.
"Apakah disana kau sudah mendapatkan sahabat baru, Nona Hyuuga? Hingga sekedar menelpon sahabat lamamu yang kesepian ini menjadi tak penting lagi eh?"
Aku tertawa renyah saat suara merajuk terdengar dari seberang telepon.
"Aih, Karin-chan, aku kangen sekali padamu! Disini stok manusia serame dan semenyenangkan dirimu sudah habis!" ujarku masih terkekeh.
"Ck, tak usah merayuku, Hyuuga! Aku masih marah padamu kenapa kau baru menghubungiku sekarang?!"
"Gomen, gomen. Aku sibuk menyiapkan apartemen disni dan beberapa hal lainnya. Aaah, sebenarnya aku benci harus beradaptasi lagi, Karin-chan! Tolong aku!"
"Bagaimana cara aku menolongmu dari sini, baka!" Kudengar Karin menghela nafas sebelum melanjutkan, "Percaya dirilah, Hinata! Kau cantik dan pintar! Kau bisa berteman dengan siapa saja jika kau mau. Masalahmu itu di rasa rendah diri dan gagap sialanmu itu!"
"Ga-ga-gap si-sialan?"
"Tuh kan, kau sudah gagap lagi. Angkat kepalamu dan tunjukan bahwa kau seorang Hyuuga." Aku tersenyum mendengar nasihatnya yang berapi – api. "Nee, Hinata, katakan padaku, apakah disana kau menjadi korban bully? Seperti yang ada di dorama – dorama itu! Hahha, dan ada pangeran cool tampan yang akan menolongmu. KYAAAAAA!"
Aku sedikit menjauhkan handphone dari telingaku demi mengindarkanku dari penulian dini.
"Jangan berlebihan, Karin! Mana ada yang seperti itu di dunia nyata. Yeah, mungkin ada. Tapi tidak di SMA baik – baik seperti Suna Kouko. Aku akui disini siswa – siswanya lebih dingin. Mereka baik sih, hanya saja aku merasa ada tembok tak kentara yang menghalangiku berbaur diantara mereka. Mereka tampaknya tak mudah menerima kehadiran orang asing," ceritaku muram.
"Oh, Hinata-chan..."
"Haha, dan tentang si pangeran cool—"
"APA? Jadi beneran ada pangeran tampan cool-oh-so-damn-sexy yang menolongmu?! KYAAA!"
Lagi – lagi aku menjauhkan handphone dari telingaku. Sekarang ada tambahan cool-oh-so-damn-sexy eh?
"Hahaha, yeah aku rasa dia bisa dikatagorikan cool-oh-so-damn-sexy seperti yang kau katakan. Dia sangat minim ekspresi tapi cukup baik dan sering menolongku di kelas. Meski—"
"Apa kabar, Hinata-chan?"
Aku tercekat. Itu bukan suara Karin. Itu suara dari seseorang yang sangat kurindukan. Aku siap menitikkan air mata saat ini juga hanya karena mendengar suara baritone selembut beludru itu diseberang telepon. Apa aku bermimpi? Apakah aku sebegitu merindunya hingga berdelusi mendengar suaranya?
"Kau masih disana, Hinata-chan?"
"Na-naruto-senpai?"
Aren't you somethin' to admire?
'Cause your shine is somethin' like a mirror
And I can't help but notice
You reflect in this heart of mine
If you ever feel alone and
The glare makes me hard to find
Just know that I'm always parallel on the other side
.
.
.
Your Eyes
.
.
Disclaimer :
Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei ever after
Mirror song by Justine Timberlake
And oh yeah, the nice cover picture this fic is not mine Jhehe
.
Pairing : NaruHina
Warning : AU, OOC maybe, Typos
.
.
.
Chapter 6. Mirrors
.
Aku berjalan memasuki rumah dengan gontai sepeti biasa. Ah, sabar. Sabar. Aku harus sabar beberapa minggu lagi. Dan aku tak akan lagi harus menghadiri Bimbel-persiapan-Ujian-Masuk-Univesitas-sialan ini!
"Nee, Hinata, katakan padaku, apakah disana kau menjadi korban bully? Seperti yang ada di dorama – dorama itu! Hahha, dan ada pangeran cool tampan yang akan menolongmu. KYAAAAAA!"
