SECRET

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, M-preg, Typo

Cast: All BTS member and other

Halooo ini chapter tujuh selamat membaca maaf atas segala kesalahan terimakasih atas kesediaan para pembaca membaca cerita saya. Happy reading all….

Previous

"Geli." Jawab Youngjae kemudian menunjuk perut lucunya, yang terlihat sedikit membuncit di balik kaos abu-abu yang ia kenakan. Jungkook tertawa lepas melihat tingkah lucu Youngjae kemudian ia menghujani wajah tampan putranya dengan banyak ciuman. Pada dahi, kedua pipi gembul Youngjae, bibir merah mungilnya, hidung mancung Youngjae yang juga terlihat mungil. Kedua tangan mungil Youngjae kini berada di kedua pipi Jungkook. "Jae sayang Kookie."

Jungkook tidak bisa menjawab, tenggorokannya tercekat dan otaknya seolah lumpuh yang bisa dia lakukan hanya memeluk lembut tubuh mungil putranya. Menghirup dalam aroma sabun bayi yang menguar dari tubuh Youngjae. "Kookie sayang Jae?"

"Ya." Jungkook mencoba menjawab di tengah usahanya menahan air mata. "Ya, Kookie sayang Jae."

"Kookie mau belmain dengan Jae setiap hali?" Youngjae bertanya dengan posisi masih memeluk leher Jungkook.

"Ya, tentu Sayang. Apapun yang Jae inginkan." Bisik Jungkook.

BAB TUJUH

"Bagaimana masakan Bibi?" Nyonya Kim bertanya kepada SeokJin untuk memecah keheningan yang menggelayut berat di antara mereka bertiga.

"Sangat lezat, Nyonya." SeokJin menjawab sopan. "Mencemaskan sesuatu Taehyung?"

"Tidak." Dusta Taehyung, ia melirik SeokJin dan tersenyum canggung.

"Kau tidak bisa selamanya menutupi apapun yang kau rasakan Taehyung." SeokJin bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, namun SeokJin adalah tipe orang yang sangat peduli dan terkadang kepeduliannya itu membuat beberapa orang merasa tidak nyaman. "Maaf." Sambung SeokJin.

"Tak apa Hyung." Taehyung menggumam, menimbang-nimbang untuk mencurahkan semua isi hatinya atau memilih bungkam. "Hanya—Youngjae akrab dengan Jungkook dalam waktu singkat. Dia bahkan menyukai Jungkook saat pertama kali melihat video BTS."

"Mungkin itu insting." Balas SeokJin. "Maaf, bukannya aku sok pintar dan sok bijaksana hanya itu yang bisa aku pikirkan."

Taehyung tertawa pelan. "Kenapa Hyung terus meminta maaf?" Canda Taehyung. "Bahkan ibuku mengatakan hal yang sama dulu." Kini perhatian Taehyung teralih pada ibunya yang memilih untuk diam dan memperhatikan percakapannya dengan SeokJin. Taehyung memainkan potongan tahu di dalam mangkuknya. "Aku tidak berdaya—sampai kapanpun. Jungkook dan Youngjae akan tetap bertemu, hanya masalah waktu." Taehyung menoleh ke kiri memperhatikan Jungkook dan Youngjae yang bermain akrab di halaman belakang. "Seandainya mereka tidak bertemu sekarang, di masa depan aku yakin Youngjae akan mencari tahu siapa ayahnya yang lain."

"Jungkook tidak akan membawa Youngjae pergi darimu." Taehyung hanya tersenyum tipis. "Jungkook pasti menepati semua ucapannya Taehyung. Jungkook bukan remaja enam belas tahun lagi Taehyung, dia pria dewasa sekarang."

Taehyung menggeleng pelan. "Sembilan belas tahun. Dia belum dewasa Hyung."

"Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" Taehyung mengendikan bahu sebagai jawaban atas pertanyaan SeokJin. "Kau masih mencintai Jungkook."

