NOTE: Semua isi ff ini hanya imajinasi. Begitu pula dengan hal-hal yang berkaitan dengan donor-mendonor di sini hanya untuk mendukung alur cerita, kenyataannya tidak sama seperti di ff ini hehe

120 Days [Chapter 6-END]
.

.

.

"Terima kasih karena sudah membuatku merasa dicintai. Aku selalu mencintaimu, Yeollie..."

.

.

.

-HAPPY READING-

.

.

.

Chanyeol telah menghabiskan waktunya dengan meminum minuman keras di sebuah bar yang pernah beberapa kali dikunjunginya bersama temannya. Kali ini, ia bukan menemani temannya seperti yang biasa ia lakukan jika berkunjung. Kini ia berkunjung karena keinginannya sendiri untuk melupakan sejenak masalahnya.

Dini hari saat kembali ke rumah sakit, Kyungsoo yang belum tidur menanyakan tentang Baekhyun. Chanyeol menceritakan tentang penolakannya, dan berakhir dengan Kyungsoo yang menangis hingga bersimpuh agar bisa memaksa Baekhyun seperti ucapannya sebelumnya.

Kondisi Ibu Kyungsoo cukup sekarat dan belum menemukan pendonor selain Baekhyun. Walau sudah lebih baik daripada sebelumnya, tetap saja Kyungsoo dan keluarganya bersikeras ingin operasi segera dilakukan karena khawatir kondisi Ibunya akan berubah tiba-tiba.

Ternyata, minuman keras tidak dapat menghilangkan masalah itu dari pikirannya. Akhirnya, Chanyeol membuat sebuah keputusan. Dengan keadaan yang masih setengah mabuk, ia memanggil taksi untuk pulang ke apartementnya.

.

.

.

Setelah kepergian Chanyeol, Baehyun hanya menangis sampai air matanya tidak dapat keluar lagi. Akhirnya ia tertidur dengan posisi merengkuh lututnya di sudut kamar. Mata namja mungil itu mengerjap pelan, terbangun karena suara kicauan burung mengusik pendengarannya. Kemudian ia melirik jam dinding di kamarnya dan melihat jarum jam menunjukan pukul 6.14 pagi.

Blam!

Suara pintu yang ditutup dengan keras membuatnya tersentak. Kemudian ia bangkit berdiri, sedikit kesulitan karena kakinya terasa kram. Mungkin karena terlalu lama tidur sambil memeluk lututnya hingga menyebabkan kakinya kram.

Clekk

Sosok yang sedang tidak ingin dilihatnya membuka pintu dan memasuki kamarnya. Baekhyun tanpa sadar memundurkan tubuhnya menjauhi sosok itu. Merasa sedikit ketakutan begitu melihat wajah dingin dan tidak bersahabat Chanyeol.

Chanyeol berdiri beberapa langkah di hadapannya, dan menatap Baekhyun dengan tajam. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang."

Itu bukan ajakan, melainkan perintah.

Tangan Baekhyun menggepal di samping tubuhnya. "T-tidak mau. Bukankah sudah kukatakan padamu aku tidak mau?" tolaknya dengan suara yang sedikit bergetar.

Apa Chanyeol akan memaksaku?

Tidak bisa. Ini semua tidak sesuai perjanjian. Ia tidak memenuhi janjinya dan tidak sampai 120 hari, jadi seharusnya aku juga tidak perlu melakukannya!

"Tapi kau harus," balas Chanyeol dengan suara yang terdengar dingin dan itu membuat Baekhyun merinding.

"Kau tidak bisa memaksaku, Chanyeol-ah. Aku tidak mau, kau sendiri tidak memenuhi janjimu dan ini bahkan belum 120 hari! Jadi kenapa aku harus?" Baekhyun kembali menolak dengan nada lelah. Matanya menatap Chanyeol dengan sendu.

Sebegitu besarkah cintamu pada Kyungsoo, Yeollie?

Chanyeol memutuskan tatapan mereka, ia tahu dirinya akan goyah jika menatap mata itu lebih lama lagi. Namja itu duduk di tepi kasur Baekhyun, menatap kosong lantai yang dipijaknya.

"Kau pilih menyerahkan dirimu dengan suka hati atau aku yang akan membuatmu terpaksa melakukannya?"

"Mwo?"

Tawa Chanyeol meledak. Baekhyun semakin memundurkan tubuhnya. Chanyeol yang tiba-tiba tertawa seperti itu terlihat mengerikan, Baekhyun benar-benar takut.

"Sepertinya aku harus memaksamu," ucap Chanyeol dengan suara rendah. Tangannya mengambil sesuatu di balik jas yang dikenakannya. Lalu bangkit dan mendekati Baekhyun dengan perlahan.

Napas Baekhyun tercekat melihat benda yang tengah dipegang Chanyeol. "K-kau mau membunuhku?"

Baekhyun memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding di belakangnya. Air mata mengalir membasahi pipinya, menatap Chanyeol dengan ketakutan sekaligus kecewa.

"C-Chanyeol-ah... Jangan lakukan..."

