Sincerity Of Feeling
Story by : Me
Disclamer : Masashi Kishimoto
Rate : T+
Pairing : Sasuke U x Hinata H
Genre : Romance & Drama
Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya
. . .
Chap VII
Dan semuanya kembali ke masa-nya masing-masing, seperti jam dinding yang terus berputar tanpa tahu apa saja yang sudah di lewatinya.
Matahari yang setia pada janjinya untuk selalu hadir menyapa setiap pagi serta terbenam saat senja dan memberikan kesempatan pada bulan untuk menyinari bumi.
Aku mencintai mu, tapi entah dengan cara apa harus kutunjukan pada dirimu. Kau... menatap ku seolah-olah aku orang yang paling hina di dunia ini.
Aku bahagia...
Walaupun saat ini kau menampilkan senyum palsu mu di depan keluargaku, tapi entah kenapa hatiku sudah sangat bahagia.
...
Ini sedikit menyenangkan, tetesan air hujan disiang hari ditengah hiruk pikuknya manusia berlalu lalang sedikit melepaskan diri dari beratnya pekerjaan, berkumpul bersama rekan makan siang bersama atau menghabiskan waktu dengan tidur sekejap.
Tetesan hujan ini menambah kebahagian, rasa dinginnya menenangkan.
Dan siang hari ini juga terasa berbeda untuk Hinata.
Mata hitam sejelaga malam terus menerus memperhatikan dirinya, tapi tatapan mata ini entah mengapa berbeda dengan mata lelaki itu.
Warna nya tetap hitam pekat, khas utama dan kebanggan klan Uchiha.
Tapi untuk pertama kali,
Hinata senang ditatap dengan mata hitam ini.
Semua gerakan tubuhnya sangat anggun, benar-benar sikap seorang bangsawan.
Tukkk...
Bunyi cangkir teh yang diletakkan diatas meja. 'bahkan caranya meletakkan gelas pun terlihat berbeda...' Hinata bergumam dalam hatinya.
"Ananda pasti sudah tahu siapa saya..." ucapnya lembut.
Hinata mengangguk gugup "Ya,Mikoto-sama."
Wanita itu tersenyum lembut, matanya menyipit dan terlihat sangat manis, onyx itu tersembunyi saat ia tersenyum seperti ini.
"Kau manis sekali, jauh lebih manis dari pada yang terlihat difoto." tuturnya sambil menarik tangan Hinata dan menggengamnya perlahan.
Sunyi yang terasa di café, aroma apel yang bercampur mint rasanya memenuhi ruangan ini.
"Maafkan aku, kau pasti terkejut karena permintaan ku untuk bertemu denganmu yang sangat mendadak ini."
Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya "Ti... tidak Uchiha-sama..."
"Sttt... jangan memanggilku seperti itu, panggil saja aku okaa-san."
Dan Hinata... ia rasanya tersedak oleh nafas yang ia hirup sendiri, wajahnya memerah malu.
Kenapa Uchiha dihadapannya ini sangat bertolak belakang dengan Uchiha yang sangat ia benci, bukankah mereka satu aliran darah?.
"Kau tahu Hinata, rasanya seperti angin surga saat aku mendengar keinginan Sasuke bahwa ia akan menikahi seseorang." Wanita itu menarik nafasnya sesaat memberikan jeda pada hatinya yang terus bergemuruh karena terlalu bahagia "Dari dulu..." lanjutnya "aku tidak pernah perduli dengan siapa anak-anak ku akan akan menikah, dari mana pasangan dia berasal, apa pekerjaanya, apa latar belakang keluarganya, aku tidak pernah mempertimbangkan hal-hal seperti itu.
Hati Hinata mencelos perih.
"Aku sudah merasa sangat bersalah terhadap kedua anak-ku, mereka tidak bisa berkembang selayaknya anak-anak lainnya, dari sejak dalam kandungan takdir mereka sudah disetting untuk mengelola kewajiban besar dalam takdir seorang Uchiha, aku gagal terhadap anak pertama, Itachi sudah kehilangan minat dalam mengejar kebahagiaannya sendiri prioritas nya hanya perusahaan dan keluarganya, dan Sasuke rasanya melebihi kakaknya obsesinya terhadap perusahaan." wanita Uchiha itu menarik nafas panjangnya sebelum melanjutkan ceritanya "Saat aku mendengar Sasuke ingin menikah, rasanya aku rela menukarkan semua apa yang ku punya dengan berita bahagia ini, keinginanku hanya ingin melihat anak-anak ku menua dan tumbuh bersama seseorang yang dicintainya."
