That Thing and I

Cast:

Kim Namjoon X Kim SeokJin

Min Yoongi X Park Jimin

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

Genre: romantic, fantasy, school life AU

Warning! Typo(?), OOC, GS, OC

.

.

written by

Red Casper

.

.

Enjoy

.

.

Chapter 7

.

Min Yoongi dan Park Jimin mulai terlihat dekat sejak pertemuan mereka di café beberapa hari yang lalu. mereka sering bersama di beberapa kesempatan; Yoongi biasanya menemani Jimin di perpustakaan atau Jimin yang menemani Yoongi di lapangan basket. Hal itu membuat kegemparan lain di bawah atap Bang Tan School; setelah Jin yang turun dari mobil Namjoon minggu lalu, kemudian Taehyung yang kepergok sedang mencium rambut panjang Jungkook, kini kedekatan Min Yoongi dan Park Jimin.

Gadis-gadis penggemar ketiga pangeran otomatis –secara langsung menjadi haters untuk ketiga gadis itu. mereka beberapa kali mencoba melabrak Jin tapi gadis itu berubah pemarah sejak berkencan dengan pangeran mereka, kata-katanya menjadi setajam pedang –seperti Min Yoongi juga tatapannya menjadi sedingin es –seperti Kim Namjoon.

Jungkook yang paling mudah mendapat serangan, dia gadis polos yang baik jadi tidak bisa terhindar dari dua atau tiga jebakan dan terror, hal itu membuat Taehyung terpaksa berdiri di tengah kantin saat jam istirahat dan mengumumkan bahwa siapapun yang mencoba melukai gadisnya akan berurusan dengannya. Cukup ampuh, Jungkook sudah tidak pernah menerima terror dan jebakan lagi, tapi dia tetap akan mendapatkan bisik-bisik tidak menyenangkan sepanjang hari.

Jimin malah yang tidak tersentuh. Walaupun para haters ini tidak menyukai kedekatan Min Yoongi dan Park Jimin tapi mereka sudah tau bahwa gadis itu adalah atlit bela diri yang handal, dia punya sabuk hitam taekwondo di pinggangnya dan juga alasan atas medali-medali yang terpajang di rumahnya. Rumor yang beredar mengatakan bahwa pukulan Park Jimin yang paling pelan dapat mematahkan meja. Yang paling pelan. Makanya kebanyakan para haters lebih memilih memaki Jimin di belakang dari pada menanggung resiko patah tulang dan sebagainya.

"benarkah itu?" tanya Yoongi suatu sore, saat bel pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu. mereka duduk di perpustakaan, Jimin sedang membaca buku yang tidak terlalu tebal tentang perbintangan.

"itu apa?"

Yoongi menyandarkan kepalanya di meja, menatap Jimin yang sedang membaca dari bawah. Yoongi tidak begitu suka buku, dia akan memilih buku online jika memang diharuskan membaca. Dia hanya berada disana karna Jimin.

"tentang pukulan paling pelanmu bisa mematahkan meja"

Jimin tertawa sembari menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga membuat Yoongi tersenyum, dia suka sekali saat Jimin melakukan itu.

"itu rumor berlebihan, aku butuh satu dua pukulan yang cukup bertenaga untuk membuat sebuah meja benar-benar patah. Aku heran, siapa yang menyebarkan rumor itu?"

Yoongi mengedikkan bahu lalu mulai menggoyangkan kakinya di bawah meja, "entahlah, tapi kurasa cukup berguna karna kau tidak perlu susah-susah menghadapi gadis-gadis gila itu"

"yeah, dan gadis-gadis gila itu adalah penggemarmu"

Yoongi tertawa pelan dan kemudian mereka masuk dalam keheningan lagi. Jimin sudah kembali tenggelam dalam bacaannya dan Yoongi yang masih bersandar di meja tak tau harus melakukan apa. Jadi dia menopangkan tulang pipinya di telapak tangan dan meletakkan siku di atas meja, memperhatikan Jimin. Gadis itu selalu penuh dengan ekspresi yang lucu bahkan saat membaca, membuat Min Yoongi tidak pernah bosan mematainya.