Langkahku tiba – tiba terhenti mendengar pekik suara yang tak asing itu. Bukan karena pemilik suara cempreng itu. Itu suara Karin. Aku terhenti karena sebuah nama yang sempat Karin ucapkan tadi.
Nyaris tanpa berpikir dan menyadari apa yang aku lakukan, aku melangkah mendekati Karin.
"APA? Jadi beneran ada pangeran tampan cool-oh-so-damn-sexy yang menolongmu?! KYAAA!"
Tanpa peringatan aku merebut handphone Karin dan mendekatkannya ke telingaku.
Seketika serasa air dingin menetes ke kepalaku saat ku dengar suaranya yang lembut dari seberang sana. Dingin yang nyaman dan menyegarkan. Aku tersenyum. Sepenuhnya mengabaikan pelototan marah yang Karin layangkan karena aku membekap mulutnya agar tak berteriak. Ah, itu bisa diurus belakangan.
"Apa kabar Hinata?"
Hening. Tak ada jawaban. Aku menjauhkan telepon dari telingaku sebentar untuk melihat apakah masih tersambung atau tidak. Dan dengan kelegaan luar biasa aku melihat penghitung waktu panggilan masih bergerak maju. Untunglah Hinata tidak langsung menutup teleponnya begitu mendengar suaraku. Well, setidaknya belum.
"Apakah kau masih disana, Hinata?"
"Na-naruto-senpai?"
"Ya, ini aku Naruto," Aku tersenyum mendengar suaranya lagi.
"..."
"..."
"Etto...." Dan sekarang apa? Apa yang harus ku katakan padanya? "Pulanglah Hinata,"
"Hehhh?"
"Eh?" Siapa yang tiba – tiba mengambil mulutku dan berbicara seperti itu ke Hinata?! "Maksudku pu-pulang, ka-kapan kau pulang kesini Hinata?"
"Oh. Aku kan baru saja beberapa minggu memulai hari aktifku di SMA Suna, senpai. Masih sangat lama pulangnya tentu. Apalagi aku memutuskan untuk menerima tawaran perpanjangan pertukaran menjadi 1 tahun. Jadi—"
"APA?! Ja-jadi sa-satu tahun?! Lalu bagaimana denganku? Kau... kau tak akan datang ke upacara kelulusanku donk?! Tidak! Kau harus datang!"
"Ka-kalau soal itu aku—"
"Neji! Ya, bagaimana dengan Neji?! Bukankah sebagai adik yang baik kau harus menghadiri upacara kelulusannya? Teganya kau—"
"Naruto-senpai!" Aku otomatis menghentikan racaunku yang tak jelas karena Hinata memanggilku agak keras. "Aku akan hadir kok, Senpai. Tenang saja. Aku akan hadir,"
Sejenak aku terpaku mendengar suaranya, "Err.., ye-yeah ba-baguslah kalau begitu. Maksudku kau kan adiknya Neji jadi ma-maksudku—AAAUUWW!!" Teriakku kesakitan karena Karin menggigit tanganku yang membekapnya.
"Hey, Kau piranha? Sakit baka!" erangku kesakitan sambil mengusap – usap tanganku sayang. Sial gigitannya sakit sekali.
"Siapa suruh mengganggu obrolanku dengan Hinata-chan. Weeek!" Dan dengan sopannya dia melet sambil merebut kembali handphone-nya untuk kemudian ngeluyur pergi begitu saja.
Dasar sepupu kurang ajar!
.
.
"HOREEE!"
" AKHIRNYA KITA BEBAS!"
Aku terkekeh mendengar pekikan bahagia teman – temanku seangkatan merayakan Ujian Negara yang baru usai beberapa menit yang lalu. Akhirnya saat – saat seperti ini datang juga. Saat – saat kami bisa bersantai di rerumputan belakang sekolah sambil memandang langit seperti yang dilakukan Shikamaru. Atau Lee yang sedang menarik – narik Neji untuk bertanding judo dengannya. Atau bahkan Kiba dan Suigetsu yang sedang teriak – teriak tak jelas dipojok sana. Ah, jadi ingin ikut – ikutan teriak juga—
"AHHHH AKHIRNYA AKU BISA MAKAN RAMEN DENGAN BAHAG—"
DUAK!
