Kira memejamkan matanya. Ia biarkan embusan angin membelai lembut wajah dan rambutnya. Suara gemeresik dari dedaunan yang memayunginya seolah melantunkan lullaby yang memabukkan. Pemuda berambut cokelat itu membiarkan jiwa dan pikirannya terbawa, memberikan ketenangan yang sedang ia butuhkan.

Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil. Pemuda itu membuka matanya perlahan, menampilkan bola mata jernih dengan manik amethys yang indah. Ia tahu milik siapa suara itu, tapi haruskah ia turun? Ia benar-benar sedang ingin sendiri.

Namanya terdengar lagi dengan lebih jelas.

Kira menghela napas. Ia mengambil posisi duduk tegak di atas dahan pohon tempatnya bersandar dan baru akan berpegangan untuk menahan keseimbangan saat kakinya tergelincir dan membuat tubuhnya miring.

Seseorang meneriakkan namanya ketika gravitasi menariknya jatuh ... jatuh ... jatuh ... dan ...

Ia bahkan tidak menjerit.

.


Infinite Justice

Gundam Seed/Destiny Sunrise & BANDAI

Chapter 7


.

"Kira-nii masih di luar?" Cagalli bertanya dengan raut cemas yang terlihat jelas dari matanya.

Athrun mengangguk. "Dia butuh waktu sendiri meski kita tetap harus mengawasinya supaya kejadian tiga hari lalu tidak terulang lagi," ia meringis, "dia benar-benar terpukul."

Cagalli mengangguk paham. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan berkata, "Akan kuambilkan mantel. Di luar sudah mulai dingin."

"Kurasa tidak perlu, Cagalli."

Cagalli dan Athrun serentak menoleh ke arah Lacus yang diam sejak tadi. Gadis berusia dua belas tahun dengan rambut merah muda itu menolehkan kepalanya ke arah jendela. Matanya terus tertuju ke satu arah yang juga diikuti oleh kedua temannya. Seorang anak laki-laki baru saja menjatuhkan mantel berwarna hitam di atas kepala seorang pemuda yang menjadi objek kekhawatiran mereka sedari tadi. Pemuda yang sedang duduk meringkuk di tepi sungai sambil memunggungi mereka itu menolehkan kepalanya.


.

"Kira-nii."

Remaja berambut cokelat itu menoleh ke asal suara. Belum sempat ia melihat sosoknya, sesuatu yang cukup berat mendarat di atas kepalanya. Anak laki-laki yang baru datang itu langsung mengambil tempat di sampingnya tanpa berkata-kata. "Trims." Kira tersenyum simpul dan menurunkan mantel hitam itu, memakainya dengan patuh meski harus dibantu oleh si anak saat menutupi bahu kanannya. Ketika kehangatan mulai merengkuhnya, ia baru sadar betapa membeku tubuhnya sejak tadi. Ia menghela napas lega. "Kau tidak bertambah tinggi, ya."

"Tidak sopan."

Senyum Kira semakin lebar mendengar tanggapan cepat itu. Ia meraih kepala lawan bicaranya dengan tangan kiri sebelum mengacak-acaknya dengan asal. "Bercanda. Anak laki-laki memang agak lama pertumbuhannya. Saat kau SMA nanti tinggimu pasti bisa mengalahkan Cagalli dan Lacus. Aku jamin."

Pandangan anak itu menerawang dengan seulas senyum miris. "Aku tidak yakin."

"Kau harus lebih percaya diri, Oliver," tegur Kira.

Oliver tidak menjawab. Untuk beberapa lama kedua laki-laki yang bagaikan versi kecil dan dewasa dari satu individu itu hanya duduk di pinggir sungai kecil yang mengalir dengan suara yang menenangkan. Udara musim gugur yang cukup dingin menggelitik saraf mereka. Burung-burung yang sibuk dengan obrolannya hanya memerhatikan dari atas pohon besar berdaun kemerahan.

"Tangan Kira-nii bagaimana?" tanya Oliver hati-hati.

Kira menggerakkan tangannya yang diperban dan digantung dengan sling. "Tidak begitu sakit lagi. Salahku juga tidak hati-hati."

Oliver diam. Sebenarnya ia sudah mendengar ceritanya dari Athrun dan ia tahu kalau insiden itu tidak serta merta salahnya. Yah, tidak akan ada yang menganggap itu salahnya.

Lima hari yang lalu kabar bahwa ayah Kira, Ulen Hibiki, dipastikan tewas dalam kebakaran hebat di rumahnya sampai di telinga pemuda berusia dua puluh tahun itu. Ia, Athrun, dan ibunya—Via Hibiki—langsung mengambil penerbangan tercepat dan tak bisa berkata-kata saat melihat rumah penuh kenangan bagi mereka habis terbakar, hanya menyisakan abu dan puing-puing.

Siegel dengan tegas tidak mengizinkan Kira melihat jenazah ayahnya. Via, yang dipanggil untuk memastikan, tidak mengindahkan pertanyaan putranya dan hanya menangis kencang sambil bersimpuh setelah keluar dari kamar jenazah.

