Mine to Take

[Chapter Five]


Preview

"Apakah─ada orang di sana?"

Kyungsoo tidak sendirian.

"Tolong aku!"

"Ms. Do?"

"Dia ada di sini,"

"Sialan, kau bisa mengalami gegar otak."

"Dia membanting kepalaku ke cermin. Jimin datang...sebelum dia melakukan hal lain."

'Aku akan menjadi satu-satunya.' Kedua tangan Kyungsoo gemetar.

"Aku antar kau ke rumah sakit."

-o-

Mine to Take

-o-

"Sudah pasti gegar otak," kata dokter saat menyorotkan cahaya pada mata bulat Kyungsoo.

Jongin menyilangkan lengan di depan dada. Dia mundur kebelakang ketika dokter memeriksa Kyungsoo. Tapi dia tidak akan meninggalkan ruang pemeriksaan yang sempit itu. Jongin sedang tidak dalam mood membiarkan Kyungsoo keluar dari pandangannya.

"Kami membutuhkanmu untuk tinggal semalaman," kata Dr. Zang Yixing saat ia menurunkan cahayanya. "Ini tindakan pencegahan dalam situasi seperti ini—"

"Tidak," kata Kyungsoo, yang langsung menolak kata-kata dokter. "Aku mau pulang."

"Aku tidak berpikir kau menyadari bagaimana bahayanya gegar otak." Dokter berbicara dengan hati-hati, masih di samping tempat tidur dengan tenang mengerjakan beberapa dokumen, mengurusnya dengan begitu mudah.

"Cidera otak tak bisa di tebak. Gegar otakmu tampaknya ringan sekarang. Tetapi bagaimana jika kamu kejang di tengah malam? Bagaimana jika kamu jatuh...adakah orang yang dirumah yang bisa menolongmu?"

Tatapan Kyungsoo berpindah pada Jongin, lalu kembali ke dokter.

"Aku—aku akan baik-baik saja." Tentu ia akan sendirian. Dokter menoleh kebelakang.

"Aku pasiennya," Kyungsoo mengingatkan. Jongin agak terkejut dengan kemarahan dalam suaranya. Sebelumnya, Kyungsoo ketakutan. Dia sudah gemetar ketika Jongin pertama kali bergegas masuk ke studio itu.

Jimin seharusnya menjaganya lebih baik. Agen yang kacau. Tidak, aku yang kacau. Seharusnya aku yang terus di dekatnya. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang.

"Apakah kau... berhubungan dengan pasien?" Dokter bertanya pada Jongin. Jelas berusaha untuk mencari tahu hubungannya dengan Kyungsoo.

Jongin mengangguk. "Dia tidak akan sendirian." Suatu ketegangan mereda di wajah dokter. "Kau harus menjaganya tetap terjaga. Mengawasinya sepanjang malam."

"Jongin..." Kyungsoo mulai.

"Anggap saja masalah ini selesai." Sergah Jongin.

Dokter mengangguk. Tampak bersyukur. "Aku akan menyiapkan surat perintah keluar rumah sakit." Tapi kemudian dia ragu-ragu.

"Kau akan memantaunya?"

"Sedekat mungkin." Pria itu berjanji tanpa mengalihkan pandangan dari Kyungsoo.

Dokter bergegas keluar dari ruangan, dan Jongin menuju ke meja pemeriksaan. Dia mengunci matanya dengan Kyungsoo. Melupakan tentang dokter. "Ini adalah cara mainnya. Kau ikut denganku atau kau bermalam di sini?"

Pipinya merah merona. "Aku sudah masuk rumah sakit cukup lama. Setelah kecelakaan, aku berminggu-minggu terapi. Aku tidak bisa tinggal di sini."

Kedua tangan Jongin menekan ke meja pemeriksaan di kedua sisinya. "Kalau begitu kau ikut denganku." Kyungsoo yang berjalan masuk ke kantornya. Untuk kembali padanya. Sekarang Jongin tidak akan mundur.