Melihat sebuah harapan dalam matanya ia menjadi merasa bersalah.
'Bersama yang dicintai?' tanya Hinata pada dirinya sendiri.
Pernikahan ini atas dasar keterpaksaan.
Ia sangat membenci anak dari wanita dihadapannya ini, bagaimana mungkin ia bisa mewujudkan harapan wanita itu untuk menjaga anaknya, menemaninya, memberinya keturunan?.
Membayangkannya saja perutnya terasa mual.
.
.
.
Hinata menampilkan senyum palsunya.
Meng-ikrarkan janji bahwa ia akan menjaga Sasuke Uchiha sesuai keinginan sang wanita tadi, entah janji atau hanya bualan.
Hinata hanya berpikir.
Ia membenci anaknya, bukan berarti sang ibu berhak disakiti akibat perlakuan anaknya, ia memantapkan hatinya.
Setidaknya ia harus menyenangkannya, berpura-pura mencintai anaknya dihadapannya bukanlah hal yang sulit.
Tapi mungkin Hinata lupa.
Perasaan adalah hal yang tak pasti.
Jika sang pemilik hati bisa saja membalikan perasannya ditambah sebuah doa.
Siapa yang akan tahu, perasaaan gadis Hyuga ini dikemudian hari.
.
.
.
Upacara pernikahan yang dibalut nuansa putih, dan hanya keluarga inti yang menghadiri pemberkatan, acara yang sangat sederhana
Permintaan Hinata.
Hinata hanya ingin mengadakan perayaan dengan sangat sederhana, walaupun Uchiha memiliki lingkup bisnis yang luar biasa jumlah kolega yang luar biasa yang pastinya akan sangat menyenangkan jika mengundang mereka bahkan pejabat-pejabat pemerintahan pun dengan senang hati pasti akan datang jika dari keluarga Uchiha yang memberi undangan.
Lagi.
Sasuke mencoba memahami kekasih hatinya, berusaha memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya dengan segenap keyakinan dan beberapa pengorbanan yang akhirnya keluarga besar menyetujuinya.
Tidak mengharapkan balasan.
Sasuke hanya ingin kekasihnya mengerti bahwa dirinya berusaha sebaik mungkin menjadi yang dia inginkan.
"Aku hanya akan menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri, jangan menuntut untuk meminta aku mengerti dirimu, dan mari jangan saling mencampuri kepentingan masing-masing, dengan begitu aku akan terus kooperatif dan selalu menjadi istri sampai kau yang akan melepaskanku sendiri nantinya." tutur Hinata pada malam dimana ia dan Hinatanya ditakdirkan menjadi sepasang suami istri.
Hati Sasuke tersayat.
Kenapa terkesan seperti perjanjian sebuah bisnis, ia mengingingkan cinta dan kasih dari Hinata Hyuga, apakah salah yang ia lakukan untuk memastikan bayangan gadisnya selalu didekat dirinya?
Bukankah didunia ini ada hal yang bisa dipilih dan tidak bisa dipilih?
Dan bukankah rasa termasuk didalamnya?
Ia tidak bisa memilih untuk mencintai gadis Hyuga ini dan ia pun tidak bisa memilih untuk membenci dirinya.
Karena rasa cinta yang bekerja dari awal ia berjumpa dengan byakugannya.
Sasuke hanya mendengus penuh arogan, menyetujui permintaan menyakitkan istrinya ini.
Berusaha menekan perasaannya agar tak terlihat rapuh dihadapan gadisnya ini ralat istrinya saat ini.
Ia ingin selalu terlihat superior agar tak ada celah sedikitpun Hinata Hyuga untuk berani meninggalkannya.
"Lakukan sesukamu Hyuga, asalkan kau tahu batasan mu dengan menyandang namaku dibelakang namamu saat ini, kau harus tahu batasanmu." ultimatu Sasuke pada istrinya.
Malam-malam pasangan baru yang seharusnya dipenuhi dengan sesuatu yang manis, penuh kehangatan dan rasa nyaman berlalu dengan begitu cepat.