Kelanjutannya agak kabur bagi Kira. Semua orang terlihat sangat terpukul saat upacara pemakaman. Tidak ada hujan yang mampu menyembunyikan air mata mau pun tangis mereka. Siegel, ibunya, Cagalli, Lacus, Athrun bahkan Oliver berdiri mematung penuh duka sambil berusaha mengontrol air mata mereka—tidak, tidak dengan Oliver. Kira sempat melihat anak itu mengepalkan kedua tangannya, mengerutkan alisnya, seolah ia sedang mencoba—mencoba—untuk menangis tapi tidak bisa. Matanya tidak berkaca-kaca dan bibirnya tidak bergetar. Hanya ada wajah kebingungan setelahnya namun Kira tidak peduli.

Ia memalingkan wajahnya dan kembali menatap gunungan tanah cokelat gelap yang baru tercipta. Pikirannya kosong.

Siangnya, Kira tidak ikut acara makan siang bersama di kediaman Siegel dan memilih untuk menyendiri di halaman keluarga Clyne yang sangat luas. Tidak ada yang mencegahnya, mereka mengerti.

Ia menemukan sebuah pohon mapple yang rindang dan memanjat. Senyum tipis terkembang di bibir pucat pemuda itu saat berhasil duduk dan menemukan posisi nyaman. Ingatan masa kecilnya muncul ketika ia sering dimarahi oleh Ulen saat ketahuan memanjat pohon di usianya yang keenam. Ayahnya akan mengomelinya dengan berbagai hal seperti 'bahaya', 'jatuh', dan 'monyet kecil'—Kira mendengus—sebelum akhirnya ikut memanjat. Pria berambut keemasan itu akan melanjutkan omelannya di atas sebelum akhirnya diam dan mengalah, mengakui secara tidak langsung kalau duduk santai di pohon seperti ini tidak buruk juga. Mereka akan mengobrol ringan seputar gravitasi bumi, bagaimana terjadinya pergantian siang dan malam, dan berbagai hal ilmiah sederhana lainnya—yang terkadang malah jadi seru—sebelum akhirnya turun dengan beberapa daun dan semut yang menempel di badan mereka.

Semudah datangnya ingatan indah itu, kedukaan yang semakin dalam menggantikannya saat ia kembali pada kenyataan. Kira memejamkan matanya dan bersandar, membiarkan bahunya bergetar saat isakan yang tercekat tak lagi ia tahan. Kini ia sendirian. Ia bisa menangis sepuasnya dan ia melepaskannya, semuanya, membiarkan pikirannya kosong.

Ia pun terjatuh karenanya.

"Menyebalkan, ya," gumam Oliver tiba-tiba.

Kira mendengus dan menenggelamkan hidungnya di antara kedua lutut. "Beritahu aku soal itu," ujarnya sarkatis.

Oliver meluruskan kakinya dan mulai menggoyang-goyangkannya ke kanan dan kiri. "Sampai sekarang aku masih tidak percaya jii-san tiada. Aku merasa agak aneh."

"Yeah, aku juga merindukannya ..."

Sudah empat tahun ia dan Oliver berteman. Kira masih ingat pertama kalinya ia bertemu dengan anak yang sangat mirip dirinya waktu kecil itu. Ia juga ingat saat Oliver menarik ayahnya di kejutan hari ulang tahunnya karena ada masalah dengan mobil Ulen.

Awalnya ia merasa takut karena ia bisa menebak tanggapan yang akan diberikan Kira dengan tepat dalam setiap pembicaraan yang mereka lakukan, seolah ia bisa membaca pikirannya atau mereka memiliki pemikiran yang sama. Namun lama-kelamaan, Kira mampu menemukan perbedaan antara dirinya dan Oliver—selain fisik, tentu saja. Begitu banyak yang tidak diketahui anak itu dan membuat kesan sangat polos dan lugu, juga sangat mudah percaya dengan apa pun yang diceritakan Athrun—yang membuat anak berambut biru tua itu cukup sering mengerjainya. Anak itu juga lebih tenang dalam menghadapi masalah dan ... dewasa? Agak aneh rasanya mengatakan seorang anak yang jauh lebih muda lebih dewasa.

Anehnya, setiap Ulen datang berkunjung dan melihat Oliver, ia akan menyapanya dan mereka akan berbincang seolah mereka sangat dekat. Bukan sebagai teman dari anaknya namun lebih seperti ayah dan anak. Kira memang pernah merasa cemburu, tapi karena keluguan Oliver dan waktu yang mereka habiskan bersama semakin banyak jugalah akhirnya Kira tanpa sadar mulai menganggapnya sebagai adik sendiri. Ia tidak keberatan 'berbagi ayah'.

"Kurasa ... sampai seseorang hilang dari kehidupan kita, kita tidak akan menyadari seberapa berharganya dia, kan?"

Oliver tahu siapa yang dimaksud. Via Hibiki, ibu kandung Kira Hibiki sekaligus mantan istri masternya. Sejujurnya ia tidak menyangka Via akan datang dan sampai terlihat seduka itu di upacara pemakaman. Mungkin, ego masing-masing yang tidak terkendalilah yang menyebabkan kedua orang itu berpisah.

