GHOST

Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Shin Donghee, Lee Hyukjae, Kangin and other

Summary: Lima bocah SMP dengan karakter berbeda, dipertemukan karena seorang anak se usia mereka yang mengaku bisa melihat hantu. "Demi Tuhan, kenapa hidupku menjadi semengerikan ini". "Diamlah Hyukjae, aku tidak percaya Tuhan". "Kyuhyun itu bukti nyata, ia setan yang terlihat"

.

.

Rated : T

Genre: Horror, Supranatural

.

.

Warning: Typos, Horor failed

.

.

Hantu itu…

Tidak ada—

.

.

Tapi…

Aku melihat mereka.

.

.

Ika zordick

.

The first horror story

.

BLACK CAT

Mereka bilang, kucing hitam itu adalah kucing yang membawa malapetaka, kesialan dan pertanda buruk. Kyuhyun kurang percaya tahayul seperti itu. Terdengar konyol sebenarnya dibenaknya, tapi ia hanya mengangguk saja. Dia kan takutnya pada hantu, bukan tahayul apalagi dengan kucing.

"Kyuhyun!"—suara cempreng Hyukjae yang memanggilnya membuatnya menoleh. Kyuhyun memajukan mulutnya, ia tidak suka di panggil oleh Hyukjae. Alasannya normal, karena Hyukjae akan menyuruhnya melakukan hal aneh dengan iming iming jika tidak ingin melakukan, Hyukjae akan menceritakan cerita seram rumah yang sedang mereka tinggali sekarang.

Keadaan berbalik. Kyuhyun dalam posisi teraniyaya karena rasa takutnya.

"Hari terasa sangat dingin"—tidak ada penghangat ruangan di sini, seperti asrama mereka.

Ini hanya rumah kecil yang terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar tidur dan kamar mandi. Bukan liburan, melainkan keterpaksaan oleh pihak sekolah yang mengharuskan mereka melakukan survei di sebuah desa di pergunungan yang sedikit terpencil—jauh dari kota. Kyuhyun tidak suka, ini mengharuskannya tidak bisa menonton siaran favoritnya yang akan main di channel tiga, dua puluh menit lagi.

Kyuhyun kembali mendudukkan dirinya di tikar tipis yang sebelumnya telah di bentangkan oleh Kangin dan di bersihkan oleh Donghae. Mencoba menikmati dirinya sebagai pengangguran satu satunya dibanding teman temannya yang kini sibuk dengan pekerjaan masing masing. Seperti memasak, mengambil air atau setidaknya sekedar memperhatikan yang lain sibuk.

Bosan.

Kyuhyun mengharapkan Donghae setidaknya duduk di sampingnya dan bercerita tentang betapa menariknya siswi sekolah seberang yang sering lewat di depan sekolah mereka. Itu cerita menarik untuk anak SMP yang menginjak usia pubertas seperti dirinya.

"Kau lapar?" Kibum—seseorang yang selalu bisa diharapkan tentang apapun mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun. Dia menyerahkan semangkok ramen dengan asap mengepul pada Kyuhyun. Kyuhyun tidak menjawab, hanya menerima dengan senang hati dan mulai menyuapi dirinya sendiri.

"Ku rasa di dalam akan sangat hangat" gumam Kyuhyun menunjuk kamar yang tepat di hadapannya. Kamar yang pintunya hanya ditutupi tirai berwarna hijau tua. Kibum hanya tersenyum samar, sangat aneh untuk seseorang seperti Kibum memberikan keramahan. Dia hanya mengacak surai Kyuhyun dan kemudian masuk ke dalam kamar itu.

.

.

"Kemana Kibum?" Kyuhyun tersentak. Dia menoleh pada Donghae yang bertanya.

"Di kamar" jawab Kyuhyun sambil menatap tirai yang tertutup. Tirai yang masih berwarna hijau tua. Kyuhyun tak ingat sejak kapan dia duduk diam meantapi tirai menunggui Kibum memanggilnya untuk tidur di dalam. Kyuhyun melirik pada mangkok mie yang kosong di sampingnya.

