-happy reading-

.

.

...there is no right time and right place for love. It can happen any time...

.

.

Sehun nampak sudah berkali-kali menguap lebar saat pelajaran sejarah yang diajarkan oleh Heechul Saem, guru paling killer yang pernah Sehun temui, tengah berlangsung. Dia mengantuk. Mungkin akibat dari semalam dia yang tidur larut malam. Salahkan eommanya yang tidak ada dirumah dan tidak memeluknya sebelum dia tidur. Fyi, Sehun tidak bisa tidur tanpa dipeluk eommanya terlebih dahulu. Dasar manja. Dan salahkan juga Chanyeol (walaupun Sehun belum tahu) yang terus saja mengiriminya pesan semalam.

Sehun sudah sangat mengantuk. Matanya sudah sangat berat. Apalagi pelajaran Heechul Saem yang menurutnya sangat membosankan, menambah list alasan kenapa dia ingin tidur. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dan pada akhirnya, dia pun tertidur.

"Sehun-ssi, kenapa kau selalu menghindari pertanyaanku?"

"Sehun-ssi, apa kau tahu bahwa aku juga mencintaimu?"

"Sehun-ssi, apa kau bersedia menjadi kekasihku?"

"Oh Sehun-ssi, tolong jawablah pertanyaanku."

"Oh Sehun-ssi, kenapa kau hanya diam saja?"

"Sehun-ssi!"

"Oh Sehun-ssi!"

"OH SEHUUUUUUUUUUUUUUN...!"

BRAK

Sehun langsung terlonjak kaget dan gelagapan saat suara gebrakan meja memasuki gendang telinganya.

"Oh Sehun-ssi!"

Sehun langsung menegakkan tubuhnya saat orang yang tengah berdiri dihadapannya menyebut namanya. Dia menelan ludahnya dengan susah payah saat dilihatnya Heechul Saem tengah menatapnya tajam.

"N-ne Saem," sahut Sehun gugup.

"Anda tertidur di mata pelajaran saya?"

"N-ne, Saem. Saya minta maaf."

"Keluar dari kelas ini sekarang juga," ujar Heechul Saem penuh penekanan.

"T-tapi Saem..."

"KELUAR!" bentaknya.

"B-baik, Saem." Sehun akhirnya melangkah keluar dari ruang kelas tersebut dengan penuh rasa bersalah. Namun rasa kantuknya telah mengalahkan itu semua. Dia lalu duduk dan bersandar pada tiang didepan kelasnya. Kebetulan angin yang berhembus sangat sejuk, membuat rasa ingin tidurnya semakin meluap-luap. Sehun mulai menutup kedua kelopak matanya.

"Aduh!" Namun kegiatannya terhenti saat tiba-tiba saja ada yang menyentil kepalanya. Dia lalu bangkit dari duduknya dan melihat siapa gerangan yang berani mengganggu tidurnya.

"Suho Sunbae?" ucap Sehun terkejut saat mengetahui kalau ternyata yang menyentil kepalanya barusan adalah Suho. Dan Sehun lebih terkejut lagi saat melihat seseorang yang tengah berdiri disamping Suho. Itu Chanyeol, tengah menatapnya datar.

"Apa yang kau lakukan disini, huh? Bukannya jam pelajaran masih berlangsung?" tanya Suho.

"Hehehe, itu...aku ketiduran dikelas tadi. Dan aku diusir," jawab Sehun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Suho yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala dan berdecak pelan. Dia tidak menyangka kalau seorang Oh Sehun yang katanya murid paling cerdas di tingkat dua bisa tertidur didalam kelas. Diusir keluar lagi. (Sehun juga manusia biasa kali, Ho). Sedangkan Chanyeol hanya stay cool diposisinya. Dia sebenarnya ingin tertawa, namun dia menahannya. Jaga image bro didepan gebetan.

