HARRY POTTER belongs to
EMERALDIA belongs to Farida Lil Safana
PAIR is Draco x Harry (Drarry)
Prev Chapter~
Sirius duduk di samping Emeraldia sambil menutup perban yang ada di lengannya.
"Kau sudah kembali Harry?" lirih Sirius pelan.
Emeraldia menatap Sirius meminta jawaban.
"Kami terluka dihutan, dan kau tidak perlu cemas. Ia akan baik-baik saja," ujar Sirius lembut.
Emeraldia menggeleng dan langsung berlari kearah sisi kasur Hagrid.
"Apakah binatang buas menyakitinya? Siapa yang menyakitinya? Katakan padaku! Apa Leon? Atau Snarkey? mungkin saja Bearly?" tanya Emeraldia menyebutkan seluruh nama temannya.
Sirius menatap Emeraldia dengan tatapan takjub.
"Wow. Aku tidak menyangka jika kau memiliki teman hewan buas sebanyak itu. Eraldia, atau Harry?" tanya Sirius tajam.
Emeraldia membuang wajahnya kesal saat sadar ia menyebutkan nama teman hewan buasnya. Padahal Sirius telah melarangnya untuk tidak mendekati hewan buas.
Sirius tertawa pelan saat melihat tingkah Emeraldia.
"Kau cocok menjadi seorang Putri," gurau Sirius.
Emeraldia menatap tajam kearah Sirius.
"Perlu kuingatkan sirius. Aku laki-laki tulen," balasnya kesal.
Sirius tertawa pelan tidak mempedulikan balasan itu.
Bagaimanapun juga Emeraldia membuat saraf tegangnya mengendur seketika. Bagimanapun juga ia merasa tenang saat ini, setidaknya 1 musuh telah dikalahkan tanpa sepengetahuan sosok dihadapannya.
The Next Chapter~
Narcissa memeluk tubuh Draco dengan erat seakan ia tidak pernah bertemu dengan anaknya selama ini. Draco yang dipeluk oleh Narcissa meronta pelan karna hampir kehabisan napas.
"Draco bisa mati jika kau terus memeluknya. Cissa," ujar Lucius dingin.
Narcissa melepaskan pelukan itu dengan enggan. Sambil mengatakan 'Maaf'
"Maafkan aku. Dad. Mom," lirih Draco pelan karna telah membuat mereka cemas.
Lucius mengangguk.
"Kami mengerti. Kau tersesat sekaligus mencari tau tentang hutan itu bukan?" tebak Lucius.
Draco mengangguk.
"Seperti dugaanku. Dad, Hutan itu terlindungi oleh sihir. Sehingga sulit orang-orang akan masuk kedalam hutan lebih dalam," jelas Draco.
Narcissa menatap tajam ke arah Lucius.
"Jangan bertanya hal yang aneh lagi! Lucius. Biarkan Draco beristirahat hari ini," ujar Narcissa lalu membawa Draco kedalam kamar.
Lucius menghela napasnya pelan. Ia tidak dapat menghalangi perbuatan istrinya sendiri. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Draco tentang hutan itu.
"Mom. Apakah Hagrid memiliki seorang anak perempuan?" tanya Draco tiba-tiba.
Narcissa tertawa pelan.
"Hagrid belum menikah. Son," ujar Narcissa.
"Tapi, aku bertemu dengan seorang gadis seusiaku saat di gubuk tua itu," ujar Draco pelan.
Narcissa tersentak pelan. Ia terkejut dengan perkataan Draco, Hagrid tidak memiliki anak karna belum menikah. Dan hutan itu tidak mungkin Hagrid membawa siapapun masuk kedalam hutan yang berbahaya.
"Kau yakin? Son, mungkin kau bermimpi," tanya Narcissa kembali.
"Aku yakin. Mom, ia mengajakku ke harta karun hutan itu yang ada di tengah hutan, di sana ada air terjun yang indah," ujar Draco.
Narcissa berpikir sebentar. Tidak ada yang bisa masuk lebih jauh ke dalam hutan itu dan Narcissa menganggap jika itu semua hanyalah mimpi Draco.
"Baiklah. Son, kau harus beristirahat sekarang!" perintah Narcissa lembut saat tiba di depan kamar Draco.
Baru saja Draco ingin memprotes. Namun ia urungkan kembali niatnya, ia tidak dapat mengatakan apapun lagi jika ibunya saja tidak percaya padanya.
"Baiklah. Mom," jawab draco lelah dan masuk kedalam kamarnya.
Narcissa tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya ke arah Lucius.
~Emeraldia~
Emeraldia menatap Sirius seakan meminta jawaban yang pasti padanya. Namun, bukan Sirius namanya jika ia tidak dapat membuat sebuah kebohongan kecil pada sosok yang sudah dianggap ponakannya.
"Kami terjatuh dan terluka. Dan hewan buasmu yang kau anggap teman-temanmu tidak menyerang kami," jelas Sirius.
Perkataan Sirius memang ada benarnya. Jika hewan buas yang disebutkan gadis dihadapannya tidak menyerang mereka berdua melainkan membantunya.
Membantu melawan penyusup yang berhasil melewati perbatasan hutan yang sudah diberi mantra sihir oleh Hagrid, Severus dan dirinya sendiri.
Pantas saja Sirius merasakan jika perlindungan sihir hutan itu mulai menipis. Sehingga dengan siaga ia langsung berlari dan melawan penyusup itu.
Dan benar saja, penyusup itu adalah salah satu penghianat yang melakukan pemberontakan pada kerajaan Emeraldia.
"Sirius. Apakah Hagrid akan baik-baik saja?" tanya Emeraldi cemas.