"Pria misterius itu sudah bergerak cepat." Jongin memberitahunya saat ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Ruangan berbau seperti antiseptik, tapi Kyungsoo beraroma vanila yang manis. Jongin cukup dekat untuk melihat warna keemasan di matanya. "Dia menyelinap melewati penjagaku. Dia mendapatkanmu. Dia menyakitimu." Jongin hampir tidak bisa menahan amarahnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri sampai si brengsek itu keluar dari jalanan." kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu. Jongin menoleh lewat bahunya.

"Aku detektif Park Chanyeol!" terdengar suara memanggil. "Kyungsoo, aku perlu bicara denganmu."

Mata Jongin menyipit.

"Dia adalah salah satu orang yang telah menangani kasusku," Kyungsoo bergumam. "Dokter-dokter itu...mereka pasti menelpon polisi setempat."

"Kau diserang."

"Aku kira dia mempercayaiku sekarang," Kyungsoo berkata dengan tegang.

Tatapan Jongin kembali padanya. Kyungsoo di balut dalam salah satu gaun rumah sakit berwarna hijau. Dia tampak begitu rapuh duduk di ranjang putih itu. Matanya besar. Rambutnya adalah tirai gelap di wajahnya.

"Kyungsoo!" Detektif memanggilnya lagi.

Dan sebelum mereka bisa merespon. Pria ini mulai membuka pintu. Jongin bergerak cepat begitu pintunya terbuka, ia mencoba menghalangi jalannya polisi itu.

Chanyeol tersentak berhenti ketika melihat Jongin. "Siapa kau?"

Alis Jongin naik saat dia mempelajari detektif lokal ini. Berumur awal tiga puluhan, berambut merah terang, sehat, dan dengan tatapan gelap yang hangat ketika mengamati dari balik bahu Jongin dan terfokus pada Kyungsoo. Pria ini, Chanyeol, seketika menempatkan Jongin ke tepi. "Aku teman Kyungsoo," jawabnya sederhana. Tapi Jongin tahu orang lain akan mendengar nada posesif yang kasar dari suaranya.

Chanyeol melangkah melewati Jongin. Tampak fokus sepenuhnya pada Kyungsoo. "Apakah kau baik-baik saja?"

Senyum Kyungsoo nampak dipaksakan. Itu hampir tidak mengangkat bibirnya. "Hanya sebuah benjolan di kepala. Aku akan baik-baik saja."

Kemudian detektif ini benar-benar mengulurkan tangannya dan memeluk Kyungsoo.

Jongin tegang. Pekerjaan polisi macam apa itu? Detektif itu sudah jauh─ terlalu jauh dengan Kyungsoo, terutama bagi seorang pria yang tidak percaya ceritanya tentang seorang penguntit.

"Serangan merubah hal," Chanyeol mengatakan saat jari-jarinya meraba buku-buku jari Kyungsoo. "Ini adalah serangan. Aku bisa mendapatkan tim di—"

"Tim ku sudah siap di studionya," kata Jongin saat ia kembali ke sisi Kyungsoo. Detektif itu masih menahan tangannya. Masih menatap Kyungsoo dengan penuh minat. Masih membuat Jongin jengkel dengan tingkat yang menakutkan. "Tapi pasukanmu tentunya boleh bergabung untuk perburuan."

"Tim mu?" Chanyeol mengulangi saat keningnya berkerut. Kemudian tatapannya—yang cokelat keruh—kembali pada Jongin. "Aku tidak tahu namamu."

"Kim Jongin." Dengan sengaja, meraih tangan Kyungsoo dari detektif itu.

Chanyeol mundur selangkah. "Kim Securities?"

"Ya."

Chanyeol bersiul dan menoleh kembali pada Kyungsoo. "Kau menyewanya untuk melindungimu?" Sebelum Kyungsoo bisa menjawab, Chanyeol melanjutkan, "Aku tak mengerti. Jika Kim Securities berada di kasus ini, kenapa dia bisa terluka? Bukankah kau seharusnya menjadi yang terbaik di wilayahnya?"

