AMAZING FATE
Chanbaek
Slight Krisbaek, Hunhan, Kaisoo
GS!
.
.
Baekhyun telah terjerat kedalam manik kelam yang mampu menyita seluruh indra miliknya. Pria itu terlarang untuk Baekhyun. namun, siapa yang menyangka takdir yang dituliskan Tuhan?
.
.
Desclaimer : Semua tercipta dari imajinasi absurb. Namun, tokoh tetap milik yang memiliki. Jika ada cerita, tokoh, setting, dll yang sama itu suatu kebetulan.
.
JIKA ANDA TIDAK SUKA DENGAN FF INI ATAU PAIRING INI ATAU GENDER DARI TOKOH TOLONG TIDAK USAH DIBACA
.
MARI SALING MENGHARGAI SATU SAMA LAIN!
.
Selamat membaca^^
.
Ini yang ku takutkan!
Setapak kakiku melangkah dalam kabin sebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan yang dipenuhi oleh hasil-hasil karya yang menakjubkan. Well, sejujurnya karya-karya menakjubkan ini adalah tugas akhir yang diberikan oleh Mr. Kim untuk mahasiswa yang mendapat mata kuliah miliknya.
Ruangan penuh sekat karya yang telah disesaki oleh manusia-manusia penuh penasaran akan hasil karya yang ditampilkan oleh anak didik —Well, Mr. Kim merupakan dosen yang terkenal akan tugas penuh sensasional dan penuh keindahan. Tak jarang pula mahasiswa menangis menggila ketika dengan sengaja karya yang telah mereka buat mati-matian digeletakkan bagai sampah begitu saja. Menyakitkan. Sunguh amat menyakitkan. Namun sungguh, itu sangat sebanding dengan apresiasi dari setiap mata yang menyaksikan—tak sedikit dari manusia yang tengah berjubel di dalam ruangan ini adalah mahasiswa dari jurusan yang lain bahkan dari penduduk luar kampus ini.
Tanpa sadar hela napas berat kembali menguar dari dalam diriku. Well, bukan aku tak menyukai pameran indah nan megah ini, hanya saja pameran karya ini adalah pameran perdana yang mengkontribusikan diriku bukan hanya sebagai pelukis, namun juga sebagai model lukisan dari pelukis yang lain. Dan ingat jika aku menjadi model lukis telanjang. Apakah butuh ku pertegas bahwa di lukisan yang ditampilkan Chanyeol adalah aku yang sedang ber-te-lan-jang? Tanpa sehelai ornament atau cipratan cat yang menutup jelas di setiap sisi tubuhku?
Ah sialan!
Ini yang tak kusukai
Lukisan Chanyeol yang terpampang besar entah mengapa diletakkan di pusat ruangan yang menjadi daya tarik setiap mata memandang membuatku ingin melepas karya itu dengan segera. Oh astaga, siapa yang tak malu jika lukisan itu adalah dirimu! Astaga, itu lukisan Chanyeol yang menampilkan tubuhku yang telanjang! Ah entahlah, aku harus bersikap seperti apa, karena selama ini akulah yang melukis orang telanjang bukan orang yang dilukis dengan telanjang.
Namun, sampai detik waktu berdenting hingga saat ini, kedua mataku tak pernah bosan atas ketakjuban pencampuran warna yang diberikan Chanyeol pada lukisannya hingga tanpa sadar tubuhku terpaku untuk menyaksikan lukisannya beserta para penikmat karya yang lain. Decak kagum terus terlontar dari bibir pengunjung yang menyaksikannya. Bahkan tak sedikit pengunjung yang menanyakan kisaran harga lukisan ini.
Sungguh, seingatku waktu aku menyaksikan karya nya saat itu, karyanya menakjubkan, namun lebih simple dan sederhana tetapi makna yang terkandung tetap mengena. Namun saat ini?
Oh Tuhan, meskipun kesan sederhana masih melekat di dalam lukisannya, namun pencampuran warna tambahan yang ia berikan untuk menunjang subjek—diriku—yang menjadi lukisan sangat berbeda. Ku tekankan sekali lagi, sangat amat berbeda! Seakan-akan pencampuran warna itu memberikan kesan sexy dan sangat menarik perhatian. Seakan-akan pula polesan kuas dan tangan yang diberikan untuk mencampurkan pigmen cat itu memiliki arti tersembunyi.