Kali ini Jimin mengerucutkan bibir ketika matanya bergerak kiri dan kanan dengan lambat, keningnya mengerut saat menemukan hal yang tidak dimengertinya, dia akan bergerak mencari buku lain atau menekan aplikasi google di ponselnya, dan kemudian mengangguk pada dirinya sendiri saat mendapatkan jawaban memuaskan dari ketidakmengertiannya.

Sedetik kemudian, dia tersigap saat Min yoongi tiba-tiba mencium bibirnya singkat. Yoongi langsung kembali keposisinya dan tertawa pelan melihat Jimin yang terpaku di tempat, "aku tidak tahan, kau manis skali"

Semburat merah muda langsung menghiasi pipi Park Jimin ketika itu, meremas buku dalam genggamannya saat jantungnya berdebar kencang. Perutnya melilit disapa seribu kupu-kupu yang menimbulkan sensasi menyenangkan yang tidak nyaman.

Yoongi masih tertawa melihat Jimin di depannya, perlahan menggerakkan tangan meraih ikatan rambut Jimin dan menariknya lembut, membuat ribuan surai brunette itu jatuh di bahu Jimin satu persatu dengan gerakan –yang entah kenapa menjadi– slow motion.

"aku selalu suka rambut tergeraimu," Bisik Yoongi sambil menurunkan buku di tangan Jimin yang masih membeku di tempatnya "cantik skali"

Jimin menahan nafas saat Yoongi mendekat, meletakkan tangan hangatnya di rahang Jimin membuat gadis itu merinding. Telapak tangannya Jimin berkeringat dingin saat Yoongi mulai menggerakkan bola matanya naik turun –meneliti tiap inchi kulit wajah Jimin yang mulus, dan tatapan itu berhenti pada bibir Jimin yang penuh.

Mereka akan berciuman, jika saja ponsel Yoongi tidak berdering keras skali menimbulkan gema membuat pemuda itu langsung menjauhkan diri dan meraih ponselnya diatas meja.

Yoongi bicara di telpon membelakangi Jimin yang hampir menangis. Gadis itu tidak yakin apakah dirinya harus lega atau malah kecewa. Jimin sebenarnya belum siap melakukan kontak intim dengan Yoongi –mereka hanya dekat bukan sepasang kekasih. Dia terkejut setengah mati saat Yoongi berani mengecup bibirnya tadi. Namun juga di dalam hati sebenarnya dia menantikan ciuman itu. ini rahasia; Jimin belum bernah berciuman –dia bahkan belum pernah pacaran. Jimin bukan Jungkook yang sudah pernah menjalin hubungan khusus dengan seorang pria di kelasnya waktu kelas satu, juga bukan Seokjin yang mantan pacarnya tidak pas dengan hitungan jari lagi sejak kelas dua smp. Jimin tomboy dan hal itu yang membuatnya tidak –atau- belum tertarik pada lawan jenis, sampai bertemu Min Yoongi.

"ibunda menyuruh kita ke rumah sekarang," kata Yoongi sambil memutuskan panggilan telpon, "ayo pergi"

Jimin menyusun buku yang tadi dibacanya di atas meja, kemudian mengikuti langkah Yoongi keluar perpustakaan. Jimin menggaruk lehernya canggung atas apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Yoongi –soal ciuman gagal itu, tapi Yoongi sepertinya terlihat tak memikirkannya. Pemuda itu berjalan di depan Jimin seperti tak pernah ada yang terjadi, seperti dia tidak pernah menarik ikat rambut Jimin dengan gerakan menggoda itu, seperti tidak pernah mendekatkan wajahnya untuk mencium gadis itu.

Jimin tidak sadar menghentak kakinya kesal, Min Yoongi kenapa sih?

Tapi saat Jimin duduk dalam mobil, mengambil ikat rambutnya lagi dan mencoba mengikat helai lembut itu, tapi Yoongi menahan tangannya,

"aku bilang, aku suka rambutmu yang tergerai. Kau cantik. Jangan diikat"

Setelah itu Min Yoongi mulai konstentrasi dengan setir mobilnya, mengabaikan Jimin yang hanya bisa menggenggam ikat rambut birunya dalam diam, sekali-kali menarik kainnya yang elastis dan tenggelam dalam pikirannya.

"kenapa yang mulia ratu memanggil kita?" tanya Jimin akhirnya, mencoba mencuri perhatian. Tapi Yoongi hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

Yoongi tadi benar-benar ingin mencium Jimin kan? lalu kenapa sikapnya tiba-tiba dingin? Dimana Min Yoongi yang tadi memujinya? Jimin mengerucutkan bibir. Min Yoongi menyukainya tidak sih?

