Summary: Tidak memedulikan orang lain dan melakukan apapun sesuai apa yang ia inginkan. Gadis manis bersurai merah muda pucat yang ia temui di Shinkansen saat menuju sekolah membuatnya melakukan sejauh ini. Memanfaatkan sang adik yang memiliki jantung lemah ketika dirinya sendiri hampir tak tertolong. /"Kalau bisa aku ingin tetap hidup."/
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story by: Akasuna Sakurai
OOC, TYPO(S), MISS TYPO, GAJE, DLDR.
.
.
.
Between Us
.
.
.
Sakura itu ...
.
.
.
Aku selalu berbuat sesukaku,
Sampai hari di mana aku bertemu gadis itu,
Aku bahkan rela melakukan hal jahat pada adikku sendiri,
Ya, semua ini karena aku tidak ingin meninggalkan dunia ini tanpanya.
.
.
.
Hari ini Itachi diminta untuk promosi Club Basket bersama Sasori dengan tanding One on One. Hasilnya lebih banyak yang mendaftar menjadi manager club daripada bergabung sebagai pemain. SMA Konoha memiliki Club Basket Putra dan Club Basket Putri.
Mungkin dengan adanya Itachi dan Sasori bisa menarik anggota baru untuk tim putra. Namun untuk tim putri sendiri hanya ada Tenten yang bermain solo. Para senior hampir semuanya berhenti dari club, dan Tenten yang tahun ini naik ke kelas dua menjadi satu-satunya pemain putri bersama Shion, manager tim putri yang tidak bisa bermain basket.
Itachi merasa kagum dengan kohainya itu, bisa tetap teguh memertahankan tim basket putri. Tapi kalau tidak bisa mengumpulkan empat anggota lagi, mereka akan dibubarkan.
"Sas, udahan yuk?" Itachi menghentikan dribbelnya dan berjalan ke pinggir lapangan. Sebentar lagi bel masuk berbunyi.
Sasori mengikuti Itachi, membuat para gadis yang sejak tadi menonton mereka mendesah kecewa. Sasori tertawa kecil melihatnya, sebagian besar adalah fans Itachi. Sasori merasa ia tidak memiliki fans club seperti Itachi, atau ia memilikinya tapi fansnya tidak seabsurd fans Itachi? Sasori tertawa kecil.
"A-Akasuna-senpai!" Baik Itachi maupun Sasori menoleh. Ada siswi baru yang menghampiri mereka dan segera mengulurkan sebuah surat berwarna pink yang mereka berdua yakini adalah surat cinta.
Wajah Sasori memucat karena masih trauma sama yang namanya pernyataan cinta. Semoga saja gadis itu tidak senekat—
"Cintamu ditolak!"
—mata Sasori mengerjab kaget melihat sosok berambut merah muda pudar berdiri di depannya dan mendorong siswi yang sedang menyatakan cinta padanya. Sakura ada di depannya. Itu Sakura. Itu benar-benar Sakura ...
Sasori langsung lemas dan berjongkok memegangi kepalanya. Itachi menatap sosok berambut merah muda pucat itu dengan tatapan kaget. Tangan kanannya tanpa sadar ia taruh pada dada kirinya. Jantungnya benar-benar berdebar.
"Memangnya kamu siapanya Akasuna-senpai?!" Gadis yang didorong Sakura balik mendorong Sakura, tidak terima.
Sakura yang terdorong tiba-tiba langsung limbung ke arah Itachi. Tubuh Itachi mendadak gemetar saat menangkap tubuh Sakura. "Sialan!" Sakura cepat-cepat bangkit dan akan memukul gadis itu namun kaki dan tangannya dipegangi seseorang.
Ah, Gaara memegangi tangan Sakura sedang kakinya dipegangi oleh Sasori.
'Plak' Pipi kiri Sakura memerah karena ditampar gadis yang tadi akan dipukulnya. Baik Gaara, Itachi ataupun Sasori tidak menyangka gadis itu akan nekat mencari masalah dengan Sakura.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Sakura tidak terima dan berhasil melepas pegangan Gaara maupun Sasori. Kalau Sakura marah bahkan Gaara pun tidak bisa menghentikannya meski dengan adu tenaga sekalipun. Gawatnya Gaara kurang cekatan untuk menangkap Sakura yang berhasil lepas dan menghampiri gadis itu.
Tangan Sakura sudah mengepal begitu kuat. Baik Gaara maupun Sasori membelalak melihatnya. Ini hari pertama Sakura masuk jangan sampai di skorsing karena berkelahi.
"Sialan, kau akan menyesal berani mencari masalah denganku!" Sakura sudah melayangkan pukulannya. Tepat sebelum mengenai wajah sasarannya, tangan Sakura terhenti karena mendengar teriakan Sasori.
