Hula, hula! Update faster nih mateman! Entah kenapa, saya malah yang mesem mesem baca fic ini gara gara Kiyoteru. LOH?
Okk, daripada saya malah curhat disini.. yuk dibaca..cuss
Rika miyake present
Miku Miku Love
Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya~
Mohon maaf atas semua kesalahanku *^*
7. Teach me, sensei!
Miku POV:
Siang hari yang terik memang selalu terjadi setiap hari di kota ini. Apalagi, hari ini musim panas. Namun, bagiku..hari ini berbeda. Memang terik matahari menyengat di luar sana. Namun, se-sekali angin menyusup melewati jendela dan membelai rambut teal-ku yang panjang. Ingin sekali, Aku berlari keluar seperti anak kecil dan menari nari di bawah sinar terik matahari. Lalu, aku akan bermandikan keringat dan berbaring diatas bunga-bunga yang menjadi alas tidurku.
"Hatsune."panggil suara berat. Aku mendongakkan kepalaku. Akhirnya, bertemu dengan iris mata cokelat dan rambut cokelat yang membikai wajah tegas orang tersebut.
"Ha'i, sensei?"tanyaku.
"Bukannya aku mau menganggu kesenanganmu.."kata laki-laki itu seraya berdehem.
Ia terkekeh pelan, "Kamu mau bengong terus ngeliatin pemandangan luar?"tanyanya.
Seketika, pipiku bersemu merah dan menghangat. "Gomen ne."kataku, lebih mirip gumaman.
Ia mengelus rambutku dengan pelan, "Perhatikan, ya. Kalau ini sudah selesai, kamu juga bisa bermain diluar sana."kata orang tersebut. Aku mengangguk pelan.
Namun, lagi-lagi konsentrasiku terpecah dengan suara burung-burung yang bergembira di luar sana. Astaga, rasanya ia harus mengutuk diri sendiri karena terlalu bodoh dalam bidang yang diajarkan oleh seseorang yang (mendadak) jadi guru di depannya tersebut.
"Hatsune."panggil suara tersebut. Aku menatap kearah guruku tersebut itu. Ia memang bukan guru resmi sekolah.
"Gomen."gumamku sekali lagi.
"Aku bingung memikirkan cara agar kau memperhatikan pelajaranku, Hatsune."katanya seraya mendecakkan lidah. Aku menunduk lebih dalam.
"Matematika dan Fisika. Apakah itu sebegitu membosankan bagimu?"tanya orang tersebut dan mendekatiku.
Dengan malu-malu, aku mengangguk jujur. Ia mendesah pelan.
"A-apa yang sensei lakukan?"tanyaku gugup saat orang tersebut makin dekat kearahku.
"Apa yang kulakukan?"ulangnya lalu tertawa. Aku menatapnya dengan heran.
"Tentu saja, aku memikirkan cara agar kau memperhatikanku, Hatsune. Pikiranmu selalu melayang ke pemandangan di luar sana." aku terdiam seraya meremas ujung seragamnya yang aku pakai. Sebuah kemeja berlengan pendek dan rok pendek selutut. Teman-temanku, selalu memendekkan rok tersebut. Namun, aku lebih suka rok ini selutut. Tidak mengudang nafsu lelaki dan juga sudah cukup pendek menurutku.
"Bagaimana dengan begini? Apa kamu akan memperhatikanku?"tanya guru tersebut. Dia menarik daguku dan mendekatkan kearah wajahnya. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahku. Namun, pasti memerah.
"Miku-chan, perhatikan sensei, ya."ujarnya lembut. Seketika, wajahku tambah memerah.
"A-aku.."
"Kakek tua, berhentilah merayu Miku atau aku kau tidak akan melihat hari esok lagi!"ujar suara lelaki besuara berat di tepi pintu kelas.
"Oh? Kau datang juga?"tanya guru itu. Lalu, ia tersenyum lebar.
"Ah, Kaito shion."katanya lalu menyerigai.
"Kudengar, kau mengajar detensi untuk Miku dari Mikuo. Jadi, daripada kau melakukan hal-hal yang diluar dugaan.. Aku akan mengawasi kalian berdua."kata orang tersebut. Masih dengan posisinya yang menyandar di pintu.
"Ke—"baru saja aku hendak protes. Orang tersebut sudah menjawab.
"Kau tidak bisa langsung percaya pada kakek tua yang punya modus besar untuk mendekatimu, Miku."jelas lelaki tersebut. Aku mendecih. Tipe Mikuo, laki-laki Shion itu, dan Luki memang tipe overprotective.
"Kau bukan siapa-siapanya Miku-chan, Shion."ujar guru tersebut. "Bahkan, kau bukan pacarnya."lanjut guru tersebut.
"Aku tidak peduli. Baru saja aku meninggalkan kelas ini 15 menit lalu lalu kau sudah menyentuh Miku."kata laki-laki berambut biru itu dengan tajam. "Menyentuhnya lagi. Kau tidak bisa melihat hari esok!"
"Tidak kah kau bosan mengulang kata-kata itu, Shion?"tanya laki-laki tersebut seraya menyerigai.
"Lebih baik kau berduan dengan es krim bodohmu itu."kata guru tersebut pedas. Kaito mengacuhkannya walau ekspresinya menunjukkan kemarahan.
Lalu, guru tersebut tersenyum, "Maksudmu menyentuh seperti ini?"tanya laki-laki tersebut seraya mencubit pipiku.
"Apa-apaan laki-laki ini! Seenaknya saja!"bentakku dalam hati. Saat aku mau menyemburkan amarah, Kaito bergerak maju dan mencengkram kerah laki-laki tersebut.
"Kusso!"seru Kaito dengan marah. Dengan segera, aku melerai mereka berdua.
"Kiyoteru-sensei. Lebih baik anda menerangkan pelajaran daripada mengundang keributan disini."kataku tegas.
"Baiklah, kalau itu Miku-chan yang minta."kata Kiyoteru sensei dengan mengedipkan matanya.
Aku menghela napas panjang. Hari ini, akan menjadi hari yang panjang..
Sialan. Kenapa sih dia harus mengikuti detensi bersama Kiyoteru si super menyebalkan itu?!
Flashback On
"Kau mendapat detensi Matematika dan Fisika, Miku?"tanya Mikuo. Aku mengangguk.
"Ya, seperti yang kau lihat, Kuo-nii. Aku buruk di kedua pelajaran tersebut."kataku.
"Miku.. kau mau aku temani?"tanya Mikuo dengan nada khawatir. "Atau aku akan menggantikan guru tersebut menjadi guru detensi-mu?"tawar Mikuo.
"Tapi.. Kuo-nii. IA-sensei akan marah. Dan, belum tentu ia memperbolehkannya."kataku.
"Ah, IA-sensei mengenalku dan Kaito. Malahan, kami murid kesayangan dia."kata Mikuo.
"Yah, yah. Terserah kau saja, Kuo-nii. Aku tahu kau pintar di kedua pelajaran itu."cibirku kesal. Iya sih, Kuo-nii memang pintar! Tapi, tidak menyombongkannya juga dong!
Mikuo tertawa, "Ganti baju, sana. Aku akan memanggil orang untuk menemanimu."kata Mikuo.
"Kuo-nii!"seruku. Mikuo tertawa seraya menjulurkan lidah.
"Bercanda, bercanda."ujarnya. Aku merengut kearah kakakku tersebut. Tidak percaya dengan kata-katanya. Pasti, ia akan memanggil seseorang. Pasti!
Lalu, setelah menghela napas panjang aku menuju kamarku. Aku mengambil kemeja putih berlengan pendek dan rok hijau selutut. Aku melengkapkan penampilanku dengan mengambil headset yang selalu kubawa kemana-mana dengan warna pink serta ada gambar permen bewarna teal juga jaket yang kuikatkan di pinggang dengan warna sama. Lalu, aku memutuskan untuk menguncir satu rambutku dengan tinggi. Aku mengoleskan sedikit bedak tipis untuk menghindari sengatan matahari, lotion anti matahari, dan lipbalm pink cerah.
"Ittekimasu! (Aku berangkat)"seruku.
"Itterasshai! (Hati-hati di jalan!)"seru Kuo-nii.
Dengan segera, aku melangkah dengan riang kearah sekolah. Burung-burung bersiul-siul ceria bermandikan sinar matahari dan sesekali angin yang berhembus sejuk.