Chanyeol tersenyum miring sambil terus berjalan pelan mendekati Baekhyun yang sudah terpojok.

"Baek, pilihlah. Aku mengambil secara paksa atau kau menyerahkannya seperti ucapanmu sebelumnya?"

Tubuh Baekhyun bergetar ketakutan memandang Chanyeol yang tengah memegang pisau dapur di tangan kirinya.

Wajah Baekhyun memerah dan dipenuhi keringat dingin serta air mata. Ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya kalau sosok yang di hadapannya adalah Chanyeol. Namja yang sudah ia cintai selama hampir seumur hidupnya.

"K-kau bukan C-Chanyeol yang kukenal... H-hiks," Baekhyun mencoba memundurkan tubuhnya kembali namun gagal karena punggungnya sudah membentur tembok.

Chanyeol tersenyum miring dan tertawa sinis, sambil mendekati Baekhyun dengan perlahan. "Kau 'kan memang belum mengenalku dengan benar, Baek. Kita bahkan belum satu bulan mengenal."

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Kita bahkan sudah mengenal sejak lama, Yeollie.

Chanyeol semakin mendekat dan mendesak Baekhyun di dinding hingga Baekhyun terhimpit di antara dinding dan tubuhnya. "Baekhyun, tepati janjimu," bisiknya dengan suara serak tepat di depan wajah Baekhyun.

Baekhyun mencoba membuat jarak di antara mereka dengan mendorong dada bidang Chanyeol. Namun ia sudah tidak memiliki tenaga lagi, hati dan pikirannya sudah lelah dan berimbas pada tubuhnya hingga ia tidak mampu untuk sekedar mendorong Chanyeol menjauh.

"Apa kau sangat mencintai Kyungsoo? Kau benar-benar tidak memikirkan perasaanku?" tanya Baekhyun lirih, wajahnya mendongak membalas tatapan tajam Chanyeol dengan tatapan sendu.

Tenggorokan Chanyeol terasa tercekat mendengar ucapan dan melihat Baekhyun yang seperti ini. Namun ia harus menyelesaikan semua ini, jika ingin Kyungsoo-nya bahagia. "Y-ya. Perasaanmu tidaklah penting, kau hanya orang asing bagiku. Aku sangat mencintainya, makanya aku bisa mengancammu seperti ini."

Baekhyun menunduk dan meringis pelan kala merasa nyeri di dadanya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

"Kau hanya orang asing bagiku."

Ucapan Chanyeol benar-benar sukses melukai hatinya, seakan ada sebilah pisau yang menusuk-nusuknya. Sangat sakit sampai rasanya ingin mati saja.

Benar. Kenapa aku tidak mati saja?

Tiba-tiba, ia menginginkan kematian.

Sebaiknya aku mati, maka ibu Kyungsoo tidak akan tertolong dan ia tidak akan bahagia. Sepertiku.

Chanyeol menurunkan tangan kirinya yang semula menodongkan pisau ke arah Baekhyun. Hatinya mulai semakin goyah melihat Baekhyun yang terlihat menyedihkan. Dan semua itu karena dirinya.

Tiba-tiba saja, dengan pergerakan cepat Baekhyun menarik pergelangan tangan kirinya dan menghujamkan pisau itu ke dadanya.

"AKHHH"

Tubuh Baekhyun ambruk dan tersungkur di lantai, pisau yang kini bersimbah tergeletak di sampingnya. Tangan namja mungil itu menekan dadanya karena merasa sakit yang luar biasa. Sedangkan Chanyeol, mematung menatap Baekhyun dan tangannya yang sama-sama bersimbah darah secara bergantian. Tidak menduga Baekhyun akan melakukan hal itu.

Tangannya bergetar dan matanya membulat panik. "B-Baekhyun-ah...," panggilnya terkejut, kemudian berjongkok dan mengguncang bahu Baekhyun pelan. "A-apa yang k-kau lakukan...? Baek..."

Baekhyun tidak menjawab, sibuk meringis dan mengerang kesakitan. Yang mana berhasil melukai hati Chanyeol. Air mata tanpa sadar jatuh dari mata bulatnya, dadanya ikut terasa sakit dan sesak seakan turut merasakan sakit yang sama seperti yang Baekhyun rasakan.

Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan mendekapnya erat. Satu tangan merengkuh pinggangnya sedang tangan lainnya mengusap-usap punggung dan rambut Baekhyun secara bergantian.

"Maafkan aku Baek... Hiks..."

Baekhyun tersenyum tipis mendengarnya. Tangannya yang semula menekan dadanya, kini beralih melingkar di leher Chanyeol dan ia membenamkan wajahnya di dada bidang Chanyeol, meredam erangan kesakitannya di sana.

Rasa kecewa begitu besar Baekhyun rasakan, karena baru dapat membuat Chanyeol sadar dengan cara seperti ini. Dengan membunuh dirinya sendiri, yang berarti ia akan berpisah dengan Chanyeol.

