Tittle : Another Story Of The Three Detectives.

Cast : Cho Kyuhyun, Park Jungsoo, Lee Donghae, Lee Sungmin and other.

Genre : Crime, Friendship, Mystery.

Rated : T

~ Chapter 6 ~

Sebagai rasa ucapan terima kasih karena Kyuhyun dan Jungsoo telah menyelamatkannya dan juga beberapa teman kerjanya, Sungmin mengajak Jungsoo, Kyuhyun dan Donghae untuk makan malam di sebuah restaurant mewah. Awalnya mereka atau lebih tepatnya Jungsoo menolak tawaran Sungmin, namun sang pemuda manis tersebut terus memaksa dan mau tidak mau Jungsoo menyetujuinya.

Suasana makan malam tersebut hampir sempurna, kalau saja Kyuhyun tidak menyinggung tentang latar belakang Sungmin dan juga dirinya yang harus mengingat berbagai percobaan pembunuhan padanya. Namun ia belum mau menceritakannya pada ketiga pemuda yang ia anggap sebagai kakak kandungnya tersebut.

Keadaan bertambah parah ketika sebuah kasus pembunuhan terjadi di sekitar mereka. Sang pemilik restaurant tiba-tiba jatuh dari lantai dua dalam keadaan tidak bernyawa. Dan Kyuhyun menemukan bahwa pemilik restaurant tersebut telah diracun oleh kalium sianida sebelum terjatuh dari lantai dua.

Entah sengaja atau hanya kebetulan, Kim Kibum tiba-tiba berada di restaurant yang sama dengan Kyuhyun. Ia mengaku memutuskan untuk kembali ke korea karena wanita yang ia sebut dengan 'Mom' ternyata wanita yang banyak bicara.

Setelah melakukan investigasi dan interograsi pada semua pengunjung dan pegawai restaurant, polisi menemukan tiga pengunjung yang tidak memiliki pada jam kejadian. Seorang anak muda yang membenci korban karena tidak menyetujui hubungannya dengan putri korban. Seorang pria berkebangsaan asing yang mengaku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan korban. Dan seorang pria lokal pemilik sebuah cafe kecil tidak jauh dari restaurant tersebut.

Setelah menyelidiki tempat kejadian perkara serta keterangan dari saksi dan tersangka serta bukti yang ada, Kyuhyun berhasil mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Namun, apakah semua hipotesa dan bukti yang Kyuhyun kumpulkan adalah sebuah kebenaran?

.

.

.

Selanjutnya

"Sudah lewat tengah malam, bisakah kalian lanjutkan besok?" Kim Shinhae menatap polisi yang berada di hadapannya kesal. "Maaf. Masih ada beberapa hal yang masih harus kami lakukan." Salah satu petugas kepolisian menjawab. "Tapi sampai kapan?! Kami tidak mungkin menginap di sini kan?"

"Mungkin." Kibum menjawab pertanyaan pemuda berusia 25 tahun tersebut. "Kalau sampai belum ada bukti yang menunjuk kalau salah satu dari kalian adalah pembunuhnya, maka kalian tidak akan diperbolehkan pulang. Kecuali kalau salah satu dari kalian mau mengaku sendiri." Lanjutnya.

"YA! Tapi kalian telah memeriksa kami secara keseluruhan dan tidak menemukan apapun yang memberatkan kami. Aku hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Bagaimana kau bisa yakin kalau salah satu dari kami adalah pelakunya?!"

"Tenanglah. Cepat atau lambat kalian akan segera dipulangkan." Sahut Kang Donghyun.

"Hmm.. apa boleh aku ke kamar kecil sebentar." Kyuhyun terkesiap ketika salah satu tersangka berucap. "Tentu saja." Sang petugas kepolisian memberikan izin. "Hyung, aku akan berada di toilet jika kalian membutuhkanku." Dan tanpa menunggu jawaban dari ketiga kakaknya, Kyuhyun segera mengikuti orang tersebut menuju lantai dua dengan sebuah kertas dari Sungmin berada di tangannya.

CKLEK

Kyuhyun tidak menemukan siapapun saat ia membuka pintu toilet tersebut, namun ia dapat mendengar bunyi air di salah satu kamar mandi. Kyuhyun bergerak menuju wastafel, melipat kertasnya dan menaruh di dalam kantung celana kemudian mencuci kedua tangannya yang terasa sangat lengket. Dan tidak lama kemudian seseorang yang Kyuhyun ikuti sejak tadi sudah berada di sampingnya melakukan hal yang sama dengannya.

