Scheel
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Tatapan tajam dan sorot matanya sangat mengarah ke kedua mataku, seringainya yang tak pernah ku lupakan, wajah yang selalu ingin ku beri pukulan dari kepalan tanganku, ya.. begitulah cara aku membayangkan pemuda yang sekarang berdiri tepat di depanku ini, Uchiha Sasuke.
"Lama tak berjumpa, Sakura-san."
"Kalau kau ingin membalas dendam, bukan sekarang waktunya."
"Balas dendam? ku pikir, kita tidak ada perselisihan apapun."
"Kenapa kau pindah kesini?"
"Semua orang punya hak."
Cih! wajah cueknya itu ingin sekali ku tampar habis-habisan, tapi aku tetap harus menjaga emosiku, kalau tidak, bisa hancur reputasiku sebagai Haruno Sakura si sabar.
"Sakura, sebaiknya kita pergi saja."
"Baik, Ino. Suasana disini sangat membuatku muak."
Ku alihkan pandangan mataku ke lawan arah dan pergi meninggalkan pemuda sialan dibelakangku ini.
"Jadi, kau sudah mempunyai kekasih, Sakura? apa dia lebih tampan dariku?"
Lamat-lamat ku dengar suara lembutnya berkata seperti itu, lagi-lagi perasaan jijikku padanya semakin meningkat, dia merasa percaya diri sekali dengan ketampanannya, lagipula, kekasihku bukan seperti yang dia bayangkan.
Merasa sudah cukup jauh meninggalkan Sasuke, aku dan Ino memperlambat langkah kami.
"Temani aku ke rumah Sai sebentar ya."
"Loh? untuk apa? kau balikan dengannya?"
"Hmm.."
Wajah Ino seolah memberi suatu isyarat bahwa dia sudah berbaikan dengan Sai. Baguslah, dia tidak akan macam-macam denganku lagi, kami ini hanya sahabat, dan tidak akan lebih dari itu. Ngomong-ngomong, aku senang karena konflikku dengan Hinata sudah kelar, ya walau hanya sebentar. Biasanya konflik yang cepat kelar itu hanya pengecoh untuk kedatangan konflik yang sebenarnya, ya semoga saja aku tidak berkonflik lagi dengannya.
Tidak terasa, kami pun sampai di rumah Sai. Ino langsung disambut oleh Sai yang sudah menantinya sedaritadi, dan aku? aku hanya menunggu dan menjauhkan jarakku dari aksi romantis mereka. Entah mengapa juga, melihat mereka berpelukan dan membahas suatu hal dengan romantis, tidak membuatku tertarik sedikitpun, apa mungkin karena mereka itu straight sedangkan aku ini... ah sudahlah.
"Sakura.."
Baru aku mau membalikkan tubuhku, tiba-tiba Naruto muncul dihadapanku.
"Naruto? sedang apa?"
Naruto selalu muncul disaat aku sedang merasa jengkel terhadap situasi yang sedang ku hadapi, walau terkadang agak mengganggu juga kalau dia selalu memamerkan batang hidungnya di depan wajahku.
"Untuk kencanmu sore nanti dengan Hinata, aku mau mengajakmu untuk sedikit memperbaiki penampilanmu."
"Tidak perlu! aku bisa sendiri, lagipula, memalukan sekali kalau perempuan didandani oleh laki-laki."
"Justru itu, ini untuk mengubah dirimu sedikit maskulin."
Ku usap daguku pelan sambil membayangkannya, tapi Naruto ada benarnya juga, aku kan seme, ya walau aku benci panggilan it, tapi itu memang aku. Baiklah, aku butuh pengubahan penampilan.
"Kalau begitu sekarang saja ya."
"Hmm.. si pirang konyol itu sedang dimabuk cinta ya?"
"Sudahlah, cepat!"
"Baik.."
