Indiscriminate Love
Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto
Author : Namikaze Fansboy
Rated : T
Genre: Romance/ Friendship/ Other
Pair : [Naruto X Sakura]
.
.
.
Chapter Sebelumnya...
Mata Sakura mengerjap kala remasan tangan yang ia lakukan mendapat respon dari Naruto, kemudian kepalanya mengadah dan kemudian mendapati kelopak matanya bergetar yang tak lama kemudian menampakkan iris blue saphire yang tampak sayu.
Grep!
Sakura langsung memeluk Naruto kala untuk pertama kali semenjak kecelakaan kemarin Naruto sadar dari masa kritisnya dan itu adalah hal yang membahagiakan bagi Sakura melebihi apapun.
"S-Saku-ra k-kau kenapa?" Naruto hanya bingung mendapati Sakura yang tiba-tiba memeluknya.
~XXX~ Chapter 7 ~XXX~
Sakura tak dapat menahan kembang senyum yang menghiasi wajahnya kala mata biru indah itu kini sudah terbuka lagi, tapi sedetik kemudian senyum itu luntur saat mengingat Naruto sudah tidak bisa berjalan lagi.
"Di-Dimana aku?" Tanya Naruto pada Sakura.
"Kau berada dirumah sakit karena kau tertabrak mobil saat menyelamatkanku, dan sekarang kau dalam masa pemulihan" Jawab Sakura pada Naruto dengan sebuah senyuman sendu terpahat diwajahnya.
"A-aku ingin pulang, aku memiliki pekerjaan yang harus kulakukan" Mendengar ucapan dari Sakura Naruto berusaha bangun tapi ia merasa tidak bisa menggerakan tubuhnya terutama kakinya, rasanya sekuat apapun ia mencoba ia tidak dapat menggerakan kakinya.
"A-apa yang t-terjadi, kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku?" Tanya Naruto terkejut dengan rasa takut dalam hatinya.
"..." Sakura hanya terdiam dengan air mata yang sudah mengalir dari pelupuk matanya.
Grep!
"Sebenar-..." Ucapan Naruto terhenti karena tiba-tiba Sakura memeluknya dengan sangat erat dengan air mata yang mengucur deras.
"Maaf... hiks maafkan aku, gara-gara aku kau harus mengalami semua ini, maafkan aku Naruto maaf... hiks kau boleh melakukan apapun padaku asal kau memaafkanku..." Tangis Sakura semakin deras bahkan sampai tersedu-sedu sedangkan Naruto hanya memadang Sakura bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Naruto.
"Hiks... Saat menyelamatkanku kakimu terkena benturan keras dengan mobil yang membuat kakimu kini tidak bisa berjalan seperti sedia kala" Jawab Sakura, sedangkan Naruto hanya dapat stuck ditempat dengan mata membola sempurna saat Sakura memberitahu dirinya mengalami kelumpuhan.
"Itu artinya aku Lu- Lumpuh?" Suara Naruto terdengar bergetar, Sakura yang mendengar suara bergetar Naruto kemudian melepaskan dan menatap wajah Naruto yang kini terlihat hancur tertera jelas dalam iris blue saphirenya dan itu membuat Sakura merasa bersalah dengan apa yang sudah ia perbuat walau itu tidak kesengajaan.
Wush!
Angin pagi berhembus menerbangkan helai soft pink milik Sakura, dan pagi ini adalah pemandangan yang tidak pernah ingin Sakura lihat karena untuk pertama kalinya Sakura melihat langit biru dimata Naruto pecah dengan mengalirkan likuid bening dari pelupuk matanya.
"Naruto" Panggil Sakura pelan dengan nada takut- takut.
"..." Naruto tak bergeming hanya dapat memandang kedepan dengan kosong seolah kini dunianya sudah runtuh, mendengar pengakuan dari Sakura tadi membuat dirinya merasa kehilangan masa depannya.
"Katakan sesuatu Naruto, jika kau ingin marah maka marahlah, teriakilah... hiks tapi aku mohon... hiks bicaralah padaku kau tahu ini menyakitiku hiks..." Mendengar ucapan memohon dari Sakura membuat Naruto menoleh kearahnya, rasa tak percaya yang tadi dirasakannya kini berubah menjadi rasa bersalah karena membuat Sakura menangis.
"Maaf, Maaf membuatmu menangis Sakura, aku tidak mungkin marah padamu karena aku mencintaimu. Aku hanya masih tidak percaya kalau itu semua terjadi padaku... maaf jika aku menyakitimu" Ucap Naruto sambil memegang erat tangan Sakura dengan sebuah sunggingan senyum menghias wajahnya.