Apakah aku boleh berspekulasi jika makna lukisan Chanyeol yang sama namun berbeda ini seakan menimbulkan makna yang dalam dan sulit untuk dijabarkan? Yeah, meskipun jika aku mengutarakannya di depan Chanyeol, maka ia akan berkata, 'persepsimu tinggi sekali, Byun.'
Hhhh
Tetapi masa bodoh dengan jawabannya nanti karena demi apa betapa geniusnya lelaki itu. Tak dapat ku pungkiri bahwa aku jatuh cinta pada lukisan Chanyeol yang sangat amat menakjubkan ini, bukan berarti karena akulah yang ia lukis. Karena aku tak yakin bahwa siapapun akan mampu menebak jika subjek lukisannya adalah aku, karena jujur saja aku tidak akan semenarik dan semenakjubkan seperti yang digambarkan oleh Chanyeol. Oh Tuhan, aku tak tau lagi harus mengungkapkan kekaguman ini dengan kata, kalimat, atau apapun yang bagaimana lagi.
Well, sejujurnya karena keindahan muthlak yang Chanyeol sajikan ini membuatku yakin bahwa orang yang dilukisannya bukanlah aku.
"Mengapa kau terpaku di depan lukisan ini, nona?"
Suara berat tiba-tiba mengusik konsentrasiku untuk mengapresiasikan lukisan Chanyeol ini. Dengan berat hati, ku tolehkan kepalaku untuk melihat siapa pria yang telah menggangguku
Sosok tinggi yang telah beberapa kali ku lihat tengah berdiri tegap disampingku dengan pandangan yang setia lurus di lukisan milik Chanyeol. Tanpa sadar mulutku membulat, "Oh Sehun?"
Lelaki itu memalingkan pandangannya dari lukisan yang menakjubkan itu, "Hei, Baek." dengan senyum kecil di bibirnya.
"Bagaimana bisa kau kemari?"
Sehun mengedikkan bahunya, "Pameran ini di buka untuk umum, omong-omong." mendengar jawaban Sehun—kekasih Luhan—membuatku tersenyum kikuk
Pertanyaan konyol, Byun!
"Luhan akan kemari nanti malam jika kau kemari untuk mencari Luhan." Ucapku
"Aku tau. Aku kemari hanya untuk melihat sesuatu."
Aku hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Sehun. Betapa bodohnya diriku ketika melupakan fakta bahwa Sehun bukanlah tipe manusia kuper sehingga ia tidak mungkin tidak mengetahui pameran sensational yang Mr. Kim adakan. Sehun merupakan lelaki yang sangat populer dan memiliki banyak teman. Bahkan katanya dia memiliki dua sahabat yang juga dielu-elukan oleh para wanita—Yeah aku hanya mendengar rumor sih, karena aku sendiri tidak ingin ambil pusing dan terlalu mendalami gossip-gosip para wanita penggila lelaki tampan. Karena apa? Karena tidak akan ada habisnya. Hhh. Yah, alasan lainnya juga karena aku tak ingin ambil pusing ucapan wanita yang tengah berteriak iri kepada Luhan—sahabatku—yang mampu menjadi kekasih dari Oh Sehun. Dan demi apapun, dapat ku jamin jika Oh Sehun juga tak akan rela untuk meninggalkan barang sejengkal langkah dari sisi Luhan—sebenarnya.
"Wanita dilukisan itu dirimu, Baek?"
Mendengar pertanyaan Sehun membuatku menoleh kearahnya lagi dengan cepat, "Bagaimana kau dapat mengetahuinya?"
"Lukisan ini sangat dia sekali." Gumaman Sehun begitu rendah hingga membuatku mengernyit, "Kau mengatakan apa?"
