LUKA

(NARUSASU) MENMA

Masashi Kishimoto

Satu lagi cerita bertajuk Naruto dan Sasuke (Menma) hadir diantara intimidasi deadline tugas yang menggunung. Jika suka silakan baca. Judul dan isi tidak saling berkaitan. Penulisan apa adanya. Kesalahan bertebaran dimana-mana. Penggambaran karakter sangat jauh dari aslinya.

-af-

.

.

.

Mata Kotarou berkabut amarah. Sudah satu jam Hokage ada di ruangan Menma. Tawa mereka membekaskan cemburu di hatinya.

Suara langkah berat bisa ia dengar. Akhirnya sang Hokage keluar. Saatnya ia mengibarkan bendera perang. Kotarou takmau mendapat julukan lelaki pengecut hanya karena berani tikung dari belakang. Akan ia hadapi sang pemimpin desa dengan jantan.

"Sepertinya Anda puas bersenang-senang, eh?", katanya saat melihat Hokage melintas di hadapan. Posisi sekarang, Kotarou duduk pada bangku tunggu di depan kamar 208. Naruto sendiri memaku langkah di depan saingan. Mereka tidak saling bersitatap. Tapi ketegangan di sekeliling mereka menguar.

"Apa maksudmu anak muda?". Nada suaranya tenang. Tapi dalam hati Naruto bisa merasa kalau pembicaraan ini akan berakhir dalam sebuah pertandingan.

"Aku tidak peduli apapun yang pernah terjadi di masa lalu kalian. Tapi satu yang pasti, Sasuke-san milikku. Tak'kan kubiarkan Anda merebutnya dariku."

Naruto menarik selarik nafas. Menghembuskannya pelan tanda kalau dia maklum dengan pikiran kekanakkan dari si pemimpin klan. Dia bilang, Sasuke miliknya. Ini tanda perang atau Kotarou sedang berkhayal. Naruto sangat tahu siapa Sasuke Uchiha. Karena itulah dia bilang dengan tegas kalau, "Dengar tuan Shiba, aku tidak peduli Sasuke milikmu atau bukan. Kalau memang benar, aku hanya tinggal merebutnya. Ini akan lebih mudah kalau kautidak mengibarkan bendera perang."

Naruto mengambil langkah. Tepat menuju di mana Shiba Kotarou saat ini berdiri dan menatapnya nyalang. Mereka berhadapan mengirimkan tatap persaingan.

"Tenang saja, aku akan mempercepat surat perjanjian kerja sama itu,", lanjut Naruto ringan. Senyum simpul terlampir di wajah, "dan kautidak akan punya alasan lagi di konoha lebih lama."

"Apa yang kalian lakukan!". Dua orang itu membuang muka. Suara Sasuke memutus segala kilat listrik yang Naruto dan Kotarou pancarkan. "Apa ada masalah?"

"Tidak!", dua lelaki yang besiteru menjawab bersamaan. Menghasilkan kernyit bingung dari si penanya. Takingin Sasuke-san makin curiga Kotarou melanjutkan, "Kami hanya membahas masalah kerja sama."

"Oh...", Sasuke melenggang. Takmau ambil pusing urusan yang bukan bidangnya. Ia masuk kembali setelah memastikan kalau dua orang itu tidak melakukan sesuatu yang memalukan.

Kotarou dan Naruto mengambil udara yang sejak kemunculan Sasuke tertahan. Mereka bersitatap sejenak, kemudian melangkah ke arah berbeda.

.

.

.

Perpustakaan pusat.

Entah mengapa Pakkun bisa terdampar di tempat ini bersama Kakashi. Dirinya tiba-tiba saja dipanggil dengan jurus kuchiyose oleh si copy-nin. Berkutat dengan tumpukan buku mengenai segel dan lain-lain. Apa yang sebenarnya kakashi cari?

"Jadi, bisa kaukatakan sekarang, kenapa kau memanggilku kemari?", Pakkun bertanya bosan. Ini sudah buku kesepuluh yang Kakashi bolak-balik tanpa hasil apa-apa. Hanya keseriusan Kakashi yang jadi jawaban. Pria paruh baya itu masih berkutat dengan berlarik-larik paragraf. "Serius Kakashi, aku bisa mati bosan di sini. Lebih baik aku kembali dan menemani Menma. Daripada terkurung dalam tumpukan buku tua."

"Ck!", Kakashi berdecak. Sejak tadi yang Pakkun lakukan hanya meracau tidak jelas. Apa anjing itu tidak lihat sampul buku yang Kakashi baca? Ini demi menyelesaikan masalah tanda yang ada di bahu Menma. Apakah akan bermasalah atau tidak nantinya. "Berisik! Ini demi Menma juga. aku tidak mungkin melakukan hal sia-sia. Kaudengar sendiri penjelasan Sakura semalam kan. Dia bilang kalau tanda itu bersinar."

"Lalu?"

"Aku tidak bisa mengabaikan ini. Klan Uchiha bukan spesialisasi penyegelan. Dulunya mereka selalu bertempur di baris depan. Jadi, aku masih harus antsipasi tentang segel menma."

"Oh...", Pakkun manggut-manggut mengerti. Benar juga apa yang dikatakan Kakashi. Tapi, tetap saja ada ganjalan di hati. "Dan mengapa harus di perpustakaan Konoha. Bukankah lebih baik jika menyelidikinya di kompleks perumahan Uchiha? Aku yakin jawaban dari pertanyaanmu ada di sana."

Kakashi selesai dengan bukunya. Ini sudah sepuluh buku, tapi taksatu pun petunjuk ia temukan. Ditatapnya Pakkun dengan mata sayunya, Kakashi berucap hati-hati karena tempat ini mungkin punya telinga. "Dengar! Hanya tetua bangkotan itu yang masih dendam dengan Uchiha. Mereka menganggap kalau Uchiha adalah bencana. Segala macam cara pasti mereka lakukan untuk melenyapkan keturunan terakhir dari klan itu."

"Maksudmu..."

"Yang menyerang Menma pastilah mereka."