.

.

"tinggal disini?" Seokjin bertanya dengan kening berkerut, Jungkook di sampingnya mengedipkan mata beberapa kali, sedangkan Jimin masih melongo tidak mengerti.

Ratu vampire, Kim Heechul, duduk di sofa warna merah di kastilnya –bangunan itu terlalu tinggi untuk dikategorikan sebagai rumah– memangku kaki dengan gerakan anggun dan angkuh secara bersamaan, mengangkat gelas tinggi berisi cairan kental merah kemudian meneguknya dengan perlahan. Wanita pucat itu mengangguk, dia baru saja meminta ketiga gadis untuk tinggal di dalam kastil bersama mereka.

"tinggal sekamar dengan Namjoon?" Seokjin masih bertanya.

"terserah padamu, nak" jawab sang ratu, meletakkan gelasnya di atas meja kaca, begitu anggun hingga tak menimbulkan suara, "kau sudah jadi holder, jadi tidak masalah jika harus sekamar dengan Namjoon –asal Namjoon tidak membuatku cepat punya cucu saja. mereka membutuhkan keturunan tapi tentu saja tidak secepat ini, kau masih SMA kan"

Kalimat itu langsung membuat Seokjin menangguk paham, Jungkook yang merona dan Jimin yang masih melongo. Sedangkan Namjoon berdecak sebagai bentuk protes.

"aku tidak semesum itu, ibunda"

"uh, anakku yang mana yang tidak mesum?" kata sang ratu retorik, membuat Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan –ibumu-saja-mengakuinya- "Jimin dan Jungkook bisa tinggal di dalam sini sebelum menjadi holder, ada cukup banyak kamar."

"kenapa?" Jimin akhirnya bisa mengeluarkan suaranya, "kenapa kami harus tinggal disini?"

Sang ratu terlihat gelisah, bukan karna dia tidak menyukai pertanyaan Jimin. Ketiga gadis itu berhak tau kenapa dirinya membuat keputusan itu, hanya saja sang ratu tidak terlalu menyukai alasanya.

"kalian aman di dalam sini" kata ratu pelan, membuat ketiga pangeran ikut mengerutkan alis bingung,

"aman dari apa?" tanya Namjoon waspada. Tangannya perlahan melingkar di pinggang Seokjin, perasaannya tidak enak.

"bukan apa-apa, nak" jawab sang ratu tidak sabar, "aku hanya merasa perlu untuk memasukkan ketiga calon menantuku dalam pengawasanku"

Taehyung dan Yoongi mengangguk sedangkan Namjoon masih menatap ibundanya lama.

"Han akan mengurus surat izin" sambung sang ratu, terlihat menghindari sorot mata anaknya, "orang tua kalian akan mengira kalian hanya sedang asrama di sekolah. Kalian bisa pulang kapanpun kalian mau, hanya jangan terlalu sering. Aku akan selalu mengawasi. Tidak masalah kan?"

Walaupun terlihat seperti bertanya, jelas nada bicara sang ratu terdengar tidak ingin mendengar jawaban. Itu perintah, bukan negosiasi. Jadi ketiga gadis itu mengangguk patuh.

"kalian bisa pindah kesini besok" sang ratu bangkit dari duduknya, meraih tangan Mr. Han yang terulur kemudian berjalan menuju tangga, meninggalkan anak-anaknya beserta kekasih mereka. namun saat kakinya menapaki anak tangga kedua, dia berbalik.

"Namjoon, anakku" panggilnya, "ke ruanganku, sekarang"

Sang ratu tersenyum pada semua orang disana kemudian menghilang saat kakinya menginjak anak tangga ketiga. Namjoon mengikutinya di belakang, menghilang begitu saja.

"ada yang tidak beres kan?" Jimin angkat suara, menatap Yoongi dan Taehyung bergantian. Kedua pangeran itu bersandar di sofa, Yoongi terlihat tenggelam dalam pikirannya, sedangkan Taehyung menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan gelisah.

