Title: Love Trauma
Cast:
Wu Shixun 23 th
Xi Luhan 27 th
Wu Yifan 29 th
Huang Zitao 24 th
Wu Sehan 4 th
Pairing: HunHan and Kristao
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: GS for uke, typo, bahasa tidak baku
Disclimer: semua cast bukan milik saya tapi cerita milik saya
,
.
.
PART 7
Dulu, Sehun merasa takut hanya dengan berfikir apakah dia bisa bertemu Luhan. Bukan apa-apa, hanya saja namja tampan itu takut kecewa jika keinginannya itu tidak mungkin terkabul. Mungkin orang tidak akan percaya jika melihat Luhan yang sekarang pernah mengalami gangguan mental yang cukup parah. Sehun sendiripun, rasanya masih tidak percaya jika Luhan kini berada disisinya.
Akhir-akhir ini semuanya terasa begitu sempurna, hingga kadang Sehun merasa takut jika ini hanya mimpi belaka. Tapi nyatanya Luhan benar-benar ada dan Sehun sunguh-sungguh bersyukur akan hal itu.
Seperti pagi ini, mendapati Luhan terlelap dalam pelukannya membuat namja tampan itu enggan untuk mengalihkan pandangannya. Luhan terlihat begitu damai dan cantik, walaupun ada gurat kelelahan di wajahnya karena kegiatan mereka semalam. Sehun merapikan helaian rambut Luhan yang menutupi sebagian wajahnya. Di usapnya wajah Luhan dengan lembut dan berhenti saat ibu jarinya bertemu dengan sudut bibir milik Luhan.
Lama Sehun memandangi bibir mungil kemerahan itu samapai tanpa sadar dia mendekatkan wajahnya.
"Aku mencintaimu Lu.."bisik Sehun sebelum menyatukan bibir mereka.
.
.
.
"Kris oppa?"ulang Luhan menegaskan pertanyaan Sehun hingga membuat ia menghentikan kegiatannya menyiapkan sarapan.
"Ne, apa hyung mengatakan sesuatu saat kalian bertemu dulu?"jelas Sehun sambil menyesap kopinya.
Luhan mengernyitkan dahinya, dia pun duduk di depan Sehun setelah meletakkan mangkuk terakhir berisi sup miso,"Maksudmu mengatakan apa?"
"Mengajakmu kembali padanya mungkin, semacam itulah.."Sehun berusaha untuk tidak terdengar mengintimidasi.
Luhan diam, bibirnya terkatup rapat dan matanya memandang Sehun khawatir sekaligus takut. Melihat itu Sehun menyimpulkan bahwa tebakannya memang benar.
"Aissshhh si tua bangka itu benar-benar.."gerutu Sehun sambil mengusak rambutnya kesal,"Pantas saja Zitao noona pergi dari rumah.."desah Sehun pada akhirnya, raut wajahnya terlihat sedih dan itu memunculkan rasa penasaran pada Luhan.
"Zitao..noona...siapa?"tanya Luhan takut-takut
Sehun berjengit sedikit,"Apa aku belum mengatakannya padamu? Kau tidak tahu siapa dia?"Sehun justru balik bertanya yang membuat Luhan semakin kebingungan.
Sehun terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas,"Zitao noona itu..istrinya Kris hyung.."
"A-apa istri?"ulang Luhan tak percaya
"Hmmm mereka memikah tiga tahun yang lalu.."
"T-tapi kenapa Kris oppa-"
"Hyung tidak mencintainya Lu, dan kau pasti tahu alasannya.." karena Kris mencintai Luhan, memang ada alasan lain selain itu?
Luhan kehilangan kata,"..katamu tadi dia pergi?"
Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa itu karena..aku?"jujur Luhan merasa tidak enak hati sekarang, dia tidak mau menjadi penyebab rusaknya rumah tangga seseorang.
"Bukan, itu bukan karena dirimu Lu. Jika hanya dengan alasan sepele seperti itu noona sampai pergi, mungkin sudah sejak dulu dia meninggalkan Kris hyung. Tapi sayangnya, alasan sebenarnya dia pergi cukup memilukan,"
"Maksudmu, aku tidak mengerti?"
"Noona keguguran, dan secara tidak langsung Kris hyunglah penyebabnya,"jelas Sehun sambil mengernyit sedih membayangkan nasip kakak iparnya sekarang.
"A-apa? Ya Tuhan kenapa itu bisa terjadi?"