Mendengar itu Pakkun terkejut luar biasa. Apakah perkiraannya salah? Selama itukah para bangkotan desa menyimpan dendam pada Uchiha. Sampai rela mencelakai Menma. Tapi dari mana mereka tahu kalau Menma adalah putra Sasuke? Saat datang kemari, tanda lahir Menma disembunyikan. Dan chakra Menma tidak terasa. Jadi tidak mungkin mereka tahu kalau Menma keturunan Uchiha.

Ah! Pakkun ingat. Hari itu ia melihat para tetua keluar dari ruang Hokage. Tapi itu tidak mungkin kan. Mereka bertemu sekali, Naruto saja tidak bisa langsung mengenali. Atau mungkin Menma sendiri yang membuka jati diri?

"Dan apa yang kaukira mereka akan lakukan jika tiba-tiba kita mendatangi kompleks Uchiha? Tempat itu bahkan sudah dicap angker oleh warga desa. Aku takut kalau sampai mereka tahu dan memanfaatkan hal ini. Naruto juga tidak bisa bertindak sembarangan karena takada bukti."

Pakkun mencerna perkataan Kakashi. Benar. Jika mereka tiba-tiba memasuki kompleks Uchiha padahal tempat itu sudah lama mati, para tetua pasti curiga. Mereka akan mencari tahu alasan Kakashi mendatangi tempat itu. Dan kemungkinan terburuk mereka bisa menyadari kalau Menma tidak memiliki chakra. "Jadi, apa rencanamu?"

"Aku belum memikirkannya. Yang penting sekarang kita harus tahu bagaimana melepas segel itu."

"Untuk apa? Sasuke tidak akan senang."

Kakashi terdiam sejenak. Ia sudah memperkirakan bagaimana reaksi Sasuke jika tahu apa yang sedang ia rencanakan. Ini demi keselamatan mereka. Juga menghindarkan dari segala hal tidak diinginkan. Termasuk para tetua yang masih menyimpan kebencian. "Aku tahu. Tapi kita tidak bisa mengabaikan ini. Segel ini pasti memiliki efek pada tubuh Sasuke kan?"

Selama bersama, Pakkun tidak pernah tahu jika segel semacam itu memiliki efek samping. Sasuke selalu terlihat biasa-biasa saja tanpa mengeluh itu dan ini. Pakkun juga bisa jamin kalau Sasuke tidak pernah sakit sampai berhari-hari.

Namun setelah mendengar penjelasan kakashi, Pakkun jadi bertanya-tanya. Apa mungkin hal itu tidak berdampak apa-apa? Bisa saja segel itu berbahaya. Sasuke bahkan mengerahkan chakranya hanya untuk menekan kekuatan Menma. Atau jangan-jangan...

Ada satu hari di mana Sasuke selalu merasakan lelah yang amat sangat. Dia berkilah kalau itu hanya karena bekerja. Wajah sasuke juga kehilangan warna. Pria itu akan istirahat penuh tanpa melakukan apa-apa. Saat itu terjadi, biasanya Menma selalu merawatnya. Dan dirinya hanya akan menceramahi Sasuke agar bisa membagi waktunya.

"Sasuke sering merasakan lelah luar biasa. Apa mungkin itu efeknya?"

"Entahlah."

.

.

.

Setelah berdialog sengit, akhirnya Naruto bisa bernafas lega. Meyakinkan para tetua sama saja dengan menjinakkan singa. Susah. Kalau tidak dipancing dengan kata 'Demi kesejahteraan Konoha'. Naruto yakin, bangkotan itu pasti menolak keras alasan kerja sama.

"Baiklah. Shikamaru akan segera mengurus surat-suratnya. Akan kupastikan bahwa Shiba tidak akan membelot setelah kerja sama dilakukan.", sang Hokage berucap lantang. Dirinya beranjak dari ruang pengap yang mengurungnya selama satu jam.

Namun sayang, baru beberapa langkah, telinga Naruto bisa merasa kalau dua orang dibelakangnya tersenyum merendahkan. Karena itu ia melirik hanya untuk mendapati dua tetua itu menatapnya penuh arogan.

"Jadi, apa sesuatu terjadi pada bocah itu?", Koharu buka suara. Wanita tua itu menyipit, memastikan perubah wajah kage Konoha. "Ara ra ra, jangan memandangku seperti itu, seolah kami melakukan sesuatu."

Naruto mengambil udara. Menghirupnya banyak-banyak untuk meredam gemetar di dada. Ini pancingan. Bisa ia tahu dari keriput itu, bahwa mereka sedang menertawakan Naruto karena takbisa melindungi Menma. Dua orang itu sangat tahu kalau dirinya tidak bisa menyeret orang sembarangan. Apalagi tidak ada bukti yang tertinggal. Meski Naruto sangat yakin, bahwa Koharu dan Hamura yang melakukan, mencelakai Menma ketika dirinya lengah.

Hamura berdiri, tongkat bantunya menghentak tanah sekali. Seketika dua ANBU Ne meghampiri. Berdiri masing-masing di satu sisi. Katanya, "Kalau begitu, kami permisi. Ayo, Koharu. Kita bisa terlalu lama menahan Hokage saat ini. Beliau pasti ingin segera mengunjung bocah itu kan?"

"Kaubenar."

Meninggalkan ruang yang menjadi saksi. Melewati Naruto tanpa melihat bahwa pria itu menahan segala jenis emosi. Koharu dan Hamura beserta dua pengawalnya, meninggalkan seutas sepi. Sayang, mereka salah akan satu kondisi. Saat langkahnya mencapai pintu, kunai melesat tepat mengenai kepala lelaki tua satu mili lagi.

Dua ANBU bersiaga. Siapa tahu Naruto memulai pertarungan. Tugas mereka adalah melindungi tetua dengan taruhan nyawa. Tidak peduli kalau lawannya adalah orang nomor satu Konoha.

"Benar. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian berdua. Dan aku pun sangat ingin segera menemui Menma."

"Hee... jadinya namanya Menma?"