"tentu saja ada yang tidak beres"

o0 That Thing and I 0o

Jimin mengetuk-ngetuk kaca mobil Yoongi dengan gerakan lambat, dia mengkhayal –baiklah, berpikir entah tentang apa. Dia bukannya tidak setuju dengan kepindahan mereka kerumah keluarga vampire itu, dia hanya merasa gelisah karna harus berkenalan dengan lingkungan baru. Jimin adalah orang yang tidak akan pernah bisa berpaling jika sudah nyaman pada sesuatu, lebih jelasnya Jimin selalu memilih comfort zone-nya dan susah untuk meninggalkannya.

kamar adalah salah satu comfort zone-nya, Jimin selalu merasa nyaman dan susah beranjak jika sudah menginjakkan kaki di ruangan yang tidak memiliki konsep tetap itu; lemarinya warna coklat gelap dengan stiker angry bird, seprai kasurnya alpokadot kuning terang dan hitam (Jimin menyebutnya bumblebee bed), rak sepatu berwarna hijau pudar, meja belajarnya bergambar kucing cantik, Marie, dengan berbagai foto idola yang tertempel, dan karpetnya warna coklat bergaris.

Jimin mengerling Yoongi namun pemuda itu tampak tidak menangkap kegelisahannya, tetap berkonsetrasi pada jalanan. Jimin menghela nafas panjang, dia sudah tidak bisa menolak lagi. Mereka baru saja pulang dari rumah Jimin untuk mengangkut 3 koper barang gadis itu, walaupun Yoongi meyakinkannya untuk tidak membawa terlalu banyak.

"Min Yoongi…" Jimin memutuskan bersuara lebih dulu. Pemuda itu tidak menjawab, tapi Jimin tau dia mendengarkan, "lalu aku akan tinggal dimana?"

"rumah utama"

"oh.." Jimin menggaruk tengkuknya, "Jungkook akan sekamar denganku?"

"kalau kau ingin"

Jimin menghela nafas panjang, "boleh aku punya kamar sendiri?"

"hn"

Demi tuhan, Jimin ingin sekali menarik-narik rambut abu-abu milik pemuda itu, tapi dia akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menghentak kaki. Jimin bergerak mengambil ikat rambut di tas, tapi suara Yoongi menginterupsinya

"jangan diikat"

"panas…" Jimin mengumpulkan helaian di bahunya kemudian mengangkatnya keatas, membuat kulit lehernya lega, terbebas dari rambut yang menempel disana karna keringat.

"aku sudah menyalakan pendingin udara. Aku selalu suka rambutmu, Jim"

"baiklah" Jimin melepaskan rambutnya dan menyelipkan beberapa helai di telinga

Yoongi tersenyum "selalu lakukan itu di depanku"

Kening Jimin mengerut, "apanya?"

Yoongi tertawa membuat kening Jimin semakin menukik dalam, lalu wajahnya merona saat Yoongi bergerak menyapu puncak kepalanya.

"kau manis sekali"

Namun hanya begitu saja, Yoongi tersenyum manis saat mengatakan itu, lalu sudah. Laki-laki itu kembali konsentrasi pada jalanan, menatap dengan dingin kaca di depan saat berbelok, dan mengabaikan Jimin yang kembali merona akibat perbuatannya.

Yoongi turun dari mobil lebih dulu saat mereka tiba di halaman rumah utama. BMW M6 Gran Coupe yang juga baru saja berhenti di depan Maserati Yoongi memberitahu mereka bahwa Taehyung dan Jungkook juga baru tiba. Taehyung keluar dari mobil mewahnya, berlari ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Jungkook.

Yoongi bergerak untuk menurunkan koper Jimin, menunggu gadis itu turun dari mobilnya. Jimin keluar dengan –entah kenapa- kesal, dia merampas pegangan kopernya dari Yoongi kemudian berteriak, "jangan membuatku bingung, Min Yoongi!" setelah itu dia berjalan dengan cepat, masuk kedalam rumah.

Taehyung dan Jungkook menatap Yoongi penuh tanya, "kenapa dia, hyung?"

Yoongi menjawab pertanyaan itu dengan tatapan yang sama bingungnya.

.

.

