Snow Memories 7
Disclaimer: Kayanya Bleach itu punyanya Tite Kubo-sama deh. Atau Hoshino Katsura-sama ya?
Ah, rasanya Tite Kubo-sensei == (Ngomong sendiri.)
Well, selama Bleach belum berubah nama jadi BECAK, berarti manga ini bukan punya saya XDD
Yuk cekidot-cekidot~
Snow Memories 7…
Memories in the Snow.( The Immortal one.)
Yuki no kioku….
"Akulah lawanmu, Onee-san…"
Ichigo dan Hatred terkejut.
"Toushiro?"
Dengan sekali lompat, pemuda berambut putih itu telah berada didepannya.
"Minggir Kurosaki…. Aku akan menghadapinya sendirian." Katanya dingin.
"Apa? Jangan bercanda! Dia itu kuat!" Ichigo mengusap lengan kanannya yang terasa ngilu.
"Aku tahu. Tapi ini pertarunganku."
Ichigo bangkit dan memegang pundak pemuda itu.
"Kau tidak boleh bertarung sendiri."
Hitsugaya menepis tangan Ichigo.
"Ini berbeda dengan kasus Kusaka. Walaupun kau membantu, kau hanya akan jadi pengganggu."
"Apa katamu?" Amarah Ichigo memuncak. Kenapa bocah ini selalu melakukan semuanya sendirian? Apakah ia tidak pernah berpikir kalau ia punya orang lain? Apakah ia tidak pernah berpikir bahwa ia memiliki 'Teman'?
"Ini pertarunganku. Hanya aku yang bisa mengalahkannya. Hanya 'aku' yang bisa mengalahkan kakak'ku'. Aku mohon, Kurosaki…."
"Apa? Jadi gadis itu…."
Hitsugaya menatapnya sendu.
Sekilas, Ichigo melihat sesuatu.
"Toushiro….? Matamu…."
Hitsugaya menutup mata kirinya dengan telapak tangannya.
"Jangan pedulikan ini. Cepat pergi."
Ichigo menggertakan giginya namun ia beranjak pergi. Ia tahu. Toushiro telah memutuskan, dan ia tak boleh menganggunya.
"Kalau kau sampai kenapa-kenapa, aku takkan segan-segan untuk menolongmu."
Hitsugaya tersenyum tipis.
"Terimakasih."
Hitsugaya menatap Hatred yang tadi sempat terlupakan.
Hatred menyeringai.
"Wah wah wah, akhirnya sang adik datang sendiri untuk membunuh kakaknya. Benar-benar takdir yang ironis."
"Diam, kau bukan kakakku."
"Heh? Benarkah? Apakah aku tidak melihat tubuh ini? Wajah ini? Zanpakutou ini? Semuanya adalah milik kakakmu lho~"
"Tapi hatimu, bukan hatinya."
Hatred menyeringai lebar.
"Kau menarik bocah. Alasan gadis itu menukar jiwanya, alasan gadis itu menjadi iblis, orang yang paling berharga baginya….. GYAHAHAHA!" Hatred tertawa terbahak-bahak.
Hitsugaya hanya menatapnya dingin.
Hatred berhenti tertawa.
"Hmmmm…. Orang yang paling berharga baginya, BAGAIMANA KALAU KUBUNUH DENGAN TUBUHNYA! Hahahahahahaha!" Hatred maju dan menyerang Hitsugaya langsung. Hitsugaya menghindar.
"Hehehehe, bagaimana kalau aku gunakan jurus gadis itu saja sekalian ya?"
Seperti tadi, Hatred menjauh dan menggenggam erat zanpakutounya. Hitsugaya masih bersikap tenang.
"Shisen ni Ochiru, Yukihime..." Salju turun.
"Gyahahahaha! Omoidasu!"
"Soten ni Saze! Hyourinmaru!"
"Hahahaha, biarpun kau gunakan Shikaimu itu tetap tidak berguna!"
"Tidak berguna?"
Hatred terkejut. Tubuh Hitsugaya sama sekali tak terluka.
"Apa? Tidak mungkin…."