Meja bundar di belakang Naruto retak. Tiga kursi yang mengelilinginya bergetar. Shikamaru mundur perlahan, Naruto sedang dalam suasana hati mencekam. Ia jamin, senyum yang saat ini tampil di wajah Hokage umur tiga puluhan itu benar-benar menjanjikan kematian.

"Sayang ya, seharusnya kunai itu bisa melubangi kepalamu. Mungkin aku harus sering-sering berlatih lagi, kemampuanku menurun akhir-akhir ini."

Koharu dan Hamura memicing tajam. Memberi isyarat pada dua ANBU Ne untuk menyingkir dari hadapan. Pria pirang itu sepertinya masih ingin bermain dengan mereka. Terbukti dari nada suaranya, Naruto sedang mengancam.

Dengan perlahan, satu-satunya wanita di sana membuka pintu. Seolah kelakuan Naruto hanya angin lalu. Mereka keluar sembari meninggalkan janji bahwa malam nanti terjadi sesuatu. "Ya. Berlatihlah lagi. Hingga bisa dipastikan, bocah Uchiha itu bisa melihat matahari pagi."

GREB.

Pintu tertutup. Naruto bersumpah untuk membuat dua orang itu membusuk.

.

.

.

Matahari sudah tinggi. Tapi masih saja Pakkun dan Kakashi sibuk sana-sini. Setelah berkubang dalam perpustakaan pusat, mereka akhirnya hengkang dan mampir di kantor Hokage bagian arsip. Bertemu Hinata yang kebetulan baru saja menyelesaikan administrasi ujian Chuunin kemarin.

Hinata sempat penasaran, guru Kakashi sudah sangat jarang ke kantor Hokage kecuali ada panggilan. Itu pun untuk misi level S yang mungkin tidak bisa diberikan pada sembarang orang. Selain itu, setelah lengser dari jabatan Kakashi hampir tidak pernah bertandang. Katanya, ia sudah bosan mengurusi hal-hal yang berbau Hokage dan laporan. Namun setelah Kakahi mengatakan tujuannya untuk melihat gulungan milik klan Uchiha, Hinata malah berbalik membantunya. Bukankah ini berhubungan dengan pria yang baru saja datang kemarin malam? Kalau untuk Sasuke, dia akan membantu sekuat tenaga.

"Terima kasih karena mau membantu. Kami beruntung bertemu denganmu". Kakashi bicara setelah sepuluh menit mereka di sana. Berlembar-lembar gulungan ada di depan mata. Satu per satu diteliti sekiranya ada yang cocok dengan segel di bahu Menma. "Lama tidak kemari. Sudah banyak yang berubah di tempat ini."

"Begitulah", Hinata menjawab. Tubuhnya bolak-balik membawakan gulungan.

"Ah letakkan di situ."

"Banyak berkas baru. Setelah kelima desa menjalin kerja sama dalam pembangunan dan teknologi, yang paling banyak di tempat ini adalah nota kesepahaman. Petugas harus memindahkan gulungan ninja ke tempat yang aman supaya tidak rusak." Hinata menyeka kerinngat. Wanita cantik itu menatap paras Kakashi lama. Lelaki ini sedang serius, sepertinya. Netra mantan Hokage keenam itu mengamati tiap larik kalimat dalam gulungan yang tengah digelutinya.

"Ini...", gumaman Kakashi dapat Hinata tangkap. Dalam dadanya digelayuti rasa penasaran. Kebenaran apa yang sedang Kakashi ungkap. "Hinata, kautahu maksud dari gulungan ini?"

Hinata mendekat, melihat tulisan yang Kakashi tunjukan. Pakkun yang juga ingin tahu pun merapat. Tidak mau ketinggalan.

"Bukankah ini pernah diajarkan saat akademi?". Hinata ingat, pelajaran tentang segel yang bisa memutus aliran chakra. Dalam klannya, jurus ini dikembangkan sehingga putusnya aliran chakra bisa bertahan lebih lama. Tinggal memasukkan chakra sendiri ke dalam aliran chakra lawan, maka chakra lawan akan tersumbat sampai si pengguna jurus melepaskannya. "Klan Hyuuga mengembangkan jurus ini untuk pertarungan jarak dekat. Tapi kenapa jurus ini ada di gulungan Uchiha?"

"Apa jurus ini memiliki efek samping?"

"Ya. Biasanya jika menekan chakra lawan yang lebih besar, akan menimbulkan rasa lelah yang sangat."

Kakashi terdiam. Melirik Pakkun hanya untuk mendapati anjing itu memikirkan hal yang sama. Bisa jadi rasa lelah Sasuke karena dia menggunakan ini untuk menekan kekuatan Menma. Kemungkinan inilah yang paling masuk akal. Hanya saja, kalau memang benar jurus ini yang Sasuke gunakan, mengapa bisa meninggalkan tanda di bahu kanan Menma? Lagi pula, tidak mungkin jurus seperti ini bisa bertahan lama.

"Selain itu, apa jurus ini bisa meninggalkan tanda pada si penerima?", tanyanya. Kakashi harus segera mengetahuinya. Kalau tidak bisa bahaya. Baik untuk Sasuke maupun Menma. Apalagi jika sampai ketahuan bangkot-bangkot Konoha.

"Setahuku tidak."

"Pakkun, kau ingat seperti apa tanda di bahu Menma?"

"Itu...", Pakkun mengingat-ingat. Walau sering mandi dengan bocah kesayangan, tapi hal itu sering luput dari pandangan. Tanda itu kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan. Jadi Pakkun tidak terlalu memerhatikan. "Kalau tidak salah, mirip tanda yang pernah ditinggalkan Orochimaru."

Kakashi terhenyak. Sebenarnya apa yang sudah Sasuke lakukan?

.

.

.

"Kami tidak menemukan apapun. Baik jejak chakra atau jejak pertarungan. Kunai yang kauberikan juga, tidak berguna sama sekali."

Naruto memerhatikan apa yang baru saja Aburame Shino laporkan. Orang nomor satu Konoa itu sudah memperhitungkan berbagai kemungkinan. Termasuk yang saat ini ia dengar. Mungkin saja, si penyerang ingin menegaskan bahwa masih banyak orang Konoha yang tidak menyukai Uchiha. Atau... ini sebuah pancingan untuk menarik Sasuke keluar dari persembunyian? Hanya itu alasan paling logis yang bisa ia simpulkan. Dua tetua itu, pasti sudah tahu jika Sasuke akan segera bertindak jika Menma dalam bahaya.