"Kris hyung memaksanya menaiki kuda tanpa tahu jika noona sedang mengandung, dan sayangnya noona terjatuh sehingga keguguran,"
Luhan refleks menutup mulutnya karena teralu shock mwndengar kabar yang baru saja dia dengar.
"Lalu sekarang dia berada dimana?"tanya Luhan
"Tidak ada yang tahu Lu, semua orang sedang mencarinya sekarang.."
XOXO
Wu Yifan atau Kris, pewaris pertama keluarga Wu itu biasanya berpenampilan masculin namun tetap elegan. Pembawaannya mengintimidasi di tambah tatapan matanya yang tajam itu memberi kesan dingin pada karakternya.
Tapi sepertinya semua itu tidak berlaku untuk pagi ini. Penampilan dari direktur utama Wu Corp. itu jauh dari kata sempurna. Tampangnya kusut, rambutnya yang biasa dirata pushed back dibiarkan menjuntai begitu saja. Bahkan kancing jas yang ia kenakan sekarang dibiarkan begitu saja tanpa berniat untuk memasangnya.
Para pegawai yang berpapasan dengannya pun memandangnya heran, bahkan mereka takut untuk sekedar menyapa karena aura dari atasan mereka pagi ini sungguh tidak bersabat. Tapi Kris sendiri tidak perduli, tentu dia sadar sedang menjadi pusat perhatian. Masa bodoh dengan penilaian orang lain, untuk saat ini ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan daripada memusingkan pemikiran orang lain tentang dirinya.
"Selamat pagi sajangnim, anda terlihat dalam keadaan kuran baik pagi ini. Apa ada yang harus saya kerjakan?" Sapa Kim Jongin, sekretaris pribadinya saat Kris ingin masuk ke dalam ruangannya.
Kris memandang sebentar bawahannya itu sebelum akhirnya melambaikan tangan pertanda bahwa ia belum memerlukan bantuan Jongin. Sang sekretarispun hanya membungkuk sekali dan kembali duduk di mejanya bersamaan dengan Kris yang menghilang di balik pintu ruangannya.
Kris berjalan gontai menuju meja kerjanya dan mejatuhkan tubuhnya di kursi, kepalanya begitu pening hingga rasanya mau pecah. Sebelum ada kejelasan dimana sekarang Zitao mungkin hidup Kris tidak akan tenang. Ditengah kegundahan hatinya tiba-tiba saja ponsel Kris berbunyi, menyebabkan si empunya mengernyitkan dahi siapa sepagi ini sudah menghubunginya.
Mungkin dia akan terlonjak antusias jika yang menelphonnya Zitao, tapi sayang yang tertera disana justru nomor telephon kediaman keluarga Wu, dengan malas-malasan Kris mengangkat panggilan itu dan terdengarlah suara kepala pelayan keluarga Wu, Jung Ahjuma.
"Hmm, ada apa ahjuma, ada masalah serius di rumah?"tanya Kris
"Tidak tuan muda, hanya saja nona Sehan tidak mau berangkat sekolah jika tidak ada nyonya Zitao,"terang suara wanita paruh baya itu
Apa?"sentak Kris
"Benar tuan, saya sendiri sampai bingung harus dengan apalagi saya membujuk nona Sehan.."sambung Jung ahjuma
Kris memijit kepalanya yang semakin terssa pening,"Baiklah nanti aku akan mengurusnya, untuk hari ini biarkan saja jika dia tidak ingin pergi ke sekolah,"
"Baik tuan, saya mengerti,"jawab Jung ahjuma dan sambunganpun terputus.
Setelah itu Kris buru-buru menghubungi line yang dikepalai oleh Chanyeol,"Chanyeol, suruh Sehun menemuiku sekarang juga, cepat!" Dan tanpa menungu respon dari Chanyeol, lagi-lagi Kris memutus hubungan lebih dulu
Dia menyandarkan tubuhnya di kursi dengan lelah, satu masalah saja belum selesai da masalah baru muncul. Hal itu membuat Kris benar-benar pusing. Tidak lama setelah itu Kris mendengar suarapintu diketuk.
"Masuk!"jawab Kris dari dalam, dan munculah sosok Sehun dari baliknya.
"Sajangnim memanggil saya?"tanya Sehun
"Hmm, dusuklah dulu.."jawab Kris
Sehun pun hanya menuruti perintah atasan sekaligus kakaknya itu untuk duduk. Melihat Sehun sepertinya sudah siap mendengar apapun yang ing7n dia katakan akhirnya Kris buka suara.