Hitsugaya tersenyum licik.
"Aku sudah tahu kelemahan jurusmu."
"A...apa?"
Hitsugaya menunjuk keatas.
Hatred mendongak dan terperangah.
Sebuah atap es berada diatas pemuda itu.
"Setiap kali kau menggunakan jurus itu, salju akan turun. Mungkin orang lain akan mengira itu adalah efek dari jurusmu. Tapi sebenarnya bukan. Justru salju itulah yang paling berbahaya. Salju itulah inti jurusmu. Selama aku tidak terkena salju itu, jurusmu tidak akan berfungsi..."
Hatred menelan ludah.
"Gehhhhh... darimana kau tahu?"
"Seseorang..."
Hatred menggertakkan giginya.
"Greed. Pasti dia. Dasar pengkhianat!"
Hatred tersenyum kecut.
"Baiklah, kalau begini. Tidak ada cara lain."
Gadis itu mengubah posisi zanpakutounya.
"Ban...kai..."
"JDARRRRRRR!"
Hitsugaya melindungi wajahnya dengan tangan kirinya.
Salju bertebaran dimana-mana.
Gadis itu melompat kedepannya.
"Arare! (Hujan es)"
"Akhhhh!" Hitsugaya terkena serangan itu telak. Ia terpelanting jauh kebelakang.
"Apa?" Hitsugaya membuka matanya dan melihat gadis itu.
Dipunggung gadis itu, tumbuh dua pasang sayap yang berbeda warna.
Sepasang berwarna putih bersih bagai sayap malaikat.
Dan sepasang lagi berwarna hitam, bagaikan sayap iblis.
Bankai.
Tingkatan tertinggi dari zanpakutou.
"Fufufufufu, kau terkejut bocah? Hebat bukan? Ternyata tidak hanya para taichou yang bisa melakukan bankai, kan?"
Hitsugaya bangkit.
"BANKAI!"
Hitsugaya melepas Bankainya. Kabut tipis menutupi pandangan Hatred.
"Benar. Tapi jangan lupa, aku adalah salah satu taichou dari Gotei 13…."
Sosok Hitsugaya terlihat.
Hatred benar-benar terkejut.
Bankai pemuda itu, tidak seperti biasanya.
Sepasang sayap lain, tumbuh dipunggung pemuda itu.
Sayap hitam.
"Aku tidak menyangka kau melakukannya, bocah…"
Hitsugaya menatapnya. Iris mata kanan dan kirinya terlihat berbeda.
Emerald dan Scarlet.
"Ya, aku telah bergabung dengannya…."
"Huh…"
Flash back..
Hitsugaya terbangun. Dilihatnya Greed tengah bersender dipinggir jendela. Hitsugaya menerjang laki-laki itu.
"…Apa … yang terjadi…."
"Hm?"
"Apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang terjadi setelah ia meninggalkanku. Kemana ia pergi!"
Greed menatapnya. Mata Emerald dan Scarlet itu bertemu.
"Neraka."
"Apa?" Pupil mata Hitsugaya melebar.
"Aku membawanya ke neraka. Dan menjadikannya iblis, sesuai perjanjian."
Tubuh Hitsugaya merosot ke lantai.
"Jadi…. dia… jadi seperti itu. Karena aku?"
"Ya."
Greed berjalan ke sisi lain ruangan.
"Tapi,proses itu tidak sempurna…"
"Apa maksudmu?"
Greed memandangnya.
"Untuk berubah sepenuhnya, ia harus membuang semua perasaannya. Dan, bersinkronisasi dengan 'jiwa' iblis yang menjadi 'perantaranya'. Seharusnya, apabila proses itu berhasil, Yuki akan berubah menjadi iblis, tanpa harus kehilangan kepribadiannya. Tapi proses itu gagal…"
"Kenapa?"
"Dia masih mempunyai satu perasaan. Affection. Rasa sayangnya padamu, membuat ia tak bisa bersinkronisasi dengan iblis perantaranya, yaitu Hatred. Ditambah lagi ternyata Hatred memberontak dan ingin menguasai tubuh Yuki. Masing-masing dari mereka berusaha mendominasi. Memperebutkan satu tubuh dan kekuatan."
