Lost In Nightmare kembali hadir di hadapan anda semua!
Semoga 'Nightmare 7' ini tidak mengecewakan kalian, karena kondisi saya dalam mengerjakan 'Nightmare' ini belum
fit kembali dari ritual pingsan mendadak ku. #Hopeless

Saat 'Nightmare 6' minggu kemarin di update banyak bertanya, "apa isi dari lukisan yang Sai gambar?"
Pertanyaan itu membuat diriku penasaran sendiri, akhirnya aku pun ber-inisiatif untuk menggambar lukisan Sai yang sudah tergambarkan di dalam kepalaku, dan hasilnya akan aku deskripsikan di 'Nightmare' mendatang yang lainnya.

Tidak panjang lebar lagi...

Douzo!

.

.

Don't Like Don't Read (DLDR)

.

.

.

.

© NARUTO
SasuSaku fic

.

.

Disclaimer :
Masashi Kishimoto

.

.

Story:
L
O S T I N N I G H T M A R E
Huicergo Montediesberg™
("This story is MINE")
("I'm just borrow the character from Kishimoto-sensei")

.

.

Genre:
Romance, Horror, Mystery, Crime

.

.

Rated:
T – M

.

.

Warning(s):
GaJe, Abal-abal, Miss Typo(s), OOC, OC, Sampah, EyD dan Diksi ancur, Tidak berbobot, and Many More

.

.

Read and Enjoy it

.

.

NIGHTMARE 7

That Nightmare Will Begin Now

Perjalanan yang panjang pun kembali mereka tempuh selama beberapa jam lamanya. Dua sampai tiga kali peristirahatan pun mereka jalani dengan senang hati.

Tidak terasa sumber cahaya alam pun bersinar lemah. Sinar matahari yang tadinya sangat terang benderang disertai dengan hantaran panasnya yang dapat membakar –bahkan menembus kulit manusia yang rapuh, secara perlahan cahayanya memudar dan berubah menjadi warna orange yang dapat membuat mata terpukau atas ciptaan Tuhan yang luar biasa hebatnya.

Laki-laki berambut seperti nanas yang –kita kenal bernama Nara Shikamaru- sedang memperhatikan sang raja cahaya yang mulai menghilang dari pandangan, akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sejak lama ia pikirkan di dalam otaknya yang mempunyai IQ lebih dari 200 yang tidak terlalu ia banggakan itu.

Shikamaru membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan teman-temannya yang berada tepat di belakangnya. "Saa, minna! Kita akan bermalam disini." Matanya berkeliling melihat keadaan di sekelilingnya. "Ku rasa… ini adalah tempat yang cukup luas dan pas untuk kita beristirahat menunggu pergantian hari." gumam Shikamaru dengan suara yang lumayan jelas sehingga dapat didengar oleh temannya yang lain.

"Yosh, saa! Akhirnya kita akan tidur disini!" Tangan Naruto menjatuhkan semua barang bawaannya yang bisa dibilang berat itu dan mulai merenggangkan otot-otot yang melekat pada tubuhnya.

"Hhhh… melelahkan sekali perjalanan ini," Ino melirik Sakura yang berada di belakangnya, "Apa lagi bersama gadis pink yang menyebalkan." gumam Ino dengan senyum meremehkan.

Gadis yang dimaksud pun mulai merasa tersinggung dan membalas, "Apa salahku Ino? Bukankah tadi sudah jelas akhir permasalahannya? Aku dan Sasuke itu tidak-" Belum Sakura menyelesaikan perkataannya, Ino memotongnya. "Halah… mana ada 'maling' mengaku?" cibir Ino sambil membalikkan badannya hingga dapat melihat Sakura.

"Woi! Sudahlah… kalian ini mau beradu mulut sampai kapan? Ino, kau juga salah… tiba-tiba saja kau bersikap seperti itu kepada Sakura... Ada apa denganmu?" lerai Sai dengan muncul ditengah-tengah mereka dan merentangan kedua tangannya. Bermaksud memisahkan.

Mendengar perkataan Sai yang seperti membela Sakura secara tidak langsung, Ino mulai naik pitam. "Kenapa selalu aku yang salah? Kenapa selalu dia yang dibela?" Suaranya meninggi, "Memangnya apa keuntungan dan bagusnya membela wanita seperti dia?" Jari telunjuk Ino mengancung tepat di depan mata Sakura.

Hati Sakura merasa perih dan sakit, dikatai oleh Ino –teman baiknya –seperti itu membuat pelupuk mata Sakura mulai dibeningkan oleh air mata. "A-a-aku…" Isakkan tangis yang berusaha ia tahan mulai terdengar keluar dan ditangkap oleh gendang telinga setiap orang yang berada di tempat yang sama.

Sasuke yang sudah tidak tahan dengan permasalahan itu pun mulai geregetan, dan…

GREP!

Sasuke memegang pergelangan tangan Ino dengan sangat kencang dan erat, sehingga membuat sang empunya tangan merasa kesakitan luar biasa hebatnya. "Aaaawwww…! Le-lepaskan! Lepaskan tangan ku Sasuke-kun… S-sakit…" rengek Ino yang sekarang dapat dilihat sedikit dari air matanya mulai memenuhi pelupuk matanya.

Sasuke tidak bergerak dalam posisinya, melainkan semakin mempererat cengkraman tangannya di tangan Ino. Membuat raungan Ino semakin menjadi-jadi dibuatnya.

