Annyeong chingudeul..
Bagaimana chap 5 kemarin. Panjang kan. Dan yunjae momentnya juga udah aku munculkan. Ini chap 6 nya tapi mian mungkin pendek, cz pikiranku lagi buntu karena yunpa ngambek gara-gara minjae moment lebih banyak..Hehehe#udah cap cus nya.# Selamat membaca
# YUNJAE :: Love Is #
Cast : Jung Yunho/Yunnie (11 th)
Kim jaejoong/Joongie (7 th)
Park Yoochun
Kim Junsu
Shim Changmin
Disclaimer : Mereka semua milik tuhan dan orang tua mereka. yunjae is real dan gak bisa diganggu gugat..
Warning : ni gs coz para uke aku jadiin yeoja.. Jadi jika g berkenang mian aku mohon gak usah baca aja
#ini lanjutannya, selamat membaca#
=Yunjae Love is=
"Tidak ada yang salah. Tidak juga kamu, ataupun aku. Tapi jalan hidupkulah yang salah. Hidupku terlalu liar...!"
Yunho kemudian pergi. Berlalu sebelum Jaejoong bermaksud menahannya. Dia melangkah terus, tanpa menoleh kembali.
===CHAP 6===
Taman Evergreen merupakan salah satu kawasan wisata di Seoul#anggep ada ya#. Letaknya tepat di tengah kota. Banyak wisatawan yang bermaksud untuk menikmati pemandangan taman itu, dan ada juga yang hanya menyempatkan diri mereka untuk sekedar menyaksikan stan-stan makanan yang memang ada di sekitar taman. Saat itu di taman Evergreen mentari mulai mengintip dalam nuansa pagi yang cerah. Terlihat sudah banyak pengunjung di sana. Maklumlah, hari minggu sangat tepat untuk melepaskan penat bagi mereka yang selama enam hari berkutat dengan berbagai macam kesibukan dengan rekreasi. Mereka memilih Taman Evergreen sebagai tempat untuk bercanda ria dengan orang-orang tersayang.
Sementara ditengah-tengah taman ada air mancur dengan airnya yang jernih, di bawah mentari yang menghangat sepasang remaja tengah asyik menikmati kebersamaan dalam sebuah biduk kecil yang mirip seekor angsa. Jaejoong dengan kecantikan wajahnya dan Changmin dengan ketampanan wajahnya yang merasa getaran kerinduannya kian memuncak saat itu. Mereka berpadu dalam kebersamaan, membiarkan rasa itu lepas bebas, membiarkan hati masing-masing berbicara, saling menyelami dan saling meresapi. Ada keceriaan di wajah-wajah lembut itu, menghias dengan sempurna. Apalagi diiringi dengan senyum-senyum kebahagiaan. Namun mereka hanya diam. Tapi kediaman itu tidak mengurangi arti kebersamaan yang tercipta.
"Joongie..." ujar Changmin lirih sembari melirik wajah cantik itu dengan ekor matanya. Akhirnya pemuda itu tidak kuat lagi untuk bertahan dalam kebisuan yang panjang.
"Ne..." jawab Jaejoong dengan tatapan yang masih lekat memandang air mancur.
"Bagaimana perasaanmu saat ini...?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya bercampur baur."
"Maksudmu...?"
Jaejoong tidak langsung menjawab pertanyaan Changmin. Dia diam, seperti tengah memikirkan sesuatu. Dia ingin memberi jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Dia ingin bijaksana menanggapi pertanyaan Changmin. Tapi sulit sekali rasanya. Satu sisi dia menyukai suasana seperti saat itu. Indah dan cukup romantis. Di lain sisi pikirannya menerawang jauh, mencari seseorang yang membawa pergi seberkas harapannya akan cinta. Belum lagi dia teringat pada Yunho sahabat kecilnya. Dia binggung sendiri.
"Sebenarnya aku bahagia dengan suasana seperti ini. Tapi... Tapi aku tidak bisa meresapi kebahagiaan itu secara utuh."
"Ahh..." desah Changmin sangat jelas di telinga Jaejoong meskipun sangat kecil. Namja itu merasa seakan ada yang membuat dadanya sesak. Nyeri itu merasuki hatinya secara perlahan-lahan. Dia tidak pernah menduga, kalau Jaejoong akan berkata seperti itu. Inilah yang membuat hatinya sakit. "Waeyo, Joongie...? Adakah sesuatu yang membuatmu kurang enak berada di sini? Atau kau merasa terpaksa untuk datang kesini?"
Jaejoong terdiam. Dia tidak mau mengutarakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Cobalah kamu lihat kebahagiaan Junsu dengan Yoochun. Mereka menikmati suasana ini dengan bahagia."
