Disclaimer : Naruto belongs to Kishimoto Masashi
Warning : AU dan ngaco!
Shizune Shiranui's Point of View
Aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali benar-benar menikmati sinar matahari. Awan hitam terus membumbung menutupi langit di atas kami selama beberapa hari ini, membawa aroma darah dan kematian. Suara tembakan, ledakan dan teriakan kesakitan orang-orang yang semakin kerap tidak lagi menjadi hal yang aneh bagi kami.
Kini markas IRC tak ubahnya seperti kamp pengungsian. Bukan lagi hanya tentara Hi dan OPD yang berdatangan, tetapi juga penduduk sipil yang terpaksa mengungsi karena desa mereka diluluh lantakkan pihak musuh selama dua hari belakangan. Jumlah mereka semakin lama semakin banyak—terlebih yang terluka—sehingga para petugas medis nyaris tidak punya waktu untuk beristirahat. Belum lagi setiap serangan tak terduga dari tentara agresor yang terus menerus datang, yang mengakibatkan beberapa diantara kami terluka. Tetapi sejauh ini pasukan bantuan yang diturunkan selalu bisa memukul mundur mereka.
Sepertinya desas-desus yang beredar bahwa desakan dari Dewan Keamanan OPD telah membuat pasukan Oto semakin nekat dan beringas benar adanya. Dan ini nampaknya menambah kekhawatiran para pengungsi yang kebanyakan adalah para wanita dan anak-anak.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi!" Itachi Uchiha, selaku pemegang komando utama di markas kami, memberikan pengumuman pada para pengungsi yang cemas pagi itu sebelum matahari benar-benar terbit. Lingkar-lingkar hitam terpeta jelas di bawah matanya dan wajahnya tampak menggelap karena asap peperangan. Meski begitu sorot matanya memancarkan harapan yang kemudian ditularkannya pada orang-orang di sana. Punggung mereka langsung menegak dan mendengarkan.
"Musuh sudah berhasil dikalahkan—" terdengar sorakan suka cita dari para pengungsi dan petugas nonmiliter. Uchiha tersenyum tipis melihat reaksi orang-orang itu sebelum kembali melanjutkan setelah sorakan mereda. "—dan kami baru saja mendapatkan kabar, pasukan bantuan dari pusat akan segera tiba dan membawa kalian ke tempat yang lebih aman."
Dan benar saja, bahkan kami tidak perlu menunggu teralu lama. Menjelang siang, truk-truk militer yang akan membawa kami pergi tiba di markas IRC.
Kami mulai mengangkuti semua pengungsi yang sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak ke dalam truk, kemudian para serdadu yang terluka di truk berikutnya. Ini agak menyulitkan mengingat luka-luka mereka yang cukup parah dan beberapa malah sudah infeksi.
"Apa mereka tidak apa-apa berdesak-desakan seperti itu?" Sakura memandang truk-truk itu dengan tatapan khawatir. Kami baru saja menaikkan Yamato yang belum sepenuhnya pulih ke atas truk, mendudukkannya di antara dua serdadu lain yang juga sedang terluka.
"Ini satu-satunya kesempatan agar kita bisa cepat keluar dari tempat ini, Sakura. Apa boleh buat," ujarku menenangkannya, padahal aku juga mencemaskan mereka.
Dua orang tentara OPD—Komandan Itachi Uchiha dan seorang tentara bernama Deidara—mendekat memapah seseorang berseragam pilot yang kami kenali sebagai pilot OPD yang pesawatnya terjatuh tidak jauh dari markas kami dua hari yang lalu. Pilot itu mengalami retak pada tulang keringnya saat pendaratan darurat dengan parasutnya—sepertinya ia tersangkut di pohon atau semacamnya—dan beberapa luka gores yang tidak terlalu parah di wajahnya.
"Hati-hati, Sasuke," Komandan Uchiha berkata saat membantu pilot itu naik ke truk.
Pilot itu mengernyit seperti menahan sakit. "Aku tahu," gerutunya.
"Dia yang terakhir," beritahu Itachi setelah pilot itu duduk dengan sangat tidak nyaman di tempat sempit yang tersisa. "Mereka akan membawa kalian ke Konoha, di sana sudah dipastikan aman oleh OPD. Deidara dan beberapa tentara kami yang lain akan mengawal, jadi kalian tidak perlu khawatir."
Aku, Sakura dan beberapa petugas medis yang ada di sana mengangguk paham.