Hinata memang menjalankan kewajibannya sebagai seorang Istri.
Dengan tebaran senyum palsu jika sedang berkumpul dengan keluarga suaminya, berusaha sebaik mungkin berperan menjadi istri yang menyayangi suaminya.
Bahkan Hinata bisa sangat dekat dengan sahabatnya Uzumaki Naruto, dan bersikap penuh hormat dengan kakak laki-lakinya Uchiha Itachi.
Tapi jika dengan dirinya.
Hinata membentengi dirinya, sikapnya sedingin kutub utara.
Membatasi hatinya agar tak ada sedikitpun celah agar ia bisa memasukinya dan memiliki tempat disana
Musim berganti, bulan purnama sudah beberapa kali menghinggapi malam.
"Hinta-chan, pernikahan mu dengan Sasuke sudah hampir satu tahun, apakah belum ada tanda-tanda kalian akan memberikan aku seorang cucu?" tanya Mikoto disela-sela makan malam mereka.
Hinata tersedak minumannya sendiri.
Akhirnya pertanyaan yang sejenis ini akan mulai ia dengar, mungkin mertua tersayangnya ini sudah bertahan sebisanya untuk menanyakan kepadanya dari waktu-waktu sebelumnya.
Hanya saja sifat wanita Uchiha itu bertolak belakang dengan jenis laki-lakinya, ia terlihat terlalu hati-hati dan selalu memikirikan orang disekitarnya.
Karena Mikoto Uchiha lah satu-satunya hal yang Hinata syukuri dengan takdirnya menikah dengan Uchiha Sasuke.
Ia menemukan posisi 'Ibu' yang tidak pernah ia rasa selama hidupnya.
Sasuke menepuk perlahan tengkuk Hinata.
"Doa-kan saja yang terbaik untuk kami Oka-sama, jika sudah saatnya pasti Tuhan akan memberi."
Dan Hinata tersenyum lega.
Sebenarnya ada hal yang menyakitkan.
Saat pertama kali prodigy Uchiha ini tahu selama ini sang istri mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.
Ia marah dan kecewa.
Dan yang lebih menyakitkan hatinya, ia tidak bisa mengungkapkannya pada wanitanya itu.
Ia takut, protesnya akan berujung pada pemberontakan istrinya dan berakhir Hinata yang meninggalkannya.
Biarlah,
Dengan syarat apapun, dengan keadaan apapun, dan pengorbanan apapun asalkan bisa bersama istrinya disisa hidupnya Sasuke bersedia.
. . .
Pada malam yang berhiaskan jutaan bintang.
Namun mengapa bulan selalu menjadi pusat perhatian?
Padahal ia tak selamanya menemani pekatnya malam.
Ada kalanya ia hanya menampilkan separuh dirinya, namun tetap saja ia tetap lebih bersinar dibanding jutaan bintang.
Warna Hitam sejelaga malam memandang penuh arti pada layar tivi di salah satu restaurant berbintang. Siaran berita yang ikut menemani jutaan masyarakat Konoha menikmati makan malamnya.
"Dia istri-mu bukan?" tanya lelaki dengan model rambut menyerupai buah nanas menunjuk pada seorang reporter yang sedang melaporkan secara langsung kecelakaan di pinggir kota Konoha.
"Hn." jawab Sasuke, matanya terus memperhatikan istrinya dilayar kaca, dengan rambut yang dikuncir kuda dengan kacamata yang sedikit kebesaran pipinya yang putih dan gembil.
Rasanya saat ini ia sangat merindukan istrinya.
"Kupikir dia akan berhenti bekerja, karena jika dipikir menggunakan logika untuk apa bersusah payah bekerja jika kau sudah menjadi istri dari seorang Uchiha." ucapnya sambil meminum wine yang tersedia sebagai pelengkap dari ritual makan malam perusahaan.
Sasuke memejamkan matanya perlahan, sebenarnya pun dalam hatinya ia tidak ingin sang istri bekerja dengan bidang seperti yang ia lakukan saat ini, sangat menyita waktu dan tenanganya.
"Itu passionnya." jawabnya.
Shikamaru tersenyum tipis "Kau suami yang luar biasa, tak kusangka kau akan seperti ini jika melihat tingkahmu semasa kuliah dulu."