Sakura yang tadi hanya bengong melihat ulah Sasuke yang bisa dibilang sangat gesit, sekarang mulai tersadar dari alam sadarnya. "Sa-Sasuke, sudah, lepaskan Ino…" mohon Sakura kepada Sasuke dengan sangat.

Beberapa detik kemudian Sasuke menoleh kepada Sakura yang berada persis disisinya. "Kau tidak marah telah dibentak olehnya?" ucap Sasuke kepada Sakura karena kepolosannya yang sangat terlalu.

"Sasuke, lepaskan Ino! Jangan berbuat onar disini!" bentak shikamaru yang sedari tadi sudah geram dengan adegan yang terpampang jelas di depan matanya ini.

Bukan sulap, bukan sihir. Dalam sekejap, Sasuke melapaskan eratan tangannya di pergelangan Ino dengan hentakan keras ke bawah. Lihatlah Sasuke, kau membuat tato alami berwarna merah –ralat, berwarna biru –di pergelangan tangan perempuan itu. Puas 'kah kau?

Sai menghela nafas panjang sambil menyengir tidak jelas. "Wow, Sasuke! Kau bisa saja mematahkan pergelangan Ino tadi. Itupun jika kau mau." Sai terkekeh kecil setelah menyudahi kalimatnya.

Naruto berjalan mendekat ke arah Sasuke, Sakura, dan Ino berada. "Kau tahu, Ino? Kau tidak perlu berkata dengan nada yang memekakkan telinga kepada Sakura. Kau 'kan tahu kalau Sakura itu perasaannya mudah tersinggung," Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Jangan bilang kau lupa bahwa Sakura berasal dari fakultas musik, Hm?" Matanya memandang rendah Ino.

"Su-sudah, Naruto-kun… jangan memperpanjang kejadian yang tadi," lerai Hinata dengan suara kecilnya dari kejauhan.

"Sudahlah, kawan… bagaimana kalian semua berbagi kelompok dan tugas? Naruto, Sasuke, dan Sakura mencari ranting di pohon atau kalau bisa carilah ranting yang sudah jatuh dari pohonnya, nanti kita akan menggunakan ranting tersebut untuk api unggun kita." Iris Shikamaru memperhatikan Ino, Sai, dan Hinata secara bergantian. "Sedangkan kalian… membantuku mendirikan tenda yang akan kita tempati selama semalam nanti."

Shikamaru mendongakkan kepala untuk melihat langit yang suah berubah menjadi orange, pertanda sinar matahari akan menghilang dari pandangannya. "Sebentar lagi sudah mulai gelap." Shikamaru kembali menatap teman-temannya yang sedang tertegun melihat tingkahnya. "Cepat! Sudah mulai gelap tahu!"

Nada suaranya yang menggelegar menyelundup masuk ke setiap pasang telinga yang ada. Akibatnya, mereka semua langsung menggerakkan badannya untuk beraktifitas sesuai dengan apa yang diperintahkan ketua Shikamaru, sang pemimpin mereka dalam kegiatan hiking ini.

Sakura dan Sasuke berjalan mendekat ke arah Naruto untuk berkumpul, meletakkan semua barang bawaan, dan Sasuke bergegas mengambil sebuah kapak yang berada dalam barang bawaan Naruto, lalu dengan secepat mungkin beranjak dari tempat perkumpulan menuju ke daerah hutan sekitar yang lain.

Ino, Hinata, dan Sai segera mendekati Shikamaru yang sedang mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang akan digunakan nanti dalam membangun tenda-tenda.

Dan… mereka semua pun sibuk dalam kegiatan mereka masing-masing.

.

+++~Lost~+++

.

Suara hewan malam mulai bermunculan untuk menyambut sang dewi malam menggapai tahtanya. Tidak hanya hewan malam saja yang sibuk dengan kegiatannya. Ketujuh anak manusia yang sedang bersenang-senang juga ikutan sibuk dengan kegiatan santai mereka.

Mereka bersenang-senang disekeliling api unggun yang menyala sangat besar dan terang, serta membuat hangat orang-orang yang berada disekelilingnya.

Saya akan jelaskan kegiatan mereka satu-satu. Naruto sedang bernyanyi-nyayi tidak jelas dengan suara yang sangat lantang. Tambahan, dan sedikit false di beberapa bagian, tentunya.

Di samping kanan Naruto ditemani oleh Sai yang serius berkutat dengan buku sketch ukuran A5 dengan sebuah pensil 2B yang menggoresi kertas putih polosnya, dan pastinya tidak ketinggalan dengan penghapusnya. Hei, Sai… bahkan dalam kegiatan hiking pun kau tidak bisa lepas dari peralatan menggambarmu.

Di sebelah kanan bagian api unggun terdapat Ino yang sedang asyiknya berceloteh ria, dengan Hinata disebelah kirinya yang sepertinya mau tidak mau harus mendengarkan 'bacot' teman disebelah kanannya itu.

Arah Timur Laut ditempati oleh ketiga insan yang tidak ada kerjaan, yakni Sasuke yang sedang duduk bersila seraya melekatkan jari-jari kedua tangannya yang ia letakkan diatas kakinya yang bersila.

Sakura. Dia berpose galau dengan menekuk kedua kakinya ke atas dan kedua tangannya memeluk kakinya yang ia tekukkan, serta kepalanya ia letakkan di atas lututnya, menerawang jauh ke dalam api unggun yang berkobar.

Lalu, Shikamaru… tanpa diberi tahu pun sepertinya kalian juga sudah pada tahu, ya? Tidak lain, tidak bukan, dan tidak salah lagi, ia membaringkan tubuhnya yang selalu merasa lelah itu dihantaran tanah hutan yang tertutupi tumpukan daun kering berwarna coklat yang telah jatuh tertiup angin dari pohonnya.

