yang lama, tidak pula bersitatap seperti keluarga pada umumnya. Malah terlihat sangat asing untuk duduk di tempat yang sama.
"Maaf." Kata itu yang terlontar dari Junho ketika dingin di luar berhasil menyusup ke dalam café. Kepalanya semakin tertunduk penuh sesal. Membekukan seluruh pendengarannya tentang apapun yang mungkin ia dapatkan dari adik tirinya.
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Baekhyun menggenggam jemarinya di bawah meja. Menemukan Junho di tempat ia berlindung tentu mambuatnya marah. Ia sendiri sudah pergi sejauh mungkin untuk tidak ditemukan, lantas apakah harus ia pergi lagi agar Junho atau ibunya tidak menemukannya kembali?
"Mereka mencarimu," jawab Junho masih menatap cangkir kopinya. Tidak berani menaikkan pandangannya walau sesenti.
Mengingat ibunya, Baekhyun berubah muak. Ia bahkan begitu ingat dengan ibunya yang selalu memihak Junho dari pada dirinya. "Kau bisa katakan pada mereka jika aku sudah mati."
"Baekhyun─"
"Kau tidak perlu merepotkan diri untuk mencariku. Aku tidak akan pernah pulang," tekan Baekhyun dalam tiap frasanya. Mempertegas kalimat terakhirnya, sementara matanya memanas dengan sangat tidak tahu diri.
"Maafkan aku," mohon Junho lagi. Kakaknya itu masih tertunduk, menunjukkan rasa bersalahnya yang begitu besar, sampai Baekhyun sangat ingin menyiramnya dengan cairan kopi panas.
"Kau tahu apa yang selama ini aku rasakan? Aku tidak bisa tidur dengan baik. Dan kau membuatku kehilangan tempat untuk pulang. Aku bahkan benci melihat wajahmu setiap kali aku ingat." Baekhyun berubah meninggikan suaranya. Ia tidak perduli lagi dengan banyak pasang mata yang memandangnya sekarang. "Harus seberapa jauh lagi aku pergi untuk lupa?"
"Aku juga menderita," tutur Junho tidak kalah menekan. "Aku tidak bisa hidup dengan tenang setelah kau pergi. Hidupku juga tak kalah hancurnya."
"Maka itu kutukan untukmu," kutuk Baekhyun menegakkan kepalanya marah. Mencoba menemukan pandangan Junho yang kacau dan hancur kala mendapati kilatan matanya. Pun tidak terbantah air matanya mengalir. Tidak bisa dicegahnya ketika Junho tahu seberapa besar kehancuran yang dialaminya. "Menderitalah sebesar aku membencimu!"
"Baekhyun─"
Baekhyun lalu beranjak dari sana. Menyeret kantung belanjaannya bersama bayangan Will yang berlarian mengejarnya. Air matanya tumpah, gemetar jemarinya mengingat ingatan kelamnya. Kakinya pun terus ia bawa menjauh dari café. Terserah jika ia salah arah sekalipun.
Will masih mengekorinya di belakang. Berusaha mengejar langkahnya yang asal-asalan, sampai khawatir ketika langkahnya menabrak seseorang di persimpangan jalan. Mata Baekhyun yang buram kemudian menemukan keju yang dibelinya terjatuh ke jalan. Ia segera meminta maaf tapi tidak tahu benar wajah kesal pria paruh baya yang ditabraknya.
Will mendekat menyelamatkan kejunya. Mungkin sedikit hancur, tapi paling tidak kejunya tidak keluar dari kemasannya. "Biar aku yang bawa."
Baekhyun kemudian mematung membiarkan orang yang ditabraknya pergi dengan kesal. Lebih memilih menatap sepatunya dalam tangis bodoh yang tidak bisa ditahannya lagi.
"Seorang pria tidak boleh menangis." Will kemudian memasangkannya topi mantel yang dikenakannya. Menyembunyikan setengah wajahnya yang tergenang, lalu menepuk pundaknya. "Ngomong-ngomong, kau mengutuknya dengan keren."
Will mungkin tidak pernah gagal dalam membujuk atau menenangkannya. Namun kali ini pemuda itu malah membuatnya semakin terisak. Ia senang, tapi ia juga merasa sangat sedih. Tidak begitu paham mengapa ia bisa menangis seperti ini.
Will yang merasakan kakinya pegal menunggu Baekhyun berhenti menangis, kini mulai memeluk menenangkan. "Kejumu masih bisa dimakan. Seharusnya kau tidak menangis."
e)(o
Sebuah tuxedo hitam masih terpajang di sudut, belum sama sekali disentuh seorangpun meski sudah keluar dari kaca. Ibunya bilang itu adalah pakaian terbaik yang toko langganannya punya. Harganya pun begitu mahal hingga Chanyeol sendiri tidak bisa menebaknya.
Sebuah tirai merah kini dibuka oleh dua orang pelayan wanita. Memunculkan sosok gadis cantik dengan wedding dress yang begitu menawan. Senyumnya mengembang sempurna sambil berputar. Chanyeol lalu bisa menebak, gadis itu terlalu menyukai gaun pilihan ibunya.
"Apa bagus?" tanyanya turun mendekat.
Chanyeol meliriknya tanpa minat. Masih duduk santai di sofa tunggal dengan rasa malas berbicara dengan siapapun. "Terserah kau saja," jawabnya.
Gadis itu mencebik tak suka. Ia pun segera melirik Luhan yang berdiri tidak jauh dari Chanyeol. "Lalu bagaimana menurutmu?"
Luhan tersadar dari lamunannya. Ia melongo menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. Ia hanya belum percaya karena baru kali ini seseorang menganggap keberadaannya sejak tadi. Lantas salah siapa, jika Chanyeol memaksanya ikut dan ia tidak punya pilihan selain mengiyakan?
"Bagaimana?" tanya gadis itu kembali mengangkat gaunnya. Memberinya semua pesona yang ia miliki hingga Luhan sendiri ikut malas meladeninya. Lagipula siapa yang manyukai gadis sepertinya di antara ia dan Chanyeol? Bahkan Luhan sendiri merasa dirinya lebih menarik dari pada gadis itu.
"Ya─itu bagus," respon Luhan setengah hati. Tapi beruntung gadis itu tersenyum puas tanpa penyelidikan. Maka gadis itu pun segera memanggil si pelayan toko untuk menetapkan gaunnya.
"Kau tidak ingin mencobanya?" tanya Luhan membuyarkan lamunan Chanyeol pada ponselnya. Pemuda tinggi itu hanya menatapnya malas lalu beranjak keluar. Luhan pun mau tak mau kembali mengikutinya dengan wajah merengut.
"Apa itu penting?"
"Untuk seorang mempelai ini penting," jawab Luhan sesopan mungkin. Ia tentu tahu tempat saat berbicara dengan atasannya. Lain halnya jika mereka berbicara di luar lingkup pekerjaan.
Chanyeol menghela nafasnya. "Aku bahkan sudah begitu kasar padanya. Tapi kenapa gadis itu masih setuju untuk menikah denganku?"
"Mudah saja, itu karena dia menyukaimu," jawab Luhan santai.
"Omong kosong," cibir Chanyeol kesal. Ia pun segera memutar otaknya dengan sangat tergesa. Mencari jalan keluar yang tepat untuk membatalkan pernikahannya sendiri.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Btw aku gak bisa bahasa Jerman. Kalau ada kata yang salah mohon dimaklumi ya?
Terima kasih untukmu yang sudah mereview, memfavoritkan dan memfollow ff ini. ILYSM.