"Dia belum keluar juga?" Tanya Donghae dan Kyuhyun mengatakan belum dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Kibum!" Kyuhyun memanggilnya. Bermaksud untuk masuk ke dalam kamar itu. Tapi sepasang tangan menghentikannya. Tangan yang terasa sangat panas hampir membakar kulitnya. Kyuhyun mendongakkan wajahnya, dan kengerian menghantam dirinya. Seorang wanita berkulit putih pucat, sebagian wajahnya terbakar dan taring di giginya terlihat menatapnya sendu. Dia menggeleng, memaksa Kyuhyun untuk tidak masuk ke dalam sana.

Kyuhyun terduduk. Ia takut dan ketika dia berbalik, ia menemukan Donghae yang di penuhi darah di sekujur tubuhnya. "KIBUUUMMM!" teriak Kyuhyun ketika matanya menangkap sosok sosok yang dipenuhi darah bergantung begitu saja di langit langit rumah—sosok sosok yang ia kenal sebagai sahabat sahabatnya.

"Kangin? Eunhyuk? Shindong?" Mata Kyuhyun bergerak liar. "Donghae?" air mata itu jatuh juga ketika Donghae menghembuskan nafas terakhirnya.

"Tidak! Tidak! TIDAAAAKKKK!" Pekiknya

"Mati!" Kyuhyun menatap wanita yang sedang bergumam. Wanita mengerikan dalam perwujutan asing bagi Kyuhyun. Kyuhyun tahu siapa dia, meski tak ada satupun yang memperkenalkan diri sang wanita pada Kyuhyun termasuk sang wanita itu sendiri.

"Emily! Kau Emily!" Kyuhyun ketakutan tapi pegangan wanita itu di lengannya memberinya kekuatan. Kyuhyun harus mencari Kibum, Kyuhyun harus memanggil Kibum dan meminta Kibum mencarikannya jalan keluar atas keadaan ini. Kibum akan—

Kyuhyun melepas pegangan tangan Emily. Dia tak menyentak secara kasar. Dia melepasnya dengan halus. Dia tak harus takut. Dan dia sadar ketakutannya akan kesendirian melebihi segalanya. "Kibum!" dia menyingkap tirainya.

Dan—

Pemandangan tak senonoh itu langsung menyambutnya. Kibum ada disana, dibawah meja, bertelanjang bulat dan sedang bercinta dengan seorang wanita berambut panjang. "Ki—Kibum" nafas Kyuhyun tercekat. Kibum tidak nakal seperti Eunhyuk yang selalu diam diam melihat video porno di kamar. Kibum hanya seorang kutu buku yang bermulut tajam. Kibum bukanlah seseorang yang akan—

"Ahh~" dan Kyuhyun merasakan sesuatu dalam dirinya terbakar. Kibum menoleh ke arahnya dengan seringaian iblis yang jahat. Kyuhyun takut.

Sangat takut.

Tapi Kibum menangis. Air matanya mengalir deras. Dan bibirnya membentuk kata kata yang susah sekali di tangkap oleh Kyuhyun artinya. "Pergi dari sini, Kyuhyun" dan bisikan dari Emily membuat Kyuhyun mampu membacanya.

Kibum melindunginya. Kibum sedang memaksanya pergi dari tempat yang tak seharusnya ini. Kibum—

"BANGUN CHO KYUHYUN!"

Blatz—

Kelopak mata Kyuhyun mendadak terbuka. Ia melihat ke atas, rimbunan pohon teduh menyambutnya. Pemandangan yang indah ditambah dengan angin sepoi yang membuat melodi alam yang lembut. Dimana tadi Kyuhyun bermimpi? Samar tapi adegan demi adegan seolah membuatnya tidak bisa lupa. Seperti kaset rusak yang terpotong.

