Happy Reading! (No Edit)

Disclimer: Super Junior milik Tuhan YME

This story is MINE!

Cast: Lee Donghae/Aiden Lee, Lee Hyukjae/Eunhyuk, Choi Siwon, Choi Minho, Cho Kyuhyun/Marcus Cho, Jung Yunho, Kim Jongwoon/Yesung/Jeremy Kim, Kim Ryeowook, and other.

Genre: Romance, Action 'gagal'

Rate: T

WARNING!
YAOI/BL/Sejenisnya, Super GJ, M-PREG, super abal, typo(s), EYD dipertanyakan, OOC, dan lain sebangsanya.

.
.

One Hundred Million Dollar Boy
~WAR~

.

Donghae sedikit berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul langkah Eunhyuk dan Yesung, malam itu, hanya suara langkah kaki Donghae yang memecah sunyinya tempat parkir markas KDY.

"Eunhyukkie!"

Eunhyuk yang dengan jelas mendengar namanya diserukan oleh Donghae segera menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Donghae, sedangkan Yesung tak sedikitpun menghentikan langkahnya karena ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan dilakukan Donghae dan lebih memilih memasuki porsche hitamnya untuk menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan, menyalakan beberapa monitor dan juga menghubungkan monitor pengintainya dengan satelit supaya ia bisa melacak alat komunikasi yang dibawa Donghae, berhubungan dengan markas dan tentunya supaya Yesung bisa melacak keberadaan Sooman dengan mudah.

Eunhyuk menatap Donghae heran, entah mengapa Eunhyuk tiba-tiba teringat kejadian 10 tahun lalu, saat Donghae memanggilnya sepulang sekolah, dalam penglihatannya saat ini, Eunhyuk melihat sosok Donghae kecil tengah berjalan bersampingan dengan sosok Donghae dewasa yang ia kenal dengan nama Aiden Lee, dua sosok itu nampak nyata dimata Eunhyuk, alis Eunhyuk sedikit menaut, matanya sedikit menyipit untuk meyakinkan penglihatannya bahwa yang ia lihat saat ini hanya imajinasi, 'Kenapa aku merasa mereka mirip?' tanya Eunhyuk dalam hati, Eunhyuk terus berkutat dengan pemikirannya sampai ia tidak sadar jika Donghae sudah berada di hadapannya sambil melambaikan tangannya. Eunhyuk tersadar kemudian menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa Aiden bukanlah Donghae yang ia kenal dulu. "Wae?" jawab Eunhyuk sambil memiringkan kepalanya dihadapan Donghae, membuat Donghae harus mati-matian menahan dirinya untuk tidak 'menerkam' Eunhyuk karena melihat tingkah menggemaskan Eunhyuk.

Donghae menggeleng kecil untuk menyadarkan dirinya sendiri dari alam khayalnya, ia berusaha tidak tergoda dengan Eunhyuk dan itu berhasil, "Berikan itu," pinta Donghae ambigu.

Eunhyuk mengerutkan dahinya mendengar perkataan Donghae, pasalnya Donghae hanya mengeluarkan perkataan ambigu tanpa menunjuk apapun yang diinginkan Donghae.

"Huft!" Donghae menghembuskan nafas berat karena Eunhyuk tak juga mengerti apa yang diinginkannya, jangan salahkan Eunhyuk yang lama memproses maksud perkataan Donghae, salahkan saja Donghae yang tidak menunjuk sesuatu sebagai petunjuk dari perkataannya. Hahaha

Tanpa menunggu perkataan keluar dari bibir Eunhyuk, Donghae segera menarik Eunhyuk dan melepas alat komunikasi yang ada di telinga Eunhyuk dan menggantinya dengan alat komunikasi miliknya.

"Apa yang kau lakukan Aiden?"

Donghae tak menjawab pertanyaan Eunhyuk, ia lebih memilih meneruskan kegiatannya untuk memasangkan alat komunikasi di telinga Eunhyuk.

"AIDEN!" bentak Eunhyuk karena kesal telah diacuhkan oleh Donghae, Eunhyuk pun dengan cepat menepis tangan Donghae yang masih membenarkan posisi alat komunikasi di telinganya.

"Huft," Donghae kembali menghembuskan nafas panjang karena tingkah Eunhyuk, "Dengarkan aku, yang akan berkomunikasi dengan Marcus adalah aku, dan kau akan berkomunikasi dengan Jeremy," ucap Donghae sambil kembali membenarkan alat komunikasi Eunhyuk yang belum terpasang sempurna.

"Tapi..."

"Aku tidak mau menerima penolakan apapun!"

"Tapi..."

"Jika kau masih bersikeras, aku akan meninggalkanmu di sini," ucap Donghae tegas sambil menatap tajam Eunhyuk.

'DEG'

Eunhyuk terlonjak, wajahnya terlihat jelas jika saat ini ia merasa ketakutan karena mendengar perkataan tegas Donghae, meskipun perkataan Donghae bukan sebuah bentakan untuknya, Eunhyuk merasa seolah tadi Donghae membentaknya, ditambah saat ia melihat tatapan tajam Donghae, dan lagi sebuah kenyataan bahwa Donghae terkenal dengan julukan 'pembunuh berdarah dingin' membuatnya semakin takut untuk menatap Donghae. Eunhyuk tertunduk dengan mata yang mulai memanas, ia tak mampu lagi melihat Donghae yang masih menatapnya tajam.

Donghae merasa bersalah melihat Eunhyuk tertunduk, bukan maksudnya untuk membuat Eunhyuk takut ataupun bersedih, ia hanya tidak ingin melihat Eunhyuk terluka, ia hanya ingin melakukan yang terbaik bagi mereka, terlebih Donghae tidak rela memberikan Eunhyuk pada Kyuhyun, perlahan Donghae menggerakan tangannya untuk mengangkat dagu Eunhyuk dan melembutkan tatapannya, "Mian, aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya tidak ingin kehilangan kau lagi Hyukkie," ucap Donghae lembut.

Dahi Eunhyuk mengerut mendengar perkataan Donghae, ia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Donghae yang berubah-ubah, terlebih perkataan terakhir Donghae barusan.

"Apa maksudmu Aiden?"

.

Donghae POV

Huft... Kuhembuskan nafas panjang saat ia menanyakan apa maksud perkataanku, ayolah Hyukkie, ingatlah siapa aku, aku bisa saja mengatakan bahwa aku adalah Donghae, seseorang yang hanya dianggap saudara olehnya, namun lidahku selalu menolak untuk mengatakan hal itu, hatiku menginginkan Hyukkie menyadari sendiri siapa aku, selain itu aku juga tidak mempunyai keberanian, aku takut dia akan menjauhiku jika aku mengakui bahwa aku adalah Lee Donghae, aku takut dia akan merubah perasaannya padaku jika dia tau aku adalah orang yang hanya dianggap saudara olehnya.

"Aku hanya tidak ingin kau terluka, ku mohon mengertilah Eunhyukkie," elakku sambil membelai lembut surai redbrownya, masih tergambar jelas raut bingung di wajahnya, tapi biarlah, untuk saat ini biarlah seperti ini, biarkan ia mengenaliku sebagai Aiden Lee, orang yang ia cintai, bukan sebagai Lee Donghae, orang yang hanya dianggap saudara olehnya.

"Baiklah, aku akan menurutimu," ucapnya, sungguh bahagia mendengar hal itu, aku pun memberikan senyuman terbaiku untuknya.

"Aku janji akan cepat menyelesaikan semua ini," ucapku, bisa kulihat jelas ia menggangguk dan juga tersenyum –memaksa tersenyum– tipis, aku tersenyum melihat senyuman itu, senyuman yang selalu ia tunjukan saat ia terpaksa menyetujui apa yang tidak ia sukai, rasanya sangat lama sekali aku tidak melihat senyuman itu, aku yakin saat ini ia tengah mengutuk-ku dalam hati karena memaksanya, tapi biarlah itu bukanlah hal penting dibandingkan aku harus kembali terpisah dengannya, yang terpenting saat ini hanyalah menghabisi Sooman.