—dan sebuah lemparan bola basket sukses menghantam kepalaku.
"TEMEEE! APA YANG KAU LAKUKAN?! BAGAIMANA KALAU AKU GEGAR OTAK HAH?!"
"Hn. Tak masalah. Ujian kita kan sudah selesai," ujar si pelaku pelemparan yang tak lain adalah sahabat pantat ayamku.
"Oh iya, benar juga—"
DUAK!
Sebuah hantaman buku menghantam kepalaku. Namun kali ini melalui pelaku yang berbeda.
"Dasar bodoh! Memangnya kau akan menggunakan otakmu hanya untuk ujian ini saja hah?"
"Sa-sakit, Sakura-chan~ Kenapa kau juga malah memukul kepalaku kalau begitu? Hiks..."
"Eh, hehe maaf. Refleks," ujar Sakura tersenyum innocent. Ck, mereka memang sahabat paling baik sedunia eh? "Aku rasa aku akan sangat merindukan kaian berdua. Nee, kalian berdua jadi meneruskan ke Universitas yang kalian tulis di form waktu itu?"
"Yep. Positif. Aku sudah mendapatkan pengumuman resminya. Fix diterima di Universitas Suna," ujarku terseyum lebar sambil mengacungkan dua jari simbol peace.
"Wah, benarkah? Selamat Naruto!"
"Hehe, lalu kalian berdua gimana? Jadi melanjutkan di Universitas Konoha? Kodekteran dan Bisnis di UK kan bagus tuh! Cie, kalian akan bersama lagi nih kalau begitu. Hanya aku yang terlempar ke Suna. Hahaha...ha..ha—"
"...'
"..."
Oh, apakah aku salah bicara? Mengapa atmosfernya jadi akward begini?
"Aku ke kantin dulu membeli minuman," Tiba – tiba saja Sasuke beranjak pergi.
"Oh, O-oke," Aku memandang Sakura penuh tanya. Namun dia hanya tersenyum penuh arti.
"Aku akan pergi dari Konoha Naruto,"
"A-Apa?!"
"Ibu akhirnya memutuskan untuk bercerai dari Ayah. Kami berdua akan memulai lembaran baru di Ame. Jadi aku akan melanjutkan kuliahku di Ame University. Memang Kedokteran disana tak sebagus di Universitas Konoha tapi apa boleh buat. Selama aku bekerja keras pasti aku akan berhasil menjadi dokter hebat! Itu yang selalu Naruto Uzumaki ajarkan padaku kan?" ucap Sakura mengedipkan sebelah matanya padaku lalu tertawa terbahak – bahak.
Aku senang akhirnya ia bisa menyelesaikan permasalahan keluarganya. Inilah Sakura yang sebenarnya. Sakura yang ceria dan bersemangat. Bukan Sakura yang terpuruk dan hampir memutus nadi— Ah, bahkan aku tak sanggup mengatakannya.
Jiii~
"Err, a-apa ada sesuatu di wajahku Sakura?" ujarku menggaruk pipiku salah tingkah karena Sakura terus menatapku intens sambil tersenyum penuh arti.
"Iie, aku hanya berfikir. Kau pasti tidak ke Universitas Suna hanya karena jurusan Arsitek disana yang paling bagus kan? Aku yakin kau pasti punya maksud tersembunyi,"
"A-apa?! Te-tentu saja karena itu. Ka-karena apa lagi coba?"
"Hemmm, souka... Hemm..."
"Ye-yeah, Hinata yang sedang pertukaran di Suna ha-hanya sebagai bonus saja kok,"
Sakura terpingkal – pingkal melihatku membuang muka salah tingkah saat mengatakannya. Sialan! Aku memang tak bisa berbohong di depannya.
"Aku senang akhirnya kau menemukan seseorang yang benar – benar kau sukai, Naruto. Kau orang baik, dan pantas mendapatkan cinta yang baik juga. Yah, meski Hinata terlalu baik sih. Aku turut berduka cita untuk Hinata karena mendapatkanmu. Dia terlalu manis untukmu,"
"Huwaa, kau jahat Sakura-chan," rengekku dan Sakura hanya tertawa lepas, "Arigatou,"
Sakura menghentikan tawa nistanya demi mendengar nada suaraku yang mendadak serius.