"Aaah, seandainya aku bisa menikmati musim panas tanpa harus mendatangi neraka terkutuk itu."kataku kesal. Orang-orang menatapku sebentar lalu bergidik ngeri. Aku mengacuhkan orang-orang tersebut. Toh, aku tidak terlalu peduli.
"Miku?"tanya seseorang yang tiba-tiba menepuk pundakku. Otomatis, aku membalikkan badanku.
"Kaito-senpai?"tanyaku saat melihat laki-laki berambut deep blue tersebut.
"Sedang apa?"tanya Kaito seraya menghampiriku. Pipiku merona mengingat kejadian kencan waktu lalu.
"Ah, aku ada detensi hari ini."kataku. Kaito mengangguk dan memutuskan untuk ikut berjalan di sebelahku. Hari ini, ia memakai kaus oblong putih, celana cokelat berbahan kain, sendal jepit cokelat, dan syal biru yang lebih tipis melingkari lehernya.
"A-apa Kaito-senpai tidak kepanasan memakai itu?"tanyaku. Entahlah, sejak kencan tersebut.. aku memandang Kaito-senpai dengan berbeda. Karena..selama ini aku tak pernah tahu perasaanya terhadapku.
"Kamu tahu kebiasaanku, kan, Miku-chan. Aku tak bisa lepas dari syalku ini."kata Kaito. Aku tertawa, tentu saja aku tahu! Karena, kami berdua sudah menjadi teman sejak kecil.
"Senpai, kalau boleh tau.."kataku, Kaito menatapku dan menungguku untuk melanjutkan kata-kataku, "Syal itu di buatan siapa?"tanyaku.
Ia terdiam sebentar terlihat ragu untuk menceritakannnya. "Ah, aku tidak bermakud membuat sensei menceritakannya! kalau sensei tidak mau pun, aku tak apa-apa."kataku gugup.
"Maaf, senpai. Telah menanyakan pertanyaan bodoh."kataku seraya menundukka kepala. Perlahan, aku merasakan puncak kepalaku dielus olehnya.
"Tidak apa-apa, Miku-chan. Toh, ini bukan rahasia yang besar."kata Kaito seraya tertawa kecil. Aku tambah bersalah. Namun, ia pun akhirnya menceritakan juga.
"Oh, ini."Kaito tersenyum lembut seraya memegang syal birunya, "Ibuku dulu suka membuat syal. Warna biru khususnya."kata Kaito. Ia menatapku dengan masih tersenyum. Yah, Kaito memang bergabung dengan kelompok kami paling akhir. Saat kami berusia 9 tahun, ia baru bergabung dengan kami. Ia juga agak tertutup dan hanya mau terbuka dengan Len.
"Ibu senpai?"tanyaku ragu-ragu.
"Sudah meninggal saat aku berumur 7 tahun..."katanya dengan tenang. Aku terkesiap lalu menunduk karena malu menanyakan hal tersebut.
"Gomen, aku tidak pernah bercerita kepadamu, Rin, dan Meiko."desahnya.
"Harusnya, aku yang minta maaf."kataku menyesal.
"Daijoubu deshita.(Tidak apa-apa,kok)"kata Kaito cepat.
"Kau ini. Kubilang bukan, tak apa-apa. Lagipula, berbagi cerita itu kan juga bisa menghilangkan beban."katanya seraya sekali lagi mengelus rambutku. Dan kami masuk dalam keheningan.
"Miku-chan."panggil Kaito memecah keheningan. Aku mendongak menatapnya. Wajahnya dipenuhi keringat karena sengatan matahari, namun ia tersenyum.
"Panggil aku Kaito saja. Aku sudah berkali-kali mengingatkamu begitu."kata Kaito.
Wajahku memerah, "Gomen ne."kataku dengan lirih. Kaito hanya menepuk kepalaku seraya tersenyum.
"Aku ikut ke sekolah, ya? yang mengajar pasti si Hiyama itu."kata Kaito.
"Siapa Hiyama?"tanyaku penasaran.
"Oh, dia anak kesayangan IA-sensei. Namanya Kiyoteru Hiyama. Dia selalu mengajarkan detensi Fisika dan Matematika. Kalau nggak Kiyoteru, yah aku. Kalau nggak aku, yah pasti Mikuo. Padahal, anak itu jarang menerima tawaran ajaran detensi. Biasanya, aku lah yang mengajar."kata Kaito.
"Oh, begitu."kataku seraya mengangguk paham.
"Dia dari kelas, Sen—maksudku K-Kaito?"tanyaku gugup karena tak terbiasa memanggil langsung dengan sebutan 'Kaito'.
"Tidak. Dia dari kelas sebelah."kata Kaito.
"Miku-chan. Nanti kamu akan terbiasa kok memanggilku Kaito."katanya. Aku terdiam.
"Tenang saja, Miku. Dia tidak galak, kok. Demo.."
"Demo?"tanyaku
"Dia orangnya suka merayu perempuan."ujar Kaito. Aku menenguk ludahku.
"Tapi, kuusahakan agar dia tidak menggodamu, Miku-chan."katanya seraya mengepalkan tangan. Aku tersenyum lebar.
"Arigatou! Aku mengandalkanmu, Kaito!"kataku seraya tersenyum hingga membuat mataku membentuk bulan sabit atau menyipit. Aku melihat tiba-tiba ia menengang lalu buru-buru menutup pipinya dengan syalnya. Aku bertanya-tanya, kenapa ya dia melakukan itu?
Kaito hanya terdiam di sampingku. Kami berjalan penuh keheningan berdua menuju sekolah. Tidak biasanya, kami berdiam diri seperti ini. Biasanya, kami berceloteh panjang lebar. Ah, aku tidak mau memusingkan hal tersebut.
Setelah sampai di sekolah, aku masuk ke ruang kelasku sendiri. Disana, ada seorang laki-laki berambut cokelat dan ber-iris mata cokelat dan memakai kacamata. Ia sedang sibuk menekuni bukunya hingga tidak menyadari aku dan Kaito datang.
"Hoy, Hiyama!"seru Kaito.
"Shion? Kau datang?"tanya orang tersebut seraya mengernyit heran. Ia menatap penampilan Kaito lalu berganti menatapku dari ujung rambutku hingga ujung sepatuku. Merasa diperhatikan, aku bergerak gelisah karena tidak suka diperhatikan.
"Kau sebegitu nge-fansnya denganku hingga memutuskan datang dan melihatku?"tanyanya narsis. Sempat beberapa detik yang lalu, kukira dia gay. Namun, saat mengingat kebiasaan merayu perempuannya aku jadi tertawa kecil.
"Atau kau terlalu bodoh hingga harus diajari teman seangkatan?"tanyanya seraya mendecakkan lidah.
Kaito menatap laki-laki itu dengan geram, "Tentu saja tidak! Kau tahu kemampuanmu denganku itu sama!"kata Kaito.
"Sama? Kukira kau lebih rendah daripadaku hingga IA-sensei memilihku."kata Kiyouteru sarkastik.
"Kusso! Kau merayu IA-sensei hingga ia memperbolehkanmu mengajar detensi!"seru Kaito naik darah.
"K-Kaito.."bisikku lembut, menyuruhnya memelankan suara. Ia menatapku lalu akhirnya badannya tidak menunjukkan tegang karena marah. Namun, wajahnya masih keras tanda ia masih marah.
"Aku beli es krim dulu untuk menenangkan pikiranku."katanya lebih mirip bergumam pada dirinya sendiri. Aku menatap kearah punggungnya yang menjauh.
"Jadi, kau yang bernama Hatsune Miku?"tanyanya. Aku mengangguk gugup.
"Duduklah."suruhnya dingin.
"Tolong diperhatikan ya, Hatsune."kata laki-laki yang menjadi guruku sehari tersebut.
Namun, aku tak bisa memperhatikan pelajaran apalagi melihat Kiyouteru ekspresi tampannya saat dengan menjelaskan sesuatu atau sedang membaca buku dengan serius. Apakah ini jatuh cinta pada pandangan pertama?
Lalu, aku menyesal mengapa menyukainya. Dia begitu menyebalkan. Sangat. Ia selalu menggodaku. Selalu!
Flashback off
Normal POV:
Miku mendesah ber-kepanjangan menatap kedua orang yang sedang duel tatapan itu.
"S-sensei."panggil Miku. Seketika, Kiyoteru menatapnya. Miku masih ingat lelaki itu mau dipanggil 'sensei' bila sedang detensi dan tidak akan menengok jika dipangil 'senpai'.
"Ya?"tanya Kiyoteru.