Sayang sekali ...

"Kau ingat pohon itu?" Kira menunjuk ke arah pohon tinggi yang rindang dengan dahan kokoh di seberang mereka.

"Ya," anak itu tersenyum, "Kira-nii mengajakku naik dan setelah sampai di atas memberiku saran untuk melompat ke sungai dari dahan yang menjulur—a la papan loncat di kolam renang."

Kira tertawa kecil. "Awalnya lucu waktu melihat wajahmu yang kaget dan tidak sadar kalau aku hanya bercanda. Lalu kau mencondongkan tubuhmu ke depan. Aku benar-benar kaget karena kupikir kau benar-benar akan melompat. Kau benar-benar polos. Sudah jelas sungai ini dangkal, kan?"

"Lalu Ulen-jiisan datang dan memarahi kita habis-habisan."

"Aku, lebih tepatnya."

"Ya, pengaruh buruk." Oliver menyeringai jahil.

Kira ikut tersenyum dan baru akan meninju bahu teman remajanya itu saat sebuah suara robotik mendekati mereka. Keduanya mendongak bersamaan saat sebuah robot berbentuk burung berwarna hijau terbang mengitari mereka satu kali sebelum mendarat di atas kepala Oliver. "Hai, Torii," sapa anak itu, sama sekali tidak keberatan kepalanya dijadikan tempat bertengger.

Melihat sosok robotik itu membuat kesedihan kembali tumbuh di dada Kira. Robot burung itu adalah hasil karya pertama Athrun setelah sebulan mendapat bimbingan penuh dari Ulen, menjadi anak asuhnya. Burung itu diberikan pada sang guru sebagai tanda terima kasih dan selalu mengikuti pria itu kemana pun. Setiap Kira pulang ke Bumi dan bertemu ayahnya, pria jenius itu selalu terlihat bersama dengan hadiah kebanggaannya.

Kira harus mengakui ia sedikit terkejut saat menyadari kalau Torii tidak bersama sang majikan saat 'insiden itu' terjadi.

Burung itu melompat beberapa kali sebelum terbang dan mendarat di jari telunjuk Kira yang terulur. "Hai, makhluk kecil." Kira berbisik, mendekatkan robot itu ke depan wajahnya. "Dari mana saja kau?"

"Dia biasanya pergi ke ruang kerja Ulen-jiisan kalau ditinggal jiisan. Ada di lantai bawah di sisi paling belakang rumah. Kira-nii tahu, kan?"

"Ah, ruangan yang selalu tertutup di ujung itu?" pemuda itu mengangkat jarinya dan kembali memerhatikan robot cantik itu, "karena itukah kau tidak 'di sana'?" bisiknya.

"Ngomong-ngomong," Oliver merogoh kantung celananya, "ini, Kira-nii."

Torii melompat pergi saat Kira menjulurkan tangannya ke arah anak berambut cokelat itu. Mata amethys-nya hanya menatap bingung sebuah kunci tanpa gantungan di telapak tangannya. "Apa ini?"

"Siegel-jii pesan untuk diberikan ke Kira-nii. Itu ... kunci ruang kerja Ulen-jii. Siegel-jii memberikan ruang kerja sendiri karena Ulen-jii sering ke sini. Mungkin Kira-nii mau—niisan tahulah," jelasnya hati-hati.

Kira bergidik. Matanya membulat dan untuk sesaat ia hampir menjatuhkan kunci itu begitu saja. Emosinya kembali bergejolak antara ragu, sedih, dan takut. Entah kenapa ia masih merasa belum siap untuk menghadapi berbagai hal yang akan mengingatkannya pada sang Ayah. Ia takut hatinya takkan sanggup.

Kira menatap Oliver sekali lagi. Anak berusia dua belas itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis, memberinya dukungan. Akhirnya, sang remaja bermantel hitam menggenggam ukiran logam itu erat-erat di kepalan tangannya yang sedikit membiru karena udara dingin.

Oliver mengangguk puas sebelum beranjak dan menepuk-nepuk celananya beberapa kali. "Aku masuk duluan, ya. Kira-nii juga cepatlah masuk. Nanti kuenya keburu habis sama Lacus, Cagalli, dan Athrun-nii."

Kira terkekeh, paham benar kecintaan ketiga orang itu terhadap camilan. "Aku akan menyusul," balasnya mantap.

Seringai Oliver terkembang sekali lagi sebelum ia berlari ke dalam rumah. Kira merapatkan mantelnya saat semilir angin musim gugur kembali menusuk tulang. Ia membuka kepalan tangan kanannya dan menatap kunci itu lama-lama.

"Torii!" Sang burung robotik mendarat di bahu sang pemuda. Robot pintar itu menolehkan kepalanya ke samping dengan penasaran. "Torii!"

Kira memejamkan matanya dan mengambil napas panjang.

.