"Entahlah, hanya menebak saja." Sehun mengedikkan bahunya dengan diiringi senyum aneh yang tak dapat ku pahami arti dari senyuman itu ketika menjawab pertanyaanku
"Apa kau mengenal Park Chanyeol?" entah apa yang ku pikirkan hingga bertanya seperti itu kepada Sehun, hanya saja bagaimanapun karya lukisan Chanyeol sangatlah terkenal dan diminati oleh siapapun, bahkan banyak yang menawar lukisannya dengan kisaran harga yang sangat tinggi. Mungkin Sehun pernah mendengar nama Chanyeol atau berkenalan dengannya bukan?
Sehun menoleh ke arahku, "Park Chanyeol?" Senyum aneh Sehun tetap tidak luntur. Tanpa sadar keningku mengerut dan otakku mulai berpikir, apakah Sehun baik-baik saja? Dia tidak gila mendadakkan? Atau mungkin dia terpesona denganku?
Astaga, Byun! Otak mu! Kau ingin disembelih Luhan, Heh?!
Dapat ku tangkap gelengan dari kepala Sehun, "Tidak, aku tak mengenalnya. Aku hanya mengetahui namanya."
Belum sempat aku menjawab ucapan Sehun, teriakan para wanita muda yang telah menangkap atensi keberadaan Sehun menjerit histeris
Astaga!
Bahkan tak sedikit manusia yang terlonjak kaget mendengar teriakan memekakkan dan memalukan itu.
Tanpa sadar tubuhku melangkah pergi untuk menghindari sekumpulan wanita penggila Oh Sehun dan dengan kesadaran penuh aku berdoa jika Luhan tak akan melihat kejadian ini dan mengeluarkan amarahnya yang menakutkan untuk para wanita—emm kurang belaian—itu
Ku langkahkan kakiku ke tempat dimana lukisanku diletakkan, yeah ku akui bahwa tempat lukisan yang menjadi bagianku memiliki tempat yang tak kalah strategis dari lukisan Chanyeol—Sungguh, pertama kali aku melihat lukisan ku berjejer dengan lukisan Chanyeol di tempat gudang lukisan atau lebih tepatnya di tempat pengumpulan karya, banyak siswa yang tak percaya jika yang menjadi subjek lukisanku adalah Chanyeol. Karena mereka meyakini dengan teguh bahwa tubuh Chanyeol tidak seindah dan semenakjubkan yang ku lukiskan. Mereka menuduhku bahwa aku terlalu melebihkan-lebihkan. Namun, yeah karena aku tau mereka tak akan berhenti maupun percaya meskipun aku mengatakan dengan sejujurnya bahwa Park Chanyeol memiliki tubuh yang sangat indah dan—emm menggoda—
Namun aku cukup bersyukur persepsi yang Mr. Kim berikan tidak sekolot dan serasis teman-teman yang lain. Dan aku cukup besorak senang karena melihat seulas senyum dan anggukan yang diberikan Mr. Kim kepadaku. And well, lukisanku pun diletakkan di tempat yang tak kalah strategis dari lukisan Chanyeol.
Tetapi jika secara pribadi, aku belum puas untuk mengeksplor kepribadiaan Chanyeol untuk dituangkan ke lukisanku. Sungguh, meskipun aku mencoba untuk mencari apa yang kurang tapi tetaplah tidak ku temukan, karena seakan-akan Chanyeol telah menutupnya dengan begitu rapat dan tak tersentuh.
-o0o-o0o-o0o-
Tak terasa sang mentari telah beranjak turun dari singgahsana agungnya, kemilau orange telah merebak di sepanjang ruas sang langit biru
Ku dudukkan tubuhku di salah satu tempat kosong yang disediakan oleh kantin kampus setelah puas melihat karya-karya yang ditampilkan oleh teman-teman yang lain—yang sejujurnya, lukisan mereka sangat amat di luar ekspetasi, dimana mereka menampilkan hal privasi tanpa memedulikan dan berpikir panjang bahwa lukisan itu telah menjerumus ke lukisan erotis. Yeah, tak bisa menyalahkan mereka juga sih, karena perintah Mr. Kim adalah melukiskan tubuh model tanpa seuntai benang pun sehingga demi mendapatkan hasil yang maksimal mereka mengeksplor dan menampilan hal privasi yang seharusnya tak di lukiskan secara frontal seperti itu. Yeah, tetapi semua kembali ke dalam imajinasi para pelukis untuk menampilkan karya terbaik mereka—
Ku ketukkan jemariku untuk mengusir rasa bosan yang telah merambat di dalam diriku karena menunggu datangnya pesanan makanan yang telah aku pesan tadi
"Hyeri!" Seruan seorang wanita yang tiba-tiba mengusik ketenangan telinga dan suasana kantin membuatku menghela napas, "Kau tau? Lukisan lelaki cupu itu ada yang menawar hingga harga dua miliyar." Mendengar kalimat lanjutan dari seruan itu membuatku menahan napas seketika.
