Green Daylight "Pembunuh Cahaya" (MarkRen Version)
Cast :
Huang Renjun
Mark Lee
Lee Jeno
Luisa Lee (OC)
Summary :
Renjun tidak pernah mengerti apa yang ada di benak Mark. Lelaki itu dulu sangat baik padanya hingga mereka menikah, dan Mark berubah sangat membencinya. Dia selalu merendahkan Renjun, meremehkannya dan menyakiti hatinya. Sebenarnya apa salah Renjun pada Mark?
Genre :
Romance, Hurt/Comfort, marriage life, OOC
Rate : T
Warning :
BL, Yaoi, out karakter, M-Preg. Cerita ini bukan punya aku, aku hanya meremakenya jadi versi Markren, cerita aslinya punya Kak Santhy Agatha judul novelnya Pembunuh Cahaya… Jadi kalo nemu crita yg sama dengan pair yg beda, itu wajar. Harap maklum karna critanya emang bagus, jadi banyak yg meremakenya (termasuk aku juga.. hehehe)
Thanks to :
taniguchimegu35, FujosGirl, kono Ouji sama ga inai, Nana Lee Jeno, ugotnajaem, nrlyukkeuri96, guessssst, Cho Kyungmint, It's YuanRenKai, Cheon yi, JaeEun21, Zxxxd11, haechanct, hopekies, adaml8770, Missyeonjeongseo, dan yang sudah memfollow & favorite ff ini.
-o0O0o-
.
.
7
"Cinta itu memilih. Memilih dari dua yang paling berarti: dia yang berjalinan darah denganmu, atau dia yang sedang mengandung darah dagingmu?"
(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk
-o0O0o-
Mereka berdua bertatapan dengan cemas dan wajah pucat. Renjun sendiri begitu cemas, suaminya memperlakukannya dengan buruk dan sekarang dia hamil, hamil bukan dari buah cinta pernikahannya tetapi dari pemaksaan yang dilakukan suaminya kepadanya.
Akan seperti apakah Mark memperlakukan anaknya nanti? Sementara dia memperlakukan Renjun seperti ini? Bagaimanakah anak ini akan tumbuh dan besar? Akankah Mark memperlakukannya dengan buruk?
Tiba-tiba insting ingin melindungi anaknya tumbuh dari benak Renjun, dia langsung merangkulkan lengannya dan memeluk perutnya dengan waspada. Kalau Mark ingin menyakiti bayinya, berarti dia harus berjuang, kemarin Renjun pasrah dan menyerah karena dia merasa dirinya sebatang kara, sekarang dia mempunyai seorang bayi yang tumbuh di dalam rahimnya, dan dia harus berjuang melindungi anaknya.
"Kau harus ke dokter." Mark memandangi Renjun yang memeluk perutnya sambil mengernyit, "Kita ke dokter sekarang."
"Aku bisa pergi sendiri." Renjun tiba-tiba ingin menjauhkan Mark sejauh mungkin dari calon anaknya. Dia tidak percaya kepada Mark.
"Sekarang, Renjun." Mark menggeram merenggut lengan Renjun dengan kasar, ketika melihat Renjun mengernyit dia langsung melepaskan pegangannya tampak bingung harus berbuat apa, "Pokoknya ikut aku."
Renjun memegangi lengannya yang sakit, sekilas melihat kebingungan yang muncul dari tatapan mata Mark dan menarik kesimpulan. Mark tampak sama bingungnya dengannya, lelaki itu sepertinya tidak mengira keadaan akan seperti ini. Kemudian dia menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengikuti kemauan Mark. Lagipula dia ingin memastikan keadaannya pada dokter.
Dengan langkah ragu, dia mengikuti Mark memasuki mobil hitamnya yang besar itu, dan duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Sepanjang perjalanan mereka tidak bercakap-cakap, hanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
-o0O0o-
"Kantong kehamilannya sudah kelihatan, dan hasil tes labnya positif, usia kandungannya sudah enam minggu." Dokter perempuan itu tersenyum, "Selamat tuan."
Renjun membalas senyuman dokter yang ramah itu dengan gugup, sementara Mark sendiri tampak pucat pasi menerima kepastian kabar itu.
Ini pasti bukan yang diharapkan lelaki itu.
Renjun menatap ekspresi shock Mark dan menghela napas panjang. Tetapi dia benar-benar hamil. Dengan lembut dielusnya perutnya, penuh kasih sayang. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjadi ibu, tetapi yang pasti dia akan menjaga anak ini sepenuh hatinya. Matanya bersinar penuh sayang, karena kehadiran anak ini, dia tidak sebatang kara lagi.
Renjun mengangkat kepalanya, dan matanya bertatapan dengan Mark yang sedang mengamati perutnya. Lelaki itu lalu menatap mata Renjun dan mengalihkan pandangannya. Ekspresinya tidak terbaca.
-o0O0o-
Setelah mengantarkan Renjun pulang, Mark langsung pergi lagi, setengah mengebut dia menuju rumahnya yang ada di pinggiran kota. Menemui Luisa.
Rumah besar bercat putih itu tampak lengang, ketika Mark memarkir mobilnya di halaman dia merenung dan menyadari bahwa selalu ada nuansa sedih di dalam rumah ini. Suasana sedih yang menggayuti hatinya.
Dia melangkah menaiki tangga menuju kamar Luisa, rumah tampak sepi karena masih siang hari. Mungkin Luisa sedang tidur siang dan para pelayan sedang sibuk menyiapkan hidangannya di dapur.
Dengan hati-hati, dibukanya kamar adik kembarnya itu, dilihatnya Luisa sedang tidur pulas. Tetapi rupanya Luisa menyadari kedatangannya, matanya terbuka, meskipun hampa dan kosong, tetapi menunjukkan kalau dia sudah bangun.
"Hai sayang." Mark memang selalu memanggil Luisa dengan panggilan sayang, sebagai bentuk kasih sayangnya kepada adiknya, "Apa kabarmu?"
Luisa yang masih berbaring menjulurkan tangannya ke arah suara Mark dan tersenyum, "Kangen."
Mark duduk di pinggir ranjang dan menggenggam tangan adiknya. Kadangkala ketika kondisi Luisa sedang baik, dia bisa diajak komunikasi dengan lancar, meskipun hanya sepatah-sepatah kata.
"Aku juga merindukanmu." Hati Mark terasa perih melihat kondisi Luisa yang terbaring tak berdaya, seketika pikirannya melayang ke arah Renjun, Renjun yang sedang mengandung anaknya. Akankah dia jadi seperti appanya? Mengkhianati Luisa karena Renjun? Jantung Mark serasa direnggut dan napasnya terasa sesak, "Maafkan aku." Suaranya berubah serak, "Maafkan aku Luisa. Tetapi aku tidak bisa melukai Renjun lagi... dia.. dia mengandung anakku, dan aku... aku tidak mungkin menyakitinya, aku.. aku telah jatuh dalam perasaanku sendiri." Suara Mark tercekat, menatap Luisa yang masih memasang eksrpresi kosong, "Maafkan aku Luisa, aku jahat sama seperti appa. Aku mengkhianatimu karena telah kalah dengan perasaanku sendiri.. maafkan aku Luisa, maafkan aku..."