Genggaman Jongin pada Kyungsoo semakin erat, "Jika boleh mengajukan pertanyaan, aku punya beberapa pertanyaan pribadi...seperti kenapa kau tidak melakukan pekerjaanmu lebih cepat? Kenapa kau baru percaya? Seseorang telah menguntit Kyungsoo selama berminggu-minggu." Tidak. Lebih lama lagi jika dia sudah diawasi di Seoul.

"Karena tidak ada bukti," Chanyeol mendesah. "Tapi aku sudah mencoba, oke? Aku mengirim patroli lebih banyak kerumahnya. Aku mampir setiap kali aku bisa. Aku sudah berusaha untuk mengawasi dia."

Orang ini ingin lebih dari sekedar menjaga dan mengawasinya. Itu sangat jelas bagi Jongin. Ekspresi detektif itu terlalu intens ketika dia melirik ke arah Kyungsoo. "Jangan khawatir, detektif," kata Jongin, suaranya datar, "aku akan terus mengawasinya dari sekarang."

Kyungsoo hanya mengamati diantara mereka. Bibirnya mengencang. "Aku hanya ingin orang ini tertangkap, oke? Aku ingin dia berhenti!" Dia menjauhi Jongin dan bergeser dari meja pemeriksaan. Ketika kakinya menginjak lantai, Jongin ada disana menahannya, berjaga-jaga.

"Ceritakan padaku semua yang telah terjadi," Chanyeol memberitahunya, membungkukkan bahunya saat bersandar di dekatnya.

Mundur. Kyungsoo tidak butuh polisi mengerumuninya.

Kyungsoo menghampiri Jongin, karena tidak ada orang lain yang membantunya. Detektif ini tidak segera melangkah dengan cepat dan bermain sebagai pahlawan.

"Tidak banyak yang bisa di ceritakan." Gaun rumah sakit merosot dari bahu kanannya dan ia mencoba untuk segera menariknya kembali ke tempatnya. Kyungsoo menoleh pada dua lelaki yang menatapnya penuh minat. "Aku sedang bekerja di studioku. Lampunya mati. Aku–aku mendengar deritan lantai dan tahu-tahu ada seseorang ada di sana. Aku mencoba untuk lari tapi p-pria itu menangkapku."

Jongin mengetatkan gigi gerahamnya sementara Kyungsoo berbicara.

Bajingan, aku akan membuatmu membayarnya.

"Pria?" Chanyeol menyambar. "Kau yakin itu seorang laki-laki?"

"Aku tak bisa melihatnya." Tatapannya berpindah pada Jongin. Dia kuat, besar...setinggi badan Jongin. Tubuhnya melengkung di atas tubuhku ketika dia–dia memelukku menghadapnya. Suaranya sedikit bergetar.

Disisi lain Jongin menginginkannya keluar dari ruangan itu. Dia menginginkan Kyungsoo berada di rumahnya, dimana ia bisa melindunginya.

"Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" Chanyeol menekan. "Apakah kau mendengar setiap jenis aksen dalam suaranya? Apakah dia–"

"Tidak ada aksen." Dia menggelengkan kepalanya. Sedikit meringis.

"Dia hanya berbisik padaku."

Chanyeol terhenti. "Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang, 'dia akan menjadi satu-satunya'," Kyungsoo memberitahu mereka, suaranya serak. Dia berkedip cepat, seolah-olah melawan air mata. "Itu semua yang dia katakan padaku, oke?" Perkataannya terucap dengan terburu-buru.

"Berbisik bahwa dia akan menjadi satu-satunya. Kemudian agennya Jongin bergegas masuk dan–dan pria itu melepasku."

"Setelah dia membanting kepalamu ke kaca," Jongin menambahkan, kata-katanya menghancurkannya.

"Tidak, sebenarnya dia membanting kepalaku ke kaca sebelum ia membisikkan janji kecilnya." Dia melingkarkan kedua lengannya di perutnya. Menatap pada Jongin. "Bawa aku pulang," katanya. "Bawa aku pulang denganmu."

Ya, tentu saja.