Mengerikan

Kyuhyun menyimpulkan dia baru saja bermimpi tentang hantu di siang bolong begini dan itu mengerikan. Dia menoleh ke samping, tidak ada siapapun di sana kecuali seekor kucing hitam yang sedang menatapnya dengan nyalang. Seekor kucing dengan bola mata berwarna kuning cerah. "Sepertinya kau yang membuatku bermimpi buruk" Kyuhyun mendumel pada sang kucing.

"HEI!" suara teriakan dari atas pohon sontak membuat Kyuhyun terkejut. Bukankah ia sedang sendiri sekarang.

"ASTAGA! KAU KIRA KAU MONYET HYUKJAE? KAU MENAKUTIKU!" teriak Kyuhyun menunjuk nunjuk Hyukjae yang sedang nyengir di atas pohon. Hyukjae menggaruk kepalanya canggung—tapi justru karena itu dia semakin mirip dengan monyet yang sedang berseragam sekolah.

Hyukjae melompat turun dengan gesit. Ia duduk di samping Kyuhyun dan menyerahkan sekaleng soda pada sahabatnya itu. "Kau dapat dari mana itu? Atas pohon?" Kyuhyun selalu semena mena dan Hyukjae hanya mendesis mendengarnya.

"Tentu saja dari kantin. Aku membelinya dan kemudian naik ke atas pohon"

Kyuhyun tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang alas an Hyukjae naik ke atas pohon. Hyukjae memang punya hobi yang aneh selain mengeluh sekarang. "Dimana yang lain?" Tanya Kyuhyun mengganti pertanyaan yang seolah sudah mendapat jawaban dari dalam hatinya.

Hyukjae merebahkan tubuhnya ke batang pohon besar dibelakangnya. Mereka memang sedang berada di taman belakang asrama mereka. Tempat yang akan menjadi pilihan ketika para guru mendadak rapat. Asrama terlalu membosankan—lagi pula mereka perlu menikmati semilir angin sejuk di tengah kejenuhan belajar mereka.

"Kau kenal Leeteuk sunbaenim?"

Kyuhyun mencoba mengingat ingat. Apakah itu senior mereka yang masuk dalam olimpiade Matematika? Ataukah yang mengikuti penelanaah sejarah yang sama dengan klub yang dimasuki olehnya? Sepertinya tidak. Nama itu terlalu asing sejujurnya.

"Tidak"

Kyuhyun menjawab dengan simpel. Hyukjae tahu sekali kalau Kyuhyun tidak terlalu peduli dengan gossip ataupun sejenisnya yang beredar di sekolah. Bahkan Kim Hyuna—wanita tercantik di sekolahan mereka tak terlalu membuat Kyuhyun antusias. "Yang ku dengar dari isu yang beredar dia itu pemimpin klub indigo sekolah kita"

"Klub konyol apa itu" Kyuhyun mencibir.

"Kau harus hati hati, dia bahkan bisa membaca hati orang yang mengolok oloknya, Cho!" Peringat Hyukjae tapi Kyuhyun tidak terlalu peduli.

"Kibum bilang yang bukan urusan kita tidak usah diurusi" Kyuhyun tidak ingin dia yang bilang—terkadang ia lumayan suka juga bergosip. Mungkin tentang hantu di toilet wanita atau jumlah tangga sekolah mereka yang awalnya dua belas anak tangga berubah menjadi tiga belas kemudian banyak siswa yang menghilang setelahnya. Percayalah kalau Kibum yang menceritakan cerita itu jadi ribuan kali lebih mistis.

Kalau ingat Kibum, Kyuhyun jadi ingat tentang penggalan mimpinya tadi. "Hei, Hyukjae! Jangan pernah menonton video yadong lagi, apalagi di depan Kibum!" nasihatnya tiba tiba dengan nada sing a song. Hyukjae jadi dendam.