Jika diperhatikan secara saksama mereka bertiga tampak sedang membicarakan pembicaraan yang ringan. Berhubung ini pairing SasuSaku… So, kita dengarkan saja apa yang mereka bicarakan. Yah, lebih baik daripada mendengarkan celotehan Ino yang panjang kali lebar kali tinggi dan tiada batasnya itu.

Hening. Diantara mereka masih belum ada yang membuka pembicaraan satu sama lain. Sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Tidak termasuk suara teriakan Naruto yang tidak jelas itu.

"Hm… Shikamaru, kenapa Ino marah sekali padaku, ya? Memangnya salahku itu apa sih?" Sakura masih menerawang jauh ke dalam api unggun.

Shikamaru membuka matanya sedikit untuk melihat Sakura dan kembali memejamkan matanya. "Kau tidak salah. Mungkin Ino nya saja yang sedang jelek mood nya."

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bagian pucuk kepala Sakura. "Sudahlah… kau tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak perlu kau memikirkannya, nanti juga kalian berbaikkan lagi… ya?" Sasuke mencoba untuk menenangkan hati Sakura yang berkecamuk tidak jelas itu.

Pada akhirnya, usaha Sasuke membuahkan hasil yakni muncullah seulas senyuman tipis di bibir Sakura. "Arigatou, Sasuke… Shikamaru."

Ucapan Sakura membuat kedua pria disebelah kiri dan kanannya tersenyum. Shikamaru tersenyum sambil tetap memejamkan matanya, sedangkan Sasuke tersenyum kecil sambil masih menggerakkan tangannya di atas kepala Sakura. Bukan ditepuk-tepuk melainkan telah berubah menjadi sebuah elusan tangan yang lembut.

Tanpa mereka sadari, sepasang iris mata berwarna Aquamarine memandangi adegan tersebut dengan tatapan tidak suka. Ralat, sangat tidak suka.

.

+++~Lost~+++

.

Waktu terus berjalan tanpa mengenal kata 'henti' di kamusnya. Tanpa terasa lolongan sang Serigala menghiasi indahnya malam yang berubah menjadi suasana yang mencekam. Coba bayangkan, mereka sekarang tengah berada ditengah-tengah hutan yang ditumbuhi oleh tanaman yang lebat, gelap pula.

Mendengar lolongan Serigala tersebut, Shikamaru langsung terbangun dari tempat berbaringnya dan segera mengecek jam arloji yang berada di tangan kirinya. 'Sudah pukul sepuluh malam.', pikir Shikamaru dalam hati.

"Teman-teman, lebih baik sekarang kita tidur agar besok pagi tidak telat bangun untuk melanjutkan perjalanan!" seru Shikamaru memerintahkan teman-temannya yang masih semangat dalam melakukan kegiatan mereka.

"Yah… padahal aku masih ingin mengobrol panjang lebar dengan Hinata… Benar 'kan Hinata?" tanya Ino kepada Hinata yang tentunya hanya dijawab dengan sebuah anggukan yang terlihat sangat terpaksa.

"Hhh… itu 'kan bisa dilanjutkan besok hari," gumam Shikamaru dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Kalian bebas memilih tenda mana yang akan kalian pakai. Maksimal satu tenda dua orang."

Seluruh pasang mata melihat keempat tenda yang sudah terpasang, dan langsung memilih teman satu kelompoknya. Ino dengan Hinata, Sai dengan Shikamaru. Sedangkan sisanya…

"Teme! Kita satu tenda, ya?" teriak Naruto sambil mendekat kepada Sasuke dan Sakura yang berada disebelahnya, dengan merentangkan kedua tangannya sekan-akan ingin memeluk Sasuke jika ia sudah di dekatnya nanti.

Sasuke bergidik melihat tingkah dan cara berlari Naruto yang menyerupai banci kaleng yang sedang dilanda kisah romansa bergenre dramatis nan lebay. So, tanpa pikir panjang lagi, ketika Naruto hendak memeluk Sasuke yang sudah berada di depan matanya, Sasuke langsung menyerangnya dengan beberapa serangan cepat dan ajaib nan jitu yang mampu membuat Naruto terkepar tak berdaya dengan gaya tidak elit. Pastinya.

"Apa yang akan kau lakukan kepadaku, Naruto?" geram Sasuke yang disertai deathglare sambil menatap Naruto yang sedang terkepar di atas tanah. Bahkan saking geramnya, Sasuke tidak memanggil Naruto dengan nama panggilan 'Dobe'nya melainkan nama aslinya.

Mata Naruto berubah menjadi bening. "Hwaaanggg… Teme, kenapa kau memukulku sekeras itu? Padahal 'kan aku hanya ingin tidur satu tenda denganmu." jawab Naruto seraya memegang kepala dan pipinya yang sakit akibat serangan Sasuke yang hampir tidak terlihat itu.

Sakura, Shikamaru, Sai, Hinata, dan Ino yang melihat adegan kisah-romansa-bergenre-dramatis-nan-lebay hanya ber-sweatdrop ria di tempat mereka sekarang. 'Kisah dramatis yang sangat memprihatinkan', ucap mereka dalam hati.