"Aku juga mencintaimu... seharusnya aku yang meminta maaf bukannya dirimu" Ucap Sakura yang kini tersenyum walau matanya masih sembab.
"Tadi kau sudah minta maaf dan aku sudah memaafkanmu, lalu apa kau mau memaafkanku?" Tanya Naruto yang mendapat balasan sebuah pelukan hangat dari Sakura.
"Kumohon jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu, kau hampir membuatku menyesal seumur hidup" Ucap Sakura pelan tepat ditelinga Naruto.
"Maaf, jika itu adalah kau aku tidak bisa berdiam diri melihat kau tertabrak mobil" Jawab Naruto.
"Baka" Dengus Sakura kemudian melepas pelukannya, Naruto yang melihat tampang Sakura hanya dapat tertawa pelan.
"Naruto" Panggil Sakura membuat Naruto menautkan alisnya.
"Kenapa kau bisa tertawa saat kau mengetahui bahwa kau tidak bisa hidup layaknya sebelum kecelakaan terjadi?" Tanya Sakura heran pada Naruto.
"Lalu aku harus melakukan apa? menangis terus karena keadaanku ini? untuk apa, menangis tidak akan ada gunanya karena tidak akan mengembalikan semuanya" Jawab Naruto.
"Lalu kenapa tadi kau menangis dan terkejut saat aku memberitahumu soal keadaanmu?" Tanya Sakura semakin pelan membuat Naruto tersenyum.
"Tentu saja aku terkejut bahkan sangat terkejut, siapa yang tidak akan terkejut mendengar berita seperti itu. Dan tangisku adalah tanda syukur dan terimakasihku pada Kami-sama, lagipula aku yakin Kami-sama memiliki rencana yang indah dibalik ini semua" Jawab Naruto yang semakin membuat Sakura bingung, namun sesaat kemudian ia tersenyum walau ia tidak terlalu mengerti ucapan dari Naruto setidaknya ia tahu bahwa sosok Naruto adalah sosok yang tidak mudah menyerah hanya karena keadaan.
"Berterimakasih pada Kami-sama?"
"Aku bersyukur pada Kami-sama karena ia masih memberiku umur panjang untuk menikmati keindahan dunia fana ini dan juga aku berterimakasih karena dia masih memberiku kesempatan bertemu denganmu lagi, dan lebih dari itu semua ia menyelamatkanmu dari kecelakaan itu" Jawab Naruto dengan senyum tersungging diwajahnya, sedangkan Sakura hanya dapat memerah mendengar ucapan dari Naruto.
"Kau itu masih sakit jadi jangan pernah menggombal" Naruto hanya dapat terkekeh mendengar tanggapan dari Sakura.
"Apa salahnya menggombal pada kekasihnya sendiri?" Sakura semakin memerah mendengar godaan dari Naruto.
"Aku bukan kekasihmu" Balas Sakura.
"Memang aku pernah bilang kau adalah kekasihku?" Sakura hanya dapat merutuk dalam hati karena masuk dalam jebakan Naruto.
"Lagipula memang kau tidak mau menjadi kekasihku?" Tanya Naruto.
"Kau menembakku?" Tanya Sakura terkejut.
"Bukan, aku memintamu menjadi kekasihku bukan menembakmu" Jawab Naruto yang semakin memperlebar seringainya.
"Entah apapun itu namanya karena aku menerimanya" Tanggap Sakura yang langsung memeluk Naruto.
"Terimakasih untuk semuanya" Ucap Naruto yang membalas pelukan dari Sakura.
Kini mereka sadar setiap kejadian yang terjadi pasti akan ada rencana indah yang sudah diatur oleh Kami-sama, dan paling tidak kini mereka sudah merasakan apa yang bernama kebahagiaan dibalik ujian, dan mulai sekarang masalah yang mereka akan lalui tidak akan sama seperti dulu karena semuanya akan mereka lakukan bersama.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Kushina tampak gelisah untuk menemui putranya, dalam hati ia takut melihat ekspresi yang ditunjukan nantinya.
"Kushina" Mendengar sebuah panggilan Kushinapun menoleh.
"Ada apa denganmu kau tampak gelisah?" Tanya Minato pada Kushina.
"Aku takut akan seperti apa tanggapan dari Menma nanti setelah mendengar kebenaran yang sesungguhnya" Jawab Kushina takut- takut.
