Semuanya menjadi lebih baik ketika kau mau terbuka dan mengatakan apa yang kau rasakan. Memendamnya? Ide itu tak terdengar bagus, semakin semuanya menumpuk justru itu akan semakin sulit jadinya.
Tapi bukan berarti kau harus mengatakan semua, disini kau di tuntut untuk berpikir dan memilah. Jangan lakukan kebohongan dengan mengatakan hal-hal yang tak benar hanya untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.
Jadilah dewasa. Dengan begitu meski tak mudah, kau akan mulai memahami apa yang harus kau katakan dan apa yang harus kau lakukan.
"Jadilah dewasa KIM KYUHYUN!"
.
.
"nanti sepulang sekolah aku harus berkumpul dengan anggota taekwondo terlebih dahulu,"
Kyuhyun memalingkan wajahnya, menatap Ki Bum dengan mulutnya yang penuh makanan. "lalu?"
"kau mau pulang atau menunggu? Kalau kau menunggu mungkin agak sedikit lama," jelas Ki Bum seraya menyuap makan siangnya.
Tampak alis Kyuhyun terangkat, sepertinya ia tengah berpikir. Menunggu atau pulang? Jika menunggu itu pasti membosankan, bukan? Jika pulang… sepasang bola mata Kyuhyun beralih memandang kedua sahabatnya yang duduk bersama anak-anak dari musim panas lainnya.
Bibirnya tersungging membuat sebuah senyuman, ia telah memutuskan. "aku mau pulang saja,"
Ki Bum menghentikan gerakan tangannya, ia memandang Kyuhyun lekat. "kau yakin?" tanyanya.
Tanpa berpikir Kyuhyun menganggukkan kepalanya kuat, "aku akan pulang bersama Donghae dan Eunhyuk!" serunya dengan jari telunjuknya menunjuk kedua sahabatnya lurus.
Ki Bum menatap keduanya yang berada di meja paling pojok bersama beberapa orang ribut lainnya-anak-anak musim panas- lalu mengalihkan tatapannya memandang sang adik dengan tatapan tak yakin.
Mendapat tatapan seperti itu, Kyuhyun tahu benar apa yang Ki Bum pikirkan. Ia merespon cepat. "aku akan langsung pulang, jangan khawatir!" Ujarnya dan lalu kembali melahap makan siangnya.
Meski sedikit ragu, Ki Bum akhirnya memutuskan untuk mempercayai adiknya.
"tapi ngomong-ngomong Ki Bum-ah, jam berapa kau pulang nanti?"
"entahlah, pertemuannya baru dimulai setengah jam setelah bel pulang. Mungkin sekitar pukul enam."
.
.
"kau sungguh tak bisa? Lalu bagaimana dengan Donghae? Kenapa tidak memberitahuku kalau kalian ada jam pelajaran tambahan? Aish, baiklah aku mengerti. Gwenchana, aku bisa pulang sendiri."
Kakinya menghentak lantai keras, ia mendengus. Tak lupa bibir pucatnya mengerucut sedemikian rupa dan sesekali melontarkan sumpah serapah ciri khas dirinya.
"aish, mana bisa aku makan es krim sendiri, ini memalukan!" gerutunya seraya terus menghentakkan kaki.
Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu, diliriknya arloji dengan model sporty dilengannya. Sekarang baru pukul tiga, "masih ada tiga puluh menit," gumamnya seraya menyeringai dan memainkan sebelah alisnya.
"kau memang cerdas Kim Kyuhyun," pujinya pada diri sendiri sebelum akhirnya mengambil ponselnya yang tadi tergeletak diatas meja kedai es krim dekat sekolahnya tersebut.
.
.
"senang melihatmu disini Ki Bum-ah," ujar pemuda tersebut sembari menepuk bahu seseorang yang ia panggil Ki Bum disampingnya.
Ki Bum tersenyum kecil, "aku juga senang bisa berada disini," tuturnya.
Ia memandang beberapa temannya yang mulai memasuki ruangan, ruangan yang dulu sering mereka gunakan untuk membicarakan mengenai perlombaan dan kegiatan club kedepannya.
Seseorang disamping Ki Bum melempar pandangannya kesetiap penjuru ruangan, ia tengah mencari pengikut Ki Bum. Pengikut Ki Bum sejak mereka dalam kandungan. "oh, ya. Ki Bum-ah, dimana Kyuhyun? Apa ia tak ikut bersamamu?" tanyanya sembari menatap Ki bum.
Ki Bum menggeleng singkat dan menjawab, "tidak, ia sudah pulang bersama Donghae dan juga Eunhyuk," ia balik menatap seseorang disampingnya, "memangnya kenapa Siwon-ah?"
Siwon menggedikan bahunya, namun alisnya bertaut perlahan. Ada yang salah menurutnya, "kau bilang Kyuhyun pulang bersama Donghae dan Eunhyuk?"
Ki Bum mengangguk singkat, "ya, memangnya kenapa?"