"Terimakasih, karenamu aku sadar akan perasaanku yang sebenarnya ke Hinata. Hinata memang cintaku yang sebenarnya dan sangat harapkan akan jadi cinta terakhirku. Namun kau adalah cinta pertamaku Sakura. Mungkin ini alasan kenapa cinta pertama biasa disebut first crush karena sering kali berakhir crush. Hahaha,"
"Naruto..." lirih Sakura. Aku memandang langit untuk menghindari menatap matanya yang berkaca – kaca.
"Aku tak menyesal. Kau memang my first crush yang telah memesonaku sejak pertemuan pertama kita. Bagaimana pun juga kau yang mengajarkanku pertama kali tentang arti cinta. Kau tahu? Bahkan aku masih menyimpan topi rajut ungumu sebagai kenang – kenangan pertemuan pertama kita. Haha,"
"Hem? Topi ungu?" ujar Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Aku tak—"
"Ah, itu Sasuke sudah kembali," Aku melihat Sasuke di kejauhan berjalan menghampiri kami. "Aku tahu kau belum membicarakan perihal kepergianmu ke Ame dengannya. Bicaralah. Aku rasa kalian perlu waktu bicara berdua. Aku harap apa pun keputusan kalian tentang hubungan kalian berdua, kita bertiga bisa terus bersahabat. Yaah, meski aku tahu rasanya pasti tak akan sama lagi,"
Sakura memalingkan wajah dariku hingga aku tak bisa melihat ekspresinya. Namun ku lihat dia mengangguk tanda menyetujui perkataanku.
"Semoga sukses! Jaa~" aku menepuk bahu Sakura pelan sebelum pergi berlalu.
.
.
It's like you're my mirror
My mirror staring back at me
I couldn't get any bigger
With anyone else beside of me
And now it's clear as this promise
That we're making two reflections into one
'Cause it's like you're my mirror
My mirror staring back at me, staring back at me
Sial! Sial! Siaaal! Kalau begini terus kapan aku bisa menemui Hinata! Padahal dia disini Cuma sehari doank dan segera ke Suna. Arrgggghh! Aku tak menyangka di hari kelulusanku mereka jadi semakin menjadi – jadi mengejarku!
Oh? Kalian tanya siapa yang menegejar?
Tengoklah beberapa meter di belakang tempatku bersembunyi—
"NARUTO-SENPAI! DIMANA DIRIMU?"
NARUTOOO-KUUN! AKU MOHON BERI AKU SALAH SATU KANCING SERAGAMMU!"
Cewek – cewek itu tak membiarkanku bernafas lega sedikitpun hari ini. Setidaknya keadaanku masih lebih baik dari pada Sasuke. Jangan bertanya keadaan Sasuke seperti apa. Kalau aku saja harus bersembunyi di semak – semak belakang samping halaman sekolah yang banyak nyamuknya, bayangkan sendiri keadaannya yang sepuluh kali lipat lebih populer dariku. Khekhekhe, setidaknya pakainku masih lengkap.
"Na-naruto-senpai? Apa yang kau lakukan disitu?"
Aku mendongak dengan ekspresi horor mendengar suara seseorang yang menemukan keberadaanku. Sial! Mengapa harus dia?! Dari sekian banyak orang mengapa harus dia yang memergokiku dalam posisi nista seperti ini?!
"Hi-Hinata-chan?!" Aku segera berdiri dari posisi jongkok untuk mengembalikan kehormatanku. "Hehehe, ka-kau disini Hinata-chan? Kenapa kau tertawa?" tambahku karena melihat Hinata yang tiba – tiba tertawa geli.
"Pppfft... Ma-maaf, senpai. Aku tak bermaksud menertawaimu kok. Hanya saja... akhirnya para fans girl-mu berhasil membuatmu terdesak seperti ini ya, Senpai? Hehe,"
"Aku sendiri juga tak menyangka bahwa mereka bisa seganas ini! Lihat semua kancing seragamku ludes karena ulah mereka,"
"Kau bahkan tidak menyisakan satu untukku. Padahal aku jauh – jauh datang untuk meminta kancing darimu sebagai kenang – kenangan," gumam Hinata mengalihkan pandangannya dariku. Aku harus mengerjap beberapa kali untuk memastikan apa yang ku dengar.
