Apa Yang Tersembunyi?
By Vylenzh
Naruto © Masashi Kishimoto | Riddle milik penulisnya
.-.-.-.-.
A/N: Cek chapter sebelumnya. Terimakasih ^_^
Warning! AU, OOC, Death Chara, Typo(s), Plot Twist, etc
Genre: Horror & Mystery
[Jawaban di chapter sebelumnya: Minato dan Kushina akan bunuh diri, sebelumnya mereka telah membunuh Naruto.]
.-.-.-.-.
Chapter 07: Klub Misteri
(Digubah oleh: Vylenzh)
.-.-.-.-.
Merepotkan—itulah kata pertama yang kupikirkan ketika disuruh untuk menguji nyali beberapa anak baru yang masuk ke klub Misteri yang sudah aku ikuti selama dua tahun. Aku bukannya tidak mau hanya saja malas disuruh melakukan hal merepotkan seperti itu. Daripada melakukan hal tak penting itu bukankah lebih baik tidur? Itu lebih bermanfaat kan?
"Shikamaru! Jangan berani-beraninya kau menolak, oke?" Ino—salah satu anggota klub—mengancamku dengan kedua matanya yang menatap tajam padaku.
"Kenapa aku?"
"Ya, karena hanya ada kau yang tidak sibuk. Kalau saja Shino tidak sakit, aku pasti akan menyuruhnya saja daripada kau," balas Ino sengit.
"Ya sudah, tunda saja. Tunggu hingga Shino sembuh."
"Tidak mungkin, Shika. Kita sudah tertinggal dari klub lain."
"Hm..."
"Shika..."
Aku menghela nafas panjang, lalu menatapnya jengah. "Oke, oke."
"Nah, gitu. Oke, aku serahkan kepadamu Nara Shikamaru! Semangat yaa!" ujar Ino senang lalu berlari meninggalkanku yang memikirkan uji nyali apa yang cocok untuk anak-anak baru ini.
Hm...
.-.-.-.-.
Suatu malam, akhirnya aku memutuskan uji nyali untuk anak-anak baru adalah menginap semalam di sekolah—tentu dengan izin dari sekolah—dan hanya dengan diterangi lilin yang kami bawa masing-masing satu di tangan, kami pun menginap di salah satu kelas. Semalaman kami berniat untuk bercerita mengenai kisah-kisah horor, aku beserta tiga anak baru saling bercerita bergiliran, setiap selesai menyelesaikan satu cerita lilin yang dibawa akan dimatikan.
Konon, katanya bila seluruh lilin sudah padam akan muncul sosok yang mengerikan. Tentu saja aku tidak percaya, itu pasti hanya dongeng yang dibuat untuk menakut-nakuti saja.
Pertama, salah satu anak menceritakan tentang seorang arwah suster gila yang meneror pasien di rumah sakit. Ada juga yang menceritakan seorang psikopat yang membunuh satu keluarga dengan kapak. Yang lain menceritakan kematian seorang kakak kelas yang bunuh diri di sekolah. Katanya, mereka menceritakan kisah nyata yang mau atau tidak mau, aku pun tidak boleh kalah menceritakan kisah yang lebih menyeramkan dari itu.
"Kalian tahu, dahulu ada sekelompok siswa yang mengadakan uji nyali seperti kita ini. Mereka mengadakannya juga di kelas seperti kita. Hanya saja mereka hanya ditemani sebatang lilin. Awalnya tidak ada yang terjadi, namun makin malam ada suara langkah mendekat dari luar. Suara itu makin mendekat dan keras, belum lagi suara hujan ditemani halilintar. Mereka bergemetar ketakutan, belum lagi suara langkah yang makin mendekat ke kelas mereka. Tuk. Tuk. Tuk. Suara itu menyaingi suara rintik hujan yang turun dengan derasnya. Siswa-siswa itu bergidik ngeri, saling berdekatan dan menunggu dengan takut dan penasaran akan pemilik langkah mengerikan itu." Aku berhenti sejenak, memandangi setiap wajah anak baru yang menampakkan rasa penasaran dengan kisahku ini.
"Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di depan kelas mereka yang tertutup. Pelan, suara pintu yang berderit terbuka perlahan. Mereka lebih mendekat, penuh dengan rasa takut dan penasaran akan apa yang ada di luar kelas. Pintu itu semakin terbuka lebar dan—"
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Seorang penjaga sekolah memotong kisahku yang hampir klimaks. Aku mengeluh kesal, anak-anak baru itu juga kecewa dengan kisahku yang terpotong.
"Kami menginap, Pak. Sudah izin dari sekolah," ujarku kepada penjaga itu yang sepertinya sama sekali tak tahu menahu akan acara menginap ini.
"Oh, ya sudah. Kalian bertiga cepatlah tidur, ini sudah lewat tengah malam," seru penjaga sekolah.
Mendengar seruan dari penjaga sekolah itu, aku segera membereskan barang-barangku. Memadamkan lilin dan pergi dari kelas itu.
Aku bersumpah, tidak akan lagi mengadakan uji nyali seperti ini lagi. Bahkan jika Ino memaksaku. Aku tidak sudi melakukannya lagi.
-end-
Hai, maaf lama ya. Sedang sibuk Ujian ^_^
Balas Review: Berlian Cahyadi (Iya, Naruto dibunuh duluan.), Syalala Lala (Haha, sungkeman. Hebat memang.), Guest (Karena gantung diri simple mungkin.), huddexxx69 (Yap, tepat.), Kiria-Akai11 (Tepat sekali.), Zaa-chan (Oke, udah dilanjut.), slamet(titik)b(titik)raharjo(titik)9 (Naruto dibunuh sama MinaKushi.), UzumakiDesy (Iya, bener. Mereka mati sekeluarga.), Vanny Zhang (Oke, dilanjut. Maaf lama...), Uchizuma Angel (Iya, bener. Btw, selamat datang ya.), 00 (Next, sori lama.), Generasi Muda (Terimakasih tetap mau baca.), D(titik)oktaviani (Udah dilanjut, sori kelamaan.), slender (Yep, mereka mau ke alam baka.), Joker (Maaf lama ya, Author lagi sibuk. Kelas 3 soalnya.), Miss Hyuga Hatake (Yang bener sih, ortu Minato udah meninggal jadi mau ketemuan gitu... di alam baka tapi.), dan Atan48 (Dibunuh sama MinaKushi. Jahat ya...)
Terimakasih masih setia...
Review again?