"Baiklah. Kalian bersiaplah berangkat. Deidara," ia menoleh pada salah satu anak buahnya yang rambut pirangnya sudah kepanjangan untuk ukuran seorang serdadu di sebelahnya, "Segera melapor ke markas pusat di Konoha kalau kalian sudah sampai."
"Siap!" sahut Deidara sigap, kemudian berbalik pergi untuk bergabung dengan beberapa tentara lain yang akan mengawal rombongan pengungsi ke Konoha. Sepertinya dialah yang akan memegang komando di pasukan kecil itu.
"Medis yang sudah ditunjuk, silakan ikut aku!" perintah Itachi, dan beberapa di antara kami—yang kesemuanya adalah para medis pria—langsung memisahkan diri dan mengikuti Komandan Uchiha. Mereka akan ikut dalam operasi penyelamatan ke wilayah Selatan Hi, tempat di mana pasukan Genma dikabarkan sedang terjebak.
"Kau tidak mencoba bicara dengannya, Shizune?" tanya Sakura setelah mereka semua pergi. "Membujuknya supaya kau bisa ikut."
"Tidak," sahutku pelan seraya menggelengkan kepala. "Mereka bilang itu sangat berbahaya. Lagipula mereka sudah memilih yang benar-benar mampu."
"Mengapa?" desaknya, "Bukan karena Kakashi yang bilang seperti itu padamu, kan? Oh, Shizu... jangan karena itu kau jadi menyerah begitu..."
Aku menunduk sementara ingatanku kembali melayang pada malam itu, saat aku bicara pada Kakashi. Dan aku sudah memikirkannya masak-masak sejak saat itu.
-
-
"Aku tidak peduli keselamatanku!" Aku melompat berdiri, mengabaikan cangkir kopiku yang terjatuh dan tumpah ke tanah.
"Tapi aku peduli!" sergahnya, mendongak menatapku. "Aku peduli, Shizune," ulangnya lebih pelan. "Kumohon jangan menempatkan dirimu dalam bahaya. Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengizinkanmu—"
"Kau tidak berhak melarangku, Kakashi!" jeritku. "Kau bukan siapa-siapaku!"
Wajahnya memucat dan ia memalingkan wajahnya, tidak berkata apa-apa lagi.
"Kau tidak mengerti..." bisikku, air mataku meleleh. "Ini tentang Genma. Ini tentang suamiku..."
Keheningan menyusup di antara kami selama beberapa saat sebelum akhirnya Kakashi kembali bersuara lirih, "Justru karena ini menyangkut Genma, aku takut kau jadi nekat. Kita tidak tahu situasinya seperti apa di sana. Apa kau tidak berpikir, apa yang akan dikatakan suamimu seandainya ia melihatmu menerjang bahaya demi dirinya?"
-
-
Kakashi benar, tidak seharusnya aku melempar diriku dalam bahaya. Selama ini aku tidak memikirkannya. Hatiku terlalu dikuasai perasaan takut dan cemas sehingga mencegahku untuk bisa berpikir jernih. Tapi bukan berarti aku menyesali telah menjadi relawan di sini. Ini adalah bentuk perjuanganku. Dan setidaknya dengan begini aku sudah tahu kalau ada kemungkinan Genma masih selamat.
"Aku tidak menyerah, Sakura," ujarku sambil mengangkat kepalaku menatapnya. "Tidak akan pernah. Aku yakin Genma akan pulang, dia sudah berjanji padaku. Dan aku juga sudah bersumpah akan menjaga diriku dan menunggunya pulang."
"Shizune..." Sakura memberiku tatapan prihatin.
"Lagipula masih banyak yang harus kita lakukan di Konoha. Kita juga harus berjuang, seperti prajurit-prajurit itu!" Aku tersenyum, berusaha memompakan semangat pada sahabatku—juga pada diriku sendiri.
Sakura membalas senyumku, lalu menepuk lenganku. "Yah, kau benar."
"Semua petugas diharap naik ke truk. Kita akan segera berangkat!" seru Deidara.
Aku dan Sakura kemudian berpisah untuk naik ke truk yang berbeda. Aku berbalik menuju truk yang mengangkut para pengungsi sementara Sakura dan beberapa yang lain naik ke truk bersama para tentara yang terluka. Tak lama kemudian satu per satu truk mulai berangkat. Truk kami yang terakhir.
"Tidak ada yang ketinggalan?" Sasori, tentara OPD yang mengawal truk yang kunaiki, memastikan sekali lagi.
"Sudah lengkap semua," sahutku yang duduk paling dekat dengannya di pinggir. Aku menaikkan posisi anak perempuan kecil yang duduk di pangkuanku agar lebih mantap, membiarkannya bersandar padaku.
