Disclaimer : Death Note isn't mine. I'm sure you've known it.
Warning : Manga spoiler. Membosankan. Tidak nyambung.
L mengerang dalam hati. Dia menatap setumpuk berkas yang Watari letakkan di atas mejanya. Bibirnya mengerucut, merasa enggan dan ingin berpura-pura dia tidak melihatnya.
Watari hanya tersenyum melihat 'anak'nya yang bersikap seperti anak kecil yang sedang ngambek. Tangannya dengan cekatan menuangkan kopi ke dalam cangkir, dan menaruhnya di samping berkas-berkas itu.
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau menerima kasus lain sekarang, kan?" kata L, cemberut.
Senyum Watari semakin lebar, dia memotong cake sebelum menaruhnya di piring kecil. "Yang tidak ingin menerima kasus lain karena agar bisa fokus pada kasus Kira itu Detektif L, tapi Danuve dan yang lain tidak." ujarnya, memberikan piring cake dan garpu kepada L.
Pipi L semakin menggembung mendengar pernyataan yang sangat tepat itu.
"Tenang saja, aku hanya memilih kasus yang berkaitan dengan orang hilang. Bagimu ini hal mudah." tambah Watari, masih tersenyum.
L mentoal-toel berkas-berkas tersebut dengan garpu, seakan-akan benda yang tergeletak di depannya itu adalah benda berbahaya. Dia lalu menghela nafas kalah, tangannya membuka berkas-berkas itu dengan sangat, amat, lemas.
"Seharusnya aku bilang bukan hanya L yang tidak menerima kasus." gumam L, membaca berkas dengan wajah terpaksa.
"Hm? Kau bilang apa, L?" tanya Watari.
"Tidak ada, hanya bicara sendiri."
Benar kata Watari, dia bisa memecahkan kasus ini secepat dia memakan cake di piringnya. Kasus-kasus ini sangat mudah. Hanya dengan menghack dan mengkontak di sana-sini, kasus pun selesai.
'Tunggu sebentar,' batin L tiba-tiba, tangannya berhenti membolak-balikkan halaman berkas. Dia membaca tulisan yang tercetak berulang-kali, seakan memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Dia menelan ludah, kedua matanya melebar, tubuhnya yang menjadi tegang berkeringat dingin, saat dia merasa yakin.
Watari menyadari bahwa L berhenti bergerak. Dia berjalan mendekati wanita detektif itu, tangannya terjulur untuk memegang bahunya, namun terhenti ketika merasakan getaran dari tubuh L. Saat melihat wajah 'anak'nya yang pucat pasi itulah, insting orangtuanya muncul.
Dia segera menengadahkan kepala L, sebelah tangannya yang lain menopang tubuh yang basah itu. "L, Lawliet, tarik nafas... tenanglah."
Bagaikan diguyur air dingin, L tersentak dengan tersengal-sengal. Watari segera menuangkan teh ke dalam cangkir, dan memberikannya pada detektif wanita itu.
"Watari." panggil L, setelah kesunyian panjang yang tidak mengenakkan.
"Apa, Ryuuzaki?" tanya Watari.
L menaruh cangkirnya di atas meja. Dia lalu memberikan berkas yang membuatnya syok tadi kepada Watari. Tatapan tenang dan dingin. "Tolong, cocokkan hasil dna para korban kasus 'itu' dengan orang-orang yang akan kusebutkan."
Watari terdiam sesaat, sebelum menerima berkas tersebut. "Baiklah, L."
CHAPTER 06
COMPANIONS
"A... apa maksud anda, wakil kepala?" tanya Soichiro, terkejut. Suaranya bergema dalam kantor wakil kepala kepolisian yang sepi. "Penyelidikan kasus Kira dihentikan?"
"Para atasan yang memintanya, bukan aku. Tentu saja aku juga sudah menolaknya."ujar Kitamura berusaha tenang, jemarinya menaut di depan wajah.
"Ke-kenapa mereka meminta..." Keringat dingin mengalir di dahi Soichiro. "A-apakah mungkin mereka berpikir bahwa keamanan jadi bertambah baik dengan kehadiran Kira?"
Kitamura menutup matanya. " Tidak... bukan seperti itu... pihak kepolisisan tidak pernah berpikir begitu..."
Soichiro tersentak kaget. "... 'pihak kepolisian'...?" tanyanya. "Kalau begitu, siapa yang anda maksud para atasan itu?"
Kitamura terdiam, merasa bimbang apa harus menjawab pertanyaan bawahannya itu.
Mata Soichiro melebar, mengerti mengapa wakil kepala tidak menjawabnya. "Ja-jangan-jangan pemerintah...?" duganya, tidak yakin. "Apakah ini ada hubungannya dengan politikus yang minggu lalu dibunuh oleh Kira karena kasus penyuapan...?"
