Chapter 7
Hello minna kembali lagi nih dengan pic sahabat aku :D
Gomen jika updatenya lama J
Baiklah langsung baca saja :D
Selamat membaca J
.
.
.
Jauh dari kata baik.
Begitulah kira-kira penampilan Naruto. Baru saja, sekitar 15 menit yang lalu ia mendapat kabar dari Sakura kalau Hinata tengah berada dikliniknya tak sadarkan diri. Dan dengan cepat ia memacu kuda besinya, bertindak layaknya orang kesetanan saat mengemudi. Ia sama seklai tak menghiraukan lagi keadaan Shion yang masih syok.
Ya, tadi Naruto berada dirumah gadis itu untuk mengusut penyerangan yang baru saja terjadi. Tapi begitu berita Hinata muncul, Naruto tak begitu peduli lagi dengan Shion. Bagaimanapun Naruto begitu khawatir pada keadaan istrinya. Siapa yang tak cemas kalau orang yang kau sayangi menghilang dan kau tiba-tiba kau mendapat kabar kalau ia tengah tak berdaya.
Hal itu terbukti dengan keadaan Naruto sekarang. Baju kusut, rambut berantakan dan hal lain yang menunjukan betapa Naruto kacau saat ini.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Naruto entah pada siapa, berhubung disana ada Sakura, Ino dan Gaara.
Namun entah bagaimana, dengan cepat Gaara menyudutkan Naruto ke dinding dengan tangan yang mencengkram kerah kemeja pria bersurai terang itu. Dan dnegan pemuda itu ia hempaskan keplan tangannya tepat kewajah Naruto. Hal itu membuat Ino dan Sakura memekik, sedangkan Naruto yang tak terima ikut membalas perbuatan Gaara dengan memukul telak tepat dirahangnya.
"Apa yang kau lakuakan HAH?"
"Seharusnya kau yang menjawab pertanyaan itu. Apa yang kau lakukan hingga istrimu mengandungpun kau tak tahu"
Perkataan Gaara tentu saja membuat hati Naruto tertohok. Ia yang awalnya emosi pada pri dengan rambut merah menyala ini tiba-tiba melepas cengramannya begitu saja.
"Apa maksudmu?"
"Kau, apa sebegitu tidak pentingnya Hinata dimatamu hingga membuatmu buta akan keadaannya?" kali Ino ikut andil. Jujur ia sangat geram pada Naruto.
"Hinata mengandung anakmu sudah hampir 2 bulan dan kau tidak tahu akan itu? Sebenarnya apa yang kau kerjakan selama ini BAKA?" Gaara yang terlanjur marah akan kembali menghajar Naruto, namuan Sakura segera menariknya menjauh meninggalkan Ino dan Naruto berdua.
Gadis dengan rambut terikat ponitail itu duduk bersila didepan Naruto yang juga duduk begitu saja dilantai klinik yang dingin.
"Aku tidak tahu sebesar apa permasalahanmu dengan Hinata ini sebenarnya Naruto" Ino menjeda sedikit perkataannya dan memejamkan matanya lama sebelum kembali berujar.
"Tapi ku yakin kau pasti tahu betapa sakitnya Hinata. Dan seharusnya kau mengerti perasaannya bukan malah bertindak seolah kau tak tahu apa-apa"
"Aku benar-benar tak mengerti Ino. Aku benar-benar tak mengerti kenapa Hinata tak memberitahukannya padaku"
"Itu juga yang Hinata rasakan. Ia juga bingung pada sikapmu yag justru menutup-nutupi kebenaran yang ada"
Naruto terdiam, dia sadar kalau perasaan Hinata pasti sekalut ini saat tahu kalau Naruto menutupi pembunuh ayahnya.
"Temui dia, kurasa kalian perlu bicara" ucap Ino sebelum pergi meninggalkan Naruto.
Sedangkan Naruto kembali merenung akan kesalahan fatal yang sudah ia perbuat.
...