Lagi,
Ia berkorban untuk istrinya, entah ini sudah yang keberapa kali ia menghilangkan egonya demi keinginan istrinya, berharap suatu saat ada yang menyadari pengorbanannya, ada yang menyadari niat baiknya.
Sekali saja.
Hanya sekali saja, biarkan aku memasuki ruang hatimu.
Menandakan kepemilikanku disana, tak peduli dibagian manapun.
Bahkan jika kau hanya mengijinkan aku untuk menempatkan diriku disudut ruang hatimu aku akan sangat bahagia,
atau bahkan... jika kau hanya mengijinkan aku untuk sekedar melihat ruang hatimu dan memintaku hanya sekedar singgah percayalah... kebahagianku akan tetap sama rasanya.
"Hinata, kau tidak pulang ke rumah malam ini?" tanya Kiba pada Hinata yang masih bergelut dengan komputer diruang kerjanya.
"Aku ada siaran berita pagi, akan sangat merepotkan jika pulang kerumah." jawabnya acuh.
Kiba hanya menggangguk, ia meluruskan kakinya pada kursi yang disusun memanjang, merebahkan kakinya yang seharian ini berlari mengejar berita.
"Oh iya Hinata, sampaikan terima kasih ku pada suami-mu ya..." gumammnya sambil perlahan memejamkan matanya.
Jemari lentik Hinata yang sedari tadi sibuk menari pada keyboard komputer tiba-tiba berhenti bekerja "Maksud-mu?"
Kiba menggelengkan kepalanya "Hahahah, lupakan saja." tawanya canggung sambil tetap memejamkan matanya.
Hinata mendecak kesal, ia menarik hoodie belakang yang dikenakan rekan kerjanya ini, kursi dengan roda dikaki yang diduki Kiba mendekat ke arah Hinta.
"Aduh duhhh..." Kiba mengaduh.
"Jangan main-main denganku Kiba, apa maksud mu dengan mengucapkan terima kasih pada Sasuke Uchiha?" tanya Hinata dengan sedikit kesal.
Ia sangat membenci seseorang yang menjadi suaminya ini, hal yang paling ia senangi berada di kantor karena tidak perlu repot-repot berhubungan dengan hal yang menyangkut suaminya.
Karena dari itu ia sangat sensitive jika ada rekan kerjanya yang mengucapkan namanya dihadapannya.
"Baiklah-baiklah." jawab Kiba.
Ia merapihkan hoodie yang ditarik sahabatnya ini.
"Kau tahu bukan minggu lalu ibu ku masuk rumah sakit." tuturnya
dan Hinata hanya menggangguk.
"Aku baru tahu saat itu jika ibu ku terkena gagal ginjal, ia menyembunyikannya selama ini dari keluarga karena tidak ingin kami semua khawatir, terlebih saat ini adik ku sedang masuk masa ujian di universitas dan membutuhkan dana yang tidak sedikit."
"Ya Tuhan..." sambil memukul lengan Kiba "Kenapa kau tidak menceritakan hal ini kepadaku selama ini?!" tanya Hinata gemas.
Kiba meringis kesakitan karena pukulan Hinata, berteman lama dengan sahabatnya ini ia masih saja belum peka dengan kebiasaannya yang akan tiba-tiba memukul orang disampingnya jika sedang kesal hatinya.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun, lagi pula aku laki-laki untuk apa berkeluh kesah perihal permasalahan keluarga, setiap keluarga kan memiliki masalahnya masing-masing."
Hinata mendadak terdiam.
Kiba benar, setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing, lalu kenapa sampai saat ini ia merasa hanya ia di dunia ini yang memiliki masalah keluarga yang berat melebihi siapapun?
"Entah bagaimana alurnya tiba-tiba aku bertemu dengan suami-mu dirumah sakit itu, aku baru tahu ternyata rumah sakit besar itu milik keluarga suami-mu Hinata, kau sangat beruntung." dengan cengiran khasnya.
"Hei Hinata, apa kau tahu jika suami-mu memiliki tingkat insomnia yang parah?"
Hinata menggeleng "Tidak." berusaha mengingat kebiasaan bungsu Uchiha itu, Hinata yakin jika pola hidup suaminya sangat teratur, ia selalu tidur di jam 10 dan bangun di jam 5 pagi selalu seperti itu bahkan jika hari libur.
