Warning: OOC, abal, gaje, typo betebapintarl.
Disclaimer: MK
Rate: T semi M (for save)
.
.
Keesokan harinya, Naruto terbangun karena mencium sesuatu yang harum seperti bau masakan. Lantas dia pun turun melihat siapa yang sedang memasak di rumahnya. Seingatnya kan, dia tinggal sendiri.
Lalu dia melihat seorang gadis bersurai pink dengan mengenakan celemek berwarna oranye. Naruto terus memperhatikan gadis itu. 'Sepertinya aku pernah melihatnya' batin Naruto. (Lu senget ya Naruto?# di rasenggan) ok lupakan. Naruto lalu menepuk pelan dahinya 'Naruto no baka, diakan Sakura. Gadis yang kau bawa kemari dasar bodoh!' Rutuk Naruto dalam hati.
Gadis yang diketahui bernama Sakura itu, melihat ke arah Naruto berada. "Oh kau sudah bangun Naruto-kun?. Aku baru saja membuat sarapan" ujar Sakura dengan tersenyum manis. "Wah benarkah?. Pantas saja aku mencium bau yang sangat enak" ucap dengan wajah yang berseri seri.
"Tapi kau harus mandi dulu Naruto-kun. Lihat kau sangat berantakan" omel Sakura. "Baiklah baiklah" jawab Naruto dengan nada malas. Sempat terbersit dalam pikiran Naruto. Beginikah dia kalau sudah memiliki istri?. Naruto lalu menggelengkan kepalanya. 'Apa yang kupikirkan'.
.
.
Skip Time
.
.
Seusai mandi, Naruto lalu memakai seragam sekolahnya. Lalu Naruto menghampiri Sakura yang sudah sedia menunggunya. Sakura yang melihat Naruto mengenakan seragam sekolahnya menautkan alisnya heran.
"Naruto-kun, mengapa kau memakai seragam sekolah?" Tanya Sakura tak senang. Naruto yang mendengar pertanyaan dari Sakura hanya menatapnya heran. "Tentu saja aku akan sekolah. Memang apa lagi?" Tanya balik Naruto. Sakura lalu memberenggut kesal. "Bukannya kita akan mengunjungi orangtua mu untuk menanyakan kapan kita menikah Naruto-kun" ujar Sakura menjelaskan.
"Kita akan mengunjungi orangtua ku setelah aku selesai sekolah. Aku tidak mungkin membolos hanya gara gara itu". Jawaban yang dilontarkan oleh Naruto tak memuaskan hati Sakura. "Sudahlah aku harus pergi. Jaga rumah baik baik ya" titah Naruto.
"Hati hati Naruto-kun" ucap Sakura sambil melambaikan tangannya. "Ya" jawab Naruto singkat sambil melambaikan tangannya juga.
.
.
Di Sekolah
.
.
Naruto berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah. Sekilas dia mendengar seseorang memanggil manggil namanya. 'Mungkin hanya perasaanku saja' ucapnya dalam hati. Dia pun tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"To-kun..."
"...Rito-kun"
"Naruto-kun..." lama kelamaan dia mendengar suara itu makin keras. Lalu Naruto pun menoleh ke sekitar untuk menemukan sumber suara itu berasal. "Di mana datangnya suara itu?" Gumamnya. Pandangannya pun terhenti pada satu titik yaitu pada seorang wanita dengan surai ungu gelap yang berlari dengan tergesa gesa menghampirinya.
"Naruto-kun kumohon tunggu.." mohon gadis yang saat ini membuat Naruto muak. Siapa lagi kalau Hinata, sang mantan kekasih yang mengkhianati dirinya. "Ada apa lagi?. Setahu ku kita sudah tidak memiliki hubungan apa apa" ucap Naruto ketus.
"Kumohon Naruto-kun dengarkan penjelasan ku dulu" pinta Hinata sambil menangis. "Tidak ada lagi yang harus di jelaskan Hinata. Kita sudah selesai biarlah yang lalu menjadi kenangan yang pahit" ucap Naruto melengos pergi. Tapi sebelum Naruto benar benar pergi Hinata lebih dulu menarik lengan Naruto.
"Naruto-kun kumohon dengarkan aku. Aku melakukan semua itu ada alasannya" pernyataan Hinata barusan membuat Naruto berhenti. Sepertinya dia juga ingin mengetahui kenapa Hinata mengkhianati nya. Hinata yang melihat Naruto berhenti merasa sedikit senang. Setidaknya Naruto mau mendengar penjelasannya.