Mesin truk mulai dinyalakan. Sasori bersama seorang tentara lagi, Hidan, naik dan duduk di pintu. Senjata mereka siap di tangan.
"Shizune!" aku mendengar suara seseorang memanggilku dari arah markas.
Serta merta aku menoleh, melongok keluar dan mendapati seorang serdadu berambut keperakan berlari-lari kecil mendekati truk kami. Senjata sudah siap tersampir di bahunya.
"Kakashi?" sahutku agak terkejut.
"Ada apa, Hatake?" Hidan menanyainya saat ia sudah sampai di belakang truk, sedikit terengah. "Kami sudah mau berangkat."
"Sebentar. Aku ada perlu dengan temanku," sahutnya, kemudian beralih menatapku yang kebingungan. "Shizune, dengarkan aku. Aku benar-benar minta maaf soal malam itu." Aku bisa melihat ada penyesalan dalam sorot matanya saat menatapku. "Kau benar. Aku tidak punya hak melarang—"
"Jangan meminta maaf, Kakashi," selaku segera, "Kau tidak salah. Yang kau katakan benar semuanya."
"Tapi—"
"Aku sudah memikirkannya masak-masak, Kakashi," potongku lagi sambil melempar senyum padanya, "Aku akan menunggunya di Konoha."
Truk kami mulai bergerak perlahan. Kakashi mengikuti kami, menatapku dari atas bahu Sasori.
"Shizune, aku pasti akan membawanya pulang," aku mendengarnya berkata, dan aku langsung terhenyak.
"Kakashi..." tenggorokanku rasanya seperti tercekat.
Kata-kata Sakura beberapa hari sebelumnya kembali bergaung di telingaku sementara aku menatapnya mengejar truk kami.
"Kakashi sangat menyukaimu, Shizune. Aku bahkan berani bilang kalau dia sangat mencintaimu. Sudah lama sekali, bahkan sebelum kau bertemu Genma. Tapi dia terlalu malu untuk mengatakannya padamu."
"Aku berjanji akan membawa Genma pulang dengan selamat ke Konoha!" serunya mengatasi deru mesin truk yang meraung-raung hanya untuk meyakinkanku.
Cukup!
"Aku akan menemukannya. Percaya padaku, Shizune. Aku akan membawanya kembali padamu dengan selamat!"
Sudah cukup, Kakashi...
Ia berhenti, tapi tatapannya masih mengkuti sementara truk kami melaju semakin menjauhi markas, menjauhinya, lalu berbelok memasuki hutan.
"Dia pria baik," Sasori berkomentar.
"Pria malang," sambung Hidan sambil menghembuskan napas keras.
"Orang baik selalu bernasib malang," Sasori terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia kekasihmu, eh, Shiranui?" Hidan menanyaiku, tapi aku tidak begitu memperhatikannya.
"Idiot! Shiranui sudah bersuami!"
Sudut-sudut bibirku tertarik membentuk senyum sedih. Aku tidak pernah merasa menyesal seperti sekarang ini, saat aku menyadari bahwa aku telah melukai hati teman baikku sedemikian dalam. Pria yang kusayangi seperti saudara yang tidak pernah kumiliki.
Seharusnya kau tidak perlu menjanjikan apa-apa padaku, Kakashi. Seharusnya kau tidak perlu memedulikanku lagi kalau itu hanya akan menyakitimu lebih dalam lagi.
"Ya, memang. Dia memang pria baik. Sangat baik..."
Maaf...
-
-
Perlu waktu sehari semalam sampai akhirnya kami sampai di tanah kelahiranku, Konoha. Tempat itu sudah banyak berubah sejak aku meninggalkannya untuk bergabung dalam tim relawan IRC berbulan-bulan yang lalu. Desa itu sudah mulai dibangun kembali, meskipun baru beberapa. Puing-puing bangunan yang hancur masih bertebaran di sana-sini. Para penduduk sipil yang mengungsi juga telah kembali. Rumah sakit Konoha yang tadinya digunakan sebagai markas IRC sekarang sudah mulai berfungsi seperti sedia kala.
Tuhan... aku benar-benar merindukan tempat ini...
Ayame menyambut kami dengan gembira saat kami tiba. Sahabatku itu menawari aku dan Sakura tinggal sementara di tempatnya sebelum tempat tinggal kami semula diperbaiki. Apartemen yang kutempati bersama suamiku sebenarnya tidak rusak terlalu parah, tapi masih tidak layak tinggal.