"Hari yang melelahkan ya?" Orang yang berada di sebelah Kyuhyun mencoba mengajaknya berbincang. "Ya. Seandainya saja kau mau menyerahkan dirimu, maka semuanya akan cepat berakhir."

"Apa maksudmu anak muda?"

"Oh. Bukankah kau yang membunuh pemilik restaurant ini? Benar kan, Choi Taehyun-ssi?" Seseorang yang sedari tadi diikuti Kyuhyun seketika mengubah air wajahnya kaget, namun tidak berlangsung lama karena setelahnya ia terkekeh. "Kau bercanda? Apa aku terlihat seperti pembunuh?" Candanya pada Kyuhyun.

"Bahkan seorang ibu mampu menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Tidak memerlukan wajah sangar dan tato pada tubuh untuk membunuh seseorang."

"Jangan berbicara hal sampah, nak. Lebih baik kau pulang karena ini sudah lewat tengah malam."

"Kau membuat janji dengan korban malam ini pada sekitaran pukul 7 malam." Tanpa mengindahkan perkataan Taehyun, Kyuhyun kembali berbicara. "Salah satu pelayan bilang, kalau beliau akan bertemu dengan pesaing kecilnya maka dari itu hanya ada dua potong cake dan air putih sebagai hidangan untuk menyindirmu. Kau yang berpura-pura ingin mengajak korban hanya sekedar mengobrol mencampurkan kalium sianida pada air putihnya ketika ia mengalihkan pandangannya denganmu. Dan hanya tinggal menunggu waktu hingga korban meminum air putih tersebut."

"Apa kau melihatnya?" Taehyun masih mencoba mendengarkan segala perkataan Kyuhyun.

"Namun kau tidak menyangka bahwa korban jatuh ke bawah setelah mendapatkan reaksi kesakitan dari racun tersebut. Korban memecahkan gelasnya dan batuk mengeluarkan darah dari dalam mulutnya sebelum akhirnya ia jatuh ke bawah dan tewas. Kau yang melihat itu, tanpa ada pilihan masuk ke dalam salah satu ruangan merokok setelah sebelumnya ke dalam toilet dan seolah-olah telah berada di sana tidak tahu apa-apa."

"Bisakah kau diam? Kau bahkan tidak melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa aku yang melakukan kejahatan tersebut. Aku bahkan tidak punya alasan untuk membunuh pria tua tersebut."

"Berdasarkan keterangan salah satu pelayan, kau dulu adalah pemilik dari sebuah restaurant cukup mewah di daerah sini. Tapi entah mengapa kau tiba-tiba memutuskan untuk menutup restaurantmu dan memilih untuk membuka cafe kecil. Aku berasumsi kalau pemilik dari restaurant ini yang memaksamu untuk menutup restaurantmu dengan sebuah cara yang licik. Buktinya kau selalu mengirimkan sejumlah uang yang sama setiap bulannya pada tanggal dan jumlah uang yang sama. Kemungkinan yang bisa diambil hanyalah bahwa ia mengancammu dan kau terpaksa menurutinya." Kyuhyun mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Taehyun.

"Omong kosong. " Dengan segera ia merobek kertas tersebut menjadi kecil. "Ini tidak bisa menjadi bukti kalau aku yang membunuhnya!" Taehyun berjalan hendak meninggalkan Kyuhyun. Sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Darah. Apa kau lupa bahwa ada darah yang terputus di lantai?"

"Lalu? Apa maksudmu darah itu terciprat di wajahku huh? Polisi sudah memeriksa kami dari atas hingga bawah dan mereka tidak menemukan apapun di baju kami."

"Ada satu tempat yang akan luput dari pemeriksaan polisi. Tempat yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun."

"Apa? Dimana?"

"Bagian bawah dari sepatumu."

Dan wajah Taehyun pun berubah menjadi pucat. "Darah yang terputus di lantai itu, bukan karena terhalang sesuatu, tapi karena menyentuh sesuatu. Awalnya aku berpikir kalau polisi akan menemukan reaksi darah dari baju kalian. Tapi ternyata tidak. Kau yang menyadari telah menginjak bekas darah, dengan buru-buru mengelapnya dengan tanganmu lalu kemudian kau membasuhnya di kamar mandi. Kau tidak memprediksikan kejadian seperti itu, maka kau tidak membawa sepatu ataupun baju cadangan." Lanjut Kyuhyun.

"Nah. Apa mereka belum memeriksanya? Perlukah kita memeriksanya sekali lagi dan melihat adakah reaksi luminol dari alas sepatumu."

"Tidak perlu." Taehyun menundukkan kepalanya. "Semua yang kau katakan benar. Aku yang membunuhnya." Lanjutnya.