"A-aku kecewa... C-Chanyeol tega sekali pada Baekkie, hiks... Ugh"

DEG

Chanyeol mematung mendengar panggilan itu, jantungnya berdegup keras. Napasnya tercekat kala merasa sakit tiba-tiba di kepalanya dan telinganya mendengar suara-suara yang asing.

"B-Baekkie, jangan menangis..."

"J-jangan pergi, Yeollie..."

"Iya, aku tidak akan pergi."

"A-aku mencintaimu, Yeollie..."

"A-aku mencintaimu, Yeollie..."

Tangan yang semula melingkar di leher namja jangkung itu, jatuh perlahan dan terkulai lemas di sisi tubuhnya.

"BAEKHYUN-AH!"

Brakk

"BAEK!"

.

.

.

"Tuan Byun Baekhyun ada di apartemen milik Park Chanyeol, tuan."

"Kirimkan alamatnya padaku sekarang juga."

"Baik."

Sehun menghela napasnya lega setelah mengetahui keberadaan Baekhyun. Baekhyun menghilang begitu saja kemarin, dan tercatat sudah kembali ke Korea. Namun saat kembali ke sekolah, Baekhyun belum hadir dan wali kelasnya mengatakan kalau anak itu menambah izinnya sampai lusa.

Drrt...

Ponselnya bergetar dan ada sebuah pesan masuk berisikan alamat apartemen keberadaan Baekhyun saat ini. Sehun pun segera menyalakan mobilnya dan menuju alamat itu.

Dalam perjalanan, ia memikirkan apa hubungan Baekhyun dan namja bernama Park Chanyeol itu.

"Apa mereka berpacaran?" gumamnya ragu, merasa tidak rela jika dugaannya benar.

Ia sudah mencintai Baekhyun lebih dari 3 tahun, tentu saja menyesakkan untuknya jika Baekhyun berpacaran dengan orang lain. Yah, Sehun pikir itu kesalahannya sendiri karena tidak berani menyatakan perasaannya pada namja mungil bermata sipit yang berhasil memikat hatinya itu.

Sehun tiba di apartement yang dari informasi pengawalnya adalah tempat Baekhyun tinggal saat ini. Dengan tergesa ia masuk, menaiki lift hingga sampai di depan kamar bernomor 298.

Ia menekan bel berulang kali, namun pintu tidak kunjung terbuka.

Sehun mengerang frustasi, merasa sangat khawatir dengan keadaan Baekhyun di dalam sana. Namja berkulit pucat itu akhirnya memanggil dan meminta bantuan bodyguardnya untuk mendobrak pintu apartemen tersebut.

Brakk

"BAEKHYUN-AH!"

Jantung Sehun berdegup kencang melihat pemandangan di hadapannya. Matanya melebar melihat Baekhyun yang bersimbah darah terkulai lemas di pangkuan lelaki yang ia ketahui bernama Chanyeol.

"Brengsek," Sehun menggeram marah begitu matanya menangkap benda tajam berupa pisau berlumuran darah tergeletak tidak jauh dari keduanya.

Si brengsek itu mencoba membunuh Baekhyun, itulah yang ada di pikiran Sehun.

"BAEK!"

.

.

.

Chanyeol mematung, menundukan kepala dan menatap kosong lantai rumah sakit yang dipijaknya. Mengabaikan rasa sakit dan luka lebam di wajahnya.

Penampilannya begitu kacau. Begitu pula dengan hati dan pikirannya.

Tiba-tiba, kerah bajunya ditarik membuatnya bangkit setengah berdiri dari bangku yang semula didudukinya. Memaksanya mendongak dan melihat wajah lelaki berkulit pucat yang tak lebih tinggi darinya.

Sehun mencengkram kerah Chanyeol erat, menggeram kesal. "Brengsek kau! Baekhyun sudah mati, kau puas hah?!"

Chanyeol yang semula seperti orang bodoh tidak bereaksi apa-apa kini menatap mata Sehun dengan rasa terkejut memenuhi dirinya.

"A-apa maksudmu?" napas Chanyeol tercekat karena merasa sesak di bagian dadanya.

Sehun tersenyum miring.

"Selamat Chanyeol-sshi. Kau sudah membunuh Baekhyun."

"..."

"Kau bahagia bukan? Karena kini Kyungsoo kini begitu bahagia, Ibunya telah sehat kembali."

"Itu bukan urusanmu, brengsek."

"TENTU SAJA URUSANKU! KAU MEMBUNUH ORANG YANG KUCINTAI BAJINGAN!"

Tubuh Chanyeol membeku dan napasnya tercekat begitu telinganya menangkap kata "membunuh".

"A-aku... Membunuh Baekhyun?" gumamnya tidak percaya.

Sehun menarik Chanyeol, memasuki ruangan di mana Baekhyun berada. Dan di sanalah Baekhyun, terbujur kaku dengan seluruh tubuh yang tertutupi kain.

Chanyeol mendekat perlahan, dan menyingkap kain itu. Air mata membendung dan akhirnya menetes dari pelupuk matanya begitu pemandangan wajah pucat tanpa warna dengan mata yang terpejam erat.

Ucapan Sehun benar.

Ia telah membunuh Baekhyun. Demi kebahagiaan orang yang 'dicintai'nya.

