Chapter 7
Chapter ini cukup panjang, kalau di laptop ada sekitar 21 lembar loh, Callibri 11.. Gimana gak banyak, orang banyak percakapan, hahaha…
.
selamat membaca ria Minna-tachi…
.
SAKURA'S LOVE STORY
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,
Uzumaki Karin, Ino Yamanaka, Shimura Sai, Namikaze Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya Cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,
.
ALUR SINETRON
.
===========ITADAKIMASU==========
.
.
"Sasuke, aku bosan.." Kata Sakura.
Entah sudah berapa kali kata yang sama Sakura ucapkan. Ia sangat bosan, benar-benar sangar bosan. Dari hati yang paling dalam ia mengeluhkan hal itu. Memang lebay, tapi ia memang merasakannya.
Membosankan, merepotkan, dan tidak menarik lagi. Ya, seperti itulah jika manusia dihadapkan suatu hal yang sama secara beulang-ulang. Hilang sudah rasa ingin melihat ataupun mengalaminya lagi.
Yang lain mungkin akan merasa sangat lelah. Efek setelah merasa bosan yang berkepanjangan.
"Sasuke, aku sangat lelah.."
"Sebentar lagi, Sakura…" Jawab Sasuke.
"Tubuhku sakit karena sedari tadi kau tak berhenti melakukannya, Sasuke.. Sakit yang ada di kakiku juga belum benar-benar sembuh.."
"Sabarlah, permainan belum selesai. Toh ini juga bagus untuk tubuhmu. Ayo kita lanjutkan…"
Sakura mencoba menuruti permintaan Sasuke.
Sasuke mengeratkan pelukan tangan kananannya di pinggang ramping Sakura. Mencoba merapatkan tubuh istrinya itu agar lebih dekat dengan tubuhnya. Sementara itu, tangan kirinya sibuk menggenggam erat jemari lentik istrinya. Mata saling menatap…
"Akhh, sakit, perhatikan langkahmu!" Kata Sasuke saat mendapati Sakura tak sengaja menginjak kakinya..
"Iya, maaf… Ayo ulangi!"
satu, dua, tiga, empat..
maju selangkah, mudur selangkah,
berjalan ke samping kiri , ke kanan, Sakura melakukan gerakan memutar, kembali ke posisi semula..
Diulang kembali
satu, dua, tiga, empat..
maju selangkah, mudur selangkah,
berjalan ke samping kiri , ke kanan, Sakura melakukan gerakan memutar, berakhir dengan pelukan dari belakang Sasuke seiring music yang berhenti..
Gerakan yang indah. Tepuk tangan bangga keluar dari sang intruktur dansa. Ya, Sakura dan Sasuke sedang belajar dansa. Sebenarnya Sasuke cukup mahir untuk berdansa, hanya saja ia harus mempelajarinya kembali karena ia sudah memiliki istri yang itu artinya ia juga sudah memiliki partner paten berdansa.
"Yuup, latihan hari ini selesai. Nona Sakura, gerakkan Anda semakin baik.." Puji Shizune, guru dansa untuk Sakura dan Sasuke.
"Arigato, Shizune-san.."
Hah, hah, hah
Helaan nafas lelah Sakura tak beraturan. Ia memang sangat lelah.
Jika Sakura sedang lelah, maka akan terlihat jelas dari cara ia bernafas. Jauh berbeda dengan Sasuke yang terlihat jauh lebih baik dari Sakura. Sasuke memang juga lelah, tapi ia bisa menghandlenya dengan baik.
"Baiklah, Shizune-san, kau boleh pergi.." Kata Sasuke.
"Hai, Sasuke-sama. Otukaresama deshita.." Kata Shizune undur diri.
"Otsukare…"
"Yokatta… Aku lelah sekali…" Syukur Sakura yang langsung menjatuhkan pantatnya di sofa yang ada di ruangan itu.
Sasuke melihat ke arah istrinya. Ia melihat bagaimana Sakura yang sedang kelelahan, keringat terlihat jelas di pelipis Sakura. Kasihan juga karena baru kemarin tiga hari yang lalu mereka menikah, tapi hari ini sudah mulai dengan 'les' yang wajib Sakura lakukan sebagai menantu keluarga Uchiha.
"Jangan menekuk kakimu, Sakura! Luruskan!" Kata Sasuke yang langsung duduk sofa lain berhadapan dengan sofa milik Sakura.
Tanpa sanggahan, Sakura langsung membenarkan posisi kakinya. Sebelum itu tak lupa juga Sakura melepas high heals 10 cm miliknya.
Sasuke juga melakukan hal yang sama dengan Sakura. Mereka merebahkan tubuh mereka di sofa yang ada di ruangan itu.
10 menit berlalu begitu cepatnya.. Tak terasa, jauh berbeda dengan rasa lelah yang tak berlalu juga. Semakin beristirahat justru rasanya lelah itu semakin terasa saja.
Sasuke melihat ke samping, melihat apa yang sedang istrinya lakukan. Sakura sudah tidak tiduran lagi. Sakura sibuk memijat pergelangan kakinya.
Sasuke mengesampingkan rasa lelahnya, ia bangkit dari tidurannya dan menghampiri Sakura. Ia lantas duduk di samping Sakura.
"Perlihatkan kakimu!" Perintah Sasuke yang langsung menarik pelan kaki Sakura.
Sakura yang tak sadar akan kehadiran Sasuke di sampingnya hanya bisa terdiam, mengikuti apa yang Sasuke lakukan padanya. Ia pasrah saat Sasuke memijat pelan kaki kirinya yang baru ia sadari jika kakinya berada di pangkuan paha Sasuke.
Sakura terpaku dengan perlakuan Sasuke. Ia menikmati wajah serius Sasuke yang sedang memijat kaki kirinya. Gerakan lembut Sasuke membuatnya serasa melayang, melupakan rasa sakit yang menerjang kakinya.
Tarikkan kecil menarik bibir manis Sakura. Entah apa, ia tersenyum senang saat itu. Rasanya ia sedang berlarian di padang rumput yang luas. Angin sejuk memanjakan tubuhnya…
Sasuke menggerakkan tangannya, mencoba menyusuri kaki Sakura. Mencari letak sumber sakit di kaki Sakura.
"Aaah, ittai… Pelan-pelan, Sasuke! Itu benar-benar sangat sakit.." Pekik Sakura saat tangan Sasuke menekat sumber sakit di kakiny.