"Bi-bisakah kita melanjutkan pelajaran tadi?"tanya Miku seraya meneguk ludahnya. Tatapan tajam Kiyoteru bisa saja membunuh seseorang karena sangat mematikan.
Kiyoteru tersenyum lalu lelaki itu mulai melanjutkan kembali penjelasannya yang sempat tertunda. Dan benar saja, caranya itu membuat Miku lebih fokus dan memperhatikan pelajarannya. Kiyouteru berjalan dengan santai ke depan Miku dan menarik kursi di depannya.
"A-apa yang sensei lakukan!"bentak Miku. Walaupun, Kiyoteru sempat melihat rona merah yang terus muncul di pipi Miku.
"Lho? untuk membiarkanmu konsentrasi. Bila di jelaskan lebih dekat, kamu akan konsentrasi bukan?"tanyanya sok polos. Aku menggembungkan mulutku namun akhirnya, aku mengangguk.
"Kenapa dengan dia?"pikir Kiyoteru.
"Ah, mungkin cuma karena panas matahari."pikir Kiyoteru seraya tersenyum.
"Sedang apa kau tersenyum seperti itu?"tanya Miku ketus.
"Wah, wah. Galak sekali kau ini."kata Kiyoteru. Miku mendengus.
"Matematika dan Fisika itu tidak sulit—"
"Membosankan. Kau berulang-ulang mengatakannya."potong Miku seraya menguap.
"Kalau aku keluar dari neraka ini... aku akan langsung bergulingan diatas bunga-bunga ataupun berlari telanjang keluar dari sekolah.."pikir Miku.
"Atau aku bisa minum sake bersama Meiko.."pikir Miku sibuk memikirkan To-do-list yang ingin ia kerjakan.
"Bengong lagi, Miku-chan. Kau bisa tidak pulang hari ini bila kau tidak terus memperhatikan."kata Kiyouteru seraya mendecakkan lidahnya.
"Hari ini baru juga, Matematika."Kata Kiyouteru seraya menghela napas panjang.
"Baiklah, ini sudah selesai."Lanjut Kiyouteru.
Miku bersorak "Akhirnya!"serunya
"—selesai untuk penjelasanku maksudnya. Jangan seenaknya memotong pembicaraan seorang, bodoh. Kerjakan tugas ini."kata Kiyouteru. Miku menggerutu kesal. Apalagi, ada 50 nomor yang harus ia kerjakan. Wajahnya yang tadi bersorak menjadi merengut kembali. Diam-diam, Kaito yang memperhatikan Miku, tertawa kecil. Wajah Miku yang manis merengut seperti bebek seperti itu membuatnya menjadi terkesan lucu dan gemas. Walaupun, Kaito agak kesal Miku digoda Kiyoteru. Tapi, melihat wajah lucu itu membuatnya terkikik geli.
"Apa yang kau tertawakan?!"seru Miku seraya menatap dengan death-glare kearah Kaito. Kaito tersedak es krimnya.
Miku jadi badmood karena telah terperangkap di ruang kelas(neraka) itu . Sudah se-jam ia habiskan dan mendengar suara celotehan Kiyoteru tentang Matematika. Besoknya, ia harus datang untuk detensi Fisika yang diajar oleh Kiyouteru lagi. Karena Yuuma, anak kepercayaan Gakupo-sensei tidak bisa datang. Jadinya, Kiyoteru yang anak cerdas itu menggantikan Yuuma untuk mengajar Miku. Entah apa ini namanya.. Mungkinkah takdir? ya, takdir yang kejam!
"Bagaimana kalau aku tidak mengerjakan tugasnya?!"tantang Miku. Miku biasanya anak yang menurut dan baik hati. Mungkin, karena ia sudah terlampau kesal dengan sikap sadis dan sarkastik Kiyoteru, ia akhirnya menampilkan sisi memberontaknya.
"Sudah kuduga kau akan berbicara seperti ini, Miku-chan."kata Kiyouteru lalu menyerigai.
"Hmm, bagaimana ya, Miku-chan."lanjutnya seraya menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Gampang saja sebenarnya, Miku-chan. Aku tinggal lapor IA-sensei dan kau harus mengerjakan detensi berikutnya minggu depan."kata Kiyouteru seraya tersenyum. Senyum menakutkan. Miku mengerang keras.
"Itu malah lebih bagus kan? Minggu depan aku bisa mengajakmu kencan."katanya dengan nada menggoda. Kalau hari itu, Kiyouteru bukan guru detensinya.. ia bakal melempar muka itu dengan sepatu miliknya.
Dengan muka tertekuk, Miku mengerjakan soal demi soal walau ia sempat berkali-kali mengerang seraya memberikan tatapan membunuh untuk Kiyouteru. Kiyouteru sendiri hanya tersenyum simpul melihat Miku. Dan, Miku tak pernah sadar ia ditatap oleh gurunya tersebut.
Saat ini, sudah jam 3 siang. Berarti, Miku sudah menghabiskan 2 jam di ruangan tersebut. Kiyoteru dari tadi sibuk memperhatikannya dan tak menyadarinya tersebut. Iris mata Kiyoteru terus memperhatikan Miku yang terus berkutat dengan soal. Laki-laki itu hampir melompat dari kursinya saat mendengar suara gadis itu bersorak.
"Yatta! Sudah selesai!"seru gadis itu seraya tersenyum bangga. Kiyouteru ikut bangkit seraya meregangkan ototnya yang tegang karena duduk lama.
"Kau sudah berusaha keras."ujar Kiyouteru seraya menepuk kepala gadis tersebut. Gadis tersebut hanya tersenyum ceria.
"Aku boleh pulang bukan?!"serunya.
"Kita lihat dulu jawabanmu benar tidak."kata Kiyouteru. Gadis itu merengut kembali seraya duduk di kursinya kembali. Ia meneguk air mineralnya yang tinggal dikit dan menyisir rambutnya yang berantakan terkena keringatnya. Lalu, gadis itu menatap Kiyoteru yang sibuk memeriksa jawaban Miku. Gadis itu terlihat panik dan gusar. Ia tak mau harus mendatangi detensi berikutnya.
Sesekali, Kiyouteru tampak menambahkan beberapa koreksi kearah kertas jawabannya. Membuat, Miku tambah gugup. Semenit kemudian, Kiyoteru melipat kertas jawaban Miku. Miku berharap-harap cemas sementara Kiyouteru tersenyum. Entah itu senyum tulus atau jahat.
"B-bagaimana hasilnya?"tanya Miku takut-takut.
"Banyak kesalahan yang kau buat—" kata Kiyouteru. Mimik muka Miku langsung sedih. Dalam pikirannya, ia harus meninggalkan kasur yang empuk, kipas angin yang sejuk, es krim yang dingin, dan negi kesukaanya karena harus belajar keras untuk mengikuti detensi berikutnya. Melihat eksperesi itu, Kiyoteru hanya tersenyum simpul.
"Demo, lebih banyak jawaban yang benar. Kau lulus, Miku-chan."ujar Kiyouteru.
Seketika, mata Miku terbelalak lebar karena kaget. Namun, Kiyoteru hanya menatapnya santai seraya menyerahkan kertasnya. Miku menerima kertas itu dengan takut-takut. Takutnya, Kiyouteru menjebaknya. Lalu, setelah menggumpulkan keberaniannya, Miku membalikkan kertas tersebut.
Terteralah, huruf B dengan tinta merah tercetak di lembar jawabannya. Miku hanya speechless melihatnya.
"Kau tak perlu mengikuti detensi berikutnya."tegasKiyoteru seraya menepuk pundak Miku. Kiyoteru tertawa mengingat betapa gadis itu sangat membenci detensi, matematika, dan Fisika.
"YATTA! Arigatou, Kiyo-chan!"serunya seraya memeluk Kiyoteru. Bahkan, tanpa sadar ia memanggil kakak kelasnya itu dengan nama pendeknya dan menambahkan kata chan.
Pertama-tama, Kiyoteru sempat kaget dengan respon gadis itu. Namun, akhirnya ia tersenyum seraya menepukkan tangannya ke kepala gadis bersurai teal tersebut. Senyum tipis berkembang di bibirnya. Sebuah lesung pipit terbit di kedua pipinya.
"A-ah, Gomen."kata Miku gugup saat menyadari tindak tidak sopan dari dirinya. Ia hendak melepaskan pelukannya. Namun, Kiyoteru tetap mendekapnya dengan erat.