"Daripada kau hanya berdiam diri disitu, bagaimana kalau kau ikut kami saja menbersihkan gudang yang ada dilantai dua? Bagaimana?" tawar Suho.

"Membersihkan gudang?"

"Iya. Kami berencana akan menggunakannya untuk kelas seni rupa."

"Baiklah, aku akan ikut."

"Kalau begitu, ayo!" Suho lalu menarik pergelangan tangan Sehun menuju ke lantai dua.

Ketiganya kini telah siap dengan peralatan kebersihan ditangan masing-masing. Suho dengan kemocengnya, Sehun dengan sapu ijuknya, dan terakhir Chanyeol dengan kain pel serta ember di kedua tangannya.

Suho kemudian membuka pintu ruangan yang ada tulisannya "GUDANG" dihadapannya tersebut pelan. Sehun yang berdiri disebelahnya merasa sedikit lega karena ruangan tersebut ternyata tidak terlalu kotor. Hanya ada beberapa barang didalam kardus yang harus mereka pindahkan saja. Lantainya pun tidak terlalu banyak debunya.

Tiga puluh menit telah berlalu. Suho yang sedang mengelap meja merasa enek melihat Sehun dan juga Chanyeol yang sedari tadi hanya saling diam, dan hanya akan mengeluarkan suara apabila dirinya yang bertanya.

"Hun-ah!" panggil Suho.

"Ne," sahut Sehun yang sedang menyapu lantai.

"Kenapa kau tadi bisa ketiduran dikelas? Apa semalam kau begadang, huh?" tanya Suho.

"Oh, semalam aku tidur terlalu larut, sebab eommaku sedang tidak ada di rumah. Kan biasanya sebelum tidur eomma selalu memelukku terlebih dahulu. Dan juga semalam ada seseorang yang terus saja mengirimiku pesan sampai membuatku tidak bisa tidur," jelas Sehun panjang lebar.

Suho yang mendengarnya tertawa lebar, sedangkan Chanyeol hanya terkekeh pelan. Dia baru tahu kalau ternyata Sehun itu anaknya sangat manja. Dan dia juga merasa bersalah karena terus saja mengajak Sehun untuk smsan dengannya semalam.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar bunyi sapu yang bergesekan dengan lantai. Ketiganya sibuk dengan kegiatan dan pemikiran masing-masing. Hingga pada akhirnya Suho memecah keheningan tersebut dengan bernyanyi ria.

"When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you..." Sedari tadi dia juga terus mengamati tingkah laku Chanyeol yang terlihat curi-curi pandang ke arah Sehun.

"When you hold your love, don't ever let him go or you will lose your chance to make your dream come true..."

(Song: Endah & Resha - When you love someone)

Sehun dan Chanyeol sepertinya merasa tertohok terhadap penggalan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Suho barusan.

"Yakk Suho Hyung! Berhentilah bernyanyi. Suaramu terdengar sumbang," seru Chanyeol. Sepertinya dia merasa tersindir.

"Benarkah? Tapi maknanya bagus loh..." Keduanya lalu menatap Suho tajam, seakan-akan mereka berkata diam-atau-kau-akan-jadi-semakin-pendek padanya.

"Ya...arasseo arasseo, aku tidak akan bernyanyi lagi."

Beberapa menit telah berlalu dan akhirnya mereka bertiga selesai dengan pekerjaannya. Senyum lebar terpancar dari bibir ketiganya.

"Yeah...akhirnya selesai juga!" seru Suho semangat.

"Karena kalian sudah bekerja keras, bagaimana kalau hari ini aku traktir kalian makan?" tanyanya kemudian.

"Um...boleh juga, tuh" ujar Sehun setuju. Mendengar itu Suho langsung menarik pergelangan tangan Sehun dan Chanyeol untuk keluar dari ruangan tersebut, tentunya tanpa persetujuan Chanyeol terlebih dahulu.

