Menyadari bahwa orang yang kau sayangi telah pergi adalah hal yang menyakitkan. Tapi pada dasarnya kehidupan adalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Tentang kehidupan dan juga kematian...

KONOHA VILLAGE

Chapter 6. Korban Bullying.

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Drama/Mysteri/Humor/Horror/Romance/Fantasi

Rating : T

Warning : AU/OOC/ Typo/ genre tiap chapter mungkin berbeda/ Update tidak menentu.

.

.

.

Naruto mengayuh sepedanya dengan cepat. Cuaca hari ini benar-benar tidak mendukung aktivitasnya. Dimana matahari menyongsong begitu terik padahal waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Sesekali Naruto berhenti di bawah pepohonan untuk sekedar berteduh dari terik matahari.

Sudah Naruto duga sekolah di pusat kota itu ide yang buruk. Di hari pertama saja dia sudah sesial ini apalagi besok dan seterusnya. Tapi tidak ada gunanya juga merutuki hal itu. Mari lihat sisi baiknya, Naruto sudah mendapat teman baru di hari pertamanya sekolah. Dan yang lebih baik lagi adalah ia masih tetap satu sekolah bersama Sakura dan Sasuke.

Setelah beberapa menit akhirnya Naruto tiba di gerbang desa Konoha. Ia memutuskan untuk menuntun sepedanya sampai ke rumah. Saat Naruto lewat di depan rumah Sakura. Terlihat gadis Pinky tersebut tergesa-gesa keluar dari rumah.

"SAKURA-CHAN!"

Naruto akhirnya memanggil Sakura sebelum gadis itu pergi lebih jauh. Sakura membalikkan badannya. Tampak raut kesedihan di wajah gadis itu.

"Naruto, apa kau baru pulang?"

Sakura sudah sampai di rumah sekitar 30 menit yang lalu. Dan 20 menit setelahnya, ia mendapat kabar mengejutkan dari tetangganya yang kebetulan lewat di depan rumah Sakura.

"Iya, aku baru mau pulang."

Melihat dari jawaban Naruto, tampaknya dia masih belum tahu kabar buruk yang menimpa sahabat sekaligus tetangganya itu.

"Naruto, ada kabar buruk," ucap Sakura lirih. Naruto menatap Sakura dengan penuh tanya. Dilihat dari raut wajah Sakura sepertinya kabar ini memang benar-benar buruk. Naruto diam, menunggu kata-kata selanjutnya dari Sakura.

"Mikoto-baasan... telah meninggal."

Naruto terdiam beberapa saat, butuh waktu beberapa detik bagi Naruto untuk menerima informasi yang mengejutkan ini. Sejurus kemudian ia melepaskan sepedanya begitu saja dan berlari secepatnya menuju rumah Sasuke.

Perasaannya berkecamuk saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dikepalanya. Mikoto sudah Naruto anggap seperti ibunya sendiri. Naruto merasakan kasih sayang seorang ibu hanya dari Mikoto. Jika perasaannya saja sehancur ini, bagaimana dengan Sasuke dan Itachi? Naruto bahkan tidak bisa membayangkannya.

Naruto tiba di depan rumah Sasuke. Banyak orang berkerumun disana, tampaknya para tetangga penasaran dengan apa menimpa keluarga Uchiha yang satu ini. Tepat di depan pintu rumah Sasuke, dipasang garis polisi dan di dalam sana ada beberapa polisi yang sedang melakukan penyelidikan.

"Katanya dia meninggal seperti Uchiha yang lain."

"Benar-benar mengerikan!"

"Ini namanya pembunuhan berantai kan? Seraam!"

Terdengar beberapa orang yang berkerumun sedang membicarakan apa yang terjadi. Tapi Naruto tidak peduli dengan itu, yang harus ia lakukan sekarang adalah menemui Sasuke dan Itachi. Tapi Naruto tak menemukan mereka dimana pun.

Grep!

Seseorang mencengkram pergelangan tangan Naruto dan menariknya dari sana.

"S-sakura, dimana Sasuke dan Itachi? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mikoto-baasan bisa-"

"Ikut saja aku, Naruto!" potong Sakura yang terus menarik Naruto menuju suatu tempat.

Mereka pun tiba di depan Rumah Sakit Konoha. Sekarang Naruto mengerti kenapa Sakura membawanya ke sini. Mereka berjalan dengan cepat menyusuri setiap lorong rumah sakit untuk menuju ruang jenazah.