Suara Mark yang penuh kesedihan dan keputus asaan menggema di kamar yang sepi itu, dan tidak ada jawaban dari Luisa.
Bahkan Mark tidak tahu apakah Luisa mengerti kata-katanya atau tidak...
-o0O0o-
Mark merenung sendirian di ruang tamu rumah itu. Luisa tampaknya lelah dan dia tertidur lagi di atas.
Dia merenungi semua rencananya yang sudah pasti akan berubah total. Kehamilan Renjun sudah merubah segalanya. Dia berencana membuat Renjun tersiksa dan menderita secara mental. Tetapi hal itu tidak mungkin bukan dilakukannya kalau Renjun sedang mengandung anaknya?
Dengan frustrasi Mark meremas rambutnya sendiri, mengutuk kebodohannya karena malam itu, ketika dia memaksakan kehendaknya kepada Renjun, dia tidak teringat untuk menggunakan pengaman. Dia terlalu marah waktu itu sehingga bertindak tanpa pikir panjang, ingin menghukum Renjun dengan cara terburuk yang dia tahu. Tetapi itu hanya terjadi satu kali, siapa yang mengira bahwa Renjun akan langsung hamil?
Tetapi penyesalan tidak ada gunanya, sekarang Mark harus memikirkan langkah ke depannya dengan adanya perubahan situasi ini. Laki-laki itu, Renjun, telah terlanjur mengandung darah dagingnya.
Lelaki hamil... Mark sama sekali tidak tahu bahwa lelaki ternyata dapat hamil, apakah mungkin ini balasan karena telah menyakiti Renjun? Dan anak itu... apakah dia menginginkannya?
Mark memejamkan matanya, tiba-tiba merasa rapuh ketika batinnya mengakui bahwa dia menginginkan anak itu.
-o0O0o-
"Aku hamil." Renjun menelepon Jeno segera begitu dia berada di kamar sendirian.
Jeno tampak menahan napas di seberang telepon, dia terperangah, "Hamil? Tetapi... bagaimana bisa? Bukankah kau bilang dia sama sekali tidak menyentuhmu?"
Hanya keluarganya saja yang mengetahui bahwa Renjun dapat hamil, dan karena Jeno sudah Renjun anggap sebagai keluarganya Renjun mengatakan rahasia yang dia ketahui dari eommanya sebelum meninggal.
Renjun tidak pernah mengatakan tentang pemerkosaan yang dilakukan Mark kepadanya saat itu, dia tidak mau menyulut kemarahan Jeno. Karena itu dengan gugup dia berdehem, berusaha terdengar normal.
"Itu pernah terjadi satu kali."
"Apakah dengan cinta?" Jeno langsung bertanya skeptis, lelaki itu terlalu pandai untuk dibohongi.
Renjun berdehem lagi kebingungan, lalu memutuskan untuk jujur saja, "Tidak. Itu terjadi karena Mark marah."
"Oh Astaga." Suara Jeno tercekat. Lalu hening. Renjun tahu Jeno sedang meredakan emosinya. Kemudian lelaki itu berkata lagi dengan tegas dan marah, "Dia memperlakukanmu dengan sangat buruk, Renjun. Kurasa sudah saatnya kau meninggalkannya."
"Aku tidak bisa, Jeno... bayi ini, dia anak Mark... aku tidak bisa meninggalkan Mark begitu saja, anak ini nanti tidak akan punya appa."
"Kau bisa." Jeno bergumam tegas, "Tinggalkan dia, Renjun. Dia sudah memperlakukanmu dengan buruk, dari ceritamu setiap malam, ketika kau menangis dan meneleponku, aku sudah menahan diri untuk menyerbu rumah itu dan membawamu keluar dari sana. Kau selalu menahanku, tetapi sekarang ada bayi itu dan aku mencemaskannya, apakah Mark akan menyakiti bayi itu juga?"
Pertanyaan Jeno menohok benak Renjun, dia merenung, Apakah Mark akan menyakiti bayi ini juga? Renjun tidak tahu. Dia tidak bisa membaca Mark.
Dengan sedih Renjun menghela napas panjang, "Aku tidak bisa meninggalkan Mark, Jeno..."
"Kenapa Renjun? Tidak ada satu seorangpun yang bisa tahan seperti dirimu, direndahkan dan tidak dipedulikan oleh suaminya seperti itu. Kenapa Renjun? Kenapa kau bertahan? Apakah karena kau masih mencintai si brengsek itu?"
Renjun tertegun, tidak bisa menjawab.
Sampai kemudian Jeno menyadari kenyataan di balik keheningan Renjun, "Oh Astaga, Renjun. Kau masih mencintai Mark ya? Bahkan setelah seluruh perlakukan buruk yang dia timpakan kepadamu?"
Renjun menghela napas panjang, Jeno akhirnya menyuarakan kenyataan yang selama ini coba Renjun sangkal. Dia memang masih mencintai Mark, amat sangat. Dan bahkan setelah kekasaran dan kekejaman sikap Mark kepadanya, Renjun masih menyimpan itu, jauh di dalam hatinya yang perih dan terluka.
Air matanya menetes, merasakan pedihnya cinta yang tak terbalas, "Maafkan aku Jeno." Suaranya bergetar karena tangis.
Jeno menghela napas lagi dengan keras, "Kau tidak boleh seperti itu Renjun, lemah karena cinta dan membiarkan dirimu ditindas tak karuan oleh suamimu. Ingat sekarang ada seorang anak di dalam perutmu yang membutuhkan perlindungan dan perhatianmu, dan kuharap, ketika kelakuan Mark sudah tidak bisa ditoleransi lagi, kau bisa mengambil keputusan tegas untuk meninggalkannya, demi dirimu dan demi bayimu."
Renjun mengernyit mendengar nasehat Jeno. Dia menyadari bahwa kenyataan itu pada akhirnya akan datang. Kenyataan bahwa mungkin pada akhirnya dia harus meninggalkan Mark.
-o0O0o-
Mark pulang masih dengan hati berkecamuk, bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia merasa harus menjalankan apa yang disebutnya sebagai rencana balas dendam, tetapi di sisi lain, nuraninya memberontak mengingatkannya bahwa Renjun sedang mengandung anaknya.
Dan Renjun sedang menunggunya, menatapnya dengan mata bulatnya yang lebar dan indah di ruang tamu. Entah berapa lama lelaki itu menunggunya, bukankah dia seharusnya sudah tidur? Bukankah orang hamil seharusnya tidur cepat?