Akhirnya kamipun kembali berjalan mendekati Yesung yang masih sibuk di dalam porsche miliknya yang pintunya terbuka.

Tapi tunggu! Apa-apaan ini? Aku menghentikan langkahku saat merasakan ada beberapa orang yang tengah memperhatikan kami, ah tidak mungkin itu bisa dibilang mengintai kami, dilihat dari cara mereka menyembunyikan diri mereka. Kuamati kanan kiriku dengan menggunakan sudut mataku, dan yang benar saja ada lebih dari 5 orang ditempat ini yang tengah mengintai kami, tapi sejak kapan? Aku sama sekali tidak menyadarinya, aish babo. Kulihat Hyukkie yang sudah berada disamping porsche Yesung yang terbuka ikut merasakan kehadiran orang lain di tempat ini, ia mulai meraba jaket belakangnya, aku yakin sekali ia akan menyerang, dengan gerak cepat ku genggam tangan lembut Hyukkie supaya ia tidak gegabah dan itu berhasil, Hyukkie mengurungkan niatnya kemudian menatapku dengan tatapan seribu tanda tanya.

"Biarkan mereka," ucapku seolah menjawab keheranannya, bisa kulihat jelas dahinya lagi-lagi mengerut, tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk semanis ini? Jika saja saat ini bukan waktunya penyerangan, aku pasti sudah 'memakannya', tapi sayang sekali, sepertinya aku harus menunda hal itu, aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk menghabisi Soomay kukus itu.

"Kita tetap pada rencana awal, yang disini kita serahkan pada Marcus dan juga pimpinan, arrasseo?" ucap dan tanya ku padanya.

"Apa tidak apa-apa?" aku mengangguk padanya, setelah cukup lama bisa kulihat ia pun mengangguk menyetujui perkataanku.

End Donghae POV

.

"Sepertinya kita harus mengubah strategi," ucap Yesung tiba-tiba menginterupsi percakapan pasangan HaeHyuk.

"Apa maksudmu?" tanya Donghae sambil memasang wajah penasaran karena tidak biasanya Yesung seenak jidatnya mengubah strategi penyerangan yang sudah tertata rapi seperti saat ini.

"Mereka bergerak!" jawab Yesung histeris saat melihat salah seorang menggesek senjata laras panjang dan memposisikan senjata itu ke arah mereka.

Donghae yang samar-samar mendengar gesekan benda metal itu segera menarik Eunhyuk untuk berpindah tempat, sedangkan Yesung yang melihat Donghae dan Eunhyuk meninggalkannya segera menutup pintu mobilnya.

BLEEM

DOOORRR

Tepat setelah pintu mobilnya tertutup, sebuah peluru dengan keras menghantam body samping mobilnya, namun karena porchse Yesung merupakan salah satu mobil yang dirancang sebagai mobil perang, mobil tersebut tak sedikitpun lecet karena tembakan itu, Yesung tersenyum penuh kemenangan saat sekilas ia melihat orang yang mencoba menembaknya mengumpat karena bidikannya gagal mengenai sasaran, "Haha, kau tidak akan bisa menggores 'ddangko'ku bahkan sekecil apapun." Ddangko merupakan nama porsche yang dinaiki Yesung saat ini, ia sengaja memberikan nama itu pada mobilnya karena menurutnya mobilnya itu sama kerasnya dengan cangkang 'ddangkoma' salah satu kura-kura kesayangannya.

Sadar kehadiran mereka sudah diketahui, perlahan beberapa orang mulai keluar dari persembunyian mereka, ada sekitar 10 orang, 5 dari mereka berjalan mendekati Yesung sedangkan 5 yang lain berjalan mendekati Eunhyuk dan Donghae yang kini berlari ke salah satu sudut parkiran markas.

Donghae dan Eunhyuk menghentikan langkah mereka saat mereka berada tepat di sebelah mercedes hitam mengkilat berjenis guardian, mata Eunhyuk tak berkedip saat melihat mobil itu, mobil canggih dengan akselerasi di atas 300km/h, mobil yang kabarnya saat menyebrangi lautan api catnya bahkan tidak akan mengelupas sedikitpun, peluru dan misilpun tidak akan mampu menembus body mobil itu, dan yang paling membuatnya penasaran adalah kenapa mobil yang hanya diproduksi dan dipasarkan di pasar Eropa –tempat asal mobil itu diciptakan– bisa berada ditempat seperti ini? Siapa pemilik mobil mengagumkan itu?

"Masuklah, nyalakan alat komunikasimu, dan ajak Jeremy keluar dari sini, aku yang akan mengatasi mereka," ucap Donghae sambil menyerahkan kunci mercedes yang sedari tadi dipandangi Eunhyuk dengan pandangan takjub.

"Ini milikmu?" tanya Eunhyuk dengan polosnya.

"Ini bukan waktunya menanyakan hal itu, capat masuk dan pergi," ucap Donghae sambil mendorong Eunhyuk supaya cepat memasuki mobil.

DOOORRR

Baik Donghae maupun Eunhyuk yang masih ada diluar mobil segera menunduk saat mendengar suara tembakan itu. Beruntung tembakan itu meleset dan mengenai body samping mercedes Donghae. Eunhyuk mengarahkan pandangannya pada seluruh body samping mobil Donghae. Seperti yang sudah diduga Eunhyuk, mobil itu tak sedikitpun tergores, bodynya masih mulus biarpun terkena tembakan.

"Hyukkie cepat!"

Eunhyuk dengan cepat menyadarkan dirinya dari kekagumannya kemudian bergerak cepat memasuki mobil Donghae, sedangkan Donghae berlari kecil menuju sebuah motor besar yang berada tak jauh dari mobil yang kini dinaiki Eunhyuk.

"Aiden apa yang akan kau lakukan?" tanya Eunhyuk saat ia melihat donghae menaiki sebuah motor yang ukurannya melebihi ukuran motor biasa, body motor itu tak kalah mengesankan dengan body mobil yang kini ia naiki, sebuah motor besar dengan kepala motor yang dibuat menyerupai kepala seekor singa yang tengah meraung di hadapan mangsanya, diameter roda sepanjang 60cm dan mempunyai ketebalan roda sekitar 30cm, ditambah dua buah knalpot besar di samping kiri dan kanan body motor tersebut membuat keseimbangan motor tersebut sempurna. Eunhyuk sangat yakin tanpa meletakan kedua tangannya pada kemudi, motor tersebut pasti masih bisa berjalan dengan baik dan tidak akan menjatuhkan si pengemudi, tak hanya itu, motor tersebut juga sudah dilengkapi beberapa senjata laras panjang dan juga beberapa bom di dalam penyimpanannya. (Bayangin motornya cloud di film Final fantasy ne) ^^

DOOORR

DOOORR

Sadar akan adanya bahaya yang mengancam nyawanya Eunhyuk pun dengan cepat mengembalikan kesadarannya dan menunda mengagumi semua alat transportasi –bisa dibilang alat perang– canggih yang dimiliki Donghae.

"Cepat pergi!" ucap Donghae sambil menyalakan motornya dan memasang sebuah violet sunglasses tanpa perlu repot mengenakan pengaman kepalanya.

Eunhyuk mengangguk kemudian segera mengendarai mobil tersebut keluar dari bangunan itu, tak lupa ia menyalakan alat komunikasinya dan mengajak Yesung untuk keluar dari bangunan itu pula.

BRRUUUUM

Suara raungan mobil yang dikendarai Eunhyuk menggema di tempat itu, beberapa orang mencoba menghadang laju Eunhyuk namun nihil, karena Eunhyuk makin dalam menginjak pedal gas untuk menambah kecepatannya, beberapa orang tersebut bahkan mencoba menembaki mobil yang dikendarai Eunhyuk, namun hal itu sudah pasti tidak mampu menghalangi lajunya.

Donghae tersenyum puas saat Eunhyuk dan Yesung berhasil keluar dengan selamat dari bangunan itu, ia pun mengarahkan pandangannya kepada beberapa orang yang tengah berlari ke arahnya sambil menodongkan senjata.