Kitamura masih tidak menjawab.
Keringat dingin semakin banyak mengalir di wajah Soichiro. "Ja-jadi, pemerintah menekan kepolisian...?" tanyanya, curiga.
Kesunyian terus berlanjut sesaat, sebelum Kitamura memutuskan membuka mulutnya. "...Yagami... negeri ini dipegang oleh pemerintah... jika pemerintahan hancur, negeri ini juga akan hancur..."
"Pak! Kenapa anda jadi putus asa seperti ini?" sela Soichiro, tegas. Dia lalu menarik nafas untuk menenangkan dirinya. "Tapi tetap saja ada yang aneh. Meskipun banyak politikus yang pantas dibunuh oleh Kira, seharusnya mereka justru meminta agar Kira ditangkap secepatnya untuk melindungi dirinya sendiri..."
Tautan jemari Kitamura semakin erat. "Itu karena..." Keringat dingin membanjiri, dia menatap mata Soichiro. "Kira mengatakan tidak akan menyerang para politikus kalau polisi tidak mengejar Kira."
Rasa terkejut semakin melandanya. "...dia bilang begitu?" tanyanya, tidak percaya. Tanpa sadar, dia menggebrak meja di depannya. "Kira mengatakan itu kepada siapa?" tanyanya lagi, dengan nada suara tinggi.
"Soal itu aku juga tidak tahu!" balas Kitamura, dengan nada suara yang sama. "Yang jelas, Kira membunuh para politikus yang terlibat suap. Karena itu keberadaan Kira saat ini sangat penting..." Dia lalu memalingkan wajahnya, matanya kembali terpejam. "Sekarang, Kira bekerjasama dengan politikus."
"Bekerja sama?"
"Kira sangat menakutkan."
"Apa maksudnya 'bekerja sama'...?"
"Kira bisa dengan mudah mendapatkan uang dengan cara membunuh orang, kan...?" ucap Kitamura, alisnya menaut serius dan gugup. "Dia menyumbangkannya kepada pemerintah."
Soichiro tidak bisa merasa lebih terkejut lagi setelah mendengar hal itu.
Begitu...
"Ada orang yang menerima sumbangan dari Kira, ya...?" Soichiro memalingkan wajahnya, tidak percaya. "Tidak hanya menakut-nakuti akan membunuh, tapi juga mengontrol polisi dengan uang..."
Kesunyian menyeruak.
"Seperti inilah keadaannya... bahkan ada yang berpendapat Kira bisa menjadi senjata pamungkas Jepang." Kitamura memecah keheningan.
Kedua alis Soichiro menaut serius. "Lalu, soal 'polisi menggunakan seluruh kemampuannya untuk menangkap Kira' apakah akan terus diinformasikan?"
"...Ya..."
Soichiro mengernyit mendengar jawaban atasannya itu. "Berbohong kepada masyarakat... bahkan kepada seluruh dunia..." gumamnya, wajahnya mengeras. "Faktanya, tidak akan ada lagi polisi Jepang yang akan menyelidikinya..." Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. "Bagaimana kalau seandainya saya memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan?"
Kitamura terdiam sesaat. "Aku juga tidak akan memaksa kalian, yang telah memilih jalan melanjutkan penyelidikan dengan mempertaruhkan nyawa, untuk menghentikan penyelidikan..." Ucapannya terhenti. Dia lalu menatap serius ke arah Soichiro. "Tapi kalau memang masih ingin terus melanjutkannya, lakukanlah tugas rutin kalian sebagai polisi dan lakukanlah penyelidikan pribadi di luar jam kerja."
Alis Soichiro berkedut. "Dengan kata lain... kami..." Dia membalas tatapan Kitamura dengan keseriusan yang sama. "...tidak boleh lagi menyelidikinya bersama L."
"Ya..." jawab Kitamura setelah beberapa lama. "Kita sudah tidak bisa lagi mengizinkan komputer di kantor polisi terhubung dengan L, dan kalian tidak boleh lagi menghilang selama jam kerja. Sangat wajar bila polisi bekerja di bawah kebijakan kepolisian, bukan?" lanjutnya.
"...Bagaimana jika kami masih tetap meneruskan penyelidikan bersama L?"
Kitamura terdiam, alisnya mengerut seakan menimbang-nimbang. "Kau memaksaku untuk mengatakannya...?"
"Saya mengerti." Soichiro berbalik, beranjak untuk pergi. "Permisi."
"Yagami, aku belum dengar keputusanmu!"