"Berhentilah mengajakku dengan gaya yang tidak enak dipandang itu. Dan…" secara tiba-tiba mata Sasuke yang tadinya berwarna hitam berubah menjadi berwarna merah dengan tiga tanda koma di sekeliling iris merahnya. "…Apa-apaan kalimat terakhirmu itu, hah?" Perlahan tapi pasti, Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Naruto dengan di kelilingi aura gelap yang hendak mencabik-cabik makhluk malang berambut pirang itu.

Naruto yang melihat Sasuke berjalan mendekat kepadanya dengan reflek menggerakkan badannya mundur ke belakang dalam kondisi masih terduduk di tanah. "Eh… Sasuke, aku hanya bercanda kok… Jangan marah, ya… Peace man! Ok?" Dengan sigap Naruto langsung berdiri dan berlari tertunggang langgang.

Tidak mau 'buruan'nya lepas, Sasuke yang ahli dalam segala bidang termasuk olahraga mengejar Naruto yang telah kabur dari hadapannya dengan berlari secepat kilat. Yang pastinya dengan memasang tampang yang menyeramkan –bagi makhluk malang yang dikejarnya.

Naruto yang berlari dengan sangat kencang sekuat tenaganya, sesekali melihat kebelakang. "Wah! Sasuke, tampang mu menyeramkan!" teriak Naruto sekuat tenaga, walau ia sendiri tahu bahwa usaha berteriak seperti itu tidak akan berpengaruh sama sekali.

Semakin lama, Sasuke semakin dekat dengan Naruto yang sudah berada beberapa centimeter di depannya. Tidak membuang waktu lagi, Sasuke langsung mencengkram kerah baju Naruto dari arah belakang dan menariknya dengan kuat.

"GYAAAA!" teriak Naruto sekuat tenaga dicampur dengan rasa terkejut dan shock berat yang melanda dirinya.

Dengan cepat dan lihai Sasuke langsung membekap mulut Naruto dengan menggunakan kain putih yang diikat ke belakang kepala sang korban, dan tidak lupa untuk mengikat tubuh Naruto yang tidak bisa diam itu dengan tali tambang yang ia bawa di tangannya. Entah dari mana tali tambang itu ia dapatkan dan sejak kapan tali tambang itu berada di tangannya. Author nya sendiri saja tidak tahu.

Setelah selesai mengikat dan membekap mulut Naruto, Sasuke menggotong Naruto dan melemparnya ke dalam salah satu dari empat tenda tersebut, dan menutup tendanya.

Sasuke kembali membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke arah temannya yang lain dengan disertai seringaian puas di bibirnya yang dingin.

"Sa-Sasuke… kau seram sekali sih jika sedang marah…" komen Hinata terhadap perbuatan Sasuke.

"Hn… masa'? Padahal tadi sudah aku kurangi sedikit tenagaku," seringaian Sasuke tetap bertahan di parasnya yang tampan.

"A… ahahahaha…" tawa Ino garing sabil tersenyum sumbing.

"Lebih baik kau hentikan seringaianmu itu…" ucap Sai dengan sedikit takut-takut.

"Dan… matamu." tambah Sakura sambil menunjuk mata Sasuke yang masih berubah menjadi Sharingan, nama dari evolusi mata Sasuke yang awalnya berwarna hitam kelam menjadi berwarna merah yang disertai dengan tanda tiga path berwarna hitam.

"Oh… ya…" balasnya santai. Sadar bahwa matanya masih berwarna merah, Sasuke langsung merubahnya kembali menjadi mata normalnya.

"Hhhh… memang susah ya jadi keturunan klan bergaris golongan darah khusus." ucap Shikamaru lega dan kembali merilekskan tubuh serta otot-otot nya yang tegang sedari tadi.

"Yah… beruntunglah kau tidak sama sepertiku." cetus Sasuke yang sepertinya tersinggung sedikit oleh perkataan Shikamaru.

Menyadari suatu hal dari perkataan Sasuke, Shikamaru langsung mengambil langkah aman tahap pertama. "Maaf, jika perkataanku menyiggung mu. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Ya, ya… aku tahu." timpal Sasuke dengan nada malas.

"Hmmmpphhff… hmphf… hmmpphhff!"

Semua mata tertuju pada asal suara aneh itu berasal. Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto yang telah di bekap oleh Sasuke dan sekarang telah berada di dalam salah satu tenda mereka.

"Aishh… si Naruto itu walau sudah diikat dan dibekap seperti itu oleh Sasuke tetap saja tidak bisa diam." ujar Ino sambil berkacak pinggang.

"Yah… bukan Naruto namanya kalau tahan berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa." sahut Hinata menimpalkan tuturan Ino.

Beberapa detik kemudian mereka semua tertawa ria. Perasaan senang menghiasi aura mereka.

"Jadi… Sasuke, kau ingin satu tenda dengan Naruto?" tanya Shikamaru seraya menatap mata Sasuke yang kelam.

"Hn… tidak. Aku akan satu tenda dengan Sakura." jawab Sasuke dengan watados nya.

Jawaban dari Sasuke membuat semua orang ber-jawdrop ria. Tak terkecuali Sakura.

"K-k-k-ka-ka-ka-kau…" ucap Shikamaru sambil terbata-bata.

Sai berusaha menelan ludahnya sendiri. "haha… Sasuke, kau bercan-"

Belum selesai ia berbicara, Sasuke sudah memotongnya. "Aku se-ri-us."

Hening.

Sasuke menghela nafas panjang. "Kalian ingin aku yang satu tenda dengan Sakura, atau Naruto?" kedua tangannya ia lipatkan di depan dadanya. Menunggu pernyataan dari teman-temannya.