"Aku tidak akan mengelak dari pertanyaan itu Hyung. Namun, sekarang semuanya berbeda. Aku bukan remaja yang bersedia menyerahkan semuanya atas nama cinta."

"Kau menyesali perbuatanmu di masa lalu?"

"Ya."

"Youngjae?"

"Youngjae bukan kesalahan!" Tegas Taehyung. "Perbuatankulah yang merupakan kesalahan. Youngjae bukan kesalahan."

"Kau tidak bisa menyalahkan Jungkook dan menaruh dendam padanya Taehyung. Kau sendiri yang memutuskan untuk pergi tanpa mencoba terlebih dulu. Mencoba untuk memberitahu Jungkook."

"Apa yang bisa diharapkan dari seorang remaja?" Cibir Taehyung.

"Entahlah. Tapi kau tidak mencobanya, itulah kenyataan yang harus kau hadapi. Jungkook kembali untuk mengambil bagian di kehidupan Youngjae dan kau tidak berhak untuk mencegahnya."

Taehyung mengeraskan rahang serta mengepalkan kedua telapak tangannya, menahan amarah atas semua ucapan SeokJin. "Jangan menasehatiku Hyung." Taehyung berucap dengan nada rendah.

"Jangan egois Taehyung atau kau akan terluka untuk kedua kalinya."

"Jadi—aku harus menerima cinta Jungkook kembali?"

"Tidak, jika kau tidak menginginkannya kau tidak perlu menerima Jungkook. Terima Jungkook untuk berada di dalam kehidupan Youngjae."

Menghembuskan napas kasar Taehyung ingin berteriak kepada Jin dengan segala amarah yang memenuhi dadanya, namun, di sisi lain dia membenarkan semua ucapan SeokJin. "Aku akan berusaha."

"Tae!" Suara ceria Youngjae menarik perhatian seluruh orang dewasa yang sedang berkumpul di meja makan. "Tae Kookie bilang Kookie sayang Jae Kookie mau belmain dengan Jae setiap hali." Youngjae mengatakan kalimatnya dengan cepat di depan Taehyung dengan kedua tangan mungilnya berada di kedua lutut Taehyung.

"Benarkah?" Taehyung berusaha agar suaranya terdengar ceria bagi Youngjae.

"Ya." Youngjae membalas dengan antusias ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Taehyung bergegas mengangkat tubuh balitanya.

"Berkeringat. Jae harus mandi."

"Tidak mau!" Pekik Youngjae.

"Jae bau." Balas Taehyung dengan tatapan menggoda untuk putranya. "Jae harus mandi atau tidak ada susu." Ancam Taehyung.

Youngjae menatap Taehyung dengan kesal, bibir mengerucut imut. "Jae mau mandi."

"Bagus, anak pintar." Taehyung tersenyum lebar.

"Dengan Kookie." Senyuman seketika menghilang dari wajah Taehyung mendengar ucapan polos putranya. "Boleh kan Tae?" Taehyung tak menjawab. "Nenek?" Youngjae segera beralih pada sang nenek.

Menelan ludah kasar, tidak ada orangtua yang menginginkan kesedihan pada anaknya, Taehyung sadar ia tidak boleh egois tentang Youngjae lagi mulai sekarang. "Ba—baiklah." Jawab Taehyung terbata kemudian menggendong Youngjae dan mengisyaratkan Jungkook untuk mengikutinya. "Kau mungkin akan basah, Youngjae tidak pernah tenang saat mandi."

"Tidak masalah."

Jungkook mengambil jarak di belakang Taehyung yang menggendong Youngjae. Sesekali Youngjae tersenyum kepada Jungkook. Mereka menuju halaman belakang, rupanya Youngjae mandi di halaman belakang dengan air dingin yang ditampung pada bak bundar berwarna putih. "Apa Youngjae tidak kedinginan?"

