Chapter

7 of 7


/Perpisahan/

Dua tahun tak terasa. Berjuta-juta pengalaman tak akan terlupakan. Yang jomblo masih jomblo. Yang taken jadi jomblo. Entah kami lulus atau tidak ke jenjang kuliah. Aku juga belum memastikannya. Tapi cintaku untuk Miku, tentu telah kupastikan semenjak dulu-

"Woi Len. Puitis amat lu buat teksnya. Kenapa lu? Galau buat mikirin jurusan apa? Atau galau karena Miku yang udah diculik oleh mantannya?" celoteh Leon. Leon adalah sahabat gue dari SMP. Walaupun dia orangnya ngeselin kayak cintaku untuk Miku -sangat- tapi hanya dialah yang tau keadaan gue kalo gue lagi ada apa-apa.

Gua yang barusan ngeh apa yang diomongin Leon tadi langsung menggebrak meja, "HAH? MANTAN? SEJAK KAPAN MIKU PUNYA MANTAN?"

Leon menggulung matanya keatas, "Lu belom tau, ya? DUH! Gimana sih. Sebagai GEBETAN dia, lu harus tau asal-usul Miku dong."

Asal-usul palak lo.

"T-tapi, gimana? Gue sama Miku 'kan, beda jurusan - ya walaupun tempat kuliah kami sama. Gue takutnya dia ketemu sama mantannya dan balikan."

"Cliche."

"Ya elah. Hargain gue dong, Oon. Semangatin gue dikit napa." Pusing. Kepalaku pusing.

Padahal gue udah pusing gara-gara mau nyusun acara buat perpisahan. Ditambah lagi tentang Miku dan mantannya. Kami-sama, tolong hamba.

Terjadi keheningan yang lama. Aku melirik Leon yang tengah menatap entah apa. Pandangannya begitu tajam, kayaknya bisa sampe motong sapi saking tajamnya.

"Huh."

.

.

.

.

.

.

.

"AHAHA LU KETIPU AHAHAHA!"

Tiba-tiba Leon tertawa terbahak-bahak. Gue hanya bisa menatapnya dengan bingung. Gue lagi pusing gini, tiba-tiba lu ketawa. Apa enggak kejem, tuh?

Leon menyingkirkan air matanya, "Ya ampun- PFT AHAHA! Lu percaya kalo Miku punya mantan? Enak juga ya ngeboongin lu kalo lagi ngebahas tentang Miku."

"Jadi cuma boongan? Oh, bagus kalo begitu."

"Lah kok lu enggak marah?"

"Ya ngapain marah. 'Kan lagi puasa, kaga boleh marah-marah. Lu juga, lagi puasa gak boleh ngebohongin orang." Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "EHE iya. Gue lupa."

Tapi, kalo memang bener Miku enggak punya mantan,

Gue pasti bisa memilikinya.

"Oh ya," tiba-tiba suara Leon terdengar, "Bantuin gua beresin ini dong. Jangan males-malesan lagi. Udah H-1 nih."

Sekarang aku yang menggulung mataku keatas, "Elah 'kan lu sendiri yang mulai ngebahas Miku."

"Lu juga kenapa buat teks puitis kayak gitu untuk teks pembukaan perpisahan." Hm, dia ada benernya juga.

JK!

"Selamat datang diacara perpisahan SMA *** tahun angkatan 2016/2017. Dengan senang hati kami telah menyusun acara ini dengan sebaik-baiknya. Demikianlah, dan saksikanlah penampilan pembukaan kami, tari tradisional."

Aku melirik-lirik kelas tetangga, untuk memastikan bahwa Miku datang ke acara ini. Tapi kok kayaknya, dia enggak ada.

"Gum, liat Miku gak?" tanyaku kepada Gumiya. Cowok rambut ijo tajem-tajem kayak duren itu hanya menggeleng kepalanya.

"Oh, yaudah," jawabku sembari mencari Miku di taman gedung. Sebenernya gue mau ngelakuin satu hal yang sangat ekstrem. Tapi, entahlah. Gua harus bisa nyari Miku dulu.

Sesampainya di taman gedung, aku melihat banyak orang yang lagi berlalu-lalang (A/n: bukan pasar). Kular-kilir mencari Miku yang entah ada dimana. Hampir tiga menit waktu yang gue habiskan cuma untuk mencari Miku. Dan ternyata...

"Iya, Yuuma-kun. Aku mau, kok."

Suara itu...

"Aku enggak bohong, Yuu-kun. Aku juga suka sama Yuu-kun."

Aku menoleh kebelakang dan mendapatkan sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan hati. Ingin sekali rasanya melabrak si Yuu-kun itu. Bisa-bisanya kau merebutnya dariku, dasar bajingan!

Tiba-tiba, mata gadis yang kusukai dari dulu itu menemukan tatapanku. Matanya membulat tak percaya.

"L-Len?"

Dengan senyuman pahit, aku menepuk tanganku, "Selamat, ya, gadis kesukaanku."

"G-gadis kesukaanku?" Miku mendekat kearahku, " L-Len?"

"Sudah ya, Mik. Gue mau balik ke dalem. Sekali lagi, selamat ya. Jangan lupa aja PJ-nya. Ahaha," dengan begitu, aku masuk ke dalam gedung dan menyaksikan perpisahan dengan hati yang remuk.


Fin.


A/n: GOTCHA!

Maapkan! *sujud sajadah*

Terima kasih telah membaca fic gaje ini sampe akhir!