"Lat's start the war," gumam Donghae sambil menampakan seringaiannya. Donghae menarik gas motornya hingga motor besar tersebut meraung seperti seekor singa kelaparan dan ingin segera memulai perburuannya.

DOOORRR

Satu tembakan berhasil dilepaskan oleh beberapa orang pada Donghae, beruntung tembakan tersebut tidak mengenai Donghae karena dengan cepat Donghae mengendarai motornya untuk menghindari tembakan tersebut.

DOOOR

Satu lagi tembakan berhasil dilepaskan namun lagi-lagi Donghae berhasil menghindar.

"Giliranku." Donghae mengambil senapan laras pendeknya yang ada di balik jaketnya kemudian mengarahkan benda metal berwarna hitam tersebut kepada beberapa orang yang ada di hadapannya.

DOORRR

DOORRR

DOOORR

Suara baku tembak mendominasi tempat itu, Donghae masih setia mengendarai motornya sambil menghindari tiap peluru yang ditujukan untuknya dan juga membalas semua tembakan yang ditujukan untuknya.

"Shit!" umpat Donghae karena lawannya tak juga berkurang, terlebih saat ini makin banyak lagi orang yang keluar dari persembunyian, ternyata asumsi Donghae –yang hanya memperkirakan orang yang ada di dalam tempat tersebut sebanyak 10 orang– ternyata salah besar, ada lebih dari 20 orang yang saat ini tengah keluar dari persembunyian mereka, orang-orang tersebut rupanya orang suruhan Sooman yang dikirim untuk membebaskan Jo Kwon dan juga menghancurkan markas KDY, "Kapan orang sebanyak ini datang," gumam Donghae, sekelebat Donghae melihat beberapa orang mulai masuk ke dalam markas, firasat buruk tiba-tiba menghampiri hatinya. Dengan cepat Donghae mengaktifkan alat komunikasinya dan coba menghubungi Kyuhyun yang ada di dalam.

/"Cepat sekali kau menghubungiku chagi?"/ ucap Kyuhyun dari seberang, Kyuhyun masih menyangka bahwa alat komunikasi itu dibawa oleh Eunhyuk.

"Maaf mengecewakan Marcus," ucap Donghae sambil tersenyum penuh kemenangan, ia sangat yakin saat ini Kyuhyun tengah mengumpati dirinya karena menukar alat komunikasi Eunhyuk.

/"Ya! Apa yang kau lakukan? Dimana Eunhyuk?"/

"Harusnya bukan dia yang ada dipikiranmu saat ini, pikirkan keselamatanmu dasar evil Cho babo!"

/"Apa maksudmu?"/

"Ada penyusup."

/"Itu tidak mungkin, cctv tidak menunjukan adanya aktivitas yang tidak dikenal."/

DOOOR

"Ya! Apa kau tidak dengan suara berisik di sini?" tanya Donghae tidak sabar, masih tetap dengan mencoba menghindari semua serangan yang ditujukan untuknya.

/BRAKKK/

/DDOOORR/

/PRANG/

/ZTTTZTTT/ (yang ini anggap suara mesin yang terbakar dan konslet) ^^

Telinga Donghae rasanya hampir pecah saat ia mendengar letupan pistol dan suara berisik lainnya dari alat komunikasinya.

"Marcus kau baik-baik saja?" tanya Donghae penasaran, spontan ia menhentikan gerak motornya, tak ada jawaban disana, membuat Donghae berfikir bahwa Kyuhyun terkena tembakan tadi.

/"Sial aku tidak menyadari kedatangan mereka."/

Donghae menghembuskan nafas lega mendengar suara Kyuhyun, sejengkel apapun Donghae pada Kyuhyun, ia tetap berharap Kyuhyun selamat karena Kyuhyun merupakan salah satu agen terbaik yang dimiliki Korea, sama seperti dirinya. Dan yang terpenting, saat ini Donghae butuh berkoordinasi dengan Kyuhyun untuk menangkap bahkan mungkin menghabisi Sooman.

DOOORRR

Kelegaan Donghae kembali hilang saat sebuah peluru melesat tepat disebelahnya.

"Nyaris," gumam Donghae sambil mengusap kasar keringat yang ada di keningnya.

/"Sepertinya semua kamera sudah di sabotase, semua alat penghubung dengan pusat juga diputuskan, kau cepat keluar dari sini dan minta bantuan."/ meskipun Donghae tidak melihat, Donghae yakin saat ini Kyuhyun tengah mengutak atik peralatan spy-nya dan yang bertugas menghadapi musuh adalah Zhoumi dan beberapa orang lagi yang ada di dalam markas tersebut.

/DOOORR/

/PRAAAANGGG/

/DOOORR/

"Bagaimana dengan markas? Kau yakin bisa menghadapi mereka saat aku tinggalkan?"

/"Jangan banyak bicara, cepat keluar dan cari bantuan, kami masih bisa bertahan asal kau cepat mencari bantuan."/

"Aku harap kau bisa bertahan, karena kita masih punya satu urusan."

Kyuhyun tau benar urusan apa yang dimaksud Donghae, biarpun Donghae tidak melihat Kyuhyun pun memasang sebuah seringaian yang ditujukan untuk Donghae, /"Jangan khawatir, aku tidak akan mati sebelum mendapatkan Eunhyuk."/

"Tck." Donghae tersenyum kecut kemudian mulai mengendarai motornya untuk meninggalkan tempat itu, namun Dpnghae harus kembali waspada karena sebagaian anak buah Sooman yang telah bersiap di luar gedung itu tak tinggal diam saat melihatnya keluar dengan terburu-buru

DOOOR

Letupan senjata api kembali terdengar, kali ini tepat mengenai body belakang motor Donghae.

Donghae mengamati keadaan yang ada di belakangnya melalui spionnya, bisa ia lihat dengan jelas ada dua mobil dengan kap yang terbuka –hingga menampilkan beberapa orang didalamnya tengah mengarahkan senapan laras panjang ke arahnya– tengah mengikutinya. "Shit! Beraninya keroyokan," umpat Donghae sambil memeriksa bagian depan motornya –tempat penyimpaan senjata–, berharap ia menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan dua mobil yang kini tengah mengejarnya. "Dapat!" Donghae mengambil sebuah benda bulat kemudian menyeringai sambil melirik spionnya.

Tanpa aba-aba Donghae menarik rem beserta cakramnya sehingga membuat roda depannya secara cepat menghentikan putarannya dan roda belakangnya menggesek keras jalan hingga terseret ke depan, membuat posisinya kini menjadi melintang seolah menghadang dua mobil yang mengejarnya, kaki Donghae terlihat menumpu motor besar tersebut supaya ia tidak terjatuh akibat rem dadakan itu.

Donghae menggigit pemicu benda bulat berukuran satu kepalan tangannya –yang diyakini adalah sebuah bom– kemudian melemparkan bom tersebut ke arah salah satu mobil yang mengejarnya. Tanpa memikirkan bom yang baru saja ia lemparkan, Donghae kembali memacu motornya menjauh secepat kilat dari dua mobil tersebut, Donghae sangat yakin jika bom tersebut mampu menghentikan laju dua mobil yang mengejarnya.

BOOOOOMM

Tepat seperti dugaan Donghae, bom itu mendarat entah dibagian mana, yang jelas bom itu mengenai sasaran, Donghae kembali melirik spionnya kemudian tersenyum puas saat melihat dua mobil yang tadi mengejarnya hancur tak berbentuk, rupanya bom tadi tidak hanya mengenai satu mobil tapi juga mengenai mobil yang satunya. Tanpa membuang banyak waktu Donghae mengambil ponselnya dan segera menghubungi kantor polosi pusat untuk meminta bantuan kepada Yunho, namun sepertinya keberuntungan tidak sedang berpihak padanya, nomor yang ia hubungi tidak juga dapat tersambung. Donghae mulai frustasi namun ia masih mencoba memutar otaknya untuk mencari orang yang bisa ia mintai pertolongan, jarinya pun mulai ia gerakan untuk menelusuri satu persatu nama yang ada di kontak ponselnya.