"Kalau pilihannya seperti itu… lebih baik Sakura satu tenda dengan mu daripada dengan Naruto yang tidak bisa dipercaya." tutur Sai singkat dan jelas.

"Tapi, alangkah lebih baiknya jika Sakura tidur sendiri daripada tidur dengan salah satu diantara kalian." protes Shikamaru secara halus yang lebih terdengar menjadi sebuah saran.

Sasuke menelengkan kepalanya ke arah Shikamaru. "Pilihannya hanya dua. Tidak ditambah, dan juga tidak dikurang." ucap Sasuke tegas.

Shikamaru tampak berpikir keras, terlihat dari tingkahnya yang sedang mengernyitkan dahinya. "Baiklah, kalau itu keinginan mu, Sasuke. Sepertinya kau lebih bisa dipercaya daripada Naruto."

"Tu-tunggu, tunggu, tunggu…" Ino merentangkan kedua tangannya ke depan seolah-olah sedang mencari perhatian kaum laki-laki yang sedang berdebat. "Sasuke dengan Sakura? Heh… yang benar saja, Sasuke itu lelaki dan Sakura itu perempuan. Dan…" Ino melihat ke arah kedua orang yang sedang ia bicarakan. "…mereka bukan anak kecil lagi."

"Tenanglah. Aku tidak akan melakukan hal sembrono seperti itu," Sasuke menatap iris Ino. "Kau percaya padaku?"

Semburat merah pun muncul diwajah Ino akibat ditatap oleh Sasuke secara tiba-tiba. "T-tentu saja. Aku percaya padamu." kata Ino dengan ucapan yang di percepat karena berusaha menahan malunya.

"Kalau begitu, tidak ada masalah 'kan?" Iris onyx nya memandang teman-temannya secara bergilir. "Kalau Sakura satu tenda dengan Naruto..." Sasuke mendengus sesaat. "...Aku tidak tahu masa depan Sakura nanti itu jadi seperti apa." ujar Sasuke secara frontal.

Sakura meninju lengan atas Sasuke dengan sekuat tenaga. Yah, sekuat tenaga menurut ukuran Sakura.

"Aaww!"

"Kau tidak boleh berkata yang tidak-tidak tentang Naruto, Sasuke. Bagaimanapun juga Naruto itu juga teman kita dari kecil." Sakura membuang muka dari tatapan Sasuke. "Yah… walau ia sedikit mesum."

Mendengar hal itu Sasuke menahan tawanya yang ingin meledak itu.

"Jangan tertawa, Sasuke." Perintah Sakura yang hanya direspon sebuah anggukan oleh Sasuke.

"Baiklah sudah ditentukan, Sasuke satu tenda dengan Sakura." putus Shikamaru pada akhirnya. "Ayo, cepat kalian tidur! Besok kalian semua akan bangun pagi-pagi sekali."

Mereka semua pun berjalan ke arah tenda yang belum terisi oleh satupun makhluk hidup.

Saat berjalan menuju ke tenda Ino menarik tangan Sakura. "Sakura, aku minta maaf atas sifatku tadi. Sungguh, aku lepas kendali pada saat itu." Kepalanya tertunduk karena perasaan bersalahnya.

Sakura tersenyum mendengar permintaan maaf Ino yang sangat mendalam, menurutnya. "Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu beberapa jam yang lalu."

Ino menganga lebar mendengar jawaban dari Sakura yang sangat baik hati. "Arigatou nee, Sakura." Mulutnya yang menganga lebar berubah menjadi sebuah senyuman yang tulus.

"Un." Sakura mengaggukan kepalanya dan melambaikan tangan ke arah Ino pertanda mengucapkan 'selamat tidur' atau 'sampai jumpa' kepada teman baiknya itu. Dan kembali membalikkan badannya ke arah Sasuke yang sedang berjalan menuju ke arah tenda Naruto berada sekarang.

Tanpa basa-basi lagi Sakura mendekat ke belakang Sasuke dan menepuk punggungnya. "Hei, mau apa kau?" tanya Sakura yang membuat Sasuke sedikit terperanjat dan menenggokkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang menepuk punggungnya itu.

Sasuke menghela nafas. "Ternyata kau. Aku ingin melihat keadaan si Dobe sekarang. Kurasa perbuatanku tadi sudah keterlaluan." ucap Sasuke mengakui kesalahannya. Mendengar pengakuan Sasuke yang tanpa ditanya, Sakura tersenyum dan mengangguk setuju.

Tangan Sasuke bergerak untuk membuka resleting penutup tenda tersebut. Dan… voila! , Naruto tampak tertidur pulas dan mungkin arwahnya sudah pergi entah kemana.

Melihat Naruto yang tertidur begitu pulasnya, Sasuke dan Sakura hanya bisa ber-sweatdrop di tempat. "Kurasa aku menyesal telah mengkhawatirkannya," tutur Sasuke dengan nada penyesalan.

"Hei, kau lupa? Kau telah membekap Naruto sehingga ia tidur dengan kondisi memprihatinkan seperti itu,"

"OK, OK!"

Tanpa diperintahkan Sasuke segera melepaskan ikatan yang berada di tubuh Naruto secara perlahan agar sang korban tidak terbangun dari mimpi indahnya. "Biar kubantu, agar cepat." tawar Sakura dan langsung bergerak membantu membukakan ikatan Naruto secara perlahan juga.

Beberapa saat kemudian Naruto pun terbebas dari ikatan di sekujur tubuhnya dan bekapan di mulutnya. Lalu Sasuke dan Sakura pun menutup tenda Naruto, dan segera kembali ke dalam tenda mereka sendiri dan tidur dengan terlelap.

