Journey; perjalanan.

.

.

allihyun presents

Journey

Daiki/Satsuki Fanfiction

Semacam Fanon (maybe). Ficlet. OOC (maybe). Spoiler for those who didn't read manga until chapter 204. Using given name 'cause its sounds cute :3

Kuroko no Basuke ( c ) Tadatoshi Fujimaki

5 cm per second ( c ) Makoto Shinkai & Yukiko Seike

Journey ( c ) allihyun

No profit gained from this fanfiction.

.

.

Dai/Suki : Journey [part 7]

Terkadang, kebetulan bisa jadi adalah takdir yang berupa garis nasib yang berhubungan satu sama lain. Satsuki tidak tahu, apakah yang terjadi padanya kali ini adalah salah satu bentuk kebetulan biasa dalam hidupnya. Atau memang ada garis takdir tertentu yang menariknya sampai ke sini.

Yang jelas, mata Satsuki tidak bisa tidak terkunci pada sepasang manik jingga di pojok kelas barunya ketika kilatan pandangan mereka bertemu. Satsuki yakin, dia pernah mengenalnya dan pemuda pemilik netra jingga itu juga mengenalnya. Satsuki bisa melihatnya dari bagaimana reaksi pemuda itu saat pertama kali Satsuki memperkenalkan dirinya, bahu pemuda itu menegang, walaupun sebentar tapi matanya sempat terbelalak dan bibirnya sempat mengucap nama Momoi Satsuki walaupun lirih. Satsuki bisa melihatnya dari bagaimana bibirnya bergerak. Hanya sepersekian detik karena pemuda itu kemudian memilih mengangkat benda menyerupai kipas untuk dimainkan.

Di suatu tempat di masa lalunya, Satsuki yakin pernah menemui pemuda itu sebelumnya. Entah kapan, entah di mana. Satsuki hanya perlu sedikit lebih keras meningkatkan daya kerja ingatannya. Pemuda itu familiar, dengan rambut jingga senada warna manik matanya dan juga perawakannya yang proporsional. Ditambah lagi ketika berbicara pemuda itu tidak menggunakan aksen daerah yang kental seperti teman-temannya yang lain di sini.

Satsuki pernah mengenalnya. Pasti.

.

.

"Ogiwara Shigehiro-kun, desu ka?"

Akhirnya Satsuki menemukan sebaris nama itu dalam ingatannya dan memberanikan diri menyapa duluan ketika pulang sekolah. Setelah dengan cepat mengganti uwabaki-nya dengan sepatu, Satsuki cepat-cepat menyusul langkah-langkah lebar Ogiwara yang dilihatnya sudah melalui pintu keluar terlebih dahulu. Satsuki terpaksa menolak beberapa ajakan pulang bersama teman-teman perempuannya dan memilih memanjangkan langkahnya untuk menyusul Ogiwara.

"Ohayou, Momoi Satsuki-san, genki desu ka?" Ogiwara menyambut pertanyaannya dengan sesuatu yang Satsuki sudah perkirakan sebelumnya. Menilik dari cerita Kuroko dulu, Ogiwara bisa dibilang sebagai sosok Daiki yang lain waktu SMP. Mungkin, sampai sekarang pun masih begitu.

Entah kenapa kali ini Satsuki bukannya yakin, hanya berharap. Instingnya mengatakan Ogiwara yang ditemuinya saat ini sedikit berbeda dari yang Kuroko pernah ceritakan. Bagaimanapun, Satsuki tidak bisa memperkirakannya terlalu jauh mengingat dulu dia hanya mengenal Ogiwara melalui pertandingan final Interhigh tingkat SMP, Meikou melawan Teikou. Saat itu Ogiwara yang masih memperkuat tim basket SMP Meikou harus menelan kekalahan pahit dengan jenjang skor mencapai seratus. Satsuki tidak tahu apa lagi yang terjadi pada Ogiwara setelah itu.

Yang Satsuki tahu 'janji' yang dibangun oleh Kuroko dan Ogiwara sudah hancur.

