Disclaimer OK! Komik Naruto punya Tuan Masashi Kishimoto, tapi Naruto's ass punya Sasuke \\^_^/
Warnings yaoi ;3 OOC
Special thanks to Gretta and everyone who love this story, yang menyemagati saya untuk manggerakkan tangan saya yang malas ini untuk mengetik. Walaupun butuh waktu yang lama –lagi-lagi sangat lama- untuk menyelesaikan ini. Thank you dears!
xXx
Can You Love Me Again?
By CaLL me rEd-Ew
xXx
I love you
And I ask for your love
"Let's divorce Sasuke."
Ini akan ku akhiri. Dengan begini tak akan ada lagi yang terluka, tak akan ada lagi yang akan menangis. Ini telah kuputuskan. Aku akan melepaskan Sasuke untuk selamanya.
"Apa maksudmu Naruto?" tanya Sasuke kepadaku. Suaranya tampak kaget.
"Kamu boleh pergi ke tempatnya, Sasuke. Aku akan melepaskanmu. Kamu tak harus berada disisiku lagi," suaraku tak seperti orang yang lemahkan? Aku akan tegar, kali ini aku akan tegar. Tak akan menangis lagi. Ini telah aku putuskan.
"Naruto…" Sasuke berusaha memegang tanganku, tapi aku menepisnya. Jangan beri aku harapan lagi Sasuke.
"Jika kamu hanya bersamaku cuma karena merasa kasihan kepadaku, lebih baik jangan. Kamu tahu kan aku benci dikasihani," aku pasti kuat, walaupun dunia ini terasa hampa tanpamu. Aku memalingkan wajahku ke samping, aku tak ingin dia melihat wajahku. Mungkin wajahku saat ini sangat buruk, karena aku sekuat tenaga menahan air mataku ini untuk tidak menetes. Jangan menetes, jangan sekarang. Biarkan aku tampak kuat dihadapannya.
"Aku tak mengerti Naruto. Kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini?" tanyanya kepadaku. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin saat ini wajah kami saling berhadapan. Aku sangat yakin dia sedang menatapku. Andai saja, aku bisa melihat lagi untuk terakhir kalinya aku ingin melihat lagi mata Sasuke yang hitam kemerah-merahan itu. Bola mata yang indah, mata yang dulu menunjukkan bahwa dia sangat mencintaiku.
"Aku ingin kita bercerai Sasuke! Aku ingin kau meninggalkanku!" tahukah kamu Sasuke, jika hatiku terluka saat mengatakan ini, perih.
"Naruto, kamu masih mencintaiku. Aku tahu itu! Jadi biarkan aku bersamamu, menjagamu…." Sasuke berkata sambil memeluk tubuhku. Aku akan sangat merindukan pelukan ini. Pelukan terakhir, kenangan terakhir. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya. Hangat, sangat hangat.
"Ada orang lain yang lebih pantas kamu lindungi Sasuke. Hinata dan anakmu…" aku terdiam sebentar untuk menikmati pelukan ini. Hatiku yang terluka perlahan-lahan terobati. Aku telah memikirkan dengan matang. Aku telah memutuskan bahwa tanpa Sasuke aku bisa.
"Tapi-"
"Jangan khawatirkan aku, Sasuke. Kamu lupa? Aku masih mempunyai orang tua. Mungkin mereka akan marah padaku diawal, tapi aku tetap anak mereka. Tak mungkin mereka tak menerimaku kan? Hahaha," potongku. Aku tertawa, aku bisa tertawa. Bibirku membentuk senyuman, tapi kenapa hatiku menangis?
"Naruto…" bisik Sasuke kepadaku.
"Pergilah…" aku mendorong tubuh Sasuke pelan menjauhi diriku. Aku melepaskan pelukan ini.
"Tak bisa-" Sasuke mencoba memelukku lagi.
"Pergi!" Pergilah kini aku telah melepaskanmu.
'Tapi Naruto-" suara Sasuke yang biasanya selalu terdengar dingin di telingaku, kini kenapa terasa hangat? Kenapa suara ini terdengar penuh cinta, seperti dulu?
"Aku bilang pergi!" aku mendorong tubuh Sasuke menjauh dari tubuhku.
"Pergi, jangan menemuiku lagi! Kamu sudah tak mencintaiku lagi Sasuke! Jadi pergilah, kamu tak punya kewajiban untuk mengurusku!" teriakku kepadanya. Aku tak ingin dikasihani, aku tak ingin dia bersamaku cuma karena dia merasa punya kewajiban. Aku ingin dia mencintaiku, hanya itu.
"Aku tak bisa meninggalkanmu Naruto, aku tak bisa!" teriak Sasuke. Kini dia menarikku dengan paksa masuk kedalam pelukannya.
Aku sudah tak bisa menahan air mata ini. Air mataku menetes. Aku mulai menangis di dalam pelukannya. Aku memeluk tubuhnya, aku lingkarkan tanganku lagi di punggungnya.
"Aku mohon Naruto jangan buat aku meninggalkanmu seperti ini. Aku tak bisa!" Sasuke mempererat pelukannya.
"Aku- mencintaimu Sasuke," aku selalu mencintainya. Aku mencintainya setulus hatiku. Aku menangis di dalam pelukan ini.
"Aku juga menyanyangimu Naruto, tapi aku mohon jangan membuatku seperti ini," kata Sasuke kepadaku.
"Aku mencintaimu. Sangat cinta," berapa kalipun aku ucapkan. Hasilnya tetap tak akan berubah. Perasaannya yang bukan lagi cinta. Perasaannya yang berubah, bukan lagi cinta.
"Aku hanya ingin kamu bahagia, Sasuke…" kataku pelan. air mataku mengalir. Hanya air mataku yang mengalir, aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak bersuara. Aku mendorong lagi tubuhnya menjauh dariku.
"Jika kamu ingin aku bahagia, tolong pergilah Sasuke…" pintaku kepadanya.
