Rated: T
Disclaimer: All of these chara is belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is mine
Warning!: Gajelas, bahasa sok puitis, alur lompat-lompat, OOC dan yang lainnya.
NejiTen slight NejiHina
don't like? don't read
couple words from author:
Hai minna-san! wuhu lama tak berjumpa, maaf ya lagi-lagi aku menghilang, stok inspirasiku kayaknya agak ngadet nih jadi ya harus di refresh dulu (?) hehe, dan juga karena sebentar lagi uas, aku jadi gabisa terlalu fokus ke fic ini maafyaa :"( tapi kuusahakan fic ini selesai sebelum uas hehe. okay aku balas reviews dulu yaa
Fumiyo Nakayama: Huwaa sepertinya permohonanmu belum bisa terkabulkan nih Fumiyo :( soalnya aku mau bikin konflik antara Ino dan Tenten dulu nih, mau memperjelas alasan peperangan Ino dan Tenten (?) #dikroyok Ino sama Tenten wkwk, ya namanya juga cinta, tidak memandang status wkwkwk (korban cinta buta) wkwk, disini gaada SaiTen, soalnya kan Tenten demennya ama abang Neji :3 hehehe
D'Michi: iya, Ino kan emang sifat dasarnya agak jutek ke semua orang #ditampol Ino sama Sai, eh Sai lo ngapain ikutan? sono pulang! #plak! wkwk, huwaa lagi-lagi typoo huu, iya sih hehe, tapi mataku kan kurang jeli dalam memeriksa typo hehe #author banyak alasan wkwkwk, wah mungkin untuk sekarang ini aku gabisa apdet terlalu sering karena sebentar lagi mau uas huwaa :(tapi akan kuusahakan untuk apdet secepat mungkin hehe.
Himemiya Hyuuga: Ahaha, Tenten hanya terpesona pada senyumannya Sai, biasalah cewek gimanasi kalo ketemu cowok unyu ;3 wkwkwk #plak! yaa cinta itu memang buta yaa, gamandang status, usia, golongan. kalo udah cinta mah, gaspool wkwk, iyalah karena Neji hanya milik Tenten seorang :3 awawawww! #author gajelas, oke chap tujuh udah aku apdet, dan terus ikuti fic ku yaa ;D'
oke reviews sudah dibalas semua, langsung ajaya author ngantuk nih gabisa bacot panjang-panjang #yes! akhirnya saat-saat seperti ini tiba juga *nangis guling-guling. yosh! ini dia chappie 7
Chapter 7
Normal Pov
Angin malam menerpa tubuh mungil seorang gadis berambut auburn dan bermata hazel yang tengah berkonsentrasi dengan busur dan panahnya. Suara gemuruh petir samar-samar tertangkap oleh telinga gadis itu, tapi gadis itu tak peduli, ia tetap sibuk dengan sebuah taget bidik yang berada beberapa meter dihadapannya. Tangan kanannya mulai menyusupkan anak panah ke benang busur. Gumpalan awan gelap mulai mengerubungi langit, menutupi sinar rembulan yang sedari tadi sudah menemani gadis itu berlatih.
Dengan perlahan, gadis itu menarik anak panah kebelakang. Menutup sebelah matanya untuk membidik target. Suara gemuruh kembali merambat diudara, menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Tapi kembali, gadis itu tidak merasa terganggu. Ia masih terus berkonsentrasi dengan targetnya. Ia memejamkan matanya sekilas, berusaha meredam segala emosi yang berkecamuk dihatinya yang terasa mulai mengganggu konsentrasi. Semilir angin malam yang terasa membeku kembali menerjang tubuh itu, menampar lembut pipi chubby nya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir jauh kejadian tadi siang yang terus berputar-putar di kepalanya.
Tenten's Pov
Aku segera memejamkan sebelah mataku, berusaha berkonsentrasi pada target bidik yang berada beberapa meter dihadapanku. Tangan kananku masih menahan anak manah di diepan benang busur, mencegahnya untuk meluncur kedepan.
'Karena hanya kau, ha-hanya kau ya-yang bisa ku-kupercaya u-untuk menyimpan ra-rahasia ini, Te-Tenten-san.' Kata-kata itu kembali berputar diotakku. Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku, mengusir kata-kata itu dari kepalaku.