"Mereka kan sudah resmi menjalin cinta. Sedangkan aku, seperti yang kamu lihat. Aku masih belum punya pasangan."
"Aku bersedia menjadi pasanganmu bahkan lebih dari itu, aku mau menjadi namja chingumu Joongie."
"Ahh..." desah Jaejoong tidak percaya.
"Sebenarnya kamu tidak ada halangan untuk mendapatkan seseorang yang mencintaimu. Kamu cantik, hatimu baik, banyak teman-teman berlomba-lomba untuk mendapatkan cintamu Joongie. Diantara mereka, aku salah satunya. Aku mengagumimu dari dulu. Rasa itu menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Namum rasa itu aku tanam dalam-dalam di hatiku. Tapi toh pada akhirnya aku tidak kuat juga untuk memendamnya terus. Hari-hariku selalu gelisah. Entah mengapa aku sangat merindukan kebersamaan denganmu. Makanya aku tidak dapat mengelak lagi, aku benar-benar mencintaimu, Joongie. Nan jeongmal sarangheyo."
"Ahh..." lagi-lagi yeoja itu mendesah. Kali ini bukan dia tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Changmin kepadanya. Dia menangkap kesungguhan di mata Changmin. Apalagi selama ini dia tahu kalau namja itu diam-diam terus mengejarnya. Tapi kali ini, yeoja itu malah menjadi takut, karena bagaimanapun hatinya telah dibawa oleh pangeran penyelamatnya. Bunga-bunga cinta yang kuncup di taman hatinya dihisap habis oleh seekor kumbang dambaannya. Kali ini dia harus jujur kepada Changmin, agar harapan itu tidak berkepanjangan. Biarlah namja itu kecewa untuk sesaat, karena nanti pasti akan ada yeoja lain yang bisa menghiburnya dalam cinta yang lain dan juga lebih besar. Namun Jaejoong masih tetap diam seribu bahasa.
"Kenapa kau hanya diam, Joongie? Bicaralah, Joongie! Katakan saja apa yang mau kau kau katakan. Aku akan berusaha tegar untuk mendengarkannya."
"Mianhae.. Jeongmal mianhae Minnie. Pantai cintaku sudah aku serahkan kepada orang lain. Bahkan saat ini aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku. Sekeping hatiku telah terbawa pergi olehnya. Aku hanya mampu merindu. Berharap dia akan datang menemaniku. Sekali lagi Jeongmal mianhae Changminnie."
Jaejoong menatap Changmin dengan wajah pias. Namja itu terluka, hatinya kecewa. Semuanya dapat ditangkap oleh Jaejoong dari matanya yang tajam, menjadi layu. Ada gurat-gurat kesenduan di wajah tampan itu. Changmin sendiri masih diam dan membisu. Tak sanggup untuk berucap. Sepasang matanya tidak berani menatap wajah cantik di sampingnya, karena dari tatapan mata bening Jaejoong tidak lagi dirasakan kesejukan, tapi malah sebuah rasa yang mergiris-iris harapannya. Hatinya nyeri, rasa itu sangat menggigit. Rasanya terhempas kedalam jurang yang sangat dalam. Oh, begitu pedihnya desis Changmin dalam hati dengan sangat lirih.
"Sudahlah. Aku yang terlalu berharap hingga kekecewaan itu sangatlah terasa. Ternyata kebersamaan itu hanya sesaat,namun cukup membuat diriku mengerti kalau aku hanyalah seorang pemimpi. Cintamu terlalu jauh untuk kugapai Joongie. Keindahan sesaat yang aku rasakan seperti mengejekku lalu pergi tanpa arti, dan yang tertinggal hanyalah kegetiran yang entah sampai kapan akan berlalu."
"Apa yang kamu katakan, Changminnie. Kamu terlalu berlebihan. Aku sangat dekat denganmu, tapi sudah ada orang lain yang lebih dulu melekat di hatiku. Bahkan sebelum kita bertemu dia sudah menebarkan benih-benih kerinduan di hatiku, sampai kini, hingga kebersamaan ini tidak dapat kunikmati secara utuh."
"Kamu jangan mencoba menghiburku, Joongie. Karena tidak akan dapat merubah keadaan, toh aku akan tetap terluka."
Oh, betapa sulitnya kamu memahami diriku, Changminnie. Kalau tidak ada dia di hatiku, aku pasti akan bersedia untuk menjadi yeoja chingumu. Aku tidak akan sampai hati untuk membuatmu terluka seperti ini. Karena kamu terlalu baik untuk harus disakiti. Tetapi aku telah memilih Yunho sahabat kecilku. Ne,, aku memilih Yunnie. Mengertilah, Changminnie... Mengertilah, desis Jaejoong dalam hati.