"Apa kau selalu seperti ini jika memakai high heals?"
"Kalau kelamaan sih iya. Contohnya waktu pernikahan kita. Kalau saat ini memang tidak begitu lama aku memakainya. Tapi karena aku memakainya untuk belajar menari dansa, waktu 1,5 jam latihan rasanya seperti seharian memakai heals…"
"Maaf, kau harus melakukan hal-hal seperti ini. Tapi, bagaimanapun kau harus tetap melakukannya."
"Aku tahu itu, Sasuke. Tidak apa-apa, semua memang asing bagiku. Semua terasa baru untukku, tapi rasanya semua yang baru itu cukup menyenangkan.."
"Kau ini.. Besok aku akan meminta libur agar kau bisa istirahat. Manfaatkan benar-benar waktu istirahat besok biar kakimu lekas membaik!"
"Hai, Sasuke-sama…" Sakura tersenyum senang. Suaminya memang pengertian, ya wakau banyak menyebalkannya. Apa sih yang membuat Sasuke terlihat baik akhir-akhir ini? Sakura penasaran akan hal itu. "Anno, Sasuke cocok loh jadi tukang pijat. Pinjatannya enak sekali.." Lanjut Sakura dengan polosnya. Mendengar ucapan Sakura yang seperti itu membuat Sasuke memijat lebih keras. "ITTAII, SASUKE, SAKIT, BAKA!"
"Aku lelah berdebat denganmu, Sakura.."
"Haha, iya-iya, maaf, hanya bercanda…"
…..
Masih di tempat yang sama, Sakura dan Sasuke sedang menikmati minuman pelepas dahaga mereka setelah melewati acara 'les' dansa mereka.
Jus jambu biji dan jus tomat adalah minuman favorit mereka berdua. Bisa dikatakan jika mereka maniak akan ke dua buah itu.
"Wuaaahhhhhkkkhhh, segar sekali rasanya…" Teriak Sakura.
"Kecilkan suara cemprengmu itu Sakura!" Kesal Sasuke.
"Hai, hai, Mr. Tomato.."
"Good job, Mrs. Guava.."
"Dibalas.. Ah, tidak apa-apa toh nyatanya aku memang menyukainya…"
"WOO WOO WOO, pasangan pengantin baru kita sedang bermesraan siang-siang begini…" Kata Naruto yang muncul dari arah pintu diikuti Sai, Neji, dan seorang gadis berambut indigo. Rasanya Sakura mengenali salah satu di antara mereka.
Teman Sasuke? Hal itu yang terlintas di otak pas-pasan Sakura.
"Berisik kau, Dobe." Kata Sasuke.
"Kalau tidak berisik, bukan gayaku. Haha… Hai, Sakura-chan, konichiwa.." Sapa Naruto.
Sakura hanya tersenyum manis, ia masih belum mendapatkan ingatannya dari setumpuk memori yang memenuhi kapasitas otaknya.
"Mereka temanku, Sakura.. Kalian perkenalkan diri kalian!" Pinta Sasuke.
"Ha-hajimemashite, watashi wa Hyuga Hinata desu.." Kata Hina si gadis indigo yang terlihat kaku dan malu-malu.
"Hyuga Neji desu, kembaran Hinata.." Kata Neji. Sakura yakin jika Neji itu setipe dengan Sasuke. Memiliki mata yang dingin. Tapi Hinata dan Neji adalah anak kembar membuat Sakura tak percaya, pasalnya sikap mereka jauh berbeda.
Satu hal yang perlu Sakura catat, setiap orang memang memiliki karakter yang berbeda-beda, tak akan ada yang sama, tak terkecuali mereka yang kembar sekalipun.
"Shimura Sai desu.." Kata Sai si muka mayat dengan senyuman yang meragukan? Rasanya terjebak di ruangan berdua dengan orang ini akan mengerikan, itu yang Sakura bayangkan.
"Dan aku adalah Namikaze Naruto. Yang paling tampan dari yang tampan!" Si rambut durian yang khas dengan senyuman lebarnya.
Eh, Sakura yakin ini yang membuatnya menggali kembali setumpukkan memori di otaknya itu. Sakura pernah bertemu Naruto sebelumnya!
"Kenapa kau hanya diam saja saat aku memperkenalkan diri, Sakura-chan? Sebelumnya kau tersenyum saat yang lain memperkenalkan diri mereka. Apa aku kurang heboh?" Tanya Naruto.
Sakura menggeleng cepat. "Bu-bukan seperti itu…"
Yang lain hanya memperhatikan pembicaraan Sakura dan Naruto tanpa ada niat menyela pembicaraan yang sepertinya terdengar cukup serius.
"Haaah, selama tiga hari ini sejak pernikahanmu dengan Teme, aku terus memikirkannya. Kau putri tunggal paman Haruno Dan, kan?" Tanya Naruto.
Sakura membulatkan matanya. Benar, ingatannya memang tak salah begitupun yang Naruto katakan padanya. "Ya, Haruno Dan itu ayahku…"
"Jika kau melupakanku, aku benar-benar akan merasa sedih.." Naruto berpura-pura sok terlihat sedih dan kecewa.
Melihat Naruto yang terlihat lesu seperti itu membuat Sakura berusaha keras mengingat kembali masa lalunya.
"Naruto-kun desu ne? Naruto-kun yang suka makan ramen itu, kan?" Tebak Sakura yang sangat yakin akan tebakannya itu.
"YA, YA, ITU AKU! YOKATTA NE SAKURA-CHAN, KAU MASIH MENGINGATKU… Aku senang sekali. Osashiburi, Sakura-chan… Aku benar-benar merindukanmu.." Naruto yang kegirangan tanpa ragu memeluk erat tubuh Sakura. Tak hanya memeluk saja, tapi Naruto juga membuat Sakura menari gembira bersamanya.
"Hai Naruto-kun, aku juga senang dan merindukanmu.." Kata Sakura.
Memeluk erat di depan mata yang lain, di depan mata Sasuke yang notabene adalah suami Sakura. SUAMI SAKURA!
Sai, Neji, dan Hinata melebarkan mata mereka bersamaan.
Berani sekali Naruto itu..
Sasuke?
Sasuke baru saja melihat istrinya dipeluk laki-laki lain, lalu istrinya justru bilang juga sangat senang dan merindukan laki-laki lain itu.
