:: CHAPTER 6 ::
Lalu lintas di kota Karakura membuat seorang pria berambut hitam sebahu kebingungan. Gadis di sampingya hanya tertunduk dengan wajah yang bersemu merah. Pria itu melirik sebentar ke arah gadis di sampingnya yang masih menundukkan wajahnya.
"Rukia…" Panggil pria itu. "Kenapa kamu seperti ini sejak tadi pagi?" Katanya dengan suara dingin.
Rukia hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak berani memandang pria itu. Ia takut wajahnya akan semakin memerah. "Ano..Nii-sama…" Katanya dengan suara pelan.
"Kalau kau begini karena kejadian pagi ini, lupakan saja." Kata Byakuya.
Mendengar perkataan soal kejadian tadi pagi dari Byakuya, wajah Rukia menjadi semakin merah. Jelas saja, sewaktu terbangun, Rukia mendapati nii-samanya tidur di sampingnya dan memeluknya. Reflek, Rukia langsung mendorong nii-samanya dan berteriak keras. Walapun Byakuya sekarang adalah suaminya, namun tetap saja, Rukia masih belum terbisa dengan kejadian pagi ini.
"Bu-Bukan begitu, Nii-sama!" Rukia langsung menatap nii-samanya dengan lekat-lekat. Byakuya juga langsung menolehkan wajahnya kepada Rukia. Melihat wajah Byakuya, wajah Rukia langsung memerah dan sesegera mungkin memalingkan wajah merahnya dari pandangan Byakuya.
Jelas saja ia begitu, ia tidak tahu mengapa jantungnya berdetak sangat cepat sewaktu melihat nii-samanya. Bagaimanapun, Byakuya mengenakan gigai dengan rambut terurai tanpa kenseikan. Ia juga menggunakan jas putih dengan t-shirt hitam yang disenadakan dengan warna celana dan sepatunya. Wanita manapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati padanya. Bahkan, sepanjang ia berjalan di Karakura, banyak sekali wanita yang menggodanya. Namun, Byakuya menolak mereka hanya dengan satu kalimat. "Maaf aku sudah beristri.". Yang pada akhirnya membuat Rukia sedikit merasa lega.
Tunggu! Lega…? Apa maksudnya?
Ujar Rukia dalam hatinya. Kali ini perasaannya berubah menjadi sedikit kacau.
"Rukia." Panggil Byakuya lagi. Rukia kemudian terhentak sewaktu mendengar panggilan Byakuya.
"Ha-Hai. Nii-sama!" Jawab Rukia dengan sedikit gugup. Byakuya hanya mengerinyitkan dahinya melihat perubahan tingkah Rukia sejak pagi.
"Apa benar ini tempatnya?" Tanya Byakuya dengan salah satu tangannya menunjuk pada sebuah Rumah Sakit. Rukia hanya mengangguk. Merekapun berjalan memasuki gedung itu.
Di dalam Rumah Sakit itu, Byakuya dan Rukia dengan sabarnya menunggu giliran. Suasana mereka masihlah sangat hening seperti biasanya hingga Byakuya memulai pembicaraan duluan.
"Rukia. Unohana-taichou tidak menemukan jaringan aneh yang tumbuh di otakmu. Apa kamu yakin hasil pemeriksaan rumah sakit ini benar?"
Rukia hanya tertunduk murung, ia tidak menjawab pertanyaan Byakuya.
"Apa kamu kesini hanya untuk bertemu dengan Kurosaki?"
"Nii-sama…A-"
"Kuchiki Rukia. Dokter Spesialis kamar no.3! Sekali lagi, Kuchiki Rukia. Dokter Spesialis kamar no.3"
Sebelum Rukia bisa melanjutkan kata-katanya, panggilan dari ruang pemeriksaan sudah memanggilnya. Mau tidak mau Rukia harus mendatangi kamar pemeriksaan untuk memeriksa benar atau tidaknya hasil tes itu.
Rukia memasuki ruangan. Dilihatnya, seorang dokter wanita muda berambut hitam dan berkacamata sedang duduk sambil membaca beberapa file yang dipegangnya. Dokter itu kemudian melihat kedatangan Byakuya dan Rukia, ia tersenyum.