Lukisan Chanyeol dihargai sekitar dua miliyar? Astaga?!
Apakah Chanyeol akan menjualnya?
Oh Tuhan, tapi itu kan..
Astaga
"Sungguh? Lalu apakah si park culun itu menjualnya?"
"Tidak. Betapa bodohnya dia tak menjual lukisan itu." kedua mataku melirik ke sumber suara yang mana disana terdapat Hyeri dan Hyomi—para wanita populer yang merangkap menjadi teman satu kelasku— Tanpa sadar ku hembuskan napas lega mendengar bahwa Chanyeol tidak akan menjualnya.
"Sial sekali, seandainya saat itu aku tak menolak untuk satu kelompok dengan si park culun itu, pasti harga lukisannya melebihi harga lukisannya saat ini. Dan aku akan memaksanya untuk menjual lukisannya, dan aku akan mendapat bagian dari penjualannya."
Mendengar penuturan Hyeri membuat ku memutar mata dengan kesal, "Dasar matre." Tanpa sadar mulutku menggerutu ketika kedua mataku kembali menatap makanan dan minuman yang telah tersaji di depan mataku
"Bahkan aku lebih sexy dari si Byun yang tak memiliki kelebihan apa-apa di tubuhnya itu. Hh, kalau tau begini aku akan dengan senang hati menjadi model telanjang untuk lukisan si park culun itu."
Gejolak sebal semakin mengalir deras di dalam hatiku, ingin sekali aku melemparkan botol minuman yang ku pegang di wajah mereka, "Menggelikan sekali, ketika dulu menghina Chanyeol sedemikian rupa. Namun sekarang?" Helaan napas sebal semakin berhembus cepat dari mulutku, "Dasar wanita aneh."
"Kau benar Hyeri, atau begini saja. Bagaimana jika kau menyuruh si park culun itu melukismu dan menggantikan lukisan yang sekarang menjadi lukisannya yang menampilkan pesonamu? Toh pameran masih akan diadakan hingga enam hari mendatang bukan?"
Mendengar pertanyaan itu membuat tanganku tanpa sadar meremat botol minuman yang sedari tadi ku pegang dengan erat. Entah apa yang salah dengan saran yang diberikan Hyomi—gadis besurai pirang pendek dengan pakaian ketat dan rok berkibar dua puluh centimeter di atas lutut—namun tak terpungkiri jika gejolak panas dan ketidaksukaan ini semakin menjalar begitu cepat di lubuk hatiku
Apa yang salah denganku? Astaga. Tetapi sungguh aku sangat tak menyukai jika mereka memanfaatkan kelebihan dan kegeniusan Chanyeol demi keuntungan pribadi mereka. Meskipun aku tak tau dengan pasti apakah Chanyeol akan sependapat denganku atau tidak. Namun, aku sungguh-sungguh tak menyukainya. Apalagi jika Chanyeol harus melukis tubuh telanjang Hyeri. Bukannya aku berpikir jika Chanyeol akan tidak professional ketika melihat tubuh Hyeri, hanya saja aku takut Chanyeol akan terjebak dengan jerat pesona yang dimiliki Hyeri. Karena demi apa, aku yakin jika kelaki-lakian Chanyeol tak akan mampu terbendung jika melihat tubuh Hyeri. Astaga. tubuhku berbeda dengan tubuh Hyeri. Astaga, menyebalkan sekali! Aku benar-benar tak menyukai ide yang mereka usulkan!
Tanpa sadar ku gertakkan botol itu hingga membentur meja dan menimbulkan suara yang cukup keras. Aku tau siapapun manusia yang memiliki telinga di kantin akan mendengar suara yang ku hasilkan dan menoleh untuk mencari tau apa yang terjadi. Namun apa peduliku?
