- Quarter 7: "Free Day" -

.

.

Hari senin, hari yang paling dibenci semua murid... termasuk seorang Murasakibara Satoshi, yang tengah duduk di dalam bangunan bernama sekolah dengan teman-temannya... plus sekantung raksasa penuh snack. Taku sedang sibuk membolak balik lembaran buku setebal 5 cm yang berjudul 'MATEMATIKA'. Konomi, Hotarou, dan Reiichi tetap santai seperti biasa... Kanata dan Ryuuki yang sama sama segera membuat contekan tersembunyi di kertas kecil. Shouta tampak terlambat seperti biasa karena berkemungkinan dikejar-kejar fansnya yang makin hari makin menggila...

"... Kalian semua sedang apa...?" Tanya Satoshi polos. Kanata mematahkan pulpen yang digunakannya dan memandang Satoshi dengan tatapan horror plus tidak percaya. Ryuuki segera melipat lengan bajunya dan menyiapkan kuda-kuda berantemnya. "Kamu tidak bisa lihat? Kita sedang belajar!" omel Taku. Satoshi mengangguk pelan mengerti.

"Aku tahu kalian sedang belajar, Takuchin... Tapi kenapa kalian belajar?" lagi lagi ucapan polos dari bayi titan raksasa unggu ini keluar... Kanata menarik kerah baju Satoshi sementara Ryuuki memberikan Taku sebuah TOA.

"HARI INI KITA UJIAAAAAAAAAAN SAAAATOOOOOSHIIIIIIII!"

"...Tapi aku belum belajar, Takuchin..."

"SAMAAAAAA!" seru semuanya kompak. Jelas saja... kemarin mereka banting tulang main Street Basketball dari pagi subuh sampai malam, begitu sampai rumah, langsung tepar di kamar masing masing. Konomi, Reiichi, dan Hotarou sih tenang tenang saja... mereka ada di peringkat 3 besar. Tapi yang lainnya? Mau jadi apa rapor mereka nanti?!

.

.

.

Ujian Matematika telah dimulai. Ulangannya mengenai aljabar. Baru 15 menit pertama, Shouta yang bisa keluar hidup-hidup dari kerumunan fansnya mengibarkan bendera putih, kalah berperang melawan aljabar. Tapi jujur saja... soal yang diberikan gurunya itu soal milik SMA... mana bisa anak 1 SMP mampu mengerjakannya?! ... Oke, pengecualian untuk Reiichi...

30 menit selanjutnya, Kanata sudah sibuk mengumpat karena contekkannya nggak bisa dibaca (*nah loh... tulisan sendiri lho!*) sementara Ryuuki sudah membuat genangan pulau di lembar jawabannya yang masih putih polos. Taku sudah mulai mengacak rambut gelapnya sendiri frustasi, berharap rumus yang di hafalnya dalam sistem SKS (Sistem Kebut Sedetik) itu nyangkut sedikiiiit saja di kepalanya.

1 jam sudah berlalu... Taku sudah angkat tangan, mengibarkan bendera putih, dengan sedikit asap keluar dari kepalanya karena berpikir terlalu keras. Hotarou membalik lembar jawabannya. Ia sudah selesai, dengan 2 soal tak bisa di jawab (*itu udah bagus kali...*). Konomi sibuk memikirkan pertandingan berikutnya karena seluruh soal ulangannya sudah selesai semua... sementara Reiichi tampak sedang mengasah pisaunya setajam yang ia bisa... mau melemparnya ke arah guru yang memeriksanya kalau nilainya tidak 100.

Ara... Satoshi masih memegang alat tulisnya, masih mengerjakan soal... ini seperti keajaiban bahwa Satoshi ternyata berotak cukup encer... Namun, Satoshi tetaplah Satoshi... di lembar jawabannya, tidak ada jawaban yang tampaknya masuk akal... contohnya soal nomor 1

'2x + 4 = 2, Carilah x!'

jawaban yang seharusnya -1 itu malah di jawab dengan kalimat panjang...

'Aku lapar guruchin... aku lapaaaaaar... kenapa tidak boleh makan cake di kelas...?'

Sama sekali nggak nyambung... semoga guru yang memeriksanya diberi ketabahan atas jawaban tidak masuk akal dari mahluk ungu satu ini...

.

.


.

Bel berbunyi, tanda istirahat. Taku lantas berlari secepat cepatnya menuju kantin, markas tim HERO yang kedua setelah Maji Burger. Tapi, di tengah jalan, ia berpapasan dengan kapten tim basket yang waktu itu pernah melawannya, Yusaku Owara. Sejujurnya, Taku tidak peduli pada seniornya itu. Tapi, Yusaku tampak menghalangi jalan Taku. Taku lantas berjengit heran mendapati seniornya itu didepannya.