Selama ini, tidak ada yang tahu keberadaan Sasuke sampai pria itu memunculkan diri. Bahkan Naruto sekali pun sampai harus berkeliling untuk mencari. Dari desa ke desa, sampai di mana Orochimaru berada. Sannin itu pun angkat tangan. Lenyapnya chakra Sasuke menyulitkan pencarian.

Sekarang, setelah Sasuke ada di Konoha. Mereka pasti berniat untuk melukainya. Paling parah mencoba membunuhnya. Naruto harus bertindak cepat kalau ingin dua orang yang paling ia cinta selamat.

BRAK!

Lamunan Naruto buyar. Kiba dengan tidak sopannya menggebrak meja di hadapan. Matanya nyalang menuntut jawaban. Serunya, "Si keparat Sai hanya bilang kalau kami harus mencari siapa pemilik kunai ini. Dia menyebut nama Sasuke sekali dan tidak mengatakan apa-apa lagi."

Naruto berkedip dua kali. Melirik Shino yang wajahnya ditutupi. Kelakuan blak-blakan Kiba tidak berubah sama sekali. Masih frontal dan juga tidak runtut dalam mengungkap maksud hati.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Naruto!"

"Haahh-hhhh... seseorang menyerang Menma kemarin malam."

"Menma? Siapa dia?"

"Putra Sasuke. Anakku."

Kiba buka mulut, tapi satu kata pun tidak terucap. Kaget dan syok menyerang tiba-tiba. Sasuke kembali hanya itu yang bisa Kiba cerna. Dan Putranya. Anak Naruto. masih berputar dalam kepala. Sejak kapan mereka punya anak. Mengapa ia tidak tahu apa-apa soal ini?

"Akan kujelaskan nanti. Tapi bisakah kalian ikut aku sebentar. Ada misi lain yang harus kalian lakukan."

"Apa itu?". Shino bertanya. Lelaki itu baru buka suara setelah terdiam cukup lama.

"Menjaga tempat Menma dirawat."

Naruto beranjak, diikuti Shino dan Kiba. Shikamaru ia perintahkan untuk segera menyelesaikan surat-surat kerja sama. Jadi pria Nara itu semenjak keluar dari pertemuan dengan tetua tidak terlihat.

Di gerbang rumah sakit, ketiganya bertemu Hinata. Basa-basi, mereka memutuskan untuk jalan bersama. Wanita itu sibuk seperti biasa. Naruto dan Kiba jalan di depan, di belakangnya Shino dengan Hinata.

"Apa yang membawamu kemari, Hinata?", tanya Naruto.

"Aku hanya memastikan sesuatu."

"Apa itu?"

Mereka terdiam cukup lama. Sampai di pertengahan Koridor Hinata hendak menjawab. Namun diurungkan karena ia ingat perkataan Kakashi di kantor kearsipan.

"Naruto belum tahu. Penjelasan Sakura waktu itu, sepertinya dia tidak mendengarkan. Terlalu fokus pada Sasuke. Lagi pula, ini lebih baik. Aku ingin mengkonfirmasi Sasuke dulu, apa tanda di bahu Menma berbahaya atau tidak."

"Bukan hal penting."

"Oh...". Lewat ekor matanya Naruto melirik.

Shino menyadari gelagat Hinata. Sepertinya sesuatu sedang kekasihnya pendam. Tidak ingin berpikir macam-macam, pria Aburame itu menghela nafas untuk meredam rasa penasaran. Sepenuhnya dia percaya pada si gadis Hyuuga. Sejak menjalin kasih, Shino siap dengan resikonya. Termasuk menahan diri untuk segera naik ke pelaminan, pasalnya Hinata masih terpaku pada rasa bersalahnya.

Naruto hilang langkah. Tubuhnya mendadak kaku di tengah jalan. Apa yang ada di depan sana terlalu mengguncang. Posisi Sasuke dengan Kotarou sangat mencurigakan. Di depan kamar rawat Menma, mereka bercengkerama. Terlalu dekat untuk dua orang yang tidak punya hubungan apa-apa. Mungkinkah perkataan Kotarou benar adanya? bahwa Sasuke sudah jadi milik pemimpin klan Shiba.

Heran dengan Naruto, Kiba memanggil. Si pemilik nama masih tak bergeming. Keping samudra itu lurus memandang dengan raut sedih. Ah di sana, Sasuke dengan seorang pemuda. Keduanya larut dalam tawa. Tanpa tahu seseorang sedang memendam rasa. "Kami akan berkeliling rumah sakit untuk memastikan tidak ada hal mencurigakan", katanya. Menarik Shino untuk hengkang dari sana. Lelaki itu juga mengkode Hinata, berharap kekasih Shino itu bisa menghibur kage Konoha. "Ayo Shino."

"Kami pergi dulu". Shino berujar kemudian. Setelah tahu mengapa Kiba bersikap tidak biasa. Mungkin pertemuan dengan Sasuke harus sedikit tertunda. Saat ini, dia harus membiarkan Naruto dihibur hatinya.

"Hati-hati.". Koridor itu senyap. Digilas nuansa berat yang tercipta dari kejauhan. Ingin Hinata berucap kata. Menguatkan sang sahabat dari rasa sakit luar bisa. Melihat sang pujaan bersama lelaki asing bercengkerama seolah tiada sekat. "Naruto..."

.

.

.

Sasuke mengantar Kotarou sampai depan. Pria itu undur diri untuk beberapa alasan. Salah satunya mempersiapkan segala sesuatu yang Sasuke-san butuhkan. Padahal Sasuke sudah menolak. Namun cinta lah yang bertindak. Demi menyenangkan dan membuat nyaman Sasuke-san. Apapun akan Kotarou lakukan.