Tak berselang lama jarinya terhenti pada sebuah nama yang ia yakin bisa membantunya, "Siwon?" Donghae sedikit menimbang untuk meminta bantuan pada Siwon, ia memang yakin Siwon bisa membantunya, namun Donghae tidak mau mengganggu Siwon yang mungkin masih sibuk menjaga Minho di rumah sakit, setelah cukup lama berfikir akhirnya jari Donghae tergerak untuk menekan icon dial, ia tidak lagi mencemaskan keadaan Minho.

"Yeobosaeyo."

/"Yeobosaeyo"/

"Aku butuh bantuanmu?"

/"Bantuan?"/

"Ne, kami diserang semua alat penghubung kami diputus, bisakan kau mencari seseorang yang bernama Jung Yunho? Dia kepala kepolisian Seoul."

/"Apa Kyunnie baik-baik saja?"/

"Entahlah, aku harap begitu, sudahlah cepat cari Yunho ajussi dan bawa dia ke markas KDY."

/"Tapi aku idak tau dimana itu?"/

"Yunho ajussi tau, cepat cari dia dan selamatkan Kyunnie-mu arasseo?"

/"Arra."/

Donghae memutus sambungannya secara sepihak kemudian kembali memacu motornya untuk menyusul Eunhyuk dan Yesung.

.

.

Eunhyuk dan Yesung sudah sampai di sebuah mention yang mereka yakini sebagai tempat persembunyian Sooman, terlihat dari radar yang dipancarkan beberapa alat pelacak yang ada di dalam mobil Yesung.

"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Eunhyuk pada Yesung lewat alat komunikasi yang bertengger di telinganya.

/"Sinyal yang ada di radar berhenti di tempat ini, kemungkinan besar Sooman ada di dalam."/

"Kalau begitu, aku akan masuk."

/"Tunggu! Jangan gegabah, kita periksa dulu keadaan didalam, aku akan meminta Marcus mengjrimkan hasil pengintaiannya."/

Yesung mulai berusaha membuat kontak langsung dengan markas namun tidak ada jawaban ataupun sinyal yang menunjukan bahwa ia tersambung dengan markas.

"Aku bosan menungu," ucap Eunhyuk. ia merasa bosan dan tak sabar karena Yesung tak juga mengeluarkan suara. Tanpa ini dan itu lagi Eunhyuk segera melajukan mobilnya untuk mengitari mention Sooman, mencari sebuah jalan masuk ataupun celah yg bisa ia gunakan untuk menyusup ke dalam bangunan megah itu.

/"Aish kau mirip sekali dengan ikan itu, gegabah dan tidak sabaran."/ Yesung sedikit berdecak kesal karena tingkah seenaknya Eunhyuk, tak mau terjadi apa-apa dengan Eunhyuk, Yesung terpaksa menjalankan mobilnya dan mengikuti Eunhyuk mengitari mention Sooman.

Tak lama kemudian mobil Eunhyuk terhenti tepat disebelah pintu kecil. Eunhyuk keluar dari mobil yang ia naiki kemudian menatap pintu itu dengan tatapan sendu. Ingatan masa lalunya dimana ia dan Donghae dikejar oleh Sooman dan berhenti tepat di depan pintu yang ternyata adalah akses menuju sungai, kembali melintas di benaknya, amarah tiba-tiba muncul mendominasi otaknya, giginya mengerutuk dan tangannya terkepal menahan amarahnya, nafsu membunuh yang selama ini ia tekan seolah meledak keluar begitu saja saat ia mengingat kegarangan wajah Sooman yang ingin menangkapnya dulu. "Apapun yang terjadi, hari ini kau harus mati di tanganku Sooman," ikrar Eunhyuk penuh emosi, matanya menerawang dan memancarkan kebencian yang teramat.

Yesung yang sedari tadi mencoba menghubungi markas mulai frustasi dan keluar dari mobilnya menghampiri Eunhyuk.

"Kita kehilangan kontak dengan markas, aku juga tidak bisa menghubungi Aiden," ucap Yesung sambil menunjukan wajah resahnya.

"Apakah hal ini gawat?" tanya Eunhyuk santai, terlihat di sana alis Yesung menaut saat mendengar perkataan santai Eunhyuk, sekilas Yesung melihat bayangan Donghae yang tengah memasang ekspresi meremehkan berdiri di samping Eunhyuk, Yesung sangat yakin jika saat ini yang ada dihdapannya adalah Donghae, maka reaksi yang diberikan Donghae tidaklah jauh berbeda dengan Eunhyuk.

"Aku yang akan menyerang, kau cukup awasi sekitarku dengan alat ini," ucap Eunhyuk sambil menunjuk alat komunikasinya, "Beri aku aba-aba jika aku dalam bahaya, arrasseo?".

"Kau yakin mampu menyerang seorang diri?" Yesung sedikit tidak yakin akan menyerahkan tugas berat itu pada anak kuliahan semester satu macam Eunhyuk, ditambah Eunhyuk adalah tipe orang yang gegabah dan sedikit sulit ditebak, Yesung juga belum melihat sendiri kemampuan Eunhyuk, namun ketidak yakinannya seolah lenyap ditelan anggukan mantap yang diberikan Eunhyuk kepadanya.

"Geuraeyo, kalo begitu kita ubah strategi kita, kita menyerang dengan rencana kita sendiri."

"Apa maksudmu?"

"Kita kekurangan anggota, kita tidak akan selesai cepat jika kau mencari dan menghabisi Sooman seorang diri, belum lagi, kau juga harus berhadapan dengan para bodyguard yang ada di dalam sana, bisa jadi sebelum kau menghabisi Sooman kau sendiri yang akan dihabisi anak buah Sooman."

"Lalu, apa rencanamu?"

Yesung mendekatkan wajahnya pada wajah Eunhyuk dan membisikan rencananya pada Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum takjub mendengar rencana brilliant Yesung, tidak ia sangka Yesung yang terlhat tidak bisa apa-apa itu bisa merencanakan strategi brilliant saat suasana sedang genting seperti sekarang.

"Bagaimana? Kau mengerti? Dan apa kau sanggup melakukannya?"

"Aku sanggup," jawab Eunhyuk penuh keyakinan dan mantap.

'Dia sangat mirip dengan Aiden.' Yesung mengangguk pada Eunhyuk kemudian memberikan Eunhyuk senyuman terbaiknya.

.

.

Malam ini benar-benar sunyi, hanya nyanyian makhluk malam saja yang tengah terdengar bersautan di luar bangunan megah itu. Eunhyuk tengah berjalan mengendap menuju mention Sooman, dipunggungnya kini bertengger sebuah ransel hitam yang berisikan beberapa peralatan penyerangan, sesekali ia bersembunyi untuk menghindari beberapa bodyguard Sooman, tentu saja dengan sedikit bantuan Yesung yang mengawasi dari mobilnya. Setelah Eunhyuk sampai di salah satu sudut mention, Eunhyuk membuka ransel yang tadi di berikan Yesung padanya kemudian mengambil sebuah benda bulat pipih menyerupai asbak yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah bom waktu, Eunhyuk mengatur bom tersebut supaya aktif dalam waktu 30 menit sesuai intruksi Yesung dan menempelkan benda tersebut pada tembok mention Sooman, setelah selesai, Eunhyuk segera beralih dari sudut itu menuju sudut mention yang lain untuk menempelkan benda yang sama.

Tak lama kemudian Eunhyuk sudah selesai dengan tugasnya, menempelkan 4 buah bom waktu pada 4 titik mention Sooman, 4 titik tersebut merupakan 4 titik yang dianggap paling cepat runtuh saat terkena bom, terutama titik terakhir, jika bom ke empat yang dipasang dititik terakhir itu meledak, bisa dipastikan seluruh bangunan tersebut akan segera rata dengan tanah, Eunhyuk berniat kembali menuju mobil Yesung, namun ia harus mengurungkan niatnya saat ia berdiri di depan sebuah kendela dan melihat sebuah bayangan namja paruh baya yang ada di dalam mention tersebut tengah menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa-gesa.