Mereka bertiga memilih meja yang paling pojok begitu tiba di kantin, sambil menunggu pesanan mereka datang. Suasana kantin masih sangat sepi, karena ini memang masih jam pelajaran berlangsung. Hanya ada Jongin dan juga Jongdae yang sedang melahap makanannya yang tersaji diatas meja.

"Oi Suho Hyung! Ngapain kemari?" tanya Jongin.

"Ya mau makanlah...masa iya mau nonton konser," jawab Suho.

Kening Jongdae berkerut, "Tapi kenapa ada makhluk albino juga kau bawa, Hyung?"

"Nugu?" tanya Suho balik.

"Tuh, fansnya si Chanyeol," jawab Jongdae sambil menunjuk Sehun yang duduk didepan Suho.

"Cie...makin dekat saja," goda Jongin. Sehun yang mendengarnya langsung mendelik ke arah Jongin dan mengumpat pelan. Kedua pipinya sudah tampak merona. Dia merasa malu sekarang. Sedangkan Chanyeol yang duduk disebelah Suho menatap kedua teman sekelasnya itu datar.

Beberapa menit telah berlalu. Ketiganya kini tengah menyantap makanannya masing-masing. Chanyeol sesekali nampak mencuri pandang ke arah Sehun. Mengamati bagaimana cara yeoja tersebut melahap makanannya. Cukup tenang, dan terlihat sopan. Chanyeol sangat menyukai itu.

Jongin dan Jongdae telah selesai dengan makanannya dan mereka mulai beranjak dari duduknya.

"Kami duluan semuanya!" seru Jongdae sambil berjalan diikuti oleh Jongin dibelakangnya.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Jongin mendekat ke arah Suho, dan berbisik ke telinga ketua Osis tersebut. "Kau tampak seperti obat nyamuk, Hyung." Dia lalu berlari mengikuti Jongdae yang sudah menjauh dari kantin tersebut.

Sedangkan Suho yang mendengar bisikan Jongin barusan nampak tengah berpikir. 'Betul juga apa yang dikatakan si Jongin. Ah aku harus kabur, nih' pikirnya.

"Akh..." rintih Suho kemudian sambil memegangi perutnya.

"Hyung kenapa?" tanya Chanyeol khawatir.

"Sepertinya aku harus ke toilet, deh. Perutku mules," alibi Suho. "Kalian disini saja, oke. Habiskan makanan kalian. Aku sudah membayarnya tadi. Aku akan kembali nanti."

"Tapi..."

Suho langsung bergegas pergi dari sana sambil memegangi perutnya meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang terdiam ditempatnya.

"Akting yang sangat bagus, Suho. Kau memang berbakat jadi aktor," ujarnya bangga setelah Sehun dan Chanyeol sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.

"Ekhm..." Chanyeol berdehem pelan saat dilihatnya Sehun yang terus saja mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.

"Apa Suho Sunbae masih lama?" tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan didepannya. Dia tidak berani menatap Chanyeol.

"Molla," jawab Chanyeol. Dia lalu memandang Sehun lama sambil bertopang dagu. "Sehun-ssi!" panggilnya pada Sehun.

"Ne?!" sahut Sehun.

"Apa yang kalian berdua lakukan disitu?!" teriak Kangin Saem, sang guru BK lalu menghampiri keduanya sambil membawa sebuah kayu panjang ditangannya. Chanyeol dan Sehun yang mendengarnya terlonjak kaget.

"Apa yang kalian lakukan disini, huh?" tanya Kangin Saem begitu tiba dihadapan mereka berdua.

"Makan, Saem" jawab Sehun polos. Chanyeol ikut mengangguk mengiyakan.

"Makan? YAK APA KALIAN BERDUA TIDAK PERNAH MEMBACA PERATURAN SEKOLAH, HUH?" bentak Kangin Saem sambil memukul-mukul meja dihadapannya dengan kayu yang dibawanya.

Sehun dan Chanyeol menggelengkan kepala mereka.