Mark melirik jam tangannya, sudah hampir jam duabelas, dia kemudian bergumam dingin kepada Renjun, "Bukankah seharusnya kau sudah tidur?"
"Aku menunggumu, kita harus bicara." Jawab Renjun singkat, menatapnya penuh tekad.
Mark mengernyit. Kalau saja dia malam ini tidak pulang dan memutuskan menginap di rumah untuk Luisa, akankah isterinya ini menunggunya sampai pagi?
"Kita bicara besok saja, aku lelah."
"Apakah ada orang lain, Mark?"
Mark yang sedang melangkah hendak meninggalkan ruangan tertegun, dan kemudian menatap Renjun dengan defensif, "Apa maksudmu?"
"Kau jarang pulang, kau tampak begitu membenciku, aku berpikir bahwa mungkin..." Renjun menghela napas panjang, merasakan kesakitan ketika mengucapkan kata-kata itu, "Aku berpikir bahwa mungkin kau.. kau sudah menemukan orang lain yang kau cintai, dan kau baru menyadarinya ketika kau sudah terlanjur menikahiku, jadi kau melampiaskan rasa frustrasimu dengan melakukan semua ini kepadaku. Aku pikir..." Renjun berdehem, "Kalau memang ada orang lain yang kau cintai, dan juga mencintaimu, aku.. aku bersedia pergi dengan sukarela." Renjun memalingkan wajahnya dengan sedih, "Aku tidak akan memaksakan suamiku yang tidak mencintaiku untuk hidup bersamaku."
Mark tercenung lama, bayangan Luisa terlintas di benaknya. Memang ada orang lain, meskipun tidak dalam cara seperti yang dibayangkan oleh Renjun. Luisa adalah orang lain itu, adik kembar kesayangannya yang telah menanggung begitu banyak penderitaan karena keberadaan Renjun. Appanya yang sangat dipuja oleh Luisa, yang sangat dirindukan kasih sayangnya oleh Luisa, ternyata memusatkan perhatiannya kepada Renjun, mengabaikan Luisa.
Dan sekarang, Mark merasakan dorongan yang sama. Dorongan itu sebenarnya sudah muncul dari awal, ketika dia mendekati Renjun, merasakan kedekatan yang nyaman dan perasaan hangat yang mulai bertumbuh seiring dengan kebersamaan mereka, sejenak Mark lupa pada keinginannya untuk membalas dendam, terlena dalam pesona Renjun. Sayangnya, setiap malam ketika dia melihat keadaan Luisa, Mark selalu disadarkan bahwa dia harus menyakiti Renjun untuk membalas dendam. Kemudian, dengan kejam, Mark membunuh perasaan yang bertumbuh itu, menguncinya begitu dalam jauh di dalam jiwanya yang kelam.
Tetapi setelah diketahuinya bahwa Renjun sedang hamil dan mengandung anaknya, perasaan itu perlahan menyembul kembali, menyeruak tanpa dia sadari, membuat Mark merasa benci pada diri sendiri karena dia sadar, kalau dia menumbuhkan rasa sayangnya pada Renjun, itu sama saja dia telah mengkhianati Luisa, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan appa mereka kepada Luisa.
Tetapi Mark tidak mampu membohongi dirinya sendiri, selama ini dia berhasil bersikap kasar kepada Renjun, menyakitinya sambil menipu dirinya sendiri bahwa dia melakukannya demi Luisa... tertapi sedikit demi sedikit hatinya ternyata ikut tersakiti dan pedih, seiring dengan kepedihan yang dialami Renjun.
Mark tidak mampu membuat Renjun menderita lagi, Mark tidak mampu menyakiti Renjun lagi, terlebih karena sekarang di dalam tubuh Renjun, darah dagingnya telah tumbuh dan berkembang.
Mark menatap ke arah Renjun yang masih mengamatinya dengan bingung dan penuh ingin tahu.
"Tidak ada orang lain." Gumamnya ketus, lalu berlalu meninggalkan Renjun.
-o0O0o-
Tamu yang datang siang itu sungguh tak di duganya, dia adalah eomma Mark, perempuan yang sangat modis dan cantik meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, perempuan itu tiba-tiba saja sudah datang dan duduk di ruang tamu dan mengamati Renjun dari atas ke bawah.
"Kau manis." Gumamnya kemudian dalam senyuman, membuat Renjun yang semula menahan napas di bawah tatapan perempuan itu langsung menghelanya dengan lega. "Aku tidak bisa datang ke pernikahanmu karena kondisi tubuhku agak sedikit tidak baik dan aku harus merawat diriku di luar negeri, maafkan aku. Yang pasti aku senang isteri Mark sangat cantik, manis dan sepertinya baik." Senyumnya.
"Terimakasih." Renjun duduk dengan gugup di depan ibu mertuanya.
"Kau bisa memanggilku dengan namaku saja, panggil aku Baekhyun. Aku kurang suka dipanggil dengan sebutan 'ahjumma', atau 'eomma' dan sebagainya, itu membuatku merasa semakin tua." Baekhyun menyandarkan tubuhnya di sofa dengan santai.
Pelayan datang mengantarkan teh dan kue, sementara Renjun mengamati ibu mertuanya, perempuan ini tampaknya memiliki pemikiran modern ala barat, karena cara memanggil orangtua hanya dengan nama saja biasanya diterapkan di negeri barat dan hampir tidak ada di sini.
Baekhyun menatap mata Renjun dan tersenyum, seolah bisa memahami pemikiran Renjun, "Aku hidup di luar negeri hampir seumur hidupku, aku pulang ke negara ini, dan satu tahun kemudian aku menikah. Jadi memang gaya hidupku tidak seperti orang kebanyakan di sini," Perempuan itu lalu memajukan tubuhnya dan menatap Renjun dalam, "Kau hamil ya."
Renjun hampir saja tersedak teh yang disesapnya, dia menatap Baekhyun dengan bingung, "Darimana anda tahu?"
"Dokter yang kalian kunjungi kan dokter pribadi keluarga kami, dia secara pribadi meneleponku untuk mengucapkan selamat." Baekhyun memutar bola matanya, "Dan bahkan, Mark anakku sendiri tidak memberitahuku."
Renjun tercenung dan teringat perkataan Mark, tentang sesuatu yang berhubungan dengan mengemis kasih sayang orang tua. Apakah Mark yang mengalaminya? Mengemis kasih sayang orang tua? Tetapi sepertinya Baekhyun eomma yang baik, bukan perempuan dingin yang tidak bisa menyayangi anaknya, kalau begitu kenapa seolah-olah Baekhyun tidak bisa dekat dengan anak-anaknya?