Bak berada dipersimpangan jalan tanpa kompas, Naruto bingung harus berbuat apa. Ia sadar semua pangkal masalahnya ada pada dirinya. Ia dan rasa takutnya yang berlebihan. Ia takut, takut kalau Hinata akan kembali pada masa lalunya. Namun ternyata justru ialah yang mendorong Hinata membuat istrinya sendiri kehilangan kepercayaan padanya. Dan untuk kali ini ia bertejad untuk memulihkan kepercayaan Hinata padanya.
...
Suasana ruangan dengan cat dinding berwarna biru gelap ini begitu sunyi dan hening. Walau disana terdapat dua orang dengan mata saling terkait, bukan berarti membuat sepi lenyap begitu saja, karena nyatanya tak ada yang bersuara diantara mereka. Hingga sebuah ketukan membuayrkan suasana mencekam tersebut.
"Masuk" seru yang lebih tua.
Terlihat seorang pemuda bermasker gelap memasuki ruangan tersebut.
"Ini berkas yang tuan inginkan" ucap si pemuda, membuat satu-satunya yang bergender perempuan melirik padanya.
"Baik terimakasih. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu" ucap pria dengan umur jauh diatasnya.
Pemuda itu membungkuk patuh sebelum berlalu. Menyisakan si paruh baya dan si perempuan muda. Si paruh baya itu mengambil berkas tersenut, mengamatnya sejenak sebelum ia lempar pada gadis didepannya.
"Bukankah ku sudah bilang untuk tak menemuinya lagi Shion?" ucap i paruh baya dengan nada berbahaya.
"Dan berapa kali aku bilang, berhenti menaruh dendam pada Naruto ayah, dia tidak salah" ujar si gadis muda tak kalah tinggi.
"Dia sudah mempermalukan keluarga kita dengan memilih gadis keparat itu dibanding kau yang jauh lebih terhormat"
"Tapi aku masih mencintainya ayah"ucap Shion lirih
"Cinta yang seperti apa anakku? Cinta buta?"
"Ayah.."
"Atau cinta yang tak terbalas?"
"AYAH!" Shion bangkit dari kursinya, sungguh bukannya ia tak menghargai kedudukan ayahnya tapi lama kelaman ia jengah juga pada pemikiran picik ayahnya.
"Dengar ankku, tidak ada yang pantas kau perjuangkan dari seorang Naruto" ujar Tuan Shiroshima sambil mencengkram lembut bahu anaknya.
"Yang perlu kau perjuangkan sekarang adalah kebahagiaanmu, apapun caranya"
...
Naruto masih duduk termenung disamping ranjang Hinata saat Ino dan Gaara pergi dari sana. Ino terlebih Gaara nampaknya sudah terkendali emosinya saat itu, terbukti dengan itikat baik mereka yang mau mengantar Hinata dan Naruto pulang kerumah mereka. Namun untuk saat ini Naruto tak peduli dengan hal itu, yang jadi prioritasnya kali ini hanya keselamatan istrinya dan mungkin... anaknya.
Entahlah, rasanya masih sulit dipercaya kalau Hinata tengah mengandung buah hatinya. Bukan, bukan ia tak bahagia dengan kehamilan Hinata, ia bahagia sangat bahagia sampai-sampai ia bisa saja menari hula sangking bahagianya.
Tapi justru kondisi inilah yang membuat ia bingung sendiri. Hal itu pula yang menyebabkan Naruto tak bisa melepas genggaman tangannya pada Hinata. Ia tak mau keadaan ini membuat Hinata jauh dari jangkauannya lagi. Dan menyebabkan Naruto kehilangan tujuan hidupnya.
Sesuat bergerak samar ditelapak tangannya kala Naruto masih menggenggam erat tangan Hinata.
"Naruto~" suara parau nan serak itu begitu menggugah hati Naruto.
Senyum diwajah Naruto mengembang seiring dengan kesadaran Hinata. Namun nyatanya tak bertahan lama, karena dengan buru-buru Hinata melepas secara paksa genggaman tersebut.