"Karena persaingan bisnis?" Tanya Kyuhyun.

"Aku tidak sebodoh itu untuk membunuh orang hanya karena alasan seperti itu. Kami membangun restaurant pada saat yang hampir bersamaan, namun ternyata milikku berkembang lebih pesat darinya. Lalu ia mulai mengancamku dan berusaha membuat restuarant milikku mengalami kebangkrutan. Hingga suatu saat rencananya berhasil, ia membuat berita bohong dengan mengatakan pada publik bahwa aku menggunakan ilmu hitam untuk membuat restaurantku berkembang. Bahkan entah bagaimana ia memiliki buktinya, setelah aku mengalami kebangkrutan dia masih saja terus mengancamku dan memaksaku untuk terus mengirimkannya uang sebesar 1juta won setiap bulannya."

"Kau bisa menolaknya dan melaporkannya pada polisi."

"Sudah. Dan tidak ada tanggapan dari polisi karena aku kekurangan bukti. Dan aku tidak bisa menolak karena ia mengancam akan membeberkan berita bohong tentang usaha baruku membuka cafe kecil."

"Kau akan mendapatkan keringanan bila kau menyerahkan dirimu kepada polisi." Saran Kyuhyun.

"Oh benarkah?" Kyuhyun mengangguk tanpa melihat sang pelaku yang tengah tersenyum jahat padanya. "Kupikir tidak begitu."

BRAKKK

"Akkh.."

Dengan tiba-tiba Taehyun menarik Kyuhyun yang akan meninggalkannya dan mendorong tubuh Kyuhyun ke tembok. Tubuh Kyuhyun juga menghantam sebuah tempat sampah yang berada di dekatnya. Dengan susah payah Kyuhyun berusaha bangkit dengan memegangi lengan kirinya yang terasa sakit akibat lebih dahulu menghantam tembok dan tempat sampah tersebut.

"Kau terlalu tahu banyak nak. Bukankah lebih bagus kalau kau menyusul pria tua tersebut?"

Taehyun menarik kerah baju Kyuhyun, memaksanya untuk kembali berdiri. Dan dengan yakin, Taehyun memukul pipi kiri Kyuhyun hingga membuat pemuda 17 tahun tersebut kembali tersungkur. "Dan setelahnya aku akan melarikan diri dari negara ini kemanapun aku mau." Dan tanpa menunggu Kyuhyun bangkit, ia menendang perut Kyuhyun yang masih berusaha untuk bangkit.

"Akkh. Kau...mungkin bisa lari dari negara ini. Hah...hah..hah...tapi selamanya kau tidak akan bisa lari dari rasa bersalahmu. Arrgghhh!" Kyuhyun memegangi perutnya yang kembali menerima tendangan kedua dari kaki Taehyun. "Kau terlalu banyak berbicara anak muda. Diam dan nikmati saja apa yang kuberikan padamu." Kembali, Kyuhyun ditarik secara paksa untuk berdiri. Dan tubuh tinggi tersebut kembali di dorong secara keras ke tembok. Kyuhyun merasa tubuhnya terasa sangat sakit, terutama pada bagian lengan kirinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyandarkan tubuhnya duduk bersandar pada tembok di belakangnya.

"Dengan tangan ini, aku akan menghentikan nafasmu." Taehyun mendekati Kyuhyun yang masih terengah-engah dan dengan segera mencekik leher Kyuhyun dengan erat.

"Sampaikan salamku pada pria tua tersebut, nak."

.

.

.

Jungsoo, Donghae, Sungmin dan Kibum hanya berdiam diri menatap para tersangka yang masih diperiksa oleh para polisi. Mereka dengan serius menyimak setiap perkataan yang dibeberkan oleh dua tersangka. Bahkan terkadang mereka memberikan pertanyaan lain yang tidak ditanyakan oleh polisi.

"Apa kalian merasa Kyuhyun terlalu lama meninggalkan kita?" Kibum bertanya mengalihkan pandangan tiga pemuda lainnya. "Benar juga. Aku bahkan tidak menyadarinya." Sahut Jungsoo.

"Aku akan menengoknya. Setelah itu akan mengajaknya pulang. Kalian tidak apa kan meneruskan kasus ini tanpa Kyuhyun?" Tanya Donghae. "Tidak masalah. Lagipula besok ia harus pergi sekolah." Jungsoo menjawab.

"Hei! Kau mau kemana?" Kepala polisi Donghyun bertanya. "Menyusul Kyuhyun ke toilet." Donghae menjawab. "Lebih baik kita bersama kesana. Aku juga membutuhkan kamar mandi saat ini." Donghae hanya mengangguk dan menunggu Donghyun berjalan menyusulnya.