"A-ku...me-melakukan semua itu ka-karena uang" kata kata Hinata barusan semakin membuat Naruto murka. Naruto hendak memaki Hinata, namun sebelum dia berhasil memaki Hinata, wanita itu lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"a-aku melakukannya ka-karena...keluarga kami terjerat hu-hutang oleh keluarga Uchiha. Keluarga ku yang tidak mampu melunasi hutang menyerahkanku untuk menjadi budak keluarga Uchiha demi melunasi hutang kami" perkataan Hinata barusan membuat Naruto sedikit banyaknya prihatin.
"Tapi kau kan bisa menceritakannya padaku Hinata. Bukan malah diam diam menyimpan semuanya sendiri seperti ini" Naruto berusaha untuk tidak terhanyut oleh perkataan Hinata. "Aku minta maaf Naruto-kun. Aku sungguh menyesal. Pada hari itu aku dipaksa untuk melayani Sasuke, aku benar benar tidak menikmatinya sama sekali"
Mata Naruto terbuka lebar. Lalu dia mendecih melihat Hinata. "Hinata,,,Hinata..kau sangat pandai berakting rupanya. Kau tau aku hampir saja termakan omong kosongmu" ucap Naruto sambil tersenyum meremehkan. Hinata menatap Naruto heran. "A-apa...maksudmu Naruto-kun?".
"Kau memang penipu yang ulung Hinata. Kau bilang kau tidak menikmatinya waktu itu. JANGAN BERCANDA HINATA. Aku jelas jelas melihat dan mendengar kau mendesah keenakan ketika di sentuh oleh Uchiha sialan itu!" Teriak Naruto sangat marah. "Sungguh saat ini aku muak melihatmu Hinata"'. Lanjut Naruto yang sudah beranjak pergi meninggalkan Hinata yang masih menangis.
.
Naruto POV
.
'aku benar benar muak melihatnya. Si sialan itu memang pembohong yang pintar' batin Naruto menyumpah serapahi Hinata. Memang tak dapat di pungkiri dia juga merasa kasihan mendengar Hinata. 'Baiklah aku akan menginterogasi si Uchiha sialan itu' gumam Naruto dalam hati sambil seringai yang sangat mengerikan terpatri di wajahnya.
'Tapi sebelum itu aku harus memiliki rencana' pikir Naruto. 'Ah..aku punya sebuah ide' lanjutnya. Setelah memikirkan rencana yang akan di gunakan untuk menginterogasi si Sasuke. Dia pun melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.
"Hah.. sekarang aku benar benar tidak bersemangat untuk belajar" ucap Naruto sambil menghela nafas pelan.
.
Naruto POV End
.
.
Skip Time
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa siswi SMA Konohagakuen perlahan berhamburan keluar. Begitu pula dengan tokoh utama kita. Naruto berjalan keluar dari kelas tapi dia bukan berniat untuk pulang, melainkan dia akan menjalankan rencananya untuk 'menginterogasi' si Sasuke.
Naruto berjalan perlahan ke ruang lab IPA. Dengan perlahan Naruto membuka pintu Lab tersebut agar tidak menimbulkan suara. Bingo!. Naruto melihat Sasuke sedang mengerjakan tugasnya untuk membedah sebuah obyek untuk di teliti.
Naruto lalu berjalan mengendap endap. Dia lalu mengambil sebuah botol kaca yang kosong. Dengan perlahan dia mendekati Sasuke dari belakang. Naruto pun mengayunkan botol yang ada di tangannya ke kepala Sasuke.
'Pyaarr' suara pecahan kaca memenuhi ruangan tersebut. 'Fyuuh...Untung saja ruangan ini kedap suara' batin Naruto lega. Naruto lalu melihat ke arah Sasuke yang sudah tergeletak pingsan. Naruto menyeringai senang. 'Ahahaha...rencananya akan segera di mulai'.
Naruto lalu mengambil sebuah kursi dan tali yang terdapat dalam ruangan tersebut. Dia lalu mendudukkan Sasuke di kursi dan mengikatnya. 'Sekarang tinggal menunggu Sasuke sadar'. Naruto pun menunggu Sasuke sadar.
Apa yang akan terjadi dengan Sasuke? Dan bagaimana rencana Naruto?
.
.
See you next chapter :-)
Hai minna. Saya dah update. Mohon maaf yang belum puas sama wordnya. Mohon hargai kerja keras Hilal, karena inilah kemampuan Hilal. Jadi tolong jangan paksa Hilal. Untuk rate siapa yang setuju kalau ratenya di ganti karena Hilal akan buat Gore di fic ini. Ok yang terakhir
.
RnR PLEASE :-)