"Naru-"
"Tolong pergilah!" teriakku kepadanya. Aku melepaskan cincin pernikahan kami di jari manisku dan melemparnya. Ini adalah bukti jika aku benar-benar melepaskan Sasuke. Sasuke pasti mengerti arti cincin ini untukku, ia mengerti seberapa penting cincin ini.
"Aku melepaskanmu!" teriakku. Air mataku tetap menetes pelan, sekuat tenaga aku menahannya. Sebisa mungkin aku menyuruh diriku untuk tidak mengeluarkannya, tapi tetap menetes juga. Kami terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan.
"Baiklah jika kamu menginginkan semua ini Naruto…." Kata Sasuke pelan, dia melepaskan tanganku. Dia berjalan menjauhiku.
"Selamat tinggal, Naruto…" kata Sasuke pelan yang diikuti dengan suara pintu yang tertutup.
Dan aku hanya bisa menangis.
I can't believe you
When you say you don't love me back
Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naruto. Tidak mungkin dia tidak mencintaiku. Aku tahu seberapa besar dia mencintaiku. Seberapa besar pengorbanannya untuk selalu bersamaku. Aku tahu bahwa dia tidak bisa hidup tanpa diriku.
Aku memacu laju mobilku menuju tempat Hinata. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tak mungkin membiarkan Naruto menderita sendirian, di satu sisi aku tak mungkin meninggalkan Hinata dan anakku. Mungkin jika aku pergi menemui Hinata, aku bisa menyegarkan kembali pikiranku sehingga aku bisa berpikir dengan jernih lagi.
Sesampainya aku dirumah Hinata, aku segera menekan belnya. Aku merindukannya, aku rindu senyumannya yang menenangkan hatiku. Aku menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya pintu rumah terbuka. Hinata menyambutku dengan senyumannya.
"Aku pulang," kataku pelan. Aku menerima senyuman darinya.
"Selamat datang."
Aku membalas senyumannya. Apa aku akan hidup bahagia jika meninggalkan Naruto seperti itu? Tak mungkin, aku tak bisa. Walaupun aku mencintai Hinata sekarang, tapi aku tak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap Naruto. Karena dia pernah menjadi bagian dalam hidupku.
Aku memeluk wanita yang ada dihadapanku ini. Dia tampak bingung dengan perbuatanku yang tiba-tiba ini. Tapi dia membiarkanku memeluk tubuhnya yang mungil. Dia melingkarkan tangannya ditubuhku. Aku merasa damai dalam pelukannya.
"Ada apa Sasuke? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa biarkan aku seperti ini sebentar lagi," dia menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Setelah beberapa saat, aku mendengar bunyi tangisan bayi. Lalu Hinata melepaskan pelukannya dan segera menuju ketempat tidur bayi. Aku pun mengikutinya dari belakang.
"Dia sangat mirip denganmu Sasuke," kata Hinata pelan sambil mengurusi bayi kami. Dia mengganti popok bayi yang telah basah itu. Hinata menggantinya dengan sangat baik dan lembut, penuh dengan kasih sayang. Dia memang pantas menjadi seorang ibu. Aku bersyukur, dia yang menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
"Iya, aku juga tak menyangka bahwa dia akan mirip denganku," kataku menyetujuinya. Setelah sekian lama baru kali ini aku mendengarnya menangis.
"Tapi…" Hinata terdiam sebentar.
"Tapi kenapa Hinata?" tanyaku penasaran dengan kelanjutan apa yang ingin Hinata katakan.
"Ada yang belum kamu ketahui tentang anak kita Sasuke, mata anak kita…" Hinata tak sanggup melanjutkan perkataannya. Aku segera melihat mata anakku yang sekarang sedang tertutup. Apa ada yang salah dengan mata anakku? Apa dia tak bisa melihat?
"Kenapa dengan matanya?" tanyaku penasaran.
"Matanya… Mata anak kita berwarna biru Sasuke…" kata Hinata pelan. Aku terkejut melihatnya. Memang selama ini aku belum pernah melihat mata anakku. Karena waktu dia lahir aku melihatnya sedang tertidur, dan kemudian aku pergi menemani Naruto, setiap aku datang mengunjungi Hinata dan anakku, pasti anakku sedang tertidur. Jadi aku tak sempat memperhatikan warna mata anakku.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanyaku kepada Hinata. Dia hanya diam, dan menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tak mengerti…" jawabnya pelan.
Aku hanya menatapinya, aku tak percaya ini bisa terjadi. Aku tak memiliki keluarga yang berwarna biru, semua keluargaku berwarna hitam kemerahan. Dan Hinata, tak mempunyai keluarga yang berwarna biru, keluarganya semua mempunyai mata yang keputih-putihan. Jadi, dari mana asal yang berwarna biru ini? Warna biru ini seperti mengingatkanku kepada mata Naruto…
"Naruto…." Kataku pelan. Hinata tampak terkejut mendengar aku menyebutkan nama Naruto. Apa Hinata selingkuh dengan Naruto? Tapi tak mungkin. Naruto saja belum pernah bertemu dengan Hinata sebelumnya, saat mereka bertunangan saja mereka belum pernah bertemu, jadi bagaimana mungkin ini anaknya Naruto. Dan lagi wajah anak ini sangat mirip denganku, semua orang yang melihat pasti akan mengatakan bahwa aku adalah ayahnya. Tapi kenapa warna anak ini berwarna biru? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Matanya sangat mirip dengan warna mata Naruto…" kataku pelan. Hinata hanya menatapku dan tak mengatakan apa-apa.
"Kata orang, jika sedang hamil dan kita membenci seseorang, sangat benci. Maka anak yang dikandung akan mirip dengan orang yang kita benci," Aku menoleh ke pintu kamar, disana telah berdiri orang yang sangat aku kenal, dan aku membencinya. Di pintu itu dia berdiri sambil bersandarkan di dinding, dan menatap aku dan Hinata.
"Itachi!" kataku terkejut. Darimana dia masuk kerumah ini? Bagaimana dia tahu jika aku berada disini?
"Ckckck, panggil aku aniki Sasuke. Aku ini kakakmu…" katanya pelan sambil berjalan menuju arah kami.