"Ki-kiyoteru-sensei.."kata Miku gugup. Berada di dekapan dada Kiyouteru yang tingginya sekitar 15 cm darinya memang sangat nyaman. Namun, Miku takut suara detak jantungnya itu terdengar ke telinga Kiyouteru.
"Sebentar saja.."kata Kiyouteru lembut. Miku terdiam di pelukan kakak kelasnya tersebut. Sekarang, seakan-akan kupu-kupu bertebangan ribut di perutnya dan detak jantungnya yang berdebar kencang. Lalu, 3 menit kemudian.. Kiyoteru melepaskan pelukannya.
"Gomen, telah berbuat lancang."katanya seraya mengusap lehernya dengan pipi merona.
"I-iya tidak apa-apa."kata Miku dengan muka tak kalah merahnya.
"Baiklah, saya pulang dulu. Terimakasih atas bimbingannya."kata Miku sopan seraya membungkukkan badannya. Ia pun berjalan keluar kelas. Saat berada, di koridor sekolah sebuah suara memanggilnya. Miku ingin cepat-cepat pergi. Meninggalkan seluruh perasaan aneh tersebut.
"Miku! Chotto matte!"seru laki-laki itu. Laki-laki itu menghampiri Miku dengan berlari.
"Ada apa, Senpai?"tanya Miku berusaha berbicara senormal mungkin. Walaupun, hatinya berdebar kencang.
"Kau mau ikut makan siang?"tanya Kiyoteru. Miku terkesiap. Rona merah terdapat di kedua pipinya yang tembam.
"A-aku tidak lapar. Gomen, Senpai."tolak Miku seraya menundukkan wajahnya.
Namun, sebuah suara keluar dari perut Miku dengan tidak elitnya. Kiyoteru menyerigai sementara Miku mendongak seraya terkekeh malu dengan rona merah di pipinya.
"Telepon Kaito. Dia menunggumu di mobil, bukan?"tanya Kiyouteru. Miku mengangguk lalu dengan segera mengambil telepon bewarna teal miliknya.
"Moshi-moshi?"sapa suara berat.
"Kaito-senpai!"seru Miku.
"Eh, Miku-chan. Sudah selesai detensinya?"tanya Kaito. Kaito memang tadi memutuskan untuk keluar kelas dan menunggu di mobil karena malas berhadapan dengan Kiyoteru.
"Sudah. Demo, umm.."kata Miku terdengar ragu.
"Demo?"tanya Kaito.
"Aku mau makan siang dengan Kiyoteru-senpai."kata Miku.
Sunyi sejenak.
"Senp- maksudku Kaito?"
Kaito hanya mendengungkan suaranya.
"Boleh kan?"ulang Miku.
"Kuperbolehkan—"
"Hah? Benarkah?!"seru Miku.
"—kalau aku ikut dengan kalian."lanjut Kaito. Miku mendesah. Akhirnya, mengangguk dan berkata bahwa Kiyoteru dan dia akan ikut mobil Kaito.
Kaito POV:
"Jadi, kita mau makan apa?"tanyaku. Aku melirik kearah Miku yang berada di sampingku.
"Bagaimana dengan ramen?"usul Kiyouteru.
"Boleh saja."jawab Miku cepat.
"Ada yang tahu toko ramen enak?"tanyaku.
"Aku tahu."kata Miku. Aku pun mengikuti sesuai arahan Miku.
Setelah sampai..
Keadaan restoran masih ramai sekali. Beruntungnya, Miku kenal dengan pemilik restoran tersebut.
"Yowane!"seru Miku. Gadis bernama Yowane itu berbalik menatap orang yang memanggilnya.
"Hatsune!"seru gadis tersebut. Gadis tersebut mengingkat rambut silver panjangnya dengan low ponytail dengan pita biru. Panjang rambut gadis tersebut sepanjang rambut Miku. Gadis itu menggenakan crop top putih, dasi biru tua, celana panjang hitam, dan sepatu putih. Matanya merah menunjukkan ekspresi dingin. Namun, saat ia menyapa Miku matanya berkilat dengan gembira. Ekspresi dingin gadis itu luntur seketika.
"Sudah kuduga aku menemui-mu disini!"seru Miku dengan nada riang.
"Tentu saja kau akan menemukanku disini."seru gadis tersebut seraya setengah bercanda.
"Seperti yang kau lihat, aku membantu Otou-san bekerja di tokonya."kata gadis itu.
"Ah, kau membawa tamu rupanya! Ayo masuk ke dalam rumahku"ajak gadis tersebut. Miku mengangguk antusias. Sementara, Aku dan Kiyoteru berdiri mematung di depan pintu yang terhubung restoran gadis tersebut.
Melihat kami berdua enggan, Miku membalikkan tubuhnya lalu tersenyum "Tunggu apa lagi? Kalian mau jadi patung disitu?"tanya Miku seraya terkikik geli.
Aku mengikuti Miku yang sibuk berceloteh dengan gadis bernama Yowane tersebut. Setelah berjalan cukup lama, kami masuk ke ruang keluarga gadis tersebut.
"Nah, kita belum berkenalan. Namaku, Yowane Haku."sapa gadis tersebut seraya tersenyum.
"Kiyoteru Hiyama."balas Kiyoteru seraya menjawab tangan gadis tersebut.
"Kaito Shion."kataku. Setelah mempersilahkan duduk, Miku bersiap-siap menjelaskan semuanya.
"Haku ini sahabatku saat SMP."kata Miku seraya tersenyum lebar. Aku dan Kiyoteru hanya mengangguk.
"Ah, kami tidak akan dekat kalau Miku tidak berpacaran dengan kakak sepupuku itu."kata gadis tersebut.
"Pacaran?"tanya Kiyoteru dan aku secara bersamaan. Miku telah berpacaran?!
"Ah, kami sudah putus saat kami mau masuk SMA."jelas Miku.
"Yah, karena itu. Hubungan kita terputus. Dell Nii-san mencegahku untuk menghubungimu."kata Haku.
"Pantas saja! Setiap menelponmu, selalu saja Dell yang menjawab."kata Miku. Lalu, ekspresinya berubah tegang.
"Tenang saja. Dell nii-san sedang keluar kota."kata Haku seraya tersenyum.
"Lalu, ini dua-duanya pacarmu Miku?"tanya Haku seraya menatap kearahku dan Kiyouteru.
"Bu—"Miku hendak memotong namun Haku melanjutkannya.
"Kamu ternyata suka harem, Miku?!"seru Haku. Tiba-tiba, sebuah bantal melayang mengenai muka seorang Yowane Haku.
"Itai!"erang Haku. Ia menampilkan ekspresi kesal kearah Miku.
"Mereka berdua senpai-ku. Yang namanya Kiyoteru, guru detensiku. Sementara, yang namanya Kaito itu teman kakakku."kata Miku.
"Atau calon jodohnya Miku."ralat Aku dan Kiyoteru bersamaan. Seketika, aku menatap sengit kearah Kiyouteru.
"Aduh~~ Miku kecilku sekarang diperebutkan lelaki!"seru Haku seraya mengusap kepala Miku. Miku menggerutu kesal.
"Akan kubuatkan ramen spesial!"kata Haku seraya bangkit dan menuju kearah dapur.
"Kau terlihat cukup akrab dengannya, Miku."kataku.
"Yah, dia memang sahabatku yang paling pengertian dulu."kata Miku.
"Selain Meiko, Rin, aku, dan Len?"tanyaku. Miku mengangguk lalu tertawa.
"Aku juga punya sahabat di sekolah, Kaito!"kata Miku. Aku tersenyum saat sadar Miku mulai memanggilku dengan 'Kaito' tanpa embel-embel 'senpai'.
"Kau beda sekolah sih saat SMP dengan kami."kataku. Miku tersenyum. Sementara, Kiyoteru melihat kami berdua dengan kebingungan.
"Kalian teman dari kecil, ya?"tanya Kiyouteru.
"Yah, begitulah. Aku harus stuck dengan senpai idiot seperti dia."cibir Miku setengah bercanda.
"Hei!"seruku seraya mencubit gemas pipi Miku. Sementara, Kiyoteru melihat kami dengan tatapan tidak suka sekali mengernyit heran. Senang juga, bisa membuat si anak jenius itu cemburu. Apakah aku berlebihan?
"Eh, Kiyoteru-senpai tadi berkata bahwa kau itu calon jodohku?"tanya Miku terkesiap. Aneh sekali. Apalagi tadi, darimana Kiyoteru tahu nama Miku bahkan tanpa melihat jadwal absen siapa yang ikut detensi Matematika.