"Untuk sementara aku ingin menitipkan Sehan padamu,"ujar Kris pelan
"Ne?"ulang Sehun mencoba menegaskan jika dia tidak salah dengar.
"Aku bilang aku ingin menitipkan Sehan padamu Wu Shixun, aku tidak suka mengulang kata-kataku!"
Sebenarnya Sehun masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Sehan noleh tinggal bersamanya? Sungguh tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari itu, selain bersama Luhan tentunya,"H-hyung tidak bercanda kan?"
"Jangan senang dulu, ini hanya sementara karena Zitao dan umma tidak ada.."
Sehun kelihatannya tidak suka,"Kenapa bisa begitu, ini tidak adil,"Sadarkah Sehun, jika saat ini ia terdengar merengek, sifat kekanakannya muncul kembali.
"Jangan kekanakan Sehun, aku belum bisa percaya badamu, dan jangan lupa bawa Minah. Kau dan Luhan sama saja, tidak tahu bagaimana cara mengurus anak,"
Sehun hanya mencibir tanpa suara
"Aku tidak akan memaafkanmu jika Sehan sampai kenapa-napa, aku tahu kau dan Luhan orangtuanya tapi jangan lupa bahwa aku dan Zitaolah yang membesarkannya,"disadari atau tidak, suara Kris merendah saat mengatakan itu dan membuat Sehun sedikit tertegun
"Hyung kau tidak apa-apa?" Ada nada khawatir di suara Sehun
Kris menutup wajahnya demgan kedua tangan frustasi,"Aku membunuh anakku sendiri Sehun, manusia macam apa aku ini.."
DEG!
Sehun tersentak mendengar itu, tentu saja Sehun paling tahu bagaimana perasaan Kris saat ini. Rasa sesal tidak mampu mewakili perasaan bersalah saat kau hampir atau sudah menghilangkan nyawa makluk Tuhan yang tidak bersalah.
"Hyung, tenanglah.."
"Zitao..dia..kenpa tidak mengatakannya padaku, apa dia ingin menghukumku?" Suara Kris bergetar, Sehun tahu Kris sedang menagis.
"Hyung, apa kau mencintai noona?"
Kris terdiam, dia tahu rasa itu ada, dia tidak bohong jika dia menginginkan Zitao, tapi egonyalah yang terlalu kuat selama ini.
"Apa menurutmu Zitao akan menerimaku saat aku menemukannya nanti?"tanya Kris sedikit cemas
Sehun tersenyum dalam diam, dia tahu sekarang, kakak laki-lakinya ini kini telah sadar akan prasaanya.
"Noona mencintaimu hyung, itu yang aku tahu selama ini.."jawab Sehun lembut dan mendengar hal itu setidaknya membuat hati Kris sedikit menghangat.
XOXO
Malam itu Luhan sedang menunggu kepulangan Sehun di ruang tengah sampai bell pintu depan berbunyi. Yeoja bermata rusa itu bergegas berdiri karena dia yakin yang datang adalah Sehun. Dengan semangat dia membuka pintu dan mengembangkan senyumnya.
"Sehun kau sddikit terlamba-"Luhan menggantung kata-katanya saat mendati Sehun berdiri disana tapi tidak sendirian, melainkan dengan menggendong seorang gadis cilik.
Melihat ekspresi Luhan, Sehun hanya bisa tersenyum,"Kami pulang umma,,"jawab Sehun dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil
"S-sehun, a-apakah dia.."
"Appa, aunty ini thiapa?"tanya gadis cilik itu pada Sehun, Luhan sudah ingin menangis saat mendengar anak itu memanggil Sehun appa, jadi dugaannya tadi tidak salah bahwa anak itu Sehan, putri mereka.
"Ini umma sayang bukannya aunty,"jawab Sehun lembut
"Umma, Sehan punya umma?"ulang gadis cilik itu dan Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum
"Umma, apa kau tidak ingin memeluk kami?"goda Sehun dengan Suara yang dibuat-buat lagi
Luhan tak kuasa menahan tangisnya lagi, tangisnya pecah saat dia menghambur memeluk Sehun yang menggendong Sehan. Tangis bahagia, perasaannya sungguh bahagia sekaligus lega. Dipeluknya erat dua orang yang begitu ia sayangi itu.