"Wah, mata anakmu benar-benar berwarna biru," kata Itachi pelan sambil memegang pipi anakku.
"Kenapa kau ada disini?" tanyaku kepadanya. Sekuat tenaga aku menahan emosiku untuk tidak marah.
"Aku mendengar kabar jika sekarang aku mempunyai seorang keponakan. Kenapa kau tak bilang kepadaku Sasuke? Kau membuat kakakmu ini bersedih tak mendengar berita menggembirakan ini secara langsung darimu," katanya pelan. Kini dia kembali menatapku dan Hinata dengan matanya yang seakan menginterogasiku.
"Tapi tak apa, aku begitu bahagia mendengar jika sekarang aku mempunyai keponakan yang sangat lucu ini," dia diam sebentar sebelum melanjutkan "Apalagi saat aku mendengar jika kau dan Naruto telah berpisah. Akhirnya pria tak tahu malu itu mengerti jika dia tak pantas untukmu. Itu membuatku sangat senang."
Aku mengepalkan tanganku. Aku menatap Itachi dengan tajam. Aku ingin memukulnya, jika saja Hinata tak segera memegang tanganku mungkin aku sudah melayangkan tinjuku kewajahnya.
"Jika kau hanya datang untuk bertengkar lebih baik kau pulang saja. Rumah ini tak menerima tamu sepertimu," kataku tajam, aku berjalan mendekati pintu dan membukakan untuknya. Jika tak bisa dengan cara halus, maka mau tak mau aku akan menyeretnya dengan paksa untuk keluar dari rumah ini. Dia berjalan menuju arahku, sebelum keluar dia mengatakan sesuatu yang membuatku tak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya.
"Well, aku ingin berbicara denganmu Sasuke, berdua saja, temui aku dirumah sekarang," dia terdiam sebentar dan membisikkannya kepadaku, "Tentang tawaran mengenai Naruto yang tak akan mungkin akan kau tolak," Itachi berkata sambil menyeringai lalu pergi.
I make a deal for you
Love always make me crazy
Aku segera pergi menuju rumahku. Rumahku yang semenjak kecil aku tinggali. Sudah lima tahun aku tidak pulang kemari. Rumah besar ini, rumah yang dulu hanya ditempati aku dan Itachi, hanya kami berdua. Rumah yang begitu besar dan mewah ini, tampak sepi. Pembantu hanya datang membersihkan, lalu pulang. Kenangan tentang orang tua yang terbunuh saat aku masih kecil dirumah ini, memberikan kenangan buruk yang tak dapat dilupakan. Aku tau cepat atau lambat pasti aku akan datang lagi ke rumah ini.
Aku segera masuk kedalam rumah dan segera menuju ruang dimana Itachi selalu berada, ya, ruang pertemuan. Dia selalu berada disana mengerjakan dokumen-dokumen kantor.
"Wah cepat juga kau datang Sasuke…" katanya sambil menyuruhku untuk duduk.
"Jangan berbasa-basi lagi. Katakan apa maumu Itachi," kataku sedikit memaksa. Aku muak melihat tampangnya, aku muak berada dirumah ini.
"Seperti biasa, kau orang yang tak sabaran. Jika terus bersifat seperti ini kau akan menyesal kelak my otouto," katanya pelan sambil berjalan menuju ke arahku.
Aku hanya menatapnya tajam.
"Aku mendengar bahwa kau dan Naruto telah berpisah? Itu sangat bagus. Akhirnya kamu mengerti juga jika Naruto merupakan parasit untuk hidupmu," katanya sambil menyeringai. Mataku tambah menatapnya dengan tajam.
"Dan aku juga tahu jika Naruto mengalami kecelakaan," tambahnya.
"Darimana kau tahu?" hal ini menyita perhatianku. Dari mana dia tahu jika Naruto mengalami kecelakaan.
"Kau lupa, aku kan Itachi Uchiha yang mengetahui segalanya. Aku bisa membayar orang untuk mencari informasi tentang apa saja yang aku inginkan," Dia berjalan menuju bar mini yang berada diruangan itu, dan mengambil dua gelas yang begitu bening dan berkelas, dan mengambil satu buah botol wine putih. Itachi menuangkannya di kedua gelas, dan memberikan satu gelas kepadaku. Aku tak mengambilnya. Itachi lalu menaruh gelas itu di meja di sebelahku.
"Hahaha, aku memang mempunyai adik yang begitu bodoh," dia tertawa pelan.
"Aku juga tahu jika kamu sedang bingung tentang masalah Naruto bukan? Berharaplah aku bisa membantumu…" katanya pelan, sambil meminum gelas berisi wine itu dengan sekali teguk.
"Apa maksudmu.. ?" tanyaku tak mengerti.
Dia terdiam dan menatapku dengan matanya yang begitu dingin. Lalu dia menyeringai.
"Kau tetap bisa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dengan Naruto, dan kau juga bisa untuk selalu berada di sisi Hinata. Kau bisa memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan," jelasnya. Aku mulai bingung dengan apa yang dibicarakan. Aku tak mengerti.
"Jangan bilang kau tak mengerti Sasuke? Kau membuat keluarga Uchiha malu saja," katanya seakan mengerti apa yang sedang aku pikirkan.
"Aku tak mengerti…" kataku pelan.
"Kau akan mengerti jika kau bertemu dengan tamuku. Sepertinya sebentar lagi dia akan datang. Ah, itu dia datang," bel rumah kami berbunyi. Lalu Itachi pergi membukakan pintu untuk 'tamu'nya itu. Sedangkan aku duduk disini memikirkan apa yang dimaksud dengan Itachi.
Tak lama kemudian masuklah Itachi dengan seorang pria. Pria itu memiliki tinggi, kulit, dan rambutnya hampir sama denganku. Dengan kata lain, orang ini sangat mirip dengan diriku.