"Itu—"
"Nah, ramen special Haku sudah siap!"seru Haku seraya tersenyum lebar. Dia menyajikan semangkuk ramen panas yang mengepul.
Miku dengan segera mengambil salah satu mangkuk dan mencobanya, "Sugooi!"seru Miku . Bahkan, Miku lupa mengucapkan selamat makan. Aku, Kiyoteru, dan gadis bernama Haku itu terkikik geli.
"Silahkan dimakan, Senpai. Tidak perlu ragu. Teman Miku juga temanku."kata Haku seraya tersenyum ramah terhadapku dan Kiyoteru.
"Itadakimasu."ucap kami pelan.
Memang, tekstur mie ramen tersebut enak sekali. Bumbunya meresap dan pedasnya pas. Semua kombinasi membuat ramen tersebut membuatnya menjadi enak.
"Enak bukan?"tanya Haku seraya tersenyum.
"Enak. Hebat sekali!"seruku. Haku tersenyum.
"Syukurlah, kalian menyukainya."kata Haku.
"Miku-chan. Habis ini kita kemana?"tanya Kiyoteru. Miku hampir tersedak ramennya. Dengan cepat, Haku mengambilkan segelas air minum untuk Miku.
"Arigatou."kata Miku. Lalu, ia menatap Kiyoteru.
"Bagaimana dengan nonton pertunjukan broadway?"tanya Miku.
"Broadway?! "seru Haku. Matanya berbinar.
"Ikutlah dengan kami!"seru Miku seraya tersenyum.
"Ya, sebagai balasan mie ramen yang enak ini."kataku tersenyum lembut.
"Modus Kaito dengan cewek."cibir Kiyouteru. Miku dan Haku tertawa.
"Broadway Swan lake pasti bagus juga!"kata Miku.
Kiyoteru POV:
Aku tak henti-hentinya menatap Miku, gadis itu sibuk berdecak kagum melihat gerakan luwes sang penari. Memang, Teater broadway baru dibuka saat musim panas dimulai. Aku memang bisa melihat penari itu menari dengan anggun dan seakan menceritakan adegan demi adegan dengan gerakannya yang luwes. Namun, aku lebih tertarik dengan gadis berambut teal dengan model twintail disebelahku ini. Hari ini, dia lebih memilih mengikat satu rambutnya.
Catatan: Miku menyukai broadway.
Aku menambah catatan tersebut di dalam hatiku. Apa saja yang kutahui tentang Miku? Banyak!
Hatsune Miku mempunyai seorang kakak yang seangkatan dengan aku dan Kaito. Namanya, Hatsune Mikuo. Kakaknya super overprotective dan bersahabat dekat dengan Kaito. Miku suka makan negi. Miku suka berolahraga daripada pelajaran. Miku lemah dalam Fisika dan Matematika. Namun, hebat dalam Musik, Bahasa Inggris, dan Biologi. Bercita-cita sebagai dokter. Miku juga tidak terlalu suka modeling atau pun Fotografi. Miku bergabung dengan klub cheerleader di sekolah dan membuat band bernama 'vocaloid' bersama teman-teman dekatnya. Golongan darah Miku O dan ber-zodiak Virgo. Miku suka warna teal ataupun pastel. Teman dekat Miku adalah Rin, Meiko, Kaito, dan Len(ini baru didapatkannya tadi). Miku pernah berpacaran dengan anak bernama Honne Dell dan bersahabat dekat saat SMP dengan Kasane Teto dan Yowane Haku. Miku menyukai broadway daripada menonton film. Tapi, jika disuruh memilih menonton film atau menonton pertandingan basket dia lebih suka menonton film. Miku menyukai basket dan kasti. Miku juga menyukai makanan, musik dan buku.
Apa?
Yah, aku memang stalker Miku. Sudah lama aku memperhatikannya. Lalu soal acara jodoh itu?
Tentu saja. Aku memang benar-benar me-calon-kan diri ke ayah Miku waktu itu.
"Bagus ya! Aku ingin menari se-luwes itu makanya aku masuk cheerleader!"seru Miku seraya menatapku dengan mata berbinar-binar.
Aku tertawa. "Miku."panggilku. Dia menjawab dengan dengungan.
Aku melirik kearah kiri. Ada Kaito yang tertidur disebelahku. Anak itu memang tidak terlalu menyukai musik klasik atau broadway.
"Aku mau mengajakmu kesuatu tempat."kataku.
Bola mata Miku menatap kearahku, "Berdua?"tanya Miku. Aku mengangguk. Ia menampilkan ekspresi kaget dan bola matanya membesar.
"Sebentar lagi selesai kan?"tanyaku.
"Bagaimana dengan Kaito?"tanya Miku seraya melirik kecil kearah Kaito yang tertidur dengan tidak elit di sebelah kiriku.
"Kalian berdua bisa pinjam mobilku."kata Haku yang berada di sebelah kanan Miku. Memang, Haku membawa sendiri mobilnya tadi.
"Lalu? Nanti kamu pulangnya bagaimana?"tanya Miku.
"Naik taxi."kata Haku.
"Benar kau tidak apa-apa?"tanya Miku ragu.
"Tidak apa-apa. Nanti, juga kubangunkan teman kalian itu. "kata Haku. Setelah meyakinkan Miku, Akhirnya, Miku mau juga. Kami-sama, aku sangat berterimakasih dengan gadis bernama Haku tersebut.
"Bagaimana caraku berterimakasih?"tanyaku pelan kearah Haku. Sementara, Miku sedang bersiap-siap. Aku sendiri sedang menghampiri Haku yang tadi duduk di sebelah kanan Miku.
"Belikan aku satu parfum saja. Sudah pergilah, lover boy."kata Haku seraya tertawa. Mau tau satu rahasia? Rumahku berada di depan rumah Haku. Jadi, aku sudah dari SMP stalking Miku lewat dari Haku. Jadi, kami pura-pura saja tidak mengenal.
"Kita mau kemana?"tanya Miku saat sudah duduk manis di kursi.
"Himitsu(rahasia)."kataku seraya tersenyum. Miku mendecih. Sementara, aku tertawa misterius.
Normal POV:
"Ki-Kiyoteru senpai. Kenapa tidak bilang kalau kita mau kesini?"tanya Miku gugup.
"Kenapa memangnya?"tanya Kiyoteru.
"A-aku kan masih memakai seragam."kata Miku.
Kiyou\teru tersenyum, "Bagiku kamu cantik. Apa adanya."kata Kiyoteru. Seketika, pipi Miku merona. Memang, Kiyoteru membawa Miku ke restoran khusus untuk makan malam. Miku memesan salad buah, Chicken steak, Blueberry lollipop cake, dan jus anggur( Ini jus ya. Bukan wine.) Di restoran ini, memang Three course dinner. Sementara Kiyouteru, Kiyouteru memesan Cheese garlic bread, Spaghetti bolognaise, Klappertart, dan Hot cappucinno.
"Serius, aku pernah pesan tempat disini. Aku tak pernah kebagian!"bisik Miku.
"Ah, sebenarnya restoran ini milik temanku."kata Kiyoteru. Bola mata Miku membulat.
"Benarkah?!"serunya antusias. "Sampaikan sangat terimakasihku kepadanya!"bisik Miku seraya tersenyum lebar. Kiyoteru tertulan senyuman itu.
Sebenarnya, restoran ini milik ayahnya. Lalu, Kiyoteru-lah yang akan menggantikan ayahnya memimpin restoran ini suatu hari kelak. Saat ini, Kiyoteru menjadi manager yang cekatan. Para chef juga menyukainya. Biarlah, ini menjadi rahasia Kiyoteru.
"Kau suka sekali ya?"tanya Kiyoteru seraya memperhatikan ekspresi gadis yang terus tersenyum lebar tersebut.
"Tentu saja!"sahut gadis itu senang. Namun, kemudian dia menundukkan wajahnya.
"Kenapa?"tanya Kiyoteru dengan bingung.
"B-benarkah Kiyoteru-senpai mengajakku kesini tanpa ada maksud apa-apa?"tanya Miku.
"Hahaha, definisi 'maksud-apa-apa' itu apa, Miku?"tanya Kiyouteru. Wajahnya agak panik karena dia memang mengajak Miku kesini untuk 'mengambil-hatinya'.
"Ah..Maksudku.. Ini...Aku..tidak dikerjai Kiyouteru senpai, bukan?"tanya gadis berambut teal itu gugup dan memberikan tatapan menyelidik. Kiyoteru tertawa pendek.