"Tidak perlu memaksakan diri. Aku baik-baik saja", kata Sasuke pelan. Tidak enak dengan apa yang Kotarou sudah berikan. Sasuke paham bagaimana perasaan pemuda itu padanya. Dan Sasuke tidak ada niat membalas, karena itu dirinya merasa sungkan.

"Tidak masalah. Sasuke-san juga tidak mungkin pakai pakaian ini terus kan?"

"Hmmm... terima kasih. Tapi, jangan terlalu baik."

Kotarou diam. Tidak menyangka Sasuke-san berkata hal menyakitkan. Apa salahnya berbuat baik pada orang tersayang. Dia ingin Sasuke-san melihatnya. Bukan sebagai orang asing, tapi sebagai Kotarou yang mencintainya.

Selama ini, semua yang dilakukan hanya untuk Sasuke-san. Tapi perasaannya takpernah terbalas. Sasuke-san terlalu jauh membuat batas. Sampai kapan Kotarou harus melangkah, hanya untuk sejajar. Untuk menjadi orang yang pantas.

"Ahaha... aku bukan melakukan ini untuk meminta balasan kok."

"Hn."

Sasuke tersenyum samar. Menyadari ada orang mencintainya begitu dalam, jujur hatinya senang. Namun Sasuke tidak mau terlena. Cinta hanya membawa luka. Perasaan itu terlampau keramat untuknya. Dulu ia begitu dicinta oleh ayahnya, oleh ibunya, oleh kakaknya. Namun pengkhianatan yang diterima. Dan saat dirinya merasa bahwa matahari bertandang dalam dunia kecilnya, Sasuke kembali menelan kecewa. Cinta baginya bercabang dua. Memberi manisnya dunia, namun perlahan menjerat dalam derita.

Sasuke hendak berbalik, sebelum lengan Kotarou menahannya. Pemuda itu ingin mengatakan sesuatu, sepertinya. Namun takjua hajatnya terangkum dalam kata. "Kotarou?", tanyanya.

"Ano... kau dan Hokage."

"Ya?"

"Tidakkah terlalu dekat? Maksudku pagi tadi kalian seperti sudah kenal lama. Maaf aku tidak bermaksud apa-apa. Aku,", kelabu itu memandang Sasuke-san. Siratnya memancarkan cemas. Ada kekhawatiran di sana. Juga takut bersemayam. "hanya cemas."

Cermin malam itu membola. Mendengar tuturan Kotarou, hati Sasuke beriak menegangkan. Apa perilakunya pada Naruto terlalu intim hingga orang lain sembarang menyimpulkan? Bagaimana kalau Kotarou tahu, sebelumnya mereka punya hubungan.

Sasuke merundukan kepala. Menarik sehelai nafas dan melepas tautan tangan pemuda Shiba. Sembari berkata, "Apa yang kaucemaskan?", jemarinya terangkat. Menyentuh pipi Kotarou, mengusapnya perlahan. "Kami memang saling mengenal, itu saja."

Bagi Kotarou, senyum itu penuh kepalsuan.

.

.

.

"Apa yang kaucemaskan? Kami memang saling mengenal, itu saja."

Hati Naruto remuk. Sakitnya merasuk. Kalimat Sasuke di kejauhan seolah menekankan bahwa dirinya kehilangan waktu. Tigabelas tahun berlalu, siapa yang tahu perasaan Sasuke padanya sudah layu. Terisi oleh orang baru.

Naruto pergi. Taksanggup melihat interaksi mereka lebih jauh lagi. Kilahnya ingin mencari angin sendiri. Tapi Hinata tahu, pria itu sedang lari.

Hinata menatapi punggung mantan cinta pertamanya. Saat ini dirinya merasa tidak berguna. Sebagai sahabat, Hinata tidak bisa tidak berbuat apa-apa. Masalah perasaan, dirinya ikut ambil bagian. Karena bagaimanapun, Hinata menjadi penyebab keregangan mereka.

Dan Hinata menunggu. Menunggu sampai Kotarou memutuskan berlalu. Dia butuh bicara dengan Sasuke, tentang masa lalu, tentang kebenaran yang Sasuke perlu tahu. Karena itu, saat Kotarou benar-benar pergi, Hinata maju. Menguatkan hati, menyapa pria itu. "Sasuke?"

Mendengar namanya dipanggil, Sasuke berbalik. Hanya untuk melihat Hyuuga Hinata berdiri kaku di hadapannya. Keduanya beradu pandang sejenak. Sampai Hinata memutuskan untuk buka suara duluan. "Boleh aku bicara?"

Sasuke mendadak kehilangan kata. Seingatnya, wanita ini yang dulu Naruto cinta. Sampai membuatnya terluka. Kemudian memutuskan hengkang dari Konoha. Untuk apa sekarang dia menyapa? Sebelumnya mereka tidak terlalu akrab, apalagi dengan kejadian yang melibatkan mereka berdua. Sasuke pikir, tidak seharusnya Hinata basa-basi padanya.

"Aku tidak memaksa jika kautidak mau."

"Ah ya, masuklah.". berpikir positif, mungkin Hinata hanya ingin melihat Menma. Kata Sakura, dia ikut mendonorkan darah untuk putranya. Sasuke tidak mau memberi kesan buruk pada penolong Menma. sebagai ibu, dia harus berterima kasih pada Hinata.

"Tidak perlu, di luar saja".

Langkah Sasuke tenang. Mengikuti Hinata, duduk di kursi yang memang sudah ada. Angin dingin berseliweran. Dua sosok itu terpaku dalam kecanggungan.

Hinata taklekas bicara, ia mengamati sekitar sudah sepi benar. Kemudian, dipandang Sasuke tepat di mata. Sebelum menarik nafas dan berujar. "Sas – "

"Terima kasih karena mendonorkan darah untuk Menma."

Perkataannya disela, Sasuke ambil start memulai percakapan. Pria itu balas memandang Hinata lama. Dalam matanya dapat tersirat rasa terima kasih yang amat sangat. Kiranya, Sasuke membenci dirinya. Namun sepertinya dugaan itu salah. Hinata bisa tenang sekarang. Tinggal bagaimana menjelaskan agar pria Uchiha itu paham. Penyesalannya. Penyesalan Naruto juga.