Setelah menyadari bahwa dia sangat mirip denganku kecuali dia yang selalu tersenyum itu. Aku mengerti apa yang dimaksud dengan apa yang dikatakan Itachi tadi. Mataku membesar tanda tak percaya, aku terkejut dengan ide gila ini. Ide yang tidak biasa. Mungkin yang bisa membuat ide gila ini, hanya dia saja.
Jangan bilang! Jangan bilang, jika Itachi menyarankan ide gila ini. Jika dia bermaksud menyuruh orang ini untuk menjadi diriku. Tak masuk akal!
"Well, sepertinya kau mulai mengerti adikku. Kau memang keluarga Uchiha yang cepat tanggap. Orang yang disampingku ini adalah Sai. Namanya Sai," kata Itachi sambil memperkenalkan orang yang berada disampingnya.
Sedangkan orang yang dimaksud oleh Itachi, Sai, hanya tersenyum dengan senyuman palsunya.
"Ini tak masuk akal!" teriakku. Aku segera pergi meninggalkan tempat itu, saat aku hendak beranjak pergi Itachi berbicara, "Berharaplah aku bisa menolongmu…"
Aku tak perlu melihat kearahnya, karena aku bisa merasakan bahwa kakakku, Itachi, sedang berkata serius.
I cann't do this to you love
Forgive me
Aku segera pergi dari rumah yang penuh kenangan buruk itu. Aku pulang kerumah dimana Hinata sedang menungguku disana. Aku tak mungkin memiliki keduanya, Naruto dan Hinata, itu sangat egois! Jika aku melakukan itu semua, Hinata akan terluka, Naruto akan terluka, kami bertiga akan terluka. Dan sekarang, Naruto meminta cerai kepadaku, aku tahu jika dia masih mencintaiku, tapi dia mengatakannya sendiri jika dia sudah tak kuat berada disampingku lagi.
Sesampainya dirumah, aku segera menemui Hinata, aku akan mengatakan rencanaku kepadanya, rencanaku untuk menyerahkan surat cerai ini kepada Naruto.
Love make me smile
And you make me cry
"Bocah, aku telah menelepon orang tuamu," suara Tsunade menyadarkanku dari lamunanku. Sudah dua hari semenjak Sasuke pergi. Hari-hari aku lewati seperti biasa, yang berbeda hanya tidak ada lagi Sasuke disampingku. Hari ini Tsunade mengajakku jalan-jalan di taman RS dengan menggunakan kursi roda. Dia bilang aku membutuhkan udara segar. Dan aku memang membutuhkannya. Aku membutuhkan udara segar untuk hatiku yang sedang terluka ini.
"Terima kasih," kataku pelan. Tsunade berhenti mendorong kursi rodaku. Kami terdiam, tapi aku bisa merasakan jika Tsunade sedang duduk disampingku. Mungkin kami sedang berada di bangku taman.
"…Apakah ini yang terbaik?" tanyanya kepadaku. Aku diam sebentar sebelum mengganggukkan kepalaku dengan pelan.
"Ini telah aku putuskan," aku mengangkat kepalaku ke atas. Aku ingin melihat langit hari ini. Apakah langit sedang berwarna biru? Apakah matahari sedang bersinar terang?
Tsunade memegang tanganku. Dan aku menoleh kepadanya. Dia tak mengatakan apa-apa kepadaku. Kami hanya diam seperti ini. Aku mengerti jika Tsunade sudah menganggap aku sebagai orang yang dia sayangi. Dan akupun juga begitu. Karena kami mengetahui bagaimana perasaan kehilangan orang yang kita kasihi.
"Minato akan segera datang kesini, kenapa kau tak mengatakan kepada orang tuamu jika kamu mengalami tabrakan dari awal?" tanya Tsunade kepadaku.
"Aku tak bisa, jika aku mengatakannya. Oto-san akan marah kepada Sasuke…" ya, ayah tak pernah suka terhadap Sasuke. Dari dulu sampai sekarang. Dia selalu membenci Sasuke.
"Tentunya Oto-san tidak akan tinggal diam melihat keadaanku, aku tak ingin Sasuke kenapa-kenapa…" jika ayah tahu aku mengalami tabrakan sesudah bertengkar dengan Sasuke, tentunya dia akan tambah membenci Sasuke. Dan jika Minato sudah marah, pasti akan terjadi hal yang tak diinginkan terhadap Sasuke. Aku tak ingin itu terjadi.
Dan sekarang Sasuke yang telah pergi, kami yang akan bercerai. Pastinya ayah akan sangat senang mendengarnya jika kami telah bercerai. Paling tidak dia tidak akan melukai Sasuke.
Aku sudah menerima surat perceraian yang dikirimkan Sasuke kepadaku kemarin, dan aku sudah menandatanganinya. Dan aku akan mengirimkan surat itu kembali kepada Sasuke besok. Aku tak percaya bahwa aku akan menandatanganinya juga. Pernikahan selama lima tahun lebih ini, berakhir di secarik kertas. Jika mengingat perjalanan yang telah kami tempuh bersama, rasanya tidak percaya jika ini sudah berakhir.
Saat bersama dengannya hatiku selalu berdebar-debar. Kata orang ini cinta, karena kita bahagia berada disampingnya. Kenangan saat Sasuke mengajakku kabur untuk hidup bersama, kenangan saat Sasuke melamarku, kenangan saat kami melingkarkan cincin pernikahan di jari manis kami dan berjanji untuk hidup bersama, kini hanya tinggal kenangan.
Tak terasa air mataku menetes.
"Naruto, ada yang ingin aku berikan," kata Tsunade kepadaku. Tsunade memegang tanganku dan menaruh sesuatu di telapak tanganku. Aku tahu ini apa, aku tahu apa yang Tsunade berikan kepadaku. Benda yang sudah aku buang.
"Saat ingin memeriksa keadaanmu, aku melihat kamu sedang berbicara dengan Sasuke, tak sengaja aku mendengarnya, dan melihat kamu melempar benda ini," kata Tsunade.
"Aku tahu, ini benda yang sangat penting bagimu," tambahnya.