"Rukia ya. Bisa duduk sebentar?" Tanya dokter yang bernama Kurosawa Ran. Rukia dan Byakuya kemudian duduk di kursi yang diletakkan di depan dokter Ran. "Rukia-san, ada masalah apa?"
"Sensei." Panggil Rukia.
"Ya?"
"Apa benar…telah hasil diagnosis anda ini?" Kata Rukia sambil memberikannya secarik kertas. Dokter Ran membaca laporan diagnosisnya dengan wajah yang tegang. Cukup lama ia membaca, namun akhirnya selesai juga, raut wajahnya kemudian berubah sedikit lebih lembut.
"Kuchiki-san, aku tidak tahu ini kabar yang menyedihkan atau menyenangkan buat anda. Dan…-- maaf? Anda siapanya Kuchiki-san?" Tanya dokter wanita itu dengan lembutnya kepada Byakuya. Byakuya hanya bersikap dingin menanggapi kelembutan Ran. "Kuchiki Byakuya. Aku ka-"
"Dia suamiku, sensei" Potong Rukia. Byakuya yang mendengar pengakuan itu, terkejut dan bisa dilihat ada semburat merah di wajahnya yang dingin. Dokter itu tertawa manis.
"Hahaha…Rukia-san, anda sangat beruntung ya mendapatkan suami seperti Kuchiki Byakuya-san? Sepertinya kalian saling mencintai ya. Nah, untuk merayakan cinta kalian ini, aku akan memberi kabar gembira. Sebenarnya, Rukia-san tidak apa-apa, ia tidak menderita kanker otak seperti yang dituliskan di kertas ini. Semua ini adalah kesalahan kami. Waktu Rukia memeriksakan keadaannya di sini, hasil pemeriksaannya tertukar dengan punya orang lain yang memang menderita kanker otak. Sewaktu saya ingin memberitahu Rukia, saya tidak bisa menemukan anda. Sekali lagi saya minta maaf ya…" Kata dokter itu sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa kecil.
"Yokatta…" Ujar Rukia. Wajahnya yang tegang mulai melembut, menampakkan senyum yang sangat tulus. Byakuya yang mendengar hal itu tiba-tiba menghembuskan nafas yang sangat panjang. Yang membuat Rukia dan dokter Ran kaget.
"Hahaha…Tuan Kuchiki…Maafkan saya…Sepertinya anda sangat menghawatirkan istri anda ya…Saya benar-benar meminta maaf kepada anda. Sebagai gantinya, mohon ulurkan kedua tangan anda. Itu sepertinya sedikit terluka, saya akan mengobatinya. Anda terlalu keras menggenggam tangan anda. Anda sangat kahwatir ya…?"
Byakuya hanya diam dan berdiri meninggalkan kamar praktek dokter itu dengan wajah dingin. Rukia hanya memandang kepergiannya. "Se-Sensei, maafkan suami saya…Dan terimakasih atas beritanya…" Kata Rukia sambil membungkuk kepada dokter itu. Dokter itu hanya membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Ni…Nii-sama!" Panggil Rukia sambil mengejar Byakuya. Byakuya hanya mengacuhkannya. "Nii-sama!!" Panggil Rukia dari belakang Byakuya. Rukia menggapai lengan Byakuya dan menahannya. Byakuya memandangnya dengan dingin. Rukia menatap mata abu-abunya. Tersirat sepancar kebahagiaan dari mata kelabu itu."Nii-sama, jangan begitu…" Pinta Rukia.
"Aku tidak ada urusan dengan orang tidak bersopan santun seperti itu. Sangatlah hina jika dia mempermainkan orang yang sudah sangat khawatir dan meminta maaf sambil tertawa bahagia." Jawab Byakuya. Rukia hanya mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya dari Byakuya.
"Maaf, Nii-sama. Ini semua salahku. Mohon hukum aku yang sudah mempermainkan perasaanmu." Ujar Rukia sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah.
Byakuya hanya menggenggam tangan Rukia dan berkata, "Aku menghukummu. Tetaplah menjadi istri Kuchiki Byakuya hingga aku bersedia untuk melepaskanmu."
Mendengar hal itu, Rukia kaget dan wajahnya langsung bersemu merah. "h-h-hai, nii-sama.." ujarnya dengan suara pelan dan menggenggam balik tangan Byakuya.