"Aku juga seperti itu, tapi kita harus berpikiran positif bahwa Menma akan percaya pada kita" Kushinapun akhirnya mengangguk menyetujui ucapan Minato.
"Kalau begitu bisa kita kerumah sakit? aku kasihan dengan Sakura yang menunggu semalaman" Tanya Minato.
"Sudah" Jawab singkat Kushina, setelah itu keduanya berjalan keluar dari kediaman mereka.
'Kami-sama berikan kami kemudahan' Batin Kushina memanjatkan doa.
Kini mereka sudah berada didalam mobil, dan didalam mobil Kushina tak henti-hentinya memainkan jari sebagai pelampiasan dari rasa gelisahnya.
"Sudah berapa kali kubilang Kushina, tenanglah serahkan semuanya pada Kami-sama" Ucap Minato tanpa mengalihkan perhatiannya kedepan karena saat ini dirinya sedang menyetir.
"Aku tahu Minato, aku sudah berusaha agar tidak gelisah tapi hatiku tetap saja gelisah" Jawab Kushina.
"Aku mengerti Kushina, tapi cobalah pikirkan sudah berapa lama kita tidak bertemu Menma dan jangan hanya karena perasaan gelisah membuat apa yang sudah kita lakukan selama ini sia-sia" Tegas Minato.
"Maafkan aku Minato" Kushina tidak tahu berkata apa dan hanya dapat menundukan wajahnya.
"Kau tidak perlu minta maaf, karena itu adalah perasaan yang dimiliki oleh seorang ibu dan aku tidak akan mungkin dan tidak akan pernah mengerti perasaan seperti itu" Ucap Minato yang akhirnya membuat Kushina tersenyum seolah kata-kata itu memberi kekuatan lebih padanya.
"Arigatou"
"Sama-sama, kita sudah hampir sampai jadi persiapkan diri" Ucap Minato yang dibalas anggukan oleh Kushina.
Seperti yang dikatakan Minato, mereka tak sampai lima menit untuk sampai kerumah sakit, dan beruntungnya cuaca hari ini adalah cerah yang semakin membuat perasaan Kushina membaik sembari memberikan sugesti pada dirinya sendiri kalau semuanya akan berjalan baik.
"Semuanya akan baik-baik saja, pasti" Gumam Kushina meyakinkan dirinya.
"Ayo Kushina" Panggil Minato kemudian mereka berjalan menuju pintu rumah sakit.
Sedangkan diruang rawat inap Naruto tampak sepasang sejoli yang masih bercanda ria ketara dari tawa yang keluar dari mulut keduanya, dan tadi juga Sakura memanggil dokter untuk mengecek kondisi Naruto dan mengatakan kondisinya baik walau Naruto harus melalui masa penyembuahan yang cukup lama untuk kakinya.
"Hey, aku tidak akan terima jika kau mengataiku baka, karena kau yang baka" Ucap Sakura tak terima akan ucapan kekasihnya ini.
"Aku? itu tidak mungkin, aku selalu berkata berdasarkan fakta karena nyatanya kau selalu menanyakan yang seharusnya sudah terlihat jawabannya, lagipula jika aku baka tidak mungkin aku menjadi kapten team sepak bola sekolah" Balas Naruto pada Sakura.
"Ck, itu dulu tap-..." Sakura langsung membekap mulutnya merasa apa yang ia katakan keterlaluan, sedangkan Naruto yang tahu maksud dari Sakura hanya dapat mengalihkan dari senyum ceria menjadi senyu sendu.
"Jadi kau malu memiliki kekasih cacat seperti aku? seharusnya aku sadar bahwa aku hanya akan menjadi bebanmu, kau pantas ber-..."
"TIDAK!" Teriak Sakura sedikit keras yang berhasil memotong ucapan dari Naruto.
"Maaf jika ucapanku menyinggung perasaanmu, dan aku tidak malu memiliki kekasih seperti dirimu karena apa yang terjadi pada dirimu adalah untuk diriku" Ucap Sakura setelah menyela ucapan Naruto tadi.
"Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu padahal aku hanya tadi pura-pura saja hahaha" Ucap Naruto yang dengan lantang tertawa cukup keras, membuat perempatan muncul dikening Sakura.
Duak!
Sakura langsung saja menjitak kepala Naruto yang membuat sang empu mengadah kesakitan.
"Ittai... kenapa kau memukulku?" Tanya Naruto sembari mengelus kepalanya mengabaikan tatapan tajam dari Sakura.