Lalu..
Tunggu sebentar..
-kun?
Sakura menambahkan suffix –kun di belakang nama Naruto. Itu artinya hubungan mereka dekat ya? Sangat dekat sepertinya. Ia baru sadar jika sedari awal Narutopun selalu memanggil Sakura dengan tambahan suffix –chan padahal ia yakin, ia belum mengenalkan Sakura kepada teman-temannya secara langsung.
suffix –kun itu menunjukkan adanya hubungan yang dekat.. Ditambah lagi, mereka berdua saling memanggil nama belakangnya, nama kecilnya. Itu tak hanya sok dekat atau memang dekat, tapi pasti sangat dekat sekali.
ITU TIDAK PENTING BAGI SASUKE!
Ikatannya dengan Sakura justru jauh lebih dekat. Ia suaminya Sakura, kan?
UCHIHA SASUKE ADALAH SUAMI HARU- bukan ralat, UCHIHA SAKURA!
Pertanyaannya, kenapa Sakura tidak menambahkan suffix apapun di belakang namanya? Sakura memang memanggil nama belakangnya, nama kecilnya, tapi tanpa embel-embel apapun!
Memikirkan hal kecil seperti itu rasanya membuat kesal saja.
Iri juga?
Ada rasa kesal? YA!.. Iri? YA!..
Sasuke mengakuinya, tapi sedikit. Hanya sedikit! Ingat hanya sedikit!
Sedikit dalam takaran Sasuke itu seberapa? Jawabannya hanya Sasuke saja yang tahu.
"Sakura, hentikan tarian konyolmu itu! Kakimu masih bengkak!" Kata Sasuke akhirnya.
Sakura dan Naruto lantas menghentikan acara temu kangen mereka. Bagi mereka berdua, hal itu sih biasa saja. Toh pada dasarnya mereka berdua memang sudah saling mengenal sejak lama. Hanya saja, hal seperti itu tak berarti apapun di mata Sasuke. Bagaimanapun Sakura itu istrinya, sudah sewajarnya seorang istri menjaga jarak dari laki-laki lain manapun. Itu peraturannya, kan?
Memang seperti itu atau sebenarnya rasa kesal karena istrinya dipeluk laki-laki lain itu adalah sebuah rasa alamiah dari seorang suami?
Semua orang pasti tahu apa itu…
Cemburu?
Cemburu?
Sasuke cemburu?
Ayolah, Sasuke hanya tidak suka saja jika 'mainannya' dibagi dengan orang lain..
Bukan, itu hal sewajarnya yang harus dilakukan dari seorang Uchiha Sasuke!
.
Ruangan itu lalu dipenuhi oleh tamu Sasuke. Terlihat banyak yang sedang asyik mengobrol tentang pertumbuhan bisnis masing-masing. Sakura? Ia lebih banyak diam karena ia sadar betul jika pembicaraan teman-teman Sasuke bukanlah ranahnya bicara.
Teman-teman Sasuke itu sangat pengertian, mereka tidak mau membuat Sakura merasa tidak nyaman berada di kumpulan orang-orang macam mereka. Meski mereka tahu asal usul keluarga Sakura itu bagaimana, tapi karena mereka adalah teman –sahabat Sasuke, maka sudah seharusnya mereka memperlakukan dan menerima baik sosok Sakura.
"Ternyata kalian teman lama?" Tanya Neji.
"Ya begitulah. Dulu waktu masih di Hokaido, Ayah Sakura itu karyawan kepercayaan ayahku. Sakura juga berhasil menolongku dari kejaran anjing galak yang mengejarku saat itu.." Kata Naruto.
"Mengejar anjing galak?" Tanya Sai.
"Iya, waktu itu Naruto-kun berlari dikejar anjing galak sambil menangis ke arahku. Aku sedang pulang membeli beberapa cup ramen. Aku mengambil kayu yang ada di dekatku untuk mengusir anjing galak itu. Beruntung anjing itu langsung pergi, tapi Naruto-kun tak henti-hentinya menangis, aku kasih dia ramen yang aku bawa…" Sambung Sakura.
"Aku menerima ramen cup dari Sakura-chan, lalu di rumah aku memakannya dan itu enak sekali.. Mulai saat itu aku menjadi maniak ramen. Aku juga berteman baik dengan Sakura-chan. Hingga pada akhirnya, aku mendengar jika ayah Sakura-chan mengundurkan diri dari perusahaan ayah dan sejak itu, aku tak lagi bisa menemui Sakura-chan.."
Naruto tidak tahu jika tak lama setelah itu, ayah Sakura meninggal dunia.
"Gomen Naruto-kun, banyak hal yang terjadi pada keluarga kami.."
"Sakura-chan, aku senang akhirnya Naruto-kun berhasil menemukanmu kembali. Kau tahu, Naruto-kun selalu menceritakan tentang teman masa kecilnya kepadaku.. Aku kira ia hanya menghayal, tapi ternyata Naruto-kun memang benar. Nyatanya, saat ini, di hadapanku, sosok teman masa kecil Naruto-kun sedang tersenyum manis.. Tapi aku sedikit kecewa juga.." Kata Hinata.
"Hee? Kenapa, apa aku menyakitimu, Hinata-san?" Tanya Sakura. Yang lain juga lumayan penasaran.
"Kita ini pernah berkenalan, kita pernah masuk di kelas yang sama, di SMP Konoha, ya walau hanya sebentar karena aku harus pindah sekolah.." Jawab Hinata.
Ya ampun, ternyata tingat kebodohanku separah ini. Kenapaaku susah sekali mengingat masa laluku sih? Ayolah, jangan buat dirimu itu terkesan jahat…" Batin Sakura. Sepertinya ia memang harus berusaha lebih keras. Beban nama Uchiha rupanya sangat berat untuk ia tanggung. "Hee… Kau Hyuga yang itu, yang dulu rambutnya pendek?"
"Hm, tentu saja! Siapa lagi Sakura-chan…"
"Gomeenn, aku terlambat menyadarinya.. Maaf, habisnya kau terlihat jauh berbeda.."
"Manusia kan memang bisa berubah.. Contohnya Sakura-chan yang dulu cantik sekarang semakin cantik. Hei Sasuke, apa kau tahu?" Tanya Hinata.
"Apa?" Jawab ketus Sasuke. Ia rada kesal karena Sakura terlihat mengabaikannya karena sibuk membalas pertanyaan teman-temannya.
