Pukul 04.30 Hermione bangkit dari tempat tidurnya. Ia sengaja bangun pagi karena menghindari si Ferret itu. Gadis itu mulai merapihkan kasur dan jadwal pelajaran sekolah hari ini.

Setelah dirasa cukup, Hermione bergegas mandi. Ia juga hanya mandi di shower agar tidak memakan waktu lama.

Waktu menunjukan pukul 05.50, aula masih sepi. Namun hermuone sudah duduk di bangku sambil membaca buku pelajaran yang akan di pelajari hari ini.

Hermione memilih roti panggang madu dan susu sebagai sarapannya pagi ini. Harry, Ron dan Ginny sudah berada di aula untuk sarapan.

Hermione duduk di samping Ron dan Harry duduk bersebalahan dengan Ginny di hadapan Hermione.

Harry telirhat tidak nyaman di tempat. Ia berkali-kali melihat Hermione dan melihat ke arah meja Slytherin, ke Hermione lagi, lalu meja Slytherin, begitu seterusnya.

"Demi kentut Merlin, Harry!! Mengapa kau terus gelisah??" Tanya Hermione kepada Harry.

Sedang Ginny dan Ron sedang adu-cekcok-siapa-yang-berhak-memakan-ayam goreng-yang-tinggal-sepotong.

"Boleh aku bertanya sesuatu, Mione??" tanya Harry.

"errr..sure" jawab Hermione.

"Apa terjadi sesuatu antara kau dan Malfoy?" Harry bertanya pelan kepada Hermione.

Bagaimana juga, hal apa pun yang menyangkut Malfoy, adalah hal sensitiv untuk Hermione.

Sontak wajah Hermione memerah seketika mengingat kejadian semalam.. "No, Harry? Memang kenapa?" tanya Hermione gugup.

"Malfoy melihat mu seakan ingin melahap mu bulat-bulat, Mione" jawab Harry seadanya.

"WHAT!!!!" Hermione langsung mengarahkan atensinya ke meja Slytherin dan menemukan pria Malfoy itu menatapnya tanpa berkedip.

Hermione melotot ke arah Draco yang disambut seringai nakal dari sang pria.

"Abaikan Ferret itu, Harry. Bukankah pekerjaanya memang mengganggu orang? Oh ya, kudengar kau dan Ginny menjadi prefek Gryffindor? Is that right?" Hermione mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sontak Ginny yang sibuk berebut sepotong ayam dengan Ron langsung menoleh. "Ya, Mione. Kami berdua terpilih menjadi prefek, semalam McHonagall memberi tahu kami" jawab Ginny dengan semangat.

Di meja Slytherin Draco masih saja menatap tajam ke arah gadis yang sekarang mampu manarik beberapa perhatian anak adam di Hogwarts.

"Mate, mengapa tadi Granger menatap mu seakan ingin memenggal kepala mu? Terjadi sesuatu?" Tanya Blaise Zabini di sebelah Draco.

Draco menaikan sebelah alis "Mengapa kau bisa menyimpulkan seperti itu, Blaise?" Draco malah bertanya balik sambil memakan apel hijau, namun matanya tetap melihat Hermione di meja Gryffindor.

"Woahhh.. baru saja kalian berdua mengabiskan malam pertama bersama. Kalian sudah betengkar lagi" sebagai jawaban, Draco hanya menyeringai.

"Kau tahu mate, Granger sekarang benar-benar terlihat wow. Banyak pria yang penasaran apa yang di sembunyikan Granger di balik kemejanya itu. Well, jujur saja. Aku juga berpikir yang sama." Blaise berujar sambil mengeluarkan mimik mesum.

Sayangnya Blaise, aku sudah melihatnya tadi malam batin Draco sambil menyeringai nakal.

Draco berjalan di lorong menuju pelajaran Pertahan Terhadap Ilmu Hitam yang di ajar oleh Profesor ter-ramah di Hogwarts. Saverus Snape.

Hari ini adalah kelas Gryffindor dan Slytherin.

Sepertinya ia terlambat. Kalau bukan si Astoria yang menariknya ke ruang kelas kosong untuk melakukan kau-tahu-apa.

Ia membuka pintu kelas, dan benar saja. Kelas senyap karena Profesor berambut minyak itu tengah menjelaskan materi.

"Well, Well. Apakah anda bisa menjelaskan mengapa anda bisa datang terlambat, Mr. Malfoy?" tanya Snape dingin.

"Tadi saya lupa waktu, Sir."

Snape menaikan alisnya menilai "Okay,potong 30 point dari Slytherin. Kau bisa satu kelompok dengan Ms. Granger. Yang lain sudah berkelompok. Jadi hanya kau dan Ms. Granger saja yang tersisa." Ujar Snape.

Draco hanya menganggukan kepalanya dan berjalan ke meja Hermione. Walau agak kesal karena point asramanya berkurang.

"Well Granger. Selamat, kau berpasangan dengan pria tampan." Draco menyeringai ke Hermione.

Hermione hanya mendengus. 'oh Merlin! Adakah sesuatu yang bisa melenyapkan pria ini dari dunia? Jika ada, bilang padaku. Agar penderiataanku segera berakhir.'