"Salah Kibum kalau dia ingin menonton. Hei! Bukan itu topic kita tadi." Hyukjae mulai sewot sendiri. "Sebenarnya Leeteuk Sunbaenim memanggil Donghae. Aku tidak tahu untuk apa tapi Kibum, Shindong dan Kangin sekarang tengah menemani Donghae menghampiri senior gila itu"

Setelah di pikir pikir, sekolah mereka memang memiliki kumpulan senior yang aneh tapi kalau untuk Leeteuk mereka akan mengatakan kalau senior yang satu itu gila. Senior yang jarang hadir di sekolah itu sudah seperti artis sebenarnya. Ia sering muncul di acara dunia lain atau sekedar mengusir hantu. Hanya saja ia tidak bisa melukis.

"Jadi?" Kyuhyun mengeriyit. Apa hubungan Donghae dengan senior gila mereka? Apa Donghae berbuat sesuatu yang salah?

"Dia memanggil Donghae untuk bergabung dengan klub gilanya"

Kyuhyun berdecih. "Ayo Hyukjae! Aku tidak ingin Donghae seperti orang orang yang bergabung dengannya. Bertingkah laku gila dengan menghembuskan nafas dari hidung"—Kata siapa Kyuhyun tidak suka gossip. Buktinya dia bahkan tahu kalau orang orang yang berada di klub pimpinan Leeteuk memiliki kebiasaan yang demikian aneh.

Ika. Zordick

Seorang pria dengan selendang putih yang melingkar di lehernya—tentu saja masih mengenakan seragam duduk di sebuah kursi dengan sangat elegannya. Kibum mengambil bangku di dekatnya, mendudukinya secara asal dan menatap tajam pada Leeteuk. "Kau tidak boleh duduk sejajar dengannya"—senior lain berbicara. Sedikit membuat Kibum mengeriyit tidak suka.

"Kibum, turuti saja. Nanti kau bisa kerasukan" percayalah Shindong merinding. Dia tidak suka hawa dari ruangan ini. Terasa mencekam dan mampu mendirikan bulu kuduknya. Menakutkan. Mau tidak mau dia harus percaya ada hal hal berbau mistis yang memang melekat pada orang orang dihadapan mereka itu.

Kibum memutar bola matanya. apa tidak cukup hal hal mistis yang menyelimuti mereka selama ini. Kenapa harus takut. Kibum sendiri sudah mengalaminya. Itu bukan mimpi—itu entahlah. Kibum tidak bisa mendiskripsikannya secara jelas.

Kibum mengkode pada Kangin yang berdiri di sampingnya. Kangin ikut ikutan mengambil bangku lain, mengangkatnya dan mempersilahkan Donghae serta Shindong duduk di sana—ia juga duduk disalah satu bangku. "Jadi apa yang anda inginkan senior?" Kangin bukanlah anak penakut. Ia bisa saja menghajar semua orang orang yang menawan Donghae ini sekarang juga.

Siapa yang tidak marah jika teman mereka di ganggu. Sialnya Kibum, Kangin dan Shindong adalah seorang setia kawan di masa masa mereka lebih memikirkan teman dari pada yang lain. Mereka terlalu terobsesi dengan film naruto dan anime anime yang mengandung unsur persahabatan yang kental. "Tenanglah!" Leeteuk tersenyum. Inilah yang dibenci oleh Kibum, senyuman senior gilanya itu seakan mengandung makna lain—terkesan mengerikan.