"Genki desu, kau masih mengingatku Ogiwara-kun?"

Ogiwara mengangguk sambil mengayunkan kipasnya,"Hm, tidak mudah melupakan wajah manajer hebat dari tim hebat sepertimu."

Manajer hebat dari tim hebat. Entah itu benar-benar pujian atau ucapan lain untuk 'terima kasih sudah membuat timku hancur lebur', Satsuki tidak tahu. Maka gadis itu memilih tersenyum sebagai jawabannya dan mengutarakan pertanyaannya yang lain.

"Jadi Ogiwara-kun setelah lulus SMP pindah ke Iwafune?"

"Hmm, tidak bisa dibilang begitu juga, sih. Aku sempat berpindah-pindah beberapa tempat sebelumnya, bahkan sebelum kelulusan SMP aku juga sudah pindah, tuntutan pekerjaan orang tua. Tapi toh aku tidak ada masalah dengan ini, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain itu menyenangkan. Bisa bertemu banyak tempat, banyak budaya,banyak orang dan banyak karakter yang berbeda-beda, yang menyenangkan juga yang menyebalkan sampai menyedihkan."

Satsuki tertohok,

"Terdengar menyenangkan ya, Ogiwara-kun!"

"Begitulah, jadi kau juga sedang mencoba gaya hidup nomaden, Momoi-san?"

Satsuki menggeleng, kemudian menceritakan alasannya kenapa bisa sampai ke Iwafune. Mereka terus bercerita sepanjang perjalanan, tentang banyak hal, kebanyakan tentang kehidupan sehari-hari dan tentang sekolah. Rumah Ogiwara ternyata masih satu komplek dengan Satsuki. Sebuah kebetulan lain dan Satsuki tidak merasa harus menyesal dengan itu.

Perjalanan mereka terasa damai sampai kemudian Satsuki berteriak senang ketika sampai di lapangan basket di kompleks mereka,

"Tempat ini luuuuaaarrrrr biasaaa, Ogiwara-kun! Udaranya bersih, masih sepi, tidak banyak asap dan bagian terhebat adalah, iniiiii! Lapangan basket ini luar biasa bagiku, mirip dengan yang ada di dekat rumahku yang di Tokyo. Aku sering menemani Dai-chan berlatih di sana! Sekarang mungkin kau yang akan kutemani di sini, tawaran bagus bukan, Ogiwara-kun?"

Ogiwara diam, hanya tersenyum namun senyumnya tak mencapai matanya. Sebelah tangannya yang bebas mengacak rambutnya, lalu senyumnya melebar,

"Pasti akan menyenangkan sekali, Momoi-san! Tapi sayangnya aku sudah tidak main basket lagi, hehehe."

Ogiwara tertawa, hambar dan pecah. Bayangnya retak begitu saja.

Saat itu, Satsuki seperti melihat Aomine-kun dalam sosok yang lain.

.

.

Langit sudah kelam ketika Satsuki membuka jendela kamarnya. Menemukan dirinya kembali menutup jendela karena angin yang bertiup menawarkan dingin yang terlalu menggigit. Gadis itu kembali ke mejanya, membuat pola tak tentu di kertas kosong di hadapannya. Pikirannya pergi jauh, terasa penuh tapi juga kosong.

Di Tokyo, jam sembilan malam Satsuki masih biasa berada di luar. Tidak perlu khawatir karena Daiki pasti selalu menemani. Tapi Iwafune bukan Tokyo, tempat ini sepi dari hingar bingar, anginnya terlampau dingin dan lagipula tidak ada Daiki yang bisa menemaninya.

Ah, ngomong-ngomong soal Daiki, hari ini Satsuki belum menghubungi Daiki sama sekali. Sejak sore tadi Satsuki terlalu banyak berpikir tentang Ogiwara, Ogiwara dan Ogiwara. Fakta bahwa Ogiwara tidak lagi bermain basket, mau tidak mau membuatnya harus kembali mengingat masa-masa paling suram yang dia alami di Teikou. Padahal setahu Satsuki pemuda itu memiliki bakat yang patut dikembangkan, bukan tidak mungkin absennya Ogiwara dari dunia perbasketan selama ini karena kekalahan mutlak di final Interhigh waktu itu.

