I Love You, I Remember You

.

.

.

Typo it's my style

.

.

.

"Aku mencintaimu." Ungkap Kyungsoo yang kini mengalihkan pandangannya dari tatapan Jongin.

Jongin yang mendengar ungkapan itu hanya terus menatap Kyungsoo tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Kyungsoo yang ditatap oleh Jongin, merasa salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Jongin.

Bulir-bulir air mulai turun dari atas langit yang gelap, Jongin melangkahkan kakinya dengan membawa Kyungsoo tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Begitu pula dengan Kyungsoo yang hanya diam.

Melihat itu sang kasim segera menghampiri Jongin, dan berusaha memperingatkan sang putera mahkota agar kembali ke kediamannya karena hujan yang turun dapat membuat tubuhnya sakit.

"Yang Mulia, anda harus segera kembali ke kamar anda." Kata sang kasim memperingatkan.

Jongin yang mendengar itu seketika menghentikan langkahnya. Ia menolehkan kepalanya menatap sang kasim dengan tatapan tajamnya.

"Jangan mengaturku dan jangan mengikutiku!" Kata Jongin dengan tegas.

Kyungsoo mendongak menatap Jongin dengan bibir yang masih terkantup rapat. Jongin hanya menatap lurus ke depan dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Tanpa memperdulikan buli-bulir air yang semakin lama semakin besar dengan jumlah yang semakin bertambah, Jongin terus berjalan membawa Kyungsoo menuju paviliun khusus untuk peserta calon puteri mahkota.

Entah apa yang telah terjadi, hujan seolah mempermainkan mereka karena saat mereka telah sampai seketika itu pula hujan berhenti seketika. Jongin mendudukkan Kyungsoo di dalam kamarnya.

Setelahnya, Jongin tak lupa untuk melepaskan sepatu yang masih terpasang dikaki Kyungsoo. Kemudian Jongin meraih kaki Kyungsoo yang masih terbalut oleh kaos kaki yang basah. Dengan lembut Jongin mulai memijat kaki Kyungsoo yang terkilir.

"Akh!" Ringis yang terkejut akan perlakuan Jongin.

Jongin hanya diam dengan memijat kaki Kyungsoo yang terkilir. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya guna menahan rasa sakit pada kakinya. Pandangannya terus tertuju pada Jongin yang dengan lembut memijat kakinya yang sakit. Entah kenapa setiap melihat wajah pemuda itu, hati Kyungsoo tiba-tiba saja menghangat bahkan kini rasa sakit pada kakinya menghilang entah kemana.

Kyungsoo kembali tersadar saat melihat Jongin berdiri dengan membawa sepatunya.

"Kemana?" Tanya Kyungsoo saat Jongin sudah berbalik memunggunginya.

"Aku harus kembali, jika aku terlalu lama di sini aku khawatir orang-orang akan membicarakan kita." Jawab Jongin dengan memunggungi Kyungsoo.

Kyungsoo hanya diam menatap Jongin, entah mengapa ia merasa nada bicara Jongin masih dingin seperti sebelumnya. Ia pikir Jongin mungkin saja masih marah padanya.

Kyungsoo menunduk sedih mendengar jawaban Jongin, ia tak tahu kenapa sikap Jongin saat ini membuat hatinya seolah tercubit.

"Panggilkan tabib dan bantu dia untuk mengganti pakaiannya." Kata Jongin pada pelayan Kyungsoo yang setia berdiri di dekat pintu kamar.

"Baik Yang Mulia." Jawab pelayan itu dengan membungkuk.

Jongin sedikit menolehkan kepalanya ke samping dan melirik Kyungsoo.

"Jika kau mencintaiku maka tetaplah di sisiku." Ucap Jongin yang kemudian kembali melangkah keluar dari kamar itu.

Kyungsoo yang sejak tadi hanya termenenung, kini mendongak menatap Jongin yang berlalu pergi. Kyungsoo kemudian tersenyum tak percaya dengan sikap sok jual mahal Jongin.

"Wah! Aku benar-benar tak percaya ini?" Tanya Kyungsoo yang entah pada siapa.

"Baiklah aku benar-benar gila sekarang." Kata Kyungsoo dengan tatapan kosongnya lalu kembali tersenyum lagi.

"Ah aku tidak tahu!" Kata Kyungsoo lagi yang langsung menjatuhkan dirinya di kasur dan menarik selimutnya.