"Gyaaaa!"
"Yuki-onna!" Greed mencari sosok yang tersembunyi dalam pekatnya kabut itu.
Tapi ia tidak menemukannya...
"Saat itu, aku yakin dia sudah mati. "
Tiba-tiba, dari dalam kabut, sesosok tubuh terlihat. Sosok dengan rambut panjang berwarna silver. Greed mendekati gadis itu, dan sadar.
Mereka telah gagal.
Setengah dari tubuh gadis itu terkoyak. Mata kanannya berubah warna menjadi Scarlet.
"Tapi tidak, ia hidup. Namun jelas, dampak dari kegagalan itu tetap ada. Ia menjadi Eternity."
"Apa itu?"
"Sebutan kami untuk mahluk setengah iblis dan setengah shinigami. Mahluk abadi, tak bisa mati. Sama seperti kami, namun berbeda dalam artian tertentu."
"Dengan kata lain…." Kata Hitsugaya cemas.
Greed memilin-milin ujung rambutnya dan menjawab.
"…. Dua kepribadian, dalam satu tubuh…"
"Itu mustahil."
"Tidak. Ia benar-benar telah berubah."
Hitsugaya menggigit ujung ibu jarinya.
"Kau tahu, hal yang paling disukai Hatred adalah darah. Warna merah. Ia menyukainya. Dan nafsunya itu tidak akan terpuaskan hanya dengan membunuh 1-2 orang saja."
"Jadi karena itulah ia membunuh orang-orang?"
"Ya. Dengan terus membunuh minimal sebulan sekali, hal itu akan menekan emosi Hatred dan membuat Yuki mampu mengendalikan dirinya. "
Hitsugaya memukul lantai. Tatami ditempat itu terkoyak.
"Sial…."
Greed menghampiri pemuda mungil itu.
"Tidak perlu menyesal. Itu tidak berguna lagi sekarang."
"Mudah bagimu untuk berkata seperti itu! Tapi, dia kakakku! Dia sangat berharga untukku!"
"Kau pikir dia tidak berharga untukku?"
Hitsugaya mendongak.
Greed menatapnya dingin.
"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?"
"Membunuhnya."
"AP…"
"Hanya itu, yang bisa kau lakukan. Lebih tepatnya, hanya kau yang bisa melakukannya. Karena kau memiliki ikatan darah dengannya."
Greed bangkit, dan kembali kesisi jendela.
"Dulu, Yuki memang masih bisa menahan kekuatan Hatred dengan membunuh orang-orang. Tapi, lama-kelamaan kekuatan Hatred meningkat. Terakhir kali Yuki hampir berubah adalah, sekitar beberapa hari yang lalu…." Greed memegang leher bagian kirinya.
Hitsugaya teringat sesuatu.
"Tenanglah, sampai hari itu tiba, tidak akan ada seorang pun yang mati. Aku tidak akan menyusahkanmu…"
"Dia menahan dirinya… agar tidak merepotkanku?" Gumam Hitsugaya pelan.
Greed mengangguk.
"Ya. Kamu pasti tidak tahu bagaimana rasanya kan? Bagaimana sakitnya, ketika seluruh tubuh mu seolah tercabik-cabik, tapi kau tidak bisa mati. Hal itu terus berulang. Pengertian dari 'Eternity' bukanlah 'Hidup abadi' tapi 'Rasa sakit abadi'."
"Lalu… bagaimana caranya…?" Hitsugaya telah menetapkan tekatnya. Ini semua bermula darinya, dan dialah yang harus mengakhirinya.
"Eternity, adalah mahluk abadi. Immortal, sama seperti kami. Hanya saja, dalam keabadian itu, mereka juga terus merasakan rasa sakit, dan berperang dengan diri mereka yang satu lagi. Untuk membunuh Eternity, dibutuhkan Eternity lain. Orang yang memiliki ikatan darah, dan kemampuan yang sama dengan Eternity itu. Mereka harus saling bertarung"
"Jadi aku harus berubah menjadi seperti dia?"