"Sekarang musim panas dan hari masih sore, Youngjae sudah mandi air dingin di musim panas sejak usianya satu tahun."

"Ahhhh….," balas Jungkook sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Tolong lepaskan semua pakaian Youngjae, aku akan mengambil peralatan mandi dan handuknya di kamar."

"Tentu." Jungkook memandang sekilas punggung Taehyung sebelum perhatiannya tercurah penuh kepada Youngjae. Putranya yang mulai mencelupkan tangan kananannya ke dalam bak. "Youngjae lepas pakaianmu dulu." Jungkook menghampiri Youngjae mengangkat tubuh balitanya menjauhkan dari bak berisi air yang menarik perhatian Youngjae. Jungkook merendahkan tubuhnya di depan Youngjae. "Kita lepas pakaianmu dulu ya." Jungkook tersenyum diakhir kalimat, Youngjae mengangguk antusias.

"Mandi. Jae mau mandi. Mandi." Youngjae mengulang kalimatnya dengan polos.

Pertama kaos abu-abu kemudian kaos dalam tanpa lengan, celana pendek Youngjae, dan popok Yungjae. Jungkook tersenyum menatap tubuh gempal putranya. "Jae gendut." Ledek Jungkook sembari menyentil pelan perut Youngjae. Sementara Youngjae hanya tertawa renyah menanggapi godaan dari Jungkook.

"Sudah?" Youngjae menatap Jungkook polos.

"Ya."

"Mandi?"

"Ya." Jungkook lantas berdiri dan berjalan mengikuti putranya, berdiri di belakang Youngjae memastikan putranya bisa masuk ke dalam bak dengan aman. Dan putra tiga tahunnya sudah bisa masuk ke dalam bak dengan lancar. Saat Youngjae mendudukan dirinya air di dalam bak mencapai dada balita itu, membuat Jungkook tertawa melihat betapa kecilnya Youngjae.

Taehyung kembali ia melingkarkan handuk Youngjae di lehernya kemudian mendekati Jungkook dan berjongkok di sisi lain tubuh Jungkook. "Jae ayo mandi." Ucapan Taehyung disambut tawa ceria Youngjae, sedangkan Jungkook hanya terdiam memperhatikan semuanya.

Memandikan Youngjae bukanlah hal yang sulit dia balita yang tidak rewel kecuali jika kita melewatkan bagaimana Youngjae membuat semua orang dewasa yang menemaninya basah. Youngjae berdiri dari bak, tubuh dan rambutnya masih dipenuhi dengan busa beraroma susu yang manis. Kedua tangan mungilnya langsung menyentuh wajah Jungkook. "Jae!" Protes Jungkook tentu saja dengan nada bercanda untuk kemudian diiringi tawa lepasnya.

Youngjae tersenyum lebar menampilkan gigi-gigi susunya yang berderet rapi. "Ayah!" Pekiknya. Sebuah kalimat polos nan sederhana yang mampu membuat hati dua orang dewasa yang menemaninya bergetar. Jungkook merasa bahagia sekaligus terharu sedangkan Taehyung tak dipungkiri ia merasa enggan dengan panggilan itu.

"Kita bilas semua busanya ya." Ucap Taehyung kemudian mulai menyirami rambut dan tubuh Youngjae menggunakan telapak tangan kanannya.

"Maaf." Ucap Jungkook. Taehyung tak menanggapi. "Aku tidak meminta Youngjae untuk memanggilku Ayah. Aku tahu kau tidak suka dengan panggilan itu."

"Kau ayahnya." Taehyung berucap singkat kemudian mengangkat tubuh Youngjae dari bak, dan membungkus tubuh balitanya menggunakan handuk. Jungkook terperanjat untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia tersadar dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki Taehyung.

"Tae…," panggil Jungkook ragu.

Taehyung menghentikan langkah kakinya, memutar tubuhnya lantas menghadap Jungkook. "Kau akan tinggal untuk makan malam?"

"Tidak, kami akan mematangkan persiapan comeback."