.

Sedangkan Jongin menghentikan langkahnya tepat di depan paviliun milik Kyungsoo. Ia memegang dada sebelah kirinya yang sejak tadi terus berdebar.

Ia berusaha mengatur nafasnya dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Sebenarnya sejak tadi ia menahan rasa senangnya saat Kyungsoo mengungkapkan perasaannya. Ia pikir akan sangat keren jika ia bersikap sedikit jual mahal pada Kyungsoo.

Ia tak menyangka jika pada akhirnya Kyungsoo juga menyukainya, bahkan mencitainya. Sekarang ia tidak perlu sedih ataupun khawatir lagi akan cintanya kepada Kyungsoo.

"Akh!" Ringis Jongin saat bahunya terasa sedikit sakit.

"Aku tidak tahu jika dia seberat itu, padahal tubuhnya kecil." Ucap Jongin dengan memijat perlahan bahunya yang terasa pegal karena membopong Kyungsoo.

"Bukankah itu sangat aneh?" Pikir Jongin.

Ia tidak tahu jika tubuh Kyungsoo seberat itu, ia pikir tubuh seorang gadis pasti sangat ringan terlebih lagi Kyungsoo memiliki tubuh yang mungil. Ia menggeleng menghiraukan hal itu dan kembali tersenyum senang saat teringat ungkapan Kyungsoo.

"Dia mencintaiku!" Teriak Jongin dengan rasa senangnya.

Lalu setelahnya ia berlari menuju kediamannya dengan terus meneriakkan hal tersebut.

Tanpa ia ketahui seorang gadis terus menatapnya dari kejauhan dengan tangan yang mengepal erat seolah tengah menahan amarah pada dirinya. Gadis itu mendesis tak suka saat melihat sang putera mahkota yang terlampau senang.

.

.

Hari-hari Kyungsoo masih tetap sama, terkurung di dalam istana dengan semua pelatihan ataupun pembelajaran tentang bagaimana menjadi puteri mahkota yang baik dan bijaksana. Namun ada yang berbeda, jika dulu ia akan bosan dan muak dengan segala sesuatu itu maka kali ini tidak lagi.

Semua berubah semenjak ia menyatakan perasaannya pada sang putera mahkota. Ia melewati semuanya dengan suka cita bahkan ia begitu menikmati hari-hari menjadi Kyunghee, ia juga sudah terbiasa dengan panggilan nonanya dan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan.

Dan satu hal lagi yang membuat Kyungsoo merasa nyaman dengan kehidupannya saat ini.

"Apa sudah sembuh?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Kyungsoo.

Kyung berjingkat kaget saat mendengar pertanyaan dari pemuda itu.

"Bisakah kau tidak mengejutkanku?" Tanya Kyungsoo dengan menatap tajam pemuda itu.

"Tidak." Jawab pemuda itu dengan senyumannya.

"Lagipula kau tidak jatuh ke dalam kolam." Lanjutnya yang kini sudah berada di samping Kyungsoo.

Kyungsoo memutar bola matanya malas melihat pemuda yang berada di sampingnya.

"Ckckck lihat itu?" Tanya Jongin, pemuda itu.

Kyungsoo hanya diam tak merespon Jongin bahkan ia sama sekali tak melihat pemuda itu. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa menghiraukan Jongin.

"Di mana sopan santunmu pada calon pemimpin negeri ini?" Tanya Jongin dengan menggelengkan kepalanya menatap Kyungsoo.

"Kau tidak tahu siapa aku?"

"Aku calon raja negeri ini." Lanjutnya.

Kyungsoo yang tak tahan dengan sikap Jongin akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Jongin. Jongin sedikit terkejut dengan sikap Kyungsoo dan ikut menghentikan langkahnya.

"Apa kau tahu?" Tanya Kyungsoo dengan mendekatkan wajahnya pada Jongin.

Jongin yang mendengar pertanyaan itu hanya mengernyitkan dahinya karena tak mengerti dengan pertanyaan Kyungsoo.

"Aku adalah calon ratu negeri ini!" Kata Kyungsoo dengan rasa kesalnya.

Setelah mengatakan itu Kyungsoo kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sedangkan Jongin hanya tersenyum lebar mendengar perkataan Kyungsoo.

"Jadi apa kau akan menjadi istriku?" Tanya Jongin yang masih terdiam di tempatnya dengan tersenyum senang.