'Lupakan dan konsentrasilah.' Batinku, berusaha mensugesti diriku sendiri. Aku mengangguk kecil lalu kembali menatap target dihadapanku. Setelah merasa yakin, aku langsung melepas anak panah yang sedaritadi kugenggam. Wush, seketika anak panah itu meluncur kedepan dan... Tep! Menancap dengan sempurna di tengah-tengah papan target. Aku terdiam sesaat, memperhatikan anak panah itu, takut kalau anak panah itu patah seperti beberapa hari yang lalu, anak panah itu menancap disana, tapi patah. Dan yang lebih memalukannya lagi, Neji yang pertama kali melihatnya. Deg! Kekalutan kembali menyerbu hatiku kala mengingat pemilik nama itu. desau angin malam menerpa wajahku, menampar lembut pipiku seraya membawa pikiranku ke kejadian siang tadi.
Flashback. On
Dengan hati-hati, jari jemariku mulai mengelus rambut itu. sementara tanganku yang lain menggenggam sebuah sikat dan menarik sikat itu dari kepala sampai keujung rambut dengan hati-hati. Rambut indigo itu, kini sudah mengkilap. "Rambut anda indah sekali, Hinata-sama." Ucapku sambil menyusuri rambut mengkilap itu, merasa iri dengan keindahannya. Hinata tertawa kecil.
"A-arigatou ne, Tenten-san. Ra-rambutmu ju-juga sa-sangat indah, a-aku suka se-sekali dengan ra-rambut berwarna co-coklat."
"Ah begitu ya, arigatou Hinata-sama." Ucapku yang kembali menyikat rambut indigo itu. suasana kembali hening. Aku terlalu sibuk memperhatikan rambut indah dihadapanku. Rasa iri kembali membungkus hatiku.
'Andai rambutku bisa seindah ini.' batinku, aku mendengus kesal. tentu saja tidak mungkin. rambut Hinata selalu diberi obat-obatan tradisional agar tetap sehat dan indah, lagipula Hinata memang rajin merawat tubuh dan rambutnya. Sedangkan aku? Jangankan merawat tubuh, aku untuk sekedar menyikat rambutku saja rasanya sangat malas. Maka dari itu, aku lebih suka mencepol rambutku, tapi sekarang aku tidak punya waktu untuk sekedar mencepol rambut. "Tenten?"
"Iya, Hinata-sama?"
"Apa kau pernah merasa, menyukai seseorang yang seharusnya tidak kau sukai?" Aku terdiam sejenak, apa katanya? Menyukai orang yang seharusnya tidak disukai? Kenapa tiba-tiba Hinata bertanya seperti ini.
"Ah, aku... aku sepertinya belum pernah merasakannya, Hinata-sama. Karena bagiku menyukai seseorang adalah wajar, jadi tidak ada kata menyukai seseorang yang seharusnya tidak disukai." Ujarku sambil kembali menyikat rambut indigo Hinata.
"Ta-tapi bagaimana... ba-bagaimana kalau o-orang it-itu benar-benar ti-tidak boleh ka-kau sukai?" Aku kembali kaget, apa maksudnya?
"Kalau aku sih, akan tetap menyukainya, karena menurutku menyukai siapapun itu adalah hak setiap manusia, bukankah begitu, Hinata-sama?"
"Tapi bagaimana... ba-bagaimana kalau pe-perasaanmu sudah me-melebihi pe-perasaan su-suka?" Aduh, kenapa Hinata jadi bertanya soal cinta-cintaan sih? akukan sama sekali tidak berpengalaman (?)
"Kita semua berhak menyayangi seseorang bukan? Jadi menurutku itu wajar-wajar saja, Hinata-sama. Memangnya, kalau boleh tau, siapa laki-laki yang Hinata-sama sukai?" Tubuh Hinata kembali menegang, gadis itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menundukan kepalanya, membuatku menjauhkan tanganku dari rambutnya.
"A-aku... se-sebenarnya a-aku sa-sangat menyayanginya, ka-karena dia ha-hanya dia ya-yang se-selalu menemaniku, ha-hanya di-dia yang peduli pa-padaku." Bisa kulihat tubuh Hinata mulai berguncang, apa dia menangis?
"Aku me-menyayanginya se-sejak la-lama. Ta-tapi.. i-ini semua sa-salah, aku se-seharusnya ti-tidak boleh... me-menyimpan perasaan se-semacam ini." Aku hanya bisa terdiam, menunggu Hinata melanjutkan ceritanya disela-sela sesegukannya. "A-aku... me-menyukai... Neji."
Jantungku terasa berhenti berdetak selama beberapa detik, kepalaku berdenyut keras kala itu.
'Apa? Hinata me-menyukai? Neji? Kakak sepupunya sendiri?" Jiwaku terasa dibanting kala itu juga, rasa sakit mulai menusuk-nusuk hatiku. Hinata? Ternyata sebegini besarkah daya pikat Neji? Hingga membuat adik sepupunya sendiri pun menyukainya?