"Aku hanya meminta sahabat kalian itu memiliki teman yang seharusnya"

"Maksudmu? Kami tidak pantas berteman dengannya begitu?" Kyuhyun tiba tiba sudah muncul di ruangan itu. Ia masuk dari jendela. Karena ia rasa pintunya pasti tertutup dan jendela yang menghadap taman belakang asrama adalah jalur tercepat untuk sampai ke dalam ruangan yang menjadi kekuasaan senior mereka tersebut.

leeteuk kembali tersenyum. Matanya menyipit dan lesung pipinya terlihat. Jikalau ada wanita di sana, sudah sangat jelas pasti akan ada yang tersipu padanya. Ada sesuatu yang lain darinya. Sesuatu yang selalu menarik para wanita. Itulah gossip lain yang tersebar di sekolah mereka. Jikalau Leeteuk memiliki manhood yang meledak. Yang membuat para wanita bergairah menatapnya—masalahnya Hyukjae sudah bersumpah ia akan meledakkan Leeteuk jika sampai menggoda Hyuna tercintanya.

"Tentu tidak." Leeteuk bangkit dari kursinya. Gelagatnya tampak seperti seorang bangsawan—tenang dan santai. Kyuhyun mau tidak mau teringat dengan manhwa noblesse yang rela ia bela belakan terbangung tengah malam hanya untuk membaca lanjutannya. "Aku hanya sedang mempersiapkan teman yang lebih tepat untuknya. Orang yang sama dengannya"

"Siapa yang kau maksud?" Hyukjae terlihat tidak senang.

"Seseorang yang bisa melihat dengan jelas jika ada wanita berbaju putih yang sedang menatapmu dari sana" Leeteuk menunjuk dengan santai ruang kosong di sudut ruangan. "Bukankah begitu Donghae? Kau jelas melihat Emily bukan?"

Hening—

Siapa yang tahu Emily selain mereka. Bukankah itu hanya buah imajinasi mereka?

"Maaf senior?" Donghae masih dengan sikap sopannya. Kibum menoleh menatap dalam ke arah bola mata coklat yang kini berkaca kaca. Kibum menyimpulkan akan ada hal yang tidak baik sebentar lagi. Hal yang akan mengejutkan mereka. "Bisakah kau membuatku tidak bisa melihat mereka?"

Leeteuk menatap Donghae kali ini. Dia tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulut Donghae. "Aku tidak bisa melepaskan teman temanku. Dan karena ini juga teman temanku diganggu oleh 'mereka' dan—" perkataan Donghae terputus.

"Jika aku menarik penglihatanmu maka aku akan menarik dua mahluk yang selalu bersama denganmu. Pria berambut merah itu dan wanita cantik berambut ikal. Aku akan meminta mereka darimu!"

Hening—

Kibum mengerti siapa yang dimaksudkan. Lelaki yang mungkin masuk dalam mimpinya. "Aku—" suara Donghae terasa tercekat. Apakah pilihannya benar? Apakah ia bersedia membuang dua mahluk yang sejak ia terlahir di dunia ini selalu menemaninya atau teman teman nyatanya? Satu satunya yang ia butuhkan adalah keberanian.

"Jangan paksa dirimu, Hae!" Hyukjaelah yang pertama kali bicara. Ia tidak suka jika Donghae merasa tertekan. Bukankah itu sangat sulit. Hyukjae tidak mengerti bagaimana rasanya bisa melihat sesuatu yang mistis dan Hyukjae pribadi tidak mengerti apa yang bisa ia lakukan jika ia bisa melihat mahluk mahluk mengerikan seperti itu. Dia ketakutan dan ia rasa Donghae merasakan hal yang sama. Tapi meski begitu—lelaki berambut merah dan wanita barambut ikal itu pastilah tidak menakutkan. Mereka pernah menolong mereka semua.

"Ya Donghae, jika kau tidak mau bergabung dan dia tetap menyuruhmu aku akan menghajarnya" Kangin menunjukkan kepalan tangannya.

Donghae menatap dalam bola mata Leeteuk. Ada kebencian di sana, ketidak sukaan tapi bola mata itu berkaca kaca. Tangannya memeluk dirinya sendiri. "Dia bebas memilih" Leeteuk seolah berbicara dengan dua orang yang tak bisa dilihat di ruangan itu. "Dan pilihanmu Donghae?"