"bukannya kelas Donghae dan Eunhyuk ada pelajaran tambahan?" Tanya Siwon memastikan, melihat reaksi Ki Bum, tampaknya anak itu tak tahu menahu mengenai ini. "aku dengar dari Hankyung tadi, karena itu ia juga tidak ikut berkumpul sekarang,"
Remaja dengan bola matanya yang nampak kecoklatan ketika terkena cahaya, ia tampak berpikir. Jika sekarang Donghae dan Eunhyuk masih berada di kelas, lalu dengan siapa Kyuhyun pulang? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Siapa yang akan membantunya jika ia pulang sendiri? Bagaimana jika-
Angan Ki Bum lenyap seketika, ia meraih ponselnya yang bergetar di dalam kantung blazernya. Ya, benda itu yang mengganggu lamunannya.
Dilihatnya sebuah nama tertera disana, secepat mungkin Ki Bum mengangkat panggilan tersebut, "Yeobo-"
"Ki Bum-ah cepat kemari!"
"Kyuhyun-ah, kau dimana?"
"cepat- ya! Pergi kau! Itu kesalahanmu bodoh!"
"Kyu! Kau di-"
"kau yang pengecut!"
"Kim-"
"aku di depan kedai es krim dekat sekolah, Ki-Bum-ah, aku-"
Dan sambunganpun terputus, Ki Bum beranjak cepat dari duduknya. Ia meraih tasnya dan berlari keluar dari ruangan. Tak dihiraukannya panggilan Siwon dan juga teman-temannya yang lain yang melihatnya tiba-tiba berlari kesetanan.
Kyuhyun, anak itu benar-benar membuatnya khawatir, ia bisa mendengar keributan-keributan diujung sambungan sana. Ia mengira Kyuhyun pasti terlibat tawuran kembali. Entah itu disengaja atau tidak, tapi yang terpenting ia harus segera menyelamatkan Kyuhyun.
Ki Bum terus berlari, kakinya ia paksa melangkah lebih cepat dari kemampuannya. Ia harus segera menemukan Kyuhyun.
Dan sekarang sampailah ia didepan kedai es krim dekat sekolah, tak seperti perkiraannya, tempat ini…
Tak ada apapun ditempat ini, semuanya aman dan normal. Lalu kenapa Kyuhyun…
Sebuah suara menyadarkan Ki Bum, seseorang menggedor-gedor jendela kaca kedai membuat Ki Bum menolehkan kepalanya ke asal suara.
Dilihatnya seseorang dibalik jendela yang tengah tersenyum cerah memamerkan deretan gigi putihnya yang tampak manis namun disaat yang bersamaan terasa begitu menyebalkan. Ia tersenyum amat cerah seraya melambaikan tangannya, menyuruh Ki Bum agar datang menghampirinya.
Masih terengah-engah, Ki Bum masuk kedalam kedai dengan kebingungannya.
"duduklah," perintah seseorang yang tadi memanggilnya riang.
Ki Bum menurut, ia duduk perlahan dengan dahinya yang berkerut. Pikirannya yang berkecamuk masih belum dapat menyimpulkan apa yang terjadi, ia masih belum mengerti.
"Ki Bum-ah, kau ingin es krim rasa apa? Coklat?"
"tunggu sebentar, disini tak terjadi apapun?" Tanya Ki Bum balik, mengabaikan pertanyaan Kyuhyun yang tak penting.
Kyuhyun mengangguk membenarkan, ia tetap tersenyum sebelum akhirnya memanggil pelayan dan memesan dua cup es krim untuk dirinya dan juga Ki Bum, membiarkan Ki Bum terdiam memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"bukankah disini, ada tawuran?" Ki Bum bertanya tak mengerti.
Kyuhyun menyeringai untuk menanggapi, "tidak ada, aku hanya ingin kau datang dan menemaniku makan es krim," ucapnya memberi alasan sembari menampakkan deretan gigi putihnya.
Ki Bum diam, tapi kali ini ia mengerti. Sekarang ia mengerti apa yang terjadi, Kyuhyun, dia…
"KIM KYUHYUN!" teriak Ki Bum tiba-tiba, ia berdiri dari duduknya dan mengepalkan tangannya kuat.
Kyuhyun mengkerut takut, ia mengernyit setelah menyadari semua orang memperhatikannya. Bahkan pelayan yang tadi membawa es krim pesanannya sampai menjatuhkan nampan kosong yang ia bawa karena terkejut mendengar teriakan Ki Bum.
"jadi kau berpura-pura terkepung dalam tawuran hanya untuk memintaku menemanimu makan es krim?"
Meski takut, Kyuhyun mengangguk pelan. Kepalanya menunduk dalam dengan wajahnya yang tertekuk.
"Astaga Kim Kyuhyun, kau tahu bagaimana khawatirnya aku tadi? Bahkan aku pergi tanpa berpamitan pada yang lainnya!" Ki Bum menjatuhkan tubuhnya pada kursi, ia mendesah keras dan lalu melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya.
Sungguh, ia tak habis pikir, bagaimana bisa Kyuhyun melakukan ini padanya? Ia berlari dari sekolah kemari seperti orang gila, dan ternyata Kyuhyun membohonginya?