Mereka akhirnya bertemu dengan Sasuke dan Minato yang sedang termenung di depan ruang jenazah di temani beberapa polisi yang bertugas menjaga mayat Mikoto agar tetap aman sampai waktunya di otopsi.

Mereka sedang menunggu keputusan Fugaku untuk menandatangani surat izin melakukan otopsi pada mayat Mikoto.

"Sasuke!" panggil Naruto. Pria berambut raven itu hanya diam, sorot matanya terlihat nanar. Jelas sekali kalau Sasuke sangat terpukul dengan kejadian ini.

"Tou-san! Apa yang sudah terjadi? Kenapa ini bisa terjadi?!"

Minato memegang kedua bahu Naruto kemudian menyuruhnya duduk. "Tenanglah, Naruto."

"Tenang? Bagaimana bisa aku tenang? Kenapa ada polisi yang memeriksa rumah Sasuke?! Apa yang sudah terjadi?!" racau Naruto lagi. Pandangan mata Naruto menatap lurus pada pintu yang berada tepat di depannya. Ia pun berdiri dan melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan tersebut.

"Aku ingin melihat Mikoto-baasan, untuk terakhir kalinya," ucapnya kemudian memutar kenop pintu dan memasuki ruangan tersebut. Minato pun ikut masuk untuk menemani Naruto.

Sementara itu Sakura mencoba mendekati Sasuke. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Apa yang bisa ia lakukan untuk Sasuke?

"Sasuke..."

Sakura kemudian duduk disamping Sasuke. Namun pria itu masih tetap diam.

Grep.

Sakura menggenggam salah satu tangan Sasuke. Ia berharap Sasuke bisa membagi kesedihannya melalui genggaman tangannya. Sakura tahu ini menyakitkan tapi Sasuke tidak sendirian, masih ada banyak orang yang akan membantunya melalui kesedihan ini.

Sasuke masih tetap diam dengan tatapan kosong. Sakura tahu, Sasuke pasti kesulitan mengekspresikan kesedihannya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menarik tubuh Sasuke ke dalam pelukannya.

"Hiks, kau harus kuat, Sasuke.." Sakura mencoba menenangkan pria yang sudah ia kenal sekitar 3 tahun yang lalu itu.

Tes.

Setetes air yang keluar dari pelupuk mata Sasuke membasahi bahu Sakura. Ia pun cepat-cepat menghapus jejak air mata di pipinya dan melepaskan pelukan Sakura.

"Aku bersumpah akan membalas siapapun yang sudah membunuh ibuku!"

Sebuah kalimat akhirnya keluar dari mulut Sasuke. Kalimat yang dingin dan penuh dengan amarah.

.

-Konoha Village-

.

Itachi kini sedang berada di kantor polisi bersama sang ayah. Ia tengah memberikan laporan bahwa ibunya sempat meneleponnya sekitar pukul 10 pagi saat ia sedang presentasi klub.

Kematian Mikoto diperkirakan terjadi sekitar pukul satu siang. Dan ditemukan oleh Fugaku yang pulang sekitar pukul 3 sore. Mikoto tergeletak lantai dapur dengan leher berdarah layaknya tersayat pisau dan tak jauh dari tubuhnya terdapat pisau dapur yang diduga menjadi senjata, baik itu bunuh diri maupun pembunuhan.

Sampai detik ini, pihak kepolisian belum bisa menetapkan status kasus ini menjadi kasus pembunuhan karena kurangnya bukti dan saksi mata. Maka dari itu kali ini mereka harus benar-benar teliti dan menemukan bukti walaupun secuil.

"Apa beberapa hari sebelumnya ada orang mencurigakan?" tanya Yakumi yang kini bertugas menginterogasi Itachi.

"Tidak ada sama sekali."

"Lalu, apa kau tahu apa yang biasa ibumu lakukan sekitar pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang?"

"Jam 7 pagi biasanya Kaa-san membereskan meja makan dan dapur bekas sarapan. Setelah itu biasanya dia menyiram tanaman di halaman. Lalu pergi ke pasar untuk makan siang, jika dia tidak pergi ke pasar maka biasanya ia menonton tv dan sekitar pukul 11 biasanya ibu memasak hingga pukul 12. Dan makan siang di jam 1 siang," jelas Itachi. Yakumi tampak sibuk mencatat semua yang Itachi katakan.