"Hahh malam yang panjang." Donghae mengeluh pada Donghyun yang berjalan di sampingnya. "Ya. Tapi sepertinya akan masih panjang. Kalau kalian lelah, sebaiknya kalian pulang. Biarkan kami yang mengurus sisanya." Jawab Donghyun. Donghae kembali menghela nafas dan memandang Donghyun dengan wajahnya yang lelah. "Aku mau. Tapi magnae itu pasti menolak." Keluhnya.

BRAK

Donghae dan Donghyun langsung berlari menuju toilet setelah mendengar bunyi gaduh dari sana. Dan tanpa banyak buang waktu Donghae langsung mendobrak pintu toilet tersebut dan mendapati Kyuhyun tengah kesulitan bernafas akibat cekikan Taehyun. "KYUHYUN!" Teriak Donghae dan langsung menerjang sang pelaku.

"Hahh haahh haahh"

Kyuhyun langsung mengambil nafas setelah lehernya terbebas dari tangan Taehyun. "Kau tidak apa-apa?" Donghyun menghampiri Kyuhyun yang masih memegangi lehernya dan mencoba mengatur nafasnya. "Iya." Jawabnya singkat. Sementara Donghae masih asik menghajar Taehyun yang telah mencoba membunuh adiknya. Mau tidak mau akhirnya Donghyun pun turun tangan untuk menenangkan Donghae. "Lebih baik kau lihat Kyuhyun." Ucap Donghyun pada Donghae.

Donghae sudah bisa menenangkan dirinya sendiri dan memandang Kyuhyun yang masih duduk bersandar pada tembok sembari mengatur nafasnya. Ia menghampiri adiknya itu dan mengelus punggungnya. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya. Kyuhyun tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.

Tidak lama kemudian, suara gaduh dan banyaknya orang yang masuk ke dalam toilet tersebut, termasuk para hyung Kyuhyun yang tadi berada di lantai satu. Mereka memandang Kyuhyun khawatir dan mencoba menenangkannya. Namun tidak dengan Jungsoo yang justru masih berdiri terdiam memandang Kyuhyun tanpa tahu apa maksud dari tatapannya tersebut.

.

.

.

"Terima kasih atas bantuanmu. Hati-hati."

Donghyun membungkukkan tubuhnya pada Kyuhyun dan para hyungnya yang baru saja selesai ia mintai keterangan sebagai saksi. Dan mau tidak mau, Donghyun harus berterima kasih pada Kyuhyun karena telah menemukan pelaku pembunuhan tersebut. Walaupun harus mengancam nyawa Kyuhyun sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 2.30 pagi saat mereka berjalan keluar dari kantor polisi. Tangan kiri Kyuhyun kini terpasang kain penyangga dengan leher yang menjadi penopang agar tangannya untuk sementara tidak bisa digerakkan. Hantaman lengannya ke tembok saat di toilet ternyata cukup keras untuk membuat sendinya sedikit terganggu.

Sungmin berpamitan pada mereka dan pulang ke rumah dengan menggunakan mobilnya sendiri. Sementara Kibum untuk sementara akan tinggal bersama Kyuhyun, Jungsoo dan Donghae di mansion. Mereka pulang dalam keadaan diam, dengan Jungsoo yang menyetir dan Donghae yang berada di sebelahnya. Entah karena memang sudah mengantuk atau apa, tidak ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Kyuhyun bahkan hanya menyenderkan kepalanya pada kaca jendela dan menatap jalanan yang sudah gelap.

"Tidurlah Kyu. Besok tidak usah berangkat sekolah dulu." Donghae menyuruh Kyuhyun setelah mereka sampai di mansion tepat pukul 03.00 pagi. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Donghae langsung masuk ke kamarnya tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. "Kibum hyung, kau tidur bersamaku saja. Aku akan ke kamar mandi dulu sebentar." Kibum mengangguk dan ia langsung melangkah menuju kamar Kyuhyun, setelah sang empunya menunjukkan jalan menuju kamarnya.

"Bodoh."

Kyuhyun yang baru saja akan melangkah menuju kamar mandi kembali terdiam setelah mendengar nada bicara dingin dari Jungsoo yang baru masuk ke dalam mansion. "Apa yang kau pikirkan sampai berani mengambil resiko seperti itu huh?" Lanjut Jungsoo.

"Aku lelah hyung."

"KAU PIKIR AKU TIDAK?!"