Komandan polisi itu terhenti, tangannya memegang gagang pintu. "Saya mengucapkan terima kasih untuk informasi yang berguna dalam penyelidikan kasus Kira." ucapnya untuk terakhir kalinya, sebelum keluar dan menutup pintu, meninggalkan Kitamura sendiri di ruangannya.
Jantungnya berdetak kencang, ia tak akan heran jika melihat jantungnya menembus tulang iga dan melompat keluar, setelah melihat – walau buram – wajah senang orang yang telah menyiksanya.
Di tengah kesadaran yang samar-samar, dia mendengar senandung yang didendangkan orang itu. Dia tidak bisa mengetahui liriknya dengan jelas, tetapi nada lagu itu membuatnya merinding.
Tidak, itu bukan lagu yang biasanya. Itu lagu baru.
Dia mengernyit ketika orang itu memetik gitarnya yang entah didapatkan dari mana. Tubuhnya terasa sangat ngilu seiring nada gitar dimainkan.
Ketakutan.
Itulah yang dia rasakan saat ini, ketakutan yang teramat sangat.
Walau orang itu tidak melakukan apapun padanya saat ini, tetap saja dia merasa takut.
Kini dia mengerti bagaimana perasaan teman-temannya yang menjadi korban.
Dan juga perasaan gadis itu.
Mengingat gadis itu...
Dia terkekeh pelan, merasa konyol terhadap dirinya sendiri. Kalau jadinya seperti ini, dia tak akan menghasut si back up itu untuk ikut dalam rencana mereka. Dia benar-benar salah perhitungan, akibatnya teman-temannya terbunuh dan dia sekarang disandera untuk disiksa sampai – entah kapan – dia mati.
Pikirannya terputus ketika dia mendengar suara kursi bergeser. Dia mengangkat wajahnya, menatap tanpa ekspresi ke arah lelaki berambut hitam yang tengah menaruh gitarnya. Lelaki itu lalu menoleh ke arahnya, ekspresinya terlihat santai namun juga terkesan dingin.
Lelaki bermata merah itu tersenyum. "Sepertinya 'permainan' yang kita lakukan sebelumnya benar-benar menyenangkan, melihat kau masih bisa tertawa begitu." ujarnya, sembari melihat-lihat peralatan yang tercecer di lantai. "Dan kelihatannya kau sudah siap untuk melanjutkannya." Dia mengambil sebuah suntikkan berisi cairan berwarna ungu mencurigakan dari kantong celananya. "Aku membuat zat ini, tapi aku tidak punya kesempatan untuk mencobanya." lanjutnya, senyumnya berubah menjadi seringai buas.
Mata Dawn langsung melebar.
Nerakanya akan dimulai lagi.
L mengangkat sebelah tangannya, memijat-mijat pelipisnya. Kedua alisnya berkedut, keringat dingin perlahan membasahi dahinya. Dia mengernyit, merasakan sakit yang teramat sangat seperti sesuatu menghantam keras kepalanya. Dagunya tegang, giginya gemeretak sedikit karena menahan sakit, berusaha untuk tidak tanpa sengaja menggit lidahnya.
Light melirik khawatir ke arah detektif yang terborgol dengannya itu. Dia menepuk pelan bahu L, membuat wanita itu tersentak menoleh.
"Kau tidak apa-apa, Ryuuzaki?" tanyanya, merasa kaget juga dengan sentakan itu.
Nafas L terdengar berat. "Saya tidak apa-apa, Yagami-kun." gumamnya pelan dan tenang.
Walau begitu dalam hati Light merasa tidak percaya, tatapannya terpaku sesaat ke arah tangan L yang sedikit gemetar. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkannya niat itu, memilih untuk kembali melihat ke arah monitor sementara dia tetap berdiri di samping L.
Matsuda melirik ke arah dua orang jenius di dekatnya. Dia bisa merasakan ketegangan di antara mereka berdua, walau tidak seintens sebelumnya. Dia lalu menoleh ketika dia mendengar suara pintu ruang penyelidikan terbuka, tersenyum melihat Soichiro masuk. "Komandan..." Dia mengerjap saat mengetahui ada orang lain yang mengikuti komandannya. "Oh, ada Mogi-san juga. Selamat siang!" sapanya, ceria. "Ada berita bagus. Berkat penyelidikan Light-kun dan saya, kecurigaan Grup Yotsuba mengadakan kontak dengan Kira semakin menebal, lho."
Soichiro tersentak kaget. "Benarkah?" tanyanya, kedua matanya melebar.
"I... iya." jawab Matsuda, sedikit gugup.
Sang komandan menepuk bahu Matsuda. "Mungkin memang mereka. Bagus..."
"Hah?" tanya Matsuda, bingung.
"Baru saja kudengar dari kepala kepolisian, Kira telah menyumbangkan uang kepada politikus.
