Previous :
Yuki di serang makhluk pembawa sabit yang merupakan bangsa Khaos atau yang biasa kita sebut sebagai kegelapan. Hal yang membuatnya heran adalah makhluk itu mengatakan tentang "Princess Pureblood".
Saat Yuki terdesak, tiba-tiba datanglah seekor serigala hitam yang membantunya. Di lain pihak, Ichiru pun di serang oleh makhluk yang sama tetapi ia dapat mengalahkan makhluk itu dengan jurus Moonlight Shadownya. Dan ternyata Kaname membuat Yuki pingsan untuk menjalankan rencananya.
Setelah Yuki sadar ia mengkhawatirkan serigala itu dan Zero. Ia harus mencari kebenaran!
Disclaimer : Vampire Knight © Hino Matsuri
Genre : Battle, Romance
Pairing : ZeroYuki, KanaYuki
Author : Ririn Cross (~rin_kyu~)
Warning : OOC, Zero bukan Vampire
Chapter 7 :
::THE TATTO and THE TRUTH::
~XXX~
Saat berlari di lorong, Yuki berpapasan dengan kak Ichijou, sang wakil ketua asrama.
"Yuki-chan? Kau bukannya sedang di rawat?" tanyanya heran.
"Tidak senpai, aku baik-baik saja," jawab Yuki singkat. "Aku permisi dulu," lanjutnya cepat.
Kak Ichijou mengamati kepergian gadis itu dengan sudut matanya, lalu tersenyum penuh arti, kemudian berbalik menuju ke asrama.
Setelah setengah jam berputar-putar Yuki mulai kelelahan.
"Dia dimana sih?" Yuki bertanya pada dirinya sendiri.
Yuki mengelilingi seluruh lorong sekolah yang mulai sepi. Hari menjelang sore. Yuki melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 5 tepat.
"Aku harus ke gerbang sekolah!" pekik Yuki yang langsung sadar dengan tugasnya sebagai guardian.
Sepi. Tidak ada pergantian kelas. Night Class sedang dalam masa liburan, ini karena kasus yang akhir-akhir ini menimpa Cross Academy.
Saat Yuki berbalik hendak kembali mencari Zero, tiba-tiba gerbang besar sekolah itu terbuka.
~XXX~
Lagi-lagi Ichiru merasakan sakit di lehernya. Badannya seperti terbakar. Ia bergerak ke tempat yang sepi. Ia ingin bersembunyi.
Ichiru berusaha mengendalikan emosinya, keinginannya yang tiba-tiba kuat akan darah, rasa haus yang berbeda dari manusia pada umumnya kini ada pada dirinya.
Ichiru jatuh terduduk. Sudah tidak kuat rasanya. Kurang lebih sudah tujuh tahun ia dapat mengendalikannya, tetapi sekarang ini keinginan itu semakin besar. Setelah peristiwa dua minggu yang lalu. Setelah ia mencium bau darah milik Yuki. Ia mulai tidak bisa mengendalikan diri dan sekarang…
"Arggggggggh!" jeritan tertahan keluar dari mulut pemuda itu. Ia sudah sampai pada batasnya dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mata Ichiru menjadi merah, semerah darah. Mata yang dimiliki vampire yang sedang kehausan dan ia sudah kehilangan akal.
"Cepat sekali kau berubah," tiba-tiba ada seorang gadis menegur Ichiru yang sudah bertransformasi itu. Ia menyilangkan tangannya dengan santai dan bersandar pada tembok. Ichiru yang sudah kehilangan kesadarannya tak mempedulikan siapa yang bicara padanya dan langsung menyerang.
"Cih…" Gadis itu menghindar dengan anggunnya. "Jangan terburu-buru," ujar gadis itu santai.
Ichiru yang sudah tidak bisa berpikir tak tahu apa yang dikatakan oleh gadis itu dan menyerang lagi.
"Sudah kubilang jangan terburu-buru!" gertak gadis itu, tetapi tak diindahkan oleh Ichiru. Ichiru segera menubruk gadis itu dan menggigit lehernya.
Gadis itu mengerang kecil, tubuhnya disudutkan oleh Ichiru dan kini darahnya mungkin akan dihisap habis, tetapi anehnya dia malah menikmatinya.
Tentu saja, dia kan juga vampire.
"Pemuda nakal, padahal aku memang berniat memberikan darahku untukmu. Hhm.. Bibi Shizuka yang membuatmu jadi seperti ini? Padahal kau lebih tampan saat menjadi manusia biasa," ujar gadis itu tersenyum samar sambil memainkan rambut Ichiru.
~XXX~
"Zero…." Yuki terpaku di tempat. Zero yang baru masuk dari gerbang itu pun ikut terdiam. Ia sedang berusaha menghindari Yuki, tapi kenapa malah bertemu dengan gadis itu di sini. Di saat luka di kakinya terasa amat perih dan menyengat.