"Aku benar-benar senang kalian selamat." Ayame menggenggam tanganku dan Sakura erat, tersenyum lega pada kami. Mata hitamnya berkilau oleh air mata. Sore itu kami berkumpul di rumahnya setelah kami membantu membawa mereka yang terluka ke rumah sakit dan bertahan di sana seharian. "Selama ini aku mencemaskan kalian."
"Kami tidak apa-apa," kata Sakura menenangkan, "Prajurit-prajurit itu melindungi kami sepanjang hari."
Ayame mengangguk. "Syukurlah Yamato juga sudah kembali dengan selamat..."
"Ya... Kakashi juga. Dia akan kembali kalau semuanya sudah beres."
"Baguslah, baguslah..." Air matanya mengalir penuh syukur. "Aku kira aku tidak akan pernah bertemu kalian semua lagi."
Saat itu Akira, anak laki-laki Ayame yang berusia empat tahun, berlari-lari masuk sambil membawa mainan yang sudah usang. Ayame langsung melepaskan tanganku dan Sakura untuk menyambutnya. "Ah, Akira, sayang... ayo, ucapkan salam pada Bibi Sakura dan Bibi Shizune. Masih ingat mereka, kan?"
"Akira... sudah besar rupanya sekarang..." kuulurkan tanganku untuk membelai rambut cokelatnya yang persis seperti milik ayahnya. Bukan hanya rambut, wajahnya, mata, hidung, semuanya... persis seperti Raidou.
Akira tersenyum malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya ke dada ibunya. Ayame tertawa kecil sambil memeluk putranya lembut.
"Hei, Raidou cilik! Ayo main sama Bibi Sakura!" Sakura mengambil alih balita itu dari pelukan ibunya. Awalnya Akira masih malu-malu, tapi kemudian ia mengikuti ajakan Sakura bermain. Agaknya ia masih sedikit mengingat kami.
Aku dan Ayame tertawa-tawa melihat mereka bermain berdua.
"Akira semakin mirip Raidou saja, ya..." komentarku.
"Hmm..." Ayame mengangguk setuju.
Kami kemudian terdiam agak lama.
"Shizune... Apa... Apa kau mendengar kabar dari Raidou?" Ayame memecah keheningan di antara kami. Mata hitamnya menatapku penuh harap.
Aku menghela napas. Aku tahu ia akan bertanya seperti itu pada akhirnya. Dengan menyesal aku menggelengkan kepala. "Aku juga tidak mendapat kabar dari Genma, Aya. Kakashi memberitahuku kalau pasukannya terpisah dari pasukan Genma dan Raidou berbulan-bulan yang lalu. Sekarang mereka sedang mencoba mencari jejaknya."
"T-Tapi mereka masih selamat, kan?" Ayame terlihat takut, dan aku mengerti apa yang ia rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama.
"Kita berdoa saja, Aya..." aku mengulurkan tanganku untuk merangkulnya. "Ada satu kabar lagi, tentang Aoba."
Ayame mengangkat kepalanya cepat dan menatapku takut. "Aoba? Dia kenapa? Dia tidak..."
Aku menggelengkan kepala dan ia langsung tahu apa yang akan kukatakan. "Dia... dia gugur dalam peperangan."
"Ooh, tidak... Aoba..." Ayame memekapkan wajahnya di kedua tangannya. Sekali lagi aku merengkuh bahu sahabatku dan membiarkannya menumpahkan kedukaannya di bahuku. Akira yang telah melihat ibunya menangis langsung berlari menghampiri. Ayame melepaskan diri dariku lalu memeluk putranya sementara Akira melingkarkan lengan kecilnya ke leher ibunya. Balita itu ikut menangis, meskipun tidak sepenuhnya mengerti apa yang ditangisinya.
Dulu sekali, sebelum Ayame memutuskan untuk menerima pinangan Raidou, ia dan Aoba sempat sangat dekat. Tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya hubungan mereka, hanya teman atau lebih dari itu. Wajar saja kalau Ayame merasa sangat terpukul dengan gugurnya pria itu.
Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa terlalu lama berlarut-larut dalam duka. Banyak yang harus kami kerjakan untuk desa ini. Aku dan Sakura kerap melewatkan waktu kami seharian di rumah sakit, sementara Ayame membantu menyiapkan makanan untuk mereka yang bekerja membangun kembali bangunan-bangunan yang rusak. Waktu kami benar-benar tersita, tapi bukan berarti kami tidak memasang telinga, mencari tahu tentang prajurit-prajurit yang belum kembali dengan harapan akan mendengar kabar tentang pasukan Genma dan Raidou.