Kibum merasakan pengelihatannya mengabur. Siluet siluet manusia yang berdiri di samping kiri dan kanan Donghae seolah terlihat. Siapa mereka? Dia—lelaki berambut merah itu, Kibum mengenalnya. Dia yang menolong Kibum dengan membakar di dalam mimpi Kibum. Sosok mengerikan terlihat di samping Kyuhyun—apakah itu Emily?

Tapi—

Dibalik itu, Kibum merasakan kesedihan. Ia melihat bola mata kecoklatan cerah itu mirip dengan milik Donghae yang kemarin menatapnya. "Donghae?" Kibum bergumam.

Kibum menatap ke arah Leeteuk. Apakah ia bermimpi? Sesosok bayangan putih besar seolah menyelimut Leeteuk berdiri di sana. Matanya yang hitam menatap lekat pada sosok berambut merah. Mereka bertentangan dan Kibum bahkan tak bisa mengartikan bahwa sosok putih adalah sosok baik yang harus di bela. Sosok putih itu beralih menatapnya, membuatnya sedikit terkejut.

"Sepertinya ada yang mulai bisa melihat di sini" Leeteuk masih dengan senyumannya. "Siapa namamu?" dia bertanya pada Kibum. Dan tubuh Kibum terasa menegang.

"Jangan ganggu dia!" Donghae berbicara.

"Kaupun tahu, jika kau bersama dengan orang orang ini mereka akan bisa melihat apa yang kau lihat. Mereka akan bisa merasakan apa yang kau rasa dan mereka akan bisa mendengar apa yang kau dengar. Seharusnya kau tidak boleh egois Donghae" ini nasihat—tapi wajah Leeteuk menggambarkan bahwa ia sedang merendahkan Donghae. Ketidak mampuan Donghae melindungi teman temannya. "Mereka akan menderita seperti yang kau rasakan"

"Aku memilih teman temanku, ambillah mereka dariku!" Donghae berkata tegas. Keputusan itu menimbulkan guratan kekecewaan. Dan air mata itu mengalir dari bola mata kecoklatan—baik itu dari mata Donghae maupun si lelaki berambut merah itu.

"Kalau begitu beritahu aku nama mereka dan aku akan mengambil mereka"

Donghae menelan ludahnya. Kibum merasa telinganya bermasalah. Ia tak bisa mendengar—tapi ia bisa melihat dengan jelas Donghae sedang berucap. Dan—bayang bayang itu menghilang. Mereka menghilang diiringi jeritan histeris si wanita cantik berambut ikal. Kibum melihat ke kanan dan ke kiri, dia masih melihat mahluk mahluk itu. "Maafkan aku, boleh aku tahu namamu?"

Kibum tak mengerti. Tapi dia berucap, semua seolah di luar kuasanya. Inikah manusia normal itu? "Kibum"

"Kibum, dengarkan aku! Rileks saja!" telapak tangan itu menutup mata Kibum.

"HEI APA YANG KAU LAKUKAN PADA KIBUM!"

"Hilang!"

Kibum rasa semuanya gelap. Tapi ia masih ingat, bagaimana tangisan wanita itu terngiang di telinganya dan bagaimana tatapan kecewa lelaki berambut merah itu menyorot padanya ketika mereka menghilang. Satu yang ia simpulkan, ia dan teman temannya baru saja mengambil sahabat orang lain.

Ika. Zordick

"Kau sudah bangun?" Kibum melihat sekelilingnya ketika suara Kyuhyun—teman sekamarnya—menyapa gendang telinganya. Sudah berapa lama ia tertidur? Kenapa ia bisa sampai di kamarnya? Apakah itu juga hanya mimpi?

"Dimana Donghae?"