"Ya."
"Tapi bukankah itu hanya akan mengulang hal yang sama lagi? Maksudku, kalau aku jadi seperti dia, maka aku pun akan mengalami hal yang sama seperti yang ia lakukan…."
"Maksudmu, kau juga harus membunuh?"
Hitsugaya mengangguk.
"Jangan khawatir. Biasanya, orang yang ingin 'menolong' Eternity, akan mati dalam pertarungan itu. Jadi kau tidak usah merisaukan kalau kau akan merepotkan orang lain."
"Apa?"
"Bukankah kau ingin menolongnya?"
Hitsugaya ragu sejenak, kemudian berkata mantap.
"Ya. "
"Kau yakin?"
"Ya…." Hitsugaya mengepalkan tangannya.
"…. Dia jadi seperti itu karena aku, dan akulah yang harus bertanggung jawab."
"Bagus."
"Lalu, bagaimana caranya menjadi seperti dia?"
"Pertama, kau harus menemukan iblis yang akan bersinkronisasi denganmu. Dan menghentikan proses perubahan itu ditengah-tengah. Dengan begitu, kau pun akan berubah seperti dia. Eternity."
"Dimana aku bisa menemukan iblis itu?"
Greed menyeringai.
"Kau lupa? Ada satu disini. Dan dia bisa membantumu…"
.
.
.
.
"Greed. Seharusnya aku tahu dari dulu dia itu pengkhianat." Gumam Hatred. Wajahnya terlihat kesal.
"Pengkhianat atau tidak. Tujuan kami sama. Jadi itu tidak penting lagi sekarang." Balas Hitsugaya.
"Heh? Tujuan yang sama? Menggelikan. Selamanya iblis dan dewa kematian tidak akan bisa bersatu!"
Hitsugaya mengangkat tangan kanannya. Sebuah lambang pentagram terukir disana.
"Bisa."
.
.
.
Hitsugaya memandang Greed sejenak.
Pria itu terlihat kuat.
"Kau?"
"Ya. Hanya saja, kali ini caranya agak berbeda. Aku tidak akan sudi memberikan seluruh kekuatanku padamu bocah."
Hitsugaya membuang muka.
"Aku tahu itu."
"Kemarikan tanganmu." Ujar Greed padanya.
Hitsugaya mengulurkan tangan kanannya.
Greed memegang tangan kecil itu dengan tangan kirinya. Kuku ditangan kanannya memanjang.
"Jangan berteriak."
Hitsugaya menatapnya.
Greed menusukkan ujung kuku telunjuknya ke punggung tangan kanan Hitsugaya, dan mulai menggambar sebuah tanda disana.
Pentagram.
Greed kemudian menyayat pergelangan tangan kirinya sendiri. Darah yang berwarna merah pekat menetes dari luka yang ia buat.
Greed meletakkan tangan kirinya diatas tangan kanan Hitsugaya. Darahnya menetes diatas luka Hitsugaya. Darah mereka menyatu. Mengelilingi lambang yang Greed torehkan ditangan putih itu.
"Terbukalah enam pintu ilusi.
Tujuh dosa dan seribu nafsu.
Wahai kau yang mempersembahkan jiwamu pada kami,
Terimalah kekuatanku…."
"GYAAAAA!" Hitsugaya menjerit. Tubuhnya seakan tercabik-cabik oleh sesuatu yang ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya.
"Diamlah bocah…."
Greed berusaha menahan Hitsugaya yang mulai kehilangan kendali. Hitsugaya meronta-ronta dalam cengkraman erat pria itu.
"ARGGGGGHHHHHH!"
Cengkraman Greed terlepas.
Hitsugaya berguling-guling dilantai. Ia memegang kepalanya sendiri.
"Sesakit inikah?
ARGGGHHH!"
Hitsugaya menghancurkan dinding kamarnya. Debu-debu beterbangan. Greed menatapnya.
Sosok itu mulai terlihat.
Mata kanannya berubah warna menjadi Scarlet.