Keduanya terdiam agak lama.
"Kau kemana saja? Kenapa akhir-akhir ini seperti menghindariku?" tanya Yuki langsung. Zero tak menunjukkan reaksi apapun.
"Yuki, sebaiknya kau kembali ke ruang rawat," perintah Zero dingin.
"Tidak mau!" tolak Yuki tegas.
"Cepatlah kembali, hari menjelang malam," lanjut Zero.
"Aku akan tetap disini." Yuki keras kepala.
Zero menatap Yuki tajam. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Zero dengan datar.
Yuki mendekat pada Zero kemudian ia tersenyum sejenak, senyum yang sangat manis sampai Zero terpana sesaat kemudian memalingkan muka.
"Aku hanya ingin tahu, tanda ini," tunjuk Yuki pada tanda yang ada di leher Zero. "Artinya apa?"
Zero agak terkejut, meski sudah berpuluh-puluh kali Yuki bertanya tentang tanda itu tetapi Zero masih tidak mengerti kenapa gadis itu sangat ingin tahu tentangnya.
"Ini hanya tato biasa," jawab Zero. "Sudah kubilang berkali-kali kan? Ini tanda yang diberikan oleh guruku waktu kecil dulu sebagai tanda kelulusanku sebagai vampire hunter," jelas Zero.
"Benarkah?"
"Benar. Kalau begitu cepatlah kembali!" Zero segera menggandeng Yuki karena ia tahu kalau ia tidak melakukan itu, Yuki tidak akan beranjak dari tempatnya, meskipun sebenarnya Zero juga sedang menahan sakit yang amat sangat.
"Zero kau pucat?" ujar Yuki.
"Aku tidak apa-apa. Hanya kurang tidur."
"Kalau begitu tidur denganku! Kau juga harus istirahat! Temani aku di ruang kesehatan!" ujar Yuki manja. Zero melotot. Yuki tersenyum tanpa dosa.
"Aku harus patroli."
"Kan ada Ichiru," lanjut Yuki.
"Ichiru sendirian? Kau lihat apa yang terjadi padamu tadi malam? Untung kau tidak terluka terlalu parah kan, makhluk itu sangat buas, dan tak mungkin aku membiarkan Ichiru menghadapinya sendiri," ujar Zero yang entah kenapa tiba-tiba bisa bicara panjang dan lebar.
Yuki mengernyit, langkahnya terhenti. "Jadi kau disana? Sejak kapan?"
Zero ikut berhenti, ia terdiam.
"Tidak penting! Ayo berbaringlah!" tak terasa mereka sudah sampai di ruang kesehatan yang terletak dekat dengan ruang kepala sekolah Cross Academy. Zero segera memakaikan selimut menutupi tubuh Yuki sehingga gadis itu terhalang pandangannya kemudian pemuda itu berjalan keluar walau dengan kaki masih agak timpang.
"ZERO! Jangan pergi!" teriak Yuki sekuat tenaga sampai Yuki kehilangan keseimbangan dan jatuh dari atas ranjang, kepalanya terbentur keras sekali.
Pada saat itu kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang beberapa waktu lalu terlintas dalam pikirannya kembali datang dan mulai terlihat walau samar.
Mendengar suara "gedebuk" yang tidak biasa, Zero berhenti sejenak. Suara Yuki sudah tak terdengar lagi. Pemuda itu cemas dan cepat-cepat berlari ke tempat Yuki.
Dilihatnya Yuki terduduk sambil menunduk memegang kepalanya. Darah menetes dan itu membuat Zero yang biasanya tenang agak bergetar.
"Ceroboh sekali," decak Zero tetapi Yuki sama sekali tak merespon. Ia masih dalam posisi semula. Zero mendekat. Bau itu semakin kuat menusuk hidungnya.
"Yuki.." panggil Zero pelan. Kemudian ia segera melihat kondisi Yuki. Betapa terkejutnya Zero saat melihat tatapan dingin menusuk dan mungkin lebih tegas terpancar dari sorot mata Yuki.
"Yuki…" Zero mencoba memanggil nama Yuki lagi, tetapi gadis itu tidak membalas bahkan malah ia semakin mendekati Zero dengan tanpa ekspresi. Zero tidak tahu apa yang terjadi, ia mundur sesaat tetapi dengan cepat Yuki sudah dihadapannya lagi. Tak ada taring atau apapun, hanya saja sorot mata itu menusuk dan kelam.
Yuki mendekat, memojokkan Zero ke tembok. Ia segera menyerang leher Zero tetapi sebelum ia benar-benar sempat menggigit leher Zero tiba-tiba saja kesadarannya pulih. Mata indah coklat kemerahannya kembali lagi.