Kyungsoo yang mendengar itu kembali menghentikan langkahnya. Ia baru menyadari apa yang baru saja ia katakan pada pemuda itu. Ia memejamkan matanya dan menuduk menyesal karena telah mengatakan hal itu.

"Apa yang sudah aku lakukan?" Gumamnya menggeram kesal.

Jongin berjalan mendekat pada Kyungsoo dengan senyuman merekah.

"Apa kau akan menjadi istriku?" Tanya Jongin pada Kyungsoo.

Kyungsoo hanya menatap pemuda itu yang kini berada di depannya, bahkan pemuda itu dengan beraninya mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo.

"Apa aku harus memanggilmu puteri mahkota mulai dari sekarang?" Tanya Jongin.

Kyungsoo hanya melirik Jongin dan bergeser lalu kembali melangkah.

"Atau aku harus memanggilmu istriku?" Tanya Jongin lagi dengan berjalan mundur dan terus menatap Kyungsoo.

Kyungsoo hanya diam, ia merasa salah tingkah dengan pertanyaan-pertanyaan Jongin. Sebisa mungkin ia menghindari tatapan Jongin yang berada di depannya itu.

"Tidak." Jawab Kyungsoo.

"Oh atau kau ingin ku panggil ratu mulai dari sekarang?" Goda Jongin.

"Tidak." Jawab Kyungsoo yang semakin mempercepat langkahnya.

"Lalu?" Tanya Jongin yang semakin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo.

Langkah Kyungsoo kembali terhenti saat melihat wajah tampan Jongin yang berada tepat di depannya bahkan sangat dekat dengannya. Tidak dapat ia pugkiri lagi jika jantungannya berdegup kencang saat menatap ataupun ditatap Jongin dengan jarak sedekat ini.

"Aku tidak tahu!" Ucap Kyungsoo dengan perasaan jengkelnya dan berlalu meninggalkan Jongin.

Sebenarnya Kyungsoo tidak benar-benar kesal pada pemuda itu, Kyungsoo hanya malu dengan apa yang telah ia katakan pada Jongin. Ia juga gugup saat berdekatan dengan Jongin.

"Manisnya." Ucap Jongin yang melihat Kyungsoo berlalu pergi.

Jongin tersenyum geli melihat Kyungsoo yang terlihat malu dengan perkataannya sendiri.

"Istirahatlah ratuku!" Teriak Jongin pada Kyungsoo dengan melambaikan tangannya.

Kyungsoo yang masih dapat mendengar teriakan itu hanya berdesis kesal dengan kelakuan pemuda itu.

Lagi-lagi seorang gadis yang sedari tadi mengamati dari kejauhan terlihat menahan amarahnya dengan tangannya yang mengepal erat.

"Park Kyunghee!" Geramnya.

.

.

Semakin bertambahnya hari semakin bertambah pula perasaan Kyungsoo pada Jongin begitu pula sebaliknya. Kyungsoo yang awalnya berpikir bahwa itu hanya rasa suka sementara kini menampik hal itu karena nyatanya hatinya terus mengatakan jika ia begitu mencintai Jongin. Terlebih lagi sikap Jongin membuatnya semakin kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya.

Semakin hari mereka semakin dekat, kini keduanya sudah semakin mengenal satu sama lain.

"Kita akan ke mana?" Tanya Kyungsoo pada Jongin yang terus berjalan menggandeng tangannya.

Mereka diam-diam menyusup keluar istana tanpa pelayang ataupun kasim. Sebenarnya ini adalah ide Jongin. Dan Jonginlah yang menculik Kyungsoo setelah pembelajarannya selesai.

"Bersenang-senang di luar sana. Apa kau tidak bosan dengan suasana istana yang memuakkan?" Tanya Jongin pada Kyungsoo.

"Ckckck apa seperti ini kelakuan calon pemimpin negeri ini?" Tanya Kyungsoo.

"Kau tidak mau?" Tanya Jongin lagi.

"Tentu saja aku mau. Ayo kita pergi!" kata Kyungsoo dengan semangat dan berjalan mendahului Jongin.

"Ckckck apa seperti ini kelakuan calon ratu negeri ini?" Tanya Jongin pada Kyungsoo dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya! Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Kyungsoo yang berbalik dan menatap Jongin.