"Wah, kita berhasil nampaknya."
Hitsugaya bangkit dan berjalan ke arahnya. Nafasnya terengah-engah.
"Sakit? Kakakmu pernah merasakan yang lebih sakit dari itu, kau tahu.?"
Greed memegang pundak pemuda itu.
"Berbeda dengan Hatred, aku bisa mengendalikan diriku. Dan karena 'kontrak' yang kita buat ini lancar, kau tidak perlu merasa sakit. Tapi, yang kuberikan padamu hanyalah setengah dari kekuatanku, kurasa itu sudah cukup untuk mengalahkannya."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Kenapa? Karena aku telah hidup jauh lebih lama daripada Hatred, kekuatanku jauh berada diatasnya. Dan kau, kurasa…."
Greed kembali ke posisinya semula.
"….Lebih kuat dari Yuki. Jadi kau pasti bisa mengalahkannya."
Hitsugaya tercengang. Ia tidak menyangka Greed akan mengatakan hal seperti itu.
Greed memandang keluar jendela.
"Ah, sebaiknya kau segera bergegas. Mereka sudah mulai bergerak…."
Hitsugaya ikut menolehkan pandangnya pada langit malam diluar sana. Barulah ia menyadari, pertempuran telah terjadi.
"Aku siap."
Hitsugaya mengenakan shihakusounya dan memakai haori berlambang '10' di bagian punggungnya.
"….Aku pasti bisa mengalahkannya…"
"Jangan lupa. Waktumu hanya sampai matahari terbit. Kalau kau terus menggunakan kekuatan itu melampaui batas waktumu, kau akan mati. Yah sama saja sih."
Hitsugaya menatap wajah pria itu.
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tidak." Balas Greed singkat.
Hitsugaya melompat keluar jendela. Namun ia menoleh kebelakang. Sejak tadi, ada hal yang sangat membuatnya penasaran.
"Kenapa… kau membantuku sampai sejauh ini? Bukankah seharusnya kau menolong 'teman' mu?"
"Teman? Hatred bukan temanku. Aku hanya punya satu orang yang kuanggap sebagai 'teman'. Lagipula siapa bilang aku membantumu? Ini kulakukan demi kakakmu."
"Kenapa, kau mau menolongnya?"
"Kau tidak perlu tahu."
Hitsugaya menata p wajah pria itu sejenak. Ia tersenyum tipis.
"Terimakasih."
Sekilas Greed melihat bayangan Yuki diwajah chibi taichou itu.
Hitsugaya bershunpo pergi.
Greed menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya.
"Rasanya, aku tidak pantas lagi menjadi Seven Sins…."
.
.
.
.
Hatred memandangnya benci.
"Sudahlah. Aku malas bernegosiasi denganmu."
Hitsugaya mengambil ancang-ancang dan menyerang gadis itu. Hatred tidak mau kalah, ia juga berusaha menyerang Hitsugaya dengan serangan-serangan mematikan.
.
.
.
.
"Hitsugaya taichou..." Matsumoto menatap keatas langit. Dilihatnya sang taichou yang tengah bertarung dengan mahluk itu. Kira menghampirinya.
"Matsumoto-san. Apa yang anda lakukan? Musuh kita semakin banyak!"
"Ah, maafkan aku."
Kira ikut memandang keatas langit. Sosok taichou divisi 10 itu terlihat samar.
"Eh?"
"Ada apa, Kira?"
"Apa Matsumoto-san juga melihat itu?"
"Apa?" Matsumoto mendongak.
"Sayap, dipunggung Hitsugaya taichou..."
Matsumoto terhenyak.
"Taichou... jangan-jangan..."
Matsumoto meraba tengkuknya. Sejak tadi ia merasakan sesuatu yang aneh.
"Reiatsu taichou, berubah..."
Kira juga memegang tengkuknya.
"Iya. Reiatsunya menjadi lebih gelap..."
Matsumoto menutup matanya.
"Taichou... hati-hati..."
.
.
.
.
"Trang! Trang! Pertempuran sengit terjadi diatas dan dibawah langit. Masing-masing berusaha mengalahkan musuhnya.