Kangin Saem berdecak kesal. "SISWA DILARANG ADA YANG PERGI KE KANTIN SELAMA JAM PELAJARAN SEDANG BERLANGSUNG." Beliau lalu menunjuk Sehun dan Chanyeol bergantian. "APA KALIAN BERDUA TIDAK TAHU ITU, HUH?"

"A-aniya, Saem," jawab Sehun gugup.

"Kalau kau, Park Chanyeol?" tanya Kangin Saem.

"Tidak juga, Saem."

"Huh, siswa macam apa kalian ini tidak pernah membaca peraturan sekolah. Ikut saya ke ruang BK sekarang juga."

"Tapi, Saem..."

"Tidak ada tapi-tapian," potong Kangin Saem cepat. Keduanya lalu berjalan mengikuti langkah Kangin Saem ke ruang BK.

.

.

"Oh Sehun-ssi, kenapa kau bisa berada dikantin saat teman-temanmu tengah belajar dikelas?" tanya Kangin Saem begitu mereka berada di ruang BK.

"Saya tadi di usir sama Heechul Saem, Saem" jawab Sehun.

"Mwo? Di usir? Lalu, kenapa kau bisa berada di kantin sama Chanyeol? Apa jangan-jangan...kalian berdua berpacaran?"

"Tidak Saem!/Aniya Saem!" sahut keduanya cepat.

"Baiklah, sebagai hukumannya, kalian harus membersihkan seluruh toilet yang ada di lantai satu."

"MWO?/MWO?" teriak keduanya bersamaan.

"Tapi, Saem...kami tadi-" Ucapan Chanyeol langsung dipotong oleh Kangin Saem. "Tidak ada tapi-tapian. Laksanakan hukuman kalian sekarang juga."

"Ne, Saem." Keduanya lalu keluar dari ruangan tersebut sambil menggerutu tak jelas.

"Aishh... Kenapa hari ini diriku begitu sial?! Tsk," dengus Sehun sebal.

"Apa Suho Hyung sengaja menjahili kita?" tanya Chanyeol.

"Aaah...molla," jawab Sehun sambil berjalan menuju ke toilet pertama yang akan mereka bersihkan dengan Chanyeol mengekor dibelakangnya.

.

"Kya, kenapa toilet ini sangat kotor?" ucap Sehun saat berada di dalam toilet.

"Sepertinya toilet ini jarang dibersihkan," sahut Chanyeol yang berdiri disebelah Sehun. Keduanya telah siap dengan peralatannya.

"Tsk." Sehun lalu mulai mengepel lantai toilet tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Chanyeol. Namja tinggi itu juga mulai menggerak-gerakkan sapu(?) pel nya maju mundur ke lantai.

Satu jam telah berlalu. Mereka berdua sudah membersihkan tiga toilet yang ada di lantai satu. Terhitung tinggal dua toilet lagi yang belum mereka bersihkan. Masalah bersih tidaknya, mereka tak mau ambil pusing. Yang penting intinya kelihatan bersih.

Chanyeol tampak sedang memperhatikan Sehun yang tengah mengepel lantai. Gadis itu terlihat sudah sangat kelelahan. Dia merasa kasihan padanya.

"Istirahatlah," perintahnya sambil mengepel lantai.

"Ne?"

"Kau sudah tampak kelelahan. Jadi, biar aku saja yang membersihkannya."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Aniya. Ini hukuman kita berdua. Jadi kita harus melakukannya bersama juga."

Chanyeol terenyuh mendengarnya. Dia lalu merebut pel yang dipegang oleh Sehun. "Aniya. Biar aku saja yang mengerjakannya."

"Tidak. Ini hukuman kita berdua," tolak Sehun mencoba merebut pel nya kembali.

"Andwe. Biar aku sendiri saja yang melakukannya."

"Tidak!" Dan terjadilah acara rebut-rebutan pel diantara keduanya.

