Wonu mimpi apa? Mimpiin akuu~/gg/ ya mimpi itu lah, ntar tau sendiri haha
Hyunsung siapanya wonu? Trus hubungannya hyunseung sama wonu apa? Aku kasih tau di ch selanjutnya, biar makin penasaran ;)
Bisa kasih flashback ttg kjadian masa lalu wonu? Iya, ntar di next chap
Eh itu hyungsung atau hyunseung eks beast thor? Aku ga kenal mereka, sumvah, hahaha
Itu yang ngejar Wonwoo siapa? Hyunsung
Apakah wonu di fitnah pernah menyebabkan hyunsung koma? Yah, seperti itu.
Ambu ambune koyone sad ending, yatoh? Mungkin yaaaa :D kayaknya ntar aku mau buat kalian bercucuran air mata (kalau berhasil sih)
Itu siapa? Hyunsung siapa? Masa lalu wonu? Mungkin? hahaha
Thor knp meanie gak bahagia di ending? Kan belum ending?
Enjoy!
You Idiot
Coffey Milk
Meanie Couple
Mingyu/Wonwoo
Rate T+—M
Warn! OOC, Typos, RnR, DLDR,Sho-ai
AU, Hurt/Comfort, Romance, Drama
Ch 7
Kecemasan, Sexual Harassment, Tangis
.
.
.
Mingyu senang hari ini restoran tempat ia bekerja tutup lebih awal. Ia melangkahkan kakinya menuju halte bersama Junhui.
"Dah hyung." Ucapnya saat bus tujuannya datang.
Junhui tersenyum, "Dah juga~ jangan merindukanku~"
Mingyu mencibir, lalu tertawa.
Mingyu tak sabar untuk sampai ke rumah. Wonwoo pasti menunggunya. Mingyu tersenyum lebar, tapi mengingat kejadian saat memeluk Wonwoo tadi siang membuatnya ragu, apakah Wonwoo akan membencinya?
Begitu ia sampai di halte, ia segera melangkahkan kaki menuju gedung apartment-nya. Terburu-buru menuju lift, tak sabar menunggu hingga ia tiba dilantai lima, ia kemudian berlari cepat ke arah unit-nya, menekan tombol password dan masuk.
Gelap.
Mingyu terdiam bingung, mengernyit saat mendapati tidak ada penerangan sama sekali di unit-nya.
"Wonwoo-hyung?" panggilnya, menutup pintu, melepas sepatu, dan menyalakan lampu satu demi satu.
Tak ada jawaban, "Wonwoo-hyung?" panggilnya lagi.
Sunyi.
"WONWOO-HYUNG!" teriaknya.
Tak ada jawaban sama sekali. Dengan panik ia memeriksa ruang tiap ruang di unitnya, memeriksa tiap sudut, bahkan balkon kamarnya. Tapi Wonwoo tidak ada dimanapun.
Mingyu sedih luar biasa. Apakah Wonwoo benar-benar membencinya?
Keadaan unit-nya yang gelap tadi menandakan Wonwoo tidak kembali sama sekali kesini. Apakah sebenci itu Wonwoo padanya hingga tidak pulang?
Ia kemudian menunggu di depan pintu. Jalan ke sana ke mari dengan gelisah.
Dimana Wonwoo?
.
.
.
Wonwoo turun di halte. Dengan cepat ia kemudian berlari menuju gedung apartmen tempat unit Mingyu berada. Namun, suara motor yang menepi, hentakan kaki yang mendekat, dan tarikan di tangan membuatnya berhenti.
"Aku mendapatkanmu, Wonwoo."
Wonwoo takut, dia berontak, meronta-ronta saat orang itu menariknya menuju semak-semak. Kilatan mata tajam yang selama ini ia harapkan tak pernah ia lihat, kini muncul. Dan tawa itu, tawa mengerikan itu.
"Lepaskan! Lepaskan!"
Tubuhnya dijatuhkan diatas rumput, tangannya ditahan diatas kepala. Wonwoo menggeleng keras, mencoba melepaskan diri, tapi ia tidak bisa. Ia menendang-nendang.
"Hentikan!" teriaknya.
Orang itu tertawa lagi, "Aku akan menghentikan ini jika aku sudah puas denganmu dan membunuhmu." Ia lalu duduk diatas perut Wonwoo.
Wonwoo melotot, ia kembali berontak.
"Ingat, Wonwoo-yah? Kau pernah sekali mencoba membunuhku, padahal kita akan klimaks saat itu, iya kan?! Berani-beraninya kau! Nah, sekarang ayo kita lanjutkan!"
Wonwoo menggeleng keras, meronta-ronta saat orang itu mulai membuka jaketnya, membuka satu persatu kancing bajunya, mencium bibirnya rakus dan menggerayangi dadanya dengan tangan.