.

+++~Lost~+++

.

"Nnngghh…" Ino terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba, ia sedikit merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena tidur dengan tidak menggunakan alas yang empuk dan nyaman seperti di rumahnya. Matanya melirik kesamping tempat ia berbaring –melihat jam arlojinya yang ia lepas sebelum tidur. "Baru jam setengah dua pagi? Oh God, kenapa waktu berjalan lama sekali?"

Secara perlahan dan sangat hati-hati, Ino merangkak melewati Hinata yang sudah tertidur pulas di sebelah sisi tenda –yang digunakan sebagai jalur akses masuk dan keluar orang ke dalam maupun keluar tenda –setelah mengambil sebuah senter di ranselnya.

Karena merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di sekitarnya, Hinata tersadar dari mimpi indahnya dan matanya tertuju pada 'sesuatu' yang bergerak itu. "Ino? Kau sedang apa?" Salah satu tangannya menopang tubuhnya yang hendak merubah posisinya yang berbaring menjadi pose duduk seraya mengucek-ngucek kedua matanya.

Ino memberhentikan aksinya sebentar dan menelengkan kepalanya menghadap lawan bicaranya. "Oh, Hinata… maaf ya karenaku kau jadi terbangun dari tidurmu." Salah satu tangannya bergerak untuk menggerakkan resleting tenda hingga terbuka sepenuhnya.

"Kau ingin kemana?" tanya Hinata yang sudah mulai melihat wajah Ino dengan jernih seperti biasa.

Tangan dan kaki Ino kembali bergerak untuk merangkak ke luar tenda. "Aku ingin buang air kecil sebentar." Setelah berhasil keluar dari dalam tendanya, tangannya mulai menggerakkan resleting tendanya kembali.

Sebelum tenda tertutup sempurna, Ino memberi saran kepada Hinata yang padahal ingin menawarkan diri agar dapat menemani teman setendanya itu. "Kau kembali tidur saja, aku akan segera kembali."

Suara langkah kaki Ino perlahan menjauh dari tenda tempat Hinata berada. "Hati-hati, Ino." gumam Hinata sebelum ia kembali membaringkan tubuhnya dan segera melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.

Ino melangkahkan kakinya mantap menuju ke sebuah tenda yang dimana Sai dan Shikamaru berada sekarang. Kakinya berhenti melangkah tepat di depan tenda mereka. Kakinya ia tekukkan agar ia dapat berpose jongkok secara sempurna.

"Shikamaru, aku minta izin ingin buang air kecil, ya?" pinta Ino dengan sedikit berteriak, tapi tetap menjaga nadanya agar tidak meninggi.

Merasa ada yang menyebutkan namanya, Shikamaru membuka matanya secara perlahan, dan membalasnya. "Iya. Kau tidak minta ditemani oleh Hinata?"

"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya yang pulas."

Shikamaru menautkan alisnya yang sudah jelas tidak dapat dilihat oleh Ino itu. "Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana?" Dengan seksama ia menunggu jawaban dari teman perempuannya yang berada di luar tenda. Rasa khawatir melanda pikirannya.

"Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Percayalah."

Suara Ino meyakinkan Shikamaru agar tidak khawatir terhadapnya. Senyuman kecil pun menghiasi wajahnya yang setengah sadar. "Iya, ya. Aku lupa kalau kau itu menyeramkan dan saking menyeramkannya makhluk gaib pun tidak berani menyerangmu."

Di kepala Ino muncul tiga buah siku yang berkedut-kedut –jika ini adalah sebuah Anime –Perasaan kesal pun menyelimuti hatinya. "Awas kau, Shikamaru!" Dengan perasaan yang masih seperti itu, Ino melangkah meninggalkan tenda yang tadi dihampirinya dan juga yang telah membuat perasaannya kesal.

Ia berjalan menjauhi daerah perkemahan mereka untuk mencari tempat yang pas untuk membuang uretra yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Senter yang berada di tangan kanannya ia nyalakan sebagai salah satu penerangan yang ada, karena cahaya api unggun yang sudah mulai mengecil tidak bisa lagi menembus kegelapan malam disekelilingnya.

Beberapa langkah berjalan menjauhi lingkungan perkemahan mereka, akhirnya ia menemukan tempat yang pas untuk dirinya. Tangannya mulai bergerak untuk membuka kancing celana dan resleting jeansnya, dan mulai melakukan kegiatan 'sakral'nya itu. Senter yang ia pakai, ia selipkan diantara lengan atas dengan tubuhnya.

Catatan: Maaf, adegan selanjutnya di 'skip' karena manurut saya sangat berbahaya bagi pembaca dibawah umur. Bagi para pembaca yang berumur cukup silakan membayangkan sendiri adegan apa yang Ino lakukan selanjutnya.

Setelah selesai melakukan 'tujuan'nya dan mengancingkan kembali celananya, ia segera melangkahkan kakinya untuk menjauhi tempat ia singgahi tadi.

Kresek Kresek

Telinganya menangkap suatu suara yang ganjil di sekitarnya, suara semak-semak yang bergerak dengan sendirinya. Tidak ada angin, tidak ada makhluk malam di sekitarnya karena tempat yang ia pilih terlalu damai, dan tenang nan sepi.

Jika memang ada hewan buas yang sedang memantaunya dari kejauhan dan mengincar dirinya, kenapa tidak pada saat ia sedang melakukan 'kegiatannya' dan langsung menerkamnya? Setidaknya hipotesis itulah yang melanda dipikiran Ino.