"Sakura-chan dulu jadi incaran anak seSMP loh, terutama senior-senior kelas 3…"
"Moo, itu hanya gosip, Hinata-chan.." Sanggah Sakura. Sasuke hanya diam saja.
"Sakura-chan kan memang cantik, wajar saja jadi incaran.." Sela Naruto yang diamini Sai dan Neji.
"Intinya, dunia memang sempit ya.. Kita dipertemukan di rumah ini.. Sasuke-kun, arigato, kau membuat kami semua bertemu teman masa kecil kami…" Kata Hinata.
"Benar itu.."
Sasuke hanya mengangguk saja. "Padahal aku tak melakukan apa-apa. Itu ulah kakek." Batin Sasuke.
Sudahlah.
"Oh iya, Sakura, Sasuke, maaf ya waktu kalian menikah aku tidak bisa datang, ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa aku tinggalkan. Tapi, Naruto-kun melakukan video call denganku, aku jadi bisa melihat acara pernikahan kalian yang sangat meriah itu. Kalian benar-benar terlihat seperti pasangan pangeran dan tuan putri dari negeri dongeng." Kata Hinata.
"Ah tidak apa-apa, Hinata-san…"
Hinata tersenyum senang. Lalu ia mengambil sebuah kotak cukup besar dari tas yang ia bawa. "Ini, hadiah untuk pernikahanmu, Sakura-chan…" Kata Hinata.
Sakura menerima hadiah itu. "A-arigato gozaimasu.. Aku senang.."
Oh ya, Sakura ingat jika ia juga menerima kado dari sahabat tersayangnya, Karin. Kado itu belum ia buka sampai sekarang. Sepertinya ia jadi penasaran dengan isi kotak bercover cantik dengan hiasan pitah warna warni itu.
.
.
SAKURA'S POV
Makan malam baru saja usai. Sudah pukul tujuh lewat lima belas menit rupanya. Hari ini cukup melelahkan. Kakiku bahkan masih terasa sakit. Bengkak saat memakai high heals saat menikah saja masih terasa. Belum sembuh tapi sudah harus belajar dansa tadi siang.
Sasuke, apa dia itu tidak memiliki rasa lelah sama sekali?
Menjadi orang kaya dengan banyak pelayan yang melayani memang rasanya apa-apa terlihat mudah. Tinggal suruh, ada saja yang akan melakukan perintah itu. Lain dengan diriku yang aslinya bukan dari kalangan berada. Aku terbiasa melakukan semua hal dengan sendirian, lalu aku dinikahi oleh orang kaya, tiba-tiba apa-apa ada yang membantu, rasanya tenangaku sama sekali tidak berguna.
Aku ingin memasak, para pelayan menyuruhku bersantai karena mereka akan memasak apapun yang aku inginkan. Aku ingin membantu membereskan meja makan, mereka juga tidak memperbolehkanku..
Haah, tidakkah aku merasa jika aku menjadi orang yang pemalas?
Aku akui aku memang lelah, tapi cadangan tenagaku masih banyak.. Aku memang layaknya tuan putri yang tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik?
Ah, istri ya?
Agak malu juga dengan statusku saat ini. Sungguh, aku benar-benar merasa sangat malu. Aku ini sudah menikah ya?
Iya, sudah..
Apa sih yang sebaiknya dilakukan oleh seorang istri jika semua pekerjaan rumah sudah ada yang menghandle?
Melayani suami dengan baik?
Ah, aku tidak bisa menjaminnya. Lagian, aku dan Sasuke itu cocok apanya coba? Yang ada kami itu selalu berdebat hal-hal kecil yang dibesar-besarkan.
Sebentar, aku agak bingung dengan kata melayani itu.. Kenapa ibu tidak menjelaskannya lebih jauh sih? Maksudnya melayani itu mengambilkan barang-berang yang suami minta? Menuruti perkataan suami? Atau me-melayani di-di a-atas ran-jang?
WUAAA, TIDAK-TIDAK…
Mikir apa kau ini, Sakura, sadarlah!
Itu wajar karena aku maupun Sasuke itu sudah dewasa, apalagi kami juga sudah menikah.. Tapi itu tidak akan terjadi, bukankah melakukan 'itu' sebaiknya dilandasi atas dasar cinta?
Haah, aku tidak tahu..
Kenapa aku jadi berpikiran aneh seperti ini..
Huushh huuushh, ayo singkirkan pikiran-pikiran seperti itu!
Jika ada yang mengetahuinya, aku pasti akan malu sekali…
Jika Sasuke mengetahuinya, aku pasti akan ditindasnya habis-habisan!
Sudah, lebih baik aku membuka kado-kado ini saja, mumpung Sasuke sedang tidak ada di kamar.. hehe
END OF SAKURA'S POV
.
Sakura melepas pita yang menghiasi kotak kado itu. Ia juga melepaskan kertas pembungkus kotak kado itu. Mengamatinya perlahan. Dengan semangat penuh penasaran, Sakura membuka isi kado itu. Ia terdiam. Tanda tanya besar muncul di benaknya.
"Nani sore wa? Kain?" Gumam Sakura. Ia lantas mengambil dan mengangkat segundukan kain yang ada di dalam kotak kado itu.
Sakura melebarkan segundukkan kain itu untuk memastikan apa sebenarnya kain itu. Matanya langsung melotot selebar-lebarnya, mulutnya menganga, aura di belakangnya serasa hitam kelabu..
"Lingeri?" Kata Sakura saat mendapati kain yang ada di dalam kado itu rupanya sebuah lingeri/ pakaian tidur yang sangat tipis dan transparan. Sudah begitu warnanya hitam dan terlihat sangat seksi. "KAARRRIIINNN.. Apa-apaan bocah itu? Dia pikir aku ini apa? Kenapa memberiku hadiah yang seperti ini?"
Sakura kembali memperhatikan lingeri itu. "Jika aku memakainya, apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi jika Sasuke melihat pakaian seperti ini? Aku harus menyembunyikannya! Aku tidak mau ia mengira aku ini wanita murahan! Jangan sampai ternoda harga diriku apalagi di depannya!" Sakura mengeratkan gengganggaman tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memantapkan pikirannya! Semangat pantang menyerah demi harga dirinya!