Karena Mikoto hanya sendirian di rumah, maka informasi Itachi sangatlah penting untuk melanjutkan penyelidikan.

Berdasarkan informasi dari tim penyelidik, di meja makan tampak kosong dan tidak ada tanda-tanda kalau Mikoto sedang memasak. Maka timbul kemungkinan jika Mikoto tersayat lehernya sebelum ia memasak pukul 11. Itu artinya selama lebih dari 2 jam Mikoto menahan sakit di lehernya hingga ia mati kehabisan darah.

Jika Mikoto bunuh diri, kemungkinan besar dia menelepon Itachi untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Tapi jika Mikoto dibunuh, itu artinya Mikoto berusaha meminta bantuan, atau berusaha memberi tahu sesuatu pada Itachi. Tapi kenapa harus Itachi yang sudah jelas sedang sekolah? Kenapa Mikoto tidak menelepon Fugaku saja? Pasti ada alasan dibalik semua itu.

"Aku yakin sekali, Ibuku tidak mungkin bunuh diri," ucap Itachi.

"Kita harus menunggu hasil otopsi untuk mengetahui kebenarannya. Kau boleh pergi sekarang, kami turut berduka cita atas kejadian ini," ucap Yakumi di akhir interogasinya.

.

-Konoha Village-

.

Keesokan harinya, Naruto mengayuh sepedanya dengan gontai. Sama seperti kemarin, lagi-lagi dia harus berangkat sekolah seorang diri. Sasuke dan Itachi tidak pergi ke sekolah karena harus mengikuti penyelidikan lebih lanjut. Sedangkan Sakura sudah pergi terlebih dahulu menggunakan kereta.

Naruto memarkirkan sepedanya di tempat biasa. Kemudian ia berjalan menuju kelasnya yang ada di salah satu lorong.

Sesampainya di kelas, hampir semua murid sudah mengisi tempat duduk mereka karena bel masuk pun sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Semua murid tampak sedang membicarakan musibah yang menimpa Sasuke. Entah siapa yang pertama kali mencetuskannya, yang jelas kabar itu cepat sekali beredar bahkan di kalangan kelas 2 dan kelas 3.

"Benar-benar menyeramkan! Aku jadi ingin pindah dari Konoha! Desa itu sekarang sudah tidak aman, tapi ibu dan ayahku bersikeras untuk menetap disana."

Terdengar suara Ino ketika Naruto berjalan menuju kursinya yang berada tepat di belakang Sakura dan Ino. Amaru juga sudah datang, ia terlihat sedang bergosip dengan kedua wanita itu.

Tak lama seorang guru pun datang dan mereka pun mulai belajar seperti biasa.

Hinata menatap tempat duduk kosong di sampingnya. Meskipun tidak ada yang memberitahu Hinata secara langsung, tapi hampir semua teman sekelasnya membicarakan Sasuke yang kehilangan ibunya. Ada yang bilang ibunya bunuh diri, ada juga yang bilang ibunya dibunuh.

Hinata jadi teringat tentang ibunya. Saat itu Hinata masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari kehilangan. Tapi jika ia memikirkannya sekarang, rasanya menyakitkan. Ketika semua anak menangis di pelukan ibunya, Hinata hanya bisa memeluk lututnya sendiri di dalam kamar. Ketika semua anak perempuan diajarkan berbagai hal oleh ibunya, Hinata harus berjuang seorang diri untuk membentuk kepribadiannya sendiri. Tanpa sosok seorang ibu yang bisa mengarahkannya.

Tanpa Hinata sadari, saat ini tiga orang siswi tengah tersenyum penuh kemenangan melihat Hinata.

"Benar-benar hari yang beruntung bagi kita," ucap seorang gadis berambut merah.

.

.

.

Bel istirahat pun berbunyi. Sakura, Ino dan Amaru pun mengajak Hinata untuk makan siang bersama. Hinata pun menurut saja dan ikut bersama mereka menuju kantin. Sedangkan Naruto hanya menitip makanan saja pada Sakura. Ia tidak mau keluar kelas saat ini. Dari awal, Naruto memang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.

Mereka berempat duduk disalah satu meja kantin.

"Oia, Hinata, kau ikut klub apa?" tanya Ino memulai pembicaraan.