Cincin pernikahan kami, yang telah aku buang. Kini berada di tanganku lagi. Tapi orang yang aku cintai sudah lepas dari tanganku. Aku meneteskan air mata ini. Lagi-lagi aku kembali menangis. Aku menggenggam cincin ini sekuat tenagaku. Aku tak akan melepaskan cincin ini, karena cincin ini adalah tanda bukti bahwa aku pernah memiliki dirinya. Jika aku kehilangan ini, maka tak ada lagi yang tertinggal untukku. Aku akan benar-benar kehilangan dirinya.
Aku memasang kembali cincin itu di jari manisku. Biarkan aku memakainya sebentar lagi sebelum aku benar-benar bercerai dengannya. Setelah itu aku akan menyimpannya dan meletakkannya di tempat yang istimewa, seperti Sasuke yang sudah mengisi tempat istimewa dihatiku.
"Jika itu begitu penting, kau harus menjaganya," kata Tsunade pelan, aku hanya mengangguk dan menghapus air mata yang tersisa di pelupuk mataku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Ini benda yang sangat penting, aku akan menjaganya selamanya!" kataku sambil tersenyum. Paling tidak aku sudah bisa tersenyum seperti biasa, walau hati ini terluka tapi aku masih bisa tersenyum tanpa Sasuke disampingku.
Melihat aku tersenyum Tsunade pun ikut tersenyum.
"Ayo kita kembali ke kamar, Minato dan Kushina akan segera tiba," Tsunade beranjak dari tempat duduknya, dan mulai mendorong kursi roda ini. Aku terus memegang cincin ini, seakan ingin memastikan cincin ini untuk tetap berada disana.
I will protect my love
Don't take him from me
Sesaat aku tiba dikamar, aku mendapati ayahku dan ibuku yang menunggu diriku. Aku tak sanggup melihat mereka berdua. Ibuku yang sedang menangis karena melihat keadaanku, dan ayahku yang marah melihatku. Aku hanya menundukkan kepalaku tak berani menatap langsung melihat mata mereka, walaupun aku buta tapi aku tak sanggup mengangkat kepalaku, aku merasa diriku ini menyedihkan.
"Naruto!" panggil ibuku sambil memeluk tubuhku yang tak berdaya ini. Dia menangis sambil memelukku. Mendengarnya menangis membuatku ingin menangis juga.
"Jangan menangis Ibu…" kataku pelan, aku mencoba melingkarkan tanganku untuk memeluk tubuh ibuku yang lembut ini.
"Dasar anak bodoh, kenapa tak segera hubungi kami?" katanya disela-sela isakannya. Aku hanya diam tak menjawabnya.
"Kita akan segera pergi ke Amerika untuk mengobatimu, aku mendengar ada seorang dokter ahli syaraf bernama Orochimaru disana. Mungkin dia bisa mengobatimu. Besok kita akan berangkat," kata ayahku, Minato, kepadaku. Sudah sangat lama aku tidak mendengar suara ayahku.
Aku tahu maksud dari perkataannya ini. Dia akan membawaku keluar negeri dan mengobatiku. Aku akan tinggal disana sampai sisa hidupku, untuk tidak kembali kesini dan bertemu Sasuke. Aku hanya diam tak mengatakan apapun, dan aku pun tidak menggangguk. Jikapun aku berbicara, ayah tidak akan mendengarkan suaraku. Dia telah memutuskannya, pasti dia akan melaksanakannya.
Lagi pula, aku sudah tak mempunyai hak untuk bersuara.
"Tapi sebelum berangkat, aku ingin menyerahkan surat ceraiku kepada Sasuke," kataku pelan. Setidaknya sebelum berangkat aku bisa menyerahkan surat ini dengan tanganku sendiri. Aku ingin mengucapkan terima kasih telah mengisi hidupku selama ini dengan kebahagiaan, dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya, karena aku tak akan pernah bisa menemuinya lagi.
"Tidak boleh! Aku melarangmu! Kertas itu akan dikirimkan oleh Kakashi," aku bisa mendengarkan nada bicara ayahku yang penuh dengan amarah. Dia sangat membenci Sasuke.
"Aku mohon Ayah, hanya kali ini saja, biarkan aku menyerahkan surat ini kepadanya. Aku ingin menyerahkan langsung. Aku ingin melihat Sasuke untuk yang terakhir kalinya, aku mohon. Setelah itu aku akan mengikuti semua perintahmu!" kataku kepadanya. Aku menundukkan kepalaku dihadapan ayahku, yang dulu tak pernah aku lakukan sekalipun.
"Dasar anak tak tahu diri! Besok kita akan berangkat!" katanya kepadaku, sambil keluar dari kamarku, dia membanting pintu itu dengan keras.
"Kau bisa menghubungi Sasuke untuk kesini, Naruto. Aku akan berbicara dengan ayahmu," kata Kushina, Ibuku, aku tahu dia sedang tersenyum kepadaku saat ini. Dia meletakkan handphone, ditanganku. Lalu keluar pergi menemui ayahku.
Saat aku mendengar bunyi pintu yang tertutup, aku menggenggam handphone ditanganku. Siap tak siap aku akan tetap menghubungi dirinya.
Aku menekan pelan setiap nomor, berharap aku salah menekannya, tapi aku tahu nomor handphone Sasuke telah aku hapal dalam kepalaku, seberapapun aku ingin melupakannya, tanganku bergerak lincah menekan tombolnya. Seakan tanganku memiliki daya ingat tersendiri.
Aku mengangkat handphone ke telingaku. Aku bisa mendengar nada yang tersambung. Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan mengangkat telephone ini, dan semua berakhir. Aku akan pergi dari kehidupannya, untuk selamanya.
Tak terasa air mataku menetes, aku tak sanggup. Aku segera menekan tombol Off. Aku tak sanggup berbicara kepadanya, tak sanggup mengatakan selamat tinggal kepada dirinya, karena aku tahu aku tak akan pernah bertemu lagi dengannya.
Aku egois. Aku orang yang tidak mempunyai pendirian. Tapi rasa cinta ini tak bisa dibohongi, walaupun aku sudah mengatakan ingin bercerai, tapi hati ini menangis.