"Umma, jangan menangis,"Sehun masih sempat-sempatnya menggoda Luhan saat ini, bukannya diam Luhan justru semakin kencang menangis. Entahlah, dia hanya ingin menumpahkan segala apa yang dia rasa. Di satu sisi dia bahagia karena telah bertemu Sehan, tapi di satu sisi dia sedih jika mengingat nerapa tahun dia melewatkan pertumbuhan Sehan, Luhan merasa gagal menjadi seorang ibu.
Disela-sela tangisnya Luhan merasakan tangan mungil mengusap-usap wajahnya,'Umma, cangan nangith"ujar Sehan dengan suara cadelnya
Luhan tersenyum dalam tangis dengan tangan gemetaran Luhan menarik Sehan kedalam gendongannya dan menciuminya bertubi-tubi
"Maafkan umma sayang,,,maafkan umma tidak menemuimu saat ini,,"Luhan terus mengucapkan kata maaf seperti kaset rusak, diulang-ulang terus sambil mengecupi Sehan. Air mata itu terus mengalir saat dia merasakan kini giliran Sehun yang memeluknya, mengusap-usap punggungnya memberi ketenangan.
"Mulai sekarang, kita akan membuka lembaran hidup kita yang baru Lu.."bisik Sehun pelan dan Luhan hanya mengangguk dalam pelukannya.
.
.
.
Sehan tertidur lelap diantara Sehun dan Luhan, mereka sedang di kamar Luhan sekarang dan tak henti-hentinya Luhan memandangi putri semata wayangnya itu. Kadang dia mengusap helaian halus rambut Sehan dengan lembut, samapai saat ini dia masih tidak percaya jika akhirnya ia diijinkan untuk menemui Sehan. Sebenarnya sudah sejak satu tahun yang lalu Luhan ingin menemui Sehan, saat pertama kali orang tuanya membrri tahu bahwa ia telah melahirkan seorang anak. Tapi apa daya orang tuanya tidak pernah memperbolehkannya.
Sehun memandangi Luhqn yang masih diselimuti rasa haru, "Kau bahagia?"
Luhan mengangguk, masih membelai kepala Sehan
"Jangan sedih, manusia memang tidak ada yang sempurna. Tidak akan ada yang menyalahkanmu walau kau tidak membesarkan Sehan selama ini, karena mereka tahu bagaimana keadaan kita dulu,"hibur Sehun
"Aku tidak bersedih Sehun, hanya saja aku sedikit menyesal karena melewatkan 4 th masa berharga dalam pertumbuhan Sehan, sebagai seorang ibu tentu aku merasa gagal,"
Sehun terkikik mendengar itu"Aku tidak tahu jika kau begitu inginnya mengurus anak, kalau begitu bagaimana kalau kita membuatkan adik untuk Sehan, jadi kau bisa mengurusnya sejak dia lahir,"
"Sehun aku serius!"protes Luhan kesal, kenapa dia merasa Sehun suka sekali bercanda.
"Loh, apa aku terlihat bercanda, aku juga serius Luhan. Bagaimana menurutmu?"
Luhan terdiam sebentar, dia mengigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu.
"Hei tatap aku Lu,"sentak Sehun sambil menarik wajah Luhan menghadap wajahnya. Walaupun mereka bertiga dalam posisi tidur, tapi kepala Sehan sejajar dengan dada orang tuanya, jadi Sehun dan Luhan masih bisa berhadap-hadapan .
"Aku tidak akan memaksamu, lagipula kita tidak perlu terburu-buru. Kau percaya padaku?"
Luhan memandang Sehun sejenak dan mengangguk pada akhirnya.
Sehun tersenyum melihat anggukan Luhan. Mata bertemu dengan mata, mereka berdua seperti mencari kepercayaan dari diri mereka masing-masing. Lama mereka saling menatap satu sama lain dan seperti memang sudah sewajarnya, wajah keduanya semakin mendekat dengan sendirinya dan berakhir dengan bertemunya bibir mereka dalam sebuah ciuman.
XOXO
Kris baru menyadari jika rumah ini terlalu sepi tanpa keberadaan Zitao dan Sehan. Entah mengapa malam ini pewaris pertama keluarga Wu itu merasa begitu kesepian. Hatinya begitu kosong dan hampa, dengan langkah gontai dia memasuki kamarnya yang selam ini ia tempati bersama Zitao. Walaupun mereka tidak saling mencintai mereka tetap tinggal di kamar yang sama karena mereka hidup bersama orang tua Kris. Akan aneh jadinya jika mereka tidur terpisah. Dan karena hal itulah, jangan salahkan Kris jika dulu dia menyentuh Zitao walaupun dia tidak mencintai yeoja itu.