Baekhyun sendiri ikut mengambil teh dan menyesapnya, lalu meletakkan cangkirnya di meja dan mendesah, "Mark memang tidak pernah dekat denganku, apalagi setelah dia dewasa dan kemudian meninggalkan rumah, kami hampir sama sekali tidak pernah berhubungan..." Baekhyun menatap Renjun dengan ragu, "Apakah kau sudah berkenalan dengan Luisa?"
Luisa? Siapakah itu? Mark sama sekali tidak pernah menyebut nama itu dalam percakapan mereka. Dengan ragu dan penuh ingin tahu, dia menggelengkan kepalanya dan menatap Baekhyun penuh ingin tahu.
Tetapi Baekhyun seolah menyesal telah menanyakan pertanyaan itu, dia menggumam tak jelas, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain.
Tetapi sampai dengan Baekhyun berpamitan pergi, pertanyaan itu terus menggayuti benak Renjun. Luisa? Siapakah gerangan Luisa itu?
-o0O0o-
Mark akhirnya pulang, dan menatap Renjun dari belakang, Renjun rupanya tidak menyadari keberadaannya, laki-laki itu sedang sibuk mengatur bunga di sebuah vas, mungkin itu bunga-bunga yang dia petik dari taman belakang sana. Tanpa sadar Mark tersenyum, Renjun hampir tidak bisa lepas dari tanaman.
Ketika sadar bahwa dia tersenyum, Mark langsung mengerutkan alisnya dan berdehem, membuat Renjun menolehkan kepalanya, disadarinya bahwa laki-laki itu langsung menegang ketika menyadari kehadirannya di ruangan itu.
"Kita akan membicarakan mengenai kehamilan ini."
Renjun memberikan tatapan persetujuan, lalu tanpa suara mundur dan melangkah duduk di sofa, Mark menyusulnya, duduk di depannya.
"Aku menginginkan anak itu." Gumam Mark.
Wajah Renjun langsung pucat, dan reflek tangannya melindungi perutnya, Apakah Mark akan merenggut anak ini darinya ketika lahir nanti? Sekejam itukah Mark kepadanya? Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan terkejam yang Renjun bisa bayangkan.
Mark mengamati ekspresi Renjun dan mengerutkan keningnya kesal, "Jangan takut, aku tidak akan merebut anak itu darimu. Kita akan membicarakan pengaturan pernikahan ini baik-baik, demi anak itu." Mark menghela napas, mengucapkan permintaan maaf dalam hatinya kepada Luisa, dia bisa dikatakan telah mengkhianati Luisa, tetapi bagaimana lagi? Renjun sedang mengandung anaknya. "Aku akan memperlakukanmu dengan baik."
Renjun menatap Mark dengan tatapan tidak percaya, "Kau? Akan memperlakukanku dengan baik? Sampai kapan Mark? Sampai anak ini lahir dan kau kemudian akan menyiksa dan merendahkanku lagi? Tidak!" Renjun mengangkat dagunya dengan keras kepala, "Sampai detik ini aku tidak tahu kenapa kau menikahiku, tetapi sedikit demi sedikit aku memahami ada kebencian yang mendorongmu, meski aku tidak pernah tahu apa alasannya dan apa kesalahanku." Mata Renjun tampak pedih, "Anak ini memang tidak direncanakan, tetapi aku tidak akan melibatkannya dalam pernikahan yang menyedihkan ini. Aku ingin bercerai."
Renjun memang masih mencintai Mark, tetapi sikap Mark di depannya yang begitu dingin dan datar menyakiti hatinya. Seandainya saja Mark bisa sedikit lembut kepadanya, menunjukkan penyesalan atas sikap kasarnya dan menunjukkan niat baiknya, alih-alih memberikan kesepakatan tanpa hati, Renjun mungkin akan memperjuangkan pernikahan ini untuk Mark. Tetapi detik ini dia melihat, bahwa tidak ada gunanya dia berharap. Mark membencinya. Titik. Dan Renjun seperti orang bodoh terus berharap dalam cinta yang tak terbalas.
Jeno benar, sekarang dia tidak sendirian lagi, sekarang ada anak ini di dalam perutnya, dan Renjun harus berjuang bukan hanya demi dirinya tetapi juga demi anak ini.
Ekspresi Mark tampak marah mendengar usulan perceraian Renjun, "Tidak akan ada perceraian, bukankah sudah kukatakan kepadamu?"
"Aku akan menggugatmu, segera. Aku sudah muak menjadi pelampiasan kebencianmu tanpa tahu kenapa. Aku sudah muak menyadari kau menipuku dalam pernikahan ini, mengira kau mencintaiku." Napas Renjun tercekat menahan air matanya yang mulai tumpah, "Dan kemudian aku tahu semua itu hanyalah kebohongan, kebohongan palsu yang sangat kejam." Air mata Renjun akhirnya meleleh ke pipinya, "Aku mencintaimu, kau pasti tahu itu.." Suaranya bergetar ketika dia mengusap air matanya dengan kasar dan melangkah berdiri, hendak meninggalkan Mark.
Tetapi baru beberapa langkah, Mark meraih pergelangan tangannya dan mencengkeramnya. Renjun menoleh dan melihat pergolakan di wajah Mark, lelaki itu tampak kalut dan bingung... akankah Mark menahan dan memeluknya?
Renjun mungkin terlalu banyak berharap, karena kemudian yang dikatakan Mark adalah ucapan dingin yang arogan.
"Tidak akan ada perceraian, Renjun. Kau harus terima itu."
Dengan penuh kekecewaan akan jawaban Mark, Renjun menyentakkan tangannya dari pegangan Mark dan melangkah setengah berlari menuju kamarnya, sejauh mungkin dari suaminya. Dia akan pergi dari rumah ini bagaimanapun caranya. Selama ini dia bertumpu pada harapan kosong bahwa masih ada cinta Mark untuknya. Sekarang dia sudah sepenuhnya sadar bahwa dia hanya bermimpi.
Pernikahan ini sudah tidak bisa diperjuangkan lagi. Pernikahan ini sudah mati bahkan sebelum dimulai. Dan Renjun harus pergi meninggalkan Mark, kalau tidak dia akan hanyut dalam nyeri dan patah hati.
-o0O0o-
.
.
8
"Cinta dan benci itu hanya berbatas selaput tipis tak terlihat. Jika kau membenci seseorang, telaahlah perasaanmu, karena jangan-jangan, pada kenyataannya, kau mencintainya."
(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk
-o0O0o-
Mark berdiri terpaku dan bingung ketika ditinggalkan oleh Renjun. Perceraian. Pada akhirnya Renjun pasti akan mengajukan itu kepadanya, dan dia tahu itu akan terjadi. Dia bahkan sudah merencanakan perceraian yang menyakitkan untuk Renjun.