Kyuhyun tersentak kaget mendengar teriakan Jungsoo. Ia tidak menyangka hyungnya akan marah sebesar ini padanya. "Aku juga lelah Kyu. Tapi tidak seharusnya kau mengambil resiko seperti itu. Kau harus tahu batas kemampuanmu Kyuhyun. Aku tahu kau pintar, tapi kau tidak pandai berkelahi." Masih dengan nada yang kesal, Jungsoo berkata.

"Bisakah kau lanjutkan besok? Aku benar-benar lelah hyung." Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menatap hyung tertuanya itu memelas. "Baik. Aku belum selesai sampai kau benar-benar tahu apa masalahmu." Kyuhyun menghela nafas lega setelah Jungsoo melangkan menjauhinya menuju kamar. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya singkat dan menyusul Kibum yang telah terlelap di dalam kamarnya. Ia sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Kibum, namun ia urungkan niatnya dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.

KRING KRING KRING

TREK

Donghae menggeliat perlahan dan mulai menyibak selimutnya. Ia menatap jam weker di sampingnya yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ia sengaja menyetel alarm agar tidak bangun terlalu siang, tidur selama kurang lebih 6 jam terasa cukup baginya. Dengan mata masih setengah terbuka, ia berjalan keluar kamarnya berniat menghampiri kamar sang kakak tertua, namun hidungnya mencium bau sesuatu yang menggiurkan dari arah ruang makan.

"Wahhh. Kau sudah membuatkan sarapan hyung?"

"Tentu saja. Kalian pasti kelaparan akibat semalam yang melelahkan bukan?" Jungsoo menaruh piring ke empat yang berisi nasi goreng di atas meja. "Mandi dulu sana." Suruhnya pada Donghae yang langsung dituruti oleh Donghae. Jungsoo kembali ke dalam dapur dan mulai mempersiapkan hal-hal lainnya untuk sarapan mereka yang bisa dibilang cukup terlambat.

"Apa Kyuhyun sudah bangun?"

Jungsoo mendapati Kibum yang sudah berada di dapur dan menanyakan keadaan Kyuhyun. Jungsoo menaikkan sebelah alisnya dan menatap Kibum heran. "Bukannya kau tidur di kamarnya?" Tanyanya. "Ya. Tapi ketika aku bangun, dia sudah tidak ada di dalam kamar. Kupikir dia sudah bangun dan berada di sini." Jawab Kibum.

Jungsoo dengan segera berlari menuju kamar Kyuhyun dan membuka pintu kamar dengan kasar. Ia membuka lemari kecil yang biasanya berisi buku dan peralatan sekolah Kyuhyun. Dengan kesal ia kembali menutup lemari kecil tersebut hingga menimbulkan bunyi yang cukup kencang.

"Bocah itu.."

.

.

.

"HACHIMM"

Seketika seisi ruangan kelas termasuk seorang guru menatap Kyuhyun yang tengah menggosok-gosokan tangan kanannya ke hidung. Sementara yang ditatap hanya bisa tersenyum minta maaf dan menggaruk kepala belakangnya canggung. Dan kemudian akhirnya mereka kembali mengalihkan pandangan mereka dari Kyuhyun. 'Bersin saja dilihati seperti itu. Dan pasti Jungsoo hyung sedang mengumpat untukku.' Batin Kyuhyun kesal. Pasalnya ia hanya tidur kurang dari tiga jam dan kemudian memutuskan untuk sekolah tanpa diketahui satupun hyungnya. Bahkan Kim Kibum yang memang tidur bersamanya di satu kamar.

Tidak lama bel tanda jam istirahat berbunyi, sang guru pun meninggalkan kelas begitu juga dengan beberapa murid yang ingin menghabiskan waktu istirahat di luar kelas. Sementara Kyuhyun hanya bisa diam di tempat duduknya, ia tidak ingin meninggalkan kelas dan menjadi pusat perhatian seluruh siswa karena tangannya yang menggantung.

"Kyu…Kyu…Kyu.." Suho dan Hyukjae memanggil sahabat mereka dengan kompak. Kyuhyun yang tadinya ingin menyederkan kepalanya di meja, menatap mereka dengan pandangan bertanya.

"Tanganmu kenapa?"

"Apa kau kecelakaan?"

"Atau terjatuh?"

"Kami ingin menanyakannya sejak tadi."

"Tapi kau datang tepat saat bel berbunyi."

"Jadi kami tidak sempat bertanya."

"Sekarang beritahu kami."

Kyuhyun menatap sepasang sahabat itu takjub. Bagaimana bisa mereka berbicara bergantian seperti itu. Dimulai dari Hyukjae dan kemudian di sambung oleh Suho dan begitu seterusnya hingga habis. Kyuhyun memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing, mungkin karena duo aneh yang mengaku sebagai sahabatnya ini.