Kris lelaki normal, dan Zitao itu yeoja yang memiliki tubuh dambaan semua kaum lelaki. Jika sudah begitu Kris juga tidak memungkiri jika ia menginginkan Zitao. Namun Kris melakukan satu kesalahan, dia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri untuk tidak mencium Zitao saat mereka berhubungan, karena ciuman hanya akan memercikkan perasaan asing yang tidak Kris inginkan. Tapi apa mau dikata, Kris yang terkenal dengan pengendalian diri yang kuat itu juga tidak mampu menahan godaan dari bibir kucing milik Zitao. Dan lebih parah lagi, bibir Zitao bagaikan memiliki candu membuat Kris ingin menyentuh lagi dan lagi walau dengan dalih hanya menginginkan tubuhnya. Tanpa Kris sadari perasaan asing itu terus menggerogoti hatinya semakin dalam, walau selama ini egonya selalu lebih unggul. Dia selalu menepis perasaannya yang mulai tumbuh pada Zitao.
Kris sepertinys sedang menghubungi seseorang, tanpa mengucapkan basa-basi Kris langsung mengatakan apa maksudnya sesaat setelah hubungan tersambung,"Bang Yong Guk, cari secepatnya di mana Zitso dan jangan menghubungiku sebelum kau menemukannya, memgerti!"
klik!
Namja tinggi itu langsung memutus sambunganya sebelum orang diseberang sana, tepatnya tangan kanan kepercayaan Kris menanggapi perintahnya. Kris membanting begitu saja tubuhnya di atas ranjang, akhir-akhir ini dia mudah selali merasa lelah. Kris memiringkan tubuhnya kesamping kiri, memandang sendu tempat kosong yang biasa di tempati Zitao. Jika memikirkan bagaimana nasip Zitao saat ini Kris merasa begitu khawatir, bagaimana tidak yeoja itu sama sekali tidak memiliki kolega di korea apalagi sanak sodara.
"Zitao..tolong beri tahu aku, dimana kau berada.."
.
.
.
"Aku terbiasa sendiri sebelum kakek memungutku, ya..aku akan baik-baik saja walaupun tanpa Kris. Kapan semua ini akan berakhir, aku ingin segera kembali ke China."gumam Zitao seorang diri, hari-hari begitu lambat baginya. Yeoja bermata panda itu sudah merasa jenuh tinggal disini. Tapi apa mau dikata, menurut pengacanya belum ada perkembangan mengenai kasusu perceraiannya dengan Kris
XOXO
Luhan tentu merasa terkejut saat mendapati Kris berdiri di depannya. Hari ini untuk pertama kali Luhan mengantar Sehan ke sekolahnya, namun saat mereka berdua ingi pulang, mereka dikejutkan akan kedatangan Kris. Luhan hampir tidak mengenali Kris, karena penampilan Kris saat ini terlihat berdeda, bukan Kris sekali.
"Bisa kita bicara sebentar?"tanya Kris pelan
Luhan terdiam, bagaimana mungkin dia bisa menolak ajakan Kris jika Sehan sudah berlari ke arah pamannya tersebut dan langsung masuk dalam gendongan namja tinggi itu
"Tentu, oppa,"jawab Luhan dengan senyum
.
.
.
Kini mereka berada di cafe terdekat untuk makan siang. Lucunya Sehan berada di pangkuan Kris dan Luhan duduk di sisi yang berlawanan.
"Jadi, sekarang kau sudah bahagia?" Tanya Kris memecah keheningan sambil sesekali membersihkan remah kue di sekitar mulut mungil Sehan
"Kenapa oppa bicara seperti itu, tentu aku bahagia karena sekarang aku sudah berkumpul dengan orang-orang yang aku cintai,"jawab Luhan
Kris terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi
"Oppa, aku sudah mendengar semuanya dari Sehun. Tentang Zitao dan anak yang dikandungnya. Kenapa oppa dulu tidak memberitahuku jika oppa sudah menikah?"
Lagi-lagi Kris hanya terdiam.