Karena rasa penasaran yang menjunjung tinggi, Ino menekatkan diri mendekati semak-semak yang –dapat dibilang lumayan tinggi –tadi sempat bergerak dengan sendirinya itu.

Selangkah demi selangkah ia mendekat dengan cahaya penerangan dari senter ia arahkan ke arah semak-semak itu. Tangannya ia tempatkan di salah satu sisi semak-semak, dan dengan sigap ia membuka hantaran semak-semak yang sekarang terlihat jelas apa yang ada di balik semak-semak itu.

Kosong. Ya, perasaan Ino sedari tadi cukup tegang mulai menghilang setelah mengetahui tidak ada hal yang perlu ditakuti lagi. "Hah… mungkin hanya perasaanku saja." Tubuhnya berbalik dan mulai melanjutkan langkahnya kembali.

Baru beberapa langkah ia berjalan sesuatu yang aneh pun terjadi lagi. Senter yang senantiasa menerangi jalan yang dilewati Ino secara tiba-tiba mati dipertengahan jalan menuju daerah perkemahan mereka.

"Aduh, kok mati sih?" Kepala Ino berkeliling melihat hamparan Hutan yang gelap. "Mana gelap lagi,"

Ibu jarinya bergerak naik turun di atas tombol on/off senter, berusaha untuk menghidupkan kembali senter yang ia pakai. "Apa baterainya ada kesalahan, ya?" Kedua tangannya bekerja sama untuk membuka salah satu sisi senter yang digunakan untuk memasukkan baterai ke dalam senter.

Setelah merasa sudah mengecek kondisi keadaan baterai di dalam, Ino kembali berusaha menyalakan senter tersebut. "Aneh, kenapa tidak mau menyala?" Ia mengernyitkan keningnya. "Kalau baterainya habis… itu tidak mungkin, sebelum pergi aku sudah menggantinya dengan baterai yang baru," Ino berkacak pinggang. "Kalau memang aku salah memasukkan baterai baru yang ternyata sudah lama, pasti cahayanya tidak seterang cahaya yang tadi dihasilkan."

Tiba-tiba Ino tersadar dari semua pikirannya dan merasakan ada 'sesuatu' yang mengamatinya dari belakang sedari tadi. Ino bergeming di tempat ia berpijak, bulu kuduknya merinding dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mulut dan tenggorokannya ia usahakan untuk bekerja sama agar dapat menelan ludahnya sendiri.

Dengan bermodalkan nekat seperti sebelumnya, ia berencana untuk berbalik dan melihat 'sesuatu' yang sedang mengamatinya sedari tadi tanpa bosan-bosannya itu.

Ino memejamkan matanya sesaat, guna untuk mengatur perasaannya dan bayangan-bayangan negatif yang terus terlintas dipikirannya, serta mengatur nafasnya yang memburu karena ketegangan yang menyelimuti dirinya.

Ino menghela nafas dengan kencang, membuka matanya yang terpejam, membalikkan tubuhnya ke arah yang sedari tadi ia punggungi dengan satu hentakan kencang, dan…

"KYAAAAAAAAA!"

.

+++~Lost~+++

.

Hinata membalikkan tubuhnya yang berbaring dalam tidurnya yang nyenyak, dan tanpa di sengaja salah satu tangannya terhempas ke daerah yang seharusnya sedang ditiduri oleh Ino sedari tadi. Merasa ada sesuatu yang kosong di sebelahnya, Hinata membuka matanya yang semula terpejam dan mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha beradaptasi dengan penglihatannya.

"Hm, Ino belum kembali?" Dengan inisiatif berlebih, Hinata mengecek waktu pada jam arloji yang berada disebelahnya. "Pukul tiga lewat empat menit," Hinata berusaha mengingat waktu yang ia lihat sekilas sebelum Ino pergi meninggalkannya. "Ino pergi sekitar pukul setengah dua… dan sampai detik ini ia belum kembali?" Suara Hinata meninggi. "Aku harus memberitahukan ini kepada Shikamaru."

Peristiwa belum kembalinya Ino membuat Hinata beranjak dari tempat ia berbaring dan langsung menuju tenda Shikamaru dan Sai. Entah kenapa orang pertama yang harus ia beritahukan adalah Shikamaru, mungkin karena ia adalah kapten dalam kegiatan ini.

"Shikamaru, apakah kau tahu kemana Ino pergi?" tanya Hinata setelah sampai di depan tenda seseorang yang ingin ia tuju dengan nada penasaran pada suaranya yang bervolume kecil.

Suara Hinata membangunkan sang pemiilik nama yang ia sebut. "Katanya ia ingin buang air kecil… tenang saja sebentar lagi ia juga kembali," jawab Shikamaru dengan nada malas-malasan dan matanya yang masih terpejam.

"Masalahnya bukan itu," Hinata tampak sedang memilih kata-kata yang tepat untuk ia lontarkan. "Ino ingin buang air kecil sejak sekitar jam setengah dua… dan sekarang jam menunjukkan pukul tiga lewat, tapi Ino masih belum juga kembali."

Shikamaru memutar akalnya yang genius. Berarti sudah satu setengah jam Ino tidak kembali, pikir Shikamaru. Matanya terbuka –terbelalak –dan sedikit terperanjat. "SATU SETENGAH JAM?" Shikamaru berteriak dengan suara yang lantang nan jernih.