"Kau serius?" tanya Kiba heran.
Dan Hinata menggangguk dengan tegas "jangan beralih topik dengan urusan Sasuke Uchiha, jelaskan kenapa kau berterima kasih padanya?"
Kiba menggelengkan kepalanya penuh heran, "Kau yakin jika kau tidak tahu suamimu mengidap insomnia? bahkan dokternya mengatakan jika ia hampir masuk tahap depresi karena insomnia yang dideritanya."
Hinata melipat tangannya.
"Baiklah-baiklah." ucap Kiba "Suami mu dan aku berbincang panjang sekali malam itu, ia bertanya banyak tentang kebiasaan mu dikantor dan bertanya siapa tahu ada hal yang bisa ia bantu untuk menunjang pekerjaanmu di bidang ini."
"Lalu?" tanya Hinata lagi.
"Dan diapun menanyakan alasan keberadaan ku dirumah sakit ini, saat dia tahu kondisi ibu ku ia menawarkan bantuan untuk ku, aku tolak awalnya tapi ia tetap bersikukuh untuk memberikan bantuan dan ia sendiri berjalan menhampiri resepsionis rumah sakit dan menandatangani pernyataan jaminan untuk ibu ku."
Hinata terdiam sesaaat, ada semacam percikan api dalam hatinya.
"Aku bertanya padanya, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas bantuaanya saat itu." lanjut Kiba "Kau tahu apa yang dikatakan Hinata?"
'Tolong jaga istriku.'
"Dia benar-benar bersikap sebagai laki-laki, aku sungguh malu pada saat itu, aku tampan tidak, punya banyak uang dan kedudukan pun tidak ada apa-apanya dibanding suami mu, tapi aku masih saja tidak bisa menghargai sebuah hubungan dengan perempuan."
Kiba pun menutup kembali kepalanya dengan hoodie yang ia kenakan dan kembali ke posisi nyamannya sebelum diganggu oleh Hinata "Kau sangat beruntung memilikinya Hinata." sambil bergumam sebelum mimpi mengambil alih pikiran laki-laki ini.
"Cih..." Hinata mendecih kesal.
Jari-jari manisnya kembali pada pekerjaanya dipapan keyboard.
Uchiha Sialan itu pandai sekali pencitraan.
Keluh Hinata.
Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka
Hanya waktu yang bisa menumbuhkan perasaan.
Pukul 05.00 pagi.
Ada sebuah ruangan yang nyaman lengkap dengan peralatan tidur yang disediakan perusahaan untuk para pegawainya yang terpaksa tidak bisa pulang ke rumah hangatnya karena pekerjaan.
Dan Hinata salah satunya.
Tuuk tukk tukk..
Perlahan pintu ruangan diketuk, Hinata yang sudah terjaga pagi itu dengan malas membuka pintu.
Sesorang yang ia kenal, menundukkan kepalanya dengan sopan pada dirinya.
"Maafkan saya nona jika mengganggu, tuan mengirimkan ini untukmu." sambil menyerahkan bingkisan." ucapnya.
Hinata menerimanya sambil tersenyum. "Baiklah, terima kasih."
Dan lelaki bertubuh tegap tadi meminta ijinnya untuk pamit dan perlahan menghilang dari pandangan Hinata.
"Siapa?" tanya Yama sambil menggaruk-garuk perlahan rambutnya yang berantakan.
"Pengawal Uchiha." jawab Hinata datar.
Ia pun membuka bingkisan itu.
Hal yang sama, hanya pakaian pribadinya, termos panas berisi kopi kesukaannya dan sandwich yang entah Sasuke beli dari mana di waktu pagi buta seperti ini.
Sebenarnya ini bukan yg pertama, hampir setiap ia ada jadwal siaran pagi dan memaksanya untuk menginap di kantor akan ada orang-orang dari Uchiha yang memberikan hal ini atas suruhan Uchiha Sasuke.
Sambil berjalan malas menuju kamar mandi ia berguma "Kau sangat beruntung Hinata, mungkin dirimu dianugerahi keberuntungan dari masa lalu."
Hinata membencinya.
Kenapa semua orang yang dikenalnya selalu mengatakan ia sangat beruntung memiliki suami seorang Uchiha Sasuke.
