Spring 7 : Bae Jinyoung, 23

"Ah akhirnya kita lulus ya" Kyulkyung tersenyum senang seraya memeluk lengan Jinyoung.

Jinyoung balas tersenyum, mengelus surai Kyulkyung, "Ya" ujarnya.

Mereka berdua sedang berjalan mengelilingi kampus yang selama 6 tahun ini menjadi tempat belajar mereka.

Kemarin merupakan acara kelulusan mereka, dan besok mereka berdua akan kembali ke Korea.

Kyulkyung merupakan kekasih Jinyoung, sifat Jinyoung yang sedikit tertutup membuatnya sedikit kesulitan mencari teman dan kesepian saat masa kuliahnya, namun Kyulkyung, mahasiswi satu jurusannya yang berasal dari Cina yang bersedia menemaninya dan membantunya bersosialisasi.

Awalnya hanya teman, namun setelah 2 tahun berteman dan dorongan teman-teman dekatnya, Kyulkyung memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Jinyoung. Tidak tega kehilangan sahabat terbaiknya dan menyia-nyiakan ketulusan wanita itu, Jinyoung tentu saja menerimanya.

Tapi Kyulkyung bukanlah gadis yang menuntut, ia tidak memaksa Jinyoung untuk melimpahkan banyak kasih sayang padanya. Selama 3 tahun pacaran, Jinyoung bahkan belum pernah menciumnya, hanya berpegangan tangan pun sudah cukup bagi wanita itu.

Jinyoung menghentikan langkahnya, menoleh kearah Kyulkyung seraya tersenyum.

"Noona Terima kasih banyak." Jinyoung mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Kyulkyung, membuat perempuan itu terkejut bukan main, ini yang pertama untuknya, namun ia juga tahu ini adalah akhir hubungannya dengan Jinyoung.

"Maafkan aku, aku belum bisa melupakannya." Kyulkyung hanya tersenyum, ia bisa mengerti itu.

Jinyoung memang bercerita pada Kyulkyung tentang sosok pria musim seminya, Kyulkyung sejujurnya cemburu setiap ia melihat bagaimana mata Jinyoung berbinar dan senyumnya mengembang saat Kyulkyung bertanya mengenai laki-laki itu.

Tetapi walaupun cemburu, setiap musim semi, Kyulkyung akan selalu mengingatkan Jinyoung untuk ke Boston yang cukup dekat dengan kampus mereka untuk melihat Pohon Sakura disana. Kyulkyung itu perempuan yang peka, ia tahu musim semi dan bunga sakura merupakan sumber kebahagiaan Jinyoung, jadi ia membiarkan Jinyoung terus mengingat malaikatnya itu. Kyulkyung sudah berjanji pada dirinya, dia akan melepaskan Jinyoung jika Jinyoung ingin menemui pria musim seminya itu.

"Tentu saja. Aku senang bisa bersama mu walau hanya sebentar, Jinyoung-ah" Jinyoung mengangguk.

"Entah apa jadinya aku kalau tidak ada kau, aku minta maaf tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu Noona."

"Kau tidak perlu begitu. Aku senang bisa menjagamu, aku sudah mengaggapmu seperti adik sendiri. Tapi jangan lupa ya kalau aku pacar pertamamu dan teman terbaikmu."

"Tentu Kyulkyung-noona, kau memang yang terbaik noona." Kyulkyung tersenyum lagi

"Berjanjilah kau akan jadi pria dewasa dan menemukan malaikatmu itu dan tidak ragu-ragu menjadikannya milikmu." Kyulkyung melepaskan genggamannya pada tangan Jinyoung, mengacungkan jempolnya, berusaha terlihat ceria walaupun hatinya hancur.

"Tentu, aku kan sudah dewasa sekarang" Jinyoung tersenyum bangga membuat Kyulkyung gemas dengannya.

"Aw, Jinyoung kecil sudah dewasa ternyata, rasanya baru kemarin aku melihatmu menangis karena merindukan ibumu" Jinyoung memukul bahu Kyulkyung pelan, selalu saja menggodanya.

"Jadi...selamat tinggal?" Kyulkyung menyentil hidung Jinyoung.

"Enak saja bilang begitu, aku sudah baik padamu, kau kan calon CEO, berikan aku posisi yang baik di perusahaanmu heh." Jinyoung tertawa mengangguk-angguk.

"tenang saja, kau akan kujadikan pegawai terbaikku nantinya nona Joo Kyulkyung."

.

.

.

.

.

"BAEJINNNN Aku merindukanmuuuu" Daehwi berlari memeluk Jinyoung yang baru keluar dari bandara.

Jinyoung tertawa, mengacak rambut Daehwi yang sekarang berwarna cokelat, berjalan dengan cepat melewati segerombolan fans Daehwi yang menyorot mereka dengan kamera.

Daehwi memang cukup terkenal sekarang. Ia merupakan member sebuah Boyband di bawah agensi milik ayah Jinyoung, Jinyoung juga sudah tahu, jadi ia tidak terlalu heran. Hanya saja Daehwi seharusnya tidak berpenampilan mencolok seperti ini didepan umum, bikin repot saja.