"Kenapa?" tanya Naruto
"Mau apa kau disini?" tanya Hinata dingin
"Menjaga istriku"
"Tidak menjaga kekasihmu?"
Hati Naruto seakan tercubit mendengar dan merasakan tatapan Hinata yang begitu dingin dan menusuk. Asal tahu saja, walau dulunya Hinata seorang yang keras tapi sumpah demi apapun Naruto belum pernah merasakan yang seperti ini.
"Kemana kau seharian ini?"
Naruto yang awalnya tertunduk kembali duduk dengan tegak. Ketika Hinata kembali berujar.
"Ada kasus peneroran dirumah Shion" tutur Naruto.
Andai saja disini masih ada Garaa dan Ino, kedua orang bar-bar ini pasti akan menghajar Naruto dan mulut polosnya. Karena harusnyakan Naruto bisa sedikit saja menjaga perasaan Hinata.
"Hhmm lalu?"
"Tentu aku akan berusaha menemukan dan menumpas habis pelakunya" sekali lagi Naruto bertutur tanpa hambatan.
Dan kembali muncullah senyum sinis dari Hinata.
"Kalau begitu tangkap saja aku"
Deg
Naruto terbelalak melihat Hinata menyerahkan kedua pergelangan tangannya, seolah siap untuk diborgol.
"Apa maksudmu?"
"Aku yang melakukannya. Aku yang menanam bom dirumah Shion. Jadi apa kau akan menangkapku pak ketua?"
Hinata berkata seolah tak ada beban, namun entah kenapa hal itu justru sangat menyakiti hati Naruto. Sirambut menyala itu terduduk dengan lututnya. Mata yang awalnya menatap Hinata dengan tatapan kelembutan, kini tengah berurai air mata.
Hatinya perih, ia menyesal dan begitu diliputii rasa bersalah akan apa yang istrinya perbuat. Sedangkan Hinata hanya bisa menatap nanar pada suaminya.
"Maafkan aku Hinata... maafkan aku"
Kata-kata maaf dengan segala ungkapan Naruto limpahkan pada Hinata yang enggan dengan tingkahnya.
"Aku berjanji, aku berjanji akn menyelesaikan ini semua"
"Tidak perlu, aku masih bisa menyelesaikannya sendiri"
Naruto mengangkat kepalanya, lalu merangkak mendekat pada Hinata. "Tidak, tak akan ku biarkan kau menyelesaikannya sendiri"
"Aku masih punya Gaara dan Ino"
"Lalu bagaimana dengan anak kita?"
"Kau... tau?"
"Dengar, tak peduli seberapa marahnya kau padaku. Tak peduli seberapa banyaknya rasa bencimu padaku. Tapi tolong, tolong jaga anak kita. Bukan demi aku atau dirimu, tapi untuk dia"
"Naruto..."
"Aku janji, aku akan menuntaskan kasus ayahmu. Kali ini aku bukan hanya berjanji pada kau tapi juga pada anak kita. Bagaimana?"
hinata diam kembali memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika Naruto kembali mengingkari janjinya. Tapi tak kala ia mendengar Naruto menyebutkan kata 'Anak kita' kepercayaan itu tiba-tiba timbul begitu saja.
"Baiklah kupegang janjimu"
Tanpa banyak pikir, Naruto dengan segera menarik tangan Hinata mengarahkan Hinata pada pelukan hangatnya, mencium pucuk kepala istri tercintanya lama-lama. Hangat yang dulu sempat hilang kini kembali lagi. Dalam keheningan, didalam pelukan yang sebenarnya ia rindukan.
"Naruto..." ucap Hinata masih dalam pelukan Naruto.
"Ya"
"kurasa aku ngidam lagi"
"Memang kau mau apa?"
"Aku ingin menjadikan pipimu sebagai sasaran tinjuku"
Tbc...
Arigaro yang udah setia nungguin kelnajutannya. Dan terinakasih juga yang udah mereview jangan bosan-bosan ya J
Sampai jumpa lagi di chap selanjutnya. Jaa ^_^v