"Kau sedang apa, Sakura?" Tanya Sasuke yang tanpa Sakura sadari sudah berdiri bersandar di daun pintu kamar mereka.
Sakura terlonjak kaget dan langsung menyembunyikan lingeri yang ada di tangannya. Ia menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Ah-ahaha, Sa-Sasuke, kau sudah berapa lama di situ?"
"Dari kau menggeleng-gelengkan kepalamu seperti orang aneh?"
"A-aaa, souka.. Aku tidak aneh, Sasuke! Aku hanya meregangkankan otot leherku yang se-sedikit pegal saja…"
"Cara berbohongmu buruk sekali.. Apa yang kau sembunyikan itu, Sakura?" Sasuke berjalan mendekat.
Sakura gelagapan. Mungkin ia meemang menyembunyikan dari Sasuke. Tapi barang yang ia sembunyikan bukan suatu barang yang kiranya wajar? Ah, entahlah Sakura hanya tidak ingin saja jika barang itu diketahui oleh Sasuke. Malu adalah alasan pastinya.
"A-aku ti-tidak menyembunyikan sesuatu apapun darimu, Sasuke…"
"Perlihatkan apa yang kau sembunyikan itu, Sakura!"
"Tidak ada, Sasuke.."
"Kalau begitu tunjukkan ke dua tanganmu! Biarkan aku melihatnya, Sakura!"
Haruskah Sakura menyerah? "Ettoo.. Gomen, aku tidak bisa, Sasuke.." Sakura menundukkan kepalannya karena merasa malu. Pipinya terasa memanas.
"Hmm, jadi kau tidak menuruti kata-kata su-a-mi-mu ya?" Sasuke kembali berjalan lebih mendekat.
"Jika kau melihatnya kau pasti akan syok!"
"Aku tidak mudah syok, Sakura! Cepat perlihatkan itu!"
Sakura bersikeras tidak mau. Ia terus saja menggelengkan kepalanya. Sasuke terlihat kesal karena ia tidak mau siapapun mengalahkannya, termasuk Sakura-istrinya sendiri.
Sasuke berjalan semakin mendekat, Sakura mundur cepat hingga akhirnya langkahnya tertahan oleh ranjang king size miliknya dan Sasuke.
"Ini, bu-bukan suatu hal yang pantas untuk kau lihat, Sasuke.."
"Aku tidak suka kau menyembunyikan apapun dariku, Sakura! Cepat berikan!"
"Sasuke, kumohon menyerahlah untuk mengetahuinya.."
"Aku tidak mengenal kata menyerah.."
Sasuke terus berjalan mendekat. Sakura yang tertahan sisi ranjang akhirnya terjatuh di ranjang. Ia masih berusaha menyembunyikan lingeri itu di balik tubuhnya.
Melihat keadaan Sakura yang terpojok, Sasuke lantas menindih tubuh Sakura yang sedang terjatuh di atas ranjang dengan tangan masih di belakang tubuh untuk menyembunyikan lingeri. Tubuhnya tidak menempel dengan tubuh Sakura karena ia masih menopang tubuhnya dengan ke dua lututnya.
"Jika kau tiduran dengan ke dua tangan di belakang tubuh seperti itu, kau akan membuat ke dua tanganmu terkilir, Sakura!" Sasuke menatap Sakura yang ada di bawahnya.
Sakura lantas mengangkat tangan kirinya untuk menahan beban tubuh Sasuke yang ia rasa semakin memangkas jarak darinya, sementara tangan kanannya masih setia menyembunyikan lingeri tipis itu dari belakang tubuhnya.
Sakura memejamkan matanya tatkala Sasuke mencoba meraih lingeri yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ia tak bisa banyak bergerak karena Sasuke mengunci tubuh rampingnya.
"Sasuke, menyingkirlah dari atas tubuhku! Beraaatt!"
"Berikan dulu, Sakura!"
"Kumohon.."
Mereka saling merebut dan saling mempertahankan. Tak ada yang menggalah di antara ke duanya. Sasuke terus memaksa Sakura dan Sakura tidak mau menunjukkannya.
Sakura berusaha menyingkirkan tubuh Sasuke dari atas tubuhnya. Ia tak bisa berbuat banyak karena tangan kirinya lantas dihempas dengan mudahnya dan ditahan oleh tangan kiri Sasuke. Sakura hanya mampu berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan apa yang ia sembunyikan di balik tubuhnya meski ia hanya bisa menggunakan tangan kanannya saja karena tangan kirinya sudah dicengkram erat oleh tangan kiri Sasuke.
Ego untuk tetap kekeuh dengan pendirian masing-masing membuat mereka berdua berusaha sekuat tenanga untuk saling merebut dan saling mempertahankan. Bahkan karena saking lamanya tak ada yang mau mengalah membuat mereka berdua kelelahan. Keringat mulai keluar dari dalam tubuh mereka.
Tangan kanan Sasuke berusaha mencari apa yang Sakura sembunyikan di balik tubuhnya itu. Sasuke akui tenaga Sakura itu luar biasa meski Sakura hanya menggunakan tangan kanannya saja untuk menyembunyikan barang yang membuatnya penasaran. Efek kerja partime di kafe? Bisa saja, Sakura lawan yang tangguh juga.
hah, hah, hah,
Nafas kelelahan keduanya saling memburu. Mereka berdua sadar, mereka berdua juga sudah lelah. Tapi siapa yang mengalah duluan, maka dia yang kalah, dan sombongnya mereka, mereka tidak mau melakukannya.
Ketika Sasuke lengah, Sakura langsung bergerak cepat mencoba menyingkirkan Sasuke dari atas tubuhnya. Tapi karena tubuh Sasuke lebih besar darinya, apa daya, gerakkannya tak mampu membuat Sasuke menyingkir dari atas tubuhnya.
"Sasuke, menyingkirlah… ber..huuupp…"
Sakura justru membuat keseimbangan Sasuke goyah dan karena itu Sasuke yang tak dapat mempertahankan ke dua lututnya membuat dirinya jatuh dan menimpa tubuh Sakura.
Sakura bisa merasakan bagaimana tubuh Sasuke menindihnya tanpa sekat, hanya baju tidur saja yang memisahkan.
Tunggu sebentar..
Tak hanya itu saja..
Sakura merasakan hal lain menimpanya..
Ini terasa lembut, sedikit basah, dan kenyal?