"Donghae dan Eunhyuk harus ikut jam pelajaran tambahan," jelas pemuda itu tanpa berani memandang Ki Bum.
Ki Bum menghela nafas panjang, "lalu?" desaknya pada Kyuhyun.
"tadinya aku ingin mengajak mereka makan es krim disini, tapi karena mereka tak bisa, jadi…"
"kau menghubungiku dan membohongiku," lanjut Ki Bum seraya memutar bola matanya malas.
Kyuhyun tak bisa menyangkal, "tapi pertemuan clubmu masih tiga puluh menit lagi, waktu yang cukup untuk menghabiskan satu cup es krim bukan?"
Lagi-lagi Ki Bum menghela nafasnya, Ya Tuhan. Kenapa adiknya bisa sepolos ini?
Ia alihkan tatapannya pada Kyuhyun yang menatapnya dengan bola matanya yang bulat, seolah dengan tatapannya itu ia memohon agar dikasihani. Seperti anak anjing kecil yang minta di susui.
Ki Bum tak bisa menahan dirinya, kemarahannya sedikir demi sedikit mulai terkikis melihat tingkah Kyuhyun.
Akhirnya ia tersenyum kecil, ia menyerah. Ia tak bisa marah lebih lama lagi.
"lain kali jangan pernah lakukan ini lagi!"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya cepat mendengar peringatan dari Ki Bum. Ia tahu pasti ini yang akan terjadi, Ki Bum akan mengomel awalnya, tapi pada akhirnya ia pasti menyerah.
Memangnya siapa yang bisa tahan melawan puppy eyes Kim Kyuhyun?
"boleh aku ikut kembali kesekolah?" Tanya Kyuhyun sembari melahap es krim coklat yang ada dihadapannya.
Tanpa berkata Ki Bum mengangguk menyetujui permintaan Kyuhyun, membuat Kyuhyun tersenyum senang. Ki Bum pikir itu lebih baik di banding membiarkan Kyuhyun pulang sendirian.
Ya, itu lebih baik. Karena sejujurnya Ki Bum tahu, Kyuhyun punya musuh yang bisa di bilang cukup banyak diluar sana jika melihat perilakunya dulu.
"gomawo, Bum-ah,"
.
.
"hari ini kau ada latihan taekwondo lagi?"
Ki Bum menganggukkan kepalanya seraya memasukkan seragamnya kedalam tas. Tanpa ia sadari seseorang yang berdiri disampingnya menghela napas dan menampakkan wajah sedih.
Kyuhyun menyambar tas punggungnya yang ada diatas tempat tidur dan berjalan meninggalkan kamar tidurnya bersama Ki Bum.
Ki Bum menatap kepergian Kyuhyun dengan alis bertaut. Ada apa dengan anak itu?
.
.
Waktu berlalu begitu saja, Ki Bum yang mulai kembali pada rutinitasnya yang dulu, kini mulai nampak sibuk dengan segala kegiatannya.
Sementara di lain pihak, ia selalu mencoba tersenyum walaupun akhir-akhir ini terkadang ia merasa di abaikan. Kim Kyuhyun, entah perasaannya atukah memang sang kakak ke dua mulai tak memperhatikannya seperti dulu lagi, dan bahkan ia merasa seperti tak dianggap. Ya, terkadang.
"Bum-ah!"
Yang di panggil berbalik, ia menengadahkan kepalanya menatap lurus Kim Kyuhyun sang adik melalui bingkai kaca matanya. "ada apa?"
Kyuhyun tak lekas menjawab, ditariknya kursi yang tepat berada di depan barisan Ki Bum. Mendudukan dirinya dan menangkup dagunya dengan kedua tangannya.
Ia tersenyumm manis seraya mengedip-ngedipkan matanya kearah Ki Bum, Ki Bum hapal betul mengenai setiap gelagat Kyuhyun, dan kali ini ia tahu, Kim Kyuhyun menginginkan sesuatu.
Ki Bum berdecak, ia alihkan pandangannya pada buku yang sejak tadi ia baca. "kau mau apa?" tanyanya tanpa menatap sang adik yang masih terus mengedip-ngedipkan matanya.
Si Bungsu Kim menarik bibirnya keatas, ia tersenyum sumringah karena Ki Bum mengerti dirinya.
"Ki Bum-ah,"
"apa?"
"pulang sekolah, antar aku membeli CD game baru, eoh?"
"jangan hari ini," tolak Ki Bum acuh.
Kyuhyun menarik dirinya, ia tak mengerti kenapa Ki Bum menolak ajakannya.
Alisnya bertaut dengan bibir yang ia majukan, Kyuhyun hendak membuka mulutnya untuk melayangkan protes. Akan tetapi, suara Ki Bum membuat niatnya terhenti.
"Yesung hyung memintaku untuk membantunya mengurus beberapa hal,"
"mengurus apa?" Tanya Kyuhyun tak sesemangat sebelumnya.