"Tidak masalah. Aku hanya membatu semampuku.", katanya tenang. Anak rambut disampir ke belakang telinga. Rupa ayu itu menengadah. Bukan untuk mengingat masa lalu, hanya sekedar memberi penguatan. "Sasuke, aku tidak tahu bagaimana memulai. Tapi sungguh, aku minta maaf."

Sasuke menahan nafas. Tidak menyangka Hinata akan mengatakan demikian. Kata maaf itu memutar ulang kejadian masa silam. Di mana Naruto juga Hinata bercumbu di depannya. memori itu serentak menguasai pikiran. Menyentak perasaan. Membuat jantungnya berdentum kelabakan. Sungguh, Sasuke sudah memaafkan baik Naruto dan Hinata. Tapi apa yang membuatnya kecewa, takpernah bisa ia lupakan. Peristiwa itu jauh, mengakar.

Kepalan tangan menguat. Sasuke memejam mata, mengusir segal sesak di dada. Di samping itu, Hinata terus bercerita. Meski agak tersendat, dan intonasi sarat akan penyesalan, tetap saja Sasuke tidak kuat mendengarkan. "Hinata, cukup."

Sang Hyuuga terkesiap, sontak menghentikan segala ocehan. Pemilik surai kelabu itu kembali berkata maaf. namun urung karena Sasuke melanjutkan ucapan. "Jangan minta maaf lagi."

"..."

"..."

"Lebih baik tidak perlu dibicarakan lagi. Aku sudah tidak memikirkannya.". Sorot malam itu meyakinkan. Bicara kalau dirinya sudah tidak memikirkan. Namun digali sedikit saja, hatinya gentar. Sasuke sekarang, pandai bermain peran.

Kecanggungan meraja. Ditilik dari matanya, bisa Hinata duga kalau Sasuke berusaha menahan rasa. Ia juga bodoh karena salah mengangkat tema. Seharusnya kedatangannya kali ini untuk memastikan apa yang Kakashi perintahkan. Dengan Byakugan miliknya, Hinata bisa melihat apakah segel Menma berbahaya. Bukan malah bicara dari hati ke hati seperti sekarang.

Apalah daya, Hinata takpunya kuasa. Ingin segera meminta maaf pada sang Uchiha. Apalagi setelah melihat lagi sorot terluka rekan kerja.

Senyap melingkupi mereka. Malam makin tinggi dan angin lalu berirama. Hinata berdiri, tersenyum sekali lagi. Sembari berkata, "Kalau begitu aku permisi. Sekali lagi, terima kasih."

Sasuke membalas senyum dengan cara sama. Membungkuk sekali, Sasuke mengiringi langkah Hinata dengan tatap mata. Sejenak pijarnya meredup, mengingat kata Hinata. Sasuke tidak mengerti, mengapa Hinata berterima kasih padanya.

Sepuluh langkah kemudian, Hinata berubah haluan. Memastikan bahwa Sasuke telah masuk ke kamar. Dengan amat perlahan, kembali memosisikan dirinya tepat di depan pintu ruang Menma. "Byakugan.". Hinata berkonsentrasi. Dengan teknik klan Hyuuga akan ia pastikan sendiri. Kondisi Sasuke dan Menma, baik-baik saja.

Satu detik. Dua detik. Sasuke tengah duduk di sisi ranjang. Tiga detik. Ia pastikan Menma terlelap. Empat detik. Aliran chakra Menma terlihat. Lima detik. Hinata membelalakan mata. Enam detik. Sesuatu menyumbat lajurnya. Tujuh detik. Delapan detik. Tanda di bahu Menma menegaskan semuanya. Sembilan detik. Penerus Hyuuga itu tersenyum lega. Sepuluh detik. Byakugan kembali ke bentuk semula.

O2 ditarik. Sepatunya berderik. Hinata berbalik, ingin menyampaikan pada Kakashi bahwa Sasuke dan Menma dalam kondisi baik.

.

.

.

Bulan sabit bersinar. Langit malam bersih dari bintang. Semilir angin merasuk jendela. Tiranya berisik membangunkan sesosok pria.

Sasuke menggeliat. Membuka mata dan berdiri tegak. Tidurnya terganggu karena gedoran angin terlampau keras. Dengan perlahan, mendekati jendela dan hendak menutup tirainya. Kantuk masih menggelayuti mata, sampai tak sadar sesuatu melesat cepat ke arahnya.

Sasuke taksiap. Tubuhnya kaku sulit bergerak. Lesatan itu tepat mengarah ke matanya.

Sedikit lagi... dan satu tempat di kejauhan meledak.

BLARR!

Keping malam Sasuke menangkap gerak terampil seorang ninja. Tubuhnya melayang dengan sangat lambat. Jubah hokage berkibar. Seseorang melindunginya dari serangan tiba-tiba. Menangkis apapun itu yang hendak melukai matanya.

"Naru - "

SRET.

Gumaman Sasuke mengambang. Pundaknya diremat dari belakang. Kunai beracun teracung di lehernya.

"Sasuke!". Naruto berdiri di tempat. Pemandangan di depannya teramat mengerikan. Dirinya bingung mau melakukan apa. Tidak ingin Sasuke terluka.

Namun, Sasuke tak selemah yang dikira. Meski taklagi memiliki chakra, refleknya masih sama layaknya seorang ninja.

Dirematnya pergelangan sosok yang meringkusnya dari belakang. Dengan sekuat tenaga, Sasuke banting hingga mengerang kesakitan. Menimbulkan bunyi gedebuk dan membangunkan Menma.

"Bu...", bocah itu memanggil. Sasuke lantas menghampiri. Namun langkahnya terhenti. Hal yang sama pada anaknya terjadi. Sosok bertopeng lain menghantam tengkuk Menma, membuatnya taksadarkan diri.

"Shannarrroooo!"

BRAK!