Itu tak mungkin aku lakukan selamanya, aku harus berani untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dirinya yang pernah mencintaiku. Aku mencoba menekan lagi nomor telphonenya dengan pelan. Kali ini akan aku katakan kepadanya, aku tak akan lari lagi dari kenyataan.
"Halo…" aku mendengar suaranya. Aku yang merindukan suara ini, merindukan orang ini. Wahai mataku, tolong jangan menangis, jangan meneteskan air mata ini.
Aku hanya diam, tak bisa menjawabnya, jika aku menjawabnya akan ketahuan jika saat ini aku sedang menangis.
"Halo, Naruto…" katanya pelan. Dia yang memanggil namaku, jika aku pergi ke Amerika maka aku tak akan pernah lagi mendengar dia memanggil namaku untuk selamanya.
Tapi…
"Halo, Naru…."
Tapi….
"Aku ingin bertemu denganmu Sasuke, sekarang. Aku ingin menyerahkan surat perceraian ini," kataku pelan. Ini telah aku putuskan.
"Naruto…"
"Aku tunggu di rumah sakit," tambahku. Dan aku langsung menutup telephone ini. Jika aku terlalu lama mendengar suaranya, mungkin air mata ini akan menetes kembali. Aku tak perlu mendengar jawaban darinya, karena aku yakin dia pasti akan datang kesini untuk mengambil surat perceraian yang sangat dia inginkan ini.
The begining of love
And the never ending of lie
"Naru, ada tamu," kata ibuku, suaranya sangat lembut dan menenangkan jiwa. Aku tersadar dari lamunanku, yang entah berapa kali pada hari ini. Minato pergi mengurusi semua keperluan untuk keberangkatan besok. Pasport, rumah tinggal untuk di Amerika, pakaianku, transport, semuanya sedang dipersiapkan. Besok pagi aku akan berangkat dari Jepang dan meninggalkan negara ini untuk selamanya. Meninggalkan dirinya.
"Siapa?" tanyaku pelan. Sebenarnya aku tak perlu menanyakan siapa yang sedang datang, karena aku sudah mengetahui siapa yang akan datang.
Ibuku diam sebentar sebelum menjawab dengan pelan, "Sasuke…"
Kami bertiga terdiam tak ada yang ingin mengucapkan sepatah katapun.
"Aku akan tinggalkan kalian berdua.." kata ibuku pelan, dan keluar dari kamarku.
Kini hanya tinggal kami berdua, aku dan Sasuke.
"…Bagaimana kabarmu Naruto?" tanyanya kepadaku.
"Baik.." jawabku seadanya. Perasaanku bercampur aduk. Aku ingin berteriak kepadanya, aku ingin memarahinya, aku ingin memukulnya, dan aku ingin memeluk dirinya.
Sasuke.
Sasuke..
Aku rindu padamu..
"Bagaimana kita bicara sambil berjalan-jalan di taman? Mungkin kau membutuhkan udara sore hari ini," kata Sasuke. Aku hanya menggangguk pelan. Dan dia langsung membantuku untuk duduk di atas kursi roda yang tadi pagi aku naiki. Kursi roda yang akan selalu menemaniku, seumur hidupku.
"Tolong ambilkan map di dalam laci meja itu Sasuke," pintaku. Dia mengambilnya dan menyerahkannya kepadaku.
Mungkin dia telah menebak apa isi didalamnya. Dia seorang Uchiha, dia tahu segalanya. Ia tak perlu menanyakan lagi apa isi didalam map tersebut. Dia telah mengetahuinya.
Aku memegang dengan erat map itu, sambil Sasuke mendorong kursi roda ini menuju taman. Ya taman itu akan menjadi tempat terakhir kami pergi bersama.
Sesampainya di taman, kami berhenti di salah satu bangku disana. Sasuke duduk di bangku itu. Jika aku masih bisa melihat, aku ingin melihat dirinya. Mungkin saat ini tatapanku yang kosong menatap dirinya. Tapi aku ingin melihat dirimu, Sasuke. Bayangmu saja sudah cukup, tapi mengapa begitu gelap? Dimataku yang sekarang, dirimu sama sekali tak terlihat.
Tanganmu memegang tanganku dengan lembut. Aku tidak menolaknya. Aku menginginkannya, untuk yang terakhir kali. Aku membalas pegangan tanganmu. Aku memegangnya dengan erat seakan tak ingin melepasnya.
Tak ada yang memulai pembicaraan ini. Seakan kami tahu jika kami memulainya, maka ini akan segera berakhir. Tapi ini adalah keinginannya. Aku menginginkan kebahagiaan untuk dirinya. Aku ingin melihat dia tersenyum bahagia lagi.
"…Ini, aku sudah menandatanganinya," kataku pelan memecah kebisuan ini. Aku melepaskan pegangan tangannya dan mengambil map yang aku letakkan disampingku dan memberikan kepadanya.
"Naruto-" aku langsung memotong kalimatnya, seakan jika dia berkata lebih banyak kata lagi. Bendungan air mata ini akan segera pecah.
"Aku akan tinggal di Amerika.." aku terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "…mungkin untuk selamanya…" tambahku pelan.
Jika aku bisa melihat wajah Sasuke, apakah dia saat ini wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan, atau dia sangat senang mendengar kabar bahwa aku akan pergi dari sisinya untuk selamanya?
"Apa?" tanyanya pelan.
"Ayah mengirimku berobat ke Amerika. Katanya disana ada dokter ahli syaraf yang sangat terkenal. Mungkin jika aku berobat disana, aku bisa sembuh. Walaupun aku tahu itu tak akan berhasil.." kataku sambil mencoba untuk tertawa. Setidaknya aku mencoba untuk menunjukkan bahwa aku tidak apa-apa.
"Tapi, kau akan kembali kan?" tanyanya lagi. Untuk apa kau menanyakannya Sasuke? Bukankah kau senang jika aku pergi dari kehidupanmu? Bukankah begitu?
Aku diam tak menjawab pertanyaannya.