"beberapa masalah di organisasi sekolah,"
"tapi kau bukan anggota,"
"ya, tapi dia memintaku membantunya, aku sudah berjanji untuk itu,"
Terdengar helaan nafas Kyuhyun di telinga Ki Bum, jadi ia harus mengalah lagi? Sudah berkali-kali ia mengalah dan mengesampingkan kepentingannya. Tapi untuk kali ini, sekali saja ia ingin Ki Bum mengutamakannya lagi.
"tapi itu limited edition, kemungkinan hari ini akan habis," Kyuhyun menunduk dalam, sungguh, ia benar-benar merasa kecewa.
Ki Bum masih terfokus pada buku yang ia baca, "minta Donghae dan Eunhyuk menemanimu membelinya hari ini, mereka juga sama maniak game seperti mu, bukan?"
Kyuhyun mendengus pelan, ia beranjak dari duduknya, "mereka berdua sudah beli," gumamnya pelan, Ki Bum menolehkan kepalanya kearah Kyuhyun, "apa?" Tanyanya memastikan, karena ia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Kyuhyun katakan.
Kyuhyun berbalik dengan wajah lesu, "tidak apa-apa," lirihnya seraya berlalu meninggalkan Ki Bum.
Dahi Ki Bum berkerut, lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri, ada apa dengan anak itu?
.
.
Kyuhyun berjalan dengan kepala yang terus ia tundukan, terdengar gerutuan mengiringi langkah gontainya. Kakinya terus menendang setiap benda kecil yang ia temui, entah itu kerikil atau kaleng bekas minuman. Ia hanya ingin melepaskan kekesalannya.
Ia terus menunduk tanpa memperhatikan jalanan, hingga akhirnya langkahnya terhenti setelah ia lihat beberapa pasang kaki menghadang langkahnya.
Kyuhyun mendengus, ia angkat kepalanya malas. Sepersekian detik matanya membulat setelah mengetahui siapa orang-orang yang menghadangnya, sebelum akhirnya ia mencoba menetralkan kembali ekspresinya.
Mereka…
"Annyeong Kim Kyuhyun~" sapa salah satu dari mereka dengan suara manis yang terdengar di buat-buat.
Kyuhyun tak lekas menjawab, ia hanya menyeringai dan lalu memutar matanya malas.
Perlahan, tangannya yang sejak tadi terjuntai bebas merangkak menuju saku seragam sekolahnya. Meraih sebuah benda dengan layarnya yang cukup lebar.
Dua orang diantara mereka mulai berjalan kearah samping Kyuhyun, melihat-lihat situasi, memastikan kalau tak ada siapapun selain mereka disana.
"Kim Kyuhyun, kau masih mengingatku?"
Seringaian Kyuhyun bertambah lebar, "mengingatmu? Memangnya siapa kau? Tak ada alasan untuk aku mengingat orang tak penting seperti kalian," ujarnya dengan tatapan dinginnya yang khas.
Orang tersebut membulatkan matanya, seorang pemuda dengan seragam sekolahnya yang berwarna biru tua. "ow, kau sadar, kau sedang berhadapan dengan siapa?" tanyanya dengan tatapan mengancam.
Kyuhyun tak gentar, ia masih tetap menyeringai, "eoh, tentu saja, kau!" tunjuknya tepat di depan hidung siswa tersebut. "anak SMU sebelah," lanjutnya sambil tersenyum manis, "aku hapal betul seragammu,"
Siswa tersebut tampak geram setelah sadar Kyuhyun mempermainkannya, giginya bergemeletuk saling beradu. Wajahnya memerah menahan marah, "ternyata kau cukup berani walaupun hanya sendirian Kim Kyuhyun,"
Kyuhyun masih tersenyum mengejek, sebelum akhirnya ia kembali menyeringai. Meski ia tampak santai, sebenarnya ia mulai waspada, ia mulai menghitung ada berapa orang mereka.
'sialan! Delapan lawan satu? Ini namanya pengeroyokan!'
Tangannya yang berada dalam saku seragamnya mulai menekan layar ponsel yang tampak menyala. Sesungguhnya ia tahu benar, ia butuh bantuan karena ia berada dalam masalah.
"Kim Kyuhyun, kau tahu apa yang terjadi padaku setelah tawuran kita terakhir kali? Karena kau! Aku kehilangan satu gigi depanku dan hampir dikeluarkan dari sekolah!"
Kyuhyun terkekeh cukup keras, "oh, kasian, jadi gigimu itu gigi palsu? Bolehkah aku mencabutnya?"
Amarah siswa tersebut semakin naik, ia benar-benar harus 'menyelesaikan' Kyuhyun, pikirnya.
"Ya! Kalian semua! Serang dia!"
.
.
Ki Bum menatap layar ponselnya yang bergetar, "Kyuhyun?" tanyanya entah pada siapa.
Ia menjawab panggilan tersebut, dan dapat ia dengar beberapa percakapan disana.
"Kim Kyuhyun, kau tahu apa yang terjadi padaku setelah tawuran kita terakhir kali? Karena kau! Aku kehilangan satu gigi depanku dan hampir dikelurkah dari sekolah!"
"oh, kasian, jadi gigimu itu gigi palsu? Bolehkah aku mencabutnya?"