Apakah mereka akan tetap berfikiran seperti itu jika tahu hal yang sebenarnya yang membuat dirinya terperangkap dengan status Uchiha ini.
...
Lagi, satu persatu hal manis yang dilakukan suaminya untuk Hinata sama sekali tidak menimbulkan reaksi apapun, Hinata hanya mengganggap sikap suaminya hanyalah citra positif yang ingin ditimbulkan klan Uchiha.
Setiap tanggal 23 akan ada sebuket bunga pemberian suaminya diruang kerjanya, hadiah-hadiah kecil yang manis yang tak terhitung yang sudah diterima dirinya sama sekali tidak memberikan dampak apapun terhadap posisi Sasuke didalam hatinya.
Sungguh memikirkannya selalu membuat Hinata mual.
Bahkan jika membutuhkan ribuan purnama pun Hinata yakin pandangannya pada Sasuke Uchiha tidak akan pernah berubah.
Bahkan jika ada kehidupan selanjutnya pun dia akan tetap memilih untuk membenci keturan terakhir klan Uchiha ini.
Tapi terkadang manusia lupa,
Benci dan cinta sama-sama berasal dari satu frasa yaitu Rasa yang kadang manusia lupa jika Tuhan bermain didalamnya.
.
.
.
Pagi ini seluruh Konohoa dikejutkan dengan berita yang menyanyat hati.
Seorang ibu muda yang ditemukan terbujur kaku dengan penuh lebam akibat dari tindakan suaminya, beruntung keberadaanya ditemukan oleh orang terdekatnya dan nyawanya masih bisa untuk diselamatkan.
Berita pagi yang menyakitkan hati ini langsung menjadi topik utama setiap stasiun tv bahkan disurat kabar.
Tangan-tangan lihai dan kata-kata yang menambah haru menjadi pelengkap isi berita utama dihari ini.
Dan Hinata yang secara kebetulan bertugas untuk meminta keterangan korban, dari sekian banyaknya reporter yang berebut kesempatan untuk meminta keterangan dari si korban entah mengapa Hinata yang beruntung saat itu.
Tubuh mungilnya benar-benar bermanfaat, ia menyelinap masuk dan berada dibarisan paling depan yang akhirnya hanya beberapa perwakilan stasiun tv yg dijinkan petugas keamaan untuk mengambil keterangan dari si korban.
Kondisi korban yang sangat mengenaskan membuat Hinata menitikan air mata nya, ia menggerutu "Kenapa dia masih bertahan dengan lelaki seperti itu jika setiap hari menerima tindakan yang tidak menyenangkan seperti ini.!"
Dan ternyata satu kalimat dari korban menyentakkan hati Hinata saat itu juga.
"Aku mencintainya, karena aku sadari saat aku meletakan dirinya dihatiku tak ada lagi pilihan yg tersedia untuk ku, aku hanya harus bersama dengannya."
Hinata terdiam, ia tidak menyangka kata-kata keluhan yg ia keluarkan didengar korban, ia tertunduk dan berkali-kali mengucapan kata maaf, rasanya sangat tidak sopan untuk mengkiritik korban tepat dihadapannya saat ini.
Tak berapa lama.
Para penjuru berita keluar dari ruang perawatan korban, ada rekan lama Hinata dengan tingkat pengalaman yang jauh lebih lama dibanding Hinata tapi berbeda stasiun tv dengan Hinata menepuk punduknya secara perlahan.
"Di dunia ini ada hal yang bisa kita inginkan dan tidak Hinata, sama seperti wanita tadi, ia terjebak pada perasaan yang tidak bisa ia pilih, hidup tidak selamanya menggandalkan logika."
"Kau hanya harus bersyukur dengan hidup mu yang sekarang." sambil tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Hinata dengan lubang besar dihatinya.
'Kau hanya harus bersyukur Hinata.' kata-katanya seperti jatuhan meteor besar menyakitkan dan meninggalkan luka dihatinya.
Menyadarkan dirinya yang selalu menyalahkan takdir tentang apa yang terjadi dikehidupannya, menyalahkan keberadaan suaminya setiap waktu.
Tubuhnya bergetar, kata-kata tadi benar-benar membekas dihatinya.
Ia pun meninggalkan laporan pada rekan yg kebetulan saat itu bertugas dengan dirinya dan meminta ijn untuk pulang awal kerumahnya.