"Baiklah kalau begitu."

"Jungkook kita harus kembali!" Bersamaan dengan Jungkook yang membuka bibirnya untuk berucap, terdengar teriakkan SeokJin dari dalam rumah.

"Hmmm…, kurasa aku harus pergi sekarang." Taehyung mengangguk pelan. Jungkook memperhatikan Youngjae sebentar. "Jae, Kookie pulang dulu ya. Kookie akan sering main ke sini."

Raut wajah Youngjae terlihat tidak suka namun pada akhirnya balita itu mengangguk, sambil menunjukkan kelingking kanannya kepada Jungkook. "Janji?"

"Janji." Jungkook tersenyum sembari menautkan kelingking kanannya sendiri dengan kelingking mungil Youngjae. Berikutnya Jungkook menciumi wajah Youngjae dengan penuh kasih sayang. Tangan kanan Jungkook bermain pada rambut basah Youngjae, sementara perhatiannya tertuju pada Taehyung. "Terimakasih Tae untuk semuanya." Taehyung hanya tersenyum samar. Mencium singkat pipi kanan Taehyung barulah Jungkook melangkah memasuki rumah.

Taehyung masih terpaku mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Jungkook. Jungkook mencium pipi kanannya. Hanya ciuman singkat, namun jantungnya berdebar tak karuan. "Cukup Taehyung." Ucapnya memperingati diri sendiri.

.

.

.

Sepuluh menit untuk sampai ke gedung Big Hit. SeokJin melirik Jungkook dari ekor matanya, mencemaskan yang termuda karena ia tak sedikitpun bersuara. "Suga masih sibuk dengan Jimin, mereka membicarakan lagu yang akan Suga berikan kepada Jimin." Jungkook tak memberi tanggapan. "Ada waktu satu jam sebelum ke studio, Namjoon dan Hoseok masih mencari camilan, kita akan menginap di studio malam ini." SeokJin berucap ceria seolah menginap di studio adalah kegiatan menyenangkan seperti berkemah di alam bebas bersama para sahabat.

"Hmmm." Hanya gumaman yang Jungkook keluarkan. Namun SeokJin tak menyerah.

"Satu jam." Ucap SeokJin. Aku bisa menghentikan mobil di suatu tempat yang sepi dan mungkin kau mau berbicara." SeokJin mendengar suara tawa Jungkook.

"Jin hyung seperti seorang ibu saja."

"Bukankah aku seorang Ibu di dorm." Canda SeokJin.

"Baiklah, hentikan mobil ini di tempat yang sepi. Aku tidak akan bertanggungjawab jika Namjoon hyung nanti merasa kesal."

"Namjoon urusan mudah." Jawab SeokJin kemudian tertawa diakhir kalimat.

SeokJin menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Lampu temaram dan keadaan jalan cukup sepi. Mesin mobil dimatikan SeokJin meminta Jungkook untuk turun. Menyodorkan sekaleng soda kepada Jungkook. "SeokJin hyung selalu membawa soda kemana-mana?"

"Aku selalu lapar." Jungkook hanya tertawa mendengar jawaban yang sedikit tidak nyambung dari SeokJin. "Katakan apapun jika kau siap."

Jungkook menarik segel kaleng soda desisan soda terdengar. "Setelah bertemu dengan Youngjae….," Jungkook menggantung kalimatnya. "Aku ingin selalu berada di dekatnya setiap saat. Taehyung hyung juga, aku ingin membayar semuanya pada mereka berdua. Aku ingin melindungi mereka dan mencintai mereka." Suara Jungkook bergetar.

SeokJin menarik bahu kiri Jungkook kemudian memeluk adik yang sangat dia sayangi itu. Jungkook biasanya akan protes, namun untuk saat ini dia benar-benar membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar. SeokJin merasakan tubuh Jungkook yang bergetar dan bahunya yang mulai basah. Basah karena ari mata Jungkook tentu saja. "Semuanya akan baik-baik saja Kookie." SeokJin menggumam lembut disertai dengan panggilan sayang untuk seorang Jeon Jungkook. Tangan kanan SeokJin perlahan mengusap punggung Jungkook untuk memberi sedikit rasa ketenangan.