"Hari ini kita akan menggelar kelas duel, yang mana kalian akan berduel dengan pasangan kelompok kalian. Hanya melucuti, tidak sampai melukai. Jika sampai di luar batas. Sebaiknya saya tidak perlu memberitahu kalian hukumannya!!!ikuti aku " setelah memberitahu itu. Profesor Snape memandu murid-muridnya ke kelas kosong yang pintunya terhubung denga kelas PTHI.

Semuanya telah berkumpul. Ternyata di kelas itu sudah kosong tanpa bangku dan meja.

"Buat lingkaran. Yang namanya di panggil segera ke tengah. TANPA BANYAK BICARA, POTTER!!" Prosefesor Snape memelototi Harry yang sedari tadi mengoceh tentang sapu terbang keluaran terbaru.

"Dean Thomas, Seamus Finningan." Snape memanggil kelompok pertama.

Dean dan Seamus pun berduel yang dimenangkan oleh Dean.

"Theodore Nott, Blaise Zabini"

"Harry Potter, Ron Weasley"

Bla..bla..bla. dan seterusnya, sampai-

"Draco malfoy, Hermione Granger"

Draco sudah berhadapan dengan Hermione.

Mereka memberi hormat satu sama lain dan berjalan bermundur dan memasang sikap duel.

Draco menyeringai "Stupefy" namun diblok dengan mudah oeh Hermione.

"Expelliarmus!!!" Hermione melemparkan kutukan yang langsung di blok oleh Hermione.

Hermione menyeringai, aha!! Dia ingat mantra kesayangannya "Avis" lalu debu-debu di sekitarnya membentuk suatu kawanan burung kenari. Ia semakin melebarkan seringaiannya.

"Opugno!!" lalu sekawanan burung itu mengejar sang Malfoy junior.

Sedang Snape menaikan sebelah alisnya tertarik dengan mantra salah satu siswinya.

Draco berlari tak tentu arah. Seisi kelas tertawa melihat si pewaris Malfoy dipatuki burung sihiran Hermione. Draco pun tersandung.

BUGHH!!!

"Expelliarmus" Gotcha!! Hermione melucuti tongkat Draco.

"BLOODY HELL!!" Malfoy mengumpat.

"Ms. Granger, menang" Perang mengubah sikap Snape yang tadinya sangat tidak adil pada kelas lain menjadi adil terhadap asrama lain, termasuk Gryffindor.

"Kutil Merlin!! Cepat singkirkan burung sialan ini, Granger. Sebelum kepalaku bolong dipatuk burung jahanam mu!!!"

"Finite Incantatem" Hermione menyeringai bangga.

"25 point untuk Gryffindor" ujar Snape.

Draco merebut tongkatnya dari tangan Hermione.

Harga diri seorang Malfoy jatuh dikarenakan penyihir muggle. 'Wait untill my fahter heard about this!' seru Draco dalam hati.

"Okay!!! Kelas bubar. Ms. Granger, ikut aku ke kantor ku!!" Prf. Snape menyuruh Hermione mengikutinya.

Kelas sudah kosong. Prof. Snape dan Hermione berjalan ke ruangan Snape.

"Apa ada yang bisa saya bantu, Sir?" tanya Hermione sedikit gelisah.

"Boleh saya lihat tongkatmu?" Prof. Snape mengulurkan tangannya dan meminta tongkat Hermione dan gadis itu pun memberikannya.

Hermione bisa melihat Snape yang sedang menganalisa tongkat Hermione dengan tongkat miliknya.

"Ms. Granger. Tongkat mu sangat berpengalaman dengan mantra-mantra yang sangat rumit. Saya agak kagum denganmu. Ehmmm dan ada jejak mantra hitam di sini, bisa kau jelaskan?" Snape menjelaskan sambil tetap menganalisa.

"E-rrr, sewaktu kami berburu Hocrux banyak pelahap maut yang mengincar kami. Sedang Harry dan Ron tidak bayak tahu tentang mantra. Jika saya hanya menggunakan mantra Stupefy atau mantra pelucut lainnya, saya ragu jika kami masih hidup sampai sekarang, jadi saya menggunakan mantra-mantra hitam" Jelas Hermione agak sedikit takut, karena bagaimanapun ia masih terlalu muda untuk menggunakan mantra tingkat lanjut itu.

"hmmm... mantra hitam, mantra kematian, yang kau gunakan semua tingkat lanjut, dan mustahil untuk di rapalkan oleh remaja berusia 17 thn. Saya yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi penyihir yang hebat suatu hari nanti. Tapi saya harap, anda menggunakannya dengan bijak, Miss." Profesor Snape bangkit dari tempatnya dan mengembalikan tongkat Hermione.

Pria paru baya tersebut tersenyum dan mengelus rambut Hermione.

Hermione terkejut karena ternyata profesor yang terkenal akan ke galakannya, memiliki sisi ayah yang membuat Hermione nyaman.

"Maafkan saya Ms. Granger. Sampaikan juga kepada Mr. Potter dan Mr. Weasley. Maafkan saya karena pernah membuat hari-hari kalian seperti di neraka." Ujar Prof. Snape tampak menyesal.

"Kami sudah memafaafkan anda. Saya juga tahu anda telah berkorban banyak. Anda hampir mati karena menjadi mata-mata ganda." Ujar Hermione tulus kepada Professornya.

"Terimakasih"

"Sama-sama, Prof. Kalau begitu saya permisi dulu" Ujar Hermione dan meinggalkan Profesor nya.

Tbc.