Karakura Town, Central Park 16.30 p.m
Rukia dan Byakuya sedang duduk di taman. Tangan mereka sedang memegang sebuah cone dengan es krim di atasnya. Rukia memakan es dengan rasa strawberry sedangkan Byakuya memakan rasa mint karena tidak ada rasa cabai (A/N: Byakkun kan suka makan pedas).
"Ini…Makanan apa, Rukia?" Tanya Byakuya sambil melihat benda aneh di tangannya. Rukia yang sedang asik menjilati es krimnya tidak menghiraukan Byakuya. Byakuya kemudian membuka mulutnya dan memakan es itu semuanya dalam sekali makan.
CCCTTTIIIING!!!
Rasa ngilu langsung menjalar dari gigi hingga kepala Byakuya yang sukses membuat Byakuya tertunduk dan merintih. Es krim yang dipegangnya pun jatuh ke tanah, membuat Rukia terkejut.
"Ada apa Nii-…" Rukia terdiam melihat Byakuya yang memegangi kepalanya dan merinding. "Nii-sama?"
Rasa ngilu yang dirasakan Byakuya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ia pun sudah bisa menoleh ke arah Rukia.
"Nii-sama? Kenapa?" Tanya Rukia dengan herannya.
Byakuya hanya menatap es krim yang dijatuhkannya. "Rukia. Benda ini." Sambil menunjuk es krim tersebut. "Sangatlah berbahaya. Sewaktu aku memakannya, dia menimbulkan rasa aneh di tubuhku."
Rukia bingung. Bagaimana bisa, sebuah es krim tanpa dosa menjadi sesuatu yang berbahaya? Raut wajah Rukia mulai berubah. Wajahnya mulai memerah, menahan tawa.
"Pfff…Nii-sama…Seberapa banyak es yang kamu makan?" Tanyanya sambil menahan tawa.
"Semua."
"HYAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…" Rukia tak mampu lagi menahan tawanya. Ia sangat merasa aneh dengan prilaku Byakuya.
"EHEM!" Byakuya menegur Rukia.
"Pff..Ma-Maaf Nii-sama!...Pff…Jelas saja kamu merasa ngilu..Ka-Kamu…Pfff…Memakan es krim langsung semuanya…Kepalamu akan terasa pening." Rukia masih berusaha menahan tawanya. "Cara memakan ini adalah dengan menjilatnya, Nii-sama. Maka rasanya akan terasa manis."
Tiba-tiba, jari Byakuya menyentuh bibr Rukia dan mengusap sisa-sisa es krim di bibirnya. Jari itu kemudian dimasukkannya ke dalam mulutnya. "Manis. Memang manis." Ujarnya masih dengan image dinginnya. Wajah Rukia langsung memerah, benar-benar merah hingga ia tak mampu berkata-kata dan menatap Byakuya. Hingga sebuah selebaran menempel di wajahnya.
PLUK!
Rukia kemudian mengambil selebaran yang menempel di wajahnya karena terbawa angin.
DATANGLAH!! DATANGLAH!! KE FESTIVAL KEMBANG API!
JAM 19.00 DI KARAKURA HILLS, MALAM INI!
Rukia menjadi sangat senang setelah mengetahui akan diadakannya festival kembang api. Sudah lama sekali ia tidak melihat kembang api. Ia sangat ingin melihatnya. Namun mungkinkah ia meminta pada Byakuya?
Haruskah aku mengajaknya…?
Ujar Byakuya dalam hati.
Chariot330 : Gomen ne, Minna…! Lama banget ngapdet cerita ini. Tiap mau ngapdet pasti ada aja hambatannya. Maaf ni chapter rada nggak jelas. Soalnya ini juga merupakan salah satu chapter penting sebagai 'jembatan' utama penghubung ke intinya sih…Oya, untuk chapter selanjutnya, baiknya Byakuya ma Rukia dateng ke matsuri itu atau nggak?
a. Dateng
b. Langsung pulang ke Soul Society
Tolong dipilih ya! Jangan lupa Review dan jangan lupa saran dan kritik buat cerita ini ya! Makasih kepada semua yang sudah baca dan review! Sekali lagi, REVIEW!!