SeokJin melepaskan pelukannya dari tubuh Jungkook saat sang adik menarik mundur tubuhnya. Jungkook menatapnya dengan kedua mata merah sembab. "Terimakasih SeokJin hyung." SeokJin hanya tersenyum kemudian mengacak rambut Jungkook. Jungkook tersenyum.

"Sampai kapanpun kurasa kau akan tetap menjadi adik kecilku yang manis." Jungkook tertawa pelan mendengar kalimat SeokJin. "Kau siap untuk kembali?"

"Ya, malam ini pasti akan menjadi malam yang panjang. Dengan semua materi lagu yang harus diselesaikan."

"Kita bekerja keras untuk sampai di posisi kita sekarang."

"Kau benar Hyung. Seandainya Taehyung menerimaku kembali aku akan…," Jungkook menggantung kalimatnya membuat SeokJin merasa cemas. "Aku akan meninggalkan dunia hiburan. Aku akan meninggalkan impianku, sama seperti yang dulu Taehyung lakukan."

"Jungkook…,"

"Aku baik-baik saja Hyung! Ayo bergegas sebelum Namjoon hyung meneror kita!" Pada akhirnya SeokJin hanya bisa mengangguk kaku dan masuk ke dalam mobil kembali.

.

.

.

SeokJin meneliti setiap sudut ruang studio dan tidak menemukan Namjoon di sana. "Dimana Namjoon?" SeokJin meletakkan dua kantong plastik berisi makanan, camilan, dan minuman ke atas kursi panjang.

"Salah paham." Jawab Suga sambil menunjukkan ponselnya kepada Namjoon.

SeokJin melihat fotonya yang tengah memeluk Jungkook. "Secepat itu." SeokJin menggumam malas. "Lima belas menit." Tegas SeokJin sebelum berbalik dan melangkah keluar meninggalkan studio.

"Konflik rumah tangga…..," canda Hoseok yang lantas mendapat jitakan di kepala dari Suga. "Hyung…..," gerutu Hoseok.

"Perbaiki bagianmu dan berhenti mengurusi rumah tangga orang lain." Tegas Suga membuat Hoseok dan Jungkook mati-matian menahan tawa. "Kenapa?!" Ketus Suga.

"Jadi Suga hyung juga menganggap Namjoon dan SeokJin hyung sebagai pasangan suami –isteri?" Jungkook melempar pertanyaan dengan tampang polos.

"Tentu saja memang apalagi." Suga menjawab malas kemudian berbalik dan mulai sibuk dengan layar komputer di hadapannya.

SeokJin menemukan Namjoon berada di lorong gedung lantai dua yang sepi, di dekat mesin penjual minuman. SeokJin langsung melangkah mendekat mengabaikan tatapan tidak suka yang dilemparkan Namjoon untuknya.

"Jika kau mencurigai hubunganku dengan Jungkook karena foto murahan itu, berarti kau meragukan aku, Kim Namjoon." Tegas SeokJin membalas tatapan penuh curiga kekasih yang lebih muda darinya itu.

"Maaf Hyung." Ucap Namjoon penuh sesal sambil menundukkan kepalanya. "Aku hanya cemburu." Namjoon berucap pelan.

SeokJin tertawa pelan. "Aku menenangkan Jungkook. Aku yakin saat kau atau yang lainnya berada bersama dengan Jungkook malam itu kalian pasti akan memeluk dan menenangkan Jungkook."

Namjoon mengangkat kepalanya menatap SeokJin dengan tatapan lembut kali ini. "Sekali lagi maafkan aku SeokJin hyung."