"Sepertinya aku akan ikut klub memasak saja. Kalau kalian ikut klub apa?" tanya Hinata.

"Aku dan Sakura ikut klub cheerleader! Kita berdua akan menyemangati Sasuke yang ikut klub basket!" ucap Ino antusias. Sakura tampak mengangguk meng-iya-kan. Wanita itu memang tidak bisa ditebak ya, kemarin mereka bertengkar memperebutkan kursi. Dan hari ini mereka tampak akrab seperti sahabat yang sudah lama bersama.

"Kalau kau?" tanya Sakura pada gadis berambut cokelat yang terlihat agak tomboy tersebut.

"Entahlah, tidak ada yang menarik menurutku," sahut Amaru.

"Aku permisi ke toilet dulu ya," ucap Hinata sambil berdiri dari duduknya.

"Mau kami antar?" tanya Ino.

"Tidak usah, kalian lanjutkan makan saja," Hinata pun buru-buru pergi ke toilet yang letaknya tak jauh dari kantin.

"Kenapa sih perempuan selalu berbondong-bondong datang ke toilet?" tanya Amaru.

"Memangnya kenapa? Lagian kau juga perempuan kan!" jawab Ino.

"Iya, tapi aku tidak seperti kalian."

"Yah, kau memang tidak seperti perempuan sih," sahut Ino.

"Apa katamu?!"

.

.

.

Hinata masuk ke dalam toilet, disana tampak kosong. Ia pun masuk ke salah satu bilik toilet. Setelah selesai buang air kecil, Hinata berniat keluar. Namun begitu Hinata membuka pintu...

Hah?

Kenapa pintunya tidak bisa di buka?

Hinata mencoba menarik pintu itu lebih keras. Tapi tetap saja pintu itu tidak bisa dibuka.

TOK..TOK..TOK!

"Halo? Ada orang diluar?!" tanya Hinata sambil menggedor pintu toilet tersebut.

BYUURRR!

Tiba-tiba saja segelontor air turun dari atas bilik toilet yang atasnya tidak tertutup.

"AKKHH!" Hinata menjerit kaget bajunya basah kuyup dan kotor. Sepertinya air itu bekas air pel atau semacamnya.

Kemudian selembar kertas dilemparkan oleh seseorang dari luar. Hinata memungutnya dan membaca tulisannya.

ITU PERINGATAN PERTAMA UNTUKMU! MENJAUH DARI SASUKE ATAU KAU AKAN DAPAT YANG LEBIH BURUK!

Kenapa mereka melakukan ini pada padaku? Inikah yang dimaksud ayah? Apa seharunya aku tetap diam dirumah untuk selamanya? Apakah aku memang tidak pantas berada didunia luar?

Hinata meremas kertas tersebut. Air matanya jatuh tanpa ia suruh. Ia terduduk di toilet sambil meremas baju seragamnya yang kotor.

Seketika Hinata teringat pada seorang pria kecil yang pernah ia temui di depan kuil. Seseorang yang membuat Hinata semangat menjalani hidupnya. Dia adalah teman pertama Hinata.

Saat itu Hinata kabur dari rumah karena selalu dilarang main diluar mansion. Saat pengasuhnya lengah, Hinata pergi keluar mansion secara diam-diam. Karena ia tidak tahu harus kemana, ia pun memutuskan untuk pergi ke kuil tempat biasa ia dan keluarganya mendoakan mendiang ibunya.

Hinata yang saat itu berumur sekitar 5 tahun bersimpuh di dalam kuil sambil menangis tersedu-sedu. Ia bermaksud mengadukan segala keluh kesahnya pada sang ibu.

"Kaa-chan, kenapa aku tidak boleh main diluar mansion bersama teman-teman yang lain? Ayah selalu melarangku untuk dekat-dekat dengan orang lain. Aku kan juga ingin bermain di taman, ingin bermain sepeda di jalanan desa, aku juga ingin bermain bersama yang lain. Hikss... seandainya Kaa-chan ada disini, apa Kaa-chan juga akan melarangku seperti Tou-san?"

Saat tengah asyik bercerita, muncul seorang anak dari balik meja yang biasa digunakan untuk menyimpan persembahan.

"KYAAA!" Hinata terlonjak kaget dan segera merangkak mundur dari tempatnya duduk tadi.

"Jangan takut, aku bukan hantu, hehe," ucapnya sambil memperlihatkan cengiran lebar.