"B-Baek...," tangan Chanyeol bergerak, menyentuh pipi mulus Baekhyun dan tersentak begitu merasakan dingin yang teramat sangat.

Dingin sekali. Rasa hangat yang biasa ia rasakan ketika menyentuh pipi mulus itu kini telah hilang.

"BAEKHYUN-AH!"

END

bercanda wkwk /ditabok/

.

.

.

.

Kyungsoo berjalan bolak-balik di lorong rumah sakit. Ia berkali-kali menghubungi Chanyeol namun nomornya tidak aktif. Padahal, Ibunya tengah sekarat dan membutuhkan donor jantung secepatnya.

Ia begitu frustasi karena pihak rumah sakit tidak juga menemukan pendonor sampai saat ini. Ia begitu lelah dan panik sampai tanpa sadar meneteskan air mata.

"Kyungsoo?"

Seseorang menepuk bahunya, membuatnya berbalik dan terkejut mendapati sosok Kai berada di hadapannya. "K-Kai..."

Kai menatap Kyungsoo khawatir begitu melihat namja bermata bulat itu menangis. "Ada apa huh? Kenapa kau di sini dan menangis?"

"Hiks, eomma membutuhkan donor jantung. T-tapi belum ada..."

Kai terkejut mendengarnya namun kemudian menarik tubuh Kyungsoo dan memeluknya. Mengusap punggungnya lembut. "Sst... Tenanglah. Kurasa aku bisa membantumu," ucap Kai. "Eommaku mungkin akan setuju jika jantung appa didonorkan pada orang yang membutuhkan."

Tangis Kyungsoo berhenti, ia mendorong dada Kai sedikit menjauh dan menatapnya dengan mata melebar. "K-kau bercanda? Ayahmu?"

Kai terkekeh pelan melihat ekspresi Kyungsoo yang baginya menggemaskan. Kemudian mengacak rambutnya gemas. "Ya, ayahku. Kupikir lebih baik membiarkannya pergi daripada menyiksanya dengan berbagai macam alat. Ibuku juga berpikir begitu. Dan kalau bisa membantu hidup orang lain, kenapa tidak?"

Kyungsoo tertegun. Kai tersenyum seolah itu bukanlah hal yang besar, namun ia dapat melihat kesedihan dan ketidakrelaan di mata namja berkulit tan itu.

"Terima kasih banyak, Kai."

.

.

.

"Chanyeol-ah!"

Chanyeol tersentak, bangun dari mimpi buruknya dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin. Napasnya terengah-engah, hingga deru napasnya yang memburu terdengar di lorong rumah sakit yang sepi kala itu. Setelah berhasil mengatur napasnya, ia menoleh ke kanan dan mendapati Kyungsoo duduk di sampingnya.

Kyungsoo menatapnya khawatir. "Kenapa kau berada di sini Chanyeol-ah?" tanyanya sambil menyeka peluh di wajah Chanyeol dengan sapu tangannya. "Aku menghubungimu berulang kali namun kau tidak mengangkatnya!"

Chanyeol diam, mengingat kembali mimpi buruknya dan sedetik kemudian menengok ke kanan-kiri layaknya orang bingung. Mereka berada di rumah sakit, di depan ruang UGD lebih tepatnya. "B-Baekhyun..."

"Oh ya, omong-omong. Operasi eomma berhasil."

Ucapan Kyungsoo membuatnya mematung, kemudian dengan napas tercekat dan mata yang melebar ia menatap Kyungsoo. "M-maksudmu?" suaranya terdengar serak.

Kyungsoo tersenyum lebar lalu bangkit berdiri, menggenggam tangan Chanyeol dan menariknya menuju ruang tempat Ibunya dirawat.

"T-tunggu!" Chanyeol menghentikan langkahnya membuat Kyungsoo berhenti menarik dan melepaskan tangannya. Chanyeol menatap Kyungsoo, "Di mana Baekhyun?"

Kyungsoo mengernyit. "Baekhyun? Bukankah kau di sini sendirian karena tidak berhasil memaksanya?"

Chanyeol tersentak. "L-lalu siapa yang mendonorkan jantung untuk eomma-mu?"

Senyum tipis menghiasi wajah Kyungsoo. "Kai yang membantu mencarinya, tadi pagi aku

CHANYEOL!"

Ucapan Kyungsoo terputus, Chanyeol tiba-tiba berlari pergi. Kyungsoo mendengus, "Kau tidak benar-benar mencintaiku rupanya."

.

.

.

Napas Chanyeol terengah-engah, setelah berlarian akhirnya ia tiba di depan kamar rawat inap bernomor 356. Tubuhnya menyandar pada dinding, mencoba menetralkan napasnya. Setelah mendapat informasi di mana Baekhyun dirawat, ia langsung bergegas kemari. Bahkan melewati tangga darurat dari lantai 1 ke lantai 3 karena tidak sabar menunggu lift.

Ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya ketiduran saat menunggui Baekhyun yang sedang ditangani oleh dokter dan perawat tadi pagi.