"Per… gi! ….hh.. pergi!"
Orang itu tertawa, melumat bibirnya, memasukkan lidah dan mengobrak-abrik tanpa ampun. Ia lalu melepaskan ciuman, turun ke leher, menghisap, menggigit dan menjilat. Lalu turun ke dada dan melakukan hal yang sama.
Wonwoo menangis tidak terima, masih tetap meronta-ronta. Meneriakkan kata minta tolong, dan tak ada yang menolongnya.
Menjijikkan. Menjijikkan. Menjijikkan.
Tolong aku… tolong aku… tolong aku!
"MINGYU! TOLONG AKU! MINGYU!"
Lalu ia mendengar resleting celanaya di buka. Merasakan sebuah genggaman meremas miliknya. Wonwoo menggigit bibir. Kakinya menendang-nendang mencoba memberontak.
.
.
.
Mingyu tak sabar lagi. Dengan cepat ia memkai sandal, keluar dari unit-nya untuk mencari Wonwoo. Hatinya tiba-tiba tak tenang. Ia turun ke lobby dan pergi ke satpam.
"Permisi, pak. Apa kau lihat temanku? Yang kemarin berlari-lari denganku?" tanyanya.
Si satpam menggeleng, "Belum, aku belum melihatnya."
"Tidak sama sekali?"
Satpam menggeleng. Mingyu berterimakasih lalu berlari mencari ke luar. Ia celingukan, mencoba menebak dimana Wonwoo berada. Mingyu bingung. Ia tak punya ide apapun. Ia lalu jalan kearah halte, ia akan menunggu sebentar apakah mungkin Wonwoo akan turun disana.
Saat itu lah ia mendengar suara tangisan.
Wajah Mingyu memucat. Apa lagi itu?
Ia melihat kanan kiri. Lalu menutup telinganya. Takut-takut jika itu adalah suara hantu.
"TOLONG AKU!"
Mingyu segera melepaskan tangannya dari telinga. Ia merasa mengenal suara itu. Tangisan itu kembali terdengar.
"MINGYU!"
Mingyu dengan cepat berlari menuju arah suara. Adrenalinnya bergerak cepat. Begitu ia sampai, ia mendapati pemandangan yang membuat matanya terbakar.
Wonwoo berada di bawah seorang pria, terhentak dan menangis meronta meminta pertolongan.
Amarahnya memuncak. Ia segera memisahkan mereka berdua dan menghajar pria itu, "Brengsek!"
"Siapa kau?!" pria itu bertanya marah kearah Mingyu dan mencoba membalasnya, tapi Mingyu lebih kuat darinya.
"Tidak peduli aku siapa—"
"Kau mengganggu kami!"
Mingyu mendelik, "Mengganggu kami katamu?! Kau memperkosanya! Dia menangis! Bajingan!"
"Argh!"
Sebuah tumbukan mengenai pipi Mingyu. Mereka bergelut dan saling memukul. Pada akhirnya Mingyu memenangkannya. Ia menghela napas lega dan melihat penampilan pria itu, wajahnya bonyok. Ia lalu mendapati celana pria itu terbuka, Mingyu mendesis jijik, namun kemudian kilatan keji terlihat dimatanya.
"Lihat, kau sudah berani-beraninya menyentuhnya. Aku pikir, jika aku merusak ini—" Mingyu menginjak bagian selakangan pria itu, "—kau takkan bisa melakukannya lagi kan?"
Lalu pria itu menjerit kesakitan saat Mingyu menginjak lebih keras. Kemudian, setelah puas, dengan kejam ia menendang perut pria itu hingga dia terbatuk darah. Ia lalu beralih pada Wonwoo yang menangis pilu. Mingyu terdiam dihadapannya, merasa sangat sedih dengan keadaan pemuda malang itu.
Perlahan ia berjongkok di depan Wonwoo, pemuda itu terlonjak dan beringsut mundur, kilat matanya penuh dengan ketakutan.
"Jangan mendekat!"
Mingyu merasa dadanya seolah di remas kuat melihatnya. Ia merutuk, andai saja ia datang lebih cepat….
"Hyung…" ia kembali mendekati Wonwoo yang terus bergerak mundur, ia menjulurkan tangannya untuk menghentikan pergerakan pemuda itu.
"Jangan! Jangan mendekat!"
"Hyung! Ini aku!"
"Tidak! Tidak!"
"Hyung! Tenang! Ini aku! Mingyu!"
"Pergii! Pergii!"
Mingyu teringat dengan kejadian dimana Wonwoo bermimpi buruk kemarin. Itu membuatnya semakin sedih. Melihat pujaan hatinya hancur seperti ini membuatnya sedih. Ia lalu bertanya-tanya apakah Wonwoo pernah mengalami hal ini sebelumnya?