"SAKURA BODOH!" Sasori bahkan berdiri dan memeluk tubuh Sakura, mencoba menariknya menjauhi gadis itu. Lalu menatap tepat pada emeraldnya yang terlihat masih dikuasai amarah. "Lihat aku!" Sakura balik menatap Sasori, lalu tiba-tiba saja dia menangis dan memeluk tubuh kakak sepupunya tersebut.
Gaara yang melihat hal itu mendecih dan tanpa sengaja melihat Itachi yang sedang mematung menatap entah Sasori atau Sakura. Benar juga, Itachi sejak tadi tidak melakukan apa-apa selain diam saja melihat segala tindakan nekat Sakura. "Hei." Gaara menepuk pundah Itachi.
"Haaa~!" Itachi terkejut dan segera menjaga jarak dari Gaara. Itachi masih ingat tentang orientasi seksualnya Gaara yang bermasalah. Ia tidak mau dekat-dekat dengan Gaara. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya ketika melihat apa yang Gaara dan Sasori lakukan pada gadis berambut merah muda pucat yang kalau tidak salah dengar bernama Sakura.
Tunggu. Sakura? Itu Sakura? Eh tadi Sasori berteriaknya 'Sakura bodoh!' begitu, kan? Atau telinga Itachi saja yang bermasalah? Itachi mengorek telinganya dan membuat Gaara menatapnya jijik.
"Kau tidak suka padaku, kan?" Itachi bertanya pada Gaara yang ditanggapi dengan diam. "Hei, jawab!"
Gaara menarik sudut bibirnya karena Itachi sepertinya sudah tahu dari Sasori. Sedang Itachi yang melihat sudut bibir Gaara terangkat tanpa kata-kata mulai takut kalau Gaara menyukainya.
"Gaara, tolong lepasin Sakura donk. Aku mau ganti baju." Suara Sasori menarik perhatian Gaara maupun Itachi. Gaara segera menarik tubuh Sakura dan memeluknya.
"Kau sudah cukup bau keringat Sasori, Sakura." Bisik Gaara namun itu terdengar cukup keras untuk didengar Itachi maupun Sasori. "Curang sekali."
Bulu kuduk Sasori langsung meremang mendengar kata-kata Gaara selanjutnya. Tidak mau mendengar kata-kata yang akan keluar nanti, Sasori menatap Itachi dan mengajaknya untuk ganti baju.
Bel berbunyi tepat ketika mereka berdua memasuki ruang ganti club basket. Kebetulan pelajaran olahraga di jam pertama. Mereka tidak harus heboh-hebohan karena jam pelajaran pertama akan berdiri di depan kelas karena terlambat.
Selama berganti menjadi baju olahraga yang mereka bawa karena tahu ada kemungkinan akan terlambat, Itachi mengutarakan apa yang menganggunya sejak tadi.
"Tadi itu Sakura, ya?" Sasori menoleh pada Itachi dan mengangguk seadanya. "Aku mulai bimbang setelah tahu."
"He?" Sasori bingung karena Itachi tidak se-to the point seperti biasanya. "Bimbang?"
"Maih ingat smsku waktu itu?"
Ah, Sasori mengangguk begitu ingat sms Itachi dua bulan lalu. Sasori benar-benar melupakannya. Tapi tunggu ...
"Err ... apa hubungannya dengan Sakura?"
Itachi tampak mengalihkan pandangannya begitu ditatap Sasori. Melihat reaksi Itachi yang seperti itu, Sasori mulai berdebar-debar. "Jangan bilang kamu jatuh cinta pada Sakura?"
"Eh, apa?" Meskipun sudah coba disembunyikan, senyum dan tingkah Itachi sungguh tidak biasa.
"Waktu itu kau sangat tidak suka pada Sakura dan apakah ini perwujudan benci jadi cinta?"
"Tidak, tidak, bukan begitu. Aku bertemu Sakura jauh sebelum aku tahu kalau dia sepupumu. Aku bahkan tidak tahu namanya."
"Love at first sight? Kau bercanda, Tachi." Sasori tertawa hambar. Entah kenapa ada bagian dari hatinya yang tidak rela kalau ada orang lain yang menyukai Sakura. Ya, meskipun Sasori sendiri tidak menyukai Sakura dalam artian cinta padanya.
"Aku harap aku sedang bercanda terutama saat melihatnya tadi hampir berkelahi." Itachi menutup matanya. "Hanabi saja masih bisa menjaga sikapnya meskipun dia sangat suka beladiri, mungkin. Aku tidak tahu banyak sih."
"Gosip, gosip terus."