Sampai saat ini, kami harus menelan kekecewaan atas nihilnya berita mengenai mereka. Belum ada berita pasti, bahkan pihak OPD pun masih belum memberikan kepastian apakah pasukan yang dipimpin suamiku masih bertahan atau tidak. Semakin hari, rasanya harapan itu semakin kecil saja. Dan bukan hanya kami yang merasakannya, perasaan tegang harap-harap cemas setiap saat. Tapi juga seluruh penduduk desa yang anggota keluarganya masih belum kembali dari peperangan.
Sampai siang itu.
Saat itu aku mendengar mereka sudah mendapatkan laporan dari pasukan yang mencari di wilayah Selatan negara Hi, tempat dimana pasukan suamiku dikabarkan berada. Setelah pekerjaanku di rumah sakit selesai, aku langsung menuju ke markas OPD. Ternyata bukan hanya aku saja, tempat itu dipenuhi oleh orang-orang desa. Hatiku mencelos ketika mendapati ekspresi di wajah mereka semua. Gelap, muram, bahkan tidak sedikit yang banjir air mata.
Jantungku mulai berdegup kencang sementara darah rasanya terkuras dari wajahku. Perasaan takut itu datang lagi.
"...mereka sudah menemukannya. Katanya pasukan itu dihabisi—" terdengar salah seorang dari mereka berkata. "...tidak ada yang selamat..."
Udara seakan tersedot habis di sekelilingku. Dadaku sesak luar biasa dan kepalaku serasa berputar. Mereka dihabisi... tidak ada yang selamat, katanya... Oh, Tuhan...
Aku mencengkeram dinding supaya tidak limbung, sementara cairan panas tumpah dari kedua mataku membanjir di wajahku tanpa aku bisa mencegahnya lagi.
Genma... Genmaku... Benarkah kau sudah pergi?
Aku jatuh terduduk di tanah berdebu, tapi aku tidak peduli. Hatiku terlalu sakit untuk memedulikan apa pun saat itu.
Bohong, kan? Kau sudah janji akan pulang, Genma... Kenapa...??
Entah berapa lama aku menangis di sana, aku tidak begitu ingat. Dan apa yang kulakukan setelah itu pun aku tidak tahu. Yang jelas, saat aku benar-benar tersadar, aku mendapati diriku berdiri mematung di depan apartemen lama kami. Tempat itu belum tersentuh pembangunan kembali. Puing-puing bangunan masih teronggok begitu saja di jalan. Sisi atap gedung itu dan beberapa bagiannya hancur, meskipun tidak sepenuhnya rata dengan tanah seperti beberapa bangunan-bangunan di sekitarnya.
Aku memandang kosong bangunan itu. Bangunan yang sudah menjadi saksi kebersamaanku yang singkat dengan Genma.
Kakiku membawaku masuk ke dalam. Puing-puing yang berserakan sama sekali tidak kupedulikan. Aku mendorong minggir potongan beton, menyingkirkan balok-balok kayu dan perabot-perabot rusak sampai akhirnya aku sampai di depan pintu yang kukenali sebagai pintu apartemen kami. Plat nama 'Shiranui' masih tertempel di dindingnya yang nyaris hancur. Kudorong pintu itu membuka. Aku ingat aku tidak menguncinya saat aku pergi meninggalkan Konoha.
Ruangan itu nyaris sama seperti yang kuingat saat terakhir kali aku melihatnya, kecuali plafonnya yang hampir runtuh dan debu serta pecahan kaca dari jendela dan perabot yang berserakan di lantai. Ruang tengah, dapur, ruang makan, kamar mandi, semuanya masih sama. Juga kamar kami yang menghadap ke jalan.
Sinar matahari senja yang berwarna jingga masuk melalui jendela yang kacanya pecah, menerangi kamar mungil itu. Tirainya yang sudah kusam dan miring melambai tertiup angin sore. Mataku mulai basah saat aku melempar pandang berkeliling, memandangi perabot yang dilapisi debu tebal itu dengan perasaan rindu. Lemari itu masih ada di sana, bahkan isinya pun masih utuh. Aku menemukan foto pernikahanku dan Genma yang terselip di antara tumpukan pakaian lama.
Genma-ku yang tampan sedang tersenyum, sementara aku memeluk lengannya. Aku selalu terlihat seperti gadis kecil setiap kali berdiri di sampingmu, kan?
Aku melangkah mendekati ranjang tak jauh dari jendela yang nyaris hancur. Pagar pembatas di balkon mungil di sana sudah tidak ada di tempatnya, bahkan lantainya pun sebagian sudah runtuh ke bawah. Dan seperti semua perabot di ruangan itu, ranjang kami pun dilapisi debu tebal dan sudah tergeser dari tempatnya semula. Bantal dan seprainya sudah terserak ke lantai.