"Ya! Kalian semua! Serang dia!"
Dan setelah itu terdengar teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan, suara benda jatuh dan juga benturan beberapa benda membuat suaranya terdengar bising dan tak jelas.
Alis Ki Bum bertaut, ia menjauhkan ponselnya, menatapnya bingung dan lalu mendengarkannya kembali.
"ada apa Ki Bum-ah?"
Ki Bum mendongak, ia menggelng menanggapi pertanyaan Yesung yang baru saja datang dari arah dapur apartememennya.
"Kyuhyun menghubungiku, tapi sepertinya ia membohongiku lagi," katanya lalu memutus sambungan dan menyimpan ponselnya begitu saja diatas meja.
Yesung tampak bingung, "membohongimu?"
Ki Bum mengangguk, "eoh, sudah beberapa kali ia membohongiku dengan berpura-pura terkepung dalam tawuran. Karena itu, sekarang aku tak boleh tertipu lagi,"
Sang president school sekaligus senior dari Ki Bum tersebut tampak tak setuju dengan tanggapan Ki Bum, "tapi bagaimana jika kali ini sungguhan?"
Deg…
Jantung Ki Bum tiba-tiba terasa sakit, benar. Bagaimana jika Kyuhyun sungguhan di kepung oleh musuh-musuhnya yang dulu?
Namun, cepat-cepat ia gelengkan kepalanya. Tidak, ia yakin kali ini Kyuhyun pasti membohonginya lagi.
"aku yakin dia membohongiku lagi, hyung,"
Akhirnya Yesung menggedikkan bahunya, "baiklah, terserah kau saja,"
.
.
Ki Bum kembali ke rumah setelah menemani sunbae terdekatnya makan malam bersama Siwon yang juga datang membantu ke rumah Yesung. Sebelumnya, tentu saja ia meminta ijin terlebih dahulu pada noona nya, karena itu Ahra noona tak mencarinya.
Ki Bum sampai di pintu masuk kediamannya, "aku pulang!" serunya seraya melangkah menuju ruang utama.
Ahra noona menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat, ia merentangkan tangannya dan memeluk Ki Bum lembut. "naiklah, dan bersihkan dirimu," ujar Ahra seraya melepaskan pelukkannya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke belakang punggung Ki Bum, ia tampak mencari seseorang, "Kim Ki, dimana dia?" tanyanya sembari menautkan kedua alisnya.
Ki Bum tampak tak mengerti, "dia?"
Ahra mengangguk, "Kim Kyu?"
Lagi-lagi Ki Bum tampak tak mengerti, "Kim Kyu? Dia langsung pulang setelah jam pelajaran berakhir, apa dia belum sampai?"
Raut wajah Ahra menampakkan kekhawatiran, ia menggeleng cepat. "tidak, aku pikir dia bersamamu Kim Ki, karena itu aku tak menghubunginya,"
Ki Bum membeku di tempatnya, angannya melayang pada panggilan Kyuhyun beberapa jam lalu. Mungkinkah…
Ki Bum menjatuhkan ransel nya begitu saja, "aku akan mencarinya, noona," setelah itu ia berlari keluar meninggalkan Ahra dengan segala kecemasannya.
'Kim Kyuhyun, kau dimana?'
.
.
Ahra yang berada di rumah menghubungi Leeteuk dan menanyakan tentang Kyuhyun, ia berharap semoga saja Kyuhyun sedang bersama Eunhyuk sekarang. Akan tetapi, harapannya harus pupus begitu saja. Leeteuk bilang, Eunhyuk bahkan tak pergi ke sekolah hari ini karena flu berat.
Jadi sudah pasti Kyuhyun tak bersama Eunhyuk kali ini.
Lalu dimana dia? Dimana Kyuhyun?
"Ahra-ya, tenanglah. Aku akan mencarinya sekarang, tetaplah di rumah! Mungkin saja Kyuhyun akan menelepon ke rumah,"
Ahra tak menjawab, ia mengangguk seraya terisak.
"Ahra-ya?" panggil Leeteuk disebrang sambungan telepon sana.
Kali ini meski sulit, gadis itu mencoba membuka mulutnya. Ia menjawab pelan dengan suaranya yang parau. "ne, oppa…"
"percayalah, Kyuhyun pasti kembali,"
Tangis Ahra semakin keras, ya ia yakin Kyuhyun pasti kembali. Akan tetapi kekhawatirannya tetap tak bisa ia abaikan. Ia sangat khawatir.
.
.
Langit hitam menaungi langkah pemuda berkaca mata dengan dahinya yang mulai berkeringat, sejak satu jam yang lalu ia tak hentinya berjalan dan mengunjungi setiap tempat yang ada kemungkinan Kyuhyun kunjungi.
Menghubungi semua teman Kyuhyun, meminta bantuan teman-temannya untuk membantunya mencari Kyuhyun, ia hanya ingin menemukan Kyuhyun secepatnya dengan cara apappun.
Ki Bum masih terus melangkah sembari mengedarkan pandangannya kesetiap sudut tempat yang ia lewati, tak ada, ia sama sekali tak melihat tanda-tanda keberadaan Kyuhyun.