Ruangan bercat krim itu tidak jauh berbeda dari dugaannya. Luasnya hanya tiga kali empat meter persegi dengan satu lemari buku tinggi dan lebar di salah satu sisi. Sebuah meja panjang tidak jauh dari sana merapat di dinding dengan berbagai mur, obeng, penggaris, jangka, dan berbagai perkakas lain berserakan bersama beberapa catatan penuh tulisan tangan. Kira bisa mencium aroma kopi yang tertinggal. Ia tersenyum. Ayahnya memang tidak pernah lepas dari minuman berkafein itu saat mengerjakan suatu projek.

Kira menutup pintu dan duduk di kursi beroda tiga di depan komputer. Ia berputar dan menyandarkan punggungnya. Mata amethys-nya memerhatikan keseluruhan ruangan gelap itu sekali lagi. Kain hordeng berwarna kuning tua masih tertutup rapat, membuat ruangan itu seolah sudah lama sekali tidak digunakan. Beberapa cetak biru dan sketsa suatu mesin ditempel di dinding dengan beberapa catatan baru yang ditempel atau ditulis begitu saja di kertas aslinya dengan spidol. Sebuah jam dinding polos berwarna putih tergantung di antara meja kecil dengan mesin pembuat kopi di atasnya dan kulkas—yang ia yakin lebih sering berisi zat kimia atau apa dari pada sesuatu yang bisa dimakanan.

Kira menautkan alisnya melihat angka yang ditunjukkan jarum-jarum tersebut. Pukul 8.37. Ia melirik jam tangan miliknya dan melihat jam itu lagi. Pukul 3.10. Kira memerhatikan jam itu lebih lama. Jam dinding itu masih bergerak dengan teratur.

Ia mengendikkan bahu dan mulai menghidupkan komputer. Yah, mungkin ayahnya hanya lupa mengatur jam tersebut karena terlalu sibuk.

Pemuda berkulit kecokelatan itu mengingat-ingat kombinasi huruf dan angka yang pernah diberitahukan ayahnya saat memasukkan password. Voila! Mata Kira melembut saat melihat foto yang dipampang di layar persegi empat tersebut. Deskop itu berisi foto dirinya yang diapit kedua orang tuanya di depan rumah baru mereka di musim dingin. Mereka bertiga merentangkan kedua tangan dengan tawa lebar di bibir. Kira tersenyum. Ia ingat saat itu Siegel-jii yang mengambil foto dan menyuruh mereka 'sedikit' bergaya karena 'hey, ayolah! Ini rumah baru lho!'. Ulen terlihat berpikir sejenak sebelum merentangkan tangannya dan menunjukkan gigi-giginya dengan canggung seperti pembawa acara kuis yang menunjukkan grand prize di televisi. Kira, Siegel, dan Via sama-sama terkejut dan langsung tertawa sebelum ikut memasang pose yang sama dan Siegel tidak perlu dikomando untuk mengabadikannya.

Kira menghela napas. Mereka terlihat sangat bahagia.

Pemuda itu membuka folder berjudul 'Personal' dan melihat beberapa folder lain seperti 'Foto' dan 'Video'. Kira membuka folder 'Foto' dan kembali melihat-lihat. Foto-foto di 'masa bahagia' mereka dulu, foto saat mereka pertama kali mengunjungi kelahiran Lacus di rumah sakit, ulang tahun pertama Lacus, bahkan foto Kira yang sedang menangis di acara kelulusan taman kanak-kanak juga ada.

Kira menemukan foto lainnya lagi. Kali ini Athrun yang masih berusia dua belas tahun sedang menggapai ke arah kamera dengan ekspresi marah bercampur malu, kantung belanja beraneka warna masih bergelimpangan di kakinya. Tidak jauh di belakang anak berambut biru itu, Ulen mengeluarkan seringai kecil—jelas terhibur dengan apa pun yang menyebabkan Athrun bereaksi begitu—sambil bersandar di samping lemari berkaca di ruang tamu rumahnya yang berisi berbagai piala dan piagam penghargaan.

Pasti hari-hari pertama Athrun jadi anak asuh, Ayah, batin Kira geli.

Beberapa gambar selanjutnya menunjukkan Siegel, Ulen, Cagalli, dan Lacus—oh, itu Oliver, kan?—yang sedang berpiknik atau menghabiskan waktu bersama. Meski tidak begitu banyak, anak berambut cokelat yang sangat mirip dirinya itu beberapa kali tertangkap di foto yang sama dengan keempat orang lainnya, bahkan ada juga hanya foto Oliver dan ayahnya dan Oliver bersama Lacus. Saat itulah Kira baru menyadari kalau Oliver pasti teman Lacus yang sangat dekat sampai beberapa kali mengikuti acara keluarga.

"Kau benar-benar tidak tambah tinggi, ya?" gumam Kira, merasa sedikit kasihan dengan teman mudanya itu. Yah, ia sendiri pernah menjadi anak laki-laki yang paling pendek di kelas, jadi ia tahu benar rasanya.

"Torii!" Pemilik suara nyaring itu mendarat di bahu Kira.