"Huwaaahh…. Hiks… hiks… huwaaahhh…" Wonwoo menangis dan terisak tidak karuan.
"Hyung… ini, aku Mingyu.." ucapnya sambil meraih tangan Wonwoo dan menggenggamnya kuat.
"Lepaskan!" Wonwoo berontak ketakutan.
"Wonwoo-hyung! Ini aku!"
"Tidaak! Lepaskan!"
"WONWOO-HYUNG! INI AKU MINGYU!" teriak Mingyu.
Wonwoo tersentak, "Mingyu…?"
"Iya hyung, ini aku…"
"Min.. Gyu.. aku takut…" ucap Wonwoo disela tangis.
Mingyu mengigit bibirnya, menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata, di peluknya tubuh Wonwoo mencoba menenangkannya. Wonwoo menangis hingga membasahi jaketnya.
"Ayo pulang…" ucap Mingyu.
Wonwoo mengangguk kecil. Keduanya lalu melepas pelukan dan Mingyu mendapati pakaian Wonwoo yang terbuka. Wajahnya memanas dan dengan hati-hati ia menutup resleting Wonwoo, mengancingi bajunya dan merapikan jaketnya. Wonwoo hanya memperhatikannya dalam diam dan terisak pelan.
Mingyu lalu berbalik dan memunggungi Wonwoo, "Naiklah. Kita kembali."
Dengan ragu-ragu ia naik keatas punggung Mingyu, mengalungkan kedua tangannya di sekitar leher Mingyu dan kedua kakinya di pinggang Mingyu saat pemuda tinggi itu berdiri. Mingyu lalu berjalan menuju apartmentnya, meninggalkan pria itu, yang tak bisa bergerak sama sekali.
.
.
.
"Hyung, kau sudah selesai?" tanya Mingyu, mengetuk pintu kamar mandi dan melongok ke dalam.
Dia mendapati Wonwoo terendam di bathup dan menangis tersedu sambil terus mencakar lehernya.
"Hyung! Apa yang kau lakukan?!"
Wonwoo menjawab di sela tangisnya, "Tidak bisa hilang… ini tidak bisa hilang…" ia terus mencakar leher dan dadanya tanpa menyadari sudah menimbulkan baret merah dikulitnya.
"Hentikan! Kau melukai tubuhmu, hyung!"
"Aku tidak mau ini ada! Ini menjijikkan!" tangisnya semakin menjadi-jadi, ia semakin gencar mencakar dua bagian itu.
Mingyu dengan cepat menghentikan laju tangannya, mencengkram lengan Wonwoo.
"Jangan hyung.. walau kau terus mencakarnya, tanda itu tidak akan hilang…"
"Aku tidak mau! Tidak mau!" Wonwoo memberontak, mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman Mingyu.
"Hyung! Tanda itu tidak bisa hilang dengan cara seperti itu!"
Wonwoo menangis, terisak-isak, dan Mingyu merasa dadanya seolah di iris sembilu.
"Kalau begitu… kalau begitu… bersihkan ini… kumohon… hilangkan tanda ini.. ganti tanda ini…. Bersihkan aku, kumohon…"
"Ye?" Mingyu terkaget dan melepaskan lengan Wonwoo dari cengkramannya, ia lalu mundur menjauh.
"Kumohon bersihkan jejaknya dengan jejakmu…"
Mingyu menggeleng kuat, "Tidak hyung… tidak bisa…"
"Kumohon…"
"Tidak bisa hyung…"
"Kumohon!"
Mingyu menutup matanya, menelan ludah susah dan menggeleng, "Maaf, hyung… aku tidak bisa…" ia lalu keluar dari kamar mandi.
Wonwoo menatap riak air di depannya, air matanya kembali meleleh, "Lihat… kau pun jijik padaku…"
.
.
Wonwoo tak keluar dari kamar mandi dan Mingyu dengan kesabaran yang ditahan masuk kedalam kamar mandi, menarik Wonwoo keluar dari bathup dan mengeringkan tubuhnya. Wonwoo memberontak, tidak ingin keluar sebelum ia merasa lebih 'bersih'. Tapi Mingyu menolak, karena Wonwoo bisa terkena demam jika terus menerus berendam.
Mingyu lalu memakaikan baju untuknya, lalu menariknya masuk ke dalam kamar, membaringkannya dan mengelus kepalanya.
"Tidurlah hyung… kau harus istirahat…"
Wonwoo terus menangis, lalu setelah beberapa menit, tangisannya berubah menjadi isakan kecil lalu hilang, digantikan oleh deru napas yang tenang.