"Sooman?" gumam Eunhyuk saat menyadari orang tersebutlah yang menjadi tujuan penyerangan malam ini, tanpa piker panjang Eunhyuk menggerakan kakinya untuk berlari mencari sebuah pintu masuk.

/"Eunhyuk ssi, apa yang akan kau lakukan?"/ tanya Yesung dari seberang sana.

"Aku tidak akan lama," Tanpa mengindahkan seruan-seruan Yesung, Eunhyuk segera membuka pintu masuk dan menghampiri Sooman.

"Eh?" Dahi Sooman yang berkeriput nampak lebih berkerut saat melihat Eunhyuk berdiri dihadapannya, Sooman sedikit menyipitkan matanya, berusaha mengenali wajah manis yang ada di hadapannya, otaknya masih sibuk berfikir antara mengenal dan tidak, namun beberapa saat kemudian seringaian menggerikan muncul di wajah keriputnya saat ia yakin siapa bocah yang ada di hadapannya. "Bocah 100jt dollar, aku tidak menyangka kau menyerahkan dirimu sendiri padaku hari ini," ucap Sooman sambil tertawa lebar.

"Bukan aku yang akan kau tangkap, tapi aku yang akan menangkapmu."

"HAHAHAAAAA" Sooman terbahak sambil memegangi perutnya saat mendengar ucapan Eunhyuk. "Kau? Bocah kuliahan semester satu mau menangkapku? Hahahaaa," tawa Sooman makin keras namun beberapa saat kemudian tawanya tidak lagi terdengar, ia mendadak menghentikan tawanya bagaikan mobil yang pedal remnya diinjak dengan tiba-tiba, tatapan mata Sooman pun telah berganti menjadi tatapan tajam dan menyiratkan aura membunu. "Tangkap bocah itu!" titah Sooman pada anak buahnya yang berada di dekatnya.

Tanpa menunggu perintah yang kedua semua anak buah Sooman yang berjumlah 8 orang dalam ruangan itu segera berlari ke arah Eunhyuk.

Eunhyuk tetap diam di tempat, tak berniat kabur dari sana, ia biarkan semua anak buah Sooman mendekat padanya dan bersiap melayangkan tinju terbaik mereka pada Eunhyuk.

/"Eunhyuk ssi, apa yang kau lakukan? Cepat menghindar?"/ ucap Yesung histeris, dari nada bicaranya nampak ia sangat khawatir dengan Eunhyuk.

Eunhyuk sama sekali tak menghiraukan seruan protes Yesung, ia lebih memilih menghitung berapa langkah lagi anak semua anak buah Sooman sampai di hadapannya.

"7 langkah, 6 langkah, 5..." Tangan Eunhyuk tergerak meraba jaket belakangnya kemudian dengan cepat ia mengeluarkan sebuah senapan dan mengarahkan benda tersebut kepada 8 anak buah Sooman.

DOOOR

DOOOR

DOOOR

DOOOR

DOOOR

Lima dari delapan anak buah Sooman berhasil dilumpuhkan oleh Eunhyuk, sedangkan tiga sisanya dengan cepat bersembunyi saat mereka menyadari Eunhyuk mengeluarkan senjatanya, begitu pula Sooman, ia juga sudah tidak terlihat, kini yang ada di ruangan itu hanyalah Eunhyuk dan 5 orang yang terkapar tak berdaya.

Eunhyuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan tanpa sengaja mata indahnya menangkap sesosok namja paruh baya yang ia yakini adalah Sooman tengah mengendap menuju pintu.

Dengan sigap Eunhyuk mengangkat senapannya dan mengarahkan benda metal itu ke arah pintu yang dituju Sooman dan otomatis hal itu membuat Sooman dan beberapa anak buahnya yang tidak memegang senjata bergidik setengah mati, namun mereka tidak menyerah, meraka kembali mencoba melangkah menuju pintu untuk meninggalkan tempat itu, namun lagi-lagi Eunhyuk melepaskan sebuah tembakan ke arah pintu yang dituju Sooman, sehingga mau tak mau Sooman harus berhenti mendadak.

"Diam disana, jika berani bergerak, akan ku lubangi kepala kalian."

Sooman dan anak buahnya menelan ludahnya susah payah mendengar ancaman Eunhyuk terlebih melihat aura membunuh yang keluar dari tubuh Eunhyuk. Mengerikan, hal itu lah yang saat ini dilihat Sooman dari pancaran kebencian yang keluar dari mata Eunhyuk.

"Apa maumu bocah?" tanya Sooman gugup saat Eunhyuk berjalan mendekatinya. Sooman berjalan mundur dan menjauhi pintu supaya Eunhyuk tidak semakin dekat dengannya, namun sepertinya hal itu makin membuat Eunhyuk mempercepat langkahnya untuk mendekati Sooman sambil bersiap menarik pelatuknya.

"Bukankah aku tadi sudah bilang, jika kau berani bergerak maka aku tidak akan segan melubangi kepalamu, apa kau tuli huh?"

Sooman terdiam dengan keringat dingin yang mengalir deras menuruni pelipisnya, ia ketakutan setengah mati, ia tak bisa membayangkan seorang yang sangat ganas hidupnya berakhir di tangan seorang bocah berusia 17 tahun, ia tidak bisa membayangkan seluruh mafia yang ada di Korea, menertawakannya.

"Kau tidak akan berani melakukan hal itu bocah."

"Siapa bilang aku tidak berani?"

"Jika kau membunuhku, akan kupastikan seumur hidupmu kau akan menyandang gelar 'buronan'," ancam Sooman, masih berusaha berjalan mundur untuk menghindari Eunhyuk.

"Aku sama sekali tidak keberatan, bukankah sejak sepuluh tahun yang lalu aku sudah menjadi buronan?"

Sooman terlihat frustasi, kata-kata yang ia lemparkan ternyata tidak mampu membuat Eunhyuk takut, "Baiklah, silahkan bunuh aku kalau kau mampu," tawar sooman karena ia sudah benar-benar pasrah dengan nasibnya, yang bisa ia lakukan hanya berdoa supaya semua mafia yang mengenalnya tidak mentertawaknnya karena mati di tangan bocah berumur 17 tahun.

"Dengan senang hati Sooman ssi, akan ku buat kau menyusul kedua orang tuaku." Eunhyuk sudah berada tepat di depan Sooman dan bersiap melubangi kepala Sooman, namun sepertinya Sooman mendapat sebuah ide untuk menyelamatkan dirinya dari Eunhyuk setelah ia mendengar perkataan Eunhyuk.

"Orang tuamu pasti akan sangat kecewa jika tau anaknya tumbuh sebagai seorang pembunuh."

Mata Eunhyuk terbelalak, ia sedikit terlonjak mendengar perkataan Sooman, konsentrasinya seketika itu juga berantakan, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ekspresi kecewa kedua orang tuanya, hantinya terasa sakit meskipun semua ini ia lakukan untuk kedua orang tuanya.

Sooman menyeringai di depan Eunhyuk, ia tidak menyangka jika perkataannya barusan mampu menyelamatkan nyawanya, dengan gerak tangannya yang terbatas Sooman memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyergap Eunhyuk.

Dengan gerak cepat tiga orang yang sedari tadi berada di samping Sooman menyergap Eunhyuk, namun karena Eunhyuk bisa merasakan dirinya dalam kondisi bahaya segera mengembalikan kesadarannya dan mencoba membidik salah satu anak buah Sooman, namun gagal, karena salah seorang anak buah Sooman terlebih dahulu menendang tangan Eunhyuk dan membuat senjata yang dibawa Eunhyuk terjatuh ke lantai.

Anak buah Sooman yang lain melihat ada kesempatan dari insiden tersebut, mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Eunhyuk dengan melayangkan sebuah pukulan pada Eunhyuk.

BUG

Pukulan tersebut berhasil mengenai Eunhyuk hingga membuat Eunhyuk tersungkur dengan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah. Tak mau lama menunggu, Eunhyuk segera bangkit kemudian berlari ke arah salah satu anak buah Sooman, tak peduli siapa yang tadi menyerangnya dan membalas pukulan keras tersebut. Pukulan tersebut berhasil mengenai salah seorang anak buah Sooman hingga orang itu tersungkur, dua dari anak buah Sooman yang lain berusaha menyerang Eunhyuk, namun Eunhyuk dapat menghindari hal itu.