Aku tak mengerti, mengapa aku harus merasa sekesal ini? Toh selama ini Chanyeol pasti selalu melihat tubuh-tubuh wanita untuk menjadikan mereka subjek lukisan
"Lihat, Hyeri. Ternyata Byun Baekhyun disana sedari tadi." Dengan kekehan menyebalkan yang tengah dialunkan oleh Hyomi. Tatapan sinis yang membuatku semakin bergejolak menusuk dari kedua mata Hyeri, "Pasti dia tak suka jika lukisan Chanyeol yang melukiskannya tak lagi diperlukan jika Chanyeol melukismu."
"Wanita seperti nya tidak pantas menjadi subjek lukisan semahal itu. Menggelikan."
Mendengar ucapan Hyeri dan Hyomi membuatku menarik napas panjang dan melangkah menuju tempat duduk mereka—Bukan karena aku marah mereka mengolokku. Tapi aku marah ketika mereka mengolok karya yang Chanyeol selesaikan dengan begitu maksimal. Dengan senyum yang terpatri aneh di wajahku, ku hadap mereka yang tengah menyeringai remeh ketika menatapku.
"Hyeri dan Hyomi." Senyum ramah masih ku coba pertahankan, "Aku hanya ingin bertanya kepada kalian." Ku tumpukan kedua tanganku di atas meja mereka hingga membuat tubuhku sedikit membungkuk, "Apakah kalian tak malu selama ini telah menghina Park Chanyeol?"
Dapat ku lihat kedua wanita itu tertawa sinis mendengar pertanyaanku, "Tidak. Dia memang pantas untuk dihina. Si park culun yang menjijikan"
"Benarkah? Wah."Ku tegakkan tubuhku dan tersenyum sekali lagi, "Lalu kau masih menginginkan manusia yang menurutmu hina itu melukis tubuh indahmu itu, Hyeri?"
Tanpa sadar senyum sinis ku kembangkan ketika melihat anggukan dari kepala Hyeri, "Wah, apakah kau tak takut tertular hina?" Sebelum Hyeri dan Hyomi membalas ucapanku, dengan cepat bibirku berkata, "Ohh, ataukah selama ini kaulah yang hina hingga tak sadar diri?" Ku tatap mereka dengan senyum mengejek, "Betapa baik hatinya seorang Park Chanyeol jika berkenan melukis wanita hina nan tak tau diri ini."
BRAK
Gebrakan meja tak membuatku gentar, meskipun saat ini Hyeri telah berdiri dan siap-siap untuk menamparku aku tak akan pernah takut.
"Kenapa kau marah, Hyeri? Mengakui jika kau tak punya harga diri, hm?"
Grep
Ku hempaskan tangan Hyeri yang melayang ke pipi kiriku. "Oh, atau ku sebut pengemis yang tak memiliki otak?"
Dan tanpa sadar, sikutku mengenai tubuh Hyomi yang berusaha memegangku ketika Hyeri kembali berusaha melayangkan tangannya ke arahku. Sebelum terjadi keributan yang semakin parah, ku lenggangkan tubuhku untuk menghindar dari wanita-wanita itu.
Teriakan umpatan maupun makian terdengar begitu nyaring hingga membuatku terkekeh tanpa sadar. Ku balikkan tubuhku untuk kembali menghadap dua wanita yang tengah di kuasai emosi, namun tak dapat mengejar karena sibuk dengan rasa sakit yang ku berikan tadi.
"Semoga berhasil untuk mengemis wahai para wanita cantik."
Dengan cepat ku langkahkan kakiku meninggalkan kantin sebelum Hyeri kembali mencapaiku dan membuat keributan yang lebih parah di kantin yang lumayan sepi ini.