Melihat Ino yang masih memeluk tubuh Sai, membuatku semakin bosan dan memutuskan meninggalkannya saja. Aku mengikuti Naruto ke suatu tempat yang cukup asing, tapi tidak seasing yang ku lihat saat aku memasuki dalamnya, itu hanya salon biasa untuk wanita.
"Tolong ubah dia semaskulin mungkin." kata Naruto pada salah satu petugasnya.
"Ehm.. Ano.. jangan sampai citra wanitaku hilang ya." tambahku.
"Kami akan memberi pelayanan terbaik, nona."
Dalam hitungan detik, petugas itu sudah mempersiapkan peralatan riasnya. Petugas itu menyuruhku duduk dan menutup mataku dengan penutup mata yang sangat rapat, sampai-sampai aku tak dapat melihat apapun.
"Selagi dirias, istirahatkanlah indra penglihatanmu dulu." bisiknya.
Karena mataku yang tertutup, aku merasa seperti tertidur. Aku hanya dapat merasakan tangan petugas itu sedang merias bagian rambut dan wajahku, entah seperti apa. Tiba-tiba saja mataku semakin rileks dan aku tertidur..
Setengah jam kemudian, pembuka mata sudah dibuka lagi, karena baru bangun dari tidur nyenyakku, ku kedip-kedipkan mataku. Saat penglihatanku kembali normal, ku tatap wajahku di kaca.
"Seme.." bisik Naruto sambil menepuk bahuku.
Baiklah, kalau boleh ku deskripsikan sedikit. Jujur, aku suka dengan riasan ini, benar-benar aku terlihat maskulin tapi tidak terlihat seperti pria, masih seutuhnya wanita. Wajahku diberi make up tipis dengan warna agak gelap, lalu rambutku dibuat terurai tapi agak mengembang dan tidak terlalu seperti wanita. Tidak lama, Naruto membawakanku pakaian yang langsung membuat mataku terbelalak. Saat aku memakainya, rasanya aku tidak ingin melepas pakaian ini. Pakaian itu adalah kaos polo berwarna merah jambu polos dengan celana jeans pensil hitam kebiruan, serta blazzer wanita yang tidak terlalu wanita, sehingg membuatku terlihat sangat seme wanita.
"Jam berapa sekarang?"
"Tenang, Sakura. Masih banyak waktu."
Aku tersenyum kepada Naruto dan langsung mengikutinya keluar.
"Setelah ini.."
"Ada apa lagi, Naruto?"
"Kau harus ke toko perhiasan."
"Bagaimana sih? Masa aku seme tetapi memakai aksesoris wanita yang mencolok?"
"Itu bukan untukmu, tapi untuk Hinata."
"Loh?"
"Kau ingin melamarnya kan?"
Rasanya tubuhku seperti baru saja diinjak oleh tujuh puluh ribu gajah dewasa. Aku tidak mungkin melamar Hinata sekarang juga, ya walau ayah dan ibuku setuju kalau aku menikahinya, tapi apa respon Hinata nanti?
"Itu terlalu terburu-buru."
"Sekarang atau tidak selamanya?"
Ku usap lagi daguku. Dan lagi-lagi Naruto benar, aku harus melamarnya sekarang, setidaknya hanya untuk melamarnya dulu, aku tidak mau langsung menikahinya sebelum Hinata memang sudah setuju.
"Baiklah, tapi aku tidak punya uang untuk membeli cincin lamaran."
Naruto pun kini terdiam.
"Tentu kau tidak perlu membelinya."
Ku hadapkan wajahku ke arah suara itu.
Dan itu adalah...
Fairy-san.
"Ini untuk melamarnya."
Fairy-san memberikanku sebuah cincin yang terlihat sangat mahal sekali dari rupanya.
"Apa kau akan selalu muncul dengan tiba-tiba?"
"Ah tidak.. aku hanya kebetulan mendengar masalahmu."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Fairy-san."
Apa aku akan benar-benar melamarnya? rasanya tubuhku lemas.
"Kalau begitu, Ayo!"
Ku anggukan kepalaku kepada Naruto dan langsung mengikutinya lagi.
