Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.
Cerita ini milik Mai Narazaki
Para OC di sini milik teman-teman FB Mai yang dengan suka rela perpartisipsi
Warning: OC, abal, OCC, Typo dan sederet kesalahan lainnya. Jika anda tak suka OC saya sarankan jangan baca. Maaf.
.
.
.
Sabaku Gaara menarik lengan Hinata Aoyama dengan sedikit kasar dan memaksa gadis itu berjalan mengikutinya ke arah gudang peralatan tempat dulu mereka sempat bertengkar hebat akibat salah paham beberapa waktu lalu. Mereka memasuki ruangan itu dan Gaara langsung mengunci pintunya dari dalam. Ditatapnya wajah gadis yang sudah mendiamkannya selama sehari penuh itu dalam-dalam.
"Kau marah padaku?" Tanpa basa basi Gaara langsung menanya Hinata yang sedang membenarkan posisi kacamatanya dengan gugup. "Kenapa kau mendiamkanku? Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuatmu marah padaku? Jawab aku, Hinata." Tambahnya setengah putus asa karena gadis yang mengenakan soft lens merah di sampingnya masih berkeras membisu dan tak mau menjawab.
Hinata hanya mengerling sedikit pada sang kekasih lalu membuang wajah kesal. "Apa yang sebenarnya kau sukai dariku?" tanyaya lirih.
Sontak Gaara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Hinata, sudah lama dia menunggu gadis itu menanyakan hal itu padannya. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa ada fansku yang mengecammu atau mengirimu surat ancaman?" tanyanya kembali pada gadis yang sekarang sedang memakai nama Hinata Aoyama.
"Jawab saja." Tukas Hinata.
Gaara mengernyitkan alisnya (alis yang mana?) tak mengerti, tak biasanya Hinata bersikap setidak sabar ini. "Aku suka pada warna matamu. Warna ungu muda pucat yang mengingatkanku pada padang lavender di Hokkaido." Katanya sambil melapas kaca mata Hinata dan menatap dalam-dalam soft lens merah darah Hinata mencoba mencari setitik lavender di dalam sana. "Aku sangat menyukainya."
"Kalau begitu, kenapa harus aku? Bukankah Hanabi-chan juga memiliki warna mata yang sama kan?" kata Hinata sambil memalingkan wajahnya kesal.
"Kau cemburu?" tanya Gaara geli sambil menggelengkan kepala kecil. "Kuatakan saja, Hinata Hyuuga. Aku bukan seorang pedofil yang menyukai anak yang umurnya jauh dariku. Jangan kira hanya karena aku berpasangan dengan dia di dorama, aku jadi menjalin cinta lokasi dengan Hanabi." Jawab Gaara sambil menangkup wajah Hinata dengan kedua tangannya yang besar. "Karena hanya kau yang kucintai, Hinata."
Tentu saja, menerima perlakuan dan perkataan seperti itu membuat Hinata meroa merah dan menunduk malu. "Lagipula… soal acara yang disutradarai oleh Jiraiya-sama itu…. Aku…. Ano, apa kau akan benar-benar mencium Hanabi?"
"Anggap saja itu hanya acting. Karena aku tak memilki perasaan apapun pada adikmu itu." Katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Hinata. "Jika kau merasa tenang dengan kata-kata, akan uucapkan riuan kali untukmu. 'Aku hanya mencintai Hinata Hyuuga, dan tak ada orang lain yang kucintai selain dia.'"
Sang gadis hanya mengangguk pelan mendengar kata-kata dari orang yang sangat disayanginya itu. "Aku tahu… tapi aku tetap merasa cemas, Gaara-kun. Aku takut kau akan meninggalkanku. Banyak gadis cantik di sekitarmu yang lebih cantik daripada aku. Dam tu membuatku resah, rasanya seperti tersaingi. Apalagi aku… aku kan… sangat pemalu dan bodoh. Ayahku saja sampai habis akal menghadapiku…."
CUP!
Kata-kata Hinata terpotong oleh sebuah senyuman singkat yang didaratkan Gaara di bibir mungil berwarna merah mudanya. "Jangan khawatir, Hinata." Bisik pemuda bermata jade itu di telinga gadis kesayangannya. "Ada aku bersamamu. Hanya kau yang ada di hatiku, baik dulu, sekarang ataupun selamanya."