Sebenarnya dimana Kyuhyun sekarang?
'Drtttt'
Dapat Ki Bum rasakan getaran di ponselnya, nama Ahra Noona tertera disana. Secepat mungkin ia tekan tombol hijau dan menerima panggilan dari sang noona.
Belum sempat Ki Bum mengucapkan sesuatu, suara Ahra langsung meninterupsi pendengarannya.
"Kyuhyun ada di rumah sakit Seoul Ki Bum-ah! Kau dimana sekarang? Noona akan menjemputmu!"
Ki Bum tertegun, rumah sakit? Kenapa bisa di rumah sakit? Apa yang terjadi?
"Kim Ki Bum jawab aku!"
Ki Bum terperanjat, ia tersadar dari lamunannya setelah mendengar teriakan Ahra yang terdengar tak sabar. "aku… aku, aku ada di dekat taman kota noona,"
"tunggu disana! Aku akan datang menjemputmu!"
Dan setelah itu sambungan terputus. Ki Bum berdiri terdiam ditempatnya, tangannya jatuh lemas kesamping tubuhnya.
Angannya mulai kembali melayang, mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Kyuhyun hari ini. Ia sudah tak mempercayai Kyuhyun, mempercayai adiknya. Padahal mereka sudah berjanji satu sama lain untuk saling percaya, tapi apa yang ia lakukan?
Ia telah melakukan kesalahan besar.
.
.
Sunyi, tak ada suara yang terdengar di ruangan dengan cat putih yang mendominasi itu. Mereka berdua, seorang gadis dengan rambutnya yang tergerai dan juga seorang pemuda dengan seragamnya yang tampak masih melekat di tubuhnya.
Mereka berdua hanya terdiam, menatap lurus seseorang yang tengah tertidur diatas pembaringan dihadapan keduanya. Seseorang dengan kulit pucatnya dan juga beberapa luka lebam di sekujur tubuhnya, ia masih memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, sejak mereka datang ke tempat ini.
"Kim Ki, istirahatlah, kau pasti lelah karena tak sempat istirahat tadi,"
Yang di panggil hanya menggeleng untuk menanggapi, mana bisa ia istirahat disaat seperti ini? Tidak, ia tak boleh istirahat sebelum Kyuhyun bangun, tidak boleh.
"Kim Ki," panggil Ahra sekali lagi, kali ini Ki Bum mendongak. Wajahnya tampak kuyu dan ada jejak air mata yang telah mengering di kedua belah pipinya. "istirahatlah,"
Ki Bum menggeleng lemah, bibirnya yang kering sedikit demi sedikit mulai terbuka, hendak mengatakan sesuatu, "tidak bisa, nooa… Kyuhyun seperti ini karena salahku, jadi aku tak boleh istirahat,"
Terdengar helaan nafas Ahra, ia menatap Ki Bum dengan tatapan sedih. Ya, ia sudah tahu semuanya. Tentang Kyuhyun yang menghubungi Ki Bum dan Ki Bum mengabaikannya, ia tahu Ki Bum pasti merasa bersalah karena hal itu.
Apa lagi, sejak ia memberitahukan keadaan Kyuhyun pada Ki Bum. Sejak saat itu, Ki Bum terus diam dan tak mengatakan apapun hingga akhirnya ia mengatakan apa yang terjadi sebelumnya pada Ahra.
Beberapa jam yang lalu, guru di sekolah Ki Bum dan Kyuhyun menghubunginya. Memberitahukan kalau Kyuhyun ada di rumah sakit. Beliau mengetahui Kyuhyun berada di rumah sakit karena pihak rumah sakit menghubungi sekolah setelah melihat seragam yang Kyuhyun kenakan.
Entah siapa orang yang melakukan ini pada adiknya, mereka memukuli Kyuhyun hingga pingsan dan terluka. Dan bahkan mereka meninggalkan Kyuhyun begitu saja dengan membawa tas dan juga handphone Kyuhyun.
Ahra tak habis pikir, apakah adiknya korban perampokan, ataukah ia punya musuh di luar sana?
Oh, ya. Kyuhyun pasti punya musuh dari sekolah lain jika mengingat "track record"- nya di sekolah selama ini. Kim Kyuhyun, Ahra tak tahu harus menyalahkan siapa. Ia mersa ini akibat ulah adiknya sendiri di masa lalu, entahlah, tapi ia meyakini itu.
Intinya, Ahra tak ingin menyalahkan siapapun untuk saat ini. Biarkan Kyuhyun yang mengatakannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi, menurutnya itu adalah pilihan terbaik.
Sekali lagi Ahra menatap Ki Bum, kali ini ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat pada sang adik.
Jemarinya perlahan meraih dagu Ki Bum, mengangkat wajah sang adik yang sejak tadi terus menunduk. Kini wajah sayu itu mendongak, lurus menatap Ahra. "Ki Bum-ii," panggil gadis itu lembut.
Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, menatap bola mata kecoklatan milik Ki Bum. "lihat aku, dan dengarkan aku," ujarnya pelan, Ki Bum mengerjap mendengar nada bicara Ahra yang serius.