Efek dari teriakannya itu, Sai, teman satu tenda yang dari tadi tertidur pulas di samping Shikamaru pun terbangun dari tidurnya yang tanpa bermimpi itu. "Hoam… ada apa denganmu, Shikamaru? Kau mengigau, ya?" tanya Sai seraya menyibakkan poninya ke belakang.

Shikamaru menolehkan kepalanya ke arah Sai dengan disertai tatapan yang meyakinkan, membuat Sai yang tadinya masih merasa mengantuk dibuat menjadi tertegun karena melihat ekspresi wajahnya yang sangat serius, sambil dipenuhi rasa ingin tahu dan berbagai pertanyaan mengisi seluruh otaknya.

"Ino menghilang!"

~Lost In Nightmare~

Tsutzuku

To be Continued…

Hari Sabtu | Jakarta, 11 Februari 2012 | Pukul 01.53

Curcol and Bacot's Room :

Bagaimana 'Nightmare 7' diatas? Mengecewakan? Membosankan? Tidak bermutu? Jelek? Atau mungkin hanya bisa menjadi... Sampah?
Maaf banget kalau mengecewakan anda semua! #bow
Kalian dapat mengkritik di dalam review kalian mengenai 'Nightmare' kali ini.

Tidak tahu lagi apa yang harus dibahas...
So, baca balasan Review kalian saja, ya?

Check this out!

Gha mika chiiyamada : Terima kasih sudah menyukai adegan SasuSaku nya, itupun juga dengan imajinasi yang tiba-tiba muncul, dan... aku tidak dapat menjamin adegan SasuSaku nya bakalan banyak, lho. Berdoa saja, ya...#PLAK | Suka Kagamine twins juga? Nanti fic Vocaloid nya tolong di baca dan di review, ya! Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Asakura : Yang tidak bisa dilupakan seumur hidup... Apa, ya? Ikutin perkembangan ceritanya saja, ya! Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Ria Alisia : Lost in Nightmare akan selalu di update setiap hari Jumat tiap minggunya. Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Uchiha Akira : Hahaha... Maaf, maaf... Namanya juga 'To Be Continued', yah... gimana ya nge-jelasinnya, pokoknya gitu deh! | Mungkin si Hinata mempunyai sedikit perasaan pada Sasuke, atau... sudah terpengaruh dengan perkataan si Ino? | Terima kasih sudah menyukai plot yang sudah aku buat, memang menyulitkan menyukai seseorang yang polos bahkan terlalu polos... | Untuk fic Vocaloid yang aku buat mengisahkan tentang Len yang berjuang untuk menolong Rin, bisa termasuk fic song... tapi, dibuat dengan pengembangan deskripsi 'murni' dari diriku sendiri. Dan mungkin akan ada adegan action nya. Tenang saja perjuangan Len membutuhkan perjuangan yang sangat keras. | Alamat E-mail ku bisa dilihat di dalam profile ku bagian paling bawah, silakan! Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Sakigane : Terima kasih sudah menyukai 'Nightmare 6', telat review? Tidak apa-apa, yang penting sudah menyempatkan diri untuk me-review aku sudah senang. Maaf banget, ya jika 'Nightmare' kali kini lebih ancur dari yang sebelumnya, maklum masih PE-MU-LA. Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Sindi 'Kucing Pink : Terima kasih selalu menikmati pendeskripsiannya, semoga kali ini tidak ancur lebur. | Mungkin karena terlalu polosnya hingga Saku belum merasakan perasaan Sasu. | Hal-hal mistis terjadi di 'Nightmare' ini, bagaimana berasa 'kah? Jika tidak seilakan menjedotkan kepalaku ke tembok terdekat. | Terima kasih sudah menyukai adegan SasuSaku nya, diperbanyak? Gimana ya... sesuai alurnya saja, ya? |Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Saitou Ayumu Uchiha : Telat baca? Tidak apa-apa, masih belum mendekati hari update bukan? | terima kasih sudah menyukai adegan SasuSaku nya! | Kalau 'Nightmare' ini? Berasa tidak misteri nya? Minta maaf banget jika tidak sama sekali! | Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Uchiha Itu Sasuke : Hahaha... Yah... tidak apa-apa lah, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'thor'. | Penasaran? Tunggu 'Nightmare' selanjutnya, ya! | Terima kasih sudah membaca dan me-review!

I-chan The Anime Lover : Wah, pembaca dan Rewers baru! Selamat datang di dunia 'Nightmare', ya! |Tidak apa-apa, memangnya kenapa tidak dibolehkan? Masih di bawah umur 'kah? | Terima kasih atas pujiannya, jadi terharu saya... Tenang saja fic ini tidak akan 'Discontinued'! | Terima kasih sudah membaca dan me-review!

Balasan untuk para Rewers pun selesai...
Saatnya untuk undur diri dihadapan anda sekalian!

Terima kasih sudah bagi semua para SiDers yang telah setia untuk membaca fic 'Lost In Nightmare' saya ini.
Semoga kalian juga berkenan hatinya untuk me-review fic GaJe ini.

Jika berkenan, boleh meminta Review anda lagi?
Review yang positif tentang fic ini, ya!
Jika memang pantas.

Jika ada kesalahan penulisan nama, pendeskripsian, atau apapun... itu semua hanya kesalahan kecil(mungkin) semata.
Maaf jika ada perkataan aku yang menyinggung perasaan para pembaca semua, itu semua dapat dipastikan bahwa saya tidak ada maksud apapun dalam perkataan yang kulontarkan.

Terima kasih telah membaca Nightmare 7 ini…
See you soon at Nightmare
8!
Sorry for all miss typo(s)!

Signature,

Huicergo Montediesberg