"Oke. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak apa-apa. Hanya terbentur di kamar mandi dan tidak boleh digerakkan selama beberapa hari saja." Jelas Kyuhyun. "Syukurlah. Kau ingin ke kantin?" Tanya Suho. "Dan menjadi bahan tontonan? Tidak, terima kasih." Jawab Kyuhyun. "Baiklah. Kau tunggu di dalam kelas dan kami akan membelikanmu makanan. Jangan kemana-mana." Dan kemudian keduanya pun berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih terbengong menatap kedua temannya itu.

'Apa mereka gila?'

DEG

Secara tiba-tiba Kyuhyun menatap sekeliling kelasnya setelah merasakan perasaan tidak enak yang datang tiba-tiba. Ia merasa ada yang menatapnya dengan penuh kebencian, namun ia sendiri tidak yakin pandangan tersebut dari luar atau dalam kelasnya. Ia memegang dada kirinya, merasakan debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat dari normal. Ia mencoba menetralkan debaran jantungnya dengan bernafas dan mengeluarkannya lewat mulut secara berkala.

"Kyuhyun-sii."

"Wa!"

Ia kembali harus mengelus dadanya akibat sentuhan mendadak di bahunya. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Yunho yang ternyata menepuk bahu Kyuhyun. "Anda membuatku kaget. Apa anda membutuhkanku?" Tanya Kyuhyun masih mengatur debar jantungnya. "Ya. Nanti pulang sekolah, temui saya di depan gerbang. Setelah semua siswa pulang." Kyuhyun menganggukkan kepalanya menyetujui perintah gurunya tersebut.

"Cepat sembuh." Kata terakhir yang diucapkan Yunho sebelum meninggalkan ruang kelas Kyuhyun. Kyuhyun memilih membaca buku pelajarannya untuk mengurangi rasa bosan. Walaupun tidak terlalu menyukainya, tapi tidak ada pilihan lain. Selang beberapa menit kemudian, sebuah getaran di meja menganggunya.

DRRT DRRT DRRT

Kyuhyun memandang layar ponselnya dengan malas, pasalnya nama Jungsoo terlihat jelas di matanya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan mengusap layarnya sebelum menempelkannya di telinga. "Nanti sore saja hyung." Dan hanya dengan empat kata tersebut Kyuhyun langsung memutus sambungannya dengan Jungsoo. Ia sedikit tertawa membayangkan ekspresi Jungsoo saat ini.

"Kenapa kau tertawa Kyu?"

Lagi. Kyuhyun dikagetkan oleh orang yang tiba-tiba mendekati wajahnya yang sedang tertawa kecil. Suho, dengan sepotong cake dan minuman cola di tangannya melihat ponsel yang menjadi penyebab Kyuhyun tertawa. "Apa ada yang lucu dengan ponselmu?" Tanyanya.

"Tidak. Kemana Hyukjae?" Tanya Kyuhyun balik sembari mengambil makanan dan minuman dari tangan Suho. "Ah. Dia sedang ke kamar mandi. Terlalu banyak makan di kantin tadi." Kyuhyun menganggukkan kepalanya mengerti dan mulai menyantap cake yang dibelikan Suho untuknya. Walaupun sedikit terpaksa mengingat kasusnya semalam. "Terima kasih. Apa aku perlu menggantinya?" Suho langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan kembali ke tempat duduknya.

"SUHO! SUHO!"

Terdengar teriakan dari seorang murid dari luar yang mencari keberadaan Suho. "Ada apa?" Suho langsung bergegas ke luar kelas dan bertanya pada murid yang memanggilnya. Kyuhyun pun mengalihkan pandangannya dan menatap kedua orang tersebut bingung.

"Lee Hyukjae, Lee Hyukjae temanmu ditemukan pingsan di kamar mandi."

"Bagaimana bisa?"

"Tidak tahu. Sekarang dia ada di ruang kesehatan. Kau lebih baik menengoknya."

Dan secepat mungkin Suho langsung berlari menyusul keberadaan sahabatnya tersebut. Ia merasa Hyukjae baik-baik saja saat di kantin tadi. Lalu kenapa tiba-tiba ia pingsan. Kyuhyun pun tanpa memikirkan makanannya ikut bergegas menyusul Suho. Walaupun baru kenal beberapa hari, namun hanya mereka yang mau menyapa Kyuhyun pertama kali.

"Bagaimana keadaan teman saya, Dokter?"

Kyuhyun berhasil menyusul Suho ke ruang kesehatan, ia mendapati Suho tengah berbincang dengan seorang dokter yang biasa menunggu di ruang kesehatan tersebut. "Kyuhyun.." Suho sedikit kaget dengan keberadaan Kyuhyun di sampingnya. "Aku ingin melihat temanku. Tidak boleh?" Suho langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Tentu saja boleh."