Itachi dan Sasori membeku mendengar ada suara perempuan di ruang club basket putra. Untung saja mereka sudah selesai berganti pakaian. Begitu dilihat, Hana Inuzuka bersidekap dada menatap tajam dua pemuda yang tampak tidak menyangka melihat kehadirannya di sini.
"Sejak kapan?" Tanya Itachi karena takut curhatannya didengar selain oleh Sasori.
"Sejak tadi. Cepat ke lapangan sebelum Guy-sensei memberi hukuman gila untuk kalian."
Gluk. Benar kata Hana. Mereka cepat-cepat menuju lapangan, diikuti Hana yang mencari kesempatan untuk melihat punggung Itachi. "Sudah ada tunangan, ya?"
Sakura tidak menyangka akan mendapat kelas yang sama dengan gadis yang hampir berkelahi dengannya tadi pagi. Gaara yang menyadari situasi merasa beruntung berada satu kelas dengan kembarannya ini. Dan ada satu orang lagi yang menarik perhatian Gaara. Perempuan bemata nyaris putih yang duduk di bangku depan sesekali melirik ke belakang.
Kebetulan sekali, Gaara selalu menjadi sasaran jatuhnya pandangan gadis itu sebelum mata yang nyaris putih itu melirik ke sekeliling kelas. Gaara merasa risih, ingin sekali menegur atau mencoba untuk tidak menatap gadis itu. Tapi tiap kali gadis itu menoleh, mata Gaara tidak tahan untuk memperhatikannya yang berhakhir bertemunya kedua pasang mata itu dengan matanya.
Sepertinya gadis itu tertarik dengan Sakura yang duduk di kanan Gaara juga gadis berambut merah seperti Sasori yang duduk di samping kiri Gaara. Karena sejak tadi mereka saling beradu cacian tidak jelas tiap kali jam pelajaran berganti. Dengan kata lain, Gaara menjadi penengah keduanya di sini.
Lihat saja bel istirahat nanti akan menjadi seperti apa. Dan tepat setelah membatin demikian, bel benar-benar berbunyi.
Pemandangan yang Gaara lihat setelahnya adalah, gadis itu segera diserbu oleh teman-teman baru yang penasaran. Diperkenalan tadi, gadis itu mengatakan umurnya sebelas tahun. Hebat sih, tapi Gaara belum yakin kalau itu adalah hasil dari gadis itu sendiri secara murni. Karena marganya adalah Hyuuga. Itu bukan marga sembarangan.
"Gaara, kita ke tempat Sasori yuk." Sakura menarik lengan baju Gaara, mencoba merayu kakak kembarnya ini.
"Sasori ada di sana." Gaara menunjuk keluar jendela di mana Sasori sedang berdebat dengan Itachi. Sakura segera melepas lengan baju Gaara dan menghampiri Sasori.
'Bruk'
Gaara cepat-cepat menghampiri Sakura yang mulai tersulut kembali emosinya. Hah, sepertinya ini akan menjadi makanan sehari-harinya Gaara mulai hari ini, menenangkan Sakura dan sedikit memberi pelajaran pada gadis berambut merah yang kalau tidak salah bermarga Uzumaki.
"Karin! Kutinggal sebentar kau selalu membuat ulah!" Pemuda berambut kuning, bermata saphire berteriak di pintu kelas dan menunjuk sosok berambut merah yang baru saja membuat oranglain terjatuh.
Pemuda itu menghampiri Sakura dan membantunya berdiri, setelahnya ia menarik tangan gadis berambut merah yang dipanggil Karin itu untuk keluar kelas. "Sesuai perjanjian dengan Baa-san, kau harus mentraktirku makan!"
"Heee? Tidak mau!"
"Tidak ada penolakan, lihat ini?" Pemud itu menunjukan ponsel yang sedang melakukan panggilan.
"Ugh, ba-baiklah."
Itachi dan Sasori yang ingin masuk kelas X-A takjub melihat pemuda itu mengeluarkan ponselnya disaat ada larangan membawa ponsel di sekolah. Dia bodoh atau tidak tahu? Bagaimana kalau ada guru yang melihat?
.
.
.
To Be Continue
Aku tahu tidak seharusnya aku melimpahkan kemarahan di sini ... tapi aku kesal karena tidak bisa ngetik leluasa dan akhirnya aku memutuskan berhenti sampai di sini. Entah aku bakal update ch 8 kapan. Untuk mengetik ch 7 saja baru bisa hari ini .. fiuh.
Yang jelas moodku benar-benar sangat buruk. Gomen Cuma bisa nulis 1,6k words .. dan berakhir dengan gaje alias gantung u,u
Dan terimakasih untuk yang sudah mereview, tidak bisa kusebutkan satu-satu ..
Jangan pusing pada pairnya karena pairnya adalah Itachi Sakura dan Sasuke. Itu tidak akan berubah.
Arigatou gozaimasu.