"Kau akan kembali bukan?" tanyanya lagi sambil berteriak memegang pundakku. Aku memalingkan wajahku kesamping, aku tak bisa melihatnya.
Dia menggoncang-goncangkan bahuku. Jangan seperti ini Sasuke. Apa maksudmu melakukan ini? Kau menginginkan aku pergi bukan? Kau menginginkan aku menghilang dari duniamu bukan? Kenapa kau bersikap bahwa kau tak ingin kehilanganku?
"Lepaskan!" kataku kepadanya. Aku mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku.
"Kau mencintaiku bukan? Kau tak bisa hidup tanpaku kan? Kau tak bisa begitu saja menghilang seperti ini!" teriaknya. Sasuke memegang tanganku dengan erat, dan memeluk tubuhku.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku Sasuke? Apa?" balasku. Aku menangis dalam pelukannya. Air mata ini mengalir deras.
"Aku sudah menandatangani surat perceraian ini, seperti kemauanmu. Aku sudah tidak akan menganggumu lagi selamanya. Kenapa kau bersikap seperti ini? Kau tidak mencintaiku lagi!" aku tak mengerti dirinya. Sama sekali tak mengerti.
"Aku mencintaimu Naruto! Aku mencintaimu!" teriaknya. Sasuke mempererat pelukannya. Aku terdiam, benarkah aku mendengar dia mengatakan bahwa dia masih mencintaiku? Benarkah dia mengatakannya?
"Aku masih mencintaimu…" bisik Sasuke pelan. Benarkah? Air mata ini meleleh kembali. Dia masih mencintaiku. Tapi kenapa dia baru mengatakannya sekarang? Kenapa saat aku akan pergi, baru dia mngucapkannya? Aku memeluk dirinya dengan erat, sangat erat. Aku tak ingin melepaskannya. Tapi, bolehkah aku percaya pada ucapannya?
"Jangan pergi ke Amerika, tetaplah bersamaku," tambahnya pelan. Aku hanya mengganggukkan kepalaku, tanda setuju. Aku sudah tak perduli lagi, jika nanti hati ini akan terluka kembali. Yang aku perdulikan hanya Sasuke yang masih mencintaiku. Aku masih memiliki dirinya.
"Tapi, Ayah tak akan mungkin mengizinkan kita untuk bersama lagi," kataku pelan.
"Apakah selama ini, Dia mengizinkan kita?" tanyanya, aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Kalau begitu, Naruto, pegang tanganku," apakah saat ini Sasuke sedang mengulurkan tangannya kepadaku? Aku tahu maksud uluran tangan ini, aku sangat mengerti. Karena yang mengerti arti uluran tangan ini hanya kami berdua.
Apakah dia benar-benar berniat untuk hidup bersamaku lagi? Mungkin ini akan menjadi seperti dulu. Sasuke yang mengajakku kabur lima tahun yang lalu. Kabur bersama dirinya, tangan yang dulu menjanjikan kebahagian, jika aku mengulurkan tanganku, apakah kebahagian akan kuperoleh lagi? Aku mencoba mengangkat tanganku pelan-pelan. aku merasakan tanganku dipegang olehnya. Dipegang dengan erat. Sasuke aku mohon jangan melepaskannya lagi. Jangan berpaling dariku lagi.
"Kali ini aku akan menjagamu Naruto," katanya pelan. aku hanya menggangguk saja. Benarkah dia memilihku? Apakah dia akan meninggalkan Hinata dan anaknya? Benarkah dia mencintaiku?
"Bagaimana dengan Hinata, Sasuke?" tanyaku pelan.
"Aku…." Dia terdiam sebentar. Lalu ia mengangkatku dari kursi roda yang aku naiki. Dia menggendongku dengan tangannya yang kokoh. Dari jarak yang sedekat ini, aku bisa mendengar suara denyut jantungnya. Denyut jantung ini berdebar dengan kencang. Apakah dia masih sulit untuk memutuskan?
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku mencintaimu… Aku akan menjagamu Naruto," jawab Sasuke pelan. Setidaknya aku akan memperoleh kebahagiaan lagi. Berharap tak akan ada lagi yang terluka.
I do this for your love
Love me again
Aku mengulurkan tangan ini. Tangan yang dulu pernah aku lepaskan, kali ini tak akan pernah aku lepaskan untuk kedua kalinya. Aku masih mencintai dirinya, aku tak akan menipu diriku dan dirinya lagi. Aku membutuhkan dirinya. Walapun kini dirinya penuh dengan kekurangan. Tapi aku ingin mengahabiskan waktuku dengannya.
Jadi aku ulurkan tanganku, Naruto pasti mengerti arti uluran tangan ini. Aku mengajak Naruto untuk kabur bersamaku lagi, sama seperti lima tahun yang lalu. Kejadian yang sama, dimana aku mengajak Naruto untuk hidup bersamaku dan meninggalkan kehidupan kami yang lama, dan memulainya dengan yang baru, berdua saja.
Aku mengulurkan tangan ini. Berharap dia akan meraihnya kembali. Aku menunggu dia meraih tanganku.
Lalu aku melihat Naruto mengangkat tangannya dengan pelan, dan memegang tanganku. Aku memegang tangannya dengan kuat. Dia masih ingin bersamaku, cintaku, Naruto.
"Kali ini aku akan menjagamu Naruto," kataku. Naruto mengganggukkan kepalanya dengan pelan. Aku bahagia dia memilih untuk bersama diriku kembali, melupakan apa yang telah selama ini aku lakukan kepada dirinya.
"Bagaimana dengan Hinata, Sasuke?" tanyanya pelan.
"Aku…." Aku tak bisa menjawabnya. Yang aku tahu, aku tak bisa meninggalkan dirimu sendirian. Dan aku masih mencintaimu. Tapi Hinata? Aku juga mencintainya.
Saat aku sedang berpikir apa yang harus aku katakan kepada Hinata, aku melihat orang berpakaian jas hitam mendekat kearahku. Aku tahu orang-orang ini adalah suruhan Minato.