"Dia benar-benar tidak sabaran." Gerutu Jongin yang kemudian berjalan menghampiri Kyungsoo dan kembali menggandenga tangan Kyungsoo.

Mereka berjalan bersama dengan tangan yang saling bertautan erat. Bahkan terlihat sesekali keduanya melempar candaan dan tertawa bersama.

.

.

Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan tak percayanya, bahkan mulutnya sedikt mengaga saking terkejutnya dengan apa yang ia lihat saat ini.

Sedangkan Kyungsoo yang sejak tadi menjadi objek Jongin hanya diam dan sibuk menguyah makanannya. Jongin benar-benar tak menyangka jika selera makan Kyungsoo begitu mengerikan.

Saat ini keduanya tengah makan bersama di sebuah tempat makan yang sering Kyungsoo kunjungi. Karena Kyungsoo bilang jika ia merindukan makanan dari tempat itu.

"Pantas saja kau sangat berat." Ucap Jongin yang terus menatap Kyungsoo.

"Itu karena tulangku besar seperti laki-laki jadi aku berat." Elak Kyungsoo yang kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya

"Selera makanmu sangat mengerikan." Kata Jongin lagi.

"Di istana tidak ada makanan yang seperti ini." Jawab Kyungsoo dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Tapi kenapa kau masih kecil dan pendek?" Tanya Jongin.

Kyungsoo yang mendengar pertanyaan itu seketika melotot ke arah Jongin. Ia sangat tidak suka jika disebut pendek walaupun itulah kenyataannya.

"Kau semakin menggemaskan jika seperti ini." Kata Jongin dengan mencubit pipi Kyungsoo yang masih penuh dengan makanan.

"Apa kau ingin mati?" Tanya Kyungsoo dengan tatapan tajamnya.

"Lihatlah ini, wajahmu hanya dipenuhi pipi dan sisanya hanya mata." Kata Jongin yang semakin gemas dengan Kyungsoo.

Kyungsoo yang mendengar itu segera memukul kepala Jongin dengan sendok kayu yang sejak tadi ia gunakan untuk makan.

"Akh!" Ringis Jongin dengan memegangi kepalanya yang menjadi korban keganasan Kyungsoo.

Saat Kyungsoo hendak membuka mulutnya untuk memaki Jongin, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang amat dikenalnya.

"Kyunghee?" Panggil seseorang itu.

Kyungsoo yang merasa terpanggil segera menoleh dan melihat sosok itu.

"Baekhyun?" Jawab Kyungsoo.

Baekhyun terus menatap Kyungsoo dan Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan itu seolah menuntut Kyungsoo untuk menjelaskan apa yang saat ini terjadi.

"Apa kau mengenalnya?" Tanya Jongin.

"Dia kakak iparku." Jawab Kyungsoo dengan melihat Jongin.

Jongin segera berdiri dari tempatnya dan membungkuk pada Baekhyun sebagai rasa hormatnya.

"Aku Kim Jongin." Ucap Jongin dengan sopannya.

"Kim Jongin?" Tanya Baekhyun dengan mengernyit heran.

"Benar, aku adalah calon adik iparmu." Jawab Jongin dengan senyumannya.

"Apa?!" Kaget Baekhyun.

Dan karena ucapan Jongin yang seenaknya itu, Kyungsoo harus bersiap dengan semua ceramah Baekhyun.

.

.

.

"Maafkan aku." Sesal Baekhyun.

"Semua salahku. Seharusnya aku tidak menyarankan ide gilaku itu." Lanjutnya.

"Tidak, jangan salahkan dirimu. Semua ini salahku." Kata Kyungsoo.

Kyungsoo dan Baekhyun kini tengah duduk di bawah pohon. Setelah kejadian itu, Kyungsoo meminta Jongin untuk pergi terlebih dahulu karena ia ingin berbicara dengan Baekhyun.

Kyungsoo menceritakan semua kejadian yang ia alami pada Baekhyun. Sebenarnya ia sangat malu untuk menceritakannya, namun karena perkataan Jongin yang seenaknya dan juga Baekhyun yang sudah terlanjur melihat bagaimana kedekatan mereka. Jadilah ia menceritakan semuanya pada Baekhyun.

"Aku yang tidak bisa mengendalikan diriku sendiri." Sesal Kyungsoo.

"Kyungsoo aku yakin itu pasti..."