Sosok itu menghindar. Kekuatan Kunoichi itu memaksanya mundur perlahan. Bersiaga dari segala kepungan. Menghadapi dua mantan murid sannin legenda, tidak termasuk dalam rencana. Dengan satu segel di tangan, kertas bom meledak. Kabutnya menghalangi pandangan. Dua sosok yang menyerang, tiba-tiba menghilang.

Ketegangan sedikit mereda. Sasuke menghampiri Menma yang pingsan akibat serangan. "Menm –". Namun tiba-tiba kepala Sasuke berputar. Sekelilingnya memburam. Jangkauan pandangnya kabur perlahan. Tubuh itu terkulai lemas.

"Sasuke!"

Sasuke pingsan.

Naruto sigap mendekat. Menangkap tubuh Sasuke sebelum membentur tanah. Panik seketika merayap. Wajah Sasuke terlalu pucat. Apa membanting Shinobi memerlukan banyak tenaga?

"Naruto! biar kami yang mengejar mereka. Kau dan Sakura urus saja Sasuke dan Menma!". Suara Kiba dari jendela, segera mendapat anggukan.

Naruto memangku Sasuke cemas. Membiarkan Sakura memeriksa keadaan. Jemarinya kuat menggenggam, tak sedetik pun melepas tautan. Wajahnya pias, binar birunya meredup karena takut merayap, sampai tanpa sadar chakra kyuubi menyebar. Melingkupi tubuhnya dan Sasuke.

Rona Sasuke perlahan memulih.

"Pertahankan chakra kyuubimu, Naruto. Sepertinya itu memulihkan kondisi Sasuke.", Sakura berujar. Walau persepsinya mengatakan bahwa hal ini tidak bisa didiamkan, tapi untuk sekarang mungkin hanya Naruto yang bisa membuat Sasuke tenang.

Naruto mengangguk. Dengan penuh kehati-hatian, dipindahkan pria dalam pangkuannya ke sofa yang ada di ruang itu. Sedangkan Sakura memeriksa Menma, melihat apa bocah itu mengalami luka serius. Tapi dari hidungnya nafas lega berhembus. Menma baik-baik saja, tidak perlu perawatan lebih lanjut.

Ganti kondisi Sasuke jadi perhatian. Sakura mendekat pada sofa di mana Sasuke dibaringkan. Namun urung niatnya karena sadar bahwa Naruto dan Sasuke masih bertautan. Dari jarak beberapa langkah itu, Sakura mengumbar senyuman. Dalam hati, dirinya berujar. Kalian terpisah saat sedang terluka. Bertemu dengan keadaan terluka. Apa masih bisa takdir menyatukan kalian karena terluka juga?

.

.

.

Pagi ini, ruang rawat Menma terisi seorang lagi. Sasuke masih terbaring taksadarkan diri. Selang infus tersambung dari lengan kiri. Wajah tenang Sasuke, seolah peristiwa semalam takpernah terjadi.

"Nghhh..."

"Bu...",Menma memanggil. Menyadari gerak kelopak Sasuke perlahan berkedip. Tanda kalau ibunya sadar sebentar lagi.

Remasan tangan dirasa, Sasuke melarikan pandang pada jemarinya yang diremat sang putra. Bibirnya melengkungkan senyuman. Satu tangannya yang bebas terangkat, menyentuhkannya pada jejak air mata di pipi Menma.

"Pagi jagoan", Sasuke lirih berucap. Dirinya merasa baik-baik saja, melihat Menma tidak terluka.

Menma menghambur dalam pelukan. Erang lirih Sasuke tidak ia pedulikan. Sekejap rasa syukur terbentuk dalam wujud air mata. Bocah itu menangis sesenggukan.

.

.

.

"Sasuke-san!". Kotarou terengah. Mukanya kusut setelah berlari dari penginapan. Semalam ia mendengar ada ledakkan, sampai tidak bisa tidur dengan tenang. Inginnya mengunjungi Sasuke-san takut terjadi apa-apa, tapi karena malam sudah tinggi benar, Kotarou menunda sampai pagi menjelang.

Di depan sana, dapat Kotarou lihat bagaimana kondisi Sasuke-san saat ini. Wajah pucat bagai kehilangan nutrisi. Mengacuhkan segala macam tata krama, Kotarou menghentakkan kaki. Menuju satu-satunya sumber yang diyakininya membuat Sasuke-san terbaring saat ini.

BUGH!

Melayangkan satu pukulan, yang diterima Naruto dengan senang hati.

"Kau! Semua ini gara-gara kau! Sasuke-san terluka gara-gara kau!"

Satu lagi pukulan hampir melayang. Tapi urung karena Sasuke-san berucap dengan nada lantang. "Hentikan! Kotarou!"

Kerah Hokage diremat. Kotarou menahan segala amarah dalam kepalan tangan mengambang. "Kenapa kau membelanya! orang ini yang membuatmu terluka kan!?"

"Bukan Naruto!"

"Kenapa kau masih melindunginya!"

"Cukup! Atau keluar dari sini!"

"Tapi - "

"Kotarou!"

"Arghh...". BUGH! Dinding belakang Naruto retak. Amarah Kotarou taklenyap. Hanya sebentar diredam dinding tak bersalah.

Kotarou tak mengerti. Padahal jelas semua derita Sasuke-san berasal dari orang ini. Tapi mengapa Sasuke-san masih berniat melindungi? Apa cinta itu memang pernah ada dan masih membekas di hati? Apa dirinya benar tak memiliki kesempatan sama sekali?

Sial! Cemburunya menggerus kewarasan. Kotarou menatap Naruto nyalang. Sampai kapan pun, tak'kan ia lepas Sasuke-san. Apalagi untuk orang yang jelas menyakitinya.

.

.

.

Sakura hampir bertabrakan dengan pemuda dari klan Shiba. Bisa ia lihat kalau lelaki tampan itu keluar membawa luapan amarah. Entah apa yang terjadi di dalam, Sakura sungguh penasaran. Niatnya ingin mengecek kondisi Sasuke, bukan mendengar geraman dan suara retakan.

Mendapati senyap dalam ruang itu, Sakura taklantas ambil pikiran. Ia menyimpulkan kalau ini masalah perasaan. Sudah bukan teritorialnya. Ia hanya akan memastikan bahwa Sasuke baik-baik saja. Takingin ikut campur masalah cinta segitiga.