Entah apa yang dipikirkan Park Jimin. Dia melempar kopernya begitu saja ke dalam salah satu kamar di lantai dua rumah utama keluarga vampire itu –dia mendapat kamar sendiri, setidaknya itu membuatnya sedikit lega, Jimin tidak suka berbagi comfort zone. Tidak berniat mengganti pakaian, Jimin melangkah dengan gontai ke luar gerbang, entah apa yang membuatnya berpikir untuk pergi ke sekolah padahal hari sudah sore. Dia naik bus satu kali kemudian turun di halte dekat sekolahnya.

Mengabaikan hawa dingin dan aneh dari dalam gedung, Jimin masuk ke perpustakaan. Dia tidak berniat membaca satu bukupun, hanya ingin suasana tenang. Jimin membuka jendela tinggi perpustakaan lebar-lebar kemudian menatap hutan di belakang sana.

"halo"

Jimin terkesiap, dengan segera memalingkan pandangan pada asal suara dan matanya melebar melihat siapa yang berdiri disana. Seorang pria tinggi dengan seragam putih dan kemeja hitam, rambutnya sedikit lebih panjang dari pertama kali mereka bertemu membuat helai hitam pekat itu turun menutupi mata dan telinganya.

Tubuh Jimin menegang saat pria itu mendekat dengan sebuah buku yang tidak terlalu tebal ditangannya –tentang perbintangan. Pria itu berdiri di samping Jimin, bersandar pada bingkai jendela dan tertawa melihat ekspresi Jimin sekarang.

"kau masih takut padaku?"

Jimin tidak menjawab, dia hanya ingin cepat pergi dari sana tapi kakinya membeku di lantai. Membuat pria di depannya semakin keras tertawa. Bukan tawa mengerikan seperti beberapa hari yang lalu, namun tawa renyah penuh jenaka.

"ayo berkenalan lagi, kali ini dengan cara yang benar," pria tinggi itu mengulurkan tangannya yang pucat, "namaku Jay, Jay Waterson dan aku tidak akan menggigitmu"

.

.

Seokjin baru saja selesai mengatur barang-barangnya di kamar Namjoon –ya, mereka akan tinggal sekamar, Namjoon bilang tidak masalah jika Seokjin mencampurkan pakaian mereka, jadi Seokjin merapikan pakaiannya di atas pakaian-pakaian Namjoon yang terlipat dan juga menyelipkan gaunnya di antara kemeja Namjoon yang tergantung. Kini ia sedang terpaku di depan pintu kamar Namjoon, menatap seorang pria cukup tinggi berwajah manis dengan surai kecoklatan yang berdiri disana..

"siapa, Jin?" suara Namjoon dari dalam membuat Seokjin menoleh dengan tatapan gelisah dan senyum dari pria di depan pintu.

Namjoon melangkah ke pintu, rahangnya menegang saat melihat siapa yang datang.

"lama tidak berjumpa" kata pria di depan pintu, tersenyum manis sambil mengangkat tangannya, melambai pada Namjoon yang terpaku di belakang punggung Seokjin.

"kenalkan, aku Jung Hoseok, vampire paling tidak beruntung" kata pemuda itu langsung, menatap Seokjin dengan sedih, "kau holder Namjoon kan? Sayang sekali Holder harus seorang perempuan supaya mereka bisa punya keturunan dan harus manusia hidup bukan vampire mati seperti aku. Andai saja takdir berkata lain, mungkin kami masih bisa bersama…

..iya kan…" Senyuman manis dan tatapan sedih itu berganti seringaian yang di tujukannya untuk Namjoon, "sayang?"

.

.

"anak tertua, Min Yoongi, tidak bisa mati walaupun kau menyerangnya sekuat apapun. Dia lambang keabadian. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah pemusnahan saat gerhana bulan. Kita hanya perlu mengulur waktu agar Min Yoongi tidak sempat melakukan ritual sebelum saat pemusnahan tiba dan dia akan menghilang ditelan takdir"

"sang panglima, Kim Namjoon, sudah memiliki holder. Namun holdernya adalah kelemahan yang paling lemah. Mereka terburu-buru, padahal holder adalah ikatan abadi yang harus dipikirkan masak-masak oleh manusia. Kim Namjoon akan mati jika holdernya mati. Tapi jangan menyentuh holdernya, berbahaya, mereka punya kekuatan yang lebih dari kita duga. Akan lebih mudah jika membuat holder itu membunuh dirinya sendiri, dengan begitu Kim Namjoon akan terkubur bersama kelemahannya"

"anak terakhir, Kim taehyung, tidak perlu dikhawatirkan. Dia yang terlemah, dan juga bukan petarung dimedan perang. Saat kakak-kakaknya berhasil disingkirkan, Kim Taehyung akan sangat mudah dijatuhkan jika kita semua menggingitnya bersamaan. Darahnya luar biasa hangat dan penuh dengan kekuatan di setiap tetesnya. Setelah itu Kim Taehyung akan jatuh tersungkur dengan kekosongan"

..