-o0o-o0o-o0o-
Hhh
Sang malam telah bertahta ketika langkah kakiku tak lagi mengayun. Ku hembuskan napasku dengan berat ketika otakku merutuk atas tindakan nekat yang telah ku lakukan tadi. Well, sungguh aku benar-benar melupakan resiko atas apa yang telah kulakukan pada dua wanita populer nan cantik beberapa waktu yang lalu. Dengan dengusan yang tak kentara, ku tatap pria-pria menjulang yang saat ini tengah menghadang jalanku. Aku sangat yakin jika para pria ini adalah para penggemar berat dua wanita populer nan cantik itu. Para pria yang selalu melakukan tindakan pengecut seperti ini—Bagaimana tak pengecut jika satu korban—entah itu perempuan maupun lelaki—selalu dihadang dengan lebih dari sepuluh para lelaki menjulang dan berwajah garang—ketika ada seseorang yang berani mengusik dua wanita cantik itu.
Dapat ku ingat bagaimana salah satu dari mereka menyeretku ketika langkah kakiku akan memasuki ruang karya, begitu kasar dan kurang ajar. Ingin sekali tangan ini menghantam wajahnya dengan keras. Namun hal itu akan menimbulkan masalah yang lain.
"Berani sekali kau, Byun." Tubuhku semakin merapat ke dinding. Sialan, wajah pria ini begitu dekat, "Ku dengar kau menghina Hyeri, hm?"
Benar bukan? Pasti para pria menjulang ini adalah penggemar berat Hyeri
"Dengar, tuan yang terhormat." Ku hembuskan napasku perlahan, "Bisakah kau menjauh? Kau merebut oksigen yang ku hirup. Bikin sesak saja." kedua tanganku mendorong tubuh pria menjulang yang tengah mengukungku. Kalian berpikir aku takut dengan mereka? Oh jangan membuatku tertawa. Mereka bahkan tak memiliki aura intimidasi seperti Big Boss
Brak
Tinjauan dari kepalan pria menjulang itu berada tepat di telinga kananku, "Kau pikir kau siapa, hm?"
Dugh
Rambut panjang yang tengah ku kuncir kuda di tarik dengan begitu kuat hingga membuat kepala ku mendongak dan membentur dinding cukup keras. Sial sekali. Ingin sekali aku menghajar mereka, namun aku telah berjanji kepada Luhan jika tak akan lagi membuat anak orang masuk ke rumah sakit.
"Tak perlu kau bersusah payah berteriak, Byun. Karena tak akan ada yang akan melindungimu, Byun! Hahaha." Pria menjulang itu semakin tertawa dengan begitu keras, "Ku akui nyalimu cukup tinggi karena berani menghina Hyeri dan Hyomi, hm? Apakah kedua telingamu tak pernah mendengar bahwa kami para pecinta mereka tak segan melukai siapapun yang menyakiti mereka?"
Tanpa sadar bibirku mengulas senyum, "Begitukah?"
Plak
Tamparan telak mengenai pipi kananku hingga sudut bibirku robek. Menyakitkan. Dengan seketika rasa pening menjalar begitu kuat dan cepat.
Tenang, B. Kau harus tenang.
"Wanita tak tau diri." Pria menjulang itu semakin menarik rambutku hingga kepalaku seakan berputar-putar, "Jika kau berani menghina Hyeri lagi. Kau akan mendapat balasan melebihi apa yang akan kami lakukan padamu saat ini."
"Ohh, aku takut~" gelak tawa ku lontarkan meskipun rasa perih di sudut bibirku begitu menyiksa ketika menanggapi ancaman pria-pria menjulang tak tau diri itu—Yeah, pria tak tau malu yang menyerang lawan yang mungkin tak seimbang untuk mereka keroyok seperti ini. Memalukan.
Belum sempat tamparan pria menjulang itu mengenai pipiku untuk kedua kalinya, aku mendengar suara tepuk tangan dan suara husky yang ku kenal
"Wah.. wah…"
Pria-pria menjulang yang menghadap ke arahku dengan seketika berbalik badan dan menatap pria yang telah mengganggu kesenangan mereka untuk menghukum orang yang telah menghina idola mereka.
"Pembullyan, bung?"
"Tidak. Kami hanya memberi wanita ini pelajaran atas apa yang dia lakukan."
Suara kekehan berat itu ku dengar begitu menjengkelkan ketika menanggapi ucapan pria-pria penggemar Hyeri itu, "Memberi pelajaran? Dengan cara menggelikan seperti ini? Hahaha." Kekehan itu semakin kencang, "Siapa wanita beruntung yang mendapatkan perilaku pengecut kalian itu, bung?"