"Dia demam, jadi Hyukjae dan yang lain merawatnya. Sementara aku merawatmu" Kyuhyun berbicara. Dia duduk di sisi tempat tidur. Memasang tampang kusutnya. "Kenapa semuanya terasa nyata? Emily masuk ke dalam mimpiku siang tadi dan aku bermimpi buruk"

"Kita tidak akan bermimpi buruk lagi. Kurasa aku hampir tahu cara kerjanya, Kyuhyun"

"Aku tahu kau pintar. Tapi apa yang sedang kau cari diantara ketidak percayaan itu? Mereka tidak ada Kibum!"

"Dan kau melihat mereka? Kau pernah melihat mereka kan Kyuhyun! Meski itu hanya sekilas, seluet ataupun hanya tangis tangisan kecil atau sekedar bola mata merah"

Kyuhyun terdiam. Baru kali ini Kibum ngotot akan suatu hal dan perkataan Kibum seolah menamparnya. Benar! Mahluk mahluk itu ada. Meski mungkin mereka hanya ilusi dari anggapan Kibum yang rasional.

Kyuhyun menunduk. Ia takut akan hal itu. Ia takut akan Emily. Wanita dengan wajah separuh terbakar yang selalu menatapnya dari tempat tak terlihat. Kenapa Kyuhyun harus takut? Kenapa Kyuhyun harus begitu anti padanya? Kenapa—

"Kenapa kita terus menghindar kalau mereka berbeda dengan kita?"—menohok. Kibum sekali lagi memukul telak hati Kyuhyun. Wanita yang hadir ketika dimimpinya itu, mungkin asing bagi Kyuhyun tapi jika tidak ada Kyuhyun harusnya merasa begitu kesepian. Wanita itu menemaninya, tanpa Kyuhyun sadari atau mungkin Kyuhyun sempat lupa.

"Diibaratkan Donghae mungkin punya teman khayalan ketika kecil dan dia masih memilikinya hingga sekarang. Dan kita mencoba untuk memisahkan mereka"

"Apakah kita keterlaluan?" Kyuhyun takut. Takut kalau dia dikatai egois jika menginginkan kehidupan yang normal dengan Donghae.

Sebuah ketukan di pintu menyadarkan keduanya. Kibum menyibakkan selimutnya dan bergegas menuju pintu. Donghae berada di sana—bersama teman temannya yang lain. Mata itu—tidak berwarna coklat. Itu hitam kelam namun masih ada kehidupan disana. Donghae telah menjadi normal.

"Hae" Kyuhyun memanggil.

Donghae melihat kea rah Kyuhyun. Dan senyuman terkesan memaksa itu terlihat. "Aku tidak bisa melihat Emily lagi Kyuhyun" katanya. "Aku tidak bisa melihat anak pemain congklak dan aku tak bisa melihat wanita yang suka bermain di asbes berlubang. Aku juga tidak bisa melihat sosok hitam bermata merah yang biasa mengganggumu di kamar mandi Kyuhyun"

"Apa kau menyesal?"

"Tidak. Aku mensyukuri. Aku bisa hidup seperti manusia biasa"

"Meong~" dan seekor kucing yang muncul dari kaki tempat tidur membuat Kyuhyun sedikit terkejut. Kucing hitam di taman belakang. Sepertinya ia masuk dari jendela kamar ketika siang hari. Dan tatapan tajam kucing itu yang menatap Donghae seakan menyiratkan ucapan selamat.

THE BLACK CAT

END

Hohohohoho…

Ghost chapter 7, tidak menampilkan hantu hantu secara langsung. Nah di chapter depan akan ada chapter dimana Donghae buta secara supranatural. Hahahaha xD

Untuk Jackal yang meriview, sepertinya kamu harus menulis email kamu dalam titik kemudian spasi. Karena FFN tidak bisa membaca tulisan dengan titik diantara huruf. Misalnya: xxx. Xxx gmail. Com

Begitu….

Sekian dan terima kasih.

Diusahakan chapter selanjutnya lebih cepat update dan focus cerita sudah akan mulai ke konflik. Berhubung karena pengllihatan anu sudah kembali