"Kau mencintainya?"tanya Luhan namun Kris tetap bungkaam
Luhan mendesah pasrah,"Oppa, walaupun kau bilang tidak aku tidak akan percaya, karena penampilanmu saat ini berkata sebaliknya. "
"Lu, masih pantaskah aku dimaafkan? Dia pergi dariku, pasti dia sungguh membenciku,"jawab Kris pada akhirnya
"Oppa, di dunia tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti punya sisi gelap masing-masing. Dimaafkan atau tidak, itu tergantung pada oppa,"
Kris tersenyum miris,"Lu, sebenarnya niatku menemuimu adalah untuk meluruskan semua masalah di antara kita. Maafkan aku Lu, karena selama ini aku sudah memaksakan kehendakku. Mulai saat ini aku telah merelakanmu bersama Sehun. Berbahagialah Luhan, karena itulah hal yang paling aku inginkan. Semoga kau bahagia, maafkan aku. Jika saja kau tidak mengenalku, menjalin kasih denganku, mungkin kau tidak menderita selama ini-"
"Oppa ini bicara apa? Aku tidak menyesal mengenal oppa, karena melalui oppalah aku bisa bertemu Sehun, orang yang paling aku cintai sekarang. Jika aku ingat lagi, saat kita terakhir bertemu oppa bilang, hanya oppa yang bisa membahagiakan aku, oppa apa aku memebebani pikiranmu?"tanya Luhan,"Mungkin pada awalnya apa yang dirasakan oppa padaku memang cinta, tapi lama kelamaan pasti hanya rasa tanggung jawab. Oppa orang baik, oppa pasti memikirkanku yang tidak kunjung sembuh, dan dengan keadaan Sehun saat itu semakin membuat oppa ingin menolongku, benar kan?"
Kris terdiam, dadanya terasa sesak dan matanya mulai memanas
"Aku paling tahu bagaimana sifat oppa, oppa pasti menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa diriku dan semuanya. Berhentilah menyalahkan diri sendiri oppa, bukan salah oppa jika dulu Sehun terlalu iri padamu dan melampiaskan kemarahannya padaku. Aku justru yang seharusnya meminta maaf, karena aku oppa mengabaikan perasaan oppa sendiri, perasaan pada orang lain yang sekarang begitu berharga bagimu,"
"Luhan, aku tidak bohong jika aku dulu mencintaimu,"
Luhan tersenyum,"Aku tahu tapi sekarang sudah tidak kan?"balas Luhan
Kris bungkam, yang dikatakan Luhan saat ini memang benar adanya.
"Kejar dia oppa, walaupun aku belum bertemu dengannya tapi aku merasa begitu yakin jika Zitao adalah orang yang tepat untuk oppa,"
XOXO
Dua minggu berlalu sejak menghilangnya Zitao, dan selama itu juga keadaan Kris sungguh tidak tertolong. Beruntung sang ibu mengundur jadwal kepulangannya, kalauntidak mungkin Kris sudah habis ditangan ibunya sendiri. Menantunya menghilang dan itu karena ulang anaknya sendiri, sunghuh situasi yang tidak termaafkan.
Baru saja Kris ingin membuka pintu ruanganya tiba-tiba Kim Jongin, sang sekretaris pribadi membuka suara.
"Maaf sajangnim, saya hanya ingin mengingatkan jika sebentar lagi ada persentasi tentang proyek mendatang yang akan dihadiri para pemegang saham."
"Apa?"sentak Kris.
"Ne, apa anda lupa?
belum sempat Kris membalas apa yang Jongin katakan ponselnya lebih dulu berbunyi. Mata tajam Kris membelalak seketika saat dilihatnya nama Bang Yong Guk di layar ponselnya.
"Ada apa sajangnim? Apa ada yang salah?"
Kris mengalihkan pandangannya dari arah ponsel dan menoleh ke arah Jongin seketika,"Aku harus pergi, kau urus semuanya. Jangan sampai ada kesalahan, kalau sampai hal yang tidak diinginkan terjadi kau ku pecat!"
Setelah mengatakan hal itu Kris melesat pergi yang menyisakan Jongin dengan ekspresi bodohnya di tempat.
.
.
.
Zitao hanya duduk santai santai dia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Siapa yang datang? Begitu pikirnya. Ataukah itu pengacaranya, karwna seingatnya hanya pengacaranya lah yang mengetahui alamatnya sekarang. Zitao bergegas berdiri karan siapa tahu sang pengacara membawa berita perkembangan baru mengenai perceraiannya.
CKLEK!
Suara pintu dibuka, namun mata yeoja bermata panda itu justru membelalak karana orang yang sekarang berdiri di balik pintu adalah orang yang paling tidak ia harapkan. Orang itu adalah Wu Yifan.