Mata Aizawa melebar. "Kira menyuap...? Dengan memanfaatkan keuangan Yotsuba?"
"Itu informasi besar!" sela Matsuda, bersemangat. "Itu pasti saling berkaitan... pantas komandan bersemangat sekali."
"Jangan-jangan, itu berarti permintaan kita untuk merekrut sukarelawan polisi dari seluruh Jepang untuk kasus Kira ini disetujui?" tanya Aizawa, berharap.
"Justru sebaliknya." tukas Soichiro. "Bukannya menambah penyelidik, polisi malah bertekuk lutut kepada Kira."
Aizawa dan Matsuda terkesiap kaget. "APA?"
Light dan L terdiam mendengar pembicaraan itu.
Soichiro menoleh ke arah Mogi. "Aku sudah bicara kepada Mogi. Dia memutuskan tetap berada di sini." Dia kembali menatap Aizawa dan Matsuda. "Aizawa, Matsuda, kalau kalian masih ingin mengejar Kira bersamaku dan Mogi ayo sekarang kita berangkat ke kantor polisi untuk mengajukan surat pengunduran diri."
Ajakan Soichiro membuat kedua anak buahnya tersentak.
Alis Soichiro menaut serius. "Kalau masih menjadi polisi, kita tidak bisa terus mengejar Kira."
"Apa... maksud anda...?" tanya Aizawa, tidak tenang.
"Be-benar. Bukankah kita bisa mengejarnya karena kita polisi?" timpal Matsuda.
Kacamata Soichiro berkilat karena cahaya monitor. "Penjelasan yang mudah, tadi aku diperingatkan. 'Jika tetap meneruskan penyelidikan bersama L, akan dipecat'. Meskipun ada ancaman dari Kira, tapi itu adalah keputusan dari para atasan."
"Ka... karena itu, komandan benar-benar akan mengundurkan diri?" tanya Matsuda, berkeringat dingin.
"Ya. Dalam beberapa jam, aku sudah bukan komandan kalian lagi." soichiro membenahi kacamatanya. "Kalian punya kehidupan masing-masing. Pikirkanlah baik-baik sebelum memutuskannya. Yang dipertaruhkan sekarang bukan hanya nyawa kita sendiri."
"Benar. Khususnya bagi yang punya anak dan istri." tambah Matsuda polos, tidak menyadari perubahan mimik wajah Aizawa di belakangnya.
Kesunyian menyeruak, kebimbangan terasa di dalam ruangan. Matsuda dan Aizawa merenung untuk mencari keputusan, terutama Aizawa yang sepertinya paling tidak tenang.
Suara dari L mengejutkan mereka semua. "Menurut saya anda semua sebaiknya tetap menjadi polisi." sarannya, memunggungi para penyelidik. "Dari awal, saya sudah sendirian... karena takut dibunuh oleh Kira, sebagian besar polisi membalikkan punggungnya dan mengatakan tidak bisa membantu. Saya sangat berterima kasih kepada anda semua yang sudah membantu saya sampai di sini." Soichiro dan lainnya terdiam menatap punggung detektif itu. "Saya akan tetap melanjutkan penyelidikan, meskipun hanya sendirian. Lalu... suatu saat nanti... saya pasti akan mengunjungi anda semua di kantor polisi dengan membawa oleh-oleh kepala Kira."
Light menatap L dengan mata yang lebar. "Jangan mengatakan itu, Ryuuzaki." Dia mengangkat tangannya yang terborgol. "Selama masih ada aku, kau tidak akan sendirian. Lagipula masih ada perjanjian ini."
L menoleh ke arah lelaki di sampingnya. "Benar, kau harus menemani saya sampai Kira tertangkap. Tapi, sebaiknya yang lain kembali ke kantor polisi."
Soichiro maju selangkah, terpaku atas saran L. "Ryuuzaki, kau sendiri yang bilang kita butuh bantuan polisi untuk menyelidiki kasus ini."
"Benar, tapi itu hanya bisa dilakukan jika polisi tidak memutuskan hubungan dengan saya, menginginkan Kira ditangkap, dan tidak memenuhi permintaannya... seperti saat kejadian Sakura TV saat itu... bantuan dua atau tiga warga sipil tidak bisa disebut bantuan polisi." Dia mengambil buah ceri dari piringnya, dan memakannya. "Dan polisi sudah memutuskan untuk tidak menangkap Kira... jadi sudah cukup."
"Me-memang kami tidak bisa membantu apa-apa jika sudah tidak menjadi polisi lagi... tapi..." Soichiro berusaha menjelaskan. "Tapi , bagaimana dengan perasaan kami? Kami telah bersungguh-sungguh mempertaruhkan nyawa kami selama ini. Seharusnya kami punya hak untuk memutuskan apakah akan berhenti dari kepolisian untuk melanjutkan penyelidikan di sini, atau kembali ke kantor polisi dan berhenti menyelidiki kasus Kira."