Aku mengambil salah satu bantal dari lantai, kemudian duduk di atas ranjang. Bunyi derit terdengar samar saat berat tubuhku menumpu pada ranjang yang terbilang mungil untuk dua orang itu. Kupeluk bantal itu di dadaku. Samar, namun aku nyaris masih bisa menghirup aroma suamiku di sana.
Kamar ini... Tempat yang paling sering kami gunakan untuk melewatkan waktu bersama.
-
-
"Shizune?"
"Hm?"
"Kau.. ingin memiliki berapa anak?"
Aku tidak tahan tidak tersenyum mendengar pertanyaannya. Setelah selesai merapikan bantal, aku berpaling untuk menatap suamiku yang sedang berdiri memunggungiku di depan lemari, mengambil kaus hijau army di tumpukkan pakaian yang sudah kusetrikakan untuknya. Genma hanya mengenakan celana panjang militernya yang biasa dan rambutnya yang cokelat muda masih terlihat basah setelah mandi, menempel di tengkuknya, mengalirkan setitik air ke punggungnya yang terbuka.
"Hmm..." aku pura-pura berpikir. Sebenarnya ini bukanlah topik yang jarang kami bahas setelah kami menikah dua hari yang lalu. Terlebih dengan kehamilan Ayame, membuat kami semakin bersemangat membicarakannya. "Mungkin tiga?"
"Aku ingin sebelas!" cetus Genma seenaknya. Wajahnya yang tampan itu menyeringai geli—mungkin karena melihat ekspresi kaget di wajahku. Aku tidak menyalahkannya kalaupun ia tertawa. Tampangku memang aneh kalau sedang terkejut, teman-temanku yang bilang seperti itu. "Dari dulu aku ingin punya tim sepakbolaku sendiri," lanjutnya sambil terkekeh.
"Dasar!" tukasku geli. "Seenaknya saja memutuskan. Kan aku yang melahirkan."
Genma hanya tertawa. Kemudian mulai memakai kausnya melewati kepalanya. Kaus itu tampak pas di tubuhnya yang tegap. Otot-otot lengannya menyembul dari bawah lengan kausnya. Rasanya aku tidak akan pernah puas mengagumi tubuh suamiku.
"Suka dengan yang kau lihat, Honey?" Genma tersenyum menggoda.
Buru-buru aku berpaling dengan wajah panas. Entah mengapa aku masih malu saja setiap kali ia tersenyum seperti itu padaku—atau menangkap basah aku sedang memperhatikannya. Menggerutu sambil pura-pura cemberut, aku kemudian berjalan menuju jendela, membukanya lebar-lebar supaya udara segar pagi hari bisa masuk.
Suara-suara khas pagi hari yang terdengar nyaman di telinga langsung memenuhi kamar kami. Beberapa orang tetangga kebetulan lewat di bawah jendela kami. Aku melambai, menyerukan selamat pagi yang dibalas dengan ramah oleh mereka. Benar-benar lingkungan yang menyenangkan, pikirku. Aku membuat catatan imajiner di kepala untuk mengucapkan terimakasih pada Ayame dan Sakura yang telah memilihkan apartemen ini untuk kami—karena aku dan Genma sama-sama tidak pandai dalam hal ini.
Tiba-tiba saja aku merasakan sepasang tangan kuat melingkar di pinggangku, memelukku dari belakang. Punggungku yang menempel di tubuhnya terasa hangat, nyaman. Rasanya aku tidak tahan tidak tersenyum, terlebih ketika aroma bersih yang menguar dari tubuhnya menerpa indera penciumanku, juga napasnya yang terasa hangat di leherku ketika bibirnya menyentuhku di sana. Kuletakkan tanganku di atas tangannya, menyisipkan jemariku di antara sela-sela jarinya. Cincin kami beradu.
"Hmm... sepertinya tiga juga ide bagus," bisiknya di telingaku. "Coba kupikir... Hm..." ia berhenti, masih sambil memelukku. Aku diam saja, menunggunya bicara sambil menikmati pelukannya. "Kalau anak pertama kita laki-laki, dia akan bisa melindungi adik-adiknya, jadi kakak yang baik. Dia akan tampan sepertiku—" aku tertawa kecil mendengarnya. Genma memang tampan, tapi sepertinya baru kali ini ia menyebut-nyebut soal itu secara langsung. Kukira ia tidak menyadari daya tariknya sendiri, "—dan pemberani. Prajurit—kalau dia ingin—yang pemberani. Calon jenderal besar..."