Sirius tersenyum sambil mengangguk.
"Tentu. Hagrid adalah sosok yang kuat lebih dari yang kau tau," jawab Sirius yakin.
Sirius beranjak dari duduknya lalu mencari ramuan yang dapat ia pakai untuk pengobatan Hagrid.
Sirius menatap terkejut kearah rak penyimpanan itu. Tidak ramuan untuk penyembuhan jika terkena sihir hitam.
Meneguk ludahnya sulit, Sirius membuka buku yang ada didekat penyimpanan itu dengan tatapan horor. Ia tidak pernah membuat ramuan sebelumnya.
Bahkan saat melihat deretan text yang menjelaskan pembuatan ramuan itu sendiripun membuat kepala Sirius pusing tujuh keliling.
Perlahan ia memotong bahan-bahan itu sesuai dengan petunjuknya. Dan memasukkan bahan-bahannya kedalam kuali besar di atas kompor.
Mengaduk ramuan itu perlahan. Namun tidak butuh waktu lama, kuali itu meledak dengan menimbulkan asap yang mengepul memenuhi segala ruangan. Ia tidak dapat membuat ramuan dengan benar.
~Emeraldia~
Pagi harinya. Seperti biasa, setelah Draco rapih dan menyelesaikan sarapannya. Ia akan ke perpustakaan dan seharian di sana, tenggelam dengan buku-buku tebal di meja.
"Draco. Setelah ini kau ke ruang keluarga!" perintah Lucius.
Draco ingin membantah. Namun ia urungkan niatnya dan mengikuti lerintah ayahnya.
Dengan malas ia berjalan ke arah ruang keluarga tengah di mana pertemuan keluarga sering sekali dilakukan di sini.
Pelayan membukakan pintu itu.
Draco kembali teringat saat kecil dulu. Ibu dan Ayahnya memaksanya untuk bertemu dengan sahabat baiknya.
Keluarga Potter. Saat itulah Draco dan Harry bertemu untuk pertama kalinya.
Namun, saat ini yang dilihatnya bukanlah Keluarga Potter. Melainkan keluarga Greengraas.
Hanya senyuman anggun yang ditampilkan dari gadis itu layaknya seorang bangsawan pada umumnya.
Astoria dan Daphne.
Memang mereka bukanlah berasal dari keluarga kerajaan seperti halnya seorang Malfoy ataupun Potter, tapi keluarga mereka adalah keluarga bangsawan yang terpandang dan terhormat.
Tidak ada larian kecil di sana, Draco sempat memakin dalam hatinya. Tidak mungkin bukan?
Ada yang memiliki sifat polos dan selugu Harry?
Memang, awal mereka bertemu. Harry langsung berlari kearahnya dan mengulurkan tangan padanya, menyebutkan namanya lalu membawanya bermain keluar istana.
"Draco. Kau datang?" tanya Narcissa lembut.
Draco mengangguk lalu duduk di samping Ibunya.
"Perkenalkan Ini Astoria dan Kakaknya Daphne. Ibu harap, kalian bisa berteman dengan baik," jelas Narcissa.
Draco menangkap maksud dari perkataan sang Ibu.
"Aku ingin ke perpustakaan," ujar Draco tiba-tiba.
Narcissa menatap ke arah Draco dengan tatapan terkejut, begitupun dengan Lucius.
"Kembali duduk! Son," perintahnya tajam.
Draco menulikan pendengarannya dan terus berjalan ke arah pintu.
"Apakah perpustakaan itu menarik?" tanya Astoria dengan memberanikan diri.
Draco terdiam sebentar lalu menatap ke arah gadis itu. Narcissa sempat berpikir jika Draco akan mengubah niatnya ke perpustakaan.
"Tempat yang membosankan. Lagi pula hanya satu orang yang akan betah masuk ke sana," ujar Draco dingin dan langsung melanjutkan langkahnya ke perpustakaan.
Narcissa dan Lucius tau siapa orang itu, yang betah di dalam perpustakaan berdua dengan Draco.
Saat Draco sedang diberi pelajaran yang menumpuk. Sosok itu akan ada disampingnya, menemaninya dan menunggunya hingga terlelap dipangkuan Draco itu sendiri.
Narcissa awalnya berniat untuk menjodohkan Draco dengan Astoria ataupun Daphne. Bagaimanapun juga ia tidak ingin melihat anaknya terus terpuruk dalam kesedihan seperti saat ini.
Tanpa sadar Narcissa sejak tadi berjalan ke arah perpustakaan. Pelayan membuka pintu itu dan mempersilahkan Narcissa masuk.
"Son," panggil Narcissa lembut sambil berdiri di samping tempat Draco duduk.
Hening.
Narcissa melihat ke arah buku yang sedang dibaca Draco dengan sendu. Ia ingat jelas buku itu, buku yang selalu dibacakan Draco untuk Harry dikala Harry terbangun saat malam hari.
Sudah menjadi kebiasaan Harry akan terbangun tengah malam dan tanpa sengaja membangunkan Draco.
"Ini demi kebaikanmu. Son," lirih Narcissa lembut.
Draco hanya menatap kosong.
"Tidak ada yang bisa menggantikannya. Mom," balas Draco dengan suara tercekat.
Narcissa memeluk Draco erat.
"Kali ini saja. Mom tidak sanggup melihatmu seperti ini,"
Tanpa sadar Draco mengangguk setuju. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya lebih cemas dan sedih lagi karna perbuatannya.
Tinggal menunggu esok. Untuk melakukan pesta pertunangannya.
'Maafkan aku Arry,'
Tbc~
(Maaf jika terjadi kesalahan kata/typo dalam penulisan cerita)
~Farida Lil Safana~