"Kau ini, pakai masker apa, kau terlalu menarik perhatian, kan jadi ramai." Jinyoung mengomel saat mereka sudah di mobil.

Orangtua Jinyoung sedikit sibuk hari ini, jadi terpaksa hanya Daehwi yang menjemput.

"Hehe, kan biar Jinyoung tidak susah mencariku." Daehwi mengeluarkan iPodnya, memasangkan Headsetnya di telinga Jinyoung secara tiba-tiba kemudian memutarkan sebuah lagu.

"apa ini?" tanya Jinyoung bingung.

"Kan kau janji akan mendengar lagu temanku saat kau kembali. Dia sudah jadi icon agensi ayahmu loh sekarang. Dia juga masih membuat lagu untukmu."

Jinyoung hanya mengangguk-angguk, cukup menikmati serentetan lagu milik...

'Park Jihoon' itulah nama artis yang tertera di iPod milik Daehwi.

Menurutnya suara Park Jihoon sangat bagus, entah perasaannya saja tetapi suara Jihoon mengingatkannya akan suara laki-laki yang selalu menemani musim seminya.

"Aku bisa benar-benar jatuh cinta padanya, suaranya bagus sekali. Memikirkan kalau dia membuat lagu ini untukku membuatku tersanjung." Daehwi terkikik mendengar ucapan Jinyoung barusan.

"Kau juga akan jatuh cinta kalau melihat orangnya"

"Tch, coba saja, baru satu orang yang bisa membuatku jatuh cinta hanya dengan melihat wajahnya."

Daehwi hanya tersenyum penuh arti.

.

.

.

.

.

.

.

"Jihoonie, mau jalan-jalan denganku dan Hyungseob sebelum kerumah?" Tanya Daehwi, saat itu mereka sudah selesai sekolah dan akan pulang.

Jihoon menggeleng, membereskan barang-barangnya. "tidak terimakasih, aku ingin melihat bunga sakura."

"ciee mau buat lagu untuk Bae Jinyoung lagi, boleh ikut tidak?" Kata Hyungseob

"hmm, tidak boleh, itu tempat rahasiaku! Dan aku membuat lagu untuk persiapan debutku ya, enak saja kau."

"memangnya dimana sih tempatmu melamun itu?"

"Taman dekat sungai Han, tapi di bagian agak belakang sih, disitu bunga sakuranya bagus sekali dan suasananya damai" Jihoon memakai ranselnya dan hendak keluar kelas.

TING

Gantungan tas Jihoon yang berwarna kuning neon itu terjatuh.

"Jihoon, gantungan kesukaanmu lepas tuh!" Hyungseob mengambil gantungan tas itu dan berusaha memasangnya lagi.

Daehwi tidak terlalu peduli, ia mengeluarkan handphonenya, mancari-cari nama Jinyoung disana. Jam segini mungkin Jinyoung belum tidur, entahlah Daehwi kurang tahu rentang perbedaan waktu di Korea dan Amerika.

Lee Daehwi: Jinyoungi, kau masih bangun?

Bae Jinyoung: ada apa? ini sudah jam 11 malam Lee Daehwi

Lee Daehwi: Laki-laki yang kau sukai itu. Dia berdiri di bawah pohon Sakura yang letaknya agak jauh kan?

Lee Daehwi: apa ada gantungan warna kuning neon di tasnya?

Bae Jinyoung: Ya, gantungan huruf ''. kau kenal dengannya?

Lee Daehwi: Ah tidak, aku hanya menemukan gantungan itu saat kesana tadi.

Daehwi tersenyum, melihat punggung Jihoon yang menjauh.

"Kalian berdua terlalu menggemaskan." Gumam Daehwi.

.

.

.

.

.

.

"Daehwi ya, aku ingin melihat bunga sakura." Jinyoung memandang keluar jendela mobilnya.

"kurasa dia tidak akan ada disana" Gumam Daehwi namun masih bisa didengar oleh Jinyoung membuat pria itu mengangkat alisnya bingung.

"Maksudmu?"

"Ah, tidak, dia kan belum tentu ada disana. Lebih baik kau pulang dulu kemudian ke kantor ayahmu, kan dia menyuruhmu datang, katanya sih mau menyuruhmu berkenalan dengan Park Jihoon saat makan siang nanti."

"uh, baiklah" Jinyoung mendengus, pasti ayahnya mau mulai menjodoh-jodohkannya karena dia bilang dia putus dengan Kyulkyung kemarin.

Jarak dari bandara dan ke rumahnya cukup jauh, dia malas kalau harus mendengar ocehan Daehwi lebih banyak, Jinyoung lebih memilih tidur sejenak sambil mendengar suara merdu milik Park Jihoon.

TBC

a/n

Maaf udah lama ga update, sebenernya spring ini udah ada 14 chapter tapi gapernah sempet publish karena sibuk banget akunya tuh -_-

Sama disini aku buat kyulkyung itu jadi anak baek-baek. Perasaan dimana-mana kalo ga guanlin ya kyulkyung yg jd pho nya winkdeep aku teh kasian sama mereka

Buat ff dasar bodoh aku masi bingung itu mau diapain ;; jadi mungkin aku selesaiin spring dulu baru yang itu