.
.
.
Hinata duduk di back stage dengan gugup. Matanya bergerak gelisah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh, setengah jam lagi acara itu akan dimulai. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok Haruno Sakura dan Uchiha Sai yang dengan santai mengobrol di sudut ruang ganti yang mereka gunakan bertiga.
'Ah, mereka kan tidak perlu khawatir. Mereka memang sepasang kekasih, jadi acara ini malah akan menguatkan hubungan mereka.' Batin Hinata sambil meremas bagian tepi gaun berwarna lavender dengan motif bunga-bunga kecil putih yang dikenakannya untuk acara ini. Mati-matian dia menahan keringat yang hendak menetes agar tak merusak make-up yang telah dikenakan pada wajahnya oleh seorang penata rias profesional, Kabuto.
"Hinata, kau tampak gugup. Apa kau panik karena hari ini para manager dilarang masuk ke back stage?" tanya Sai yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Hinata.
Hinata menggeleng pelan. "A…aku-aku hanya sedikit cemas saja, apalag i-ini adalah acara live." Jawab Hinata sekenanya sambil tersenyum pelan pada sepupu jauhnya yang satu management dengannya itu.
Sai hanya membalas dengan senyum pucatnya yang bisa membuat setengah populasi gadis remaja di Jepang menjerit histeris.
"Sai-kun bagaimana sih? Hinata-chan kan panik karena harus berhadapan langsung dengan Sabaku-san di depan umum. Iya kan, Hinata-chan?" Sakura ikut-ikutan berkomentar sambil memeluk pundak Hinata dari samping. "Atau jangan-jangan kau khawatir kalau Sabaku-san selingkuh dengan adikmu itu ya, Hinata-chan….?" Tambahnya dengan nada menggoda sambil menyenggol pinggang Hinata pelan.
Hinata hanya dapat menunduk dengan muka memerah saat Sakura mengatakan hal itu. 'Bagaimana mungkin Sakura bisa tahu?!' teriaknya dalam hati panik. "A-aku tak bisa menyangkalnya. Karena itu memang tak salah." Kata Hinata lirih sambil menutup wajahnya degan kedua telapak tangannya. "Sai-kun dan Sakura enak ya. Kalian kekasih yang juga main sebagai pasangan di dorama. Pasti tak cemas kan?"
Sai melepas senyum palsunya mendengar kata-kata Hinata, "Kami tidak…"
"Ahahahaha! Hinata-chan memang manis sekali ya!" seruan keras Sakura sukses memotong kata-kata Sai. "Aku jadi benar-benar ingin menjadikanmu adikku." Serunya riang sambil memeluk Hinata erat di dadanya. Diliriknya Sai yang menatapnya tajam seolah berkata 'Apa yang kau lakukan, Haruno?' namun Sakura hanya membalasnya dengan cengiran lebar tak berdosa seolah tak mengerti arti tatapan Sai.
'Apa yang kuinginkan harus kudapatkan.' Itulah isi hati sang gadis yang terkenal akibat warna surainya yang eksentrik itu.
"Sa-Sakura… lepas…. Aku sesak nafas…"
.
.
.
Hinata berdiri di belakang sebuah meja yang digunakan untuk permainan. Segala macam permainan aneh dan tak jelas sudah dilakukannya malam ini, mulai dari menyuapi pemeran utama pria sampai mendadani pemeran utama wanita dengan mata tertutup. Semua persis seperti di Job Descripsion yang diberikan Tsunade-san padanya.
Diam-diam dia berharap acara ini akan dihentikan di tengah jalan karena rusaknya alat atau ada bencana yang harus segera disiarkan. Namun kenyataan pahit harus dihadapinya, acara game ciuman itu akan segera dimulai.
Tepatnya akan dimulai dua menit lagi setelah break iklan ini selesai.
Dengan sudut matanya, Hinata melirik melihat keadaan dua tim lainnya.
Tim A yang berasal dari dorama Love of music yang diwakili oleh Shikamaru Nara, Sabaku Temari dan juga Yamanaka Ino.
Hinata mengenali sosok Shikamaru sebagai seorang pianis terkenal asal Konoha Entertainment yang beberapa kali mengiringinya bernyanyi.