"Tadi, sebelum ini… Aku benar-benar kesal dengan sikap Sasuke yang tak mau mengalah denganku itu. Kenapa dia tidak mau mengerti sih? Lingeri itu bukan hal yang pantas untuk dia lihat! Aku harus mempertahankannya! Aku tak akan membiarkan Sasuke melihatnya!... Aku mengerahkan semua tenagaku untuk mengalahkannya, pada akhirnya aku hanya membuatnya tumbang dan justru menimpa tubuhku. Aku memejamkan ke dua mataku karena takut jika Sasuke akan jatuh menimpa kepalaku. Aku yakin itu pasti akan menyakitkan… Berat sekali tubuhnya itu!.. Tapi ini aneh, aku tahu tubuh Sasuke memang menindihku karena ulahku barusan, tapi apa ini? Ada sesuatu yang aneh menempel di bibirku? Aku tak berani membuka ke dua mataku, tapi aku masih penasaran dengan sesuatu yang aneh ini di bibirku. Sesuatu itu terasa lembut, agak basah, dan kenyal? Hah, apa ini? Aku bahkan bisa merasakan hembusan udara hangat di wajahku? Imajinasiku semakin membingungkan saja… Daripada aku penasaran dibuatnya, lebih baik aku membuka ke dua mataku saja. Aku harus memastikannya.." Batin Sakura.
Sakura membuka ke dua matanya, hal pertama yang ia lihat di depan matanya adalah dua pelupuk mata yang terpejam begitu dekat dengan wajahnya. Rambut hitam emo sebagian menggelitik pipi mulusnya. Rambut hitam emo itu terlihat mencuat ke belakang.
Hitam emo? Mencuat?
Entah apa, tiba-tiba jatungnya Sakura berdetak tak beraturan. Dag dig dug dag dig dug, semakin ia terdiam, semakin cepat jantungya berdetak, ditambah ia yang kelelahan membuatnya semakin sulit untuk bernafas.
Mata Sakura semakin melebar saat melihat ke dua pelupuk mata itu membuka. Waktu terasa berhenti sejenak. Membiarkan dua insan manusia itu menikmatinya. Menikmati hasrat yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Semakin lama rasanya semakin menggoda dan menggila..?
Bibir mereka saling bersentuhan..
Bersentuhan?
Apa artinya?
MEREKA BERDUA BERCIUMAN, BODOH!
BERCIUMAN!
Tapi..
Tidak sengaja..
"Sakura sialan, tenaganya tidak main-main untuk ukuran seorang cewek. Kenapa dia kolot sekali sih? Tinggal tujukkan saja apa yang ia sembunyikan, apa susahnya?.. Siaall.. Dia berhasil menjatuhkanku.. Aku membuka mataku.. Aku melihat wajah Sakura di hadapanku. Wajahnya terlihat memerah.. Ada apa dengannya? Demam?.. Wajah Sakura terlihat sangat err cantik jika dilihat dari sedekat ini.. Matanya juga indah.. Hidungnya.. Bibirnya terlihat… Maniss… Bibir? Manis? Ah Sakura berada di depanku rupanya.. Matte kudasai, Sakura?... Sakura? Di depanku? Bibir? Manis?.. Hoi hoi, apa yang baru saja terjadi?.. Aku terjatuh ke hadapan Sakura dan ak-u… men-menciumnya…" Batin Sasuke yang entah malah mikir kemana-mana.
1 detik
2 detik
3 detik
"…."
"…"
"Sasuke, ka?"
"Sakura, ka?"
"…"
"SASUKE?"
"SAKURA?"
"…"
"HUUUAAAAAA…."
Sakura maupun Sasuke langsung memalingkan wajah mereka untuk menghindari tatapan keduanya. Ini memalukan sekali. Wajah rasanya terasa semakin panas saja. Sakura yakin 100% jika wajahnya pasti akan semerah tomat, buah kesukaan Sasuke. Sementara Sasuke hanya terlihat semburat tipis di pipi putih pucatnya. Sasuke juga tak kalah malunya dengan Sakura. Bagaimanapun bagi mereka berdua ciuman itu sangat cepat dan tanpa diduga. Apalagi itu adalah ciuman sacral karena bagi Sakura maupun Sasuke, ciuman mereka saat itu adalah ciuman yang pertama kali mereka lakukan.
Pertama kali!
First kiss!
"Wow, pasangan pengantin baru yang sedang membara… Jika kalian berdua ingin melakukan 'itu', setidaknya tutuplah pintu kamar kalian!" Goda Mikoto, ibu Sasuke yang sudah berdiri di depan pintu kamar Sasuke dan Sakura.
Sakura maupun Sasuke sangat kaget dengan suara yang 'mengganggu' acara mereka. Sasuke langsung menoleh ke sumber suara. Ia kaget bukan main. Ibunya itu kira-kira sudah berapa lama ya berdiri di pintu kamarnya dan Sakura?
Sasuke tahu jika apa yang ia lakukan dengan Sakura bukan hal 'aneh' dalam konteks ibunya. Ia hanya sedang saling berebut sesuatu yang Sakura sembunyikan darinya. Bukankah itu bukan hal yang aneh?
Namun karena melihat ekspresi ibunya yang seperti itu, pasti ada hal yang aneh..
Bagaimana tidak aneh?
Bayangkan saja, Ibunya Sasuke melihat kedua anaknya sedang dalam masa indah-indahnya sebagai pasangan pengantin baru. Di depan mata Ibu Sasuke, ia melihat jika anak semata wayangnya sedang mendominasi menantunya, Sakura. Lihat saja posisi itu, Sasuke di atas dan Sakura di bawah.. WOW, bukankah itu posisi yang menggoda?
Bukan salah ibu Sasuke jika ia memiliki pemikiran seperti itu…
"I-ibu?" Kata Sasuke terbata.
Sakura bangkit dari tidurannya, tapi masih di bawah Sasuke. Ia lantas melihat ibu mertuanya sedang senyum-senyum menggoda di depan pintu. "I-ibu mertua…"
"Haha, kalian ini tidak sabaran sekali padahal baru setengah delapan loh.. Nah Sasuke, maaf ya sepertinya kau harus cepat 'menyelesaikannya', jika sudah selesai, cepatlah temui kakekmu di ruang keluarga! Dia tidak suka menunggu loh… Sakura, sepertinya kau harus bersabar malam ini.." Kata Ibu Sasuke. Ia membalikan badannya dan tersenyum senang. Ia kembali menoleh dan melihat ke arah Sakura dan Sasuke yang sedang menatapnya bingung. "Ibu benar-benar ingin segera menambah anggota keluarga baru di rumah ini… Sakura, ganbatte!" Lanjutnya lalu bergegas pergi dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Sakura dan Sasuke saling menoleh satu sama lain.