"Aku tidak bermaksud demikian, Changminnie. Aku cuma berusaha jujur kepadamu. Namun tak kusangka, kejujuranku itu malah membuatmu tersakiti. Jeongmal mianhae Changminnie." ucap Jaejoong.
"Memang aku yang tidak cukup tegar mendengar kejujuranmu. Seharusnya aku berterima kasih atas kejujuranmu. Tapi, aku hanyalah manusia biasa. Tidak bisa menghindar dari kesedihan dan rasa sakit itu, meskipun aku mencoba untuk tegar."
"Ne, kamu benar, Changminnie. Aku berharap kamu mau mengerti dengan keputusanku. Aku senang menerimamu sebagai seorang sahabat. Sahabat yang sangat baik kepadaku."
"Akan aku coba, meskipun rasanya tidak akan bisa. Aku akan berusaha untuk mengerti dan menerima keputusanmu, Joongie."
"Kenapa kamu berkata seperti itu, Minnie?"
"Karena aku sangat mencintaimu, Joongie."
"Ohh..."
Haruskah aku membalas cintamu, Minnie. Kamu sangat baik, dan memang aku pernah mencoba untuk membuka hatiku untukmu. Tapi kerinduanku padanya, membuatku menutup kembali pintu itu. Aku tidak mau menjadi manusia egois. Menerima cinta dua orang namja sekaligus di hatiku. Aku tidak bisa melakukannya. Tidak bisa...desah Jaejoong dalam hati.
Mentari yang menghangat itu seperti menghambar bagi Changmin. Tidak ada lagi keindahan di hari yang mulai beranjak siang itu. Senyumpun seketika menghilang. Tinggal kesenduan bergayut di mata tajam itu. Namja itu tidak ingin lagi berlama-lama di tengah taman berair mancur itu.
"Kayaknya sudah saatnya kita bergabung dengan yang lain. Junsu dan Yoochun sudah lama kita tinggalkan."
"Ne. Mudah-mudahan bersama mereka suasana akan lebih baik."
Tanpa berkata lagi, mereka bergerak untuk pergi, meninggalkan air mancur yang jernih, namun begitu keruh bagi Changmin. Kemudian mereka berjalan sejajar, tidak berdekatan lagi seperti ketika mereka mau memasuki taman itu. Ternyata dari air mancur itulah, awal mimpi indah akan tetap menjadi mimpi dalam setiap tidur malam Changmin.
"Lho, kok cepat sekali sih kalian." ledek Junsu yang masih bergayut manja di bahu Yoochun.
"Matahari sudah mulai menjilat kulit. Kasian kan, mulus-mulus begini nanti menjadi hitam dan kasar," ujar Jaejoong sedikit berkelakar.
"Bagaimana suasananya disini, enak kan...?"
Mendapat pertanyaan itu, Changmin dan Jaejoong malah saling melirik. Mereka lalu diam sejenak.
"Di bilang enak tidak juga. Di bilang tidak... Bagaimana ya, Joongie?" ujar Changmin.
"Soalnya merpatinya ngambek. Sebelnya lagi, dia mau terbang, heee..."
"Ah, Joongie pasti ngaco. Jangan-jangan dia kerasukan hantu Taman Evergreen lagi," sergah Junsu dongkol.
"Enak saja. Kamu tuh yang kerasukan. Senyum-senyum sendiri dari tadi," balas Jaejoong dengan sengit.
"Sudah-sudah, kalian ini seperti nenek-nenek tidak kebagian gigi palsu saja," sela Yoochun.
"Ne, sudahlah... Sebaiknya kita pulang saja," timbal Changmin mencoba menengahi.
"Kenapa, Min?" tanya Junsu.
"Kepalaku agak pening," jawab Changmin.
"Bagaimana...?" tanya Yoochun meminta persetujuan.
"Sebaiknya begitu," ujar Jaejoong sembari melirik Changmin yang tengah menundukkan wajahnya.
Mereka kemudian membereskan tas masing-masing. Memasukkan minuman dan makanan ringan yang masih tersisa namun belum sempat dimakan. Barulah mereka beranjak meninggalkan Taman Evergreen dengan segala kenangan yang sempat terukir hari itu. Yoochun begitu gembira saat itu, begitu juga dengan Junsu kekasihnya. Bunga-bunga cinta mereka pupuk di taman itu. Sementara Changmin dan Jaejoong hanya bisa iri melihat kemesraan sahabat mereka. Mereka melangkah di antara seribu duka dan kerinduan.
===TBC===
Mian chap ini pendek soalnya memang chap ini hanya fokus pada jawaban jaema untuk minmin. Kasian minmin kan kalau dibuat menggantung ma chap depannya juga kurang lebih sama kayak chap ini, tapi fokusnya pada yunpa. Sekali lagi mian jika pendek dan aku mohon reviewnya chingudeu jika telah membaca ff ni.