"A-aku... aku tahu i-ini sangat gi-gila, mengingat a-aku dan Ne-Neji ma-masih mempunyai da-darah ya-yang sama, tapi a-aku tidak bisa menyangkal pe-perasaan ini... a-aku benar-benar ja-jatuh ha-hati kepadanya." Kami-sama! Ini gila, ini benar-benar gila. Hinata, benar-benar menyukai Neji?!
"A-aku tahu Ne-Neji-nii pa-pasti tidak a-akan pernah me-memandangku se-sebagai seorang ga-gadis. Di matanya a-aku tetap adik pe-perempuannya... ta-tapi aku ya-yakin, suatu sa-saat ia a-akan me-menyadari se-semua ini." ucap Hinata sambil menengadahkan wajahnya, memandangi langit musim gugur yang kelabu. Sementara aku masih setengah sadar dari kekagetanku.
"Tenten?"
"I-iya, Hinata-sama?"
"A-aku mo-mohon, berjanjilah u-untuk merahasiakan se-semua i-ini. a-apalagi dari Ne-Neji-nii, a-aku mohon." Hinata membalikan tubuhnya hingga menghadapku, membuatku sedikit terkejut. Gadis itu menggenggam tanganku.
"Karena hanya kau, ha-hanya kau ya-yang bisa ku-kupercaya u-untuk menyimpan ra-rahasia ini Te-Tenten-san."
Flashback. Off
aku mengepalkan kedua tanganku, meredam segala emosi yang berkecamuk dihatiku, mencegahnya untuk meledak saat itu juga. Aku menundukan kepalaku, menatap kearah tanah, semakin lama pandanganku semakin kabur karena air mata yang mengumpul dipelupuk mataku. Aku memutuskan untuk menggigit bibir bawahku, menahan air mata agar tidak tumpah. Kami-sama, kenapa harus Hinata? Kenapa harus Hinata yang menyukai Neji? Saudaranya sendiri?
'Tidak ada kesempatan bagiku, Hinata bisa saja memakai kekuasaannya untuk memerintah Neji agar mau menikahinya.' Aku tersenyum kecut, merasa bodoh karena berpikiran seperti itu. sudah tidak ada harapan. Aku tidak akan bisa menyampaikan perasaanku pada Neji, tidak akan bisa. Akhirnya aku merasakan cairan hangat mengalir dipipiku. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku yang sudah mulai berdesak-desakan keluar. Kami-sama, kenapa harus seperti ini? aku tidak bisa kan, seenaknya menyatakan perasaanku pada Neji sementara Hinata tidak. Ditambah Hinata sudah bercerita kepadaku, aku tidak mungkin mengkhianati Hinata, dia terlalu baik untuk dikhianati dalam urusan cinta. Aku menghentakan kakiku ke tanah, kenapa aku bisa sebegini terjerumusnya kedalam pesona seorang Hyuuga Neji? Padahal sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, tapi kenapa? Kenapa bisa aku sangat menyukainya seperti ini?
"Sepertinya kau memang benar-benar seorang kunoichi ya, Tenten." Tubuhku sedikit terlonjak kala mendengar suara itu, suara seksi yang sudah beberapa hari ini tidak kudengar. Dengan ragu-ragu aku membalikan tubuhku, untuk memastikan dugaanku. Bola mata hazelku membulat dengan sempurna ketika melihat senyuman itu, senyuman yang menurutku sangat imut tapi terkesan... palsu. "Eh? Sa-Sai-san? Apa yang kau lakukan disini?" Laki-laki berkulit pucat itu melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Perdana mentri sepertinya memutuskan untuk singgah di konoha selama beberapa hari, demi mempererat persaudaraan antara konoha dan oto, kau tahu bukan, konoha dan oto tidak pernah benar-benar berdamai?" Aku mengangguk kecil. Ya dari dulu sekali, Konoha dan Oto tidak pernah benar-benar berdamai. Otogakure selalu saja berusaha memperluas kekuasaannya dengan menjajah negara-negara kecil lainnya, dan ia memiliki ambisi untuk merebut konohagakure, negara terbesar. "Semoga saja konfliknya cepat selesai." Ucapku sambil tersenyum kecil.
"Jangan bicara seperti itu."
"Eh? Kenapa?" Tanyaku sambil mengernyitkan hidungku, aneh sekali laki-laki ini. "Kalau konflik antara konoha dan oto berakhir, aku tidak bisa datang ke konoha dan bertemu denganmu." Deg! Bisa kurasakan pipiku memanas karena ucapan maut Sai, laki-laki itu kembali tersenyum. Tapi entah mengapa, semakin sering melihat senyuman itu, semakin aku bisa merasakan keganjalan dibaliknya. Seperti, senyuman itu hanyalah topeng, hanya pura-pura.