Dia menoleh dan mengeluarkan senyum tipis. "Bagaimana kalau kita menjelajah video?" tanyanya. Burung mekanik itu hanya membalas dengan satu-satunya kosakata yang ia punya dan terbang, mendarat di atas monitor sebelum menoleh ke bawah dengan penasaran. Kira menegakkan bahu dan menggerakkan tangan kirinya.

Tidak-tidak! Jangan direkam dulu, Sieg!

Kenapa? Kau harus lihat wajahmu! Lucu sekali!

Karena itulah kubilang jangan!

Oh, ayolah, Sayang. Kau tetap luar biasa!

Via!

Kira mengerjap beberapa kali melihat seorang pria dengan tuxedo dan seorang wanita yang dibalut gaun putih panjang di layar. Pasangan yang terlihat jelas baru menikah itu tertawa lepas dengan segelas jus jeruk di tangan masing-masing yang bersilangan di atas meja. Wajah sang pria terlihat jelas semakin memerah saat ia mendekatkan wajahnya, berusaha meneguk cairan oranye dari gelas di tangannya yang bersilangan dengan tangan sang wanita. Akhirnya, ia memalingkan muka dan segera berbalik diiringi tawa lepas dari sang istri dan seseorang yang merekam—kameranya sempat bergoyang dengan kuat dengan latar tawa seseorang bersuara berat.

Kira tersenyum. Video itu pasti diambil saat pesta pernikah kedua orang tuanya. Mereka masih terlihat sangat muda dan bebas, jauh dari tekanan pekerjaan dan beban menjadi orang dewasa. Ia menelusuri beberapa video lagi yang tak jarang membuat tawa keluar dari bibirnya.

Torii merentangkan sayapnya dan mendarat di bahu Kira. Pemuda itu menghela napas panjang dan meregangkan punggungnya. Robot kecil itu kembali melompat dan mendarat di atas meja, tepat berada di sebelah mouse. Kira menopang dagunya dengan tangan kirinya yang tidak diperban dan memandang teman kecilnya itu. "Kenangan yang hebat. Mereka terlihat begitu bahagia, kan, Torii? Aku masih tidak mengerti kenapa mereka berpisah."

Torii tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kepalanya dan menggerakkannya beberapa kali. Untuk sesaat, Kira tenggelam dalam pikirannya sendiri. Suara-suara dari video yang ia biarkan berputar.

Tiba-tiba pemuda itu mengerjap saat ia baru menyadari sesuatu yang janggal. Kira menurunkan tangannya dan mengulurkan jari telunjuknya ke arah Torii. Burung mekanik itu menurut dan Kira kembali memerhatikannya lekat-lekat. Mata Torii, di balik mata hitam itu ... ada yang aneh. Dia semakin memicingkan matanya—berharap dengan begitu penglihatannya semakin jelas—dan tertegun saat menyadari bahwa mata hitam itu bukan hanya kaca atau asesoris.

Itu kamera.

Kira langsung menoleh ke kanan dan kiri. Otaknya kembali berputar. Mungkinkah ... seandainya mata Torii selama ini adalah kamera ... mungkinkan rekaman terakhir sebelum insiden mengerikan yang menimpa ayahnya ada—jika diasumsikan Torii bersama ayahnya di saat-saat terakhir?

Ia mengedarkan pandangan sekali lagi dan mulai menjelajah laci ayahnya dengan cepat. Dengan gerakan lincah yang sudah terlatih, ia me-non-aktifkan hadiah buatan sahabatnya itu dan membongkarnya—meski agak sulit karena hanya bisa menggunakan satu tangan. Bingo! Kira menatap nanar memory card kecil di telapak tangannya sebelum menggenggamnya erat. Ia mengangkat kepalanya dan baru akan memasukkan memory card itu ke komputer saat gelombang keraguan tiba-tiba menyusupinya. Pada akhirnya, anak tunggal pasangan Hibiki itu menyelipkan Torii di kantung mantel dan mengeluarkan tablet lima inci serta headset sebagai gantinya.

Video yang tersimpan di sana ternyata dipecah menjadi beberapa file. Kira menduga ada suatu pengaturan tertentu yang membuat mode rekam otomatis dihentikan setiap beberapa menit untuk memudahkan menyimpan hasil rekaman tersebut. Tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat saat ia memilih salah satu file. Kira tidak mengerti kenapa ia merasa gugup.

Video pertama yang ia buka hanya berisi pertemuan atau rapat yang berlangsung di sebuah gedung tinggi. Satu menit kemudian, video itu selesai. Kira memilih file yang berjarak dua baris ke bawah. Video ini menunjukkan adegan dalam laboratorium di rumah saat Ulen baru menyeruput minumannya dan langsung meletakkannya lagi sambil bicara dengan cepat dan bersemangat.

Akan kutunjukkan desainnya padamu

Kamera Torii bergerak dan sekelebat rambut berwarna cokelat terlihat menghalangi kamera sebelum videonya selesai.