"ini bukan salahmu, ini kecelakaan,"
"tapi-"
"aku tak menyuruhmu bicara, aku hanya menyuruhmu untuk melihatku dan mendengarkanku,"
Ki Bum terdiam, setelah Ahra menyela dengan kalimatnya yang tegas. Ki Bum merasa jika ini memang saatnya untuk dia diam dan mendengarkan, bukan untuk bicara.
"ini bukan salahmu, ingat itu! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena aku tahu Kyuhyunpun tak ingin melihatmu menyalahkan dirimu sendiri, ia tak menginginkan itu,"
Jemari lembut Ahra naik, meraba wajah Ki Bum dan mengusap air mata adiknya yang turun begitu saja, "kau percaya pada noona, bukan?"
Ki Bum mengangguk menanggapi pertanyaan Ahra, meski tak mengatakan apapun. Namun ia yakin sang noona tahu bahwa ia tak pernah meragukan Ahra noona.
Senyuman terukir kecil di bibir gadis itu, "bagus! Uri dongsaengdeul memang istimewa," pujinya seraya merangkul kepala Ki Bum dan mengusap lembut puncak kepalanya.
'Kim Ki… Kim Kyu, kalian adalah hidupku, bagian hidupku yang paling istimewa,'
.
.
Cahaya matahari masuk menelusup melalui celah jendela, menerangi seisi ruangan, menghangatkan mereka berdua. Dua orang pemuda yang tidur saling berhadapan.
Salah satu diantara mereka tampak menguap dan sedikip mengusap wajahnya, ia meringis ketika merasakan lebam di wajahnya yang tak sengaja tersentuh oleh jemarinya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya perlahan dan memandang sekitar.
'putih, dimana ini?'
Raut wajahnya menampakan kebingungan, ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi hingga akhirnya ia berada disini. Ia menggali ingatannya yang terakhir dan…
Terdengarlah helaan napasnya setelah ia ingat apa yang terjadi.
Kali ini ia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari seseorang yang mungkin bisa menceritakan kenapa ia bisa sampai disini, dan siapa yang membawanya kemari. Ke rumah sakit, ya, ia yakin tempat ini adalah rumah sakit.
Pemuda tersebut menolehkan kepalanya kesebelah kanan, namun tiba-tiba bola matanya membulat setelah menemukan seseorang yang tertidur dalam posisi duduk dan juga kepala yang berada diatas tempat tidurnya.
Wajah orang itu tepat menghadapnya, seseorang dengan hidung dan juga bulu matanya yang lentik persis seperti miliknya.
Perlahan ia miringkan tubuhnya menghadap orang tersebut, ia tersenyum kecil setelah menemukan beberapa bagian wajah mereka yang nampak sama.
"Wow, sepertinya kita memang benar-benar kembar Kim Ki Bum," bisiknya seraya tersenyum kecil.
Namun setelah itu seseorang yang sejak tadi ia tatap perlahan mengerjapkan matanya, sedikit demi sedikit ia membuka mata, mencoba menetralkan cahaya di luar sana dengan matanya.
"selamat pagi hyung~" sapanya sembari tersenyum manis.
Yang disapa sekali lagi mengerjap, ia tampak masih diambang kesadarannya.
"Ya Kim Ki Bum! Kau pemalas," kali ini pemuda tersebut mencoba mengejek Ki Bum yang masih tetap belum sadar sepenuhnya.
"Kyu… Kyuhyun-ah…"
Kyuhyun tersenyum, ia menarik tubuhnya ke posisi duduk. "ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Kyuhyun menatap ekspresi Ki Bum yang kaku.
"kau…"
"apa?"
Ki Bum tak mengatakan apapun, tiba-tiba saja air matanya menetes begitu deras di kedua belah pipinya. Membuat Kyuhyun melongo dan tak mengerti. "Ya! Ya! Kim Ki Bum! Ada apa? Kenapa kau menangis, huh?"
Tangisan Ki Bum tak kunjung berhenti, ia masih terus menangis dengan sedihnya membuat Kyuhyun bingung harus melakukan apa.
Meski sulit, sedikit demi sedikit bibir Ki Bum yang bergetar karena menangis mulai terbuka"maafkan aku, Kyuhyun-ah. Kau seperti ini… tidak, andai saja, aku… aku, waktu itu…"
Alis si magnae Kim bertaut, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak mengerti apa yang Ki Bum bicarakan sambil menangis dan terisak seperti itu, ia hanya bisa mendengar kata, 'kau seperti ini', 'andai saja', dan 'waktu itu'. Jadi apa maksudnya?
Pemuda tersebut mencoba memikirkannya, mengingat kembali apa yang terjadi.
Oh, ia mengingatnya. Jadi panggilan yang ia coba lakukan waktu itu berhasil? Inikah yang Ki Bum maksud?
"Ki Bum-ah, apa maksudmu?" Tanya Kyuhyun mencoba memastikan kalau dugaannya itu benar.