"Hmm..." desahku sambil mengangguk setuju. "Kalau perempuan?"
"Dia akan cantik sepertimu, Shizu.." bisiknya lembut, "Dia akan tumbuh menjadi anak yang bijak, bisa membimbing saudara-saudaranya dan bisa menjaga kita kalau kita sudah tua nanti. Dokter wanita yang hebat... kedengarannya sangat bagus, kan?"
"Ya," sahutku sambil tersenyum. "Rasanya sudah tidak sabar..."
Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat. Aku memejamkan mataku, merasakan napas Genma yang hangat di sela-sela rambutku sebelum kemudian merunduk dan mencium pipiku. Sebelah tangannya yang tadinya melingkar di pinggangku perlahan turun, mengusap lembut perutku yang masih rata.
"Menurutmu... apakah sudah?" tanyanya penuh ingin tahu.
"Kita baru dua hari menikah, Genma..." sahutku sambil tertawa kecil. "Prosesnya tidak secepat itu."
"Tapi mungkin saja... apalagi kau begitu agresif—ouch!"
Mengingat semalam—dan malam sebelumnya—membuat wajahku serta merta memanas. Aku mencubit lengannya kuat-kuat, memprotes. Genma mengaduh, tetapi tidak menghiraukan protesku, malah memelukku semakin erat sambil tertawa-tawa, menggelitikku sampai akhirnya aku pun ikut tertawa dalam pelukannya. Sejengkel apa pun, rasanya aku tidak bisa marah pada suamiku. Kemudian ia memutar tubuhku supaya kami berhadapan dan aku mengalungkan lenganku ke lehernya, menyusupkan jemariku ke rambutnya yang basah ketika ia menciumku dalam.
"Ehem!" terdengar suara dari bawah jendela kami.
Kami saling melepaskan diri, kemudian melongok ke bawah untuk melihat siapa yang menginterupsi. Ternyata Kakashi.
"Yo, Kakashi!"
"Selamat Pagi, Kakashi..." sapaku agak malu.
"Yo! Pagi!" balas Kakashi sambil mengangkat tangan ke pelipisnya, melambai ringan.
"Ada apa datang pagi-pagi begini, hm?" tanya Genma.
"Kau tugas memimpin apel hari ini. Aku hanya ingin mengingatkan," sahut Kakashi dengan suara bosan.
Genma mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya agak bingung. "Hei, aku sudah ambil cuti beberapa hari. Seharusnya ada yang menggantikanku."
"Oh!" Kakashi terlihat menghela napasnya keras-keras, lalu membenamkan kedua tangannya di saku. Sejenak ia tampak berpikir. "Aku pasti tidak melihat pengumumannya," ujarnya berkilah.
"Kau terlalu sibuk membaca novelmu itu sih, Kakashi!" seru suamiku sambil terkekeh.
Kakashi tidak membalas, hanya mengangkat bahu sebelum berbalik dan melenggang pergi.
"Kenapa dia?" tanyaku terheran. Kakashi tidak biasanya seperti itu. Setahuku ia orang yang disiplin dan kurasa ia tidak akan lupa Genma mengambil cuti. "Sepertinya suasana hatinya sedang tidak ba—Kyaaa!!"
Aku memekik kaget karena tiba-tiba saja Genma menyusupkan lengannya yang kuat ke bawah lututku dan mengangkat tubuhku dengan begitu mudah dalam gendongannya seakan aku ini anak kecil. Refleks aku mengalungkan lengan ke lehernya untuk berpegangan.
"Genma! Turunkan aku!!" pekikku. "Kau mau apa?"
"Um... kalau tidak salah tadi kau bilang sudah tidak sabar, kan?" godanya. Mata cokelatnya berkilat nakal.
"Eh??" Wajahku memanas lagi.
Genma membawaku masuk dan menurunkanku di atas ranjang yang baru saja kubereskan. Sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi untuk memprotesnya, bibirnya sudah menemukan bibirku dan aku langsung lebur dalam kehangatan dekapannya saat itu juga. Tubuhku tak mampu memprotes lagi. Sentuhannya membuatku lupa segalanya. Saat itu di kepalaku hanya ada dia. Dia, suamiku.
Genma...
-
-
Kumencengkeram bantal itu lebih erat ke dadaku yang berdecit menyakitkan. Aku menangis lagi di sana. Miris.