Gertakan terdengar begitu kentara dari mulut pria yang telah menarik rambutku dan menamparku begitu keras, "Kau pikir kau siapa, Hah?!"
"Ohh, apakah kau tak mengenalku, tuan-tuan?" Dapat ku lihat senyum mengerikan tercetak jelas dibibir pria yang masih setia terkekeh itu
"Banyak omong! Hajar dia!" teriakan lantang dari pria menjulang yang telah mengukungku itu untuk menyerang pria yang saat ini tetap terkekeh dengan tenang.
Perkelahian tak terelakkan
Sepuluh banding satu, menggelikan dan tak seimbang. Namun dahiku mengernyit heran ketika satu demi satu pria menjulang itu terkapar menyedihkan ketika tinjuan dan tendangan yang di berikan oleh—
"Oh Sehun?!" Tanpa sadar pekikan tak percaya terlontar dari bibirku hingga membuat pria-pria menjulang itu terjengit kaget. Dapat ku lihat tubuh pria-pria menjulang itu tersentak dan bergidik ngeri, kobar kemarahan para pria menjulang itu seakan meredup dengan begitu cepat ketika nama Oh Sehun terlontar—Apa yang membuat semangat mereka untuk menghantam habis Oh Sehun tiba-tiba menghilang? Apakah mereka terlalu lelah terkena hantaman-hantaman mematikan yang diberikan oleh Sehun? Atau karena mereka baru mengetahui jika pria yang mereka lawan adalah Oh Sehun? Tapi mengapa mereka harus menciut ketakutan seperti itu dengan pria yang bernama Oh Sehun? Ah entahlah.
Mataku semakin mengerjab pelan ketika tubuh Sehun menghindar dengan begitu gesit ketika tinjuan-tinjuan para pria menjulang itu tengah dilayangkan ke tubuhnya. "Wah, kalian membuatnya babak belur ternyata." ucap Sehun yang semakin beringas menghantam pria-pria menjulang itu ketika tanpa sengaja kedua mata kami bertemu pandang, "Bersyukurlah saat ini hanya aku yang bertemu kalian, dude. Kalian cukup beruntung ku rasa." Ucap Sehun yang masih senantiasa membalas tinjuan yang diberikan para pria menjulang itu, "Bagaimana jika kalian bertemu dia saat ini?" kekehan geli Sehun kembali terlontar, "Apakah kalian tak tau jika wanita itu miliknya? Bahkan kalian berani melukai wajah cantiknya itu."
Bagh Bugh Bagh
"Aku menjamin dia tak akan segan menghilangkan nyawa kalian."
Bugh
Pukulan telak menjatuhkan sisa terakhir para pria menjulang itu, dengan kedua tangan yang saling menepuk seakan membersihkan debu. Sehun menatap para pria yang terjatuh kesakitan itu, "Haruskah aku mengatakan kepada dia apa yang terjadi saat ini?"
Dengan serempak gelengan ketakutan para pria itu berikan kepada Oh Sehun saat ini. Aku heran, mengapa mereka sangat ketakutan ketika Sehun mengucapkan kata 'dia'? Bahkan dapat ku saksikan rasa takut mereka kepada 'dia' lebih besar dari rasa takut mereka kepada Oh Sehun.
"Ku ingatkan sekali lagi kepada kalian bahwa wanita itu milik dia. Kalian tau bukan siapa yang ku maksudkan?"
Anggukan serempak pun kembali ku saksikan.
Tanpa sadar otakku berputar untuk memahami apa yang telah dimaksudkan Oh Sehun. Memahami maksud yang disampaikan Oh Sehun kepada pria-pria penggemar Hyeri hingga mereka meringkuk ketakutan seperti itu.
'Dia' siapa yang dimaksud Oh Sehun? Dan juga apakah wanita milik dia yang dimaksudkan Oh Sehun itu aku? Namun, seingatku aku bukanlah milik siapa-siapa lagi—well, dia yang dimaksud bukan Wu Yifan, kan?—Well, hal ini sungguh membingungkan. Amat sangat membingungkan. Oh atau mungkin Sehun hanya bermaksud untuk menggertak para pria menjulang itu agar tak menggangguku lagi? Ah, mungkin seperti itu. mungkin Sehun hanya memberi rasa takut kepada pria-pria itu agar tak menggangguku lagi.