"Makanya, jangan berasumsi yang aneh-aneh."desis Kiyoteru.
"Asumsi? kan hanya memastikan. Memangnya, Kiyouteru-senpai tahu apa?"tanya Miku galak.
"Kau kira nanti kau yang akhirnya membayar, ya?"tanya Kiyoteru tergelak. Telak! Langsung, wajah Miku memerah.
"B-bukan itu.. M-memang itu sih.. Iih, bukan!"seru gadis tersebut. Kiyouteru terus tertawa hingga akhirnya ia mengusap tangannya ke arah matanya karena tadi dia hampir menangis karena tertawa kencang.
"Kau gadis yang menarik, Miku. Tsundere-mu juga cukup parah, eh?"tanya Kiyouteru seraya mengedipkan matanya.
"Aku.. Aku.. agak heran dengan senpai. Karena.."Miku menghela napas sebentar lalu menatap kearah Kiyoteru, "Senpai kan sering mengejekku. Lalu, tiba-tiba baik seperti ini.. Aku takut dikerjai.."
Kiyoteru berdehem kecil lalu tersenyum, "Teasing kamu itu seru tahu!"
"H-hidoi.."desis gadis tersebut. Sementara, Kiyoteru menjulurkan lidah kearah Miku. Membuat, Miku menggembungkan pipinya dengan kesal. Mimik muka itu dibuat agar terlihat ia marah. Namun, dimata Kiyoteru malah muka itu lucu dan imut sekali.
"Demo, untuk malam ini. Aku tidak bercanda, Miku-chan. Malam ini, makan romantis dengan seorang gentleman Kiyoteru Hiyama!"kata Kiyoteru.
"A-ah.."desah gadis itu seraya menutup salah satu wajahnya dengan tangannya. Menyembunyikan wajah imutnya dari malu.
"Suruh siapa kau boleh menutup mukamu dengan tangamu?"tanya Kiyoteru. Dengan lembut, ia menarik tangan gadis itu. Wajah gadis itu imut sekali dengan rona pink kemerahan di pipinya. Sekarang, rona itu tambah memerah padam.
"Kau menyukaiku, Hatsune? Wajahmu memerah saat melihatku.."kata Kiyoteru seraya terkekeh geli. Miku gelagapan di kursinya. Dengan lembut, Kiyoteru meraih dagu gadis itu agar gadis itu menatap kearah matanya.
"A-aku—"seru gadis itu gelagapan
"Maaf. Saya menganggu tuan dan nyonya. Ini, pesanan anda."kata pelayan itu seraya berdehem kecil. Kiyoteru mendelik kearahnya. Kepala pelayan bernama 'Yuki-Kaai' itu nyengir kuda melihat bosnya bersama dengan seorang gadis. Sebenarnya, ia dari tadi sudah memperhatikan pasangan berbahagia itu. Namun, untuk membalas bosnya itu -yang pernah menyembunyikan sepatunya dulu-, ia sengaja memotong momen itu. Seketika, samar-samar gadis itu bisa mendengar koor 'yaah..' dari dapur. Ia pun terkikik geli melihat bos dan gadis itu jadi tontonan chef dan pelayan restoran tersebut.
"Jaga dia baik-baik"bisik gadis kepala pelayan itu di telinga Miku. Miku menatap kearah kepala pelayan itu dengan heran. Namun, gadis bernama Yuki itu hanya tersenyum lebar seraya meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
"Kenapa, Miku?"tanya Kiyoteru heran. Ia kesal dengan kepala pelayan restoran miliknya itu. Namun, ditahan habis-habisan agar tidak terlihat kesal. Miku menggeleng kecil. Lalu, ditatapnya senpainya tersebut dan akhirnya mereka berdua mengucapkan kata 'selamat-makan' lalu makan dengan tenang.
"E-enak sekali.."desis Miku. Matanya terpejam, pipinya merona, dan tangannya menekan pipinya. Kalau di anime, mungkin di sekeliling Miku ada sparkle atau ada bunga-bunga dengan tokohnya yang sedang melting saat mencoba makanan enak. Ia kini sedang mencoba chicken steak milik restorannya.
"Kau suka?"tanya Kiyoteru seraya tersenyum simpul. Miku mengangguk antusias.
"Syukurlah.."kata Kiyoteru.
Miku meneruskan makannya dengan antusias. Sementara, ia tak pernah sadar bahwa Kiyouteru memperhatikannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Memperlihatkan, lesung pipit.
Miku POV:
"Miku-chan. Kamu ingin kemana setelah ini?"tanya Kiyoteru. Aku menimbang-nimbang sebentar. Entahlah, kenapa aku jadi percaya dengan senpai yang tadi siang sangat kubenci ini. Dia juga menepati kata-katanya, ia benar-benar mentraktirku.
"Eh, terserah Kiyoteru senpai saja."kataku seraya memperhatikan kakak kelasku yang kini duduk di sampingku di belakang kemudi mobil.
"Jadi, kalau ke hotel kamu mau?"goda Kiyouteru. Segera, pipiku memanas mendengar kata-katanya. Refleks, aku melempar buku yang tidak terlalu tebal kearah wajahnya yang menyebalkan.
"Tidak ke tempat itu juga!"bentakku. Kiyoteru tertawa melihat reaksiku. Aku hanya memajukan bibirku tanda aku 'ngambek'.
"Baiklah, aku akan membawamu ke tempat yang kusuka."kata Kiyouteru. Aku mendelik. Lalu, dengan cuek ia menyalakan mesin mobil.
"Bukan...Bukan.. tentu saja bukan tempat aneh!"kata Kiyouteru seakan bisa membaca pikiranku. Wajahnya merona sedikit. Sementara, aku mendesah lega lalu mengangguk kearahnya.
"Sebenarnya, aku bingung sekali dengan senpai. Di satu sisi, kadang senpai baik sekalii seperti tadi. Lalu, kadang senpai jahat sekali suka menjahiliku."kataku berterus terang. Iris mata kecoklatannya melirik kearahku sebentar lalu mefokuskan kembali kearah jalanan. Ia hanya terkekeh kecil tanpa menjawab celotahanku. Sepanjang jalan itu, kami berdiam diri.
Beberapa saat kemudian..
"I-ini tempatnya?"tanyaku.
"Iya."kata Kiyouteru. Lalu, ia menarik tanganku dengan lembut dan berhenti di bawah pohon sakura yang cukup besar.
"Taman ini tersembunyi. Terkadang, aku suka ke-tempat ini sendirian sambil bermain gitar. Kadang, untuk melepas lelah atau stress. Pernah, saat SD, aku tertidur disini dan orang tuaku panik sekali. Saat aku pulang, aku dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuaku."kata Kiyouteru. Aku terkekeh kecil mendengar ceritanya. Lalu, aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Dulu, kau tidak bersekolah di Crypton, ya?"tanya Kiyoteru. Aku menggeleng pelan.
"Dulu, aku home schooling selama masa SMP."kataku seraya menerawang ke-depan.
"Home schooling?"tanya Kiyoteru hati-hati. Aku mengangguk pelan.
"Pasti, senpai bertanya-tanya kenapa aku sekolah di rumah, kan?"tanyaku. Lalu, tanpa menunggu responnya aku berkata lagi, "Aku terlalu banyak pekerjaan sebagai artis cilik. Banyak sekali yang berminat ke-padaku. Kakakku, yang bekerja sebagai model cilik juga banyak berminat. Karena banyaknya acara, kami bahkan hanya masuk setengah tahun dan sisanya kami tak pernah masuk. Karena tidak mau kami terbebani sekolah, orang tua kami menyekolahkan Home schooling untuk kami berdua. Awalnya, Mikuo protes keras karena ingin menjani kehidupan SMP yang dia impikan. Karena aku masih kelas 5, aku menyanggupi saja perkataan kedua orang tuaku. Lagi pula, untuk apa melawan? Itu sama saja dengan pepatah 'menuang minyak ke dalam api'"kataku
Lalu, aku menghela napas sebentar untuk bersiap-siap cerita kembali, "Mikuo dimarahi habis-habisan. Aku tak bisa membelanya karena aku tak mau terkena amarah kedua orang tuaku. Apalagi saat SD, kami tidak terlalu dekat."kataku, aku melirik Kiyoteru yang masih mendengarkan ceritaku dengan wajah penasaran.
"Lalu?"tanyanya menanti penjelasanku lebih lanjut.