"Kenapa kau keras kepala sekali, sih?" ucap Chanyeol.

"Yak apa yang sedang kalian lakukan, huh? Bersihkan lantainya dengan benar," tegur Kangin Saem sambil berdiri didepan pintu.

Keduanya terkejut saat mengetahui kalau Kangin Saem ternyata ada disitu tengah mengawasi mereka. Keduanya tidak tahu sejak kapan Kangin Saem ada disana.

Chanyeol lalu melepaskan pel yang dipegangnya. Dia kemudian mengambil sapu pel nya sendiri dan melanjutkan kegiatan mengepelnya. Dia takut hukumannya akan ditambah lagi jika dia tidak menurut.

Setengah jam telah berlalu dan hukuman keduanya telah selesai. Sehun kini tengah duduk-duduk dibawah pohon pelindung yang tumbuh di samping kelas. Menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus.

"Hari ini memang hari sialku," gumamnya.

Chanyeol melangkah menghampiri Sehun sambil membawa dua botol air mineral di kedua tangannya.

"Nih," ujarnya sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Sehun.

"Ne?" Sehun terkejut begitu melihat Chanyeol.

"Ambil lah. Kau pasti haus. Aku tidak menerima penolakan." Sehun akhirnya menerima air mineral tersebut dan langsung meneguknya hingga menyisakan setengahnya.

Chanyeol lalu ikut duduk disebelah Sehun. Menyandarkan tubuhnya di batang pohon dibelakangnya.

"Apa kau sering ke sini?" tanyanya.

"Aniya. Ini pertama kalinya aku duduk disini," jawab Sehun. Dalam hati dia merasa sangat senang bisa duduk disebelah Chanyeol lagi. Dan kali ini hanya mereka berdua, tidak ada pengganggu.

"Apa Sunbae sudah bertemu dengan Suho Sunbae?" tanya Sehun.

"Aniya. Aku tidak melihatnya tadi waktu aku ke kelas," jawab Chanyeol.

Sehun menghela napas panjang, "hari ini aku begitu sial."

"Ini adalah pertama kalinya aku dihukum. Tsk, hari ini sangat menyebalkan," lanjutnya. Dia lalu menutup kedua kelopak matanya dan menghirup oksigen dalam-dalam.

Chanyeol tersenyum mendengarnya. Dia lalu menatap wajah Sehun dari samping.

Kenapa dia begitu cantik? Batinnya. Dia kemudian menatap bibir Sehun lekat. Bibir itu...dia yang pertama mendapatkannya. Dia yang telah mencuri ciuman pertamanya.

"Sehun-ssi," panggil Chanyeol.

Sehun langsung membuka matanya dan melihat kearah Chanyeol. "Ne?"

Chanyeol nampak gugup sekarang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanga. Dia ingin menanyakan hal itu lagi pada Sehun. Kali ini dia sangat berharap Sehun tidak menghindari pertanyaannya lagi.

"Um...mengenai pertanyaanku yang itu, bisakah kau menjawabnya kali-"

"Maaf Sunbae. Bisakah Sunbae tidak membahasnya lagi? Aku mohon. Tolong jangan bahas itu lagi," potong Sehun cepat. Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya.

"Tapi..."

Sehun lalu menggenggam tangan Chanyeol erat. "Aku mohon Sunbae. Tolong... Aku tidak mau mendengarnya lagi. Jadi, lupakanlah hal itu."

"Tapi Sehun-ssi..."

Sehun lalu melepaskan tangan Chanyeol. "Maaf, aku harus kembali ke kelasku. Sebentar lagi jam istirahat. Permisi." Sehun lalu melangkah pergi meninggalkan Chanyeol yang menatap punggungnya yang mulai menjauh itu sendu.

Chanyeol tidak tahu alasan pasti kenapa Sehun selalu menghindari pertanyaannya itu. Apa tulisan di spanduk itu tidak benar? Apa Sehun tidak mencintainya? Terus kenapa Sehun tidak menjelaskan padanya? Hh, hanya Sehun dan Tuhan sajalah yang tahu.

