Hai, semua. Kali ini kembali lagi dengan chapter ke 7. Di chap ini aku buat untuk menuhi requestan yang minta Draco keluar. So, kenapa enggak? Hohoho semoga kamu terhibur, ya.. ^_^
"Aku masuk dulu, ya, Mom, Dad!"
Lily lebih dulu masuk ke rumah keluarga Potter. Ginny masih di dalam mobil yang diarahkan Harry masuk ke garasi. Setelah masuk sempurna, Ginny dan Harry bersama masuk melalui pintu di sudut garasi yang terhubung ke ruang tengah.
"Hah, melelahkan sekali hari ini." Rutuk Harry. Ginny membantu Harry melepaskan jaketnya dan membawanya ke belakang. Mungkin esok ia harus mencuci pakaian. Ia lupa hampir dua hari ia tak menyentuh pakaian-pakaian kotor.
Acara makan malam selesai dengan sedikit canggung karena Lily bertingkah laku tidak seperti biasanya. Ia tampak lebih banyak diam, ya walaupun itu lebih baik. Ginny selalu menasihati tanpa bicara saat sedang makan, tapi.. Lily yang notabene seorang perempuan tulen yang suka bicara sulit sekali menghentikan celotehannya saat di meja makan.
Tapi kali ini berbeda. Masih dengan suasana di café tadi, Lily masih sulit untuk berbagi cerita. "Sudahlah, dia masih syok. Lily menunjukkan apa yang selama ini ia sembunyikan dari kita dengan cara yang mengejutkan. Bukan untuk kita saja, tapi dia juga." Tutur Harry bijaksana.
"Ya, aku rasa nanti kita bisa lebih memberikan pemahaman yang membuatnya nyaman. Oh Merlin, aku tak pernah menyangka, Sayang. Lily bisa bermain piano sekaligus bernyanyi dengan begitu indah. Aku bahkan tak paham tentang musik. Ahh, aku bangga dengan putriku."
Tanpa berkata apa-apa, Harrypun menyiratkan hal yang sama dengan Ginny. "Akupun. Dan aku pikir, kita harus mendukung bakat Lily itu, Sayang." Harry membuka pintu kamar mereka. Mempersilakan Ginny masuk terlebih dulu.
"Eh, tapi aku sudah bilang, aku tak paham urusan musik, Harry. Bagaimana?"
"Kau tenanglah, sedikit banyak aku tahu. Ya, walaupun aku sendiri tak bisa bermain piano. Tapi aku akan berusaha membuat bakat Lily ditangani lebih tepat." Dan malam itu sungguh jadi malam yang luar biasa, dengan rasa bangga dari kedua orang tua yang berbahagia itu.
Satu minggu kemudian…
"Selamat pagi Mr. Potter."
"Oh, Mr. Potter. Pagi. Ada beberapa laporan yang sudah saya letakkan di meja Anda."
Satu persatu wajah-wajah pegawai Kementrian menyapa Harry dengan sopan. Bahkan Harry sering kewalahan untuk hanya sekadar membalas ucapan 'Selamat pagi', terlalu banyak orang yang menghormatinya. Itulah mengapa terkadang Harry tak suka menjadi terkenal.
Brukk, Harry tak sengaja menabrak sesuatu. Ia yakin itu seseorang. "Maaf, Anda taka pa? Ahh Malfoy? Sedang apa kau di sini? Kau kerja? Bagian apa?" Brondong Harry dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Aneh saja melihat Draco di Kementrian.
"Hey, aku rasa kau sudah tertular dengan kecerewetan istrimu, Potter," tukas Draco dengan wajah datar. Ia membetulkan jas hitamnya yang miring akibat ditabrak Harry.
"Ow, jangan remehkan istriku, Malfoy. Kau tak tahu apa yang bisa ia perbuat kepada pria pirang yang tak jelas kedatangannya di Kementrian." Tukas Harry sama-sama pasang wajah datar.
"Dan aku tak mau tahu, Potter. Ah, mumpung bertemu dengan kau di sini Bapak-Ketua-Departemen-Auror-yang-terhormat. Tapi.. apa kau sibuk? Aku tak mau punya masalah dengan Auror seperti kau." Kini Harry dan Draco sedikit menepi menghindari banyaknya pegawai yang baru saja datang. Lalu lintas kementerian sedang padat-padatnya.
Harry sudah menggeret Draco menuju kantornya, "ah, kau manis sekali seperti anakmu. Siapa? Scorpius, ya. Aku sudah ajak kau ke ruanganku, artinya akan ada waktu untukmu dan aku membicarakan sesuatu sekarang. Karena memang aku tak tahu ada apa," Harry tertawa dan Draco hanya diam saja.
'Orang ini tidak pernah asik diajak bercanda,' batin Harry.
"Ngomong-ngomong soal anak, kau tahu? Aku binggung waktu Scorpius menuliskan surat saat ia bilang ada nama Potter yang masuk Slytherin. Ya, dan aku ingat pasti anak yang mirip sekali denganmu itu saat di King's Cross. Ow.. bukankah ini sejarah, Potter?"
Ya, Al masuk Slytherin. Slytherin yang baru. Imagenya sudah lebih baik jauh seperti saat Harry masih bersekolah dulu. Dan seperti yang pernah dikatakannya untuk Al, Harry tidak akan marah dengan asrama apa yang diterima oleh anak-anaknya. Bahkan Slytherin sekalipun.
