Heart Chapter 7
Pair : KyuHyuk, HaeHyuk, KyuMin, MinHyuk, DPL #bisa berubah kapan aja~
Genre : Drama, Hurt/Comfort?
Rate : T
Summary :
"Mengharap apa yang takkan bisa kau dapat. Salah kah?"
Author POV
Selepas ujiannya selesai, Kyuhyun kembali menghabiskan seluruh waktu 'luang'nya untuk Eunhyuk. Dan karena uang bulanan dari orangtuanya sudah turun Kyuhyun juga menyudahi kerja sambilannya membuat waktunya untuk menemani Eunhyuk bertambah. Meskipun rutinitasnya tak sepadat dulu berkat Sungmin, tetapi Kyuhyun tak mau berleha-leha dengan bantuan namja kelinci itu.
"Sarapan untuk Hyukkie sudah selesai, Sungmin-ah?" namja ikal itu tak menyadari gerakan kecil bahu Sungmin yang mendengar suara baritonnya.
"Ne, dan obatnya sudah kusiapkan juga." Balas Sungmin sambil mengeringkan tangannya yang basah, "Apa air minumnya kurang?"
Kyuhyun menggeleng singkat, "Anniyo, Hyukkie tidak banyak minum. Dua gelas sudah cukup." Sebelum tubuh tegapnya benar benar berbalik namja itu kembali melanjutkan, "Tapi segelas susu stroberry tambahan boleh juga."
Hening melanda saat namja kelinci itu menyibukan diri dengan sebuah gelas kosong dan susu stroberry favorit adik sepupunya yang berlebihan dibeli Kyuhyun beberapa hari lalu. Sungmin membiarkan dirinya larut dalam denyut kecilnya yang menyakitkan. Ah, tak terlalu parah, hanya seperti digigit semut. Tapi semut itu menggigit jantungnya.
Entah kapan Eunhyuk akan sembuh, tapi Sungmin berharap secepatnya. Secepatnya, agar dia tak perlu lagi bertemu dengan Kyuhyun sekalipun sedikit bagian hatinya berharap sebaliknya. Langkah namja itu sedikit menggema, mengingat lantai tempatnya berdiri hanya diisi olehnya sendiri dan perabot standar yang membuat ruangan yang dilewatinya begitu lenggang. Setiap debar halusnya mengantarkan sesak nafas dan panas—serta perih— di pipinya. Dengan memejamkan mata sejenak, Sungmin menghapus semua reaksi batin dan fisiknya tadi, menggantinya dengan perasaan lain yang mampu membuat senyumnya mengembang tulus.
Hyukkie. Yah, memang namja itulah yang menghubungkannya dengan Cho Kyuhyun.
Pintu kamar Eunhyuk sedikit berderit saat Sungmin memasuki kamar bernuansa stroberry dan monyet itu. Semua itu baru terpasang seminggu terakhir ini, saat Sungmin datang dan kondisi Eunhyuk kian membaik, "Hyukkie, kau mau susu stroberry lagi?"
"Ne! Hyukkie mau, hyung!" serunya riang, seriang saat namja itu melihat Sungmin di depan daun pintu kamarnya.
Sebenarnya, suasana canggung begitu terasa. Baik Kyuhyun dan Sungmin tidak saling berinteraksi, hanya dengan Eunhyuk mereka berbicara, seolah mereka berada di tempat yang berbeda tetapi menghadapi orang yang sama. Kyuhyun mungkin tidak menyadarinya karena senyum manis Eunhyuk —juga amukan atau igauannya yang berkurang drastis seminggu ini—. Setelah mereka memastikan Eunhyuk aman dengan mainannya, Sungmin dan Kyuhyun memilih meninggalkannya sendirian di kamar.
"Sungmin-ah." Panggil Kyuhyun sebelum namja manis itu melangkah terlalu jauh, "Gomawo." Ucapnya tulus. Sungmin berhenti sejenak, mendengar kelanjutan kalimat Kyuhyun, "Terimakasih, kau sudah membantuku menjaga Hyukjae."
'Lagi-lagi– Hyukkie.' Tangannya mengepal, namun kepalanya mengangguk. Dengan wajah yang sudah dibuat senormal mungkin Sungmin menoleh, "Ne, sama-sama, Kyuhyun-ah."
Dan itulah pertama kalinya, Cho Kyuhyun melihat setetes embun bersarang di kelopak mata Lee Sungmin.
x.x.x
Dua minggu berlalu dengan cepat, dan sampai hari ke-15 Sungmin tinggal di kediaman Cho ini sungguh tak terasa. Ditambah perkembangan Eunhyuk yang bisa cepat beradaptasi dengan beberapa hal baru di sekitarnya seperti kehadiran Changmin yang berkunjung sesekali seminggu terakhir ini direspon baik oleh namja manis itu. Sungguh hal yang membahagian bagi Sungmin dan disyukuri Kyuhyun. Sejak kedatangan Sungmin, tak pernah sekalipun kondisi Eunhyuk memburuk. Dan bagai jadwal rutin, ini kali ke tiga mereka sekedar berkunjung ke taman kota di dekat rumah Cho Kyuhyun.
