All standard warning applied

An: this is the last part of this story. Thanks for reading and reviewing.

.

.

Normal PoV

.

Hinata tahu mereka terkejut. Hinata tahu dia mungkin tidak lagi diterima, tapi Hinata benar-benar rindu pada Neji dan Hanabi, juga rumah ia dibesarkan.

"Apa kabar?" sapaan lembutnya dijawab bisu.

"Aku hanya ingin menengok Niisan, dan Hanabi-chan."' Sebuah hening, "Aku tidak ingat apapun setahun lalu, jadi … ah, Hanabi-chan tingkat berapa sekarang?"

Bagai bersoliloqui. Dia menahan tangannya di bawah tatami, melawan getaran sedih diacuhkan.

"Aku minta maaf membuat kalian susah … apa boleh aku menginap di sini malam ini?"

"Kau tidak punya tempat di sini Hinata. Bukankah sekarang kau property Uchiha?"

Setelah sekian lama menunggu jawaban, yang didapat malah bentakkan. Dia tahu dia akan menerimanya. Karena Hinata merasa pantas.

"Ya, aku hanya ingin berdoa, menjaga papan nama Otou-sama semalam."

"Cih, aku jijik melihatmu!" Hanabi bangkit sambil menandak-nandak kaki di atas lantai sebagai protes atas kedatangan Hinata.

"Kau bisa tidur di kamarku malam ini." kata Neji datar.

"Arigatou Niisan." Neji ikut berdiri.

"Niisan, aku … aku akan menikah dua bulan lagi, bisakah Niisan dan Hanabi-chan datang mendampingiku?"

Jika saja Hinata tahu Neji sedikit limbung, tapi Hinata terus menunduk takut melihat lelaki bersurai cokelat panjang itu.

"Siapa yang tahu?"

Kalimat retoris. Hinata mengeluarkan air mata kesekiannya hari ini.

It's a mourning day

.

.

Hari-hari berduka tampaknya belum selesai bagi Hinata. Dia harus menyelesaikan masalah yang dia buat.

Semusim bersama manusia asing bukan hal yang mungkin terjadi pada Hinata, tapi nyatanya hal itu telah dia lewati. Memikirkan hal mustahil itu rasanya terasa aneh karena dia bahkan tidak menyadari hingga semuanya berakhir dengan lubang besar di antara mereka semua.

Lubang besar yang menyakitkan dengan mengetahui kau mencintai orang yang tidak seharusnya. Walaupun tidak tahu siapa yang menetapkan standar dalam hal percintaan, mungkin Madara, mungkin juga dirinya sendiri.

Dilihat dari sudut pandang manapun dia merasa jijik pada dirinya yang bisa-bisanya mengkhianati Madara, meskipun untuk merasakan cinta seperti ini dia tidak menyesal. Tidak pernah menyesal sedikitpun.

"Jadi ternyata begini akhirnya .…" pipi Uchiha itu terangkat menyunggingkan senyum sarkas. Dia kembali menjadi dirinya dulu.

Kopi di gelas kertas mulai mendingin.

"Aku … aku tidak pernah menyesal …."

"Katakan satu hal, katakan sejujurnya– apa kau mencintai Madara?"

Hinata bangkit merenggangkan tubuh, roknya tertiup semilir angin musim gugur. Wajahnya terlihat teduh tapi berusaha ceria.

"Iya, aku mencintainya."

Itachi tidak percaya, "Jangan membuatku tertawa. Aku sudah cukup mengenalmu untuk tahu kau bohong."

"Aku memang mencintainya," sekarang Itachi goyah dengan statmennya sendiri. Sakit.

" –sebelum aku bertemu Itachi-kun. aku tidak tahu caranya lepas, karena itu aku harus mencintainya. Tapi sekarang, aku bebas menentukan, kuputuskan jalanku sudah terlalu jauh, aku akan bersamanya, memulai dari awal lagi. Itachi-kun terlalu baik untukku. Bagaimanapun aku tidak ingin memberikan diriku yang sudah tidak terhormat pada orang seperti Itachi-kun."

Hinata menghela napas, berharap bebannya keluar bersama karbondioksida.

"Aku masih punya cukup harga diri itachi-kun. aku akan setia bersama Madara, tapi bukan bohong bahwa aku pernah menyukai Itachi-kun."

"Berterima kasihlah Itachi-kun padaku, aku mencoba menyelamatkan hidup Itachi-kun." Senyumannya mengembang. Itachi tahu Hinata merasakan hal sebaliknya.

"satu lagi, minta maaflah padaku, karena itachi-kun tidak datang lebih cepat ...," tiba-tiba perutnya bergetar, tenggorokannya tercekat, sesuatu menyumbat.