Dokter dan seorang perawat menuju ke ruangan kemudian. Dokter Zang melirik Jongin sekilas, memiringkan kepalanya menanyakan keseriusan Jongin. "Aku akan memastikan dia aman malam ini." Setiap malam.

-o-

Mine to Take

-o-

Jongin dan Chanyeol keluar ruangan sementara perawat membantu Kyungsoo mengganti baju. Jongin akan lebih senang lagi melakukan pekerjaan itu sendiri—melihat Kyungsoo telanjang adalah salah satu hal favoritnya—tapi itu tentu tidak mungkin. Untuk saat ini.

Begitu pintu ditutup di belakang mereka Chanyeol berbalik arah ke Jongin, "Apa permainanmu?"

Jongin membiarkan alisnya naik. "Aku tidak memainkan sebuah game."

"Dua hari yang lalu, Kyungsoo mengatakan padaku bahwa dia tidak terlibat dengan siapapun. Dia tidak punya keluarga di kota ini, tidak ada teman-teman dekat..." Chanyeol menghela nafas dengan kasar saat ia melotot pada Jongin. "Sekarang, kau berdiri di sini, mengatakan kau adalah 'teman lamanya' dan membawanya pulang bermalam."

Ya, itu persis apa yang dia lakukan. Bukankah detektif itu jeli sekali?

"Kyungsoo tidak menyukai rumah sakit. Setelah kecelakaannya di Seoul, Aku pikir itu dapat dimengerti." Ia tidak suka berpikir tentang kecelakaannya, tidak suka untuk mengingat—

"Aku pernah mendengar tentangmu, Kim."

Jempol buat detektif ini. "Kebanyakan orang di Busan tahu tentangku..."

"Kau punya uang. Semua itu berasal dari para klien."

Ya. Ya. Dia melakukannya. Dia terlahir menjadi anak miskin di jalanan.

"Dan kau punya koneksi yang membahayakan."

"Koneksi keamanan tidaklah menyenangkan," Gumamnya datar.

Mata Chanyeol menyipit. "Kau berprofil tinggi. Kau menangani kasus-kasus besar. Kau tidak terdaftar sebagai pengawal beberapa wanita."

Jika detektif ini terus mendorong, ia akan menemukan bagaimana sulitnya Jongin bisa menahan diri. "Ini bukanlah tentang beberapa wanita," kata Jongin. Waktu gilirannya untuk berbicara. "Ini tentang Kyungsoo, dan aku jamin, dimanapun dia berada, aku sangat terlibat."

"Kau tidak ada dua hari yang lalu," Chanyeol membalas.

"Dua hari yang lalu..." Jongin menghela nafas perlahan dan berjuang untuk menahan amarahnya. "Itu pasti dulu ketika kau berpatroli, melakukan giliranmu berjaga di sekitar tempatnya."

"Ya," desis Chanyeol. "Aku sudah berusaha untuk melindunginya-"

"Dan sekarang aku di sini untuk membantumu melakukan pekerjaan itu."

"Kau tampak seperti kau berada di sini untuk menidurinya."

Kata-kata Chanyeol rendah, kasar. Cemburu?

Jongin melangkah mendekat. Detektif lokal itu sedikit melebihi tinggi badannya, dan meskipun dia adalah seorang polisi, dia tampak lembut menurut Jongin dan itu menegaskan bahwa orang ini hampir tidak melihat dengan jelas kegelapan dalam hidupnya.

Chanyeol menunjuk jari telunjuknya pada Jongin. Kesalahan fatal—cara itu bisa membuat jari itu patah.

"Aku punya seorang wanita yang sedang diuntit," Bentak Chanyeol.

"Serangan pada dirinya—dan tiba-tiba, aku punya orang baru— tunggu sebentar, maaf, seorang 'teman lama' —yang baru saja memasuki arena. Dua hari yang lalu, gadis itu mengatakan bahwa dia tidak memiliki siapapun, satu orangpun."