Lalu Sabaku Temari dia adalah seorang desainner pakaian sekaligus seorang aktris profesional asal Suna Entertainment yang saat ini sedang digosipkan menjalin kasih dengan Shikamaru Nara, namun bagi Hinata, kenyataan terpenting dari seorang Temari adalah dia merupakan kakak seorang Sabaku Gaara. Kekasihnya.
Hinata sudah mengenal Ino nsejak lama, Ino adalah artis sekaligus penyanyi cantik dan sexi yang akhir-akhir ini sedang naik daun asal Konoha Entertainment. Dia juga merupakan teman sekaligus rival dari Sakura.
Mereka semua tampak tenang, kecuali Yamanaka Ino yang juga terlihat sama gelisahnya seperti Hinata. Itu wajar saja, soalnya sudah menjadi rahasia umum jika Ino menyukai Shikamaru yang notabenya merupakan temannya sejak kecil.
Pasti Ino merasakan perasaan yang sama sepertii yang Hinata rasakan saat ini. Cemburu dan tidak ingin melihat orang yang dicintainya berciuman dengan gadis lain.
Lalu ada Tim C. Tiga orang perwakilannya berasal dari dorama yang ada di peringkat kedua setelah Two Steps, yaitu My Snow. Tiga pemeran utama dorama itu adalah Sabaku Gaara, Hanabi Hyuuga dan Matsuri.
Hinata benar-benar berharap adiknya bisa menjalani kehidupan yang diimpikannya ini dengan baik. Namun tampaknya pendatang baru dengan rambut coklat gelap itu lebih cepat beradaptasi dengan lingkungann barunya dibanding Hinata dulu.
Matsuri adalah seorang aktris ternama asal Suna Entertainment yang sering dipasangkan dengan Gaara. Namun Gaara sendiri yang mengatakan pada Hinata jika dia menganggap Matsuri adalah muridnya. Jadi Hinata tak perlu khawatir.
Dan Gaara… tak perlu kujelaskan kan? Semua pasti sudah tahu siapa pemuda yang katanya paling diidamkan seJepang ini.
Mereka bertiga juga tampak tenang, Hanabi sendiri tampak tak peduli dan tak tertarik pada acara ini. Da bersenandung kecil sambil mengetukkan jarinya di meja pelan membunuh waktu break untuk iklan yang terasa sangat lama.
Mau tak mau Hinata menaruh prasangka pada sang adik. 'Jangan-jangan Hanabi-chan sudah tak sabar lagi untuk berciuman dengan Gaara-kun.' Lalu setelah berfikir demikian dia akan merasa bersalah pada sang adik dan memutuskan untuk mengamati Gaara yang memasang ekspresi dingin, seperti imagenya yang selama ini dikenal oleh masyarakat luas.
Disempatkannya juga melirik dua anggota satu timnya yang berasal dari dorama Emerald or Moon. Ada Haruno Sakura dan Uchiha Sai. Kedua orang itu juga merupakan orang-orang yang cukup diperhitungkan di dalam dunia entertainment ini. Dorama ataupun Film apapun yang mereka mainkan dipastikan akan menempati peringkat teratas Dorama atau Film terpopuler pekan itu. Apalagi mereka dikabarkan sedang menjalin hubungan spesial.
Hinata menghirup nafas panjang dan menghembuskan nafas perlahan. Semua orang di sini adalah para petinggi dunia artis remaja Jepang yang ke-profesionalitas-annya tak perlu diragukan lagi. Dan dia sendiri juga merupakan salah satu di antaranya.
Harusnya Hinata tak perlu menghawatirkan masalah ciuman itu. Bagaimanapun itu hanyalah acting dan pekerjaan baik bagi Gaara ataupun Hanabi bukan? Tapi siapa sih gadis yang bisa diam saja dan tetap tersenyum lembut saat melihat kekasihnya dicium oleh adik perempuannya di depan matanya sendiri?
Mungkin memang ada gadis yang dapat melakukannya, namun jelas Hinata tidak termasuk dalam golongan itu.
Dia menggelengkan kepala pelan. 'Tenanglah Hinata, dinginkan kepalamu. Kau tidak bleh bertindak sembrono. Bukankah Tsunade-san sudah memperingatkanmu?' katanya dalam hati mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Lima detik lagi! Kamera siap! Naruto, Sasuke dan Kakashi masuk!" teriak Jiraiya menginformasikan bahwa masa break sudah selesai.