"karena Itachi-kun tidak datang lebih cepat menemukanku ...," tangisnya pecah berderai tanpa suara, air mata panas meleleh di pipi.

Laki-laki itu menyergapnya dari belakang, mengalungkan tangan di leher wanita yang sangat mungil. Merasakan harum terakhir yang tidak akan pernah dia bisa hirup sedekat ini lagi.

"Kau tidak perlu berkorban sendirian Hinata, tidak ada orang bodoh yang cukup tahan bersama Madara."

Uchiha prodigy itu menahan suaranya agar tidak pecah. Laki-laki yang menangis karena cinta … ah, bagai roman kuno. Sesuatu yang ajaib. Hati yang begitu tulus.

"Akulah orang bodoh itu …."

"Jika begitu maumu, aku akan memastikan kau tidak berbalik dari jalan yang kau pilih. Jika saja aku cukup kuat untuk memintamu berbalik padaku."

"Aishiteru, Hinata."

Deklarasi terakhir dari Uchiha sulung yang akan segera melupakan Hinata.

Laki-laki itu membalik tubuh mungil Hinata agar menghadap ke arahnya, daun pohon ginko yang gugur menjadi saksi dekapan terakhir mereka.

.

.

Itachi memasuki mobilnya. Perasaannya kacau. Dia kira dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Nyatanya dia menggenggam hampa. Impian yang setipis jaring laba-laba. Dibuat cepat, indah namun terlalu rapuh.

Lagi-lagi lagu cinta. Getir. Hanya itu yang dia rasakan. Cinta? Apa itu? lagunya terdengar naïf, Itachi muak.

Jalanan menuju paviliun kosong. Dia mengemudi pelan. Buku jarinya memutih mencengkram stir. Tanpa dia sadari dua buah mobil telah mengunci posisinya. Satu di depan satu di belakang. Jika saja ini jalan normal tanpa tebing di sisi kanan-kirinya, tentu dia bisa lepas, sayangnya hal itu tidak terjadi.

Itachi mulai merasakan ada yang tidak beres dengan dua mobil itu. dia telah mengklakson agar berjalan lebih cepat, tapi mobil di depannya malah berhenti mendadak.

Jika saja itu bukan Itachi, mungkin dia akan lepas kendali.

"Turun!" titah lelaki berbadan tegap dengan mata memincing. Itachi sedang dalam kondisi yang buruk, artinya, neraka jika mereka mau cari masalah dengan Uchiha sulung itu.

Rupanya lelaki tegap itu hanya umpan agar lelaki berseragam lainnya berhasil melumpuhkannya dari belakang.

Not so men as they should be.

.

.

Two days ago before the accident (Madara PoV)

.

.

Ah, aku lupa … Hamlet juga pura-pura lupa ingatan. Jadi … sepertinya menarik kalau kau benar-benar lupa. Another Hamlet story.

.

.

Ponselku berdering, siapa yang berani menggangguku diwaktu-waktu tenangku?

Kabuto Yakushi? Ilmuwan gila yang meminta kubiayai risetnya.

"Konichiwa, Uchiha-san."
"Apa yang mau kau tawarkan? Yakushi?"

"Aku sedang melakukan percobaan, melibatkan ingatan seseorang. Kau mungkin tertarik untuk membuat seseorang lupa beberapa bulan masa hidupnya."

Suaranya memang lebih baik dari Orochimaru, tapi kekuatan membuat muak tetap saja setara. Suara penuh intrik, seperti ular.

"Jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti,"

Dia berdecak-decak seakan menunggu aku mengatakan hal itu.

"Zat ini bernama Benzodiazepine, biasa digunakan untuk stress pasca trauma, tapi penggunaannya memungkinkan seseorang melupakan beberapa hari ke belakang dalam hidupnya," ucapnya ponggah.

"Itu tidak berguna untuknya."

"Belum selesai Uchiha-san, aku mencampurnya dengan beberapa zat yang bisa mendukung 'penghapusan' itu untuk jangka waktu ke belakang, dan hebatnya aku berhasil. Aku sudah melakukan percobaan pada beberapa orang, dampaknya berbeda-beda bagi tiap orang."

Ini konyol. Apakah berarti tuhan merestui usahaku menghancurkan Itachi? Atu jangan-jangan ini benang laba-laba iblis untuk menggodaku. Heh! Memangnya siapa aku? Bukankah sudah lama aku bersekutu dengan kegelapan?

"Apa itu permanen?"

"Sejauh ini tidak ada orang yang bisa mengingat lagi apa yang sudah dihapus, tidak ada masalah."