"Kau mau es krim coklat, Hyukkie?" tanya Sungmin pada Eunhyuk yang sibuk dengan bunga-bunga liar di sekitar tanaman yang membentuk pagar-pagar kecil di sana.
"Stroberry?" manik Eunhyuk berbinar penuh harap, Sungmin tersenyum maklum dengan sikap kekanakan Eunhyuk yang belum hilang, "Rasa stroberrynya habis, Hyukkie. Jadi, kau mau coklat?"
Eunhyuk berfikir sejenak lalu mengangguk pasrah. Sebelum Sungmin memberikan es krim yang ada di belakang punggungnya pada Eunhyuk, Kyuhyun datang dengan plastik kecil di tangannya.
"Susu stroberry?" tanya Eunhyuk dengan mata berbinar. Kyuhyun mengangguk, "Habiskan dulu es krimmu, Hyukkie. Kalau dibiarkan nanti meleleh."
Dua namja bermarga Lee dan cho itu tersenyum melihat Eunhyuk memakan cemilannya dengan lahap. Pipi tirus Eunhyuk mulai terlihat berisi meski belum se-chubby dulu. Hal itu tentu membuat Kyuhyun dan Sungmin lega, mengingat betapa sulitnya Eunhyuk makan barang sesendok saja beberapa bulan lalu.
"Hyung, setelah ini boleh Hyukkie makan cake stroberry?" pertanyaan polos Eunhyuk membuat Sungmin membelai rambut namja itu sambil mengangguk kecil.
"Ne, tapi kau harus tetap makan yang lain dan minum obat." Jawab Sungmin sambil memamerkan senyumannya.
Meski di wajahnya Kyuhyun tak menampakan senyuman seperti Sungmin, namja itu sangat senang dengan kondisi Eunhyuk yang sekarang. Sesekali namja itu melirik dua namja manis di sebelahnya yang asik mengobrol dan bercanda tawa.
Saat beberapa anak kecil yang sedang bermain riang berlarian di depan Eunhyuk yang sedang membuang kotak bekas susu stroberrynya, mendadak sepercik kenangannya timbul. Sosok yang hampir satu bulan dilupakannya kembali hadir dari kepingan ingatannya. Sontak hal itu membuat pandangannya berkunang dan bibirnya bergetar dengan gigi bergemelutuk menahan tangis.
"Hyukkie?" Kyuhyun menoleh saat suara Sungmin mendadak berubah sedikit bingung dan panik, "Hyukkie? Kau dengar aku, Hyukkie?"
"Ada a–" ucapan namja Cho itu terhenti saat melihat bahu Eunhyuk bergetar dan isaknya terdengar, "Hyukkie, gwaechanna?"
"Hae-ah.." lirih Eunhyuk di sela isaknya. Bibirnya kembali mengulang-ulang kata itu bak mantra penyembuh, obat lukanya.
Debaran menyakitkan kembali terasa.
Baik bagi Kyuhyun maupun Eunhyuk. Sedangkan Sungmin bertarung dengan perasaannya sendiri. Pantaskah dia merasakan sepercik rasa senang mengetahui Eunhyuk masih mengingat Lee Donghae?
'Nama itu lagi.' Batin Kyuhyun pahit, "Hyukkie.." panggil Kyuhyun lembut –namun sarat akan kepedihan tersendiri–, "Hyukkie! Lihat aku, Hyukkie.." ulang Kyuhyun sambil memegang kedua bahu Eunhyuk, "Aku di sini, bersamamu.."
'Lupakan namja ikan sial itu, Hyukkie! Dia tidak ada di sampingmu..' jerit hati Kyuhyun nelangsa, 'Dia tidak di sisimu lagi, Kim Hyukjae..'
"Kyuhyun-ah, sebaiknya kita bawa Hyukkie ke rumah. Aku sudah menghubungi Yesung hyung dan dia akan segera datang."
Jika Sungmin tidak mengingatkannya mungkin namja semampai itu akan meledak sebentar lagi. Dan sekali lagi, Kyuhyun tak menghiraukan raut wajah Sungmin. Campuran dari khawatir, cemas, takut dan–lega. Namja kelinci itu benar-benar merasa hina karena sudut hatinya memberontak, membuatnya mensyukuri nama namja di tempat antah berantah itu mengalun pilu di bibir Eunhyuk.