-
-
Di Selatan Hi
Sudah dua hari berlalu setelah mereka berangkat dari markas dan mulai menyisir wilayah Selatan Hi. Belum ada satu pun mereka menemukan tanda-tanda pasukan yang dipimpin Komandan Shiranui di sana. Mereka hanya mendapati reruntuhan bangunan dan atau bekas ledakan di beberapa tempat. Tapi tempat itu bersih.
Mereka baru mendapatkan titik terang saat sudah mendekati wilayah pantai, di mana mereka mendapati puing-puing yang lain. Juga gorong-gorong yang pastilah tadinya menjadi tempat persembunyian. Tempat itu berbau seperti mesiu bercampur darah. Mengerikan. Seperti tempat pembantaian saja—dan tampaknya memang seperti itu.
Pasukan bantuan dari OPD yang sampai di tempat itu terlebih dulu sudah mengumpulkan beberapa tubuh yang jelas sudah tak bernyawa lagi. Beberapa malah sudah tidak utuh dan dalam kondisi sangat mengenaskan akibat terkena meriam atau granat. Sebagian besar dari mereka berseragam militer Hi.
Kakashi berpaling miris saat mendapati tubuh salah satu serdadu yang dikenalinya sebagai anak buah Genma di antara tubuh-tubuh lain yang sudah ditutupi terpal, dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.
"Oh, Tuhan... Jadi pasukan Genma benar-benar ada di sini..."
Kakashi mulai memeriksa tubu-tubuh lain, berharap tidak akan menemukan tubuh sang komandan di antara mereka. Hatinya mencelos setiap kali menemukan wajah-wajah yang dikenalnya, tapi ia tidak menemukan Genma maupun Raidou di sana.
"Iruka, kau tidak apa?" tegurnya pada salah seorang anak buahnya yang terpekur di sisi jenazah Mizuki.
Serdadu bernama Iruka itu menoleh. "Tidak apa. Maaf, Komandan."
Kakashi bisa melihat wajahnya pucat pasi dan matanya agak merah. Ia mengerti, Mizuki adalah teman baik Iruka di barak Konoha.
"Pergilah periksa bagian Barat tempat ini," perintahnya. "Izumo! Kotetsu! Kalian juga pergi! Hati-hati dengan ranjau."
"Baik!"
Dan ketiga serdadu itu pun pergi dari sana untuk menuju bagian Barat, bergabung dengan beberapa pasukan OPD yang juga sedang menyisir tempat itu.
Beberapa saat, Kakashi mengawasi ketika para medis yang dibawanya bersama beberapa pasukan OPD mulai membungkus tubuh-tubuh itu. Sebelum ia berbalik untuk turun dan memeriksa gorong-gorong. Selongsong peluru bertebaran di lantainya dan beberapa bagian dindingnya dipenuhi bercak darah.
"Ada yang kau temukan di sana, Hatake?"
Kakashi mendongak. Itachi Uchiha sedang berjongkok di mulut gorong-gorong, mengawasinya.
"Um... tidak juga," sahut Kakashi. Ia mengambil salah satu butir peluru dari tanah dan menunjukkannya pada Itachi. "Hanya ini."
Itachi menghela napasnya, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aneh... Mereka tidak menemukan tubuh Komandan Shiranui di sini. Juga beberapa anak buahnya yang lain. Kau punya ide mereka pergi ke mana?"
"Tidak." Kakashi menghembuskan napas keras, lalu melempar pandang berkeliling. "Kalau melihat keadaannya sepertinya tidak mungkin mereka pergi. Kecuali..."
"Ya," Itachi mengangguk, "Kecuali kalau mereka dibawa pergi dan dijadikan sandera. Sepertinya pikiran kita sama, eh? Oto keparat! Sebenarnya kemana orang-orang kita dibawa pergi?" Ia kemudian berdiri dan beranjak dari sana.
Setelah Itachi pergi, Kakashi sekali lagi memandang berkeliling. Dan pandangannya terhenti di satu titik di dekat onggokan peluru bekas. Ia mendekat, mendapati secarik kertas yang sudah kusut dan menguning. Ia mengambilnya dan hatinya sekali lagi mencelos.
Itu bukan kertas biasa, melainkan secarik foto seorang wanita muda yang sedang tersenyum dalam seragam perawatnya. Shizune. Digenggamnya foto yang sudah menguning itu dalam tangannya.
Genma... Kau benar-benar pernah berada di sini. Tapi di mana kau sekarang?
-
-
TBC...
-
-
Karena beberapa pertimbangan, saya pindahkan tulisan ini ke rate-M. Maaf yah, kalau-kalau gak sesuai.. ^^