L memandangi tangkai buah ceri dengan penuh ketertarikan, mengesampingkan kepalanya yang berdenyut-denyut. "...benar, kalau begitu silahkan anda yang memutuskan."
"Ta... tapi, komandan..." sela Aizawa. "Jujur saja, seandainya berhenti dari kepolisian, kita tidak punya pekerjaan lagi... kalaupun Kira bisa tertangkap, lantas bagaimana kehidupan kita nanti?" tanyanya, merasa ragu. "Seperti yang Matsuda katakan, saya dan komandan punya anak dan istri... saya tidak bisa mengorbankan mereka..."
"Nanti, ya...?" gumam Soichiro. "Aku belum memikirkannya... setelah berhasil menangkap Kira..." Dia lalu tersenyum lebar seakan mendapat tantangan menarik. "...mungkin aku akan mencari pekerjaan baru."
Ketiga penyelidik lainnya terdiam, merasa takjub dengan kepositifan komandan mereka.
"Sudah saya putuskan! Saya akan berhenti jadi polisi dan menangkap Kira bersama komandan dan yang lain!" seru Matsuda, penuh semangat.
Mata Aizawa terbelalak.
"Saya sudah susah payah membantu penyelidikan dan berhasil mencurigai Yotsuba, kan? Lagipula, sekarang saya menjadi manajer Misa-Misa, jadi tidak bisa dibilang pengangguran... haha... apalagi saya bisa masuk kepolisian karena koneksi. Sekarang itu sudah berakhir. Yah, meskipun ini akan membuat orangtua saya kecewa." lanjut Matsuda. "Lagipula, kalau kembali ke kantor polisi tanpa bisa menangkap Kira, rasanya jadi seperti pecundang..."
"Matsuda, hati-hati dengan ucapanmu!" bentak Soichiro.
Matsuda mengangkat alisnya bingung. Dia lalu berkeringat dingin ketika melihat Aizawa yang bimbang, mengerti kenapa komandannya membentaknya. "Ah... Aizawa-san..."
Aizawa menoleh ke arah L. "Ryuuzaki, kalau saya kembali ke kantor polisi, apa masih bisa membantumu di waktu senggang?" tanyanya.
"Tidak bisa." jawab L langsung. "Kalau sudah kembali ke kantor polisi, tolong jangan datang lagi ke sini. Karena saat ini, sebaiknya saya menganggap polisi adalah musuh."
"Tapi... baik di sini atau di kantor polisi, saya tidak akan membocorkan rahasia." Aizawa masih bersikeras. "Kalau kembali ke kantor polisi, pasti saya akan dianggap mata-mata L oleh orang-orang yang dulu pernah menjadi anggota penyelidik kasus Kira." Dia lalu mengusulkan sesuatu. "Bagaimana kalau begini, anggap saja kau mengirim orangmu untuk memata-matai gerakan polisi..."
L mengangkat cangkirnya. "Kalau sudah kembali ke kantor polisi, anda bebas untuk menangkap Kira sendirian atau patuh pada kebijakan kepolisian. Kalau ada hal yang ingin disampaikan, anda boleh menghubungi Yagami-san lewat telepon. Itu hak , informasi dari sini tidak akan kami berikan."
Aizawa langsung bungkam mendengarnya. "Ya... kau memang benar... informasi dari sini memang tidak boleh keluar... maaf, saya mengatakan hal yang tidak-tidak..." ucapnya, merasa kalah.
Menangkap Kira dengan mempertaruhkan nyawa sebagai polisi memang tidak salah. Tapi kalau mengejar Kira sampai harus berhenti dari kepolisian dan membuat keluarga jadi sulit, saya tidak bisa menganggapnya benar." L sama sekali tidak bergeming. "Mati sebagai polisi adalah suatu kehormatan, tapi mati sebagai pengangguran adalah sia-sia."
Soichiro memutuskan ini saat yang tepat untuk menyela. "Ryuuzaki benar, Aizawa. Tidak ada yang akan menyalahkanmu jika kau berhenti sekarang."
"Benar, kami tidak akan menganggapmu pengkhianat." tambah Matsuda.
Aizawa mengepalkan kedua tangannya. "Ta-tapi, komandan juga punya keluarga. Kenapa harus berhenti menjadi polisi...?"
Wajah Soichiro mengeras. "Aizawa, posisiku berbeda denganmu. Anakku dicurigai sebagai Kira. Aku dan anakku disekap juga gara-gara Kira. Harusnya kau juga paham bahwa aku tidak bisa mundur lagi..." ujarnya, serius. "Ini adalah egoku..."