Hinata menarik nafas sekali lagi sebelum memasang senyum lembutnya.
'Kami-sama, apapun yang terjadi nanti. Tolong kuatkanlah hatiku.'
.
.
.
"Halo semuanya! Masih tetap bersama kami di Love-Love Game!" sorak Naruto yang saat itu sedang mengenakan pakaian model lolita berwarna orange cerah lengkap dengan wig pirag panjangnya yang model twintail. "Sebelum kita mulai game berikutnya, ayo kita lihat lagi skor para tim hingga saat ini! Sasuke!"
"Hn." Sasuke yang mengenakan tuxedo nonformal hanya menggumam saja. "Ada Tim B di peringkat pertama dengan 700 point, lalu Tim C di peringkat kedua dengan 650 point dan terakhit Tim A dengan 550 point." Kata pemuda itu datar, namun sanggup membuat para gadis yang menonton bersorak heboh.
Naruto hanya menggeleng kecil saja. "Ayolah semangat sedikit, Sasuke. Bukankah kita akan memainkan game inti di Love-Love Game ini?" pancing Naruto sambil menggandeng lengan Sasuke sok mesra, 'Jika saja ini bukan perintah dari Jiraiya-sama aku pasti tak akan sudi melakukannya.' Gerutu pemuda itu dalam hati. "Kakashi, apa nama game utama kita kali ini?" tanyanya pada pria tampan berambut perak yang berdiri di dekat layar besar sambil membawa kartu berisikan informasi game yang akan dilakukan setelah ini.
"Ya, Naruko-chan." Jawab Kakshi menyebutkan nick name androgini yang biasa dipakai Naruto saat menjadi perempuan. "Sebenarnya aku sedikit kesepian karena partnerku yang biasanya sedang mejadi peserta game ini." Katanya sambil mengerling kecil pada Sakura yang selalu dipasangkan dengannya sebagai host. "Namun meski kesepian aku akan tetap membacakan aturan game kali ini. Namanya adalah… 'Cium pasanganmu di Dorama'!"
Tepuk tangan terdengar ramai di kalangan penonton yang menyaksikan ekspresi kaget para peserta yang tentu saja hanya merupakan acting. Terimak kasih kepada Job Describsion yang telah diberikan Tsunade tempo lalu.
"Aturannya mudah saja. Pemeran utama pria dan wanita harus saling berciuman dengan gaya dan cara yang paling mesra! Semakin mesra maka nilainya akan semakin tinggi!" kata Kakashi lagi sambil menunjuk empat juri yang duduk di bagian samping panggung.
Di sana ada Obito Uchiha, Inuzuka Hana, Baki dan Karin yang sudah siap dengan papan nilainya masing-masing.
"Permainan akan dimulai dari tim yang nilainya paling bawah yaitu tim…. A!" soraknya sambil mempersilahkan Temari dan Shikamaru maju ke depan untuk melakukan adegan nista itu.
"Merepotkan…"
Mendengar gerutuan dari sang lawan main, mau tak mau Temari mengerang kesal. "Apa yang akan terjadi jika aku menolak melakukan game ini?" tanya gadis itu pada Naruto yang sudah mempersiapkan tempat di depan panggung.
"Kalian akan dihukum ~" jawab Naruto dengan nada sing the song yang mengerikan. "Dan hukumannya adalah makan makanan yang paling tidak disukai dari bibir Jiraiya-sama~" tambahnya sambil tersenyum iblis.
Semua peserta menelan ludah mereka secara paksa.
Kalau hukumannya seperti itu siapapun pasti tak akan sudi.
"Ukh." Keluh Temari sambil melingkarkan tangannya ke leher Shikamaru dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda itu. "Awa saja kalau nafasmu bau rokok seperti waktu itu." Ancamnya sambil mengecup bibir pemuda yang masih saja tak bereskspresi itu dengan tembut dan mendorong wajahnya semakin dekat dengan wajah Shikamaru.
Ciuman itu semakin panas saat Shikamaru mulai meletakkan tangannya di pinggang Temari dan menarik gadis itu mendekat untuk memanaskan ciuman mereka yang mulai diramaikan oleh aksi lidah. Euh.