Tetapi sekarang dia tidak mungkin menerima perceraian itu, Demi Tuhan, Renjun sedang mengandung anaknya, dan lelaki itu dengan mudahnya mengatakan bahwa dia menginginkan perceraian. Mau dia bawa kemana anak Mark nanti? Apakah dia akan lari ke pelukan Jeno dan kemudian menjadiakan Jeno ayah dari anaknya?
Mark meringis dengan marah. Tidak! Tidak akan Mark biarkan Renjun lari kembali ke pelukan Jeno. Selama ini dia sudah menahan kebencian kepada lelaki itu, Jeno, lelaki yang terlalu dekat dengan Renjun. Dia tidak akan mengizinkan anaknya yang sekarang ada di perut Renjun berdekatan dengan Jeno.
Mark akan mempertahankan Renjun dan anaknya mati-matian agar selalu berada di sampingnya.
-o0O0o-
"Jadi kau akan pergi?"
Jeno terdengar bersemangat ketika malam itu Renjun meneleponnya, Renjun menghela napas panjang dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya, lupa kalau Jeno tidak bisa melihatnya.
"Renjun?" Jeno bertanya lagi menunggu jawaban Renjun.
"Ya Jeno, aku akan pergi." Renjun cepat-cepat menjawab.
"Kapan?"
"Aku tidak tahu, aku akan mencari cara melarikan diri dari supir yang diperintahkan oleh Mark untuk selalu mengawasiku." Gumam Renjun pelan, takut terdengar dari luar.
Jeno tampak berpikir di seberang sana, "Mark pasti akan langsung mengejarmu kemari, ke rumah kaca dan ke rumahku." Suaranya berubah serius, "Kau tidak boleh pulang kemari, aku akan mencarikan tempat untukmu bersembunyi, tempat yang tidak diketahui oleh Mark."
Renjun memikirkan perkataan Jeno dan tiba-tiba merasa takut ketika mengingat ancaman Mark kepada keluarga Jeno.
"Aku takut Jeno." Gumamnya pelan, mulai ragu.
"Takut apa?"
"Mark..." suara Renjun tercekat, "Mark pernah mengancam, kalau aku sampai melarikan diri atau menemuimu, dia akan menjadikan kau sasarannya, kau, eommamu dan kedua adikmu, dia akan menyerang mereka. Aku takut dia akan melaksanakan ancamannya dan melukai kalian." Bisik Renjun gemetar.
"Kami bisa menjaga diri kami sendiri." Jeno bergumam dengan suara tegas, "Jangan pikirkan itu, Renjun, kau harus memikirkan dirimu dan anakmu. Mark memang berkuasa, tetapi dia tidak bisa berbuat semena-mena dan melukai kita. Aku akan menghadapinya." Sambung Jeno dengan yakin.
Renjun memejamkan matanya berusaha meredakan ketakutanya. "Semoga Jeno... semoga semua baik-baik saja. Aku akan mencari cara untuk pergi dari rumah ini, segera."
"Kau harus benar-benar memikirkannya segera Renjun. Tingalkan saja Mark!"
Renjun mendesah, "Kau tahu aku masih mencintainya..."
"Bukankah kau takut padanya? Katamu dia pria kejam yang tidak segan-segan berbuat apapun untuk melaksanakan maksudnya."
"Ya..aku tahu, aku memang takut kepadanya, aku ketakutan ketika dia mengancammu dan keluargamu... entah kenapa jauh di dalam hatiku aku selalu berharap bahwa Mark tidak sejahat itu."
"Itu hanya harapan karena hatimu dilemahkan oleh cinta." Jeno tampak jengkel. "Cinta membuat matamu berkabut, membuatmu merasa bahwa masih ada kebaikan di benak Mark, padahal dia sangat kejam, banyak buktinya bukan? Kekejamannya dalam pernikahanmu, sikap kasarnya, siapa yang tahu apa yang dilakukannya untuk menyakitimu?"
"Entahlah Jeno." Renjun mulai merasa lelah,
Tetapi Jeno tidak membiarkannya, "Mark itu kejam, Renjun. Sangat kejam. Cepat atau lambat kau harus menyadari bahwa dia adalah pria yang jahat. Dan kau harus menyadarinya sebelum semuanya terlambat."
-o0O0o-
Sementara itu, tanpa Renjun sadari, Mark tengah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, tadi Mark memutuskan untuk menemui Renjun dan berkompromi demi anak mereka, dia akan meminta maaf kepada Renjun dan membuat Renjun mau tinggal dan mempertahankan pernikahan mereka.
Tetapi ketika baru sedikit membuka pintu kamar Renjun, dia mendengar percakapan itu, rencana melarikan diri Renjun yang disusunnya bersama Jeno.
Mark meradang, panas oleh kemarahan yang tidak dia sadari oleh karena apa. Berani-beraninya Renjun merancang cara untuk pergi darinya dan tidak menghiraukan ancamannya? Dan juga laki-laki itu menyusun rencananya dengan Jeno? Apakah kecurigaannya benar? Bahwa Jeno dan Renjun sebenarnya menjalin hubungan lebih? Renjun memang pernah mengatakan bahwa Jeno adalah normal, tetapi Mark tidak mungkin percaya begitu saja. Apalagi dengan kenyataan di depannya bahwa Renjun selalu menghubungi Jeno diam-diam seolah-olah tidak bisa lepas darinya.
Dada Mark terasa panas. Dia harus melakukan sesuatu untuk memberi peringatan kepada pasangan itu!
-o0O0o-
Hampir dini hari ketika ponsel Renjun terus menerus berbunyi, tidak mau menyerah sampai Renjun terbangun dan membuka mata.
Renjun masih mengantuk, dia membuka matanya dengan lemah, dan meraba-raba ponselnya yang terus berbunyi dengan berisik, tanpa melihat siapa yang menelepon, Renjun mengangkatnya sambil masih memejamkan matanya.
"Halo?" suaranya serak, tertelan oleh kantuk.
"Renjun!" Itu suara Jeno, terdengar panik dan bingung, di belakangnya tampak riuh rendah suara manusia, "Rumah kaca... rumahmu... terbakar!"
Kata-kata itu sanggup membangunkan Renjun begitu saja, bagaikan guyuran air es yang menyiramnya langsung, dia terduduk dengan pandangan nanar, "Apa?"
"Rumahmu terbakar, kami sedang berusaha memadamkannya dengan swadaya sambil menunggu petugas pemadam kebakaran..." napas Jeno tampak terengah, "Apinya.. apinya sangat besar."
"Oh Tuhan..." Renjun membayangkan tanaman-tanaman kesayangan eommanya, yang dirawatnya dengan penuh cinta seperti anaknya sendiri, dan seperti anak Renjun sendiri pula, dia membayangkan api yang melalapnya dan wajahnya pucat pasi.