"Kau bilang kenapa? kau membuatku merasa bersalah dan ternyata itu semua hanya pura-pura?" Deklik Sakura membuat nyali Naruto menciut.
"Kukira kau akan tahu kalau aku pura-pura mengingat kau adalah seorang artis" Keluh Naruto.
"Jika tidak dalam kondisi seperti ini aku akan tahu mana akting mana bukan, tapi sekarang? mana mungkin aku bisa berpikir jernih" Ucap Sakura tak habis pikir bercampur kesal karena Naruto hanya mengerjainya.
"Kalau begitu aku minta maaf, kau tahu aku lebih suka melihatmu marah-marah" Ucap Naruto yang langsung mendapat deklikan dari Sakura.
"Ya setidaknya itu lebih baik daripada kau menunjukan muka sedih seperti tadi Sakura" Lanjutnya mengoreksi sebelum mendapat jitakan lagi dari Sakura.
"Tapi tetap saj-..." Ucapan Sakura terhenti kala pendengarannya menangkap sebuah suara pintu yang terbuka.
Cklek!
Setelah pintu itu terbuka nampak Minato dan Kushina yang berjalan beriringan masuk kedalam ruang rawat inap Naruto, langkah keduanya terhenti dengan menatap Naruto dengan mata membulat.
"Menma kau sudah sadar?" Seru Kushina yang langsung menerjang Naruto dengan memeluknya sedangkan Naruto yang tidak mengerti hanya diam saja.
"Menma? Siapa Menma, namaku Naruto bukan Menma dan aku tidak mau dipanggil Menma, lagipula kalian siapa?" Tanya Naruto yang tadinya bermimik cerah kini tampak bingung.
"Aku adalah Ibumu!" Jawab Kushina yang sontak saja membuat Naruto terkejut dengan mata membulat tak menyangka bila sosok didepannya adalah ibunya.
"Ibu?" Tanya Naruto memastikan yang mendapat anggukan dari Kushina, kemudian Naruto mengalihkan pandangannya menuju barisan burung yang sedang terbang membetuk formasi V.
"Naruto" Panggil Kushina karena sedari tadi Naruto hanya memperhatikan luar jendela.
"Aku percaya bahwa disetiap musibah akan ada rencana yang baik yang dibuat oleh Kami-sama, dan kini aku sadar bahwa inilah takdir yang dibuat olehnya untukku, namun justru aku tidak tahu apa yang harus kukatakan karena akupun bingung mau berekpresi seperti apa" Ucap Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa kau marah pada kami karena tidak ada saat kau membutuhkan? kami sungguh minat maaf" Ucap Kushina takut-takut.
"Aku tidak pernah marah pada kalian, hanya saja aku selalu merasa iri dan merasa tidak adil dengan semua orang yang memiliki orang tua, kalian tidak tahu bagaimana aku harus melewati semua ini kadang aku berpikir bahwa aku adalah anak yang tidak pernah diharapkan" Ucap Naruto dengan nada sendu yang ketara dari cara bicaranya, sedangkan Kushina dan Minato hanya terpaku mendengar pengakuan Naruto.
"Aku melewati hari-hariku sendirian tanpa ada bantuan dari orang lain, aku bekerja untuk hidupku dan disaat-saat seperti itulah aku sangat menginkan hadirnya orang tua disisiku. Setiap malam aku menatap langit, menatap bintang dan bermimpi bahwa suatu saat apa yang aku inginkan tercapai" Ceritanya panjang lebar yang sesakali air mata menetes dari pelupuknya jika ia mengingat bagaimana kerasnya jalan yang harus ia tempuh selama ini.
"Maaf, Maaf jika selama ini kami tidak tahu apa yang terjadi padamu, selama ini kami berusaha mencarimu tetapi tidak berhasil dan sekaranglah kami menemukan titik terang keberadaanmu" Jelas Minato pada Naruto.
"Memang apa yang terjadi hingga kalian harus mencariku? apa kalian menitipkanku kepanti asuhan?" Tanya Naruto, dan tampak sekali Sakura yang menggigit bibir bawahnya karena tak tahan melihat wajah Naruto yang sepertinya sedang menahan ledakan emosi pada dirinya.
"Tidak, kami tidak pernah menitipkanmu, dulu kau hilang karena kami mengalami kecelakaan dan semenjak itu kami tidak mengetahui keberadaanmu yang ternyata berada disebuah panti asuhan dipinggiran kota Konoha" Ucap Minato menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, bisa kalian tinggalkan aku sendiri? aku ingin menenangkan diri dengan semua kejadian beruntun yang menimpa diriku" Ucap Naruto pelan.