Sementara Eunhyuk sibuk dengan tiga orang anak buahnya, Sooman memanfaatkan hal itu untuk kabur dengan mencari pintu keluar lain.

Sooman tersenyum saat ia melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka, dengan langkah cepat Sooman berjalan ke arah pintu tersebut dan membukanya.

"OMO!" Betapa terkejutnya Sooman saat ia melihat sosok yang beberapa hari lalu ingin membunuhnya di tempat pelelangan berlian, siapa lagi kalau bukan Donghae, "Kau lagi," geram Sooman.

"Tidak bisa kabur?" tanya Donghae dengan nada meremehkan.

"Menyingkir, aku tidak punya urusan denganmu." Sooman mencoba mendorong Donghae namun usahanya sia-sia, Donghae tak sedikitpun bergeser dari tempatnya saat ini.

"Kau tidak akan selamat kali ini." Donghae merogoh jaket belakangnya kemudian mengeluarkan senjata laras pendek berwarna hitam, ia arahkan senjata itu tepat di dahi Sooman.

Lagi-lagi keringat dingin mengucur deras dari pelipis Sooman, kakinya pun terlihat bergetar hebat karena ketakutan.

DOOORRR

Donghae segera menarik senjatanya dan berusaha menjauhi Sooman secepat kilat saat mendengar suara letupan senjata api, Donghae harusnya sudah menduga jika ia harus ekstra hati-hati saat ini mengingat ia kini berada di kandang(?) lawan.

Sooman tersenyum lega kemudian menyeringai ke arah Donghae. "Bocah kemarin sore mau melawanku? Belajarlah dulu bocah," cibirnya. Sooman berbalik dan dengan cepat berlari menaiki tangga untuk menghindari Donghae.

"Shit," umpat Donghae karena tidak berhasil menghabisi Sooman, bahkan saat ini Sooman berhasil kabur darinya. Donghae mencoba menahan langkah Sooman dengan mengarahkan lagi senjatanya ke arah Sooman, namun lagi-lagi ia harus mengumpat karena orang yang tadi berusaha menembaknya kembali melepaskan sebuah tembakan ke arahnya. Donghae mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang menyerangnya, namun tak juga ia temukan.

/"Arah jam 11, tepat di balik pilar."/ Suara Yesung terdengar dari alat komunikasi Donghae yang bertengger di telinga Donghae. Jangan heran karena Yesung bisa berkomunikasi dengan Donghae saat ini, karena sebelum Donghae memasuki mention tersebut Donghae bertemu dengan Yesung di depan, dan karena ia sudah tidak bisa menghubungi markas dengan alat komunikasi yang tadi ditukarnya dengan Eunhyuk, Donghae memutuskan mengganti alat komunikasinya dengan alat komunikasi cadangan yang dibawa Yesung, supaya Donghae tidak 'buta' saat penyerangan.

Donghae mengangguk dan dengan cepat ia berjalan menuju tiang yang ditunjuk oleh angka 11 jarum jam tangannya. Donghae bergerak dengan cepat namun hati-hati, orang yang ada dibalik pilar tersebut sampai tidak menyadari kehadiran Donghae, hal itu membuat Donghae makin mudah menyerang orang tersebut.

DOR

Hanya dengan sekali tembakan orang yang ada di hadapan Donghae tersungkur dan tak bernyawa.

DOR

DOR

DOR

Suara letupan senjata api kembali terdengar di ruangan itu, sadar dirinya tidak sendiri di dalam tempat itu, Donghae kembali mengedarkan pandangannya dan terhenti pada beberapa orang yang tengah mengarahkan senjata laras panjang kepada Eunhyuk. Mata Donghae terbelalak, emosinya seketika itu naik, tanpa berpikir panjang Donghae segera mengarahkan senjatanya pada orang-orang yang berusaha membidik Eunhyuk.

DOR

DOR

DOR

Mendengar letupan senjata api Eunhyuk segera menghentikan aktivitasnya dan mengarahkan pandangannya pada sumber suara -Donghae-.

Tak lama kemudian Donghae selesai membereskan orang-orang yang ingin melukai Eunhyuk, Donghaepun mengarahkan pandangannya pada Eunhyuk, membuat pandangan mereka bertemu, "Hyukkie awas!" teriak Donghae sambil memberikan isyarat supaya Eunhyuk menunduk.

Tanpa mencari tau apa yang membuat Donghae berteriak histeris padanya, Eunhyuk segera menunduk dan...

DOR

BRUK

Peluru yang dilepaskan Donghae berhasil bersarang pada seorang namja berbadan gempal dengan sebuah tongkat di tangannya. Namja itu tersungkur tepat di sebelah Eunhyuk.

"Lengah," cibir Donghae pada Eunhyuk yang kini tengah menatap horor mayat yang ada di sampingnya.

"Apa kau bilang?" tanya Eunhyuk sedikit tidak terima dengan cibiran Donghae, meskipun cibiran Donghae itu memang benar.

Eunhyuk menghampiri Donghae, bermaksud untuk membalas cibiran Donghae, namun sebelum mereka berdekatan suara letupan senjata api kembali terdengar, beruntung Eunhyuk dan Donghae sadar dan dengan cepat menghindar.

DOR

Donghae melepaskan sebuah tembakan pada orang yang tadi menembaknya, namun gagal karena orang tersebut sudah menghilang.

Penasaran dengan orang yang menyerangnya tiba-tiba, Eunhyuk menarik lengan Donghae dan membawa Donghae naik ke atas.

/"Jangan ke atas!"/ seru Yesung.

"Terlambat," gumam Donghae setelah HaeHyuk sampai di atas dan menatap 10 orang yang ada di hadapannya.

/"Jangan ladeni mereka, cepat keluar, bomnya sudah aktif."/

"Ini tidak akan lama." Donghae dan Eunhyuk segera bersiap untuk menyerang. 10 orang yang ada di hadapan Donghae dan Eunhyuk pun mulai bersiap dan mengeluarkan senjata mereka.

DORRR

Donghae melepaskan sebuah tembakan pada para anak buah Sooman, namun tidak mengenai satupun karena anak buah Sooman berhasil menghindar dengan bersembunyi pada tempat-tempat yang dapat mereka gunakan untuk bersembunyi.

Anak buah Sooman tak mau kalah, mereka membalas tembakan Donghae. Eunhyuk yang sadar Donghae berada dalam bahaya segera menarik Donghae dan membawa Donghae bersembnyi di balik salah satu pilar yang menyangga mention tersebut, kemudian membalas tembakan mereka.

"Gwaenchana?" tanya Eunhyuk pada Donghae dengan nada cemas.

Donghae mengangguk dan tersenyum singkat pada Eunhyuk, tak lama kemudian tangan Donghae tergerak untuk menghubungi Yesung.

"Dimana Sooman saat ini? Berapa orang yang bersamanya sekarang?"

/"Dia ada diujung lantai dua arah jam 12, dia hanya bersama dua orang penggawal"/

"Arrasseo." Donghae mengangguk kemudian beralih menatap Eunhyuk, "Kau cari Sooman, biar aku yang atasi ini."

"Bagaimana caranya? Arah jam 12 berarti harus melewati mereka bukan?"

"Aku punya ide, ikuti aku, setelah ada kesempatan kau harus segera mencari Sooman arrasseo?"

Eunhyuk mengangguk mantap sedangkan Donghae mengalihkan pandangannya pada Eunhyuk untuk memperhatikan tempat-tempat yang digunakan anak buah Sooman untuk bersembunyi.

"Kajja!" Donghae menarik tangan Eunhyuk dan berlari secepat kilat menuju tempat persembunyian anak buah Sooman.

DOORR

Donghae kembali melepaskan sebuah tembakan setelah ia sampai ditempat persembunyian anak buah Sooman.

"Hyukkie sekarang."