"Bagaimana perasaanmu?", Sakura bertanya. Langkah kakinya membawa ia mendekat pada Sasuke.

"Aku baik-baik saja.", akunya. Jemarinya membelai surai arang sang putra. Menma sudah habis air mata, namun dirinya masih bergelayut manja. Tidak mau lepas dari pelukan ibunya.

"Asam lambungmu naik. Apa kau terkena maag akut? Seingatku dulu kautidak punya riwayat penyakit itu?". Dua tangannya masuk pada saku jas dokter. Sakura mendekat, "Aku sudah memberimu infus. Akan kupastikan asupan makanmu. Kautidak bisa menjaga orang sakit jika dirimu juga sakit, Sasuke."

"Aku mengerti. Terima kasih."

"Katakan itu pada Naruto. Dia yang menolongmu semalam. aku tidak melakukan apapun."

Sasuke tersentak. Ingat kalau semalam saat dirinya setengah sadar, lelaki itu menyerukan namanya. Menangkap tubuh terkulainya, dan menggenggam erat jemarinya. Sebelum dirinya benar-benar larut dalam kegelapan.

Keduanya bersitatap. Baik Naruto dan Sasuke saling pandang memberi afeksi pada masing-masing entitas. Sasuke bingung mau bilang apa. Padahal kalimat itu hanya terdiri dari tiga kata. Namun bibirnya kaku mengucapkan. Aishh kenapa bisa dirinya jadi memalukan. Ini kan ungkapan biasa untuk seseorang yang telah menolongnya?

Naruto sendiri segera membuang pandangan. Tidak kuat menatapi manik malam itu lama. Telapak tangan bersarang di kepala. Mengusap kasar surai pirang yang telah lama berubah modelnya.

Dua orang lain yang merasa terlupakan keberadaanya saling memberi isyarat. Lewat lirikan mata, Sakura berujar. Apa ibumu sering malu-malu kucing begini?

Dibalas Menma dengan cara yang sama. Tidak, ibu itu tipe galak yang bisa gigit siapa saja. Aku juga baru melihat ibu bertingkah begini.

Lalu mereka menghembuskan nafas bersamaan. Hhhh...

"Naruto, terima kasih."

Akhirnya, nama itu kembali terucap. Dari bibir pastel yang teramat Naruto rindukan.

"Sama-sama."

.

.

.

Bersambung...

Silakan tinggalkan pesan dan kesan

Ohohoy, saya kambek lagi sama fic ini. Saya sangat gimana ya, terharu pokoknya. Tapi saya juga mau minta maaf karena di sini kayaknya NaruSasunya kurang memuaskan. Persaingan Kotarou sama Naruto juga nggak terlalu kelihatan ya. Saya sendiri nggak tahu kenapa jadi kayak begini. Tapi saya harap chap ini masih pada suka.

Oya, untuk klimaksnya, karena ada yang nanya, kaka Ido Nakemi, sebenernya, saya bikin bergelombang, jadi kesannya puncaknya nggak muncul-muncul, padahal di tiap chapter selalu terselip masalah dan penyelesaiannya pun bertahap. Saya bukan tipe yang suka bikin cerita dengan alur konvensional. Jadi untuk puncak masalah saya tidak tahu apakah ini sudah mulai memanas atau belum. Kalau menurut saya sih sudah. Tapi akan saya usahakan lebih panas lagi, lebih klimaks lagi. Okeh waktunya balas repiu

Jia731: aduh jadi malu, padahal diksinya biasa aja... makasih kaka

Bag NS : makasih banget... makasih makasih makasih

Luwiners : saya usahakan kaka

94 : yap Kotarou yang jadi orang ketiganya, kalao cepetan ketangkep nanti cepet end dong

Kiyo : oke kaka

Tomoyo to Kudo : aksi Kotarou liat chap depan ya kaka

FN : makasih kaka

Oranyellow-chan : rekasi Menma ya, sabar ya kaka, apa ini udah kerasa niatnya Kotarou?

Gndut : makasih

Hatsuki : saya usahakan kaka

Sasuke UzuChiha : saksikan chap selanjutnya ya kaka, kalau masalah upnya cepet saya usahakan

D : siap kaka ini lanjut

Guest : ini kok jadi sad ending ya? Apa ada yang setuju ini sad ending?

Rini : makasih kaka #terharu

Lns : makasih semangatnya kaka, aduh jangan panggil senpai ah, jadi malu

Sapphire Hatsuki Blue : #sayaikutmerenung

Und : terima kasih kaka #bungkukbungkuk #terharu #hikshiks

NANAjulietta : kayaknya pernah ngaalamin nih kaka Nana? #alisturunnaik

Ido Nakemi : seperti di penjelasan tadi, klimaksnya itu turun naik, oke nannti saya juga jawab panjang-panjang kaka,

Ai aQira : Makasih kaka, saya akan pertimbangkan sarannya

Aicinta Hatsuki : interaksi manis? Aduh yang penting nggak bikin diabetes kan kaka? Hmmm sebenernya saya mau buat Sasu mudah maafin, tapi untuk balikan sama Naru... sepertinya bakal susah, Sasu kan udah kecewa. Memaafkan oke, tapi melupakan no way. Untuk harga yang dibayar, apa penjelasan Hinata memberi sedikit clue? Apa pingsannya sasuke memberi sedikit bocoran? Tunggu chap depan ya kaka?

Park RinHyun-Uchiha : saking ngefansnya samapi ibu sendiri dicomblangin, hahaha...

Jadi, bagaimanakah dengan chap ini? Saya meminta saran, pendapat, kritik yang membangun dari kaka kaka sekalian, saya harap di chap ini juga semakin pada suka, baik dengan ceritanya, gaya bahasa saya, gaya bercerita, dan sebagainya. Apresiasi terbesar menurut saya itu, bagimana cerita ini bisa menarik perasaan pembaca keluar. Apakah kaka-kaka sudah merasakannya?

Sekian, akhir kata silakan tinggalkan pesan dan kesan...