"Saat Home schooling, awalnya Mikuo meng-diamkan aku karena aku tidak membelanya. Namun, akhirnya berkat Home schooling itu, lama-lama hubungan kami berdua membaik dan dia jadi overprotective seperti ini."kataku seraya tertawa pelan dan memandang langit penuh bintang.
"Kalau aku jadi Mikuo. Pasti aku juga jadi over protective terhadap adikku."kata Kiyoteru. Aku meliriknya.
"Senpai tidak punya adik?"tanyaku.
"Tidak. Tapi ingin sekali."kata Kiyoteru lalu menatapku, "Terimakasih telah menceritakan ceritamu. Aku jadi merasa dipercayai olehmu hingga bisa mendengar kisahmu."kata Kiyoteru. Aku tersenyum.
"Apa hanya aku yang tahu?"tanya Kiyouteru. Aku mengangguk.
"Len, Kaito, Rin, dan Meiko mengira kami bersekolah di SMP lain. Karena, setiap mereka bermain ke rumahku—mereka mengira kami sudah pulang dari SMP lain."kataku.
"Kenapa enggak bilang sejujurnya saja?"tanya Kiyoteru. Aku mengangkat bahu.
"Mereka juga tidak pernah bertanya. Mereka menyimpulkan sendiri."kataku, Kiyoteru mengangguk paham.
"Lalu, Haku itu?"tanya Kiyouteru.
"Haku bersekolah Home schooling juga. Masa senpai tidak tahu?"tanyaku.
"Hah?"tanyanya.
Aku terkikik geli, "Jangan pura-pura bohong. Haku itu jarang mempercayai orang. Lalu, masa dia tiba-tiba akrab denganmu? terus, aku baru tahu ternyata kamu ber-tetangga dengannya tentu saja Haku yang menceritakannya tadi saat di broadway."kataku. Kiyoteru hanya mengusap lehernya dengan malu .
"Haku bermasalah dalam berteman. Dia anti-social. Namun, saat aku datang berteman dengannya. Kata Dell, dia jadi berubah dan mau terbuka kepada siapa saja."jelasku. Kiyouteru mengangguk menyetujuinya.
"Dia memang anak yang pendiam. Tapi, dia baik hati."kata Kiyoteru.
"Mikuo, Teto, Haku, dan aku. Berteman dekat karena kami sama-sama Home schooling. Apalagi, kami Home schoolingnya dijadikan satu hingga kami bisa bertemu setiap hari. Teto home schooling karena dia mempunyai kepribadian ganda."kataku.
"Kepribadian ganda?"tanya Kiyoteru. Aku mengangguk. Sementara, Kiyoteru terdiam.
"Sebenarnya, aku sudah tahu kamu itu Home schooling dulu. Namun, aku menunggumu menceritakannya. Akhirnya, kamu ceritakan juga."Gumam Kiyouteru.
"Senpai berkata sesuatu?"tanyaku seraya menatap kerah Kiyouteru. Kiyouteru menggeleng pelan seraya tersenyum.
"Aku merasa bebas. Apalagi, summer ini Otou-san dan Okaa-san menarik bodyguardku hingga kami berdua tidak merasa diawasi lagi."kataku seraya berbaring diatas rumput. Kiyoteru ikut berbaring disampingku.
"Yah, keluarga Hatsune memang terkenal dan sukses besar."kata Kiyoteru.
"Hei, bagus ya rasi bintang itu!"kataku seraya mengadahkan kepala. Kiyoteru menatap kearahku seakan berbicara dengan matanya ia berkata 'aku-tahu-kau-mengalihkan-pembicaraan.' Namun, ia menanggapi perkataanku.
"Huh, rasi bintang itu?"tanya Kiyoteru dengan nada mengejek.
"Kau buta rasi bintang?"cibirnya. Aku menampilkan wajah kesal.
"Coba kau sebutkan satu rasi bintang dan jelaskan!"kata Kiyoteru.
"Contohnya, rasi bintang Orion atau konstelasi Orion! Tentu saja aku tidak buta rasi bintang!"seruku sedikit tersinggung. Kiyoteru tertawa dan menatapku dengan tatapan meremehkan.
"Rasi bintang Orion itu memiliki 3 bintang sejajar di tengah dan 2 bintang di kanan dan kirinya. Kabut tipis sayup-sayup di sebelah kanan bintang 3 itu adalah Nebula atau awan antar bintang. Nebula adalah tempat dimana bintang-bintang dilahirkan dengan kata lain Nebula adalah rahim para bintang. Nebula pada rasi Orion ini disebut nebula Orion dan memiliki kode messier M42 dan Messier 42. Nama bintang sejajar itu adalah Mintaka, Alnilam, dan Alnitak. Disebalah kirinya ada 3 bintang, satunya terang dan satunya redup—yang terang bernama Rigel dan yang redup bernama Saiph. Kemudian disisi kanan tiga bintang sejajar itu ada 2 bintang, satu berwarna merah dan satunya berwarna putih. Bintang bewarna merah ini bernama Betelgeuse sedangkan yang putih bernama Bellatrix."Jelasku panjang lebar. Lalu, Kiyoteru bertepuk tangan(yang menurutku berlebihan). Aku sendiri, tersenyum bangga.
"Kau hebat sekali!"puji Kiyouteru lalu menepuk kepalaku . Aku tertawa lebar.
"Ah, dulu Mikuo-nii yang mengajarkanku tentang rasi bintang."kataku. Kiyoteru mengangguk paham.
"Kau mau mendengar sejarah Orion?"tanya Kiyoteru. Aku mengangguk.
"Oron adalah seorang pemburu raksasa yang dikisahkan dalam berbagai episode legenda Yunani. Ada banyak kisah cinta, tentang Orion ini karenaia lelaki tampan dan kuat. Artemis, sang dewi perburuan dan dewi bulan, tertarik pada ketampanan Orion. Namun, saudara kembar Artemis, Apolon, memutuskan hubungan mereka berdua. Orion memang seorang lelaki yang kuat, tapi ia memiliki sifat buruk, yaitu karakternya yang kasar. Artemis lalu diperdaya oleh Apolon. Karena Artemis adalah dewi pemburu yang mahir dengan panah, ia memanah Orion yang dicintainya hingga tewas. Artemis yang akhirnya menyadari perbuatannya tenggelam dalam kesedihan. Kemudian, ia memohon pada ayahnya, sang dewa besar Zeus, agar Orion dijadikan rasi bintang. Pikirnya, jika Orion menjadi rasi bintang, sebagai dewi bulan ia akan bisa bertemu dengan Orion ketika berkelanan di angkasa dengan kereta kudanya. Makanya, rasi bintang Orion itu berada begitu dekat dengan bulan."Jelas Kiyoteru.
"Keren!"seruku. Kiyoteru tertawa.
"Kalau mau melihat rasi bintang Orion, harus pagi hari."kata Kiyoteru.
"Bagaimana kalau kita disini sampai pagi hari?"tanyaku kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja. Namun, ia tidak menyesal melontarkan kata-kata itu.
"Pagi hari?!"tanyanya ragu. Namun, akhirnya ia mengembangkan senyum lalu mengangguk.
"Boleh saja. Kita bercerita tentang banyak hal, ya. Sekarang, coba kamu ceritakan sesuatu."kata Kiyoteru. Aku mengangguk lalu memikirkan sebentar.
"Bagaimana dengan kisah Orihime dan Hikoboshi?"tanyaku. Ia menggangguk
"Aku sih sudah tahu sebenarnya. Tapi, ingin mendengar dari versimu saja."kata Kiyoteru. Aku tersenyum. Lalu, aku menarik napas panjang untuk bercerita
"Malam tanggal 7 Juli dikenal dengan Tanabata. Semua orang menulis permohonan pada secarik kertas, lalu mengikatnya pada sebatang pohon bambu. Cerita Orihime dan Hikoboshi pada Tanabata pada awalnya merupakan legenda yang berasal dari Cina. Tokoh wanitanya, Orihimeboshi (Vega), adalah bintang yang plaing besar dalam rasi bintang Lyra. Hikoboshi (Altair) adalah bintang yang paling besar dalam rasi bintang Aquilla. Kedua bintang ini—sebagai bintang terbesar dalam rasi bintang Cygnus—bersama dengan bintang Deneb, membentuk segitiga besar pada musim panas. Orihime, yang tinggal di tepi sungai Amanogawa, menghabiskan waktunya setiap hari dengan menenun. Hikobashi, yang tinggal di tepi seberang Amanogawa, menghabiskan waktunya dengan menjaga sapi. Ayah Orihime, dewa yang mengatur langit, menikahkan kedua pekerja keras itu."kataku lalu menarik napas panjang.