"Minggir. Aku mau jalan." ucap Taku menatap ke kakak kelasnya yang jauh lebih tinggi darinya yang cebol itu (ditabok Taku). Yusaku kemudian bergeser sedikit menepi, memberi jalan pada Taku. Taku kembali mengambil ancang ancang lari sprint, dan berlari meninggalkan seniornya, tanpa berbicara sepatah katapun.

.

.

"AKU TADI MATI~SSU! AKU NGGAK BISA JAWAB SAMA SEKALI~SSU! BAGAIMANA INI~SSU!" teriak Shouta memekakkan telinga. Reiichi mengelap gunting miliknya dan kemudian mengeluarkan maklumat. "Siapa saja yang mendapat nilai dibawah 70, akan kulipat gandakan latihannya" yang jelas saja disambut protes dari semuanya, minus Reiichi, Konomi, dan Hotarou yang sudah pasti dapat nilai bagus.

"Itu nggak adil!" omel Kanata sebal sambil menunjuk Konomi, Hotarou, dan Reiichi secara bergantian. "Otak kalian semua diatas rata rata. Mana bisa kita menandinginya!" Reiichi kemudian mengeluarkan beberapa gunting tertajam yang ia miliki dan menunjukannya pada Kanata.

"Cepat pilih. Kau mau gunting yang mana? Biar kuasah otakmu yang tumpul itu"

Yang disambut dengan ekspresi horror dari Kanata

"GAK MAUUUU!"

Taku minum es miliknya sambil sesekali menimpali kalimat kalimat lawak di kelompoknya itu. Konomi kemudian menyerahkannya sebuah daftar note, yang tentu saja membuat Taku terheran heran. "Apa nih? EH? 7 lembar handuk? buat apa?" Tanya Taku heran. Konomi tersenyum singkat. "Rumahmu paling dekat dengan rumahku. Tolong belikan aku handuk dan beberapa benda lainnya. Ini uangnya. Tolong antarkan ke rumahku secepatnya hari ini" ucap Konomi sambil memberikan sebuah amplop berisi uang. Taku awalnya mau protes. Tapi di belakangnya, sang Raja sudah tampak menyiapkan gunting keramatnya...

"... Baiklah..."

.

.


.

.

Taku menatap ring basket di lapangan tengah kota yang kini berada di hadapannya. Iris babyblue miliknya menatap sendu lapangan yang sudah di gunakannya sebagai tempat latihan setelah sekian tahun. Ia kemudian memantulkan bola basket beberapa kali dan mengeshotnya. Tiba tiba, suara seseorang menyadarkannya.

"Kamu masih latihan di siang terik seperti ini? Bukankah ada klub?" Tanya sosok pria itu ramah, yang ternyata Phantom. Taku menunjukkan cengiran lebar khasnya. "Kalau klub yang paman maksud itu klub basket Teiko, aku sudah lama keluar dari sana" ucap Taku sambil memutar mutar bola basket. Phantom terkekeh kecil dan lantas bertanya kembali.

"Kenapa?"

"Karena di tim itu menang adalah segalanya. Slogan seperti itu adalah slogan terbodoh yang pernah ada di muka bumi ini" jawab Taku tegas. Phantom mengangguk mengerti atas apa yang Taku bicarakan. Taku kemudian mengambil nafas dan melanjutkan kalimatnya.

"Bagiku menang memang penting. Tapi lebih enak kalau kita kalah daripada berbuat segala hal curang hanya untuk kata menang" sambung Taku. Phantom tercekat. Ia tidak menyangka sosok anaknya ini lebih bijaksana dibandingkan penampilannya yang terbilang masih kecil. di dalam hatinya menguar rasa bangga atas perkataan anaknya. Taku menatap jam tangannya dan detik itu juga berteriak histeris.

"AAAAKH! AKU LUPA PESANAN KONOMIIIII!"

.

.

TBC


.

.

Yahoo~~! gomenne chapter ini agak pendek...

Semoga kalian suka saja deh ^^ di Chapter ini ceritanya hari libur mereka bermain basket. Di chapter depan balik lagi ke game untuk ke Amrik sana.

Mohon maaf bila ada banyak typo~ssu!

Oh, ya... Author juga udah buat cerita emak-bapaknya. Judulnya : Kisedai's Love. Mohon di baca juga *bows*

Arrigatou bagi yang sudah membaca+Mereview~! Jangan lupa Review! Kritik saran, masukan, Request, semuanya pasti di balas!

.

Salam imut nan narsis,

.

-PriscallDaiya-