"Si-siapa kau?!" tuding Hinata.

"Aku Naruto, namaku Namikaze Naruto. Tadi aku sedang mencari makanan persembahan tapi ternyata hari ini tidak ada yang bawa makanan," ucap Naruto kecil yang kini duduk berhadapan dengan Hinata.

"Kenapa kau memakan persembahan? Itu kan makanan untuk orang yang sudah mati?" tanya Hinata.

"Tidak! Ayahku bilang orang mati tidak butuh makanan seperti kita! Oia tadi aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu. Jadi apa benar kau dilarang bermain dengan anak-anak lain?" tanya Naruto antusias. Hinata menundukkan kepalanya lalu mengangguk sedih.

"Jangan sedih, aku yakin ada alasan di balik semua itu! Aku juga tidak jauh beda denganmu. Bahkan lebih buruk. Aku diizinkan bermain oleh ayahku tapi tidak ada anak yang mau bermain denganku. Malah sebaliknya, orang tua mereka tidak mengizinkan aku bermain dengan mereka. Mereka bilang aku ini anak iblis," jawab Naruto. Hinata terperangah, kini ia menatap Naruto yang sedang bercerita. Tampak kesedihan diwajahnya, namun pria kecil itu tetap berusaha riang.

"Tapi aku tidak boleh menyerah! Kau juga ya, suatu saat kita pasti akan punya teman! Bagaimana kalau sekarang kita berteman? Namamu siapa?" tanya Naruto lagi. Hinata tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Naruto.

"Namaku..."

"Rupanya kau disini," ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan menarik Hinata untuk pulang.

"Tunggu! Lepaskan aku! Aku mau bermain dengan Naruto!" Hinata mencoba berontak, namun pegangan orang dewasa jelas lebih kuat dari tenaganya. Hinata hanya bisa menatap Naruto yang semakin menjauh.

"JANGAN SEDIH! KITA PASTI AKAN BERTEMU LAGI!" teriak Naruto.

*Flasback off*

Hinata menyeka air matanya. Dia harus bangkit dan tidak boleh merepotkan orang lain terus!

Hinata mendongkak ke atas. Ada celah untuk keluar karena bagian atas bilik tidak tertutup. Hinata pun menaiki toilet dan mencoba memanjat bilik.

Diluar dugaan, toilet itu ternyata licin dan membuat Hinata terpeleset.

"KYAAA!"

BRUKKK!

Karena ruangan toilet itu sempit, dahi Hinata pun menabrak tembok bilik. Perlahan-lahan kesadarannya mulai memudar.

"Tidak.."

"Aku..." semakin memudar.

"Tidak boleh..." hingga akhirnya menghilang.

Irish lavender yang sempat menutup itu kini terbuka lebar. Hinata menggosok dahinya yang terasa nyut-nyutan.

"Aduuh! Saakiitt!"

Setelah sakitnya mereda Hinata berkacak pinggang dengan kesal.

"ARRGGHH! Benar-benar sialan gadis ini! Kenapa dia membawaku pada situasi sial begini?! Dahi memar, baju kotor, terkunci di kamar mandi pula!" gerutu Hinata.

Hinata pun mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu toilet yang terkunci itu.

DUAAAKKK!

Dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka dan mematahkan gagang lap pel yang digunakan untuk menahan pintu.

DUAAKKHH!

Hinata menendang ember yang berada tak jauh dari sana, sepertinya ember itu digunakan untuk menyiram Hinata tadi.

Braaakk!

Hinata membuka pintu kamar mandi dengan kasar dan berjalan keluar dari sana menuju kelas. Satu hal yang Hinata yakini, pembullynya pasti teman sekelasnya.

Tanpa sengaja ujung mata Hinata menangkap sesosok makhluk yang bersembunyi di balik tiang yang tak jauh dari toilet. Hinata pun berjalan mendekatinya.

"Hei kau!"

Wanita berambut panjang itu pun menyembulkan wajahnya dari balik tiang.

"A-aku akan pergi sekarang," ucapnya.

"Jawab pertanyaanku! Siapa yang mengunciku di toilet?!"

"I-itu, tadi aku melihat wanita berambut pirang dan berambut merah," ucapnya sambil waswas. Hinata lalu berbalik menuju kelasnya.