Ki Bum mencoba menghentikan tangisnya, sekali lagi ia mencoba untuk bicara meski isakan masih terdengar darinya. "kemarin, andai saja… andai saja aku tidak mengabaikan panggilanmu… andai saja aku mempercayaimu, aku… ini, ini pasti-"
"tidak! Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi Bum-ah, jangan merasa bersalah karena ini bukan salahmu. Ini…" Kyuhyun menggantung kalimatnya, "ini salahku, aku seperti ini karena salahku, andai saja aku tak pernah menjadikan sesutu seperti itu sebagai alasan untuk membohongimu, aku yakin kau pasti mempercayaiku, kau tahu, aku seperti Pinokio yang melakukan kebohongan dan mendapat balasan atas kebohonganku, maafkan aku Bum-ah,"
Ki Bum menggeleng, menolak penuturan Kyuhyun, "tidak, ini salahku, andai saja aku tak sibuk dengan kegiatanku, kau pasti takkan pernah berbohong seperti itu,"
Kyuhyun menghela napas, sungguh sulit sekali mengubah pendirian Kim Ki Bum, tapi ia tak boleh menyerah. Ki Bum harus percaya kalau ini bukanlah salahnya.
"Ya! Kim Ki Bum! Ini bukan salahmu mengerti? Ini…" sekali lagi Kyuhyun menggantung kalimatnya, ia mencoba memikirkan kira-kira apa yang bisa ia lakukan agar perhatian Ki Bum bisa teralihkan pada hal lain, sesuatu yang bisa membuatnya tertarik. "ini karena tawuran yang aku lakukan terakhir kali, kau ingat?"
Ki Bum mengangguk pelan.
"kau tahu? Park Young Joon?"
Sekali lagi Ki Bum mengangguk, "eoh, dia pemimpin sekolah sebelah, musuhmu,"
"kau benar! Dan sebenarnya dialah yang melakukan ini padaku," bisik Kyuhyun pada kalimatnya yang terakhir. Mendengar itu Ki Bum terbelalak.
"jadi Park Young Joon?!" Tanya Ki Bum mulai emosi, Kyuhyun menganggukkan kepalanya mantap. Dengan cepat Ki Bum berdiri dan hendak melangkahkan kakinya sebelum akhirnya jemari Kyuhyun mencekal pergelangan tangannya.
"kau mau kemana, Ki Bum-ah?"
"mau kemana lagi? Tentu saja membalasnya!"
"apa?" pekik Kyuhyun panic, secepat mungkin ia tarik lengan Ki Bum hingga sang hyung kembali terduduk.
Alis Ki Bum bertaut tak mengerti, "apa yang kau lakukan?" tanyanya tak sabaran.
"ya! Kalau kau membalasnya nanti kau bisa di skors!"
"aku tak peduli!"
"Ya! Jangan lakukan itu! Justru aku menganggap kalau sekarang kami impas,"
"impas?"
Sekali lagi Kyuhyun menganggukkan kepalanya mantap, "eoh, kau tahu apa yang terjadi padanya setelah tawuran terakhir kali?"
Awalnya Ki Bum nampak enggan menanggapi, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun, "apa?"
"dia, hampir di keluarkan dari sekolah!" cerita Kyuhyun bersemangat di selingi dengan tawa dan juga smirk nya yang terkenal.
Namun Ki Bum tak banyak merespon, "kau juga seperti itu," ujarnya ringan.
Kyuhyun tampak berpikir, oh ya, ia juga hampir di keluarkan waktu itu. Jadi apa bedanya?
"o, eoh kau benar, hehe… tapi-" Kyuhyun mengingat sesuatu yang mungkin bisa membuat Ki Bum melupakan balas dendamnya pada Young Joon. "kau tahu?"
"apa lagi?" Tanya Ki Bum setngah berteriak, ia benar-benar ingin segera menemui Park Young Joon dan membalas apa yang telah ia lakukan pada adiknya.
Sementara itu, Kyuhyun menatap Ki Bum antusias, smirk-nya kembali mengembang indah, "dia, Park Young Joon, kau tahu? Dia kehilangan gigi depannya karena pukulanku!"
"Mwo? Kau serius?" Tanya Ki Bum tertarik dengan apa yang baru saja Kyuhyun katakan.
Kyuhyun mengangguk cepat, "tentu saja! Dia sendiri yang mengatakannya!"
"wah, kau hebat bisa merontokkan gigi seseorang!"
"kau sendiri yang mengajariku cara memukul yang benar! Dan saat itu aku mempraktekkannya,"
"mwo? Bukankah aku sudah bilang kau tidak boleh menggunakan pukulanmu begitu saja!"
"tapi aku sudah terjepit waktu itu! Kalau tidak begitu mungkin yang hilang bukan giginya, tapi gigiku Ki Bum-ah!"
"kau benar juga,"
Perbincangan antara keduanya terus berlanjut dengan seru, sementara tanpa mereka sadari seseorang berdiri di balik pintu dan mendengarkan percakapan mereka berdua seraya tersenyum bahagia.
"kalian berdua, memang istimewa, Kim Ki, Kim Kyu," gumamnya pelan.
End atau Lanjut?