Tanpa ragu, Kira memilih video berikutnya. Kira tidak terkejut saat melihat sosok pemilik rambut cokelat itu ternyata Oliver. Yah, kalau melihat Athrun, Kira tidak heran ayahnya bisa terlihat seantusias itu membicarakan soal mesin dengan anak kecil. Torii sepertinya sedang bertengger di tempat yang agak tinggi karena sekarang wajah kedua orang itu tidak begitu jelas.

Lihat? Aku memikirkannya semalaman. Jika kau punya sensor suara seperti ini dalam telingamu, kau bahkan bisa mendeteksi bahaya dalam radius seribu enam ratus meter persegi!

Keren! Master benar-benar baru memikirkannya semalam? Sendirian?

Yap. Dan aku akan mamasangnya sekarang juga, Ki—

Torii terbang ke luar jendela.

Kira mengerjap dan merasa yakin kalau ia baru saja melewatkan sesuatu. Apa Oliver baru saja memanggil ayahnya dengan sebutan 'master'? Kenapa Oliver memanggil ayahnya seperti itu? Bukannya biasanya 'jiisan'?

Kira mengusap matanya dan berkedip lagi untuk beberapa kali. Ia mencari rekaman lain di mana ayahnya hanya berdua dengan Oliver namun hanya beberapa dan itu pun sangat singkat. Pemuda itu menutup rekaman yang menampilkan Ulen yang sedang berjalan seorang diri di tengah kota dengan lampu-lampu terang sebelum menyandarkan punggungnya di kursi.

"Oliver ...," rapal sang pemilik kristal amethys. Kira tidak mengerti kenapa ia merasa sangat tertarik dengan sosok anak laki-laki berusia dua belas tahun tersebut. Ia hanya merasa ada sesuatu tentang Oliver yang perlu ia ketahui.

Jarinya kembali memilih asal dan jendela video lain terbuka. Kali ini ia terkejut menemukan wajah ayahnya yang langsung menatap kamera dari jarak yang sangat dekat.

Aku tidak akan bisa memutar ulang waktu, kan?

Pria berambut keemasan itu menghela napas. Laboratorium pribadi itu masih terlihat berantakan dan terkesan suram karena lampu yang tidak dihidupkan. Ulen menyeka rambutnya ke belakang, menampilkan dengan jelas kelelahan yang terlukis di wajahnya. Ia tersenyum ke arah kamera dan sepertinya mengelus-elus puncak kepala Torii karena kameranya bergoyang beberapa kali.

Aku tidak tahu sejak kapan hal ini menjadi begitu rumit. Kau tahu, terkadang aku membiarkan jiwa penemuku—ehem—jiwa mekanikku mengambil alih ... sampai apa yang sebenarnya penting malah terabaikan.

Ulen diam lagi untuk beberapa saat dan hanya mengarahkan pandangan sedihnya ke atas meja. Suara gemeretuk teratur—yang meski tidak terlihat—dari jemari kokohnya yang mengetuk-ngetuk meja terdengar nyaring karena letak Torii yang sangat dekat. Lalu video itu mati.

Kira tidak memedulikan jantungnya yang berdebar kian kuat. Ia langsung membuka video berikutnya. Rekaman ini tepat dimulai setelah gambar terakhir di video sebelumnya. Ayahnya masih mengetuk-ngetuk meja dengan pandangan kosong, benar-benar tenggelam dalam pikirannya.

Pria itu berhenti.

Aku menyesal, tapi tidak juga—entahlah. Sebenarnya aku merasa bersalah pada Kira ... Ya ... Kira. Benar ... Aku benar-benar merasa bersalah pada Kira.

Mata amethys itu membelalak. Ia merasa perutnya baru saja ditonjok. Kenapa? Kenapa ayahnya merasa bersalah—terlihat sangat merasa bersalah? Ekspresi itu ... ia hanya pernah melihatnya dua kali, saat ia, ibunya, dan ayahnya berpisah untuk terakhir kalinya di bandara setelah keputusan hak asuh keluar, dan di pesta ulang tahunnya yang ke-16. Lalu ... caranya menyebutkan namanya itu ... Kira merasa aneh.

Semua ini kesalahanku sejak awal yang membiarkan keegoisanku begitu saja. Aku berandai bisa memutar waktu bukan karena dia ... bukan karena ada sesuatu yang salah pada—kau tahulah. Ini murni kesalahanku. Dan dia yang harus menanggungnya.

"Apa? Menanggung apa, Tousan?" desak Kira dengan suara berbisik seolah Ulen akan bisa menjawabnya saat itu juga.

Video itu selesai.

Video berikutnya menampilkan sosok Ulen yang tersenyum sedih dan menatap kamera sekali lagi.

Jaga Kira untukku, oke?

Mata amber-nya bergerak-gerak liar seolah butuh usaha yang sangat keras untuk menahan pikirannya tetap fokus dari sekian banyak hal yang sedang berputar di otaknya. Lalu bola mata itu kembali fokus ke satu titik. Kira menahan napas. Ia hampir yakin ayahnya sedang menatap matanya saat ini, seolah pemuda berambut cokelat itu bisa menangkap pesan tidak terucap dari sang ayah. Kamera itu bergerak lagi dan terangkat.