Hinata menyempatkan diri untuk melirik sebentar pada Ino yang ada di belakang. Dilihatnya ekspresi Ino yang tak bisa dideskripsikannya. Campuran antara marah, kecewa, sedih, kesal, cemburu dan tentu saja terluka.
Hinata langsung mengangguk pada gadis itu sambil tersenyum mengerti mencoba menyemangati gadis yang hatinya tengah terkoyak itu. Meski Ino tak membalasnya karena matanya sedang terpaku pada adegan panas yang ditunjukkan live di depan matanya, Hinata tahu jika perasaannya tersampaikan.
"Ino selalu pergi saat shooting adegan ciuman diadakan. Kasihan dia yang harus melihat langsung dengan cara seperti ini." Bisik Sakura pada Hinata.
"I…Iya."
Gadis bersurai pink itu menoleh pada sang lawan bicara. "Apa kau ingin mengalami perasaan yang sama seperti yang dirasakan Ino, Hinata-chan?" tanyanya dengan berbisik. "Jika kau tidak ingin mengalaminya, kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikannya jika kau mau." Lanjutnya tanpa menatap Hinata.
"A…aku tak bisa melakukannya, Sakura. Dan… kenapa kau bicara seperti itu padaku?" tanya gadis beririis bulan itu sinambi memainkan kedua telujuknya di depan dada, tanda bahwa kegugupan kini melandanya.
"Aku hanya tak ingin kedua sahabat baikku tenggelam dalam lautan kesedihan yang sama." Kata Sakura sambil tersenyum pelan ke arah kamera yang sedang meng-close up wajahnya. "Dan aku tak mau jika suatu saat nanti aku terpaksa mendengar kesedihanmu karena massa menganggap kalau Gaara lebih cocok dengan Hanabi-chan dibandingkan denganmu, Hinata-chan." Tambahnya saat kamera kembali meng-shoot ciuman panas antara Shikamaru Nara dan Sabaku Temari yang masih belum selesai juga.
"Aku… aku tak punya hak apapun… lagipula Tsunade-san sudah memperingatkanku…" kata gadis bersurai indigo itu pelan.
"Kalau begitu jangan menyesal pada pilihanmu ini kelak."
Hinata membuang wajahnya tanpa menjawab kata-kata Sakura.
"Hmmm… skornya 8, 7, 7, dan 8. Totalnya 30 point. Point yang cukup tinggi untuk Tim A." kata Sasuke membacakan nilai-nilai yang dibawa juri. "Total nilai Tim A sekarang adalah 580 point. Masih tertinggal jauh oleh dua tim lainnya."
Naruto mengangguk mengerti. "Ciuman yang sangat panas! Aku sampai malu sendiri menyaksikannya." Kata Naruto manis sambil menutupi kedua pipinya dengan gaya yang sangat mirip dengan gadis remaja.
"Bukannya kita juga sudah sering melakukannya?" goda Sasuke sambil melingkarkan lengannya ke pinggang ramping Naruto sambil tersenyum pelan sehingga membuat para gadis di sana mimisan seketika.
"Hahaha, lucu sekali Sasuke. Karena kata-kata semacam itulah, kita jadi sering digosipkan kan?" kata Naruto sambil melepaskan belitan Sasuke pada lengannya. "Nah, daripada membuang waktu. Ayo kita lanjutkan saja game-nya! Kakashi!"
Kakashi mengangguk kecil. "Ya! Kali ini adalah giliran dari tim C yang memiliki selisih nilai yang kecil dengan Tim B di peringkat pertama! Apa dengan game kali ini mereka akan membalik keadaan? Siapa yang tahu." Katanya sambil mempersilahkan Tim C masuk ke panggung utama tempat pasangan ShikaTema baru saja menyelesaikan adegan nista mereka.
Hinata memperhatikan saat tim itu maju dan melewati meja tempat dia berdiri bersama Sakura dan Sai. Diamatinya sang adik yang tampak tenang dan percaya diri.
Namun tiba-tiba sebuah bisikan lirih menyapa telinganya.