Setelah napasnya kembali normal, ia membuka pintu itu. Melangkah masuk dan mengedarkan padangannya mencari sosok Baekhyun. Di kamar itu terdapat sekitar 2-3 pasien. Dan salah satunya adalah Baekhyun. Chanyeol menemukannya, ranjang yang ditempati namja mungil itu berada di paling ujung dekat jendela dan penghuninya tengah memainkan ponsel.

"Baekhyun-ah!"

Sang pemilik nama menoleh, mata sipitnya melebar mendapati sosok Chanyeol. Wajahnya terlihat panik dan sedetik kemudian ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dan Chanyeol bisa melihat gundukan selimut itu sedikit bergetar, membuatnya merasa terkejut.

"P-pergi kau!" teriakan Baekhyun terdengar.

B-Baekhyun takut padaku?

Chanyeol mendekati Baekhyun dan berdiri di sebelah ranjangnya. "B-Baek...," panggilnya lirih, tangannya terangkat untuk menyentuh gundukan selimut itu. Namun sebelum berhasil, seseorang menarik kerahnya dan memberi pukulan yang keras di rahangnya hingga tubuhnya mundur menghantam dinding.

"Akh!" Chanyeol meringis, pukulan itu menyakitkan karena tubuhnya yang sedang jauh dari kata baik. Hidungnya mengeluarkan darah dan sudut bibirnya robek. Ia menatap orang yang memukulnya dengan tajam. "Sialan kau, Oh Sehun!" geramnya lalu menghampiri namja berkulit pucat itu dan balas memukulinya.

Sehun dan Chanyeol terlibat perkelahian, membuat pasien lain dan keluarga mereka yang berada di ruangan itu ketakutan. Hingga petugas keamanan rumah sakit datang dan akhirnya memisahkan mereka berdua. Kondisi keduanya hampir sama, wajah penuh lebam sana-sini dan kulit sedikit robek hingga berdarah walau tidak banyak. Namun Chanyeol yang sedang tidak baik mendapat lebih banyak luka lebam.

Sehun menatap Chanyeol dengan penuh kebencian. Ia melepaskan dirinya dari pegangan petugas keamanan itu, dan merapihkan bajunya yang sedikit berantakan karena perkelahian barusan. "Jangan menemui Baekhyun lagi, sialan!"

Chanyeol juga melepaskan dirinya, balas menatap Sehun dengan tajam. "Kau pikir kau siapa, hah?! Baek-

"PERGILAH!"

Baekhyun yang sejak tadi menyembunyikan dirinya dalam selimut sambil menangis, membuka selimutnya dan menunjukan wajah yang penuh air mata. Matanya terlihat sembab dan bibirnya bergetar. Ia menatap petugas keamanan rumah sakit, "Ahjussi, tolong bawa dia pergi, hiks."

Tubuh Chanyeol mematung, ia menatap Baekhyun nanar. Tidak percaya kalau Baekhyun mengusirnya. "B-Baekhyun-ah..."

Baekhyun balas menatap Chanyeol dengan tatapan sendu dan terluka. "A-aku hiks membenci C-Chanyeol..."

Ucapan itu menusuk hatinya dengan telak, membuat Chanyeol tiba-tiba merasa kesulitan bernapas karena rasa sesak bercampur nyeri di dadanya. Hingga ia tidak memiliki lagi kekuatan untuk memberontak ketika tubuhnya dibawa keluar dari ruangan itu.

.

.

.

3 hari berlalu. Chanyeol kembali masuk sekolah, setelah absen lebih dari seminggu. Ia memasuki kelas yang sudah ramai karena 10 menit lagi pelajaran akan dimulai. Menarik bangkunya dengan tidak bersemangat setelah melihat bangku Baekhyun dan Sehun yang kosong. Kemudian membaringkan wajahnya di meja dan menutupinya dengan buku.

Ia ingin sekali bertemu kembali dengan Baekhyun. Ia merindukan namja mungil itu. Apartementnya terasa sunyi tanpa suara Baekhyun yang sudah menjadi candu baginya. Namun, ketika kembali mencari Baekhyun ke rumah sakit, namja itu sudah tidak ada di sana. Dan pihak rumah sakit mengatakan kalau ia sudah pulang. Yang mana membuat Chanyeol membuatnya mencari tempat tinggal Sehun karena yakin ia bersama Baekhyun, namun tidak ada temannya yang tahu karena belum ada yang kenal dengan dengan anak baru itu.

Chanyeol tidak bisa menemukan Baekhyun. Dan itu membuat hidupnya terasa hampa dan dipenuhi rasa bersalah serta rindu pada sosok mungil itu.

Hubungannya dengan Kyungsoo sudah berakhir. Chanyeol yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka setelah sadar bahwa ia mencintai Baekhyun. Dan ternyata, Kyungsoo menyetujuinya. Namja bermata bulat itu kembali berpacaran dengan mantan kekasihnya dulu, Kai, yang merupakan teman sekelasnya dan cukup dekat dengan Baekhyun.