"Anggota keluarga baru?" Kata mereka bersamaan.
Anggota baru dalam keluarga dari dirinya dan Sasuke maksudnya anak?
ANAK?
"Anak maksud ibu mertua? HOIIII, mana mungkin! Aku tidak akan membiarkan Sasuke menyentuhku! Tidak akan!... Aku tidak mau mengalami masa-masa seperti orang busung lapar! Tidak mau!... Tunggu, tapi, bukankah itu bagian dari tugasku?... Setelah aku memutuskan untuk menikah dengan Uchiha Sasuke, aku harus sudah siap dengan hal seperti ini… Aku melihat ke arah Sasuke yang ada di depanku, aku memperhatikannya dari ujung rambut, wajah, tubuh, tangan, kaki, ia masih duduk di pangkuanku.. Lalu aku melihat ke perut rataku.. Jika itu terjadi, maka aka nada kehidupan di perutku. Nanti perutku juga akan membesar karena ulah Sasuke… Hiiiiiii… Tidak-tidak!" Batin Sakura sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia sering melamun dan di akhiri dengan gelengan kepala. Kebiasaannya akhir-akhir ini semakin terlihat saja.
Sasuke hanya mengamati tingkah Sakura yang memang sudah ia sadari jika istrinya itu memang 'aneh'. Sering melamun, seolah memikirkan sesuatu, lalu menggelengkan kepala seperti orang bodoh.
"Jangan berimajinasi yang bukan-bukan hanya karena kata-kata dari Ibu, Sakura!" Kata Sasuke.
Rasanya Sasuke mengganggu angan-angannya. "TIDAK AKAN!... SASUKE NO BAKA, MENYINGKIRLAH, BERAAAAT!" Sakura mendorong kasar tubuh Sasuke yang ada di depannya.
Sasuke terjatuh ke lantai kamar mereka. Ia terlihat sedang kesakitan.
"Issh, kau fikir perlakuanmu itu pantas kau lakukan, Sakura?" Kata Sasuke.
"Maaf, habisnya kau tidak menyingkir dari tubuhku, kau kan berat…"
Sasuke bangkit dari jatuhnya. Pantatnya sakit sekali. Tapi tak apa, toh ia menang. Ia berhasil mengambil apa yang Sakura sembunyikan darinya.
Sakura baru sadar jika ia kehilangan lingeri dari tangan kanannya. Ia langsung melihat ke arah Sasuke yang terlihat tengah tersenyum penuh kemenangan.
Ah, berakhir sudah…
Sakura menundukkan kepalannya..
Sasuke lalu mengamati sesuatu yang sedari tadi membuatnya penasaran. Butuh perjuangan berat untuk mengambilnya dari Sakura… Menurutnya, yang ada di tangannya saat ini seperti kain, ada rendanya. Apa ini? Ia yang memang sudah penasaran langsung melebarkan kain itu dan… ya, ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Sakura saat pertama kali melihat kain itu ia tunjukkan.
"Ko-kore wa…" Sasuke mengamati lingeri itu dan melihat ke arah Sakura. Lingeri-Sakura, Sakura-lingeri..
"Su-sudah kubilang itu bukan sesuatu hal yang pantas Sasuke lihat, kan?" Sakura bangkit dari ranjangnya dan menyambar lingeri itu dari tangan Sasuke.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Haruskah aku bilang, 'ini pakaian dalam', Sasuke tidak boleh melihatnya?'… Mengertilah Sasuke, itu memalukan.."
"Hah, membuang tenangaku saja! Sudahlah, aku akan menemui kakek. Kau tidurlah!"
"Hm.. Ne, Sasuke…"
"Hn?"
"Maaf aku sudah mendorongmu tadi.."
"Tak apa.."
Sasuke berjalan keluar dari kamarnya dengan Sakura. Ia menutup pelan pintu kamar mereka. Hari ini ia akui ia membuat banyak hal yang merepotkan. Berdansa dengan Sakura, kakinya lumayan sakit karena beberapa kali terinjak heals Sakura. Untung ia memakai sepatu, bagaimana kalau tidak? Bertemu dengan sahabat lamanya, ia malah sering dicuekin oleh Sakura yang terlihat asyik sendiri. Giliran ia bisa bersama Sakura, rencana bercandanya dengan Sakura justru berakhir dengan pantat yang sakit. Sudah begitu, Ibunya malah semakin kepo saja semenjak kedatangan Sakura di mansion Uchiha.
"Apa yang Sasuke fikirkan setelah ini? Huwaaa, ini memalukan sekali…" Batin Sakura sambil memegangi bibirnya. Di sana, di bibir tipisnya, ada bekas bibir Sasuke. Ciuman tak sengaja dari suaminya. Ia hanya bisa memandangi pintu kamar yang baru saja tertutup rapat itu…
Semenjak ada Sakura di mansion ini, di hidupnya pula, Sasuke mulai mengalami banyak hal. Salah satunya, rasanya semua yang awalnya terlihat mudah untuk seorang Sasuke, tiba-tiba terasa sulit dan kemudahan itu rasanya semakin menjauhinya. Ya memang menarik sih karena semua menjadi sulit untuk diprediksi..
Tetap saja, Sakura banyak mengobrak-abrik hidupnya..
Ia menjadi sok peduli, ia menadi memiliki tanggungan, ia ingin mengerjai Sakura, ia ingin membantu Sakura menjadi sosok Uchiha yang layak, ia ingin ini.. ingin itu..
"Sakura…" Batin Sasuke sesaat setelah menutup pintu kamar mereka. Sasuke mengigit bibir bawahnya, berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi anatara dirinya dengan Sakura.
Sasuke kembali teringat insiden yang baru saja ia alami dengan Sakura. Berebut sesuatu yang membuatnya penasaran, mencium Sakura mesti tidak sengaja, dan ternyata, apa yang ia perebutkan dengan Sakura itu hanyalah sebuah lingeri! Lingeri tipis, sangat transparan, dan terlihat seksi…
Otak Sasuke mulai mengumpulkan pertanyaan. Pertanyaan yang membuatnya jauh lebih penasaran dari pada mengetahui apa yang Sakura sembunyikan darinya..