.

To Be Continued

.

..

A/N:

TOLONG JANGAN BENCI JEHOP, DAN TOLONG JANGAN BENCI SAYA KARNA MELIBATKANNYA DALAM URUSAN CINTA NAMJIN.

Helo.. hihi

Let's put our hands up, karna yeeeyyyy Young Forever Epilogue rilis tadi malam yeeeyyyy. saya belom liat tbh, begitu banyak kertas menumpuk dimeja minta di gerayangi (?) dan banyak file-file di laptop yang perlu di selesaikan, salah satunya That Thing and I chap 7 ini. duh, RL selalu sukses bikin saya sakit kepala tapi review selalu sukses bikin saya berbunga-bunga (?) hahaha. abaikan, tolong.

Dan oh yes, saya ganti penname, makasih 94shidae karna ngingetin. Sengaja ganti untuk alasan pribadi dan privasi (?)

Saya balas review yaa, tapi Cuma untuk jawab pertanyaan (pertanyaan gaje, aneh, absurd termasuk, tapi dijawab dengan gaje, aneh, dan absurd juga :*) hihi

Aduh, LulluBeepertanyaannya banyak ya, saya jadi bingung jawabnya. Hahaha. a) apa Yoongi mulai menyukai Jimin? Well, maybe yas, maybe nah :p b)terus kapan Jungkook jadi holderya Tae? Hmm, nanti, kalo Jungkook udah pengen di grepe sama Tae (?) c) apa orang itu bakalan nyerang JiKookJin sebagai kelemahan? Hmmm, chap 7 menjawab pertanyaan itu kah?

irmagination gangguannya datang dari yang jahat apa dari cewe-cewe fans? Hmmm, chap 7 menjawabnnya kan? hihihi :*

minchimin siapa yang bakal nyerang ratu dan anak-anaknya? Hmm, saya juga penasaran :p

Rona Tan mereka ga akan musnah kan? saya juga gamau mereka musnah, huwaaaa!

MisarLenranasta878 yang terakhir itu siapa? Duh, siapa yaa? *mikir bareng

Sxgachim apa pemimpinnya Hoseokie? Well, I kent tell ya :*

kumiko Ve apa ga aneh buat yang lain liat perubahan Jin? Enggak, karna Jin bukan siswa yang diperhatikan. Mungkin ada beberapa orang terdekat yang merasa aneh, tapi mereka ga terlalu permasalahin.

JVZ1230 mobil Taehyung? BMW M6 Gran Coup. Tidak semahal mobil kakak-kakaknya (mungkin) soalnya Taehyung ga permasalahin mobil, yang penting ada -_-

Myhope, well itu karna pennamenya yourhope ini bukan jawab pertanyaan sih, lebih saya yang nanya. Ini sorry, review 404 not found mengganggu pikiran, saya lagi di kerjain atau gimana sih? Hahahaha. Sumpah tiap liat review saya selalu mikir gue dikerjain nih kayaknya.

Dats all. Yeeyyy. Kelar deh chap 7. Untuk chap 8, nunggunya lamaan dikit gapapa kan? saya, ugh, banyak hafalan dan kerjaan yaampun. Tapi ttp usahain fast update. Ah, dan yang kecewa karna saya skip bed-scene –nya NamJin itu ada alasannya, let me explain. 3 gadis ini sudah pasti virgin, dan saya gamau bikin 3 virgin-sex karna pasti akan mirip-mirip dan membosankan, juga saya mungkin akan kehabisan kata untuk membedakan 3 bed-scene ini.

Saya akan kasih hint untuk bed-scene. YoonMin's Virgin-sex, VKook's second-sex, NamJin's Good-bye-sex. Err.. Good bye? Saya bikin kalian penasaran lagi? Hahaha. harus ada bayaran untuk tiap hint.

Thank you guys.

Review?

Deep bow, Red Casper