Kalau memang benar begitu Satsuki tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak merasa bersalah. Setegar apapun Satsuki, tetap saja ada sisi kerapuhan dalam dirinya. Salah satunya adalah jika hal itu mengenai teman-temannya di Teikou dulu. Walaupun Satsuki tidak turut langsung andil dalam pertandingan, tapi tetap saja Satsuki merasa ikut bagian dalam hal ini. Seharusnya Satsuki bisa, paling tidak, mencegah mereka untuk tidak mempermainkan permainan lawan, seperti yang selalu dikatakan oleh Kuroko.

Seharusnya, ya, seharusnya.

Satsuki menggeram kesal, coretannya di kertas semakin tidak beraturan. Gadis itu hampir menangis ketika memori masa akhirnya di Teikou kembali berkelebatan di kepalanya. Lelah dengan rasa menyesal yang mengunjunginya, Satsuki meraih ponselnya yang ada di atas buku. Menekan dial speed nomor satu, sambil menggigit bibir kuat-kuat Satsuki mendengar nada tunggu di telinganya menggaung. Tidak sampai hitungan menit sambungan di sana terangkat,

"Dai-chan, apa yang harus kulakukan?"

Dan air matanya mulai meleleh.

.

.

[part 7, end]

Niat awal mau bikin tadi siang tapi saya dibikin lelaccchhhh gara-gara 3rd CD Drama-nya Kurobasu. Ya Tuhaaaannnnn itu surga OTP bangeeetttt! Hshshshshshs, kelimpungan ngakak bahagia gara2 itu wwww gomen numpang nge-rambling o/

Hai semuanya, saya kembali dengan tokoh baru, yeay! Mungkin kalo yang belum baca manga-nya belum tahu siapa itu Ogiwara Shigehiro. Jadi saya jelaskan sedikit soal si Ogiwara ini, beware yah karena ini bakalan jadi spoiler kalo emang belum baca manga-nya hshshshs Ogiwara adalah teman baik Kuroko waktu SD. Dia juga yang ngenalin Kuroko sama basket untuk pertama kalinya. Waktu SMP di final Interhigh, Meikou (sekolahnya Ogiwara) tanding lawan Teikou. Sayangnya Kuroko gak bisa ikut main waktu itu, akibatnya pertandingan berakhir tragis dengan skor 110-10 (anak-anak Kisedai sengaja bikin jarak skor segitu, tembakan terakhir Meikou dicetak bunuh diri sama Murasakibara). Sehabis itu Ogiwara belum diceritain lagi lebih lanjut, dia pindah sekolah dan ninggalin handband buat Kuroko (handband yang selalu dipake Kuroko itu dari Ogiwara, lho).

Yaps, itu aja sekilas tentang Ogiwara ya ;)

Dan kenapa saya pilih pake Ogiwara di sini, karena sampai sekarang kisah Kuroko-Ogiwara itu menurut saya masih nggantung (?) lol. Maksudnya, nasib akhirnya belum jelas dan kemungkinan dia emang gak main basket lagi. Berharap semoga mbang Fuji bikin arc sendiri buat Ogiwara kaya Kise-Haizaki wwwww. Ya gak harus di match tapi bisa lah ya ditongolin gitu /bahasanya. Sengaja gak pake OC karena sebenernya tokoh-tokoh minor di Kurobasu itu melimpah, apalagi yang cowok hahahaha. Sempet kepikiran buat masukin Nijimura aja, tapi…..saya rasa Nijimura punya peran yang lebih pas /apaan.

Yaps, sekian aja untuk chapter ini, hihi. Gomen kebanyakan ngoceh/nak.

Nah, let me know your opinion about this chapter, guys?

See ya next chapter ! :D

Story only= 990words

170414, hometown.

allihyun