Mingyu tersenyum kecut. Ia terus mengelus rambut halus Wonwoo. Merasa sangat bersalah. Jauh dalam hatinya ia ingin membantu, tapi ia selalu berprinsip untuk tidak menyentuh lebih pada orang yang bukan menjadi haknya dan ia takut kelepasan.
Ia kemudian jatuh tertidur di sebelah Wonwoo.
.
.
.
Wonwoo terbangun, mendapati tidak ada siapapun di sebelahnya. Ia duduk, menatap kosong pada selimut diatasnya.
Lalu ia mendengar pintu di buka, ia menoleh dan mendapati Mingyu berjalan kearahnya.
"Syukurlah hyung sudah bangun," ia lalu menarik selimut dan melipatnya, "ayo sarapan."
Wonwoo mengangguk dan bangkit. Membasuh wajahnya dan menyikat gigi di wastafel. Mingyu menatapnya cemas, mengikuti langkah Wonwo yang sama sekali tak bertenaga menuju dapur. Ia lalu menaruh semangkuk sup ayam dan semangkuk nasi di hadapan Wonwoo.
"Makanlah."
Mingyu lalu duduk di sebelahnya dan mulai makan bagiannya. Sekali dua kali ia melirik kearah Wonwoo yang menyantap sarapannya tanpa minat. Pandangan mata pemuda itu tampak kosong seperti saat ia melihatnya waktu Wonwoo ingin tinggal dengannya.
Mingyu tahu ada sesuatu yang tidak di ketahuinya. Seperti ada cerita lain yang tak di ceritakan oleh Wonwoo, seperti mungkin Wonwoo pernah mengalami kejadian yang sama dengan tadi malam atau apapun. Tapi ia tak ingin membuatnya lebih terguncang lagi, jadi ia menahan pertanyaan-pertanyaannya.
Mingyu menghabiskan makannya dengan cepat setelah melihat jam. Ia lalu menaruh mangkuk kotor di bak cuci dan segera berlari ke kamar untuk mengambil dompet, ponsel dan jaket.
"Hyung, maaf. Aku harus berangkat! Habiskan makanmu! Sampai nanti!"
Setelah mendengar pintu ditutup, Wonwoo meletakkan sendoknya, menatap sarapannya tidak selera. Matanya berkaca-kaca.
.
.
.
"Aku sudah membuat janji di restoran itu." ucap Jeonghan, "nanti setelah jam ngajarmu selesai kita berdua pergi kesana." Lanjutnya.
Jihoon mengangguk.
"Apa menurutmu, si Mingyu ini akan mau berbicara dengan kita?"
Jihoon mengangguk.
Jeonghan menghela napas, "Aku harap kita bergerak cepat. Aku harap Hyungsung belum menemukan Wonwoo."
Jihoon mengangguk dan tersenyum kecut, "Kita berharap Wonwoo baik-baik saja…"
.
.
.
.
.
tbc
Thanks banget buat yang udah review : itsathenazi, Rie Cloudsomnia, Beanienim, shmnlv, Arlequeen Kim, Twelves, NichanJung, rossadilla17,Ara94, Gigi onta, boobeepboo, kookies, Karuhi Hatsune, kimxjeon,XiayuweLiu, xppatrashAndromeda,itsmevv,thisxthat, hvyesung, wonu nikah yuk, siVO14, Tikha Semuel Ryeolhyun, kwonfire19, parksungrin, Mbee, egatoti, equuleusblack, exoinmylove, NPOZYX, restypw, Mrs. EvilGameGyu, Msyn, wonuumingyu, stnyjh
A/N : jadi MABA itu sibuk, aku bahkan gak buka laptop sama sekali dalam seminggu, yg buka adikku.
A/N2 : aku rindu nulis ff, tp kalau udah di depan laptop dengan ide di kepala, mood menulis langsung hilang drastis karena kemalasan =_= nyebelin kan yaaaa, pdhal project ff ku tuh banyak banget dan gak ada satu pun yg tak sentuh hmmmm
A/N3 : MEANIE EVERYWHERE, WUUUHHH
A/N4 : MET DATANG DI INDO, SEVENTEEN! KALIAN MAKIN GANTENG AJA, LUPH YA.
A/N5 : aku ga ikut ketemu mereka dan liat dr IG saja sudah bahagia (walau dalamnya nyesek juga sih, hmmm)
A/N6 : aku baru saja belajar naik motor dan nabrak dinding, sakit guys :"))
A/N7 : maaf kalau ch ini banyak kekurangan, terlalu menye dan agak gimana, mingyunya begitu, wonwoo begitu, author begini, reader—eyyyy/dipatok
Udah gitu aja. Babaaaayyy~/tebarflyingkiss
Review yes