"ZI-"panggilan Kris tertahan karena Zitao dengan cepat ingin menutup kembali pintunya namun berhasil di tahan oleh Kris
"Zitao tunggu, kita perlu bicara!" Teriak Kris sambil terus menahan agar pintu berbahan papan kayu itu tetap terbuka sedikit.
"Pergi, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi!" Kebalikan dari Kris, Zitao malah berusaha menutup pintu itu.
"Tidak, biarkan aku masuk Zitao, ada yang ini aku katakan,"mohon Kris memelas
"Ku bilang pergi ya pergi Wu Yifan aku tidak ingin mendengar apapun darimu!"keukeh Zitao
"Zitao jangan keras kepala!"
BRAK!
Akhirnya dengan tenaga penuh Kris mendorong pintu itu hingga terbuka sepenuhnya, dia pun masuk ke kamar flat milik Zitao . Mereka berdua kini berdiri berhadapan dengan nafas yang sama-sama memburu karena emosi.
"Keluar!"sentak Zitao dingin,
"Tidak, sebelum kau mau mendengarkanmu,"balas Kris
"Aku sudah tidak ingin mendengar apapun dari mu Wu Yifan, apa kau tidak mengerti? Jadi kumohon keluarlah dari tempat ini!"
"Tidak Zitao, dengarkan aku dulu!"
Zitao murka,"Oh baiklah, jika kau tidak ingin keluar dari sini, biar aku saja yang keluar,"ancam Zitao sambil bergegas ingin pergi
Tapi ternyata Zitao kalah cepat, Kris segera menghampiri pintu dan menutupnya, memutar kunci dan menyabutnya. Setelah itu dia melempar anak kuncinya ke sudut ruangan.
"KRIS!" Zitao tidak terima dengan sikap Kris yang semaunya sendiri, apalagi saat sadar jika kini mereka berdua terkunci di ruangan kecil itu.
"Kita harus bicara Zitao,"kata-kata Kris terdengar final.
Sedangkan Zitao, yeoja itu terlihat sedang menahan amarah yang teramat sangat. Mulunya ia katupkan dan dia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih,"Sudah ku bilang tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Wu Yifan, kau ingin aku pergi dan aku sudah melakukan apa yang kau mau, menghilang dari hidupmu. Jadi kenapa kau sekarang datang kesini dan merusak segalanya, eoh?!"
"Anak itu, kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau mengandungnya?"tanya Kris lirih
Zitao hanya tertawa hambar,"Mengatakannya padamu? Ha ha seperti kau perduli saja, mana kau perduli pada anak yang bukan dari rahim Luhan, eoh?"
"Zitao, dia tetap anakku, aku berhak mengetahui keneradaanya?"
"Bukan, dia anakku sendiri. Dan karena sekarang dia sudah tidak ada, bisa kah kau jangan mengusik hidupku, karena sudah tidak ada yang bisa mengikat kita berdua. Kita bercerai saja, sesuai dengan keinginanmu,"
"Tidak Zitao, tidak.."Kris mulai melangkah mendekat.
"Wae, aku sudah lelah Wu Yifan, kita akhiri semuanya saja disini!"
"Zitao, kenapa kau seperti ini? Bukankah kau mencintaiku?" Kris merasa terluka dengan pandangan benci yang sedari tadi dilayangkan Zitao
"Apa, Cinta? Kau ini bicara apa Wu Yifan , tidak ada kata cinta di antara kita, tolong jangan mengada-ada,"cibir Zitao tak suka
"Bohong, kau mencintaiku Zitao, aku tahu itu!"lagi Kris melangkah mendekati Zitao
"Aku tidak mencitaimu Wu Yifan, tidak akan pernah!" Bantah Zitao lantang, walau kini hatinya menangis. Walau benar dia mencintai Kris, tapi hatinya sudah terlalu letih.
Kris memandang Zitao nanar. Zitao menolaknya, dan itu tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rasa takut akan ditinggalkan kini merayapi Kris.
GREP!
Kris mencengkeram bahu Zitao, yang menyebankan pekikan dari si empunya.
"Zitao kenapa kau jadi seperti ini, kau mencintaiku kan? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?"racau Kris tak karuan, kepalanya terasa pusing. Sebenarnya kondisi tubuh namja itu sudah tidak baik dari kemarin-kemarin.