Eunhyuk mengangguk kemudian berlari sekuat tenaga meninggalkan Donghae untuk mencari Sooman.

/"Ada yang mengejarmu diarah jam 5."/

Eunhyuk segera berbalik ke arah yang tadi disebutkan Yesung kemudian tanpa berfikir panjang Eunhyuk segera menarik pelatuknya.

DOR

Peluru yang di lepaskan Eunhyuk berhasil bersarang di tubuh Orang yang tadi mengejar Eunhyuk. Tak mau lama membuang waktu Eunhyuk kembali berlari untuk mengejar Sooman. Tak lama kemudian Eunhyuk sampai di ujung lantai 2, namun bukan Sooman yang ia temui melainkan dua pintu besar yang bersebelahan, dan itu membuat Eunhyuk pusing untuk memasuki yang mana. Setelah cukup lama berfikir perlahan Eunhyuk meletakan tangannya pada gagang pintu, namun suara Yesung yang sedikit tidak sabar menghentikan niatnya.

/"Jangan dibuka, lemparkan saja bom asap supaya mereka keluar."/

"Arra." Eunhyuk melepas ranselnya kemudian mulai mencari sebuah bom asap. Tak lama kemudian tangan Eunhyuk telah menggenggam sebuah benda bulat panjang menyerupai kapsul namun ukurannya lumayan besar, ia aktifkan benda tersebut kemudian dengan cepat memasukannya ke dalam salah satu ruangan yang ditunjuk Yesung.

BOOM

UHUK

UHUK

Tepat seperti yang diduga Yesung, dua orang yang diantaranya adalah Sooman melangkah keluar ruangan dengan terbatuk setelah bom asap tersebut meledak di dalam ruangan itu.

DOR

Tanpa menunggu Sooman menyadari kehadirannya Eunhyuk segera melepaskan sebuah tembakan dan berhasil pula mengenai lutut Sooman, bisa Eunhyuk pastikan bahwa setelah ini Sooman tidak akan berjalan dengan normal lagi seumur hidupnya.

"AAARGGH YOU BASTARD!" umpat Sooman sambil memegangi lututnya yang terkena tembakan.

Anak buah Sooman yang melihat bosnya tak berdaya segera berlari ke arah Eunhyuk, namun Eunhyuk nampak santai dan kembali mengangkat senapannya.

DOR

sebelum sempat menembak Eunhyuk reflek menjatuhkan senjatanya saat lengannya tiba-tiba terasa kelu dan mengeluarkan darah, ternyata salah seorang anak buah Sooman yang masih bersembunyi di dalam ruangan tersebut yang melepaskan sebuah tembakan pada Eunhyuk.

BUG

Eunhyuk harus tersungkur saat tiba-tiba wajahnya ditendang oleh anak buah Sooman.

Anak buah Sooman itu tersenyum meremehkan kemudian menyambar senapan Eunhyuk yang tadi terjatuh, "Harusnya kau selektif memilih tempat bermain bocah," cibir orang itu sambil memberikan senyuman meremehkan pada Eunhyuk.

Eunhyuk masih tersungkur dan tak mampu untuk melakukan apapun, darah yang keluar dari lengannya seolah membatasi gerakannya.

"Apa pesan terakhirmu?" ucap anak buah Sooman sambil menyerngai.

Eunhyuk mengutuk dirinya sendiri karena lengah dan tertembak, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mengutuk orang yang ada di hadapannya dengan tatapan tajamnya, namun beberapa saat kemudian tatapan tajamnya seolah hilang, wajahnya yang tadi terlihat suram kini berubah menjadi sedikit lega, bibirnya pun tertarik hingga menampilkan sebuah senyuman meremehkan, "Tunggu aku di neraka," ucap Eunhyuk santai.

Anak buah Sooman heran melihat ekspresi yang ditunjukan Eunhyuk, dalam hatinya bertanya kenapa Eunhyuk tertawa sedangkan hidupnya sudah di ujung tanduk. Tanpa pusing berfikir lagi anak buah Sooman menarik pelatuknya.

DORR

BRUKK

Bukan Eunhyuk yang tersungkur melainkan anak buah Sooman, karena sebelum anak buah Sooman berhasil melepas sebuah tembakan, Donghae yang baru datang terlebih dulu melepaskan sebuah tembakannya dan tepat mengenai organ vital anak buah Sooman.

Eunhyuk tersenyum puas pada Donghae, namun senyuman itu segera hilang saat Eunhyuk melihat seseorang yang entah berasal dari mana berlari ke arah Donghae.

Donghae menyadari hal itu dan segera berbalik, dengan sigap Donghae menangkis pukulan yang hendak dilayangkan untuknya. Eunhyuk berusaha bangkit dan membantu Donghae, namun langkahnya terhenti saat sebuah peluru kembali melesak ke arahnya, beruntung Eunhyuk menyadarinya sehingga peluru itu tidak sampai mengenainya.

Tak lama kemudian beberapa anak buah Sooman yang entah berasal dari mana kembali muncul dengan jumlah yang banyak dan mengepung HaeHyuk.

Sooman yang hanya bisa tersungkur karena kakinya terkena tembakan menyeringai ke arah HaeHyuk.

Tidak ada celah sedikitpun bagi HaeHyuk untuk kabur dari sana mengingat banyaknya anak buah Sooman.

Donghae dan Eunhyuk terkepung di tengah-tengah, mereka berdiri saling membelakangi dan memasang sikap waspada.

BOOOM

Bangunan itu bergetar hebat, salah satu sisi bangunan itu mulai hancur dan runtuh akibat bom yang dipasang Eunhyuk. Hal itu membuat anak buah Sooman kehilangan keseimbangan, namun tidak dengan pasangan HaeHyuk, mereka masih bisa berdiri karena berpegangan satu sama lain.

Eunhyuk dan Donghae memanfaatkan hal itu, mereka angkat senjata mereka dan mereka arahkan senjata itu pada anak buah Sooman.

DOR

DOR

DOR

Suara letupan senjata api kembali terdengar bersahutan dari dalam bangunan itu, beberapa kali Eunhyuk dan Donghae berusaha menghindari tembakan yang ditujukan pada mereka, dan itu berhasil.

"Hyukkie aku mau menanyakan sesuatu padamu," ucap Donghae disela pertarungan itu.

"Apa?"

"Hyukkie maukah kau menjadi namjachingu-ku?"

Eunhyuk terlonjak dan seketika itu juga menghentikan serangannya, hal itu membuat salah seorang anak buah Sooman berhasil mengunci Eunhyuk yang tengah terpaku, beruntung Donghae dengan cepat menyadari hal itu dan segera menembak orang yang berniat melukai Eunhyuk.

.

Eunhyuk POV

Kuusap peluh yang sudah membanjiri keningku, aku beruntung karena Aiden sangat mahir dan sigap, tapi tapi tapi, tunggu dulu, apa yang tadi ditanyakannya padaku? Dia bertanya apakah aku mau menjadi namjachingunya? Apa aku tidak salah dengar? Dia mengungkapkan perasannya padaku barusan? Aigoo, dia sungguh tidak romantis, biarpun aku menyukainya tapi setidaknya jangan mengungkapkan perasaannya di tengah pertempuran sengit seperti ini, mana mungkin aku bisa menjawab pertanyaannya, konsentrasi pada musuh-musuh saja itu sudah cukup menguras otak, apa lagi jika ditambah harus memikirkan pernyataannya.

"Apa jawabanmu Hyukkie?" kudengar dia mendesakku, aish kenapa dia tidak bisa memilih sikon?

DOR

Kukembalikan kesadaranku dengan cepat saat mendengar letupan senjata, untuk sementara ini aku tidak akan menjawab pertanyaanmu Aiden, aku akan berkonsentrasi dulu pada musuh-musuh yang masih banyak ini.

"Eunhyukkie!" desaknya lagi, aku mendengus sebal mendengar desakannya.

"Haruskah kau menanyakan hal itu sekarang, ini bukan waktu yang tepat Aiden, aku tidak akan menjawabnya sekarang," tolakku, aku masih kukuh dengan pendirian.