Greed menatap semua pertarungan itu dari atas pohon Sakura didekat kantor Gotei 13.
"Malam ini, semuanya akan berakhir..."
.
.
.
.
Hitsugaya dan Hatred bertarung dengan gigih.
Sudah ratusan jurus yang mereka keluarkan, namun belum ada satu dari mereka yang kalah.
Hitsugaya mengatur nafasnya.
Sungguh sulit menyesuaikan diri dengan Bankai barunya. Bankai nya yang belum sempurna, kini tersempurnakan oleh bantuan Greed. Bankainya tidak memakai batas waktu lagi.
Untuk saat ini mereka seimbang.
Matahari hampir terbit. Langit berubah warna menjadi kebiruan. Tak terasa mereka telah bertarung selama berjam-jam.
"Cih, bagaimana cara mengalahkannya?" Desis Hitsugaya pelan.
"Hei, nampaknya kau kesulitan anak bodoh."
"Greed?" Sebuah suara berdengung di kepalanya.
"Ya. Sudah kuduga kau tidak tahu cara mengalahkannya kan?"
"Kau tahu?" Hitsugaya membalas serangan zanpakutou Hatred.
"Tentu saja."
"Bagaimana caranya?"
"Bangunkan gadis itu."
"Bangunkan Yuki-nee?"
"Ya. Kalau dilawan dari luar dan dalam, dia pasti kalah. Syarat untuk mengalahkan eternity adalah, kau harus membunuhnya saat ia bertransformasi."
"Bagaimana cara membangunkannya?" Hitsugaya mengelak kekiri. 'Arashi' milik Hatred hampir mengenainya.
"Kau yang paling tahu itu bocah. Dia pasti akan membantumu."
"Ughhh…."
Hitsugaya melompat kesamping.
"Bangunkan Yuki-nee…. aku harus membangunkannya. Kalau begitu, pertarungan jarak dekat."
Hitsugaya menyerang Hatred langsung.
"Che, dasar bocah tolol! Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan jarak sedekat ini?"
"Ah, jadi kau takut bertarung jarak dekat begini ya?" Hitsugaya berusaha memancing amarah Hatred. Dan benarlah, gadis itu terpancing.
"APA! DASAR BOCAH MENYEBALKAN!"
"Ini saatnya…"
Hitsugaya membuang zanpakutounya dan menahan kedua tangan Hatred dengan tangannya.
"BANGUN BAKAYUKI!"
Hatred terkejut.
"Apa! Jadi kau berusaha membangunkan gadis itu heh ? Takkan kubiarkan!" Hatred berusaha menyabetkan zanpakutounya pada tubuh Hitsugaya. Namun cengkraman kuat Hitsugaya, membuat ia sulit bergerak.
"BANGUN YUKI-ONNA! APA KAU MAU MATI SIA-SIA, HAH! AKU BILANG BANGUN!"
"Ghehhhhhh…. Berhenti bocah!" Jerit Hatred. Ia berusaha memberontak.
.
.
.
.
Yuki membuka kedua matanya.
"Siapa…. Yang memanggil namaku?"
"BANGUN BAKAYUKI!"
"Siapa?"
"BANGUN YUKI-ONNA!"
"Shiro?"
"Aku mohon, BANGUN YUKI-NEE!"
"Toushiro?"
.
.
.
.
"Gyaaaaaaa!" Hatred menjerit keras. Yuki telah terbangun.
Hitsugaya terlempar jauh karena kekuatan Hatred. Punggungnya menghantam salah satu dinding es bekas pertarungannya dengan gadis itu. Ia meringis,
"BOCAH KURANG AJARRRRRRRR!"
Hatred berusaha mengambil alih tubuh itu lagi.
Pertarungan batin itu terus berlanjut.
"DIAMLAH KAU GADIS BODOH! DIAM KATAKU!"
"Tidak. Dia membutuhkanku, dia memerlukanku."
Hatred mencengkram kepalanya dengan tangan kirinya. Ia menatap Hitsugaya dengan kemarahan yang memuncak. Mata bagian kirinya berubah warna menjadi Emerald.