"Apa Lee Hyukjae tadi memakan makanannya di kantin sekolah?"

"Ya. Bersama dengan saya."

"Apa yang ia makan?"

"Ia hanya memakan satu cup ramen dan minum air putih biasa sama sepertiku."

"Apa ia memakan ini juga?" Sang Dokter menunjuk sepotong roti yang hanya sisa separuh saja. "Ya. Selama perjalanan menuju kelas dari kantin ia memakan roti tersebut. Tapi saat di tengah jalan, tiba-tiba ia meninggalkanku dengan alasan ingin ke kamar mandi." Jawab Suho. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Hyukjae?" Kyuhyun bertanya tidak sabar.

"Teman kalian mengalami keracunan dari roti tersebut. Karena masa expired dari makanan tersebut sudah habis dari satu bulan yang lalu." Suho dan Kyuhyun memandang dokter tersebut tidak percaya. "Tidak mungkin pedagang di kantin tidak tahu tentang masa berlaku dari makananya. Ia bisa dikenai hukuman."

"Bukan.."

Suho memotong ucapan Kyuhyun. "Kami tidak membeli roti itu di kantin." Lanjutnya. "Apa maksudmu? Lalu dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Kyuhyun.

"Kami memutuskan untuk membeli sepotong cake untukmu yang memang hanya tinggal satu-satunya. Lalu entah kenapa Hyukjae juga menginginkan cake tersebut. Tapi aku melarangnya karena aku tidak tahu harus membelikanmu apa lagi selain cake." Suho mulai bercerita.

"Kemudian tiba-tiba seorang laki-laki dewasa datang dan memberikan kami roti tersebut dan mengatakan 'Kau bisa memakan cake itu, dan memberikan roti ini pada teman kalian' dan setelahnya ia pergi bahkan sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih."

"Tunggu." Kyuhyun memotong cerita Suho. "Apa kalian menyebut namaku saat kalian bertengkar karena cake itu?" Tanyanya. "Tentu saja. Bahkan mungkin sampai terdengar seisi kantin karena kami sedikit bertengkar. Lalu entah kenapa, tiba-tiba Hyukjae memakan roti pemberian orang asing tersebut dalam perjalanan kami menuju kelas. Seharusnya aku bisa mencegahnya makan saat itu." Jawab Suho. Ia menghampiri Hyukjae yang masih terbaring di ranjang dan duduk di kursi yang memang disiapkan di samping ranjang.

"Kalian tidak usah khawatir, tadi teman kalian sempat bangun dan memuntahkan apa yang ia sudah makan. Saya juga sudah memberikannya obat, sekarang ia hanya tinggal membutuhkan istirahat untuk memulihkan tubuhnya. Saya akan keluar sebentar untuk keperluan."

"Terima kasih Dokter." Kyuhyun membungkukkan tubuhnya sebelum melihat dokter tersebut keluar dari ruang kesehatan. Kini hanya tinggal dirinya dan Suho di dalam, dan tentu saja Hyukjae yang masih belum sadarkan diri.

"Maafkan aku Suho-ah. Seharusnya aku yang terbaring di sana. Bukan sahabatmu."

"Sebenarnya kau itu siapa? Mengapa ada orang yang membencimu sampai seperti itu? Aku dan Hyukjae tidak tahu apa-apa dan menjadi korban. Setelah ini apa lagi huh?!" Suho tidak bisa menahan emosinya. Ia tidak menyangka berteman dengan Kyuhyun membuat hidupnya dan Hyukjae menjadi seperti ini.

"Bukankah aku sudah memperingatkan kalian untuk menjauhiku. Aku sudah katakan kalau aku bukan orang baik. Tapi kalian terus saja mengikutiku." Kyuhyun tidak beranjak dari posisinya. "Aku minta maaf atas kejadian hari ini. Tapi aku berjanji akan menemukan siapa orang yang menerorku belakangan ini." Ia berjalan menuju pintu bermaksud keluar, namun ia berhenti sejenak dan menatap Suho yang membelakanginya.

"Sampaikan maafku padanya setelah ia bangun."

.

.

.

Seperti permintaan dari Yunho, sang guru di sekolahnya, kini Kyuhyun tengah menunggu kedatangan dari guru tersebut di depan sekolah. Ia telah memberi tahu kepada kakaknya kalau ia akan pulang terlambat hari ini. Sekolah telah sepi, hanya ada beberapa guru dan pekerja sekolah di dalamnya. Hampir semua siswa dan siswi pun sudah meninggalkan sekolah. Hyukjae yang sudah siuman pun langsung diperbolehkan pulang bersama Suho, walaupun jam pelajaran belum berakhir tadi.