"Terlebih lagi saya masih mencurigai Light-kun sebagai Kira, kan?" kata L, menambahi.
"Begitulah." respon Soichiro. "Lagipula anak-anakku sudah besar, sedangkan kau masih punya tanggung jawab untuk mengasuh anakmu..."
Aizawa terdiam sesaat. "Curang..." Dia memejamkan matanya frustasi. "Curang sekali... saya juga masih ingin berada di sini... saya juga sudah siap mati kapan saja... dan lagi, jika berhenti sekarang saya tidak sanggup menatap wajah Ukita..." Tubuhnya kini gemetar. "Sial! kenapa Sekarang polisi tidak boleh menangkap Kira?"
Semuanya terdiam, merasa simpati kepada Aizawa.
"L..." panggil Watari melalui speaker.
L langsung mendekatkan mulutnya ke mic. "Apa, Watari?"
"Bukankah kau dulu pernah berjanji kepadaku, jika sesuatu terjadi kepada para penyelidik kasus ini, misalnya dipecat dari kepolisian, kau akan menanggung perekonomian mereka supaya tidak menyulitkan mereka dan keluarga mereka? Kenapa kau tidak mengatakannya?"
Para penyelidik langsung tersentak mendengarnya.
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak, Watari." ucap L, kalem.
"Ah... baik. Maaf, aku hanya tidak tahan mengutarakannya."
Matsuda menyela, kedua matanya lebar penuh harap. "Ja-jadi, begitu, ya... kau mau menanggung hidup kami, ya...?" Dia lalu menoleh ke arah Aizawa. "Itu bagus sekali kan, Aizawa-san? Tanpa harus tergantung pada status sebagai polisi, kita masih bisa terus melakukan penyelidikan!"
Namun, Aizawa menghiraukan ucapan Matsuda. "...Ryuuzaki..."
"Ya?"
"Kau tadi menguji apakah saya akan berhenti dari kepolisian atau tidak, kan?" tanya Aizawa, aura gelap mengelilinginya.
"Ja-jangan salah sangka, Aizawa. Ryuuzaki cuma tidak suka mengatakan hal itu sendiri." Soichiro menengahi, berusaha menenangkan.
"Be-benar... seharusnya kau sudah tahu kalau Ryuuzaki kadang-kadang tidak suka terus terang, kan?" Matsuda menambahi.
"Tidak." sela L, membuat semuanya menoleh ke arahnya. "Saya memang menguji anda. Saya ingin tahu apa keputusan anda."
Ucapan Ryuuzaki membuat semuanya tidak bisa berkata apa-apa.
Aizawa menatap keras ke arah L. "Baiklah. Saya akan berhenti dari sini dan kembali ke kepolisian."
"Aizawa-san!" sahut Matsuda, terkejut.
"Tidak seperti kalian, saya tidak bisa langsung memutuskan cenderung ingin kembali ke kantor polisi..."
"Jangan keras kepala seperti itu..."
"Tidak, saya berhenti! Lagipula saya baru sadar sekarang kalau saya tidak menyukai Ryuuzaki dan semua hal yang dilakukannya!" seru Aizawa, penuh kemarahan.
"Saya sudah terbiasa dengan hal itu, Aizawa-san." timpal L, tidak menoleh sama sekali. "Tapi, saya suka dengan orang seperti Aizawa-san."
Ucapan L membuat Aizawa merasa kaget dan tersanjung. Tetapi Aizawa masih tetap pada pendiriannya, karena merasa dipermainkan. Dia berbalik marah. "U-ucapan terus terang seperti itulah yang sangat saya benci! Pokoknya saya berhenti!"
"Terima kasih atas kerja keras anda selama ini." tambah L, tanpa ekspresi dan perasaan.
Semuanya terdiam menatap kepergian Aizawa. Light menoleh ke arah L, dalam hati merasa tidak suka dengan perbuatan L. "Tidakkah kau sangat keterlaluan, Ryuuzaki?" ucapnya, penuh simpati terhadap Aizawa.
L tidak mengucapkan apapun.
Tidak suka dihiraukan, Light langsung berjalan mendekati L. Tanpa pikir panjang, mendorong bahu L. "Hei, kau dengar, tidak?"
Tapi tiba-tiba, tubuh L langsung jatuh tersungkur. Mata Light dan para penyelidik lainnya melebar.
"RYUUZAKI!"
TBC...
A/N :
Author : (tepar di ranjang)
All of character : (terdiam menatap heran ke arah author)
Iblis Kira : (~_o)σ Kenapa dia?