Chanyeol tersenyum miris mengingatnya. Bodoh sekali dirinya, memperjuangan sesuatu yang tidak berguna dan mengorbankan orang yang sangat berharga baginya.

"Aku merindukanmu, Baekkie."

.

.

.

Belum sehari penuh berada di rumah sakit sudah membuat Baekhyun bosan dan ingin pulang. Namja mungil itu seharian ini merengek pada Sehun agar diperbolehkan pulang. Namun selalu menerima penolakan.

"Tidak bisa, Baek. Dokter bahkan belum mengizinkan," ucap Sehun sambil membelai surai Baekhyun yang menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi aku bosan di sini... Lagipula di film sehari saja sembuh walau perutnya tertusuk pisau atau ditembak pistol."

Sehun menghela napas. "Itu hanya film, Baek. Dan yang tertusuk itu dadamu bukan perut, untung tidak dalam sampai mengenai jantungmu."

"Ah benar juga...," balas Baekhyun dengan bibirnya yang melengkung sedih.

Sehun yang tidak tega melihat Baekhyun bersedih akhirnya memutuskan untuk menyewa perawat pribadi dan membawa Baekhyun tinggal di apartementnya. Baekhyun tentu saja senang, karena bisa keluar dari rumah sakit.

Baekhyun menghabiskan waktunya dengan bermain games di komputer dan playstation bersama Sehun. Sehun bahkan ikut membolos bersamanya, beruntung orangtuanya berada di luar negri sehingga tidak ada yang mengomelinya. Ia sudah membuat surat izin palsu, sehingga wali kelasnya tidak menelpon orangtuanya.

.

.

.

Ini malam kedua sejak Baekhyun keluar dari rumah sakit, dan mereka memutuskan menonton film saja sebelum tidur. Karena jari mereka sudah lelah bermain playstation seharian.

Mereka duduk di sofa dengan Baekhyun yang berbaring dan menjadikan paha Sehun sebagai bantal. Sehun tidak keberatan, tangannya mengusapi kepala Baekhyun seakan tengah menidurkan seekor kucing yang manja. Mata Sehun tidak menonton televisi di hadapan mereka, melainkan memandang lekat wajah manis Baekhyun. Dan Baekhyun, ia juga tidak menonton melainkan hanya menatap televisi dengan tatapan kosong. Sibuk memikirkan seseorang yang tak lain adalah Park Chanyeol.

Keduanya tidak bersuara bahkan sampai film hampir selesai.

"Sehun-ah."

Suara Baekhyun memecah keheningan.

"Hm?" balas Sehun, yang masih betah memandangi wajah Baekhyun.

"Bolehkah aku sekolah besok? Aku sudah sehat."

Sehun berdecak tanda tidak setuju. "Kau hanya mau menemui si Park caplang itu 'kan?"

Baekhyun bangkit dan mengambil posisi duduk di sebelah Sehun. Kemudian menundukan wajahnya sambil memainkan jemari lentiknya. "Hm, aku merindukannya."

Sehun menghela napas. Ia pikir kejadian kemarin membuat Baekhyun membenci Chanyeol sepenuhnya, namun ternyata tidak.

"Tunggu ia yang mendatangimu dulu, aku mau melihat usahanya mencarimu, arasseo?" ucap Sehun, sambil mengelus rambut Baekhyun dengan sayang.

Baekhyun hanya mengangguk mengiyakan, dalam hati bergumam takut kalau Chanyeol tidak akan datang karena ia sudah tidak dibutuhkan.

Sehun menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. "Aku mencintaimu dan tidak ingin kau disia-siakan lagi, Baek."

.

.

.

"Yaa! Kai, kenapa kau pelit sekali?!"

Jam pelajaran sudah dimulai sejak sejam yang lalu, namun terdapat dua orang siswa berbeda tinggi yang masih berada di luar kelas dan bersantai di atap sekolah.

"KIM JONGIN!"

"Akh! Yaa!"

Kai meringis kesakitan mendapat jeweran di telinganya. Ia bangun dari posisi tidurnya, dan mengusap telinganya yang sedikit memerah sambil menatap kekasihnya kesal.

"Kenapa kau menjewerku, Kyung?!" gerutu namja berkulit tan itu kesal. Ia menyesal memberitahu tempat membolos favoritenya, tidur pagi menjelang siangnya jadi terganggu.

Kyungsoo sang pelaku berdecak dengan tangan yang menyilang di dadanya. "Aku sudah menemani dan mengijinkanmu membolos, jadi cepat beritahu aku!"

Kai mendengus. "Memintalah dengan baik dan sopan," balasnya. "Ah! Ayo lakukan aegyo dan katakan 'Chagiya~ jebal beritahu aku~ bbuing bbuing' dengan gaya seperti ini," Kai memberi contoh, berekspresi semenggemaskan mungkin dengan nada suara imut yang dibuat-buat.

Menggelikan, batin Kyungsoo.

Namun ia tersenyum kecil melihat Kai yang seperti itu. Oh, ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya menganggap Kai 'sedikit' menggemaskan.

"Yaa Kai! Ayolah!"

"Aegyo dulu!"

"Tidak mau!"