"Naruto" Kushina tampak enggan meninggalkan putranya karena jujur saja ia masih sangat merindukannya.
"Aku mohon, beri aku waktu" Ucap Naruto dengan nada memohon dan akhirnya mau tidak mau Sakura, Kushina, dan Minato harus meninggalkan ruangan itu yang menyisakan Naruto sendiri.
Tes!
Setelah kepergian semuanya akhirnya Naruto kini sudah tak bisa menahan air mata yang mengalir deras dari matanya yang ia tahan sejak mengetahui berita bahwa dirinya mengalami kelumpuhan dan akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih kembali.
"Ya, kau bisa menyebutku munafik karena tersenyum padahal dari hatiku aku ingin menangis, aku bersikap kuat padahal aku sangat lemah..."
"Mungkin mudah mulutku berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ini adalah rencana dari Kami-sama untukku, tapi sebenarnya aku sangat marah pada takdir yang diberikan padaku, aku merasa Kau sedang bermain-main dengan takdirku. Mungkin aku mudah berkata seperti itu pada Sakura tapi sebenarnya dalam hatiku memiliki jawaban yang berbeda karena aku hanya ingin orang-orang tahu bahwa aku ini tegar" Naruto akhirnya mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya, karena nyatanya ia tidak bisa menerima kondisinya sekarang yang hanya bisa bergelut dengan ranjang rumah sakit saja.
"Mungkin disatu sisi lain aku juga senang karena akhirnya aku bertemu dengan orang tuaku, tapi sekali lagi setiap aku melihat mereka pikiranku rasanya terseret kemasa dimana aku melewati semua ini dengan sendiri tanpa tatihan dari mereka, yang nyatanya aku masih belum bisa menerima mereka walau aku berkata aku tidak marah" Lanjutnya bermonolog sendiri, kemudian ia menghapus sisa air mata yang ada dipipinya dan menatap arah langit dari jendela kamar.
"Kami-sama jika memang ini yang terbaik untukku, aku akan berusaha memerima semua ini dengan sabar walau sebenarnya ini sulit" Doanya pada sang pencipta agar ia dapat menerima semua ini, walaupun dalam hakikatnya ia masih belum dapat menerima semuanya tapi ia akan tetap berusaha, berusaha menerima apa yang terjadi pada dirinya dan berusah menerima kehadiran kedua orang tuanya.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Pagi hari kini sudah datang dan nampak Sakura turun dari tangga rumahnya menuju meja makan untuk sarapan.
"Ohayou Ayah Ibu" Sapa Sakura pada kedua orang tuanya yang sedang menunggunya untuk sarapan.
"Kau tidak sekolah hari ini?" Tanya Mebuki pada Sakura.
"Aku masih belum mood untuk sekolah mungkin besok saat puncak perayaan ulang tahun sekolah, lagipula disekolah tidak ada kegiatan belajar mengajar" Jawab Sakura setelah menenggak susu yang disiapkan oleh ibunya tadi.
"Lalu kapan kau kembali ke dunia entertain, kau tahu pihak agencymu selalu bertanya kapan kau kembali, karena agency juga selalu mengundur undur jadwalmu karena kau masih memiliki banyak urusan" Ucap Mebuki yang membuat Sakura menaruh atensi penuh pada sang ibu.
"Aku akan kembali jika aku merasa semuanya sudah baik-baik saja, lagipula saat ini aku ingin fokus dulu pada Naruto, jadi kumohon ibu mengerti" Balas Sakura pada sang ibu.
"Bukankah disana ada Kushina yang menjaga Naruto?" Tanya Mebuki pada Sakura.
"Ya, tapi tetap saja karena aku merasa Naruto belum dapat menerima Bibi Kushina dan paman Minato, mungkin ia teringat apa yang dilaluinya selama ini yang dilewatinya tanpa kehadiran orang tua" Jawab Sakura sambil tersenyum teduh, mengingat bagaimana ekspresi Naruto kemarin yang tampak bingung mau berekspresi seperti apa.
"Hmmm, lalu apa kau hari ini akan kerumah sakit?" Kini Kizashi juga ikut bersuara.
"Ya, rencananya sehabis ini aku mau kerumah sakit, aku ingin melihat bagaimana perkembanganya" Jawab Sakura.