Ia mencengkram zanpakutounya dan menyerang Hitsugaya.
"SEHARUSNYA KUBUNUH KAU SEJAK TADI!"
Dengan gerakan cepat, Hitsugaya mengambil kembali Hyourinmaru yang tergeletak tak jauh darinya. Ia menutup matanya sejenak.
"Maaf…. Onee-san…."
"CRASSSSHHHHH!"
Bilah Hyourinmaru menembus tubuh gadis itu tepat dijantungnya.
Darah bercipratan dari luka yang Hitsugaya torehkan ditubuh gadis itu.
"GYAAAAAAAAAAAAA!"
Gadis itu terus menjerit.
Perlahan, warna matanya berubah. Begitu pula kedua pasang sayap dipunggungnya yang ikut menghilang.
Gadis itu jatuh terduduk. Tepat dalam pelukan Hitsugaya. Setetes darah menetes dari sudut bibirnya.
Hitsugaya mengangkat wajahnya.
"Onee…san…"
Yuki mengelus rambut pemuda itu. Ia tersenyum tipis.
"Terima….kasih…. Shiro…chan…."
Hitsugaya memeluk gadis itu erat.
"Maaf…. Onee-san…Maaf…. Maaf…."
Yuki menggeleng.
"Tidak, akulah yang harus…. me….minta maaf padamu…. Aku….. mem….buatmu mende….rita. Aku telah meninggalkanmu…. Maaf ya, Shiro…." Gadis itu menitikkan air mata.
Hitsugaya mengangguk.
"Ohok!" Tiba-tiba Hitsugaya memuntahkan darah segar. Nampaknya efek dari jurus Greed tadi mulai terlihat.
Yuki menatapnya.
"Aku…. Tidak akan …. membiarkanmu mati…. Kau harus tetap hidup…."
Hitsugaya memandang Yuki dengan pandangan bertanya-tanya.
Yuki tersenyum.
"Jurus terakhir... Yukihime. …. Aurora…."
"Pyashhhhh…." Zanpakutou Yuki bersinar.
Langit yang gelap itu dihiasi berbagai macam spektrum warna. Indah, meliuk-liuk bagai tarian. Para akuma yang masih tersisa ditempat itu hancur. Para shinigami yang terluka pulih kembali seperti sediakala. Bangunan-bangunan Soul Society yang hancur pun berdiri tegak lagi.
"Dengan ini…. Semuanya akan kembali…. Seperti semula…. Semuanya akan kembali lupa…. Semuanya…. Akan kembali…." Zanpakutou Yuki pecah berkeping-keping.
"Onee-san…."
Tubuh Yuki perlahan hancur. Melebur menjadi salju.
"Selamat tinggal, Toushiro…."
Hitsugaya terjatuh. Pandangannya nanar.
Tetesan airmata mengalir dari mata emeraldnya. Ia menutup matanya.
"…. Selamat tinggal…. Yuki-nee…"
.
.
.
.
"Taichouuu…! Jalannya cepetan dikit dong! Kita kan mau ke dunia nyata!"
"Heh… " Balas Hitsugaya singkat. Ia tetap melangkah dengan malas.
"Ummmmm! Angin musim semi memang enak ya Taichou…" Matsumoto menangkap helaian Sakura yang terbang terbawa angin.
"He eh…"
"Eh, Taichou…. Salju…."
"Jangan bercanda Matsumoto. Mana mungkin ada salju dimusim semi seperti ini…"
"Aku nggak bercanda Taichou, lihat deh."
Hitsugaya mendongak.
Benar.
Salju turun.
"Kok bisa ya?" Matsumoto menadahkan tangannya. Kristal air iru meleleh ditangannya.
"Eh, saljunya nggak dingin Taichou."
Hitsugaya meniru perbuatan Matsumoto tadi. Memang saljunya tidak dingin. Terasa sejuk. Bukan dingin.
"Taichou ingat tidak. Kejadian beberapa minggu lalu?"
"Ya."