Ingin Sungmin menjerit, meneriakan isi hatinya saat ini. Agar pengap yang menghimpit dadanya serta beban di tubuhnya menghilang. Saat ini, memaki dirinya sendiri pun percuma. Karena dia memang tetap mengharapkan Namja Cho itu bersamanya.
x.x.x
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Yesung setelah memberi obat penenang agar Eunhyuk beristirahat setelah histeris nyaris satu jam penuh. Punggungnya bersandar pada sofa yang berhadapan langsung dengan dua namja yang tinggal serumah dengan pasiennya itu.
"Sepertinya aku tidak lupa memberi tau kalian–Jangan buat Hyukjae mengingat hal buruk." Dokter muda itu mendegus, "Itu sangat berefek pada kondisinya yang belum stabil." Yesung memijat sedikit pelipisnya mengurangi pening yang terasa, "Hubungi aku jika besok pagi Hyukjae tidak membaik."
Namja berkepala besar itu jengah juga dengan keheningan dari dua namja yang sedari tadi hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaannya atau berbasa-basi mengantarnya ke pintu depan. Maka tanpa membuang waktu, Yesung memberikan kertas berisi resep obat Eunhyuk dan berlalu meninggalkan rumah yang ditinggali tiga namja Lee, Kim dan Cho itu.
x.x.x
Jarum jam di dinding sudah menunjukan pukul dua malam. Sungmin yang tidur di sampingnya sudah terlelap. Namun kelopak mata milik Kim Hyukjae terbuka dengan sorot kosong di manik indahnya. Perlahan, tanpa membuat suara dan gerakan mencolok yang bisa membangunkan Sungmin namja manis bermarga Kim itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela besar di kamarnya. Langkahnya terhenti saat mencapai balkon kamarnya. Ah, Eunhyuk tak lupa menutup lagi jendelanya agar angin malam tidak menghampiri Sungmin dan membuatnya terbangun.
Beberapa detik pandangannya pada purnama mengabur, lalu terasa sesuatu yang lembut di pipinya. Tanpa suara, setetes air mata terjatuh disusul dengan terbentuknya anak sungai di pipi Eunhyuk. Salah satu kenangannya naik dalam benaknya, membuka memori yang sempat terkubur kebahagiaan singkatnya bersama Sungmin dan Kyuhyun. Sesak kembali menjalar, parasnya yang mulai berisi menengadah, membiarkan lelehan butir beningnya mengalir deras di kedua sisi wajahnya.
"Hae-ah.." pandangannya berubah sayu, giginya bergemeletuk dan nafasnya memberat. Kesadarannya masih terjaga, tapi jiwanya mulai terguncang. Potongan memori saat dia dan Donghae duduk berdua di bangku taman, sambil memandangi anak-anak kecil yang bermain riang tak jauh dari mereka. Namja manis itu teringat saat pandangannya begitu menikmati keceriaan anak-anak itu dengan senyum terukir lembut yang memperjelas keinginannya, untuk kelak memiliki buah hati bersama orang yang sangat dia cintai.
Dan namja itu, Lee Donghae menghapuskan gundahnya akan kekurangan terbesarnya. Kim Hyukjae juga seorang namja. Dan namja tak bisa hamil, apalagi melahirkan seorang anak. Namun dengan senyum menawannya, Donghae meyakinkan Eunhyuk bahwa dia tetap mencintai namja yang lebih cantik dari yeoja-yeoja yang pernah ditemuinya itu apa adanya.
Kini kehangatan yang pernah terasa itu menggerogotinya dalam bentuk lain. Yang Eunhyuk tau, rasa itu menyakitinya.
Perasaan yang menyiksa ini, entah kenapa tak bisa hilang. Meski raganya tak kuat lagi dengan beban yang terasa, walau kaki dan tangannya melemas kehilangan tenaga, sekalipun segala sakit itu begitu membuatnya sangat ingin meledak–nyatanya kenangan itu terus berputar menghantuinya.
Seolah berniat membunuhnya perlahan.
Angin malam tak berpengaruh pada Eunhyuk. Meski kulitnya bersentuhan langsung dengan lantai yang dingin setelah tubuh mungil itu merosot jatuh, tak mampu lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Demi menahan isaknya, bibir plum itu digigiti sampai rasa amis karat terasa di mulutnya. Nafasnya kian memburu dengan tubuh bergetar hebat. Andai ada benda tajam di sekitarnya, mungkin jemari mungil itu sudah menggapainya dan menggores sedikit saja pergelangan tangannya. Agar rasa sakitnya teralihkan, sebentar saja.
Dan sebelum keinginannya berbuah keputusan, gelap menguasainya.
'Hae-ah..'
x.x.x
"Eunhyukkie!" panik Sungmin menelusuri kamarnya saat adik sepupunya itu tak ada di sampingnya, "Eunhyukkie! Di mana kau, Hyukkie?!"