Tak jauh dari sana Pein yang baru saja kembali dari ruang guru melihat apa yang dilakukan Hinata. Dia tampak bicara pada tembok. Tidak bukan tembok. Hinata pasti bicara pada Hantu!

Pein pun membuntuti Hinata dari belakang. Neji yang melihat Pein mengendap-endap pun ikut membuntuti Pein tanpa menyadari ada Hinata di depan sana.

"Apa yang dilakukan si Pein? Apa dia akan mengintip seseorang?" gumam Neji dalam hati.

Sepanjang lorong terasa sepi, mungkin karena waktu istirahat sudah habis sejak 5 menit yang lalu. Hinata masuk ke dalam kelas yang sudah di penuhi para murid. Mereka tampak asyik mengobrol karena guru memang belum datang.

Semua mata tertuju pada Hinata yang kini penampakannya begitu absurd. Rambut dan pakaiannya basah kuyup dan kotor. Hinata juga berjalan dengan wajah kesal sambil menatap dua orang berambut merah dan pirang yang duduk bersebelahan.

Neji yang menyadari Pein mengintip kelas Hinata pun segera mengintip ke dalam kelas. Ia melihat adik sepupunya yang sedang berjalan dengan penampilan aneh begitu pun segera masuk ke dalam kelas.

Hinata kini tengah berdiri di depan bangku Sara dan Shion. Mereka berdua tampak panik, kenapa Hinata tahu kalau mereka berdua yang melakukannya?

Hinata mengangkat tangannya berniat untuk menggebrak meja Sara dan Shion. Namun sesaat sebelum tangan Hinata menyentuh meja, Hinata ditarik oleh Neji.

"Hinata, apa yang terjadi padamu? Ayo bersihkan rambutmu, kau bisa kena flu!" ucap Neji.

"Mengganggu saja kau! Sana pergi!" usir Hinata sambil menepis tangan Neji. Kata-kata yang kasar dan tegas. Itu bukan Hinata!

Neji yang menyadari itu pun segera menarik paksa Hinata untuk keluar kelas. Kalau sampai teman-teman sekelasnya tahu Hinata yang lain, ini bisa gawat!

"Ahahahah, ya ampun! Jangan pedulikan kami! Lanjutkan saja acara kalian, Hinata hanya terpeleset dan masuk ke dalam got, ahaahaha," ucap Neji kikuk sambil membekap mulut Hinata dan menariknya keluar.

Sakura, Ino dan Amaru melihat Neji dan Hinata dengan tatapan heran. Sedangkan yang lain ada yabg cekikikan membayangkan Hinata benar-benar masuk got.

Neji terus menarik Hinata menuju UKS. Itu satu-satunya tempat yang aman bagi Hinata saat ini. Pein yang masih berdiri di depan kelas Hinata pun memilih kembali ke kelasnya untuk memberi kabar pada anggota klubnya.

"Lepaskan aku, sialan!" bentak Hinata sambil terus berontak. Namun pegangan Neji begitu kuat. Sebagai pemegang sabuk hitam karate, mudah saja bagi Neji untuk mengunci tangan Hinata hingga ia tidak bisa kabur.

Neji menyeret Hinata masuk ke dalam UKS dan segera mengunci pintu tersebut. Kemudian pria berambut cokelat itu menyuruh Hinata untuk duduk.

"Apa yang sudah terjadi? Kenapa Hinata bisa seperti ini? Dan kenapa kau bisa keluar?" Neji melontarkan berbagai pertanyaan pada Hinata yang kini tengah duduk di kursi sambil melipat tangannya di dada dengan ekspresi kesal.

"Kau itu selalu saja mengganggu kehidupanku! Setidaknya biarkan aku menghirup kebebasanku sebentar! Seharusnya kalian itu berterimakasih padaku, bukan malah mengurungku seperti iblis!" balas Hinata panjang lebar.

"Berterimakasih? Padamu? Haha, yang benar saja!" Neji tertawa meledek menanggapi ucapan Hinata. Hinata mendecih kesal.

"Pakai ini," Neji melemparkan sebuah kaos OSIS Ho Akademi yang sengaja di simpan di UKS sebagai baju cadangan.

"Setelah itu kita pulang, aku akan izin dan mengatakan kalau kau sakit," ucap Neji kemudian keluar dari UKS untuk membiarkan Hinata ganti baju.