"Cepat pergi." Usir Sehun hingga membuat pria-pria itu lari tunggang langgang dengan keadaan terpincang-pincang. Dapat ku lihat setelah mengusir para pria itu, Sehun melangkah menghampiri diriku yang sejak tadi terpaku, "Ayo ku antar ke Luhan, dia cemas tidak menemukanmu sedari tadi."
-o0o-o0o-o0o-
"Astaga! Brengsek! Lihat apa yang mereka lakukan kepada Baekhyunku, heh?!" mau tak mau bibirku mengulas senyum melihat Luhan yang senantiasa mengomel panjang lebar dengan tangan yang dengan cekatan mengobati luka di bibirku atau memberiku obat penghilang nyeri dan air mineral. Yeah, saat ini aku berada di apartemen Luhan. Karena ketika Luhan melihat kondisiku yang babak belur—yeah, itu kata Luhan. Maklumi saja karena Luhan selalu melebih-lebihkan—dia memaksa Sehun untuk mengantarkan kami ke apartemennya
"Mengapa kau tak menghajar mereka sih, B?" dengus Luhan
"Kau melarangku menghantam orang, Lu."
Decakan sebal Luhan berikan dengan diikuti sentilan menyakitkan di dahiku hingga membuatku memekik sakit, "Kau gila?" umpatku
"Kau yang gila, sialan! Bodoh sekali!" umpat Luhan, "Mereka menghajarmu duluan, B! Jadi kau harus menghajar mereka. Aku melarangmu menghantam seseorang jika kau yang memulai, karena kau perempuan!" Gerutu Luhan dengan nada yang semakin emosi, "Astaga betapa bodohnya sahabatku ini!" Aku tau jika Luhan sangat mengkhawatirkan keadaanku saat ini. Aku cukup bersyukur karena memiliki sahabat sebaik dia
"Aku sangat bersyukur jika Sehun menolongmu saat itu. Bagaimana jika Sehun tak melihat mu dikeroyok oleh pria-pria gila penggemar jalang itu, heh? Astaga aku tak dapat membayangkannya."
"Maafkan aku, ok? Aku berjanji akan melindungi diriku lebih baik lain waktu."
"Bukan itu masalahnya, B. astaga."
Ditengah-tengah omelan panjang Luhan aku mendengar kekehan Sehun, "Tenanglah, sayang. Mereka tak akan berani menyentuh Baekhyun lagi." Mendengar celetukan Sehun membuat Luhan menoleh dan memicing ke arahnya, "Aku telah menghajar mereka, tanya saja ke Baekhyun."
Aku mengangguk untuk mendukung ucapan Sehun, "Benar, Lu. Sehun telah menghajar mereka sampai mereka meringkuk ketakutan." Mendengar itu Luhan menghela napas kasar, "Aku mencemaskanmu, B. Sungguh apakah kau tak tau jika rumor yang beredar bahwa Hyeri dan Hyomi itu dilindungi oleh pria-pria berbadan besar—yeah mereka menyebutnya geng yang ditakuti di wilayah selatan."
Mulutku membulat mendengar penjelasan Luhan, "Benarkah? Wah sehebat apasih wanita-wanita itu?"
Belum sempat Luhan menjawab pertanyaanku, Sehun kembali menyela perbincangan kami, "Sudahlah, kalian para wanita cantik. Percayalah mereka tak akan menganggu kalian, bahkan memandang kalian saja mereka tak akan berani. Terutama kau, Baek." Setelah mengucapkan itu Sehun bergerak ke arah Luhan dan mencium kening Luhan lalu ia melangkah pergi meninggalkan kami berdua
"Apa maksud kekasihmu itu, Lu?"
Luhan menggeleng, "Entah."
TBC
-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-
Note:
Oke…
Uhh, semoga tak mengecawakan ya. terimakasih untuk kalian yang memfollow, favorite, apalagi me review ini ff. hehe