"Ternyata aku salah, akhirnya aku paham kenapa Nee-chan benar-benar tergila-gila pada Gaara-kun. Aku akan memanfaatkan kesempatan kali ini dengan sebaik-baiknya. Lihat dan saksikan saat aku merebutnya dari Nee-chan."
Hinata terbelalak mendengar kata-kata Hanabi.
'Aku pasti salah dengar kan?' katanya dalam hati.
Dilihatnya sang adik yang sudah merangkul mesra leher pucat Gaara dan memainkan helaian-helaian maroon di belakangnya. Sebuah senyum sinis disunggingkan gadis itu pada Hinata untuk mengejeknya yang sekarang hanya dapat terpaku diam saja.
Jarak antara wajah mereka tinggal lima centi lagi, empat centi, tiga centi, dua centi, sa…
"He…HENTIKAAAAAAAAAAAAAAAAN!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Nananana…. Kalau mau menyalahkan Mai yang nggak update-update, salahkan saja para guru yang ngasih tugas keterlaluan itu ya?
Hm. Aku nggak punya ide mau cuap-cuap apa nih _
Jadi langsung aja balas review OK?
Bluerose: itu akan diceritakan di chap 8
Azu-chan: hehehehe semoga ceritanya tidak mengecewakan soalnya jalan ceritanya agak beda sama prediksi Azu-chan
Azu-chan: Iya
Greenred: maaf kalau begitu soalnya diburu FF yang lain sih.
Aam Tempe: tentu saja
Guest: mmmm aku nggak akan bales reviewmu sudah capek menjelaskan berulang kali. Tapi kusampaikan ada pesan untukmu dari Hime Hoshina di review. Silahkan dibuka.
mai chan: wah nama kita sama. Maaf aku nggak bisa update kilat.
Yang login dibalas lewat PM ya ^_^
Cerita spesial ^_^ Hino Fuyuumi dan Alin Youichi
"Musik itu indah ya, sudah lama aku ingin menjadi manager seorang pemusik." Kata Alin sambil mengamati jadwal pekerjaan Shikamaru Nara yang dibawa Hino.
Hino mengangguk. "Begitulah, itu juga alasanku memilih menjadi manager Shikamaru-kun. Aku terpesona pada musik yang dimainkannya. Begitu indah dan menghanyutkan perasaan." Jawab Hino. "Tapi ada masalahnya juga sih."
"Masalah?"
"Sikap malas Shikamaru itu lho!" jawab Hino sambil menggembungkan pipinya. "Kau tak tahu berapa kali sehari aku harus membangunkannya! Belum lagi menyuruhnya makan atau menggosok gigi agar mulutnya tidak bau rokok. Pokoknya sangat merepotkan!" cerita gadis itu panjang lebar sambil mengerucutkan bibirnya. "Kalau Alin-kun itu enak ya, Sai Uchiha-san kan orang yang sangat tenang. Pasti menyenangkan menjadi managernya."
Alin mengangkat bahunya. "Tidak juga sih. Apalagi jika kau sampai harus masuk ke kamarnya. Benar-benar mengerikan."
"Maksudnya?"
"Penuh dengan foto-foto Hinata Hyuuga. Kurasa dia sudah terobsesi dengan sepupunya yang satu itu."
Hino mengangguk mengerti. "Padahal kupikir dia lurus, tapi ternyata bengkok juga ya?"
Alin hanya mengangkat bahunya tak peduli. Lalu diberikannya sebuah tiket pada Hino. "Kau tertarik pada lukisan? Kemarin 8 lukisan Sai dipajang di pameran lukisan di Tokyo Tower. Dia memberiku dua tiket."
"Lalu kenapa kau memberikannya padaku?" tanya Hino tak mengerti sambil memainkan tiketnya di tangan. "Tapi aku memang suka lukisan sih. Apalagi lukisan Sai-san juga sangat terkenal sampai manca negara kan?"
"Begitulah. Karena di keluargaku tak ada yang suka lukisan. Kau mau pergi denganku tidak? Kalau tidak sih tidak apa-apa." Kata Alin sambil memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.
"Tentu saja aku mau!" jawab Hino. "Senangnyaaaaa… sudah lama aku tertarik pada seni lukis sih."
Hm, tampaknya Alin harus banyak berusaha keras agar Hino mengerti perasaannya ya?
Spesial Story END
Jangan lupa Review ya ^_^