"Ya sudah, aku juga tidak mau memberitahu."

Kyungsoo menggeram kesal melihat Kai yang nampak tidak peduli dan kembali membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam.

Huft, baiklah... Demi menebus kesalahanku...

"Kai," panggil Kyungsoo, berjongkok di samping bangku yang menjadi tempat tidur Kai. Membuat wajah mereka sejajar.

"Hm?" Kai menoleh, membuka sebelah matanya dan sedikit terkejut mendapati wajah Kyungsoo yang berjarak kurang dari 10cm darinya.

Kyungsoo memejamkan matanya, menghela napas perlahan.

"Jongin-ie~ Ayo beritahu Kyung-ie di mana Baekhyun berada, bbuing bbuing~"

Wajah keduanya seketik memerah. Kyungsoo memerah karena malu, sedangkan Kai karena gemas hingga rasanya ingin mencium bibir merah berbentuk hati itu.

"B-Baekhyun a-ada di apartement tempat tinggal Sehun. Di apartement xxx nomor 564."

"O-oke. A-aku akan beritahu Chanyeol

hmpth!"

Kai yang tidak tahan akhirnya mencium bibir Kyungsoo. Membuat namja manis itu mematung terkejut dengan mata yang mengerjap-ngerjap lucu.

Keduanya larut dalam ciuman itu. Hingga tidak menyadari seseorang mendengarkan pembicaraan mereka kemudian pergi dengan terburu-buru.

.

.

.

Setelah mengetahui tempat tinggal Sehun yang ia dengar dari Kai tadi, Chanyeol bergegas kembali ke kelas dan mengambil tasnya kemudian pergi. Mengabaikan teriakan gurunya yang tengah mengajar saat itu, dan teriakan satpam yang melarangnya meninggalkan sekolah karena jam sekolah belum berakhir.

Dan di sinilah ia berada, di depan pintu bernomor 564. Tangannya terangkat menekan bel, dadanya berdebar. Menebak siapa yang akan membuka pintu, Baekhyun atau Sehun.

Kalau Sehun, ia akan mendorong bahunya kemudian menerobos masuk. Dan kalau Baekhyun, ia akan-

Clekk

Apa yang harus kulakukan?

Mendadak tubuh Chanyeol mematung begitu matanya bertatapan dengan namja mungil yang selalu ia rindukan dan menghantui pikirannya selama ini.

"B-Baek?"

"Chanyeol!"

Di luar dugaan, Chanyeol pikir Baekhyun akan menutup kembali pintunya atau berteriak ketakutan melihat orang yang pernah berusaha membunuhnya. Namun, namja itu malah memeluknya sambil menangis.

"H-hiks! K-kenapa baru datang? Kupikir k-kau membuangku!"

"A-apa?"

Baekhyun menangis sesenggukan, mengusakkan wajahnya di dada bidang Chanyeol. "M-mianhae... A-aku tidak mati dan tidak bisa menolong Ibu Kyungsoo..."

"..."

"K-kau pasti membenciku, 'kan? H-hiks maafkan aku... Aku pikir setelah tertusuk pisau, aku bisa mati saja. T-toh hidupku tidak berguna. A-aku

Cup!

Chanyeol menarik tubuhnya, menarik rahangnya lembut dan mengecup bibir Baekhyun. Membuat namja mungil itu bungkam seketika dengan mata basahnya yang mengerjap pelan karena terkejut.

"Maafkan aku Baek. Aku benar-benar brengsek. Kau tidak bersalah sama sekali di sini, akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku mengorbankanmu, demi keinginan bodohku itu," ucap Chanyeol sambil menatap dalam Baekhyun.

Baekhyun terkesiap. "C-Chanyeol..."

"Ibu Kyungsoo sudah mendapat donor gratis dari ayahnya Kai. Aku bersyukur, karena kau tidak jadi mati sia-sia. Apa kau tahu? Aku bermimpi kau meninggal, dan sangat lega setelah mengetahui itu hanya mimpi."

"..."

"Dan ketika kau ketakutan saat melihatku, ditambah aku tidak bisa menemukanmu. Kau bahkan tidak juga masuk sekolah. Aku benar-benar hancur, Baek. A-aku

"Sst," Baekhyun tersenyum, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Chanyeol. "Itu sudah berlalu, Chan. Aku hanya trauma saat itu, dan aku tidak sekolah karena Sehun tidak mengijinkan. Ia bilang ingin melihat usahamu dalam mencariku."

Chanyeol mendengus. "Dasar Oh Sehun sialan."

Baekhyun terkekeh, mengusap matanya yang basah. Kemudian kembali memeluk Chanyeol erat. "K-kali ini kau benar-benar mencintaiku 'kan, Yeol?" lirihnya.

Chanyeol merengkuh pinggang Baekhyun erat. Mengusak hidungnya di rambut Baekhyun yang lembut, menghirup aroma manis yang dirindukannya. "Tentu saja, Baek. Terima kasih sudah bertahan hidup dan memaafkanku."

"Chanyeol-ah, apa kau akan membuatku bahagia?"

"Hm."