. . .
Rumah besar dengan dominan warna putih dan gold menghiasi rumah ini, dari lambang kipas corak merah dan putih didepan gerbang menandakan kepemilikan rumah besar ini.
Rumah yang luas ini, selalu sunyi setiap harinya.
Rumah yg khusus ditempati bungsu Uchiha dan istrinya ini hampir tidak ada kehangatan didalamnya.
Memang benar jika ia tidur satu ruangan dengan suaminya ini, memang benar jika dirinya bahkan menghabiskan malam dengan tugasnya sebagai seorang istri.
Namun itu hanya terasa layaknya hubungan sebuah kolega bisnis.
Ia dan Sasuke terikat pada kepentingan itu.
Untuk pertama kalinya ia memasuki kamarnya dengan perasaan haru,
Ia hanya harus bersyukur.
Begitu banyak hal yang sudah Tuhan beri untuknya tapi ia tidak pernah berterima kasih pada penciptanya.
Gambar besar didinding kamar, foto dirinya dan suaminya menggunakan baju khas Uchiha dalam ritual pernikahan yg lebih dari setahun yg lalu ia lakukan terasa berbeda dalam pandangan Hinata pagi ini.
Ia hanya perlu bersyukur.
Mata hitam yang memandang dirinya dalam potret itu menggambarkan sejuta harapan.
Rasa sakit atas sikap Uchiha Sasuke yg ia lakukan dahulu masih membekas sampai saaat ini, rasa sakit itu Hinata rasa semakin membesar setiap harinya hingga ia sulit menerima berkah yg Tuhan beri untuk kehidupannya.
Padahal dengan ia menjadi seorang Uchiha.
Ia bisa memiliki sesorang yang ia panggil ibu untuk sekian lama yang tidak pernah ia miliki, ia memiliki kehidupan yg sangat layak bahkan bukan hanya untuk dirinya tapi untuk keluarga Hyuga.
Bisnis Keluarganya berjalan dengan baik karena dukungan nama Uchiha.
Sahabat-sahabat terbaiknya di kantor bahkan ikut terdampak dengan berkah dari dirinya menjadi seorang Uchiha yang baru-baru ini ia ketahui.
Dengan tanpa alasan ia membuka laci pribadi milik suaminya.
Ada sebotol obat tidur dengan dosisi tinggi didalamnya.
"Milik siapa ini?" tanya Hinata pada dirinya sendiri.
Perlahan ucapan kiba hadir dalam ingatannya 'Apa kau tahu jika suamimu memiliki tingkat insomnia yang parah?'
Hinata menggelengkan kepalanya.
Tidak,
Selama ia tinggal dengan suaminya yang ia tahu suaminya adalah orang yang sangat teratur bahkan jam tidur dan bangunnya pun sangat terjadwal, lalu milik siapa obat ini?
Bukan pedang yang tajam yang dapat melukai seseorang begitu dalam,
hanya dengan sebuah kata-kata bahkan bisa melumpuhkan seorang kesatria.
Hinata lupa,
Ia hanya manusia.
_tbc_
Oyasuminasai...
Sudah berapa lama yahh?
Semoga masih ada yg sabar menunggu kelanjutan fict ini ^_^
Awalnya masih ragu untuk tetap melanjutkan hobbi ini atau tidak, karena semakin bertambahnya umur begitu banyak hal-hal yang jauh lebih penting dibandingkan mengerjakan hobbi seperti ini, tapi sesuatu yg tetap menjadi alasan saya untuk melanjutkan fict ini karena semua review terhubung langsung dengan email pribadi jadi review dari kalian selama ini saya membacanya, saya tersentuh dan bersyukur walaupun tidak banyak setidaknya ada yang mengharapkannya dan itu memberi alasan untuk saya walaupun secara perlahan melanjutkan fict ini.
Mohon maaf jika sudah selama ini dan masih saja banyak kekurangan dari apa yang saya buat ini.
Jika berkenan mohon untuk kritik dan sarannya agar setidaknya bisa membuat saya memperbaiki kesalahan dikemudian waktu.
Tunggu chap selanjutnya, dan saya secara pribadipun berharap tidak membutuhkan waktu yang lama seperti ini.
Sekali lagi terima kasih.
_Intan Uchiha_