Detektif itu terus mengomel tentang dua hari kebelakang. "Dia punya seseorang," Jongin memberitahunya, menjaga suaranya datar dengan upaya monumental. "Dan sampai si brengsek yang mengejarnya itu tertangkap, Kyungsoo tinggal bersamaku. Jadi, jika kau perlu menghubunginya," ia memberinya senyum terpaksa. "Temui aku."

Pintu terbuka di belakang mereka. Kyungsoo duduk di kursi roda, dan dia tentunya tidak terlihat senang. "Mereka bilang aku harus keluar dalam hal ini." Kedua tangannya menepuk roda. "Beberapa jenis aturan rumah sakit."

"Masalah tanggung jawab." Kata dokter. "Aku beritahu kau, ini—"

"Prosedural. Benar." Tangan Kyungsoo di angkat dan terkepal di pangkuannya. Tatapan paniknya terkunci pada Jongin. "Aku harus keluar dari sini."

"Sayang, aku mengerti."

Dan dia melakukannya.

Dia bergerak ke belakang kursi roda. Mendorongnya dengan hati-hati. Roda berputar di kursinya.

"Kyungsoo!"

Detektif adalah seorang yang brengsek, dan dia baru saja menyentakkan saraf terakhir Jongin. Apakah orang itu menyadarinya, dengan satu panggilan telepon saja, Jongin bisa mendapatkan pria ini mencatat surat panggilan pelanggaran parkir? Melakukan patroli lalu lintas? Atau menduduki bangku di meja tugas?

Chanyeol bergegas menuju mereka dan berhenti di depan kursi roda.

"Berapa lama kau kenal Kim?"

Kyungsoo menelan ludah. "Sejak aku berusia lima belas tahun."

Chanyeol membungkuk kearahnya. Suaranya turun, tapi Jongin mendengar dengan jelas saat ia berkata, "aku minta kau memberitahuku tentang setiap mantan-mantan yang mungkin kau miliki di kota. Seseorang yang mungkin sulit untuk melepaskan..."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Jongin tidak pernah bermasalah dalam melepaskan hubungan."

Tatapan Chanyeol berpindah pada Jongin.

Dia tahu.

Itu sangat mudah untuk mengenali kebutuhan, nafsu, di mata orang lain.

Di belakang polisi. Jongin melihat Jimin berjalan menuruni lorong ke arah mereka. Jongin memiringkan kepalanya ke arah polisi. "Pastikan detektif ini memiliki informasi kontak kita, Jimin. Kyungsoo akan tinggal bersama ku untuk sementara waktu."

Kepala Kyungsoo berputar kearah Jongin. "Tapi aku—"

Pria tan itu mendorongnya menyusuri lorong, meninggalkan Jimin untuk berurusan dengan Chanyeol. Detektif ini bisa menjadi masalah. Jongin harus mengawasinya, dengan hati-hati.

Karena tak seorangpun yang diizinkan ikut campur dengan rencananya untuk Kyungsoo. Dia ingin hanya dirinya yang menjadi pahlawan disini.

.

.

-o-

to be continued

-o-


Taraaa! ada cast baru~ sebenernya gua mau sehun tadinya tp chan lebih cocok sama karakter detektif disini. Gimana gimana? makin penasaran?/engga/

Jadi itu hanya halusinasi kah? atau jongin? kris?

.

Next? Review dear~

See ya!

-Kimchi


Thanks to:

ekyeol; 17Bang Kyung Hoon; sider; riaazzhh; SooieBabyUke; rly; Diyah887; ChocoSoo; kaisoov; UnA NA; NataNerd; Lovesoo; kimsoo; kim gongju; Shinkyu; sushimakipark; Kim Reon; dyonatkai; sangjoonpark; nikyunmin; daebaktaeluv; dinadokyungsoo1; 12154kaisoo; anon; dorim; dks; Kaisooship; KyungXo; park taen; Ayyu965; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; Kaisoo; hunkaisoo; ekyeol; Dks; Soonini; kadi1288; Ellena; kyungsoonia; kaisoohug; W.

also unnamed guest & silent reader..