Hei : Oh... itu karena author sibuk dengan tugas dan segala macam akhir-akhir ini, dan mengesampingkan itu dia memaksakan diri melanjutkan fic ini.
All of DN character : (melompat kaget) Siapa lu?
Hei : (^_^)\ Oh, saya Li Shengsun. Karakter dari anime "Darker than Black".
Mello : (~_o) Hm...? Terus kenapa di situ ditulis "Hei"? (nunjuk script)
Hei : (^_*) Hal itu jangan dipedulikan.
Malaikat Light : (sigh) Kau tidak berhak menanyakan itu, Mello. Kau juga memakai nama palsu.
Mello : Apa boleh buat! Ada Kira di sini!
Iblis Kira : Woi, apa hubungannya sama gw?
All : (melirik aneh ke arah Kira) (¬_¬)
Hei : (bows) (^_^) Kami akan menjawab review dari anda, berhubung sang author tengah tidak sadarkan diri.
###
To amillo :
Malaikat Light : Pereview pertama...
Iblis Kira : Yeah... yang pertama...
Mello : Tumben yang pertama...
Matt : Pertama banget...
Hei : (^_^) Makasih sudah mereview. Dan author memperingatkan (BK-201 mode on) "Jangan pernah menanyakan apapun yang berhubungan dengan spoiler fic ini, got it!" (back to Li mode) Begitulah.
All DN characters : (OoO) (O_O) (O_o) (o.o) 'DIA BERKEPRIBADIAN GANDA!'
Hei : (noleh ke DN characters) (^_^) Ada apa?
All DN characters : (gulp) Ti-tidak... tidak ada apa-apa... (O.O) 'Sereeeeeeeeeeem...!' (TAT)
###
To airi airi :
Hei : (^_^) Terima kasih sudah mereview dan tergila-gila dengan fic ini.
###
To Yuuka-Keehl :
Hei : (^_^) Terima kasih.
Mello : (furious. Sedia tokalev dan beretta) (=⌂=)9 =3 SIAPA YANG DIRAPE SAMA LU, HEH?
Malaikat Light : ('^_^) (nahan Mello) Sabar, Mel... (noleh ke Matt) Matt, tenangin cowok lu, gih!
Matt : (=A=) Mel-chan... ternyata lu bisa dirape juga, ya.
Malaikat Light : ('O.O)!
Mello : (death glare at Matt)
Iblis Kira : ('=_=) Tauk ah, gelap.
###
To Anney Quartney13 :
Iblis Kira : (ngelirik ke Anney yang meluk) Lu nih kenapa, sih? Muka Author emang serem dari sananya. Lagipula percuma lu minta maaf , dia lagi tidur, bego.
Hei : (^_^) Terima kasih atas review, komen, dan pujiannya. Saya yakin author akan senang mendengarnya.
Mello : (o.o) Eh, tuh kayaknya author emang seneng. Liat aja, dia tidur sambil senyum-senyum gitu.
Malaikat Light : (ngeliat wajah author yg lagi tidur) ('-_-)a Mel... itu bukan senyum senang... itu, mah, senyum psiko.
Iblis Kira : (¬_¬) Light... logat sunda lu kambuh, tuh.
###
To Cakeberry :
Mello : (o.o)! Eh, noh yang ngebuat Yaoi Note.
Matt : Eh, emang bener.
Iblis Kira : Wah, akhirnya ketemu juga.
Malaikat : (dark aura + psiko mode on) Jadi lu yang ngebuat fic itu... (full of rage) (=┌┐=) GW NGGAK SESUBMISSIVE ITU, BRENGSEK! KOK, LU NGEBUAT GW KAYAK BENCONG GITU!
All : (¬_¬) Lu emang bencong, kale.
Malaikat Light : (super duper death darker psiko glare)
Hei : (nggak pengaruh) Makasih udah mau review. (^_^)
###
To 2 orang satu review :
Hei : Thank you very much.
###
To Orenji Lusin :
Hei : (^_^) Makasih.
Malaikat Light : (ngejar2 Kira dkk pake sabit shinigami)
DN characters : (O_O)/« (OoO)/« (O.O)/« HEEEEEEEEEELLLLLLPPPP! ADA MALAIKAT GILAAAAAAA!
Author : (bangun + bad mood + dark glare) Berisik.
###
To Death Angel :
Author : (darker death glare at DA) Apa? Lu ada masalah sama gw, hah? Ngereview cuma buat hal yang nggak jelas gitu.
Hei : ('^_^) Ah... maksudnya terima kasih, Death Angel-san. (noleh ke author) Halo, Chastity-san.
Author (Chastity) : Hn.
###
To Cielo Cygni Arietids Lulin :
Author (Chastity) : (~_o) Hn.
Hei : (^_^) Maksudnya 'sama-sama'.