"Jungkook sedang mengalami masalah berat sekarang. Ah aku salah, dia sedang berusaha untuk memperbaiki masalah besar yang ditimbulkannya di masa lalu." SeokJin melihat Namjoon yang mengangguk mengerti. "Sebagai sahabatnya—ah sebagai keluarganya kita harus membantu Jungkook dan selalu ada untuknya."

"Aku mengerti Hyung."

"Satu lagi….,"

Namjoon melihat raut penuh kekhawatiran dari kekasihnya. "Katakan Hyung."

"Jungkook mengatakan dia bersedia untuk mundur dari dunia hiburan jika Taehyung kembali padanya. Jika Taehyung bersedia kembali akan sulit menyembunyikan kebenaran dari publik."

"Kita lihat dulu bagaimana perkembangannya Hyung, jika Taehyung bersedia kembali dan jika Jungkook benar-benar harus mundur dari dunia hiburan akibat tekanan publik. Kita akan melakukan segala cara untuk membantu dan mendukung Jungkook dan Taehyung."

Kening SeokJin berkerut dalam, tak terlalu mengerti dengan kalimat dari kekasih jeniusnya. "Apa maksudmu?"

"Dunia hiburan itu banyak jenisnya Hyung, Jungkook bisa saja mundur menjadi artis tapi dia bisa menjadi penulis lagu, atau guru menari. Ingat panggilannya Hyung. Golden Maknae."

SeokJin terdiam mencerna setiap kata yang baru saja Namjoon ucapkan. "Ah!" Pekiknya. "Kau benar, baiklah aku akui kau jenius Namjoon."

"Aku selalu jenius Hyung." Keluh Namjoon.

"Kita kembali ke studio dan mulai bekerja. Sudah jangan cemburu lagi." SeokJin tersenyum sementara tangan kanannya mencubit pelan pipi Namjoon.

"Hyuuuuungggg…," rengek Namjoon manja, hal yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun kecuali SeokJin.

"Ayo kembali ke studio Namjoon yang lain sudah menunggu." Ajak SeokJin.

"Tunggu!" Tolak Namjoon sembari menahan pergelangan tangan kiri SeokJin.

"Apalagi?"

"Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Hyung, sebentar saja." Namjoon melempar tatapan memohon.

"Tidak, pekerjaan kita masih banyak."

"Hyung….," rengek Namjoon untuk kedua kalinya.

"Tidak, kau pasti akan mencuri-curi kesempatan!"

"Aku bukan orang seperti itu." Namjoon menggerutu pelan.

"Katakan pada noda merah di leherku yang kemarin belum ada! Kapan kau melakukannya?!" SeokJin menatap penuh amarah sementara Namjoon hanya tertawa tanpa dosa. "Dasar!" Dengus SeokJin sebelum melangkah memasuki studio menyusul Hoseok, Jungkook, dan Suga yang sekarang mungkin saja sudah mati bosan.

TBC

Terimakasih untuk semua pembaca, terimakasih review, kritk, dan sarannya, maaf tidak bisa membalas satu persatu jika ada yang ingin ditanyakan tentang cerita ini bisa tanya lewat PM. Atau tunggu cerita selanjutnya, terimakasih review kalian Dwimin chan, kimxjeon, nil, Yukinaaa, glennmooreww, Retno1990, maiolibel, gouhope, VKookKookV, MyraKookV, Taetae22, Shabila, Guest, A m s taetae95, funf, Suci, Permenkaret, NaraChan977, Sasayan chan, catpill, Clou3elf, kahisairawan, Tikha Semuel RyeoLhyun, shiinasany, braveyoon, Park Rinhyun Uchiha, GaemGyu92, whalme160700, MiniMinyoonMini, purplesya, afifys03, Yeoja821, rrriiieee, Strawbaekberry, rahma12desti, Heechul nim, Rain030, teyens, dpramestidewi, exoinmylove, Icha744, kanataruu, Rizuku, Kyunie, juney532. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.