"Untuk apa kau ikut – ikutan cewek – cewek ganas itu berebut kancing tak berguna ini, Hinata-chan?"
Hinata mendongak menatapku. Tatapannya berangsur menyendu. Apa? Apa ucapanku menyakiti hatinya lagi ?
"Maksudku, kau tak memerlukan kancing ini kan, Hinata? Buat apa? Aku selalu ada untukmu,"
"Tidak," Hinata mendongak menatap mataku, "Kau tidak selalu ada untukku. Kita sudah berakhir. Kau yang memintaya seperti itu. Sudahlah, aku pergi saja. Jaa, Senpai,"
Aku segera menangkap pergelangan tangannya sebelum dia berhasil lari dariku. Dia berhenti tapi tetap tak mau berbalik ke arahku.
"Aku ingin kita kembali bersama, Hinata. Aku tahu rasamu belum habis untukku,"
"Apa aku terlihat begitu menyedihkan dimatamu, Senpai? Tidak, terima kasih. Jangan memberiku harapan lagi kalau kau tidak mencintaiku. Karena nantinya kau akan menyakitiku lagi. Aku tak butuh rasa kasihanmu, Senpai,"
"Tapi Hinata—"
"Cukup, Senpai! Aku tahu kau tidak mencintaiku. Jadi, aku juga akan belajar tidak mencintaimu lagi agar kau tak merasa bersalah. Tenang saja, usahaku akan berhasil. Selamat tinggal, Senpai"
Aku sedikit lengah sehingga Hinata menyentak pegangan tanganku dan segera berlari menjauh. Ah, Sial! Belajar tidak mencintaiku lagi eh katanya? Kheh, jangan harap aku akan diam saja membiarkan hal itu terjadi! Menyerah tidak ada dalam kamus Naruto Uzumaki.
'Cause I don't wanna lose you now
I'm lookin' right at the other half of me
The vacancy that sat in my heart
Is a space that now you hold
Show me how to fight for now
And I'll tell you, baby, it was easy
Comin' back here to you once I figured it out
You were right here all along
.
.
Tidak. Tidak. Tidak seperti ini yang ku bayangkan saat aku memutuskan untuk memberi Hinata sedikit waktu berfikir—tidak, bukan berfikir tapi bersiap untuk kembali ke pelukanku.
Aku hanya berhenti mengusiknya selama 3 hari dan lihatlah kini! Dia asyik berduaan ngopi dengan cowok mesum rambut merah mencolok yang menyakitkan mata. Bisa – bisanya Hinata tertipu dan amat sangat manis tersenyum renyah untuk bocah kurang ajar itu. Dari wajahnya saja aku tahu dia pasti bukan pria baik – baik. Mana ada anak SMA baik – baik yang menatto dahinya. Ah, jangan – jangan bocah ini yang Hinata dan Karin gosipin tiap mereka mengobrol di telepon!
Eits, Eits, Eits! Hey, jaga tanganmu, Anak Muda! Beraninya kau menyentuh wajah Hinata-ku! Pura – pura membersihkan remah kue di sudut bibir! Dan apa – apaan wajah merona yang Hinata tunjukan itu?! Beraninya dia menunjukan wajah merona itu selain di depanku?!
"Wah, lihat pasangan di dekat jendela itu! Mereka serasi sekali ya?"
"Iya, cowoknya romantis sekali ke ceweknya! Kyaaaa!"
Aku memberikan death glare gratis kepada dua orang cewek penggosip yang duduk tak jauh dariku—yang tentu saja tak disadari cewek – cewek itu. Sial! Apa mereka buta?! Hinata dan Setan Merah itu tidak serasi sama sekali!
Tidak! Aku sudah tidak tahan! Mereka berdua asyik bermesraan di sana, sedangkan aku, Naruto Uzumaki, harus mumpet – mumpet bak stalker untuk mematai – matai mereka dari belakang. Nista sekali. Aku harus mengambil milikku kembali!
"Sepertinya kencanmu menyenangkan sekali eh, Nona Hyuuga?"