Kyuhyun mengecek jam di pergelangan tangannya, dan menyadari bahwa ia sudah hampir 20 menit menunggu kedatangan Yunho. Sebenarnya ia ingin sekali pulang karena tangan kirinya sudah terasa kaku, lehernya pun sudah terasa tidak nyaman, ia ingin segera melepaskan penyangga yang sangat menganggunya.

"Maaf menunggu lama, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun berbalik dan mendapati Yunho telah berada di dekatnya. Dengan segera ia membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat. "Tidak apa Seosaengnim. Hanya beberapa menit saja." Ujarnya sopan. "Apa kau lupa tentang perjanjian 'Hyung' di antara kita?" Sindir Yunho. "Ah, bukan begitu. Hanya saja, saya pikir itu sedikit tidak sopan." Jawab Kyuhyun bingung.

"Tidak apa. Kan hyung yang memintanya." Yunho menepuk bahu kanan Kyuhyun pelan. "Apa terjadi sesuatu dengan lengan kirimu?" Tanya lagi. "Oh ini, hanya terbentur tembok di kamar mandi. Tidak boleh digerakkan untuk beberapa hari." Jelas Kyuhyun. Yunho menganggukkan kepalanya mengerti. "Sebenarnya, apa yang ingin anda bicarakan padaku?" Kyuhyun balik bertanya.

"Apa sangat susah tidak memakai bahasa formal padaku? Ah, aku hanya ingin bilang kalau belakangan ini aku memperhatikanmu secara diam-diam."

"Stalker?" Potong Kyuhyun tanpa sadar. "Ah.. maaf." Ucapnya lagi.

"Yah, mungkin kau boleh menganggapku seperti itu. Tapi, aku melihat belakangan ini kau mendapat terror dari seseorang. Apa aku salah?"

"Apa sangat terlihat? Aku bahkan baru beberapa hari berada di sekolah ini, tapi sudah ada yang menginginkan nyawaku. Aku tidak punya banyak waktu untuk menyelidiki siapa kira-kira pelakunya, tapi aku pastikan aku akan menemukannya."

"Sudah mempunyai prediksi?"

"Sudah. Tapi aku tidak mau main tuduh. Kalau ia tidak mau menampakkan wajahnya di hadapanku, maka aku yang akan membuatnya."

"Jangan gegabah."

"Tidak ada cara lain!"

"ADA! Selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah. Dan menyerah tidak ada dalam pilihan."

"Aku tidak menyerah." Kyuhyun masih berusaha membela diri. "Aku hanya akan membiarkan batang hidungnya keluar dengan sendirinya." Lanjutnya.

"Membuat hiu di dalam laut menyerangmu karena kau memberikannya aroma darah milikmu sendiri, sama saja dengan menyerah. Kau tidak tahu seperti apa manusia yang menerormu."

"Apa perduli anda? Bahkan kita tidak mengenal satu sama lain secara dekat. Apa anda benar-benar seperti apa yang kupikirkan sejak awal kita bertemu?" Kyuhyun bertanya sangsi.

TIN TIN TIN

Belum sempat Yunho menjawab, suara klakson dari mobil yang Kyuhyun kenali sebagai salah satu pemiliknya mengganggu perbincangan Kyuhyun dan Yunho. Seseorang menurunkan jendela penumpang, dan Kyuhyun dapat melihat kali ini Kibum yang menjemputnya.

"Jangan bertindak gegabah Kyuhyun-ah. Aku akan membantumu sepenuhnya." Dan tanpa menunggu Kyuhyun berbicara, Yunho meninggalkan Kyuhyun yang masih menatapnya dengan tajam. Ia bahkan tidak sadar sebuah bayangan di balik sebuah tembok tengah menatapnya tidak kalah tajam.

TBC

UPDATEEEE!

Wahhh kayanya banyak yang bisa nebak nihh.. ayo siapa yang tepat. Kekeke

Sepertinya di lain kasus saya bakal bikin lebih sedikit nih cluenya..haha

Oiya saya baru inget kalau ada yang preview tentang 'Need not to know', sebenarnya itu spellnya ga salah atau bahasa inggris saya yang salah. Memang ada istilah seperti itu. yang familiar sama bahasa itu pasti tahu siapa Yunho sebenarnya. Hohoho

Terima kasih buat yang review di chap sebelumnya. Saya tunggu lagi reviewnya di chap ini.

Gamshaaaaaa ^^