"Sudah tidak ada waktu lagi." Jawabnya panik. Aku enggan merespon perkataan terakhirnya, aku masih sibuk menembaki anak buah Sooman yang seakan tidak ada habisnya ini.

"Hyukkie saranghae, apa jawabanmu?" desaknya lagi, namun kali ini aku bisa mendengar sebuah nada harapan pada suaranya, biarpun aku tidak melihat wajahnya sama sekali.

BOOOM

Bom kedua yang kupasang sudah meledak, itu tandanya setengah dari bangunan ini sudah hancur, aku mulai panik, ku lirik Aiden, raut wajahnya juga sama paniknya denganku, saat ini entah mengapa aku ingin sekali keluar dari bangunan ini, namun tidak bisa karena anak buah Sooman belum juga habis.

/"Cepat keluar sisa bomnya akan meledak dalam waktu 5 dan 10 menit lagi."/

"Kami tidak bisa keluar," jawab Aiden panik.

/"Shit!"/

"Tidak ada cara lain." Kulihat Aiden mulai putus asa, namun tangannya tergerak untuk segera mengambil senjata cadangannya dari balik jaketnya kemudian ia gunakan senjata itu dengan tidak beraturan, tanpa mengunci targetnya terlebih dahulu.

DOR

"Aaarrrgghh." Jeritku, pahaku, lagi-lagi aku lengah, kupegangi pahaku yang terasa kelu dan sakit karena berhasil tertancapi sebuah peluru yang entah siapa penembaknya.

"Hyukkie!" seru Aiden, seketika itu juga Aiden menghentikan serangannya kemudian mengarahkan pandangannya padaku yang kini tersungkur dengan dua luka tembak di lengan dan paha.

"Jangan khawatirkan aku." Jeritku.

DOR

Tubuh Aiden sedikit terdorong karena sebuah peluru yang mencoba menembus punggungnya.

"AIDEN!" teriakku refleks, mataku terasa panas saat melihat hal itu jantungku berdetak tak karuan, aku takut, tapi kenapa Aiden sama sekali tidak merasa kesakitan? aku melihat ada hal yang ganjil dengan Aiden, ia sama sekali tidak memegangi lukanya, apa yang sebebnarnya terjadi?

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucapnya kemudian berbalik untuk kembali menembaki anak buah Sooman. Kulihat punggungnya yang terkena tembakan tidak mengeluarkan darah sedikitpun, sesaat kemudian aku baru tersadar, Aiden pasti menggunakan anti peluru untuk melindungi anggota vitalnya.

Aku tidak mau kalah dengannya, meskipun saat ini gerakanku terbatas, aku masih sanggup untuk menarik pelatuk dan menghabisi anak buah Sooman, kulirik sekilas Sooman yang tidak berdaya, beberapa orang mulai membantu Sooman untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu. ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencegahnya apapun yang terjadi, dengan cepat kuarahkan senjataku pada lutut salah seorang yang memapah Sooman.

AAARRGGHH

Jerit orang itu saat peluruku berhasil bersarang di lututnya.

AAARRRGHH

Tepat saat peluru keduaku berhasil bersarang pada orang itu, bisa kudengar jeritan Aiden, punggungnya pun sampai terdorong ke arahku, apa yang terjadi? Ku alihkan pandanganku pada Aiden dan bisa kulihat dengan jelas sebuah peluru berhasil bersarang di pundaknya, aku tersentak, luka yang ada di pundaknya seolah berganti berada di pundakku saat aku melihat darah itu.

"Gwaenchana?" tanyaku, biarpun aku tau keadaanya sangatlah tidak baik.

"Awas!" serunya padaku sambil mengarahkan senapan entah pada siapa, "SHIT!" Aiden mengumpat dengan keras, Aiden menarik-narik pelatuknya namun peluru tak juga keluar, sepertinya pelurunya habis.

BOOM

Bom ketiga telah meledak, dan itu artinya 5 menit lagi bom yang terakhir juga akan meledak, semua tiang-tiang yang menyangga bangunan ini mulai hancur, aku dan Aiden harus secepatnya keluar, kulihat anak buah Sooman abruk karena tidak bisa menaha keseimbangan karena runtuhnya bangunan ini. Tiba-tiba aku merasa hidupku tidak akan lama lagi, mungkin benar apa kata Aiden, sudah tidak ada waktu lagi. "Aku akan menjawab pertanyaanmu sekarang." Ini Gila! Aku tau aku gila, ini peperangan dan aku masih memikirkan untuk menjawab pernyataan cintanya? Tapi entah apa yang ada dipikiranku saat ini, yang jelas otakku pun ikut menyetujui tindakanku saat ini dan lagi… aku merasa sudah tidak ada kesempatan lain lagi untuk menjawab pertanyaan Aiden, kulirik sekilas dahi Aiden mengerut mendengar perkataanku, tapi aku tidak peduli, yang aku pedulikan saat ini adalah menjawab pertanyaannya dan secepatnya keluar dari sini.

Para anak buah Sooman tengah sibuk menyeimbangkan tubuhnya, aku harus memanfaatkan ini untuk mengajak Aiden keluar lewat jendela terdekat. Ku tarik lengan Aiden, bisa ku dengan ia sedikit merintih karena luka di bahunya, Mianhae Aiden aku yakin kau kuat, kumohon bertahanlah.

"Kau tadi mau menjawab pertanyaanku kan?" tanyanya sambil berusaha menembaki anak buah Sooman yang berhasil bangkit dan mengejar kami.

DOR

ARRGGH

Aiden menjerit, apa lagi sekarang? apa dia tertembak lagi? ANDWAE! benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi.

"AIDEN, NADO SARANGHAE!."

Eunhyuk End POV

.
.

(T.B.C)

.

Special thanks to:

nyukkunyuk, Kamiyama Kaoru, lucifer84, anchovy, RieHaeHyuk, Amandhharu0522, love haehyuk, kyukyu, anchofishy, dhianelf4ever, Chwyn, potatostar, hana ryeong9, ShillaSarangKyu, SSungMine, cosmojewel, ressijewelll, rianalupamelulu, minmi arakida, 333LG, Dyna, skyMonkey3012, AULN KEY, Melodyna, AidenLee15, AranciaChru, Arit291, Asha lightyagamikun, Bloody Angel From Hell, Elf hana sujuCouple, Haehyuk addict, Isnaeni love sungmin, JeJeSalvatore, Kamiyama Kaoru, Kim Ji Yoon, Lee Ah Ra, Lee Eun Jae, Lee Eun In, Lee Hyuk Nara, Park Min Gi, Qhia503, RianaTrieEdge, haehyuk86, kei20wu, loupeu, myhyukkiesmile, nanda0404137 ryeosomNia14, saranghaehyukkie, Arum Junnie, Lee Ah Ra, anchofishy, kyukyu, maria8, athena137, dew'yellow, Eunmi2210, nevi lee onyu, christina, Riyu, dinie teukie, I was a Dreamer, Aiyu Kie, AyaKYU, Anami Hime, Me Naruto, nhoerhyuk'jae Elf EunHae, dinEunHae, Fitri jewel hyukkie, sweetyhaehyuk, nurul. p. putri, okoyunjae, Anonymouss, Haehae, Kim Ji Yoon, SilverBling, KyuMinEunHae30, vi-H2, plsgoaway, Lee Chan88, nhoerHyukjaeEunHaeElf, nvptr, hana ryeong9, heeli, , RianaTrieEdge, aya clouds, KimRyeonii, Mrs. EvilGameGyu, Kim In Sook, MyDecember, FisyMonkey, WooChaHyunHyuk8, sullhaehyuk, Jung En-Yeon, 0212echy, Asha lightyagamikun, Ayugai Risa, JeJeSalvatore, KimRyeonii, Lee Hyuk Nara, fallforhaehyuk, loupeu, shovariah, sweetink, Thania Lee, aninda. c. octa, and any reviewer who use GUEST name.

NB: Yang namanya belum disebutkan segera kasih tau Rizuka ya!

Gamsahamnida! #bow