"Akan tetapi, segera setelah menikah, keduanya menjadi sangat malas dan hidup berfoya-foya. Awalnya, dewa masih menoleransinya, tetapi karena keadaan mereka tidak berubah, mereka berdua lalu dipisahkan di kedua sisi sungai Amanogawa. Lalu, seperti sebelumnya, jika mau bekerja dengan tekun, mereka diperkenankan untuk bertemu hanya pada malam tanggal 7 Juli. Sejak saat itu, mereka berdua harus menantikan datangnya kesempatan bertemu itu satu tahun sekali sambil mengerjakan pekerjaan dengan tekun. Kata-kata Orihime dan Hikoboshi yang kusuka adalah 'Supaya bisa bertemu lagi seperi ini pada tahun depan, ayo kita berusaha sekuat tenaga' "kataku. Kiyouteru bertepuk tangan.
"Hebat!"serunya. Aku tertawa.
"Hei, mau mendengar lagu?"tanya Kiyouteru. Aku mengangguk dan mendekatkan diriku di sebelahnya. Entah mengapa, aku merasa aku telah mengenalnya lama. Entah mengapa, aku merasa aman disisinya. Dia mengetes gitarnya selama sesaat lalu memainkannya.
Oh, her eyes, her eyes make the stars look like they're not shining
Her hair, her hair falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her everyday.
Yeah, I know, I know when I compliment her, she won't believe me
And it's so, it's so sad to think that she doesn't see what I see
But every time she ask me do I look okay?
I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
Her lips, her lips, I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh her laugh, she hates but I think it's so sexy
She's so beautiful
And I tell her everyday
Oh, you know, you know, you know I'd never ask you to change
If perfect's what you're searching for, then just stay the same
So don't even bother asking if you look okay
You know I'll say
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause girl you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
Girl, you're amazing
Just the way you are
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause girl you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are.
Yeah
Kiyoteru POV:
Aku menyelesaikan lagu favoritku tersebut. Lalu, aku menatap gadis yang sedang speechless di sampingku. Aku menariknya mendekat dan membiarkannya berada di dekapanku.
"Terima kasih."bisiknya. Aku mengelus rambutnya.
Lalu, baru kusadari tubuhnya sedikit mengiggil kedingan. Refleks, aku membuka jaketku dan memakaikannya.
"Tidak! nanti Kiyoteru senpai kedinginan!"seru gadis itu panik. Dengan tenang, aku tersenyum kearahnya dan menolak pemberian jaketku kembali. Akhirnya, ia mengenakan jaket yang kebesaran di tubuhnya tersebut. Lalu, aku memeluknya.
"S-senpai?"tanyanya gugup.
"Aku juga kedinginan. Makanya, peluk aku untuk membagi panas tubuhmu."kataku. Pipinya seketika merona sementara aku tertawa kecil.
Di bawah naungan pohon sakura, aku berbaring dengan gadis berambut teal itu. Berbaring menatap angkasa seraya bercakap-cakap dengan sejarah rasi bintang. Rasi bintang Coma Berenices ,Andromeda, Perseus, Cassiopeia, Taurus, Scorpio, Corona borealis dan masih banyak lagi. Gadis itu juga berceloteh bahwa ia ingin jadi dokter walaupun lemah dalam Fisika dan Matematika. Namun, ia akan tetap mengejar cita-citanya tersebut.
"Aku suka semangatmu."kataku seraya tersenyum.
"Ah, cita-cita itu harus dikerjar sampai dapat kan?"tanyanya seraya tertawa.
"Seperti kamu. Aku juga harus mengejarmu sampai dapat."gumamku.
"Huh? senpai berkata sesuatu?"tanya Miku polos.
"Ah, uh. Tidak. Tidak apa-apa."kataku gelagapan. Miku menaikkan alisnya lalu ia pun berkata 'oh'. Aku tahu, dia memang agak penasaran namun ia tidak menanyakan apa gumamanku itu. Syukurlah..
Hingga, akhirnya gadis itu terlelap di pelukanku. Perlahan, kulepas ikat rambutnya agar kepalanya tidak sakit.
"Aku sangat, sangat, sangat, sangat beruntung bertemu denganmu.. Walaupun ,kesempatannya kecil. Aku sangat lega bisa bertemu denganmu."bisikku seraya membelai rambut teal halusnya. Aku merasakan sejuknya malam. Sesekali, sakura berjatuhan dan terbang tertiup angin. Aku menatap kearah langit dan tidak menyadari lama-lama mataku semakin berat...
Paginya..
"Bangun."seru sebuah suara dengan lembut. Aku membuka mataku perlahan. Gadis itu menghembuskan uap putih. Namun, ia tidak terlihat kedinginan malah tersenyum ceria.
"Lihatlah! Rasi bintang Orion!"seru gadis itu ceria. Senyumnya lebar dan hangat. Aku megadahkan kepalaku dan bertemu dengan rasi bintang indah itu.
"Ohayou."sapaku dengan nada mengantuk.
"Ohayou."sapanya. Lalu, aku membantunya untuk berdiri.
"Kamu mau sarapan?"tawarku. Gadis itu mengangguk seraya membuat model twintail dengan rapi.
"Aku tahu tempat yang enak."Miku hanya menyunggingkan senyum. Senyumnya yang hangat dan bahagia. Senyumnya yang menular.
Kami-sama, bolehkah aku berharap satu hal?
Aku ingin mendekap gadis ini lama di pelukanku..
Dan selalu berada di sampingku..
Anjrit ahhh.. Authornya ke-geeran dan nosebleed sendiri hahaha :^:. Oh ya, masih ada lanjutan part-2 nya. Astoge, Miku gampang percayaan ya sama orang. Dan disini, banyak banget dibahas tentang astronomi ya? Soalnya, entah kenapa pas nulis ini saya kelintas ide buat masukin astronomi disini. Lagipula, saya juga suka banget stargazing kalau lagi liburan. Kadang, liat langit bertabur bintang aja saya udah ngerasa beban masalah yang dibawa udah menghilang gitu aja hehe. Kiyoteru disini stalker Miku hahaha~ Tunggu chapter berikutnya! Kaito rusuh disini. Dan chapter berikutnya, bakal muncul Kaito dan salah satu kembaran kagamine~
Jaa~ mata ne!
Note: Arigatou panda dayo for fav my fic!
Credit song:
1. Just the way you are- Bruno mars
Balasan review:
Panda dayo
Hahaha, semangat bacanya? Yap, Miku itu tsundere sekalii( Authornya juga gitu, kok. Disini, Miku suka buku, musik, basket, makanan, dan film yah sama kaya aku -.- ) Dia suka sama Mikuo ga yaaa~ Len? Oh, dia emang dibikin nyebelin disini. (Len: jangan benci aku panda dayoo ;^; kan mendapatkan Miku harus penuh perjuangan(?) ) Gumiya? yaaa, kasian emang dia gak dimaapin wkwkwk. Pengennya sih, aku bikin Gumiya gak dimaapin selamanya (gumiya: Woy!) Tapi, aku kasian juga sama dia huehuehue. Ujung-ujungnya malah bahas lagu nih? hahaha. Arigatou atas fav-nya!
Indah605:
Ayo semangat, indah! Past kamu bisa kok! Abis puasa? gapapa. Siapa tahu, kamu berbakat nulis lho.. Ayo semangat! Sudah di update nih!
Iyaa, chapter 1,2,3 itu memang masih gitu deh huhuhu ;^; tapi, chapter selanjutnya sudah mulai di-perbaiki kok!
Furusawa Aika
Yap, ini suprise pairing! Hayoo, Miku makin banyak pilihannya nih. Apa dinikahin semuanya aja ya? (All boys: Woy!) Wkwkwk.. Ini sudah di-update Aika-san ^^ Semoga suka ya.
Yuuki-megumi
Sangat fluff? iya sih.. tapi bisa aja kan berakhir sad ending atau malah happy ending? huehuehue. Bermasalah? iya bermasalah banget *pundung dipojokan*
Lemmine
Len nanti ada kok! Nyusul diaa~ Weleh, spoiler aku. Incest bertebaran? haha. Kalau mau, lemmi-chan ada kok di fate meeting saya bikin Miku sama Len hehew. (Gumiya & Len: Aww, kita dibilang imut! Miku: Apaan lo! gw yang dibilang imut! Bukan lo berdua! Rika: *sweatdrop*) Sama-sama Lemmi-chan! Jaa ne!