"Aku.. aku akan kesana," dengan panik Renjun berdiri, merasakan perutnya sakit seperti di remas, tetapi dia berusaha mengabaikannya, dengan panik dia mencari-cari jaketnya dan memakainya, kemudian dia melangkah keluar hampir menangis.
Dia bingung harus bagaimana. Rumah besar ini tampak sunyi senyap, tanpa suara. Tetapi Renjun begitu panik, dia kemudian memberanikan diri dan mengetuk pintu kamar Mark, semula tidak ada jawaban sehingga Renjun mengubah ketukannya menjadi gedoran, sambil memanggil-manggil nama Mark.
Pintu terbuka tak lama kemudian, dan Mark yang sepertinya baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan, membuka pintu dengan wajah cemberut, "Ada apa?" gumamnya ketus, tetapi kemudian ekspresinya berubah ketika melihat Renjun menangis dengan tubuh gemetaran, dipegangnya kedua pundak Renjun menahan gemetaran gadis itu, "Ada apa Renjun?" suaranya berubah cemas.
Renjun mengangkat kepalanya dan menatap Mark dengan tatapan penuh permohonan, "Rumah kaca... " gumamnya serak penuh tangis, "Rumah kaca terbakar... kebakaran..."
Mark mengerutkan keningnya, tetapi kemudian berhasil menarik kesimpulan. Dia langsung memutuskan.
"Tunggu di sini. Aku akan segera mengantarmu ke sana."
Hanya dalam hitungan menit, Mark sudah kembali dan tampak rapi, lelaki itu lalu menggandeng Renjun, melangkah cepat ke mobil, dan melajukannya dengan segera, menuju rumah Renjun.
-o0O0o-
Mereka berdua sama-sama tertegun ketika mobil sudah mendekati rumah Renjun. Api melahap dengan begitu besar, menimbulkan cahaya orange yang mengerikan. Hawa panas tersebar di sana, dan asap hitam membumbung ke langit. Sementara itu banyak orang berkumpul di sana, sebagaian hanya menonton dari kejauhan, sebagian tampak berusaha memadamkan api itu dengan swadaya. Mobil pemadam kebakaran sepertinya baru saja datang, dengan selang besarnya dan air yang memancar.
Tetapi sepertinya semua sudah terlambat, tidak ada lagi apapun yang tersisa untuk diselamatkan. Rumah Renjun, rumah peninggalan eommanya, tempat semua kenangan masa kecilnya, sudah hancur dan hangus. Sementara itu yang tersisa dari rumah kacanya hanyalah kerangka bajanya yang masih berdiri tegak. Yang tertinggal hanyalah api dan kehangusan.
Renjun masih tertegun shock, sehingga membiarkan dirinya berada dalam rangkulan Mark, yang juga menatap api itu dengan tertegun.
Tak lama kemudian, Jeno datang berlari-lari menghampiri mereka, dia tampak berkeringat dan coreng moreng oleh noda hitam hangus di pipinya.
"Renjun!" Jeno berseru hanya menatap Renjun dan sepenuhnya mengabaikan Mark, tampak sangat menyesal, "Kami sudah berusaha memadamkannya, tetapi pemadam kebakaran terlambat datang karena kemacetan dan...Renjun?" Jeno bergumam panik ketika melihat tubuh Renjun oleng dan jatuh, dia hampir menopang Renjun, tetapi kemudian tertahan oleh Mark.
Lelaki itu menopang Renjun ke dalam pelukannya dan melemparkan tatapan tajam kepada Jeno.
"Biar aku saja." Gumamnya dingin sambil menatap Jeno dengan tatapan mengancam.
Jeno masih tertegun menerima tatapan membunuh dari Mark, dan mengamati lelaki itu membopong Renjun yang pingsan kembali ke mobil.
-o0O0o-
"Sayang... bangunlah..." Suara itu terdengar berbisik terus menerus di telinganya, dan kemudian ada harum aroma wewangian di hidungnya.
Renjun menggeliat dan berusaha membuka mata, melepaskan diri dari kegelapan yang menelannya.
Ketika dia membuka mata, dia langsung berhadapan dengan Mark. Renjun langsung mengernyitkan keningnya. Apakah Mark yang memanggilnya dengan sebutan'sayang' tadi? Ataukah dia hanya bermimpi?
"Kau pingsan tadi, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Mark pelan. Renjun rupanya telah dibaringkan di kursi belakang mobilnya.
Dengan gugup Renjun duduk, dan kemudian melemparkan pandangannya ke arah rumahnya, api sudah padam dan sekarang tinggal asap hitam sisa siraman air yang mengepul ke atas. Hatinya terasa perih dan teriris. Sedih luar biasa. Seakan semua kenangannya dihapuskan paksa oleh kebakaran itu.
Dengan sedih dia menahankan air mata yang mulai merembes di matanya, "Aku tidak apa-apa." Gumamnya serak.
Mark menghela napas, tampak lega, "Bagaimana dengan perutmu? Kondisi bayimu? Kau tidak merasakan sakit?"
Renjun meraba perutnya, memang terasa sedikit kram, tetapi itu mungkin karena Renjun sedang tegang, dia lalu menggelengkan kepalanya.
Ada kelegaan di mata Mark, lelaki itu kemudian menoleh dan menatap ke arah kebakaran dan mengernyit, "Apakah kau ingin membereskan urusan ini sekarang? Kau tahu, urusan laporan dengan polisi, asuransi dan lain-lain? Atau kau ingin pulang dulu dan mengurus ini besok?"
Pulang. Renjun termangu menatap rumahnya yang sudah hangus. Dulu rumah ini adalah tempatnya pulang. Sekarang semua sudah tidak ada lagi... apakah rumah Mark sekarang menjadi tempatnya pulang?
Renjun menatap Mark, dan ingin menanyakan keberadaan Jeno, tadi dia ingat sedang berbicara dengan Jeno sebelum dia pingsan. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Mark tampaknya sedang tenang dan Renjun tidak ingin mengusiknya dengan mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan Jeno.
"Ya Mark hyung... kita pulang saja."
"Oke." Mark mengambil bantal di jok belakang dan meletakkannya di belakang Renjun, "Kau berbaring saja di sana." Lelaki itu lalu menutup pintu mobil dan masuk ke belakang kemudi, melajukan mobilnya tanpa kata-kata.
Sementara itu Jeno mengamati dari kejauhan mobil Mark yang beranjak pergi membawa Renjun dengan dahi berkerut gusar.
-o0O0o-
Ketika mereka sampai ke rumah, pagi sudah menjelang karena matahari sudah mengintip di kaki langit, menampakkan semburat kuning yang memecah kegelapan langit.