"Apa yang kulakukan?" tanya Yuki, ia secepatnya mundur dan terlihat ketakutan, lalu menutupi wajahnya. Zero yang masih berada di tempat tetap tak bergeming, sangat heran dengan tindakan Yuki.
"Kau kenapa?"
Yuki tak menjawab, ia segera menutupi seluruh badannya dengan selimut dan bergelung di dalamnya. "Pergi!" teriaknya keras.
Zero terdiam tak mengerti. "Luka di dahimu?"
"Biarkan! Aku tak apa-apa!"
Zero tak mengindahkan dan berjalan ke arah Yuki. "Jangan mendekat!" teriak Yuki lagi.
"Kalau kau mendekat, aku tak akan memaafkanmu Zero!"
Tiba-tiba tanda di leher Zero bersinar, dan sedikit berkedut nyeri. Zero berhenti sejenak dan memutuskan berbalik arah. "Kalau kau butuh aku, panggil saja," ujarnya sambil menatap Yuki dengan pandangan nanar.
Yuki tak menjawab dan semakin menenggelamkan diri.
Zero menutup pintunya perlahan dan bersandar di baliknya. Matanya menerawang jauh memandang langit. Tanda itu bersinar. Nyeri? Apa maksudnya?
Zero kemudian ingat kata-kata kakeknya yang juga vampire hunter dan mengalami hal yang sama seperti dirinya.
_FLASHBACK_
"Kakek, apakah tanda itu bisa dihilangkan?" tanya Zero kecil sambil menunjuk-nunjuk tanda yang ada di leher kakeknya itu.
Kakeknya yang sedang membersihkan pistol langsung menatap Zero dan tersenyum.
"Zero cucuku, kalau kau punya tanda ini berarti kau sudah terikat," jelasnya.
"Kenapa begitu kek?" tanya Zero ingin tahu.
"Karena tanda itu permanen dan akan diwariskan pada generasi berikutnya yang terpilih," jelas sang kakek sambil menyesap kopi panasnya.
"Berarti generasi berikutnya adalah aku kek? Aku juga punya tanda itu?" tanya Zero.
Kakeknya berhenti sejenak dan menghela nafas. "Ya nak, kau yang meneruskan kakekmu ini. Ibumu tidak mungkin memilikinya, dan Ichiru, dia tidak mendapatkannya." Tiba-tiba pandangan orang tua itu menjadi murung. "Kau akan memikul tugas yang berat…"
"Tugas apa?"
Pada saat Zero menanyakan itu tiba-tiba pintu rumah kakeknya itu terbuka dan masuklah sesosok wanita anggun. Wanita itu tersenyum hangat pada Zero, ia sangat cantik walau kulitnya terlihat pucat. Kemudian wanita itu memberi isyarat pada kakek Zero untuk mengikutinya dan dengan patuhnya sang kakek membungkuk. Saat itulah tanda di leher sang kakek bersinar. Zero takjub.
"Ingat pesan kakek, kalau tanda ini bersinar berarti kau menemukan tuanmu," jelasnya kemudian pergi. Zero memandang kepergian kakeknya dengan penuh tanda tanya.
Setelah itu kakek Zero tidak pernah kembali. Menurut sepengetahuannya sang kakek meninggal dalam pertempuran antara dua klan vampire yang sama kuatnya. Setelah itupun keluarga Zero diserang vampire dan Ichiru tergigit oleh salah satu pemimpin klan vampire tersebut yang tak lain bernama Shizuka Hiou. Karena alasan itulah mengapa Zero sangat membenci kaum vampire, kecuali pada adiknya, satu-satunya keluarga yang tersisa.
_FLASHBACK END_
Zero mengacak-acak rambut peraknya. Ia sama sekali belum paham dengan apa yang dikatakan kakeknya. Tanda itu tadi bersinar dan itu terjadi bertepatan pada saat Yuki memerintahnya. Mustahil. Zero segera menggelengkan kepalanya.
Kemudian Zero baru sadar kalau wanita yang dulu menemui kakeknya memiliki paras yang sama dengan Yuki. Pantas saja Zero merasa De Javu setiap kali memandang Yuki. Astaga.
"Tidak mungkin," desis Zero sambil memegang tanda itu.
_TO BE CONTINUED_
Ada apa sebenarnya dengan tanda yang dimiliki Zero itu?
Dan mengapa tanda itu bereaksi pada Yuki yang ia ketahui hanya manusia biasa? Atau kejadian itu hanya kebetulan saja?
Sebenarnya ada rahasia apa dibalik keluarga Kiryu yang merupakan keluarga Vampire Hunter legendaris itu?
Makasih buat semua yang udah baca fic ini... aku tahu.. ini updatenya lama... tapi sekarang aku akan mulai rajin update lagi ^^
Ditunggu kritik dan sarannya ^^ RnR please...
Arigatou *deep bow