Aku sangat menikmati bagaimana Hinata menoleh ke belakang dengan gerakan robot untuk kemudian mendongak menatapku takut – takut.
"Na-na-naru-ruto-sen-senpai?"
Aku berusaha memberikan kesan senyum ekstra manis untuknya. Namun melihat raut wajahnya yang malah bertambah pucat pasi sepertinya dia bisa melihat aura mencekam di belakangku.
Aku mencekal tangan Hinata dan menariknya berdiri. Mengabaikan pekik kecil Hinata, aku menatap tajam Setan Merah di depanku.
"Maaf, boleh aku membawa pulang, Nona ini? Kami punya urusan keluarga yang harus segera diselesaikan,"
Si Setan Merah itu hanya diam saja menatapku datar namun menusuk. Dia lalu mengalihkan pandangannnya ke arah Hinata dan tiba – tiba saja tatapannya berubah lembut. Cih!
"Kau pergi saja, Hinata. Selesaikan dulu masalahmu dengan PAMAN ini," —APA?! PAMAN?! AKU TAK SETUA ITU TAHU?! — "Kita bertemu di sekolah besok. Aku tak sabar mencicipi bento buatanmu lagi," tambah Setan Merah itu sambil menoleh ke arahku, tersenyum pongah.
"Ah, baiklah kalu begitu, Gaara-kun! Terimakasih untuk trakti—"
Aku tak membiarkan Hinata menyelesaikan kalimatnya. Aku segera menariknya keluar dari caffe itu. Aku terlalu marah untuk mengindahkan protes Hinata tentang tangannya yang sakit dan langkahku yang terlalu cepat. Aku terus menariknya menyusuri trotoar dan berbelok di sebuah gang yang tampak sepi sehingga kami bisa bicara. Aku menempelkan punggungnya pada tembok gang dan bersedekap menjulang di depannya. Dia memilih menghindari tatapan penuh intimidasiku. Tangannya meremas – remas tali tas slempangnya gelisah.
Aku menghela nafas lelah dan memejamkan mata sebentar sebelum berucap, "Mari kita bertunangan saja nee, Hinata? Aku akan segera meminta Jiisan untuk secepatnya mengirimkan lamaran ke Hiashi-san,"
Hampir saja aku kehilangan akting seriusku melihat ekspresi melotot campuran kaget dan marah dari Hinata.
"A-apa kau gila, Senpai? Kita bahkan tidak pacaran, ingat?"
"Kau yang membuatku gila, Hinata," Aku maju untuk menipiskan jarak di antara kami. Tanganku terulur memainkan poni di dahinya," Aku sengaja menyewa apartemen di samping apartemenmu agar kita tetap bisa berdekatan di Suna. Tapi kau bahkan selalu bersikap dingin padaku. Lalu aku harus bagaimana, Hinata? Tanpa gangguan si Setan Merah saja, kebersamaan kita sudah berkurang karena si Sadako-Neji yang ternyata mengikutimu ke Suna. Jadi, kita bertunangan saja nee, Hinata?"
"Tidak," ketegasan dalam suara Hinata membuatku terperangah dan semakin kesal, "Senpai apa-apaan sih, aku masih SMA! Aku masih ingin bersenang – senang!"
"Kau masih bisa bersenang – senang meski kita telah bertunangan, Hinata. Tidak buruk kan? Lagi pula kau kan masih mencintaiku tentu saja,"
"Ti-tidak, a-ku kan sudah belajar tidak mencintaimu lagi, Se-senpai," cicit Hinata sok berani, yang gagal total karena suaranya semakin bergetar di akhir kalimat. Apalagi ditambah aku yang semakin menipiskan jarak di antara kami. Dia tampak menahan nafas dan mengalihkan pandangannya ke samping.
"Sejak kapan kau jadi suka membantah seperti ini, Hinata? Ck, pasti ini pengaruh buruk dari Setan Merah itu! Kau harus menjauhinya Hinata. Dia tidak baik untukmu,"
"Dia punya nama, Senpai. Gaara. Dia temanku. Dan dia baik kepadaku. Aku tak bisa menjauhinya begitu saja tan—"
Seketika Hinata bungkam. Aku menatap ke matanya dan tersenyum dalam ciumanku melihat dia yang melotot shock. Ya, aku menciumnya.