"Hari itu kita terbangun dan tidak ingat apapun. Bahkan Yamamoto Soutaichou juga tidak mengingat 'ada apa' dihari itu. Tapi karena tidak ada kejadian aneh apapun sampai beberapa hari kemudian, Yamamoto Soutaichou memutuskan untuk menutup kasus ini."
Hitsugaya mengangguk.
"Saat tersadar aku telah berada diruang perawatan batalion 4. Aku tidak ingat apapun. Kau juga sama kan Matsumoto?"
"Ya. Hari itu benar-benar seperti 'hilang'."
Hitsugaya memandang salju yang terus turun. Bersamaan dengan gugurnya ribuan kelopak Sakura.
Benar-benar indah.
"Rasanya, aku melupakan sesuatu yang benar-benar penting…. Tapi aku tidak ingat…. Seseorang…." Gumam Hitsugaya.
"Ng? ada apa taichou?" Matsumoto menoleh pada kapten mungilnya itu.
"Tidak ada apa-apa. Ayo kita harus cepat pergi. " Hitsugaya kembali melangkah.
"Ah, taichou! Tunggu!"
.
.
.
.
Greed menatap dua orang yang pergi menjauh itu dari atas pohon. Rupanya mereka tidak menyadari keberadaannya karena tertutup ribuan kelopak Sakura. Ditangannya, tergenggam erat sebuah benda. Pembatas zanpakutou dengan corak kristal salju.
"Jiwa orang yang bersatu dengan iblis akan menjadi milik iblis itu apabila si 'pembuat janji' telah mati. Tapi, Hatred juga telah mati. Jadi jiwa gadis itu bebas sekarang. Walaupun ia pasti akan menjalani hukuman berat dineraka…" Gumamnya pelan. Greed memandang si chibi taichou yang makin lama makin tak terlihat lagi.
"Crassshhh!"
Yuki membunuh orang itu dengan sekali tebasan. Darah segar mengalir dilantai keramik itu.
"Hmmm…" Ia mengukir sesuatu dikulit 'korbannya' itu.
'SW'
Greed menghampirinya.
"Kenapa kau selalu memberi inisial 'SW' disetiap mayat orang yang kau bunuh? Apa itu akronim?"
Yuki tersenyum.
"Yah, begitulah…"
"Dari apa?"
"Coba kau tebak."
Greed berfikir sejenak.
"SW…. Snow White?"
Yuki tertawa pelan. Ia menyarungkan kembali zanpakutounya.
"Bagus juga. Snow White juga bisa dibaca Shiro Yuki kan? Hehehe… Tapi bukan itu."
"Lalu apa?"
Yuki tersenyum pedih.
"SW…. adalah akronim dari 'Sorry White' atau bisa juga dibaca…."
"Gomen, Shiro…"
Greed mengenggam benda itu lebih erat.
Ditatapnya salju yang terus turun, bercampur dengan gugurnya ribuan kelopak Sakura.
"Sayonara…. watashi no yuki hime…."
~Fin~
.
.
.
.
Fuwahhhhhhh selese sudah!
Lega deh lega!
Makasih buat semua yang udah baca ya.
EJEY Series (makasi atas reviewnya senpai!3)
Hello from the Darkness
Sky Fudanshi de Cuatro
Meshi-chan
Kagami Hikari
Kurosaki Mitsuki
Hitsugaya Eca Chan
Aoi Lawlight
Shiori Yoshimitsu
Marianne de Marionettenspieler (Makasi banget anne-san 3)
Momoko and Rukina
aRaRaRaNcHa
Arinieve Shiriusu
Elric, riza
Chappy. D. Anitsu
Kageyoshi.
Terimakasih juga buat kalian yang baca tapi ga review ^^
Thanks all!
.
.
.
.
Hem… chapter berikutnya cuma chapter tambahan. Mau dibaca ato nggak terserah ^^
Oh iya, mii juga bikin prekuel Snow Memories ini ^^
Tapi karena tokohnya OC semua jadi ya masuk ke Misc ==
Judulnya Snowing Spring ^^
RnR kalo berkenan. Kalo ga juga gapapa^^