Kau teman terhebat, Torii, apa Athrun tahu itu? Ah, sudahlah. Dia bisa besar kepala jika mendengarnya. Jadi begitulah. Terima kasih karena selalu mendengarkanku, Torii—meski aku tidak tahu kau benar-benar mendengarkan atau hanya ... dengan kemampuan processor-mu itu. Maksudku, kau hanya robot kecil yang terbang dan melompat ke sana kema—ah, sudahlah. Sekarang, pergilah! Aku tahu kau sudah tidak sabar. Kau tidak perlu menemani orang tua membosankan ini lagi.

Video itu menampilkan bingkai jendela yang semakin mendekat sebelum akhirnya mati.

Kira langsung mencari lanjutan dari video tersebut namun hanya menemukan rekaman tidak penting beberapa baris berikutnya saat Torii bertengger di atas pohon, menyusuri jalanan, memerhatikan Cagalli dan Lacus yang sedang mengerjakan tugas sekolah bersama sambil bercanda, dan lainnya. Kira sadar kalau rekaman tadi adalah hari terakhir ayahnya bertemu dengan Torii karena ia baru saja menemukan rekaman yang menampilkan ekspresi terkejut di keluarga Clyne saat mendapat kabar tentang insiden kebakaran di rumahnya.

Ini aneh. Terlalu aneh, batin Kira.

Ia memutar kembali video tadi dan memerhatikannya dengan sesama, cara bicara Ulen, kegelisahan yang ditunjukkannya, dan matanya yang terus bergerak seolah ada seseorang—sesuatu—yang mengintainya, semuanya.

Kira tersentak.

Ia kembali ke rekaman yang diambil Torii dari udara saat Ulen berjalan sendirian di jalanan kota malam hari. Ia menekan simbol pause dan memperbesar gambar di bagian sudut kanan bawah. Seseorang yang mengenakan mantel hitam dan jas kerja dengan syal yang menutupi sebagian wajahnya sedang berdiri dengan kasual di dekat lampu jalan. Kira mempertajam gambar itu sebisanya dan terkejut.

Orang itu mengintai ayahnya!

Kira men-zoom-out gambar itu lagi dan kali ini memperbesar gambar jendela lebar sebuah restoran yang mengarah ke jalan yang sedang dilalui ayahnya. Ia menemukan orang mencurigakan lain yang juga melempar tatapan tajam itu pada Ulen.

"Apa yang mereka inginkan darimu, Tousan? Apa yang kau lakukan?" Aderalin menguasai Kira. Ia memaksa otaknya bekerja lebih cepat. Ingatannya kembali ke rekaman terakhir Ulen, bagaimana pria itu merasa sangat bersalah dan gelisah. Kira menduga hal itu ada hubungannya dengan kalimat Ulen sebelumnya tentang 'jiwa penemu' atau 'jiwa mekanisnya'. Apa pun itu pasti berhubungan dengan hasil ciptaan ayahnya.

Kira menggeleng dan kembali ke bagian foto. Ia membuka foto itu satu per satu namun masih tidak menemukan petunjuk. Tiba-tiba Kira berhenti dan langsung kembali ke foto Athrun yang terlihat marah dengan berbagai belanjaan yang berserakan. Kedua alisnya bertaut saat memperbesar bagian Ulen beberapa kali. Ia menggeser jarinya sedikit ke arah lemari. Sosok Oliver yang sedang memegang kamera terpantul di kaca tersebut. Senyum lebar terlukis di wajahnya.

Seolah mendapat dorongan semu, Kira tahu apa yang ia cari. Ia kembali menelusuri foto-foto yang menampilkan Oliver dari yang paling lama sampai terbaru. Tangannya semakin gemetar dan basah saat ia menyadari sosok teman kecilnya itu sama sekali tidak berubah secara fisik meski bertahun-tahun sudah berlalu.

Kira semakin menundukkan badannya dan matanya bergerak lincah. Kali ini ia berhasil menemukan foto Oliver yang setengah menoleh, sepertinya baru sadar kalau ia difoto, di halaman hijau Kediaman Clyne. Jarinya terus bergerak untuk memperbesar gambar tersebut dan mempertajamnya lebih spesifik di bagian mata yang berbinar terkena sinar mataari.

Kira berhenti. Tersembunyi di balik kornea jernih dan iris amethys itu, ia bisa menemukan lingkaran khas seperti yang ia temukan pada Torii. Lensa kamera.

Dia mengerti.

Tiba-tiba Kira merasa sesak. Jantungnya berdebar tak terkendali seolah bisa meledak kapan saja. Cepat-cepat ia mencabut memory card itu dan menyumpalkannya bersama tablet dengan kabel headset yang masih terpasang ke saku mantel. Ia mematikan komputer di depannya tanpa melihat dan segera bangkit, menimbulkan suara derak yang keras. Ia menyentak pintu lebar-lebar dan membeku saat seseorang berdiri di depannya.

"Ki-Kira-nii?" Lacus terbata. Tubuhnya mundur satu langkah secara refleks.