.

.

"Kau tidak lapar, Hun?" tanya Baekhyun pada Sehun yang duduk dihadapannya tersebut.

"Tidak. Aku masih kenyang," jawab Sehun.

"Kau tampak pucat, Hun. Apa kau sakit?" tanya Kyungsoo.

Sehun buru-buru menggeleng, "Aniya. Aku hanya kurang tidur saja." Ketiganya kini tengah berada di kantin sekolah. Baekhyun dan Kyungsoo terlihat sedang menikmati siomay nya, sedangkan Sehun hanya melihat keduanya sambil bertopang dagu.

Baekhyun lalu menusuk siomay dihadapannya itu dengan sendok garpu dan menyodorkannya ke mulut Sehun. "Makanlah... Kau terlihat sangat kurus sekarang, Hun."

Sehun menggeleng pelan dan menyingkirkan tangan Baekhyun dari hadapannya. "Shireo. Aku sedang tidak nafsu."

"Ya ya ya, terserah kau saja. Tapi aku serius, kau tampak lebih kurus."

Sehun tidak menggubris ucapan Baekhyun barusan. Baginya, kurus tidaknya seseorang bukanlah hal yang penting. Yang terpenting baginya saat ini adalah bagaimana caranya agar dia berhenti memikirkan seorang Park Chanyeol.

Kyungsoo mengabaikan makanan didepannya dan malah mengamati Sehun yang tengah melamun dihadapannya itu. Menurutnya hari ini Sehun tidak seperti biasanya. Seperti ada yang tengah di pikirkannya. Entah apa itu, dia tidak tahu. Kyungsoo lalu memicingkan matanya saat melihat Sehun.

"Hun-ah!" panggilnya. Namun Sehun tak bergeming.

"Sehun-ah!" panggilnya lagi sambil mencolek pipi Sehun.

"Ne?"

"Kau...mimisan?" ucap Kyungsoo sambil menunjuk hidung Sehun.

"Benarkah?" Sehun berniat memegang lubang hidungnya, namun Baekhyun menahannya.

"Pakai ini," perintah Baekhyun sambil menyodorkan selembar tisu yang diambilnya dari atas meja.

Sehun menerimanya dan mulai menggunakannya. Benar saja, ada noda darah di tisu tersebut. Dia lalu beranjak berdiri dari duduknya.

"Kau mau kemana?" tanya Kyungsoo dengan raut wajah cemas.

"Aku mau ke toilet," jawab Sehun lalu melangkah pergi menuju ke toilet.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Baekhyun begitu melihat punggung Sehun yang mulai menjauh dari hadapannya. Kyungsoo yang berada disampingnya mengendikkan bahu tidak tahu.

.

Sehun langsung membersihkan darah yang mengalir dihidungnya begitu dia tiba di dalam toilet. Yeoja tinggi itu lalu menatap pantulan dirinya di cermin sendu.

"Wae?" ucapnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya yang siap mengalir jika dia berkedip.

"Wae? Kenapa hiks harus aku?" Dia mulai terisak, "Hiks...aku juga ingin bahagia, Tuhan..." Sehun terduduk di lantai keramik yang dingin itu saat di rasakannya kakinya yang mulai melemas. Tubuhnya bergetar.

"Eomma...hiks appa...ini hiks sangat sulit hiks..." isaknya.

.

Yixing melangkahkan kedua kakinya menuju ke kelas Baekhyun. Dia sedang mencari sosok Sehun sekarang. Dia tadi mendapat amanat dari Hyoyeon Saem agar mencari Sehun dan menyuruhnya agar menghadap ke wali kelasnya tersebut. Namun dia tidak menemukannya didalam sana. Baekhyun dan Kyungsoo juga tidak ada disana. Mungkin mereka ke kantin karena ini memang jam istirahat. Pikirnya.