Bukannya mengganti baju seragamnya yang basah, Hinata malah berjalan sambil tersenyum senang menuju jendela. Beruntung sekali karena letak UKS ini ada di lantai satu. Hinata bisa keluar dari sana dengan mudah.

"Dia pikir aku akan menurut dan kembali ke mansion terkutuk itu? Hahhahaa, dasar bodoh!" gumam Hinata yang kini tengah berjalan di halaman luar sekolah. Ia melirik jam tangan putih yang melingkar di tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 1 siang.

Irish lavendernya melirik beberapa sepeda yang terparkir di halaman. Muncul sebuah ide di kepalanya untuk 'meminjam' salah satu sepeda itu agar bisa pergi dengan cepat mengingat Neji pasti akan mengejarnya setelah tahu Hinata kabur.

Gadis bersurai indigo itu pun membawa salah satu sepeda secara asal lalu menaikinya dan mulai mengayuhnya ke luar gerbang.

"Hei, bisa tolong buka gerbangnya?" tanya Hinata pada seorang penjaga gerbang.

"Ini kan belum waktunya pulang. Kau mau kemana?" tanya pria paruh baya tersebut.

"Aku diizinkan pulang lebih awal karna baju ku kotor! Cepat buka pintunya!" desak Hinata. Akhirnya penjaga gerbang pun membiarkan Hinata lewat.

Hinata berniat jalan-jalan di pusat kota, berbelanja ini itu sesukanya. Tapi baru saja mengayuh beberapa meter dari gerbang sekolah, Hinata baru menyadari kalau dia tidak bawa tas.

Hinata berhenti sejenak dan mengecek saku baju dan roknya. Tapi tak ada selembar uang pun disana.

Sial. Sial. Sial!

Hinata mengayuh sepedanya menuju Konoha dengan kesal. Dengan terpaksa Hinata akan jalan-jalan di konoha saja. Satu-satunya jalan yang bisa di tempuh dengan sepeda menuju konoha adalah melewati sebuah hutan.

Desa Konoha memang terletak di kaki gunung yang di kelilingi oleh pepohonan. Sebelum sampai di gerbang Konoha, Hinata melewati sebuah jalan berbatu yang menurun. Dan sialnya, sepeda yang Hinata ambil ini remnya blong.

Sepeda yang Hinata naiki pun menggelinding tanpa henti hingga memasuki desa Konoha. Hinata semakin panik karena ada beberapa orang yang berlalu-lalang di jalanan desa Konoha.

"AWAS! AWAS! MINGGIR!" teriak Hinata pada orang-orang yang ada di sekitar jalan.

"Woi! Jangan cepat-cepat dong!" gerutu para penduduk.

"WOII! AWAS! REMNYA BLONG!" teriak Hinata pada seorang pria yang sedang berjalan di depan Hinata. Pria itu berbalik ke belakang dan...

Tap!

Hinata sedikit terdorong karena sepedanya berhenti mendadak. Rupanya pria itu menghentikan sepeda Hinata dengan satu tangannya.

"Kau?" tanya pria tersebut begitu menyadari wajah Hinata. Hinata sedikit kaget melihat pria tersebut.

"Hah? Kau kan..."

.

-Konoha Village-

.

Neji mengetuk pintu UKS berkali-kali. Namun tak ada jawaban dari Hinata yang ada di dalam. Rasanya sudah 5 menit Neji meninggalkan Hinata untuk ganti baju, seharusnya Hinata sudah selesai. Neji pun membuka pintu UKS tersebut dan...

"ASDFGHJKL! Akan ku pukul kepala gadis itu dengan tongkat bisbol!" gerutu Neji kesal. Lagi-lagi Neji kecolongan. Hinata kabur lagi lewat jendela!

.

.

.

TBC

Huaa, maaf baru bisa update sekarang, waktu luang semakin menipis T.T

Untuk yang bingung tentang ringtone HP Itachi dan kenapa mereka di bilang penipu akan di jelaskan chapter depan di behind the scene nya akatsuki bikin video ya XD

Dan untuk romance-nya harap bersabar ya XD

Maaf gak bisa bales review satu per satu. Selain waktu yg mepet, jariku juga sudah keriting menulis ini semua. Ngetik ngebut karna ide takut keburu kabur -_-

Terimakasih untuk semua yang sudah mereview, memfav dan memfol fict ini. Di tunggu review selanjutnya yaa ^_^