"Le.. !"ronta Zitao tak terima
"Apa karena anak itu kau menolakku,benarkah karena anak itu kau jadi membenciku?! kalau memang karena anak itu kau jadi seperti ini maka aku akan mengembalikannya padamu!"
BRUK!
Kris mendorong Zitao hingga jatuh ke atas ranjang di belakangnya lalu menindihny. Kris menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar dia bisa melihat wajah Zitao dengan jelas.
"Wu Yifan apa kau gila?! Menyingkir dari ku!"teriak Zitao marah sambil berusaha lepas dari kungkungan Kris namun nihil.
"Diam, dan dengarkan aku!"kini giliran Kris yang berteriak, dan Zitao mengernyit sedikit bergetar,"Kau ingin anakmu kembalikan? Jika denagn mengemabalikan anak itu kau bisa bersikap seperti dulu lagi, maka aku akanmengembalikannya !"
PLAK!
Tepat saat Kris ingin merendahkan wajahnya untuk menciumnya. Zitao menampar pipi sebelah kiri namja berstatus suaminya tersebut,
Kris tersentak, rasa panas kini menjalar di pipinya, ditatapnya tajam Zitao namun terhenti karena yeoja dibawahnya kini sudah berurai air mata.
"Hiks..aku tahu kau memang tidak punya perasaan Wu Yifan, tapi aku tidak menyangka kau sekejam ini, eoh?"
Tatapan mata Kris melembut, dia sungguh merasa bersalah,"Zitao.."
"Mungkin bagimu dia bisa digantikan dengan mudah, tapi bagiku..dia..hiks..dia..."Zitao hampir tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kau, yang tidak pernah merasakan hidup sebatang kara, tidak akan tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, aku tidak tahu siapa orang tuaku, darimana aku berasal hiks..kqu tidak tahu bagaimana perasaanku saat pertama kali aku tahu dia tumbuh di rahimku, aku bahagia..hiks..aku senang karena jika dia lahir nanti, dia akan menjadi keluarga pertamaku yang sedarah, hiks...aku senang, karena dengan begitu aku tidak akan sebatang kara lagi di dunia ini..tapi..hiks..tapi kau.."
"Zitao.."Kris berusaha menghapus air mata istrinya itu namun di tampik oleh Zitao.
"Jangan sentuh aku,!"tolak Zitao,"Kau..hiks..kau membunuhnya Wu Yifan!"
DEG!
Hati Kris serasa hancur mendengar itu. Dia sungguh merasa berdosa sekarang, merasa begitu kotor.
"Hatiku sakit, saat tahu dia sudah tidak ada di rahimku lagi, aku kesepian...hanya dia yang kumiliki di dunia ini tapi kau merenggutnya. Sebegitukah kau membenciku Wu Yifan, sampai kau tega mengambil keluargaku satu-satunya? Apa salahku Wu Yifan, apa?"Zitao semakin tergugu saat dia merasa ada tetes air yang jatuh mengenai wajahnya. Itu air mata Kris
"Zitao cukup, jangan membuatku semakin merasa berdosa,,"isak Kris sambil menggulingkan tubuhnya kesamping dan membawa Zitao ke dalam pelukannya,
"Apa salahku Wu Yifan.."Zitao masih terus meracau, dan Kris sudah tidak tahan lagi.
"Tidak Zitao, aku yang bersalah, aku yang berdosa. Mulai sekarang aku akan membayarnya, semua penderitaanmu, semua air mata yang kau keluarkan, aku akan membayarnya. Hanya satu yang aku minta Zitao, tolong jangan berhenti mencintaiku,,"
Lagi-lagi tangis Zitao pecah, yeoja itu sunghuh merasa lelah, jiwa dan raganya. Dia hanya ingin semua ini cepat berakhir.
"Aku juga akan membayar rasa cintamu. Mulai sekarang ijinkan aku mencintaimu, aku akan memberimu segalanya, hatiku seluruhnya untukmu Zitao, jadi kumohon jangan menolakku,"
.
.
.
Hari itu, untuk pertama kali mereka benar-benar bercinta. Bukan hanya tubuh yang bersatu namun juga hati. Saat itulah Kris baru menyadari, betapa ia begitu menginginkan yeoja yang selama ini ia sia-siakan
TBC
a.n
Yeyyyy Kristao end!#plaks
seharusnya chap ini aku post hari minggu kemaren tapi ternyata ga sempet nulis, ya udahdeh aku usahain hari ini..