"Tidak hanya selama 100 hari yang tersisa?"

Chanyeol terkekeh pelan, tidak menyangka Baekhyun masih menghitungnya. Kemudian menarik lembut bahu Baekhyun ke belakang, membuat keduanya berhadapan dan saling menatap. "Aku akan membuatmu bahagia, sepertiku yang bahagia karena kau berada di sisiku, Baekkie."

Baekhyun melebarkan matanya terkejut, membuatnya terlihat menggemaskan. "K-kau mengingatku, Yeol?!"

Namja tinggi itu mengangguk. "Ya, maafkan aku Baek karena meninggalkanmu dulu atas perintah orangtuaku yang ingin aku menjauhimu dan menikah dengan Kyungsoo. Aku kecelakaan saat mencoba kembali ke Seoul 3 tahun yang lalu, dan akhirnya hilang ingatan. Namun kali ini, aku takkan meninggalkanmu karena kuyakin bisa membuat orangtuaku setuju kalau aku menikahimu."

Blush

Pipi Baekhyun merona mendengar kalimat terakhir Chanyeol. "A-apa saat ini k-kau sedang melamarku?" tanyanya terbata karena gugup dan malu.

Chanyeol terkekeh, dan suaranya membuat Baekhyun seperti meleleh. Lalu meraih kedua tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. "Ya. Maukah kau menikah denganku, Byun Baekhyun?"

Baekhyun menunduk malu, pipinya terasa sangat panas. "Y-ya Chanyeol..."

"Apa? Aku tidak dengar, sayang."

"Uh... Aku m-mau menikah denganmu, Yeol," cicit Baekhyun malu yang membuat Chanyeol gemas.

Kemudian Chanyeol meraih tengkuk Baekhyun. Keduanya memejamkan mata, deru napas saling bertabrakan dan

"YAA! PARK CHANYEOL BRENGSEK JANGAN MELAMAR BAEKHYUN DI DEPAN PINTU APARTEMENTKU!"

"BRENGSEK KAU MERUSAK SUASANA, OH SEHUN!"

FIN

AKHIRNYA BISA LUNASIN HUTANG UPDATE CHAPTER TERAKHIR /sujud syukur/ Harusnya ini diupdate sabtu, tapi malah ada acara keluarga jadi ini habis pulang baru langsung bisa update ㅠㅠ

Di Author's note terakhir ff ini, aku cuma mau bilang terima kasih dan maaf banget buat pembaca yang udah nungguin ff ini. Sedikit curcol, aku udah lama nulis chap akhir ini (dari maret) tapi selalu aku hapus-tulis-hapus-tulis karena merasa aneh dan akhirnya dari april-juni aku gak nulis sama sekali. Bahkan mau bikin rekomendasi ff ChanBaek aja gak bisa, karena kepikiran sama ff ini soalnya banyak yang bolak-balik review jadi merasa hutang berat banget ㅠㅠ Dan akhirnya, aku paksain mulai nulis lagi walau kecewa karena endingnya berubah dari rencana awal yang menurutku terlalu pasaran. Chanyeolnya kurang kusiksa, gak mood nyiksa karena akhir-akhir ini ChanBaek bikin kobam banget dan akhirnya alur terlalu cepat terus endingnya begitu :')

Oke, sekian deh. Sekali lagi terima kasih banyak buat pembaca ff ini, terlebih yang sudah memberikan review dan menunggu ff ini^^

Big thanks to:

Hunhanbaby, yousee, CBHS-KHS, RedCherry yeoliie, xxbaekhyuneexx, Yessi94esy, Ervyanaca, chenma, crushonu, Hanhyominnie96, ChanKai Love, bbh0506, meliarisky7, 407bubleblue, whey.K, .9047, lovely5.21, Happines Chanhyun, EarthDO, parkbaexh614, .ll, Sebut Saja B, winter park chanchan, luhandeer77, aiway, buluketekhanyut, Jung Minji, angelbear61, Love654, nabilasahda, .B, Little Baekhyun, dongjae970509, .ohxx, ketekchanll, DwaeHun, valsxid, Leon, park, Nur Safitri Shiners Exo-l, hunhips, adeanjasswari1996, caroline92, zahyi, anaknyacb, park mien, park byun, fifthdecember, daeri2124, jey, mbsbtbujcc, Jihoonbang101, ussy, noona park, likhaliesomriver, lintangkhikmah, sherli898, BannaLee, spektrofotometri, leorna, PRISNA CHO, cchiii, adorahttr, ExoBubble, MiOS, kimbaeksong, kyuraapark, Chyeol, byunlovely, nadoxoxo, BabyWolf Jonginnie'Kim, cbhs, okkiaines, Saha wae, pongpongi, samar, Innocent Vee, Seorin Kim, Namebaekhyunee, BaekkOnly, AngelLuDeer, sedih, kecewa, inchan88, afrilany pahsya, Adel444, chanbaekkibaby1204, Realskull12, yeollie wife, rdfawwaz, Eka915, dan all guest. (maaf bila ada yang terlewat atau kesalahan dalam penulisan nama)