"Hanya perasaanku sesaat yang lambat laun perasaan itu akan memudar dan aku pasti akan baik-baik saja." Potong Kyungsoo.

Baekhyun terdiam dengan ucapan Kyungsoo yang memotong perkataannya.

"Jika semua itu benar maka aku akan sangat bersyukur, tapi nyatanya semua itu justru kebalikannya." Lanjut Kyungsoo.

"Aku tahu perasaanku salah dan aku tahu betul. Tapi perasaan itu tumbuh tanpa kehendakku bahkan kini dia semakin tumbuh besar." Jelas Kyungsoo yang menatap Baekhyun dengan tatapan sendunya.

"Kyungsoo..." Panggil Baekhyun dengan menggenggam erat tangan Kyungsoo.

"Kau seorang laki-laki..." Ucap Baekhyun.

"Kau harus mengingatnya. Kau adalah laki-laki. Meskipun perasaan itu tumbuh di luar kehendakmu, kau tidak harus menurutinya. Kau laki-laki dan semua perasaanmu untuknya adalah sebuah kesalahan. Mau tak mau kau harus melawannya." Kata Baekhyun.

"Tapi itu menyakitkan..." Ucap Kyungsoo.

"Aku tahu itu menyakitkan. Jadi ayo kita hentikan sampai di sini. Kau harus segera pergi dari sana, kau tidak bisa terus-menerus berada di sana." Pinta Baekhyun yang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo.

Kyungsoo yang mendengar itu hanya menatap Baekhyun dengan tatapan tak percayanya.

"Kita lupakan saja siapa yang telah membunuh ayah, ibu dan Kyunghee. Aku yakin mereka tenang di alam sana. Mereka juga pasti akan khawatir tentang dirimu saat ini." Lanjut Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.

"Maafkan aku karena ide gilaku, aku membuat hidupmu hancur berantakan." Sesal Baekhyun yang langsung memeluk Kyungsoo erat dan menangis dipelukannya.

Kyungsoo hanya diam, otaknya seolah berhenti bekerja saat ini, hati seperti terhantam sesuatu yang keras saat Baekhyun mengatakan jika ia harus menghentikan semua ini.

"Ku mohon hentikan sampai di sini sebelum semuanya terlambat. Semua kebahagiaanmu saat ini hanya semu." Ucap Baekhyun.

Kyungsoo hanya diam dengan air mata yang mengalir pada pipinya. Ia tidak siap jika harus berhenti sekarang. Ia benar-benar sudah terjatuh terlalu jauh.

.

.

.

Sang rembulan dan angin malam yang terasa hingga menusuk tulang kini menemani malam Kyungsoo. Kyungsoo berjalan gontai menuju ke paviliunnya. Ia seolah tak lagi memiliki semangat hidup setelah bertemu dengan Baekhyun.

"Oh, kau sudah kembali?" Tanya seseorang pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang sejak tadi hanya menunduk, kini mendongak menatap pemuda itu, Jongin. Entah mengapa saat ia melihat Jongin perasaannya semakin kacau.

Kyungsoo hanya membalas pertanyaan Jongin dengan senyuman tipis.

"Untukmu." Ucap Jongi dengan menyodorkan seikat bunga yang cantik.

Kyungsoo segera mengambil bunga itu dan menatapnya.

"Kau menungguku hanya untuk ini?" Tanya Kyungsoo yang mengalihkan pandangannya pada Jongin.

"Tentu saja. Bukankah itu cantik?" Jawab Jongin dengan senyumannya.

"Hm."

"Baiklah kalau begitu aku harus pergi. Selamat malam ratuku." Ucap Jongin dengan senyum lebarnya.

Lagi-lagi Kyungsoo hanya tersenyum tipis membalas ucapan Jongin. Ia menatap sendu Jongin yang berjalan menjauh.

Setelah tubuh Jongin menghilang dari pandangannya, Kyungsoo mengalihkan pandangannya menatap bunga pemberian Jongin. Ia hanya diam menatap bunga itu dengan tatapan sedihnya.

"Maafkan aku." Sesal Kyungsoo.

"Maafkan aku." Ucap Kyungsoo lagi dengan air mata yang jatuh menetes pada salah satu kelopak bunga itu.

.

.

.

TBC

.

Cuman mau ngingetin buat chapter selanjutnya mohon siapkan hati kalian. Thank You ^^

.

'Dongvil'