"Sekarang?"
"Ayo main!"
Sebenarnya aku benci mengatakannya, tapi berkat Naruto, penampilanku tidak kampungan lagi, jadi akan jauh lebih baik kalau aku membalas kebaikannya dengan menemaninya bermain.
Kami pun memutuskan untuk datang ke sebuah karnaval kecil sambil menunggu waktuku dan Hinata bertemu.
"Kau yakin akan melamarnya sekarang, Sakura?"
"Kalau memang ini jalan yang terbaik, aku akan melakukannya."
"Kau juga yakin kalau Hinata akan menerima lamaran dadakan ini?"
"Aku ragu, tapi dia tau aku mencintainya."
"Hmm.. tak ku sangka Yuri itu menyenangkan."
"SUDAHLAH!"
Ku habiskan sisa waktu bebasku bermain di karnaval ini. Mungkin pikiranku sendiri juga butuh memikirkan hal yang jernih supaya aku tidak gugup menghadapi situasi yang akan datang, apalagi hari ini aku akan melamar seseorang.
Tak terasa, sudah 2 jam aku menghabiskan waktu di karnaval ini, mungkin karena terlalu sibuk memikirkan situasi yang akan ku hadapi nantinya.
"Siap?"
"Tentu.."
Tidak!
Ku sisir rambutku agar lebih terlihat baru dan menambahkan parfum untuk menajamkan aroma khasku seperti bunga sakura, walau aku sendiri belum pernah mencium aroma bunga sakura.
Kali ini, aku hanya akan menghabiskan waktuku dengan Hinata di sebuah restoran sederhana, karena keterbatasan ekonomi yang ku hadapi.
"Hinata, sedang menuju kesini. Perlu apa-apa, hubungi aku, aku hanya akan jalan sebentar bersama Lee dan Kiba."
"Terserah kau.."
Naruto langsung pergi saat tak lama Hinata datang dengan dress putih panjang dan rambutnya yang terurai itu, memberi kesan aku ingin cepat melamarnya.
"Maaf sudah membuatmu menanti lama."
"Ah..Tidak. Aku juga baru saja sampai, ayo duduk dan nikmati hidangan yang sudah ku pesan ini."
Melihatnya duduk dan membuat rambut mengkilapnya itu terkibas pelan, memberiku kesan berlebihan lagi, entah mengapa, mungkin itu wajar kalau aku terkagum dengan penampilan Ojo-sama ku ini. Ahh.. aku sudah gila mungkin.
"Hinata, aku ingin mengatakan sesuatu."
Aku mengambil cincin dari kantungku dan bersiap melamarnya.
Tapi sial!
Melihatnya sedang meneguk minumannya membuatku tak ingin bermain agresif, mungkin aku akan melamarnya setelah makan-makan ini berakhir.
"Ada apa?"
"Ah.. tidak.. hanya saja kau terlihat sangat cantik."
"Benarkah? padahal aku tidak berdandan sama sekali."
Apa?
Penampilan seperti ini saja masih ia anggap minim? aku tidak dapat membayangkan kalau saja ia berdandan, aku bisa saja kehilangan akal sehatku. Hmm..bukan artinya aku berotak mesum, tapi akal sehatku bisa saja kacau.
"Sakura, kenapa melamun?"
Hinata menggoyangkan tanganku.
"Eh? Gomen..gomen.. aku hanya senang melihatmu makan lahap. Oh ya setelah ini mau ke kuil sebentar?"
"Semasa sekolah sampai sekarang saja kau masih suka sekali dengan kuil, tidak bosan?"
"Kenapa tidak? sebagian jiwaku ada disana."
"Aku sudah selesai.."
Melihat Hinata melahap suapan terakhirnya membuatku semakin canggung, makananku saja tak bisa ku habiskan karena rasa tegang yang menghantui ini, apakah aku benar-benar akan melakukan hal ini?