"Dan sejauh apa zat itu menghapus memori seseorang?"

"Aku melakukan percobaan pertama pada pasien rumah sakit jiwa yang selama satu tahun ini dikurung karena stress akibat pelecehan seksual yang dia terima, ajaibnya–, wanita itu tidak ingat apapun tentang kejadian satu tahun lalu."

Rumah sakit jiwa. Sekarang memang banyak orang gila. Termasuk yang sedang berbicara denganku.

"Lalu bagaimana tentang ingatan lainnya? Apa terpengaruh?" sialnya aku tertarik.

"Tidak, kekuatan dari memori jangka pendek atau panjang tetap berfungsi sebagaimana mestinya, kau tidak perlu khawatir Hyuuga-san akan melupakanmu, dia hanya akan melupakan kehidupannya beberapa bulan terakhir, yang tidak ada dirimu."

"Aku perlu jaminan keakuratan darimu." Si licik berkacamata itu menimbang.

"Bukankah kau benci pada Itachi? –tidak masalah ini gagal, bukan?"

"Aku tidak melakukan ini untukmu, aku tidak memberikanmu objek percobaan yang berharga, bagaimanapun Itachi merupakan keponakan favoritku, dia sudah ditempatkan untuk menjadi penerus saat dia terlahir."

"Dan aku melakukan ini juga pada Hinata, tentu saja aku akan membunuhmu jika gagal, Yakushi."

"Bagaimana dengan anda? Bukankah anda perlu menghilangkan depresi berlebihan anda?"

"Ha?! Satu tahun mungkin bisa, depresiku dimulai bertahun-tahun lalu," orang ini tidak waras.

"Kita bisa mencoba menambahkan-,"

"Berhenti sampai di situ! kau mau aku menghapus ingatanku dan membiarkanmu yang memegang kebenaran? Lupakan saja, jangan bermain-main denganku!"

"Kau memang seperti reputasimu, senang bekerja sama denganmu. Dan saya tidak akan membocorkan ini pada siapapun."

Seolah dia menggertakku dengan kata-kata 'tidak akan membocorkan pada siapapun' sangat tidak bisa dipercaya. Menghadapi manusia licin macam ini, dialah yang harus ada di bawah tekanan, menegaskan siapa yang memegang kendali di sini.

"Aku akan tahu saat kau melakukannya, dan kau akan kehilangan nyawa satu jam setelahnya, Yakushi."

"Aku tahu resiko bekerja sama denganmu Uchiha-san, kita bisa saling percaya, karena kau juga memegang kartu trufku."

"Ya, percobaanmu pada orang-orang gila itu, kurasa hukumanmu akan sangat panjang mengingat daftar kejahatan medis yang kau lakukan bersama Orochimaru."

"Kau mengancamku Uchiha-san, padahal aku hanya menawarkan solusi, sangat 'Uchiha Madara'."

Sorega kitto boku dakara (Karena aku yakin, memang itulah aku).

.

.

Aku belajar bahwa, penderitaan yang berat membuat seseorang mengeluarkan potensi sejati dirinya. Jujur saja, aku takut pada keponakanku itu. seseorang yang membalas dendam akan jadi sangat kuat.

Bagaimana jika menghapusnya saja? Tentu saja aku sudah berjanji pada Hinata untuk tidak melakukan hal buruk pada keponakanku tersayang. Aku malah melakukan hal sebaliknya, aku memberi kesempatan yang baik untuk hidupnya. Bakat seperti itu seratus tahun sekalipun jarang muncul, tentu saja aku tidak dungu menyia-nyiakannya.

Yakushi Kabuto? Aku tidak melakukan apapun padanya. Dia harusnya tidak membiarkan tikus berkeliaran di labnya. Tersengat aliran listrik bertegangan tinggi di laboratorium, bukan cara mati yang baik dan elegan.

Itu benar-benar bukan perbuatanku. Jangan membuat stereotip yang tidak-tidak.

Kami menikah, Neji dan Hanabi yang berwajah suram membuat Hinata menangis bahagia. Uchiha Itachi memutuskan mengambil gelar masternya di Amerika. Sebuah hidup yang sempurna.

Tak berapa lama setelahnya, Hinata mengandung anakku. Kuharap aku mendapat anak lelaki. Aku akan membuat anakku unggul daripada Itachi. Khe! Masih saja aku kesal menyebut namanya, walaupun sekarang dia tak lebih dari robot tanpa hati.

.

.

Epilog

.

.

Desember yang dingin anak perempuan bermarga Uchiha lahir. Aku tidak kecewa, anak itu sangat mirip denganku, tapi warna matanya seperti ibunya. Kecantikan yang gelap.