Oke, aku tahu aku lancang. Salahkan saja sifat impulsifku. Namun, aku tak menyesal. Aku tak suka dia membicarakan Setan Merah itu dan inilah satu – satunya cara yang terpikir untuk membungkamnya. Well, aku ngaku. Sebenarnya bukan karena itu. Aku saja yang tak tahan untuk tak menciumnya sedari tadi aku melihatnya terus protes dengan bibir tipis pink miliknya.
Rasanya lembab. Lembab yang manis. Aku memagut bibirnya selembut mungkin dan memejamkan mata meresapi rasa manis yang lembut itu di atas bibirku.
Aku membuka mata dan melihatnya masih memejamkan mata. Aku mengusap pipinya yang merona dan perlahan dia menunjukan Amethyst Violet-nya yang berkedip – kedip lucu. Dia tampak masih shock. Aku tersenyum dan mengunci tatapannya ke kedalaman mataku.
"Aku tak bisa kehilanganmu lagi Hinata. Sungguh. Kau memang bukan yang pertama untukku. Namun akan ku pastikan kau adalah yang terakhir. Aku mencintaimu, Hyuuga Hinata,"
Hinata menatapku dengan mata berkaca – kaca. Violett-nya menyelami Biru milikku seolah mencari kebenaran disana.
Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. Aku senang dia membalas pelukanku.
"So, kita jadi bertunangan kan, Hinata-chan?"
Hinata tak menjawab. Namun ku rasakan gerakan seperti anggukan saat Hinata semakin membenamkan kepalanya di dadaku. Aku terkekeh geli membayangkan wajahnya yang sekarang pasti memerah akut.
Khekhekhe, sepertinya sekarang aku tahu cara ampuh untuk membujuk Hinata.
—dan aku bersyukur Hinata saat ini tak bisa melihat evil—coret angel smirk di wajahku.
Aren't you somethin', an original
'Cause it doesn't seem merely assembled
And I can't help but stare, 'cause
I see truth somewhere in your eyes
I can't ever change without you
You reflect me, I love that about you
And if I could, I would look at us all the time
'Cause with your hand in my hand and a pocket full of soul
I can tell you there's no place we couldn't go
Just put your hand on the glass
I'll be tryin' to pull you through
You just gotta be strong
It's like you're my mirror
My mirror staring back at me
I couldn't get any bigger
With anyone else beside of me
And now it's clear as this promise
That we're making two reflections into one
'Cause it's like you're my mirror
My mirror staring back at me, staring back at me
.
.
.
Tamat
.
A/N:
Arrggggg!
Akhirnya tamat juga :D
but not officially End yet :) karena rencananya setelah ini masih ada Epilog. Maka dari itu tanda fic ini masih on going belum saya ganti jadi completed
Moga pembaca menantikan chap epilog besok hahaha #ngarep
Maaf karena untuk saat ini belum bisa bales review satu - satu, terutama yg gak login . reviews kalian saya baca semua kok dan saya terharu #hiks
terimakasih sudah sudi memberi saran2 untuk perbaikan fic dan penulisan saya. Maaf kalo fic ini tidak sesuai ekspektasi yang kalian harapkan, mungkin fic ini sedikit membosankan dan tanpa konflik yang bagus , idenya pasaran lagi. hahaha...
Maaf juga kalo endingnya gak sesuai harapan-terutama yang pingin ending Naruto sengsara. #hahaha
Endingnya bahagia tentu saja :D karena entah kenapa pasangan NaruHina yang paling tidak bisa saya bayangkan untuk berakhir sad, hehehe
atau mau sekuel yang genrenya angst/tragedy biar sad ending? hehe
Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan fic saya ini, terimakasih sudah membaca. Semoga pembaca suka :D
Boleh deh kalau mau repiu repiu lagi.. Hehehe, kritik dan sarannya donk agar saya lebih baik di karya selanjutnya ;)
.
See u next fict :D
.
.
cc. Anitaa Hyuga, Senfai295, Azu-chan NaruHina, Hinata Lovers, durarawr, nana, saus, yudi, anmotouka san, Triavivi354, widia, firdaus minato, Ayra Uzumaki, Guest(s), etc.
.
.
Next : Epilog
.
19.11.2015