"Baekhyun-ssi!" seru Yixing saat di lihatnya Baekhyun yang tengah asyik memakan siomay dihadapannya bersama Kyungsoo. Yeoja itu lalu melangkah menghampiri keduanya.

"Oh, hai Yixing. Ada apa?" sahut Baekhyun.

"Um, apa kalian melihat Sehun?" tanya Yixing. "Hyoyeon Saem mencarinya tadi."

"Oh, dia pergi ke toilet," jawab Baekhyun.

Setelah mendapatkan informasi dari Baekhyun, Yixing melangkahkan kedua kakinya menuju ke toilet yang terdekat dengan kantin.

"Wae? Kenapa hiks harus aku?"

Samar-samar Yixing mendengar suara seseorang didalam toilet sana tengah terisak. Dia lalu berjalan menuju pintu toilet tersebut.

"Hiks...aku juga ingin bahagia, Tuhan..."

"Bukankah itu suara Sehun?" Yixing menempelkan telinganya ke pintu dihadapannya tersebut.

"Eomma...hiks appa...ini hiks sangat sulit hiks..."

"Tidak salah lagi, itu pasti Sehun," ucap Yixing yakin. Dia lalu mengetuk-ngetuk pintu tersebut. "Sehun-ssi! Apa kau didalam?"

"N-ne. Tunggu sebentar!" sahut Sehun. Dia lalu berdiri dan menghapus air matanya cepat.

"Yixing-ssi? A-ada apa?" tanyanya saat dilihatnya Yixing sudah menunggunya di depan pintu.

"Kau kenapa? Aku tadi mendengarmu menangis tadi. Apa kau baik-baik saja, Sehun-ah?" tanya Yixing khawatir.

"A-aku baik-baik saja, kok."

Yixing menatap Sehun penuh selidik. "Jangan bohong, Sehun-ah."

"Aku tidak bohong, kok. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh, Hyoyeon Saem menyuruhku untuk mencarimu. Kau disuruh menghadap pada beliau."

"Oh. Baiklah, aku akan keruangannya sekarang." Sehun lalu melangkahkan kedua kakinya menuju ke ruang guru meninggalkan Yixing yang menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya besar dikepalanya.

.

.

"Oh Sehun-ssi," panggil Hyoyeon Saem pada siswi yang duduk dihadapannya.

"Ne, Saem."

"Akhir-akhir ini saya lihat persentase kehadiranmu sangat menurun drastis daripada bulan kemarin. Bahkan dalam sebulan ini ada dua minggu kau tidak hadir."

"Ne Saem."

"Bahkan kau pernah membolos pelajaran Fisika. Dan saya dengar tadi kau diusir dari kelas karena tertidur. Apa itu benar, Sehun-ssi?"

Sehun menundukkan kepalanya. "Ne Saem. Maafkan saya."

"Saya tahu kau anak yang paling cerdas di tingkat dua ini. Tapi, jika persentase kehadiranmu seperti ini terus, kau bisa saja tidak naik kelas. Kau tahu kan, kalau nilai saja tidak cukup sebagai indikasi untuk naik kelas. Jadi, sebagai wali kelasmu saya minta dengan hormat, tolong perbaiki kehadiranmu. Mengerti Sehun-ssi?"

"Ne, Saem. Saya akan mengusahakannya."

"Baiklah, mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan padamu. Kau boleh kembali ke kelasmu sekarang."

Sehun keluar dari ruangan tersebut dengan kepala yang ditekuk kebawah. Dia tidak mengerti, kenapa hari ini dia begitu sangat sial. Pertama, dia ketiduran di kelas dan diusir keluar. Kedua, dia dihukum membersihkan toilet. Dan ketiga, dia mendapat teguran dari wali kelasnya.

"Hh! Menyebalkan," dengusnya sebal.

.

.

.

Tbc...