Mark memarkir mobilnya di depan dan membukakan pintu belakang untuk Renjun, membuat Renjun yang tertidur selama perjalanan langsung terbangun, Renjun meskipun mengantuk, sudah mau turun dan berdiri ketika kemudian tanpa kata Mark mengangkat Renjun ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Hampir saja Renjun tertidur kembali ketika terayun-ayun dalam gendongan Mark yang sedang menaiki tangga. Dan kemudian mereka sampai di kamar Renjun.
Mark melangkah pelan dan membaringkan Renjun dengan lembut di atas ranjang. Renjun yang masih mengantuk langsung memiringkan tubuhnya dengan nyaman.
Dia mungkin bermimpi karena dia merasakan kecupan lembut di keningnya, sebelum langkah-langkah kaki Mark berlalu dan meninggalkan kamar itu.
-o0O0o-
Ketika Renjun terbangun di pagi hari, dia masih memikirkan semua memorinya. Dadanya langsung terasa sakit ketika teringat kebakaran itu. Dia menghela napas panjang, berusaha meredakan rasa sesak di dadanya. Ketika itulah tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuatnya terkejut. Dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Jeno. Kemarin mereka meninggalkan tempat itu begitu saja, Jeno pasti cemas.
Renjun mengangkatnya dengan suara lemah.
"Jeno?"
"Bagaimana keadaanmu Renjun?"
Renjun menelan ludahnya dengan pahit, "Aku baik-baik saja." Dia mendesah pelan dalam kesedihan, "Tidak ada yang tersisa ya?"
Hening sejenak, lalu Jeno berkata, "Maafkan aku..."
Renjun menyusut air mata di sudut matanya, sekali lagi menghela napas panjang, meredakan napasnya yang sesak. Sekarang dia tidak punya tempat lagi untuk pulang, rumah tempat kenangannya, tempat dia bisa menumpahkan segala kebahagiaannya di rumah kaca itu telah tiada. Semuanya sudah musnah.
"Renjun... kau masih di sana?" Jeno bertanya dengan ragu, menggugah Renjun dari lamunannnya.
"Aku masih di sini Jeno." Gumam Renjun cepat, "Kenapa?"
Jeno tampak merenung, "Apakah kau pikir kebakaran ini tidak kebetulan?"
"Apa maksudmu?"
"Katamu kemarin kau meminta perceraian dari Mark, dan kemudian malam harinya rumahmu terbakar? Apakah kau pikir Mark tidak terlibat dalam hal ini? Karena dari sudut pandangku, ini semua tampaknya terlalu kebetulan."
Renjun tertegun, wajahnya pucat pasi. Mark? Apakah benar yang dikatakan oleh Jeno? Bahwa Mark adalah dalang dari kebakaran rumahnya? Bahwa ini semua bukanlah musibah atau kecelakaan biasa? Apakah Mark sekejam itu?
Renjun masih teringat jelas betapa lembutnya Mark ketika menggendongnya tadi... Mark... tampaknya kehamilannya telah membuat hati Mark melembut. Mungkinkah Mark tega melakukan itu semua?
"Aku pikir Mark pasti pelakunya, Renjun. Waktunya terlalu bertepatan. Dan dia pernah mengancammu akan melakukan segalanya bukan?" Jeno masih bergumam di seberang sana.
"Aku tidak tahu Jeno..." Renjun menelan ludahnya, "Sungguh aku tidak tahu."
"Kau tidak boleh melemah dan kalah dari Mark, Renjun. Kalau kau menyerah, maka dia berhasil melaksanakan maksudnya. Dia pasti membakar rumahmu, aku yakin itu, agar kau tidak punya tempat untuk pulang dan melarikan diri. Kau tidak boleh menyerah Renjun. Tanpa rumahpun, aku masih bisa membantumu melarikan diri dari rumah itu. Oke?"
Renjun bimbang dan bingung, dia hanya bisa meringis menahan kekalutannya.
Dia masih tidak percaya Mark sekejam itu, membakar rumah kaca dan rumahnya? Benarkah itu? Benarkah Mark sekejam itu?"
-o0O0o-
Mark masih merenung di kamarnya pagi itu, dia ingin menengok Renjun, tetapi dia ragu. Semalam, mendampingi Renjun melihat rumah itu terbakar, kemudian menopang ketika Renjun pingsan telah menggugah sesuatu di dalam dirinya.
Sesuatu itu adalah rasa ingin melindungi dan menjaga Renjun dan anaknya.
Seharusnya tidak seperti ini... Mark meremas rambutnya sendiri dengan bingung. Seharusnya bukan seperti ini... Tetapi Mark telah kalah dengan perasaannya sendiri.
Pada akhirnya dia harus menyerah kalah dan mengakui bahwa dia mencintai Renjun. Mark telah menipu dirinya sendiri dengan mengatakan pada hatinya bahwa semua demi pembalasan dendamnya. Kenyataannya, dia mengejar dan menikahi Renjun karena dia mencintainya.
-o0O0o-
Renjun berpapasan dengan Mark ketika hendak berjalan ke ruang duduk, mereka berdiri dan bertatapan dengan canggung.
"Bagaimana keadaanmu?" Akhirnya Mark yang memulai percakapan, menatap Renjun dari ujung kaki ke ujung kepala, menilainya.
Renjun mengalihkan matanya dari tatapan Mark yang tajam, "Aku baik-baik saja."
Benak Renjun masih dipenuhi oleh pemikiran itu, pemikiran bahwa mungkin saja Mark adalah otak dibalik terbakarnya rumahnya. Bahwa Mark sangat kejam dan jahat kepadanya. Pemikiran itu menyakiti hatinya lebih daripada yang dia sangka. Karena Renjun masih sangat mencintai Mark. Amat sangat mencintai lelaki itu..
"Polisi mungkin akan datang kemari menanyakan beberapa pertanyaan, yah karena kau adalah pemilik rumah itu, aku harap kondisimu cukup baik untuk menerima mereka."
Renjun menganggukkan kepalanya, "Aku baik-baik saja." Dia merenung dengan sedih. Apa yang akan terjadi kalau dia mengungkapkan kecurigaannya kepada Mark ke polisi? Akankah polisi membantunya?
Tetapi menilik sikap Mark yang begitu tenang itu, Renjun jadi berpikir bahwa Mark tentu sudah menyiapkan segalanya.
Lelaki itu sangat pandai, jadi dia pasti bisa mengatur agar dia tidak ketahuan sebagai dalang kebakaran itu. Tidak ada gunanya memberitahu polisi, karena dia pasti akan terlihat seperti orang bodoh, seorang istri yang menuduh suaminya sendiri.
-o0O0o-
Polisi itu sudah pulang setelah mengumpulkan data-data. Tidak banyak yang mereka tanyakan karena memang Renjun sudah tidak meninggali rumah itu setelah mereka menikah.
Setelah mengantar kepergian polisi itu, Mark menatap Renjun dengan tatapan datar.