"Seperti itu, tapi ayah perhatikan kau sangat perhatian sekali dengan Naruto?" Tanya Kizashi atau lebih tepatnya godaan yang membuat pipinya bersemu merah.
"Tentu saja, siapa yang tidak akan perhatian pada orang yang dicintainya" Pipi Sakura semakin memerah kala mendengar godaan ibunya, dalam hati ia merutuki kebodohannya kemarin saat menceritakan perasaanya.
"Ayah Ibu apaan sih" Dan tawa pelan dari Kizashi dan Mebukipun semakin membuat Sakura tersungut.
"Ayah dan Ibu juga pernah muda jadi tahu apa yang kau rasakan saat ini, jadi tak usah malu seperti itu" Ucap Kizashi pada Sakura.
"Ahhh sudah aku mau berangkat kerumah sakit dulu, jaa ayah ibu" Ucap Sakura pamit pada ayah dan ibunya kemudian pergi meninggalkan kediaman mereka.
"Sepertinya Sakura saat ini sepertinya sedang mengalami masa-masa sulita di masa remajanya ya?" Tanya Mebuki yang mendapat anggukan dari Kizashi.
"Ya, tapi apalah itu aku berdoa agar Sakura dapat melalui semua ini dengan kuat" Balasnya yang berdoa agar putri mereka mendapat kemudahan dalam menghadapi masa-masa sulitnya sekarang yang akan menuntun Sakura menuju ke jenjang kedewasaan.
"Memang apa sudah pasti bahwa Naruto adalah putra Minato dan Kushina yang selama ini hilang?" Tanya Mebuki kemudian.
"Benar, karena kemarin Minato melakukan tes DNA yang hasilnya 99,99% cocok dengan Naruto" Jawab Kizashi pada istrinya.
"Tapi bagaimana tanggapan Naruto setelah mendengar cerita yang sebenarnya?"
"Menurut apa yang diucapkan Sakura kemungkinan Naruto masih belum dapat menerima Minato dan Kushina, walau bagaimanapun juga pastinya ia butuh waktu untuk itu mengingat selama ini ia hidup sendirian apalagi ia baru saja mengalami kecelakaan" Balasnya pada Mebuki.
"Kuharap mereka juga dapat berkumpul seperti semula setelah apa yang mereka perjuangkan selama ini untuk mencari keberadaan Naruto" Mebuki turut berdoa untuk kedua sahabatnya semenjak bangku highschool itu agar dapat berkumpul kembali, dan kemudian ia tersenyum geli.
"Kenapa kau tersenyum dan tertawa seperti itu memang ada yang lucu?" Tanya Kizashi pada Mebuki.
"Tidak, hanya saja aku pikir Sakura dan Naruto saling mencintai dan kemungkin kita akan berbesan dengan Minato dan Kushina" Jawab Mebuki yang membuat Kizashi juga tersenyum geli mendengarnya.
"Haha, aku harap juga seperti itu Mebuki paling tidak kita sudah tahu benar keluarga seperti apa yang akan menjadi mantu kita" Balas Kizashi, dan sontak keduanya kini bergelut dalam pikiran mereka yang sedang membayangkan akan seperti apa masa depan Naruto dan Sakura, tapi yang terpenting doakan saja agagr mereka bersama.
~XXX~ TOBE CONTINUED ~XXX~
Wuah Sugoi, akhirnya kelar juga nih chapter 7, walau sepertinya alurnya berantakan tapi saya cukup puas dengan hasil kerja saya yang masih bergelut dengan fiction disela jadwal jelang ujian nasional yang sangat padat bahkan saya selalu pulang jam setengah delapan malam sampai rumah karena les, padahal saya berangkat setengah tujuh pagi.
Tapi itu tidak menghetikan saya untuk berkarya, tapi maaf jika penulisan saya tidak sebagus dulu saat masih mempunyai banyak waktu senggang dan karena banyak kesibukan kemarin gagal deh maen ke theater JKT48 dan rasanya sedih juga gak ketemu apa bebeb Melo *plak digampar ama Wota.
Dan yah sebentar lagi saya juga akan promote fiction baru yang special theme JKT48 yang terinspirasi dari beberapa MV dari JKT48 terutama River yang bagaimana saya dapat sekali feel tentang friendshipnya, dan tentunya nantinya juga akan menggunakan musical lagu dari AKB48 dan saya berharap fiction nanti akan lancar, dan yang pasti tema fictionya seputar dunia entertain terutama seorang idol groub. Jaa Nee
.
.
.
Don't Forget For ...
R
E
V
I
E
W