Ahh.. benar kata Naruto, aku adalah seme, dan aku harus bertindak seperti seorang seme yang baik, tidak akan ku sia-siakan kesempatan emas ini.
"Tidak habis?"
"Aku kenyang, langsung ke kuil saja bagaimana?"
"Boleh.."
Niat awalku adalah makan dan berbincang-bincang hal romantis denganya, tapi rasanya ada niat lain yang muncul di hatiku, yaitu untuk mengajaknya ke kuil dan melamarnya.
"Ayo!"
Hinata berdiri dan menggenggam tanganku bahkan juga menyilangkan tangannya pada lenganku. Rasanya kehangatan darinya benar-benar terasa. Aku semakin tidak sabar untuk memiliki Hinata seutuhnya, aku juga tidak sabar untuk membuktikan cintaku yang sebenarnya, intinya, banyak hal yang ingin ku sampaikan padanya.
Langkah demi langkah ku tempuh sampai di dekat kuil, ku perlambat sedikit langkahku untuk dapat merasakan kehangatan genggamannya itu, sekarang aku benar-benar tidak akan ragu, aku akan melamarnya, itu tujuan kuatku.
"Wahh. padahal masih sore, tapi pemadangannya indah sekali, tidak salah kalau ini jadi tempat favoritmu, Sakura."
"Tentu saja.."
Tanpa memotong waktuku lagi, ku ambil cincin dari sakuku dan menyembunyikannya dibalik tubuhku. Ku tepuk pelan tubuh kekasihku ini, dan saat ia berbalik, sinar mata indahnya benar-benar menatapku dengan senyuman tipis di bibirnya yang tak kalah nyaman dipandang itu.
"Hinata.."
Ku telan ludah keraguanku dan mulai berlutut dan menggenggam tangannya. Ini semua berkat tontonan sore hari rekomendasi Naruto tentang drama romantis aneh tapi berguna ini.
"Sakura? apa ini?" katanya dengan pipinya yang memerah, memberi kesan nyaman bagiku.
Dengan tegas dan memberanikan diri, aku pun berkata..
"Hinata, menikahlah denganku."
Aku berhasil?
Aku berhasil mengatakannya dengan mulus. Bisa ku rasakan angin menghembus kami berdua dan menerbangkan beberapa bunga yang berserakkan di tanah seolah memberi kesan romantis bagiku dan Hinata. Aku senang bisa mengatakan hal ini, walau berat, setidaknya aku berhasil.
Ku rasakan tangan mulus dan hangat Hinata menggenggamku erat, walau saat ini aku sedikit menundukkan kepalaku, aku tidak dapat sedikitpun menatap wajahnya, tapi aku tau, kalau ia sedang tersenyum saat ini.
"Sakura..."
Tangan hangatnya kini menyentuh kepalaku dan mengelusnya pelan, dengan percaya dirinya aku menatap wajah orang yang ku cintai ini.
Are?
Hembusan angin yang nyaman kini semakin menyerang kuat sampai rambutku terkibas kencang. Ku lihat wajah Hinata yang tidak biasa. Sangat asing dan aneh. Senyumannya tipis sekali.
Ku tatap dalam mata bulatnya itu dan melihat bibirnya bergerak dan mengatakan sesuatu.
"Maaf, Sakura."
TBC
A/N : Sekian lama tidak update, author jadi kangen dengan para readers #plakz..
Oke.. sebelumnya author mau minta maaf sebesar-besarnya karena update yang dapat dibilang bikin readers kesal banget. Author saat ini lagi banyak kesibukan, jadi tidak sempat lanjut fanfict ini, tapi berkat dukungan dari beberapa readers yang sampai PM author nanyain kabar fanfict ini, bikin author galau banget dan memutuskan cepat update :D
Jangan khawatir, selama belum ada kata 'Completed', fanfict ini akan terus berjalan walau kurun waktunya tidak author janjikan, tapi pasti akan update. Kalau begitu, next Chapter 8, ditunggu yah :D
Terima kasih..