"Kau boleh membangun rumah kaca di sini."
Renjun tertegun, tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Mark, dia menatap mata Mark, mencari tanda-tanda bahwa Mark sedang bercanda dengan kejam padanya, tetapi mata Mark tampak tulus menatapnya.
"Apa?" Renjun tidak bisa menahan diri untuk bertanya ulang, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa Mark tidak bercanda.
Mark berdehem seolah-olah mengucapkan kata-kata itu sangat sulit baginya.
"Aku tahu bahwa kau sangat menyayangi tanaman-tanamanmu, dan kehilangannya pasti akan membuatmu terpukul, aku tidak mau kau berlarut-larut dalam kesedihan dan akan mempengaruhi kondisimu, dan juga bayimu. Besok aku akan mengirimkan orang untuk membangun rumah kaca di taman belakang untukmu. Taman belakang cukup luas untuk sebuah rumah kaca. Setelah rumah kaca itu selesai dibangun, kau bisa mengisinya dengan berbagai varietas tanaman kesukaanmu."
Renjun menatap Mark dalam-dalam dan menemukan keseriusan di sana, lelaki itu tidak sedang bercanda rupanya, "Kau tidak perlu melakukannya untukku." Renjun bergumam lemah meskipun perkataan Mark membuat hatinya tersentuh.
Mark tersenyum lembut, senyum lembut pertamanya setelah entah kapan, Renjun sudah tidak bisa mengingatnya lagi, karena setelah pernikahan mereka, Mark hampir tidak pernah tersenyum kepadanya.
"Aku tidak repot kok." Lelaki itu lalu berlalu meninggalkan Renjun dengan sejuta pertanyaan berkecamuk di benaknya.
-o0O0o-
Mark tidak main-main dengan perkataannya. Keesokan harinya ketika Mark sudah berangkat kerja dan Renjun sedang duduk di taman memandangi keindahannya dan kemudian tanpa sengaja mengingat lagi akan rumah kacanya yang hangus, membuatnya merasa sedih, beberapa pekerja tiba-tiba datang, mereka bekerja dengan cepat dan sangat berpengalaman, sehingga ketika tengah hari Renjun mengintip lagi, seluruh pondasi dan konstruksi rangka rumah kaca itu sudah jadi.
Jantung Renjun berdebar, karena rumah kaca itu, dilihat dari rangkanya, jauh lebih besar daripada rumah kaca miliknya yang sudah hangus itu, tentu saja mengingat area taman belakang Mark berkali-kali lebih luas dari area kebun di rumahnya yang terbatas.
Renjun membayangkan dia akan mengisi rumah kaca itu dengan berbagai varietas yang unik, membangun lagi keindahan tanaman dan koleksi bunganya yang hilang, memulai lagi sedikit demi sedikit...
Tiba-tiba Renjun mengernyitkan keningnya ketika menyadari sesuatu... kalau itu benar terjadi, berarti dia harus tinggal lama di rumah Mark, rumah kaca ini seolah menjadi pengikatnya dengan Mark.
Apakah itu memang yang direncanakan oleh Mark? Karena itukah lelaki itu membakar rumah kacanya? Supaya dia bisa mengingat Renjun dengan rumah kaca barunya? Supaya Renjun tidak bisa pergi lagi dari rumah ini?
Jadi itu semua bukan karena kebaikan hati Mark atau karena lelaki itu mencemaskannya? Jantung Renjun berdenyut kembali dengan pedih, entah sejak berapa lama, dia mengharapkan Mark melakukan sesuatu karena lelaki itu benar-benar mempedulikannya, bukan karena ada rencana keji di baliknya.
-o0O0o-
Mark mengunjungi Luisa lagi hari itu karena kepala pelayannya menelepon dan mengatakan Luisa mengamuk, tidak mau makan dan tidak mau meminum obatnya. Hal itu membuat Mark merasa cemas dan dengan bergegas dia mengunjungi rumah tempat Luisa berada.
Ketika dia membuka pintu kamar Luisa, Mark mengernyit, kamar itu berantakan dengan segala barang berhamburan di lantai dan di mana saja, bahkan selimut dan bed cover ranjang juga tergeletak begitu saja di lantai, spreipun kondisinya sama menyedihkannya, seluruh sisinya sudah terlepas dari ranjang, menyisakan bagian kecil di tengah ranjang yang belum lepas, bagian kecil itu sekarang sedang ditiduri oleh Luisa yang meringkuk dan menangis seperti anak kecil.
Dengan hati-hati, Mark duduk di tepi ranjang Luisa, mengelus rambut adik kembarnya dengan pelan, berusaha selembut mungkin agar tidak mengejutkan adiknya.
Luisa sepertinya menyadari kehadiran Mark karena perempuan itu menangis semakin keras.
"Sayang... kenapa? Kenapa kau menangis terus dan tidak mau makan?" Mark bertanya dengan cemas. Tetapi tidak ada tanggapan dari Luisa, perempuan itu makin meringkukkan tubuhnya dan menangis tersedu-sedu, membuat perasaan Mark semakin perih.
Mark menatap adiknya dengan perasaan sedih. Melihat kondisi Luisa ini membuat rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Apalagi sekarang, ketika dia memutuskan untuk menyayangi Renjun dan tidak mencoba menahan perasaannya lagi kepada isterinya itu, Mark merasa seperti menjadi pengkhianat paling buruk di dunia.
"Bakar... bakar habis. Dia bilang bakar sampai habis.." Tiba-tiba Luisa bergumam dengan setengah mengigau.
Hal itu membuat Mark tertegun kaget. Apa kata Luisa tadi? Bakar?
Mark mencoba menunggu dan berharap Luisa mengulang kata-katanya, tetapi adiknya itu kembali menangis tersedu-sedu tanpa kata.
Kenapa Luisa mengatakan tentang pembakaran tepat setelah kejadian rumah dan rumah kaca Renjun terbakar? Apakah ini berhubungan? Ataukah hanya kebetulan?
Mark tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya-tanya, otaknya berpikir keras... tetapi seharusnya Luisa tidak mengetahui tentang kebakaran itu, pegawainya menjaganya dengan begitu ketat sehingga menjaga Luisa dari semua informasi dari luar. Seharusnya Luisa tida tahu apa-apa.
Mark menghela napas panjang, mungkin memang ini semua hanya kebetulan...mungkin tadi tidak sengaja Luisa melihat api dan berkomentar tentang pembakaran.
Tetapi perasaan itu tetap ada, perasaan tergelitik di bagian belakangnya, yang biasanya merupakan firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
-o0O0o-
.
.
TBC
Hahahaiiiii
Aku kangen kaliannnn
Ada yang kangen sama aku?
Ada yang masih ingat ff ini?
Yang masih ingat mana reviewnya…
Sign
Minnie