"Kira-kira, jika Sakura memakainya akan seperti apa ya?... Hoi, hoi, luruskan pikiranmu, Sasuke! Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Mendokusai!"
Sasuke membuang jauh pemikiran anehnya itu. Saat ini yang jauh lebih penting adalah permainannya dengan sang kakek. Ia harus focus jika ia ingin cepat bernafas lega dengan kemenangan di genggamannya. Ia harus menang melawan kakeknya! Ia sudah menerima kekalahan awal dengan menikahi Sakura atas kehendak sang kakek, maka ia juga akan menuntut bayar dari apa yang sudah ia turuti dari kakeknya itu.
Itu adalah langkah awal untuk membuat sang kakek kalah!
…
Ruang keluarga…
Kakek Madara terlihat sedang menikmati secangkir kopinya. Ia tersenyum tipis saat merasakan manis dan pahitnya kopi berpadu sempurna di lidah tuannya. Mata senjanya sibuk mengamati beberapa berkas yang ia bawa pulang dari kantor. Mengamati, membaca, melihat, memperhatikan dengan seksama, dan mempelajari baik-baik apa yang seharusnya menjadi solusi setelahnya. Kakek Madara tidak pernah bosan melakukan hal itu.
"Bukankah kakek selalu bilang jika rumah ini hanya untuk keluarga, bukan untuk bekerja layaknya di kantor?" Kata Sasuke yang langsung duduk berhadapan dengan sang kakek.
Kakek Madara meletakkan berkas-berkas kerjaannya. "Hmm, Sasuke ka? Urusan dengan istrimu sudah selesai ya? Ibumu terlihat senang sekali tadi.."
"Sudah.. Lagi pula itu hanya sebuah kesalah pahaman ibu saja.. Aku tidak melakukan apa-apa dengannya.."
"Hm, souka?.. Tapi, jika kau ingin melakukan dengannya rasanya itu wajar. Bukankah kau sudah menikahinya? Kau memiliki hak itu, Sasuke…"
Kakek Madara justru menjadi tertarik membahas hal seperti ini dengan cucu kesayangannya. Ia tahu betul bagaimana karakter Sasuke yang sedari kecil ia besarkan. Sasuke itu sangat kaku mengenai hal-hal seperti ini. Sedari lahir tanpa ayah, membuat Sasuke kehilangan figure sosok seorang ayah. Ia memang kakek kandung Sasuke, tapi ia memiliki banyak tanggungan pekerjaan yang harus ia lakukan. Ia sangat menyayangi Sasuke lebih dari apapun. Namun ia tak bisa menyediakan waktu lebih untuk Sasuke setiap saat. Ia menyayangi Sasuke bukan berarti ia harus menmanjakan cucunya itu. Ia justru harus mengajari cucunya bagaimana memiliki keinginan dan cara untuk mendapatkan. Dalam hidup itu harus bertarung untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Sasuke memang memiliki segala kekayaannya, tapi ia tidak akan membuat Sasuke terlena dengan kemudahan untuk menggantikannya suatu saat nanti. Hidup itu sulit dan ia sadar betul untuk membuat Sasuke lebih kuat dan kuat lagi..
"Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu.."
"Tidak apa belum, Sasuke?.. Kau akan semakin dewasa dan kau akan segera menyadari jika suatu saat kau membutuhkan hal seperti itu.."
"…"
"Kalau laki-laki normal pasti akan melakukannya.."
"Aku normal, Kek.."
"Ah so.. Jika seperti itu rasanya Kakek tak perlu menghawatirkanmu.."
"…"
"Nah Sasuke, kau memutuskan untuk menikahinya, buatlah dia bahagia di duniamu! Tunjukkanlah martabat seorang Uchiha. Jangan seperti ayahmu! Kakek tidak ingin gagal mendidik lagi.."
"Aku akan melakukannya asal permintaanku Kakek penuhi.."
"Masih terlalu awal kita memulai permainan ini, Sasuke…"
"Permain sudah dimulai semenjak aku memutuskan akan menikahinya, Kek.."
"Kau ini tidak sabaran ya.. Terlalu ambisius juga untuk hal-hal seperti ini.."
"Aku hanya meniru karakter darimu, Kek.."
"Benar juga, kau memang cucuku!.. Santailah sebentar, Sasuke! Nikmati dulu pernikahanmu dengan Sakura! Kakek tak hanya meminta kau menikahinya, tapi juga membahagiakannya dengan segala upayamu!"
"…"
"Jangan kira hanya dengan kau sudah menikahinya lalu Kakek menuruti permintaanmu, permainan kita selesai begitu saja! Permainan kita akan panjang, Sasuke.. Kita bahkan belum memasukkan 'orang lain' yang menjadi tambahan pemain utama…"
"Dia bukan orang lain, Kek!"
"Terserah kau saja. Tapi perlu kau ingat, jangan pernah coba-coba ikut permainan tanpa memikirkan resiko terburuknya! Ketahuilah, tak selamanya pengorbanan besar menghasilkan kemenangan yang membahagiakan!"
"Aku sudah memikirkannya!"
"Bocah nakal.."
.Kakek dan cucu itu tersenyum penuh arti…
"Aku tidak akan kalah!"
.
To be continue…
.
.
Yey, udah sampe chp 7, makasih sudah setia ngikutin.. Gomen gak bisa balas review..
Chapter kali ini memang agak panjang 5K+, lebih panjang dari chapter2 sebelumnya… ya semoga saja suka ya.. Aku sadar chapter ini memang lumayan lebay, tapi gimana ya, biar ceritanya tambah panjang aja? Hahah.. dipanjang2in tapi gak asyik ya sama saja bohong… Terserahlah..
Sok jadi romantic, tapi gagal… Gwe banget… XD
Bagaimana jika aku membuat FF rated M? Ada yang setuju? (Tapi aku tidak yakin sama sekali dengan rated M itu! Aku membaca FF rated M, tapi rada menjijikan gmana gitu, aku skip biasanya..) Aku tahu, reaksi orang tentang rated M itu beda-beda… Ada yang suka, ada yang enggak, ada yang biasa saja..
Koment ya jika ingin aku membuat FF rated M! Hhahha..