Aku segera mengangkat Naruto dari kursi roda yang ia naiki. Jika membawa kursi roda ini, maka aku akan terkejar oleh orang-orang itu. Dan jika aku dan dia tertangkap, maka aku tak akan pernah lagi melihat Naruto untuk selamanya. Memikirkannya saja hati ini sudah sangat perih.
Aku menggendong Naruto dengan tanganku. Jika aku berlari, akan lebih muda untuk kabur dari kejaran mereka.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku mencintaimu… Aku akan menjagamu Naruto," bisikku pelan.
Sesampainya di mobil, aku segera pergi dari tempat itu. Aku menekan pedal gas mobilku kuat-kuat. Aku tak ingin tertangkap. Aku tak ingin melepaskannya untuk yang kedua kalinya.
Tapi apa yang akan terjadi dengan Hinata dan anakku jika aku memilih Naruto? Apakah mereka masih akan menerimaku kelak?
Setelah orang-orang suruhan Minato tak terlihat lagi. Aku memelankan laju mobilku. Aku mengambil Handphone dalam saku baju. Aku menekan pelan seakan aku tak yakin dengan apa yang akan aku lakukan. Tapi ini adalah jalan terakhir untuk tetap bersama Naruto.
"Sepertinya kau telah memutuskannya, my otouto," aku tak menjawabnya. Dia tahu jika aku tak mungkin bisa menolak kali ini.
Aku melihat ke arah Naruto yang kini terus memegang bajuku dari tadi. Seakan tak ingin melepaskannya. Aku menatap sedih melihatnya. Maafkan aku Naruto, tapi ini aku lakukan ini untuk dirimu.
"Apa ada 'orang' itu disana? Aku ingin bicara…" kataku pelan. Dan tak lama kemudian Sai, orang yang aku maksud, menjawab telephone ini.
"Well, sepertinya kau telah memutuskan Sasuke, kau ingin aku menjadi dirimu untuk mengurus orang lumpuh itu? Tarifku mahal Sasuke…." Katanya. Aku bisa merasakan jika saat ini dia sedang tersenyum dengan senyum palsunya.
"…Kau tak akan rugi dengan tawaranku…" kataku pelan. Benarkah cara ini yang terakhir? Aku memegang tangan Naruto yang terus memegang bajuku. Aku menggenggamnya dengan kuat.
"… Baiklah, berapa bayaranku?"
Ini demi kamu Naruto, demi kita. Kau akan mengerti bukan? Kau akan memaafkanku kan?
Love, you know I always love you
So, believe me
To Be Continued.
*MAAF!*
Saia tahu ini sudah sangat lama sejak apdet chapter Can5. So sorry guys, saia tahu perasaan kalian yang menunggunya. Sungguh saia tahu, karena aku juga menunggu sebuah panpik yang, well hati tak tenang jika tak membacanya. ^^
Sekali lagi aku meminta maaf atas keterlambatan ini. Saia akan mencoba untuk mengapdet chapter depan lebih cepat dari chapter ini, saia akan berusaha!
Terima kasih bagi kalian yang masih menunggu chapter ini dengan penuh rasa sabar. Sungguh saya terharu.. T_T
Akhir-akhir ini karena saia mendapat virus JLaw and Kirio –dari Gretta, tanggung jawab nenk^^- yang membuat saia tak bisa tidur sebelum melihat gambar pasangan ini. Aneh bukan? Saia juga bingung, tapi ini adalah kenyataan^^. Tapi, mereka sangat cocok bersama, hope their happiness!
Sungguh ingin bertemu dengan mereka, jika bisa bertemu dengan mereka. I wanna say to JLaw, "When are you going to marry Kirio?" hahaha^^ Thanks for sharing ur happiness with us, JLaw! You can share ur sadness too..
Dan akhir-akhir ini, demam Korea saya sudah sangat tinggi. Well, kemarin pernah berencana jadi TKW di Korea, yang langsung kena damprat ma nyokap^^ 'Buat apa kuliah mahal-mahal jadi dokter, eh malah mau jadi TKW kamu', begitulah T.T. Saya ingin ke Korea! Ingin ketemu Super Junior, Kyuhyun –will u marry me?- teman-teman pada bilang, saya mulai sedikit –stress- jika sudah mengenai Korea. Dan menyarankan saya jauh-jauh dari DVD Korea saia. IMPOSSIBLE!
Kalau gak bisa ke Korea, mm, mungkin ke Cina cukup. Mau ketemu Jlaw and Kirio T_T
Well, saia sudah menghabiskan setengah halaman untuk menceritakan –sebenarnya gak penting- tentang hobi saya baru-baru ini^^
Back to Fanfict, saia kemarin mengalami Authors block, akhirnya dengan cara, mengeluarkan otak dan mencucinya lagi, saya mendapatkan ide yang menurut saya….. kalian bisa menilainya sendiri. Jujur jika boleh bicara, saia agak kurang puas dengan chapter ini, saia ingin langsung loncat menuju klimaksnya tapi jika saia lakukan laju cerita ini berubah menjadi sangat cepat. Mari kita biarkan cerita ini mengalir dengan pelan mengikuti arus^^ -lebay?- maav jika chapter ini kurang memuaskan amarah kalian T.T
Sekali lagi terima kasih bagi kalian yang telah menunggu panpik yang apdetnya lama selangit ini XD
Sungguh kalian membuat saia terharu, padahal cerita ini sangat jauh dari kata sempurna bahkan jauh dari kata bagus. Tapi terima kasih^^ Saran dan kritik yang membangun sangat saia tunggu. Saia berterima kasih yang telah mengingatkan saya mengenai EYD/kata baku, maklum saat pelajaran bahasa Indonesia kerjaan saia menguap terus^^ -tapi kita bangsa Indonesia, kita harus belajar bahasa kita dengan baik, jangan mengikuti jejak saia yang terus mengantuk saat pelajaran ini!^^
Saia sebenarnya ingin membalas review kalian, bolehkah saia membalasnya walaupun sudah berbulan-bulan lamanya?
And the last Thanks all my dears!