Malaikat Light : (bentak Cielo, masih ngejar2 trio berandal) SIAPA YANG BAKAL JADI AYAH, BRENGSEK!
###
To Li Chylee :
Author (Chastity) : Bego banget sih, lu.
Hei : (^_^) Maksud author, Naomi Misora tidak mungkin akan muncul berhubung dia memang sudah mati oleh Kira.
Malaikat Light : (ngebalas death glare-nya Chylee) Apa? Gw lagi badmood, jangan bikin gw makin kesel.
DN characters : (diiket, dibekep, digantung kebalik di pohon kunti oleh Light) (T=T)
Mbak Kunti : (nongol) Hihihihihi... Ada tiga cowok cakep mampir di rumah saya... (nyengir angker)
DN characters (minus Light) : (O=O) (O=o) (TT=TT)
###
To icha2madhen :
Author (Chastity) : Bawel.
Hei : (^_^) Maksudnya, permintaan anda akan dipertimbangkan.
Malaikat Light : (sweatdrop) Kok, kau bisa mengerti ucapan Chastity?
Hei : (^_^) Karena kami sama.
###
To coolwinter :
Author (Chastity) : Hm.
Malaikat Light : Nah lo, kalau yang ini maksudnya apa?
Hei : (^_^) Maksudnya, akan diusahakan update walau tidak cepat.
###
To Ka Hime Shiseiten :
Author (Chastity) : Sama-sama.
Malaikat Light : (O.O) Wah! Tumben dia bilang hal yang bener!
Hei : (sweatdrop)
###
To alairazura :
Author (Chastity) : (vein popped) Berisik.
Hei : Maksudnya, terima kasih sudah mereview panjang lebar. (^_^)
Malaikat Light : ^^ Beyond Birthday itu karakter dari Death Note Novel. Digambarkan bahwa BB punya wajah dan penampilan yang sangat mirip dengan L, bahkan cara berjalannya juga mirip, hanya bedanya dia punya mata berwarna merah (mata Shinigami), berkepribadian psiko, dan pakaian atasnya warna hitam.
Author (Chastity) : (glare at alaizura)
Hei : (^_^) Maksudnya, percuma anda mengacungkan gada besi ke arah author karena author jauh lebih kreatif dalam membunuh dibandingkan anda dan dia bisa membunuh anda kapan saja baik itu melalui sesuatu bersifat fisik (pisau, chainsaw, golok, racun, dsb) dan nonfisik (santet, voodoo doll, kutukan, dhgsb (dan-hal-gaib-sebagainya).
Malaikat Light : (sweatdrop)
###
To Yuki Haru :
Author (Chastity) : Hn.
Hei : (^_^) Maksudnya, L-san memang akan memakai rok – tepatnya gaun – di pesta nanti.
Malaikat Light : (langsung noleh) (O_O) WHUUUUUAAAAAATTTT? RYUUZAKI BAKAL PAKE GAUN!
Iblis Kira : (langsung bisa ngelepasin diri) (OoO) WHUUUUUAAAAAATTT? SUMPEH?
###
To Noya Namishiro :
Hei : (ngeliat review, noleh ke author) (~_o) Memangnya kalau perempuan mual-mual dan pusing nggak jelas itu pertanda hamil, ya? Kok, dari tadi ditanyai apa L-san hamil.
Author (Chastity) : Hm.
Hei : Masa kamu nggak tahu juga, kamu kan perempuan.
Author (Chastity) : Hn.
Hei : Jangan bilang begitu, dong. Kasihan para pembacanya.
Author (Chastity) : (shrugged)
Hei : (sigh) Kamu ini, sekali-kali jangan judes gitu, dong.
Author (Chastity) : (glare)
Hei : Iya, iya. Gw nggak bakal nanya apapun lagi, dah.
Malaikat Light : (sweatdrop) Nyambung...
Iblis Kira : (~_o) Apa, sih, yang mereka omongin?
Malaikat Light : Tauk.
###
Hei : (^_^)\ Author bilang, terima kasih sudah mau membaca dan mereview fic ini, walaupun isinya mungkin mengecewakan anda.
Iblis Kira : (~_o) Gimana lu tahu kalo itu yang disampaikan author.
Hei : (^_^) Karena, lihat. (nunjuk author yang lagi bantu mbak Kunti telanjangin + bondage-in Matt dan Mello)
Light&Kira : (sweatdrop) Mananya yang cocok sama kata-kata itu...?
Hei : (bows) Please review if don't mind. But you must review this fic, or... (Black Reaper mode on + electricity)
Iblis Kira : ('-_-) Hei, hei... ngancem, nih.
...
...
...
With white lily, DN, and contract on top,
#
Chastity Natsume.