Pintu yang dibanting Kyuhyun saat mendengar suara panik memanggil nama Kim Hyukjae dihiraukan oleh Sungmin yang masih sibuk mengitari kamarnya. Dan jika namja tinggi bersurai ikal itu tidak ingat jendela merangkap pintu balkon itu terbuat dari kaca, suara benturan pasti terjadi lagi.
"HYUKKIE!" namja bermarga Cho itu nyaris lupa cara bernafas begitu melihat tubuh lemah yang tergolek di balkon itu dengan piayama tipisnya. Ditambah darah yang menghitam di lantai dan sedikit tersisa di pipi namja manis itu, sungguh tak membantu memperbaiki gejolak kalut Cho Kyuhyun.
Kyuhyun seolah disibukan dengan membaringkan Eunhyuk perlahan di ranjangnya, mengecek tubuh itu dengan teliti, berharap tak ada luka selain di telapak tangan dan bibir Eunhyuk serta kegiatan kikuk dan panik lain karena sudah cukup lama Eunhyuk tak mengalami hal seperti ini.
"Yesung hyung akan segera sampai, Kyu.." ucap Sungmin memecah atmosfer berat di ruangan itu. Tak mendapat respon dari Kyuhyun, membuat hening merajai sampai bel berdering dan Sungmin secepatnya membukakan pintu untuk Yesung.
Sang dokter menghela nafas lelah. Terakhir kali melihat kondisi Kyuhyun seperti ini –tidak mau beranjak dari tepi ranjang Eunhyuk– kira-kira tiga tahun lalu, di puncak masa kritis Eunhyuk. Yesung tau kali ini tak separah yang lalu, namun sorot khawatir dan takut kehilangan itu, benar-benar mengingatkannya pada saat namja Cho itu ikut depresi menghadapi Eunhyuk.
"Jangan membuat pekerjaanku bertambah, bocah." Sekali lagi Yesung menghela nafas, "Satu pasien 'rawat jalan' yang membuatku bolak-balik begini sudah cukup merepotkan. Kuharap dengan sangat, kau tak ikut menambah jumlah pasienku."
"Akan kucari dokter lain kalau begitu." Serak bariton Kyuhyun menyahut tanpa memandang lawan bicaranya.
Yesung memutar bola matanya malas mendengar balasan Kyuhyun, "Kalau begitu cepat minggir, Kyu. Kau mengganggu."
"Apa yang harus kulakukan, hyung?" tanya Kyuhyun parau, tubuhnya masih belum bergeser secentipun dari sisi Eunhyuk.
"Aku hanya memeriksa keadaannya, Kyu. Bukan membawanya kabur." Degus malas Yesung sambil menggeser posisi Kyuhyun, "Cepat minggir, bocah."
"Kalau Hyukjae tak bisa melupakannya, apa yang harus kulakukan, Yesung hyung?" kali ini Kyuhyun menatap lurus ke arah Yesung.
Senyum kecil terukir di paras namja jangkung itu, "Apa yang kau pilih, Kyu?"
"Maksudmu, hyung?" tanya Kyuhyun bingung, Yesung menggeleng kecil dan melanjutkan ucapannya, "Apa yang kau pilih?"
Perlahan Kyuhyun mengerti.
"Namja itu sudah meninggalkan Hyukjae, hyung. Tapi Hyukjae masih mengharapkannya." Namja ikal itu membuang tatapannya ke bawah, sibuk meneliti lantai kamar Eunhyuk.
"Mencintainya, Kyu." Ralat Yesung.
Kyuhyun mendegus mencela, "Ya." Tatapannya meredup, "Aku.. mencintainya, hyung." saat kepalanya mendongak, sinar redup itu hilang tergantikan sorot mantap penuh keyakinan–meski pilu masih terlukis–, "Aku menginginkan Hyukjae."
"Bahagiakan dia, Kyu." Yesung memejamkan matanya sejenak, "Karena apapun pilihanmu, tetap akan menyakitkan." Kelopak mata Yesung terbuka, menampilkan maniknya yang berkilat, "Setidaknya kau sempat merasa bahagia, bersamanya."
Walau hanya sejenak dan membawa luka mendalam.
Namun kebahagiaan tetap pernah kau rasakan.
Bersama dia, yang kau cintai.
Dan siapa yang ingin tau bagaimana dengan Sungmin? Ah, namja itu menangis dengan senyum miris menghiasi. Terduduk di samping pintu kamar adik sepupunya, Kim Hyukjae setelah sendengar semuanya.
The End
Wow~ ini chapter terpendek yang pernah kubuat~ OoO)b
Feel-nya kerasa ga, chingudeul ? Ini kuketik kilat barengan Chap 6 sekalian ^^)a
Dan, satu lagi~ #ancangancangkabur# mianhae akhirnya gantung~ XDa
Oke, seperti biasaa~ RnR ne, minna saan~ chingu deuul~ ^0^)/
Salam manis,
Z.U.M