"Haha, memang kenapa? Al suka dengan asrama barunya. Oh ya, Al juga bercerita kalau anak Malfoy tak separah yang selama ini Ron selalu ceritakan. Dia bilang anakmu kalem," Harry berdiri dari tempatnya dan mengambilkan minuman untuk mantan rivalnya itu.
Draco mengingat ada satu nama yang disebutkan Harry, "Kau bilang apa? Ron?"
"Iya, Ron masih sulit sekali melupakan permusuhan kita selama sekolah. Tapi tenanglah, Al dan anak-anak lain tak terpengaruh sama sekali. Toh nyatanya anakmu baik-baik saja," kata Harry coba meyakinkan. Ia sudah membuka beberapa berkas yang tertumpuk di mejanya.
"Sebisa mungkin aku tak menanamkan nilai-nilai buruk pada Scorp. Aku ingin ia jadi anak yang lebih baik dari aku. Aku sedang berusaha, Harry."
Harry. Draco memanggil dengan nama Harry. Bukan marga Potter. Ini luar biasa, "dan kau berhasil. Sebisa mungkin aku juga berusaha tidak menanamkan atau sekadar bercerita tentang ya.. perselisihan kita dulu pada anak-anak. Aku tak mau hubungan buruk kita dulu menurun pada anak-anak." Tutur Harry diikuti anggukan kepala Draco, setuju.
Ya, semuanya sudah berubah. Ini yang seharusnya terjadi dulu. Akan nyaman tanpa perselisihan. Duduk berhadapan sebagai sahabat, pria dewasa dan ayah dari anak-anak mereka.
"Oh, ya, sampai lupa dengan urusanmu. Kau sedang apa di Kementrian, Drac?"
Draco menegak wiskynya. "Ah iya, sorry Harry. Sebenarnya aku mau mengurus surat-surat kepemilikan benda-benda sihir antik peninggalan keluargaku. Kau tau sendiri bagaiman Kementrian ikut andil mencatat siapa saja yang akan bertanggung jawab jika benda-benda abnormal itu berbuat ulah. Akan lebih ringan hukumannya jika mereka tahu namaku sebagai pemilik hak warisnya."
Harry meletakkan berkasnya dan tertawa mendengar penuturan Draco. Ya, sekarang ia yakin Draco Malfoy sudah berubah. "Ya, aku paham. Kau bisa ke tempat Pendataan Benda-benda Sihir. Dan ahh kau sudah nyasar ke Auror, Draco."
"Kau yang menyeretku. Yahh paling tidak aku sudah berurusan dengan Auror sebelum aku benar-benar ditangkap karena lemari penghilang, teko yang bisa mencabik wajah atau bahkan piano yang bisa merobek gendang telinga tahanan Azkaban." Kini Draco benar-benar tertawa dengan leluconnya sendiri. "Terima kasih sudah menemaniku mengobrol meski aku yakin aku sudah mengganggu pekerjaanmu, Potter." Keduanya kini sudah berdiri menuju pintu ruangan Harry.
"Tak apa, senang bisa bertemu denganmu. Oh, ya. Kau tadi menyebut piano, kau tahu harga piano?" tanya Harry menahan pintunya.
Draco menatap Harry tak paham, "piano? Kau mau menyanyi seperti Celestina Warbeck?" Draco sudah melihat tangannya di depan dada dengan sorotan mata abu-abunya. Harry jadi teringat dengan penyanyi Celestina Warbeck, satu-satunya penyanyi yang diidolakan Ron. Tidak ada penyanyi lain yang ia kenal selain Celestina Warbeck. Harry pernah mendengar suara penyanyi berkulit gelap itu saat ia masih di Hogwarts. Itupun karena Ron. Dan Harry mengakui kehebatan suara penyanyi itu.
"Yang pasti tak akan menguras isi brankasmu, Potter. Aku pergi. Thanks untuk hari ini."
Ya, tidak akan menguras uangnya juga. Akhir-akhir ini ia sering berpikir untuk membelikan Lily piano. Tekatnya semakin kuat tiap kali melihat putrinya itu berlatih piano di sekolah. Melihat Lily semakin serius dengan hobinya itu, Harry sering tidak tega ketika ia melihat Lily menghabiskan waktu pulang sekolahnya untuk berlatih piano di gedung musik sekolah.
Harry sering mendapati Lily bermain piano saat ia menjemput ke sekolah. Harry akan menunggu Lily menyelesaikan permainannya sebelum mengajaknya pulang. Terkadang Harry juga sengaja mengulur waktu menjemput Lily untuk memberikan waktu putrinya itu berlatih.
Harry rasa sudah saatnya ia membelikan apa yang dibutuhkan Lily.
"Ms. Greyson pasti bisa membantuku." Pekik Harry mengingat nama seseorang yang pertama kali mengatakan bakat baru di diri Lily.
Yups, cukup untuk chapter 7. Untuk cerita chap selanjutnya, ternya masih ada yang disembunyikan Lily dari orang tuanya loh. Apakah itu? Dan berhasilkah Harry mendapatkan sesuatu yang diinginkan Lily selama ini? Ditunggu chapter selanjutnya ^_^