Kira tak kalah terkejut. Mulutnya terbuka tutup, berusaha mengeluarkan suaranya yang tertahan. "K-kue."

Lacus mengerjap. "Ya?"

Kira menarik kedua bahu Lacus dan menatapnya lurus-lurus dengan napas memburu. "Kue ... kuenya masih ada, kan?"

Gadis berambut merah muda itu jelas bingung. Entah Kira sedang kelaparan atau dia punya 'penyakit' tersendiri yang berhubungan dengan kue, Lacus benar-benar tidak mengerti. "Ya ... Kira-nii ... mau kuambilkan?"

"Tidak perlu. Aku memang baru mau ke sana." Kira memutar badan Lacus dan menarik tangan kurus gadis dua belas tahun itu sebelum membawanya berjalan dengan cepat. "Ayo."

Lacus hanya diam dengan kedua alis bertaut. Apa yang membuat Kira terlihat seperti habis melihat hantu begitu? Sifatnya yang barusan juga ...

Lacus memandang kedua tangan mereka yang saling bertaut. Ia bisa merasakan tangan Kira yang dingin dan berkeringat. Gadis itu mengeratkan genggamanannya satu kali untuk menenangkan pemilik tangan yang gemetaran tersebut.

Kira membalasnya tanpa menoleh.

.


"Kau benar-benar harus memelankan makanmu, Kira," tegur Athrun.

"Kenapa?" Kira mengendikkan bahunya dan memasukkan satu sendok puding cokelat dengan stroberi utuh ke mulutnya. "Aku kelaparan. Lagi pula ini enak sekali."

Athrun menghela napas dan menopangkan dagunya di tangan kiri, memerhatikan tingkah temannya itu yang tiba-tiba muncul dan menjadi 'liar'. Pemuda itu tersenyum. Yah, paling tidak sahabat baiknya satu ini tidak murung lagi dengan pandangan kosong seperti beberapa hari terakhir. Mood baik pemuda berambut cokelat itu pun sepertinya berhasil menular ke Cagalli yang jelas-jelas merasa senang. Gadis bermata amber itu malah ikut-ikutan makan dengan lahap seolah menjadikan kegiatan makan kue ini sebagai perlombaan tersendiri. Lacus? Ah, gadis itu hanya meminum tehnya dengan tenang seperti biasa. Sesekali ia terkikik melihat banyaknya sisa kue yang menempel di wajah kedua teman baiknya.

"Oliver di mana?" tanya Kira santai.

"Pulang. Sudah mulai sore, sih," jawab Cagalli cepat sebelum mengambil sepotong kue tart cokelat.

Kira membentuk huruf 'O' dengan mulutnya. Ia menyuapkan satu sendok terakhir puding di piringnya sebelum bangkit dan menyambar gelas berisi air putih milik Athrun dan menghabiskannya.

"Oi!"

Kira meletakkan gelas itu kembali di atas meja dan memberikan senyum manisnya pada Athrun. "Terima kasih, Tuan. Sekarang, waktunya mengalahkan best score-mu yang sudah basi itu!" Ia menoleh ke Lacus dan Cagalli sebentar. "Dah, Cags-chan, Lacus-chan!"

Cagalli menyahutkan sesuatu yang mungkin artinya, "Jangan panggil aku dengan '-chan'!" dengan mulut penuh namun sang pelaku hanya tertawa dan menghilang.

Athrun menggeleng dan mengangkat gelasnya sejajar mata. "Benar-benar dihabiskan, ya? Dasar anak itu." Tangan kanannya sudah terulur untuk mengambil teko air saat sesuatu yang berwarna putih kecil menarik perhatiannya.

Athrun mengambil teko itu dan menimpakan dasar keramiknya di atas benda kecil yang awalnya tertimpa gelas miliknya. Ia menggeser teko itu sampai di ujung meja lalu menuangkan isinya ke dalam gelas.

Pemuda dewasa muda itu mengambil beberapa tegukan dan kembali mengambil posisi bertopang dagu seperti tadi dengan tangan kanan sibuk membuka lipatan kertas di bawah mejanya yang ia yakin diselipkan oleh Kira saat ia mengambil minumannya. Athrun mulai membaca.

Oliver = K?

N2T!

.


TBC


.

Wuuuuhuuuuuuuuuuu, akhirnya baaaaacckkkk. Infinite Justice akhirnya update juga yang chapter 7. Nggak nyangka ... #tepar.

Sekedar memperjelas kalo selang waktu antara chapter yang ini dan sebelumnya adalah 4 tahun. Seenaknya, ya? Iya emang. #eh.

Aaaaa, nggak tahu lagi mau ngomong apa. Saya berharap readers bisa nikmatin chapter ini meski penulisannya agak ribet (Iya, saya ngaku). Segala kritik dan saran akan diterima dengan senang hati!

Oh, iya, sekalian pengumuman lagi, masa nominasi IFA 2014 udah dimulai lho! Ayo, nominasikan fic-fic kesukaanmu dan ikut memajukan dunia fanfiksi Indonesia!

Hove a good day, all!