"Kau ini." dengusku sambil meninju pundaknya. Laki-laki itu tertawa, tawa yang hambar. "Apa setiap malam kau selalu berlatih?"
"Tidak juga, aku berlatih ketika aku sedang ingin, dan saat aku tidak bisa tidur." ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Menarik juga ya, meskipun sekarang kau seorang dayang, tapi kau tetap berlatih." Aku tertawa kecil, merasa sedikit tersipu karena kata-katanya.
"A-ah itu biasa saja, aku hanya berlatih memanah, bukan hal yang besar." Ucapku disela-sela tawaku. Laki-laki itu mengangguk. suasana kembali hening. Sialan, kenapa jadi canggung begini? Padahal saat bertemu dan berbincang di acara ulangtahun Hinata, rasanya tidak secanggung ini. angin malam mulai menerpa tubuhku dan tubuhnya, membuatku sedikit bergidik. Samar-samar bisa kudengar suara gemuruh petir, dan beberapa detik kemudian tetes demi tetes air hujan mulai membasahi tubuhku dan tubuh Sai.
"Wah hujan." Ujarnya santai, laki-laki bertubuh pucat itu dengan seenaknya menarik tanganku, membuat tubuhku membentur tubuhnya. Tangan kirinya diletakan diatas kepalaku sementara tangan kanannya menggenggam erat tanganku. "Ayo cepat kita berteduh." Ujarnya. Aku hanya bisa diam, masih shock karena tindakan tiba-tibanya. Jantungku berpacu semakin cepat ketika tangan Sai berpindah dari tanganku ke pinggangku yang mulai basah karena tetesan hujan. Beberapa menit kemudian kamipun sudah duduk dibawah sebuah pohon mapple.
"Kenapa kita tidak duduk di pinggir koridor, Sai?" Tanyaku sambil menunjuk kearah koridor yang sunyi dan sepi. "Terlalu jauh, aku malas basah." Aku mendengus kesal. 'Sekarang pun kita sudah basah kuyup,Sai!' Rutukku dalam hati. "Tenten?"
"Hn?" Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menyenderkan kepalanya kepundakku, membuatku hampir saja melompat dan berteriak.
"Sa-Sai? A-apa yang kau lakukan?" Tanyaku yang masih kaget. Bisa kulihat Sai memejamkan kedua matanya, menyembunyikan sepasang bola mata onyx pekatnya dibalik kelopak mata pucat.
"Kau tahu, Ten? Menurutku kau sangatlah menarik." Aku sedikit terlonjak saat mendengar kata-katanya. "Menarik?"
"Ya... apa kau pernah merasa begitu tertarik pada seseorang?" 'Neji.' Kami-sama! Secara otomatis aku nama itu langsung muncul dikepalaku ketika Sai bertanya seperti itu. "Aku tidak tahu." jawabku lesu.
"Tenten?"
"Ya?" Bisa kurasakan tubuh Sai sedikit menegang. diantara semilir angin aku bisa mendengar suara bisikan berat dari arah Sai, aku yakin bahwa itu suara Sai, laki-laki itu berbisik.
"Aku tidak tahu apa yang salah padaku, yang jelas. Aku tidak pernah merasa begitu tertarik pada seseorang."
Normal Pov
Ditengah derasnya hujan, duduklah sepasang manusia, laki-laki dan perempuan dibawah sebatang pohon mapple. Seolah tidak peduli akan dinginnya udara malam itu, mereka tetap duduk pada posisi mereka, dimana sang lelaki menyenderkan kepalanya di pundak si perempuan. Tanpa mereka sadari, sepasang mata aquamarine ikut menyelusup diantara mereka, memata-matai mereka dari kejauhan.
Api cemburu terasa bergolak disekitar tubuh seorang gadis berambut blonde yang berdiri beberapa meter disamping pohon mapple, tepatnya beberapa meter disamping sepasang kekasih itu. "Sialan!" Geram gadis itu seraya mengepalkan tangannya. "Tidak akan pernah kubiarkan, tidak akan pernah kubiarkan gadis itu merebut Sai dariku!"
yak chappie 7, bagaimana-bagaimana? maaf ya di chappie ini gaada NejiTennya sama sekali :'( soalnya aku memang mau konsentrasi untuk menerangkan konflik antara Ino dan Tenten, di chappie selanjutnya mungkin NejiTen baru keluar hehe, oke segini aja deh author udah kleyengan nih gara-gara kelamaan mikir (minna-san tau kan kapasitas otak author yang sangat sangat minim) okee keep reading my fic guys and... REVIEWSS! :D