"Kau mau menamainya siapa, Honey?" Hinata menyeka air mata yang terus merembes dari sudut mata indahnya.

"Bagaimana jika, Yume?" dia menatapku penuh harap, seakan aku bisa tidak mengabulkan tiap permintaannya.

"Harapan? Mimpi? Terdengar seperti dirimu."

Dia tersenyum. Senyuman yang selalu tulus.

"Hontou ni arigatou My Lady, aku tidak bisa meminta apapun lebih dari ini."

Kukecup pucuk kepalanya. Walaupun bobot Hinata bertambah beberapa kilo, dia malah terlihat sangat menggemaskan.

Hoi kami-sama? Apa tidak salah kau memberiku begitu banyak kebahagiaan?

Hah!

Aku mungkin saja menghabiskan jatah pengampunanku di dunia agar aku bisa masuk neraka tanpa kesempatan keluar lagi. Siapa peduli jika aku sudah bertemu dengan bidadari di sini.

.

.

"Pesta di rumah Sasuke?" dia terkejut, aku tidak heran.

Yume bermanja-manja dalam dekapanku. Tangannya begitu erat mencengkram jari telunjuk.

"Aku … aku tidak yakin aku bisa bersikap biasa, apalagi ini pesta perayaan untuk Itachi."

Dia meletakkan cangkir teh, mengambil Yume dariku untuk menenangkannya.

"Itu sudah dua tahun berlalu. Bersikaplah selayaknya istriku."

Senyumnya terkembang, "Jangan berada jauh dariku, Mada-kun." Matanya khawatir.

"Ma-da-kun?" celoteh Yume mencairkan ketegangan.

"Papa … Papa, mulai sekarang jangan panggil begitu di depan putri salju ini," tentu saja aku tidak ingin dipanggil begitu di hadapan banyak orang.

.

.

Peralatan perak, alas meja berenda putih, wanita mengenakkan sepatu super tinggi mereka. Ulang tahun Yume dua hari lagi, dia lahir sama dengan bulanku dan Hinata, bukankah kami keluarga yang sempurna?

Sasuke datang menghampiri Yume dalam dekapan Hinata. Yume memang cukup mengenalnya, sehingga tangan kecil Yume terulur ke arah adik Itachi.

"Yume-chan, Jiisan, kenapa rambutnya dibiarkan panjang begini?"

"Mada-kun tidak membolehkan aku memotong rambutnya," Sahut Hinata menggantikanku.

Sasuke menggendong anakku, mengangkatnya hingga tergelak kecil. Balutan gaun ungu yang senada dengan Hinata membuat Yume menjadi yang tercantik di sini, setelah ibunya tentu saja.

"Yume-chan, nanti kalau sudah besar, menikah denganku saja …," ucapan Sasuke hampir membuat Hinata menyemburkan minuman di gelasnya.

"Lihat, ibumu sampai terkejut begitu … perjalanan kita akan sulit sepertinya." Sasuke sengaja menggoda Hinata.

"Iee, Yume-chan akan menikah denganku." Sahut suara yang begitu kukenal dari sudut ruangan.

Aku berjengit. Hinata membatu. Sasuke agaknya mengerti, dia melepaskan Yume dalam pelukkan Hinata dan aku lagi.

"Enak saja, kau sudah jadi kakek-kakek saat Yume besar, cari yang lain saja."

Si bungsu Sasuke memang kesal jika harus berkompetisi dengan kakaknya.

"Sudah lama sekali, jiisan? Dan … ah, saya lupa nama bibi, sungguh tidak sopan."

"Hinata, Uchiha Hinata."

Kuraih pinggang Hinata yang sudah ramping kembali. Mantan Hyuuga itu hampir limbung. Aku menahannya.

"Senang bertemu langsung dengan anda, Hinata-san. Saya hanya diberitahu kalau Madara-jii punya isteri yang sangat cantik."

"Hm … se-selamat atas gelar masternya, Itachi-san."

Yang manakah? Kebijaksanaan tuhan, atau jerat balas dendam iblis?

Aku menghapusnya, tidak dengan Hinata. Aku tidak suka hidup dengan manusia dalam genjutsu. Dia Hinata Uchiha, tidak ada yang bisa merebutnya dariku. Sekarang ataupun nanti.

.

.

OWARI

An: ho? Banyak amat author's note? Yeah … maaf saya ga bisa bales review satu-satu. Saya sangat mengapresiasi review jujur dari readers sekalian yang sudah mengikuti dari awal sampe bulan ke 7 ini. Semoga suka. critics and concrit reviews are allowed with all my pleasure.